Gangster's Love
© Seisou Yuta
Vocaloid © Crypton and Yamaha Corp
Utauloid © Creator Masing-masing
"Eto, Teto-chan…"
"Hn, nani ka?"
"Teto-chan, mau tidak jadi pacarku?" tanya Sora.
"E-eh?" Teto pun syok. "Apa aku tidak salah dengar?"
"Hn?"
"E-eto, Sora-kun, b-bisa diulangi lagi perkataanmu tadi?"
"… Apakah Teto-chan mau jadi pacarku?" ulang Sora sambil menatap mata Teto dalam-dalam.
"…" Wajah Teto pun memerah. "A-aku…"
"… Kalau kau tidak bisa menjawabnya sekarang, besok juga tidak apa-apa. Aku akan menunggumu." ucap Sora seraya tersenyum hangat. Ia lalu membalikkan tubuhnya, hendak melangkah pergi. "Ja ne!"
"S-Sora-kun—M-matte!" seru Teto tiba-tiba, menarik lengan kanan Sora, mencegahnya untuk pergi.
"Teto-chan?"
Teto menundukkan kepalanya. "A-aku… Aku…"
Sora tersenyum kecil dan kemudian menepuk pelan kepala Teto dengan lembut. "Aku nggak memaksamu kok. Aku—"
"Maaf…" ucap Teto tiba-tiba.
"Eh?" Sora tampak terkejut. "Teto-chan—"
"Aku… Belum bisa memberi jawaban sekarang… Maaf…"
"Daijoubu," respon Sora, kembali tersenyum seperti biasanya. "Aku pasti akan selalu menunggu jawabanmu. Entah kau menerimaku apa tidak, aku hanya ingin Teto-chan mengetahui perasaanku yang sebenarnya."
"… Gomen ne…"
"Boku wa jitsu ni baka dana… Padahal, selama ini, aku menyukai Sora-kun… Tapi kenapa… Kenapa aku nggak bisa menjawab 'iya' begitu saja?"
.
.
.
"Apa maksudmu?" Di seberang sana, Ritsu—yang baru keluar dari kamar mandinya—mengernyitkan dahinya dengan heran begitu mendengar curhatan Teto.
"Hiks…" Teto menangis. "Sora-kun… Nembak aku, Ri-chan…"
"Terus?" tanya Ritsu. "Kau dirawat di rumah sakit sekarang? Luka parah nggak?"
"Serius, Ri-chan!" bentak Teto kesal. Bisa-bisanya Ritsu bercanda di saat seperti ini.
"Oke, oke, just kidding," respon Ritsu nggak niat, menghela nafas sebentar. "Kau menerimanya 'kan? Apa masalahnya?"
"Aku nggak—Aku sendiri bingung…" ucap Teto pelan. "Aku… Aku sendiri nggak tahu kenapa… Padahal, aku 'kan…"
"Jangan-jangan, kau… Menyukai Ted?"
"! ?" Mendengar pertanyaan Ritsu itu, wajah Teto langsung merah padam. "Ng-nggak! Yang benar saja! Mana mungkin aku menyukai cowok jelek seperti itu! ?"
"Benci bisa jadi cinta loh, Teto-chan~" ledek Ritsu.
"Ri-chan!"
"Sudahlah. Sudah malam ini. Aku juga mau tidur."
"Demo—"
"Dan jangan ganggu beauty sleep-ku lagi," ujar Ritsu tajam, sengaja menyela ucapan Teto. "Ja, mata ashita."
Pip!
Pembicaraan itu pun diputus secara sepihak oleh si Namine.
Sembari menekan tombol merah di handphone-nya dengan pasrah, Teto menghela nafas. "Hah… Dasar Ri-chan…" gerutunya yang kemudian merebahkan diri di atas tempat tidurnya. "Padahal, dia sendiri 'kan jelas-jelas suka Taya," Teto memanyunkan bibirnya, kesal. "Huh, masih saja sempat-sempatnya meledekku!" Teto lalu memandang langit-langit kamarnya, masih kepikiran soal ucapan Ritsu tadi. "T-tapi… Masa' iya, aku menyukai…"
"Cih, dasar drill-head cebol!"
Wajah khas Ted yang selalu mengejeknya muncul di dalam pikirannya tiba-tiba. Teto pun langsung membanting bantalnya dengan kesal. "Kacamata jeleeek!"
-Di tempat lain-
"Hatsyin!" Di saat yang bersamaan, Ted bersin. "Apa'an sih? Malam-malam gini malah bersin." gerutunya.
"Pilek ya? Minum obat sana, otouto." ujar Tsubame yang sedang naik ke kamarnya.
"Gak kok. Mungkin ada yang ngomongin." ucap Ted yang lalu mengusap hidungnya, lalu membuka pintu kamarnya. "Oyasumi."
"Ya, oyasumi." balas Tsubame yang lalu masuk ke kamarnya.
.
.
.
"Ohayou gozaimasu!" sapa Sora kepada semuanya ketika menginjakkan kaki ke dalam kelas.
"Ohayou~" balas beberapa murid.
"Ah, o-ohayou S-Sora-kun!" sapa Teto dengan wajah memerah.
"Ohayou, Teto-chan!" ujar Sora sambil tersenyum.
"Yo, Sora!" sapa Ted yang baru saja datang, lalu menepuk bahu Sora.
"Hei Ted!" balas Sora sambil tersenyum. "A-ano, Teto-chan, s-soal kemarin itu…"
"Ah, iya… S-Sora-kun… A-aku…" Teto pun terbata-bata saat ingin menjawab pertanyaan Sora kemarin, wajahnya memerah dan sukses membuat Ted cemburu, eh, maksudku, kesal.
"…" Ted pun membiarkan mereka berdua'an, kelihatannya kesal, ia lalu mengepal erat tangannya sendiri.
"Iya?" Sora pun menunggu jawaban Teto dengan sabar.
"A-aku… M-mau kok, menjadi pacarnya Sora-kun… " ucap Teto sambil tertunduk malu.
Krek!
Ted yang sedang menulis tiba-tiba mematahkan pen-nya menjadi dua, sukses membuat orang-orang disekitarnya merinding.
"Hontou ni?" Sora pun memastikan lagi, sepertinya hampir tidak percaya dengan jawaban Teto.
"I-iya!" ujar Teto mantap.
Krek!
Ted yang baru saja mengganti pen-nya dengan yang baru tiba-tiba mematahkannya lagi, orang-orang disekitarnya jadi tambah ketakutan.
"Arigatou, Teto-chan!" ujar Sora seraya memeluk Teto dengan erat.
"I-iya…" Teto yang sedang dipeluk Sora pun wajahnya memerah.
Tap Tap Tap
Ted pun memutuskan untuk keluar dari kelas, ia berjalan melewati Sora dan Teto yang sedang berpelukan. Auranya menjadi aura yang seram dan kelihatannya sangat kesal.
"…" Teto yang masih dipeluk Sora pun hanya bisa melihat Ted berjalan melewatinya. "Ted… "
"Ne, Teto-chan, sepulang sekolah nanti, kita pergi kencan yuk!" ujar Sora sambil tersenyum senang.
"Ah, i-iya!" jawab Teto dengan wajah memerah.
"Oke. Nanti kutunggu kau di depan gerbang sekolah ya?" ujar Sora, yang lalu mencium pipi Teto dan beranjak pergi.
"I-iya…" Teto pun mengusap pipinya sendiri, wajahnya masih merah. "Harusnya, aku senang… Tapi kenapa, rasanya… Aku… "
Teto pun menghela nafasnya, lalu pergi ke kelas sebelah untuk melihat Ruko dan Ritsu.
.
.
"Jadi kau sudah resmi berpacaran dengan Sora?" ujar Ruko memastikan.
"Baguslah, omedetou~" ucap Ritsu.
"Ya, t-tapi…" ucap Teto ragu. "A-aku—Rasanya—"
"Sudah, sudah, nggak usah malu-malu begitu!" Ruko menepuk-nepuk punggung Teto, nyengir. "Menurutku, kalian cocok loh! Cowok yang pintar masak dan cewek yang nggak bisa memasak sama sekali! Hahaha!" tawanya kemudian, memuji sekaligus menghina.
"R-Ruko…" Ritsu sweatdropped.
"Uwaaah! Hidoi Ru-chan!"
"Ahahaha!"
"Kalian sedang membicarakan apa?" Tiba-tiba saja, Miko ikutan nimbrung, kelihatannya tertarik dengan pembicaraan para VIP. "Miko boleh ikutan?"
"Oh, Miko," Ritsu menoleh ke Miko sebentar. Ia lalu menepuk bahu Teto dan berkata lagi, "Anak ini baru saja jadian dengan si Suiga dari kelas sebelah."
"E-eh! ?" Teto langsung menoleh pada Ritsu dengan wajah yang semakin memerah. "Ri-chan! Siapa yang kau maksud dengan 'anak ini', hah! ?"
"Ckckck~" Ritsu tersenyum jahil dan kemudian mengelus-elus rambut Teto. "Tentu saja kau, Teto-chan~"
"Aku bukan anak kecil!"
"Waaah…" Mata Miko tampak berbinar-binar begitu mendengar cerita Ritsu tadi. "Teto-chan, omedetou!" serunya kemudian sambil menyalami Teto.
"Eh! ? Cho—"
Miko tersenyum lebar, lalu berkata dengan polosnya, "Miko juga mau seperti Teto-chan dan Suiga-kun! Sama Rook-kun pastinya!"
"! ?"
"Pfft—A-ahaha…! I-impian yang… Pfft… I-indah ya, M-Miko…" Ritsu menahan tawanya mati-matian.
"…" Teto dan Ruko cengo di tempat.
"Pffft!" Rook—yang dari tadi mendengar percakapan mereka—langsung memuncratkan orange juice yang sedang diminumnya.
"Rook-kun, d-daijoubu desu ka?" tanya Taya yang baru saja datang.
"Menurutmu sendiri?" Rook menatap Taya sembari mengelap mulutnya.
"…" Taya diam, bingung harus menjawab apa.
"Hei, Rook!" panggil Shin, nyengir.
"Apa—"
"Kau dan murid baru itu mesra sekali ya~" ledek Shin, sengaja menyela ucapan Rook. "Kalau menikah nanti, jangan lupa mengundangku ya~!"
"Apa! ?"
"Haha, ya, mesra sekali," timpal Ruko seraya melipat kedua tangannya di depan dadanya, menatap Rook dengan sinis. "Saking mesranya, sampai-sampai sudah merencanakan pernikahan juga. Haha." ujarnya lagi dengan monotone. Sama seperti Ted tadi, Ruko sukses membuat yang lainnya ketakutan.
"K-kowai Ru-chan…" ucap Teto pelan, ngeri.
"H-hei, kau jangan begitu dong!" kilah Rook panik. "J-jangan begitu! Aku dan Miko-chan 'kan nggak pacaran!"
"Tapi Miko mau jadi pacar Rook-kun!" seru Miko tiba-tiba, menatap Rook.
"Geh! ?" Rook pun menjadi semakin panik.
"…" Ruko terdiam sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Teto dan Ritsu. "Bersenang-senanglah dengan pacar barumu itu, haha." ujarnya, diikuti tawa datar yang mengerikan.
"Hei!"
"Ruko cemburu tuh." bisik Ron iseng.
"Diam, kono yaro!" bentak Ruko kesal. "Huh! Asal kau tahu saja ya, aku nggak suka sama yang namanya cowok! Cowok itu menyebalkan!" dengusnya kemudian, kembali melipat tangannya di depan dadanya.
"Bhuuu, gitu aja marah!" cibir Rook. "Dasar, cewek emosian!"
"S-sudahlah, Rook-kun," ujar Taya, berusaha meleraikan mereka. "Kalau Rook-kun membalas ucapan Ruko, nanti malah—"
Tok tok
"?"
"Sumimasen~" ujar Miku pelan seraya berjalan memasuki ruang kelas tersebut.
"Miku-senpai?"
"Ted-kun ada di sini nggak? tanya Miku, melihat-lihat ke sekelilingnya.
"Kelas Ted 'kan di sebelah." jawab Ron, menatap Miku dengan bingung.
"Ted-kun nggak ada di kelasnya," ujar Miku lagi. "Kukira, dia datang ke sini. Tasnya masih ada di kelasnya sih."
"Mungkin dia ke atap sekolah?" tebak Rook.
"Atau mungkin ke halaman sekolah?" timpal Taya.
"Sudah kami cari ke dua tempat itu juga, tetap tidak ada," jawab Kaito yang tiba-tiba muncul di sebelah Miku. "Padahal, dia 'kan sedang dicari Al-sensei."
"Kenapa memangnya?" tanya Ruko bingung. "Dia membuat masalah?"
"Eto… Sepertinya, sesuatu tentang jadwal acara untuk festival sekolah nanti… " gumam Miku pelan, agak nggak yakin.
Grek!
Teto beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar kelas. "Jangan membicarakan si kacamata jelek itu lagi! Aku sedang kesal dengannya!"
"E-eh?" Miku menoleh ke Teto, menatapnya dengan bingung. "T-Teto-chan—"
"Kenapa dia?" gumam Kaito bingung, heran dengan sikap Teto barusan.
.
.
"Hah… " Begitu tiba di perpustakaan, Teto menghela nafas lagi. Ia berjalan menuju sebuah meja di pojok ruangan dan mendapati Ted yang sedang tertidur. Dugaannya benar, Ted ada di dalam perpustakaan. Beberapa buah buku tentang kue berserakan di sekitarnya.
Tap tap tap
Tep
"Kau membuat orang lain khawatir saja sih!" gerutunya pelan. "Kimi wa jitsu ni baka dana… "
"Ukh… Yang bodoh itu kau, tahu… "
"!"
"Menganggu waktu istirahat orang lain saja, baka." ujar Ted lagi seraya memijat keningnya.
"Huh, salah sendiri menghilang tiba-tiba!" balas Teto, menjulurkan lidahnya pada Ted. Ia lalu mengambil salah satu buku yang berserakan di sekitar Ted dan berkata lagi, "Kau… Benar-benar ingin menjadi seorang pattisier ya… "
"?"
"Dan tinggal di Prancis." Ted menambahkan seraya membetulkan posisi kacamatanya.
"Hah?"
"Menjadi seorang pattisier dan tinggal di Prancis. Itu adalah impianku sejak dulu."
"Oh… "
-Flashback-
"Ne, Teto~!" panggil seorang anak laki-laki berambut merah dikuncir satu. Dengan senyum lebar di wajahnya, ia berlari menghampiri seorang anak perempuan berambut merah dikuncir dua.
"Ah, T-Tecchan! A-ada apa?" Teto, anak itu, langsung menoleh pada si Tecchan, alias Ted. Ya, Ted yang sekarang menjadi 'musuh abadi' Teto.
"Kalau sudah besar nanti, aku mau menjadi seorang pattisier dan tinggal di Prancis!"
Teto menundukkan kepalanya dan menggenggam erat tangan kanan Ted. "A-apa itu berarti, T-Tecchan kan meninggalkanku… ?"
"Tentu saja nggak!" jawab Ted sambil mengelus-elus kepala Teto. "Aku juga akan mengajak Teto-chan tinggal di sana!"
"E-eh?" Wajah Teto pun merona merah. "Ho-hontou… ?"
"Ya!" Ted mengangguk. "Lalu, kita akan membuat keluarga yang bahagia di sana~!"
"E-eeeeh! ?"
-End of Flashback-
"… te?"
"Hah?" Teto memiringkan kepalanya begitu mendengar suara Ted barusan. "A-apa?"
"Doushite?" tanya Ted, mengulangi ucapannya tadi. "Kenapa tiba-tiba kau terdiam?"
"Ah, b-bukan apa-apa kok," jawab Teto, membuang mukanya dari hadapan Ted. "O-oh iya!" serunya tiba-tiba. "T-tadi kau dicari Al-sensei!"
"Baiklah." respon Ted sambil mengembalikan buku-buku yang tadi diambilnya ke tempatnya masing-masing.
Kriiing!
"Ah, belnya sudah berbunyi," ucap Ted datar. "Kau kembali saja ke kelas. Aku akan menemui Al-sensei." ujarnya lagi seraya berjalan keluar perpustakaan.
Teto menggigit bibir bagian bawahnya, lalu menundukkan kepalanya, dan menggenggam tangan kanan Ted tiba-tiba.
Ted menoleh ke Teto, menatapnya dengan bingung. "Apa?"
"I-impianmu itu—A-apa itu berarti, kau akan meninggalkanku… ?"
"… K-kenapa kau bertanya seperti itu?" Ted balik nanya, membuang mukanya dari hadapan Teto.
"K-karena… " Teto terdiam sebentar. Ia lalu mendongakkan kembali kepalanya dan tertawa. "Karena aku membencimu! Akan lebih baik kalau kau nggak ada di sini!"
"… Sou ka?" Ted tersenyum kecil. "Ya, tentu saja." ujarnya seraya berjalan keluar.
Tap tap tap
"U-uuh… " Teto kembali menundukkan kepalanya, berusaha membendung air matanya. "B-boku wa… Jitsu ni… Baka dana… "
.
.
Jam pelajaran terakhir di Voca Gakuen. Dan sejak jam pelajaran kelima, Ritsu terus memperhatikan jendela kecil di pintu masuk kelasnya.
"Ritsu?"
"Hm? Kenapa, Taya-kun?"
"Apa Anda juga memperhatikannya?" tanya Taya, melirik sebentar ke arah jendela kecil itu. "Wanita itu."
"Iya, dia—"
Pletak!
"Aduh!" jerit Rook begitu penghapus papan tulis yang dilempar Eiichi mengenai dahinya.
"Rook! Jangan mengajak Namine-san dan Soune-san bermain shiritori di jam pelajaran!" omel Eiichi.
"Hah?" Rook cengo. "A-apa maksud Sensei! ?"
"Heh," Eiichi tersenyum sinis. "Namine-san dan Soune-san barusan berbicara di saat jam pelajaran, tidak seperti biasanya! Karena itu, kau pasti yang memulainya!" tuduhnya.
"Sensei jangan sembarangan nuduh dong!" kilah Rook kesal.
"Rook, kau—"
"Ano, Sensei," Yufu mengangkat tangannya, lalu menunjuk ke arah pintu kelas. "Ada seseorang di luar… "
"?" Eiichi pun berjalan ke arah yang ditunjukkan Yufu tadi dan membuka pintu kelas.
Grek
"!"
Wanita berambut panjang—yang dari tadi berdiri di luar—itu tersenyum lebar. "Eiichi-kun!"
"Sen… ?" Eiichi kaget.
"Eh?" Seisi kelas pun juga kaget.
"Nee-chan! ?" seru Shin tiba-tiba, berdiri dari tempat duduknya.
"Eeeh! ?"
"Ehem, maaf semuanya, saya harus pergi dulu sebentar!" ujar Eiichi yang lalu pergi keluar kelas dan mengajak Sen untuk pergi ke tempat lain.
Segera setelah Eiichi keluar, murid-murid langsung mengerumuni Shin.
"Shin, yang tadi itu siapa?"
"Jangan-jangan, tadi itu Onee-chan-mu ya?"
"Ada hubungan apa dia dengan Eiichi-sensei?"
Begitu banyak pertanyaan dilontarkan oleh para murid, membuat Shin bingung mau menjawab yang mana.
"A-ano, i-iya itu benar. Sen itu Onee-chan-ku." jawab Shin, sweatdropped.
"APA?" sahut seluruh warga -?- kelas dengan kagetnya.
"Lalu, dia itu siapanya Sensei?" tanya Rook penasaran.
"Oh, setauku sih Nee-chan itu sahabatnya Eiichi-sensei, itu saja." ujar Shin sambil menutup telinganya karena teriakan tadi.
"Sahabat atau 'sahabat'?" ledek Ron.
"Kita harus selidiki nih!" ujar Rook sok detektif.
"A-ano, tapi itu 'kan urusan pribadi mereka, tidak baik kalau kita mengganggu… " ucap Taya.
"Aku setuju dengan Taya-kun!" ujar Ritsu.
"Iya, ikut campur urusan orang itu tidak baik." tambah Ruko dengan santai.
"Ah, kalian ini, kita 'kan cuma ingin tau ada hubungan apa Aneki-nya Shin dengan Sensei, iya gak teman-teman?" tanya Rook.
"Iya!"
"Ya, terserah kalian lah. Aku gak ikutan." ujar Ruko yang lalu mengangkat kedua bahunya.
"Kalau Rook-kun ikut, Miko juga ikut!" ujar Miko bersemangat.
"E-eh?" Rook pun panik. "Ah, padahal aku maunya Ruko yang ikut, bukan dia!" gerutunya dalam hati.
"Hn." Ruko pun mendengus kesal. Tampaknya dia gak senang kalau Miko dekat-dekat dengan Rook.
"Rook-kun, Miko boleh ikut 'kan?" tanya Miko sambil menatap mata Rook dengan tampang memelas.
"I-iya, iya, terserah kau lah." ujar Rook pasrah.
Shin menghela nafas dan memejamkan kedua matanya sebentar. "Hei, sudah kubilang, Sen-nee itu cuma sahabat—" Dan begitu ia membuka matanya kembali, seisi kelas sudah pergi entah ke mana. "—nya… "
-Di tempat lain-
"Rook bodoh! Sudah kubilang, aku nggak mau ikutan!" omel Ruko kesal.
"Sudah, kau diam saja!" balas Rook yang tadi menarik lengan Ruko. "Lagi seru nih!" ujarnya lagi sambil mencuri lihat ke dalam ruang guru melalui celah pintu.
"R-Rook-kun… " Taya—yang juga diseret Rook—sweatdrooped.
"Mereka sedang apa?" tanya Ron penasaran.
"Sedang berbicara~" jawab Miko yang ikutan mengintip. "Ah! Kakaknya Shin-kun mengelus-elus rambut sensei!"
"Hah?"
"Uwaaah! Mau lihat!" seru Makoto, mendorong yang lainnya.
"Hei! Jangan dorong-dorong!"
"Wah! Sensei blushing!" seru Makoto girang.
"Eh! ? Mana! ?" Spontan, yang lainnya pun langsung dorong-dorongan, berusaha melihat pemandangan langka itu.
"Hah… Bodoh… " Ritsu menjauh dari kerumunan itu dan melipat kedua tangannya di depan dadanya, lalu menghela nafas dan menundukkan kepalanya dengan sedih. "Eiichi-sensei… "
Taya yang dari tadi memperhatikan Ritsu pun ikut merasa sedih. "Apa dugaan saya selama ini benar? Ritsu… Menyukai Todoroki-sensei… ?"
Klek!
"! ?"
Tiba-tiba saja, pintu ruang guru dibuka.
"?" Ted, orang yang membuka pintu tadi, menatap 'para stalker' itu dengan heran. "Sedang apa kalian di sini?"
"B-bodoh! Jangan bilang-bilang!" seru Rook panik.
"Hah?"
"Kasane-san? Ada apa?" tanya Eiichi heran.
"Oh, ini," Ted menoleh ke Eiichi, tangan kananannya menunjuk ke arah Rook dan yang lainnya. "Sepertinya, ada stalker yang penasaran dengan hubungan sensei dan Kaiga-san."
"Hah?"
"TED NO BAKAAA!" teriak Rook kesal.
"Rook! ?" Eiichi yang sudah mengenali suara itu pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju 'para stalker'. "Kaliaaaan… "
"Hiii! A-ampun, Senseeei!"
Tap tap tap
Ted berjalan keluar ruang guru dengan santainya. "Salah sendiri." gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.
Tsudzuku
Sei: Haha, ini fanfic sepi review ya =w='
Biarlah, yang penting ini udah di-apdet =w= -apadeh-
Bagi yang nggak tahu para UTAU, silahkan Ggrks :P -plak-
Bagi yang bersedia membaca fanfic ini, walaupun nggak review, terima kasih ^^
Yu-chan: Setuju sama Sei-dobe, review-nya sepi =w='
Mohon review dan kalo gak tau character-nya boleh tanya saya atau Ggrks~ ^^
Thanks before minna-san X3
