Difference

Disclaimer : Naruto dan segala isinya hanya milik Masashi Kishimoto

Author: Difference punya Kyori Kyoya

Rating : M (No Lemon just Sami)

Genre : Romance, Family, Drama, mungkin crime,

WARNING: TYPO MENYEBAR,GAJE,OOC,BAHASA TIDAK BAKU, JIKA TIDAK SUKA TIDAK USAH DI BACA. TINGGAL KLICK BACK SAJA.

SASUSAKU

Aku membuka kedua mataku perlahan, menyesuaikan cahaya yang datang dari arah kanan. Aku mengerjap. Ini bukan kamarku, kamarku jendelanya berada di sebelah kiri. Melihat sekeliling untuk memastikan ini bukan lah kamarku. Aku baru ingat kemarin aku menyusul Sakura, yang itu artinya aku sekarang sedang berada di New Zealand?! Aku berjalan menuju jendela besar di sebelah kanan ranjangku, menyibak tirai ungu agar aku dapat merasakan sejuknya udara pagi. Tapi itu percuma karena apa? Udara pagi sudah menghilang sekitar mungkin 2 jam yang lalu.

Aku memutuskan untuk keluar dari kamar dan menengok sang pemilik rumah yang ternya sedang tidak berada dirumah. Aku mengangkat alisku saat Sakura melewatiku, dia membawa sebuah wadah dengan beras di dalamnya.

"Kemana bibi?" tanyaku mendapat jawaban selamat pagi darinya.

"Ibu sedang pergi. Sasuke kau bisa membantuku?" Sakura menyerahkan wadah itu padaku dan mendorongku menuju kran air. "Ibu bilang aku harus membuat sarapan untuk calaon menantunya yang tampan ini." Bibi bilang kan Sakura yang harus membuat sarapan, kenapa aku juga harus terlibat dalam urusan dapur? Mau tidak mau aku harus membantunya bukan, karena aku tidak mau ada keributan di pagi hari.

Tanganku terulur membuka kran air. Aku bisa merasakan sekarang Sakura sedang tersenyum di balik punggungku. Ia kemudian menuju lemari es mengambil- entah apa itu mungkin sayur atau daging. Aku mengamati wadah yang sudah terisi penuh oleh air, sebelum aku memasukkan kedua tanganku kedalam wadah, aku menggerakan jari-jariku terlebih dahulu. Jujur saja ini pertama kalinya aku mencuci beras, jika bukan karena Sakura aku tidak akan mau.

Dengan sedikit ragu aku memasukkan tanganku kedalam wadah berisikan air dan berasa itu, airnya sudah berubah warna menjadi putih seperti susu. Perlahan aku memeras-remas beras, aku tidak tahu harus sebersih apa jika mencuci beras. Terkadang aku menggosokan beras-beras itu dengan kedua tanganku. Kesal berasnya tidak kunjung bersih aku meremasnya sekuat tenaga, berharap beras yang berada di wadah akan bersih sekertika itu juga.

"Hei-hei, bukan seperti itu Sasuke." Sakura, mematikan kompor dan mengambil alih wadah itu dari ku. "Kau itu sedang mencuci beras, meremasnya harus pelan-pelan jika tidak berasnya akan hancur. Begini saja kau tidak tahu. Kau hanya pintar memeras payudaraku saja." Aku kembali menaikan alis. baru tahu, jika bibr tipis itu bisa berbicara dengan frontal seperti itu. Ngomong-ngomong soal payudara, aku jadi menginginkannya. Bibirku terangkat menyunggingkan sebuah seringai. Aku mendekapnya, tanganku mulai berjalan di area perut menuju ke payudara lembutnya. Aku tidak peduli dengan tanganku yang masih basah ini, ahu berharap ini akan membawa sensasi tersendiri untuknya. Tapi karena posisinya menghadap kran itu jadi membuatku tidak bisa melihat bagaiman reaksinya.

"Apa yang kau maksud seperti ini?" tanyaku sambil memeras payudara yang kurasa semakin besar di tanganku.

"Uch, jangan lakukan itu." Suara lenguhannya benar-benar membuatku gila. Aku sama sekali tidak mendengarkan larangannya justru aku semakin kencang meremas payudaranya. Sesekali aku menciumi tengkuknya. Wangi lili tercium jelas di hidungku.

Tangan Sakura sudah terkurlai lemas di samping badannya, napasnya mulai memburu. Rangsangan sekecil ini bisa membuatnya bernapsu, oh ya ampun Sakuraku benar-benar wanita nakal. Tapi bagaimanapun juga aku tertap menyukainya.

Saat tanganku hendak menuju selakangannya sebuah suara cempreng mengalihkan perhatian kami menuju arah belakang punggungku.

"Sakura... ku dengar dari bibi bahwa kau membawa keka-sihmu? " perempuan berambut pirang itu nampak kaget menyaksikan sebuah pertunjukan panas di depannya. Sakura pun mulai menjauhkan diri dariku. Sial. Hampir saja aku menikmati hidangan pagiku.

"Ma-maaf, silahkan lanjutkan!" ucapnya terbata. Ha? Di lanjutkan? Mana mungkin di lanjutkan dalam keadaan libido yang semakin menyusut seperti kerupuk terkena air?. Perempuan pengganggu itu nampak akan meninggalkan kami, namun tangan Sakura menggeretnya dan menggandengnya menuju hadapanku.

"Ino. Dia kekasihku." Sakura tersenyum lebar memperkenalkan ku dengan perempuan bernama Ino tersebut. "Tak kalah tampan dengan Sai kekasihmu itu kan?"

"Sai?" tanyaku membuat Sakura menatapku.

"Kekasih Ino yang sedang berada di LA." Bibirku membentuk huruf O. Aku tidak peduli dengan kekasih perempuan yang telah menghancurkan pagi Indahku bersama Sakura.

Aku berbalik meninggalkan 2 perempuan itu di dapur. Dan aku tidak mau ambil pusing apa yang akan di lakukan atau di bicarakan kedua orang dengan rambut berbeda itu.

Difference

Siang hari aku mendapat telphone dari ibu, bahwa ada seorang perempuan berambut panjang mencariku. Ibu bilang permpuan itu datang dengan mata sembab seperti habis menangis. Sepertinya aku tahu siapa orangnya. Aku mengambil phonecellku dan mencari kontak yang dulu pernah menjadi kontak teratas di phoncellku. Aku ragu untuk menghubunginya.

"Hinata menephoneku beberapa saat yang lalu, sepertinya dia sudah tahu soal pertunangan Naruto." Suara Sakura mengagetkanku. Aku menatap matanya, matanya sama sekali tidak menyortkan tanda-tanda senang ataupun sedih. Sudah satu bulan lebih aku menjalani hubungan dengannya, tapi aku tidak juga mengerti banyak tentangnya. Terlebih saat seperti ini. Aku ingin tahu apa yang dipikirkannya saat ini.

"Hn." Responku sepertinya membuatnya jengah, dia mulai mendekatiku yang duduk di ranjang. Kakinya berlutut di hadapanku, kedua tangannya berada di lututku. Ia nampak menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya berkaca-kaca.

"Apa yang harus ku lakukan?" ucapnya parau. Kenapa Sakura ku menjadi sangat rapuh jika di hadapkan dengan seorang Hyuuga Hinata? Aku sangat membenci ini. Aku mengajaknya berdiri di balkon kamar, berharap udara yang kami hirup dapat memperbaiki suasana hatinya.

"Sasuke..." aku tidak sanggup mendengar suaranya, aku membenamkan Sakura dalam pelukanku, mengelus rambut halusnya.

"Kau sodara yang baik Sakura. Dan aku benar-benar minta maaf. Dugaanku salah." Aku benar-benar merasa bersalah pada Sakura. Sakura menangis dalam diam di pelukanku.

Sudah sekitar setengah jam lebih dan Sakuraku mulai terdiam di pelukanku.

"Kau bilang nama kekasih pengganggu tadi adalah Sai?" Sakura mengangkat wajahnya menatapku dengan pandangan kesal, mungkin karena temannya aku bilang pengganggu?

"Namanya Ino, bukan pengganggu tuan. Dan ya kekasihnya adalah Sai. Shimura Sai, kenapa?" syukurlah dia sudah mulai menggunakan mulutnya untuk menyeramahik. Sudah pasti aku akan masuk Rumah Sakkit Jiwa jika dia tidak mengomeliku.

"Yayaya. Terserah. Tidak hanya saja aku pernah mendengar namanya." Mata bulatnya masih setia menatapku penuh dengan kejengkelan. Namun sedetik kemudia dia mengalihkan pandangan dan mulai melepaskan diri dari dekapanku duduk di kursi- aku baru tahu jika ada kursi disitu-

"Jelas saja, itu tidak akan asing buatmu. Keluarga Shimura termasuk kedalam 10 besar jajaran pemegang Saham di industri mekanik." Jelasnya membuatku teringat seorang yang berjalan dengan ayahku beberapa bulan lalu. Oh aku mengingatnya sekarang.

"Sasuke bagai mana jika kita jalan-jalan? Aku bosan di rumah." Berjalan-jalan di hari yang cukup dingin begini, apa yang di dapankan setelah itu, bukan kesenangan melainkan Sakit yang di dapat setelahnya. Aku tidak menyetujui ajakannya namun rengekannya cukup membuatku jengkel. Helaan napasku menjadi sebuah sorai untuk Sakura.

Sakura berlari keluar kamarku dan sesaat kemudia dia menunjukan sebuah kunci mobil padaku.

"Kau hanya perlu mengikutiku." Ujarnya menyeretku.

"Aku butuh jaket, atau setidaknya sweeter Sakura." Aku akan memutar tubuhku hendak masuk kedalam kamar lagi, namun pergerakanku terhenti dengan tarikan kuat Sakura di tanganku.

"Kau tidak memerlukannya Sasuke." Lagi-lagi aku menghela napas. Jika Itachi tahu aku pasrah begini di hadapan wanita, dia akan menertawakanku. Aku bahkan bisa membayangkan dia tertawa terbahak-bahak sekarang. Ah sial.

Tanpa ku sadari aku sudah berada di dalam mobil, bahkan aku tidak menyadari mobil warna apa yang aku tumpangi ini.

Sakura tersenyum, sebelum mengamil napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Apa yang di lakukannya? Sepertinya dia gugup. Apa ini pertama kalinya dia menyertir mobil? Jika iya, nyawaku dalam bahaya.

A-apa ini? Jadi benar jika Sakura baru melakukannya pertama kali? Nyawa kami benar-benar dalam bahaya. Dia mengendari mobil dengan sangat payah. Sesekali aku membelokan stir moilnya. Ini sangat berbahaya. Akhirnya aku menyuruhnya untuk menepi, dan jadilah aku yang memegang kemudi.

"Aku tidak percaya ini kau benar-benar payah Sakura." Ia mengerucutkan bibirnya.

"Harusnya kau bilang padaku. Pantas saja kau tidak mengendarai mobil jika ke kampus." Napasku masih memburu karena adrenalinku terpacu, aku benar-benar harus berterima lasih padamu Sakura karena kau akan benar-benar merenggut nyawaku.

"Aku tidak akan sepayah itu, jika teruk pengangkut sapi itu menepi sedikit." Dia masih saja bisa mengelak.

"Sudahlah." Akhirnya dia berhenti mengelak dan memilih untuk duduk manis di kursi samping kemudi. Aku tersenyum. Dia lucu sekali.

Difference

Saat kami pulang kerumah, bibi sudah berada di teras dengan sebuah cangkir teh di tangannya. Ia mengangkat cangkir melihatku dan Sakura yang masih mengerucutkan bibirnya karena peristiwa tadi.

"Bibi aku tidak tahu jika Sakura tidak bisa mengemudi." Ujarku meliriknya. Dan apa yang dia lakukan? Dia berjongkok sambil mencaburti rumbut dengan brutal, aku meneguk ludahku menyaksikan Sakura mencabuti rumput itu. Aku yakin setengah jam dari sekarang rumput-rumput yang sudah rapih ini akan botak karena ulahnya.

"Apakah dia menyetir?" bibi nampak khawatir setelah mendngarnya.

"Aku mengambil alih kemudinya." Nampak kelegaan yang ku dapat darinya.

"Oh ya bibi, mungkin besok sore aku akan pulang ke Jepang." Lanjutku membuat Sakura bangkit berdiri dan menatapku dengan pandangan horor.

"Apa kau bilang? Bukannya kau akan menghabiskan liburan Semester di sini?"

"Aku tidak pernah bilang." Mata ku berkedip beberapa kali menyaksikan ekspresi Sakura. Dia membuka mulutnya dengan mata membulat.

"Kalau begitu aku akan ikut pulang." Sedikit tersentak mendengar ucapannya, aku mengalihkan pandangan ke arah bibi yang ikutan berdiri.

"Aku masih rindu padamu Sakura." Oh aku benar-benar tidak tega pada bibi Mebuki.

"Kenapa bibi tidak ikut bersama kami?" ujarku membuat bibi mebuki terkaget.

"Apakah tidak apa?" suaranya terdengar lirih

"Aku rasa itu tidak jadi sebuah masalah." Perkataan Sakura menjadi final untuk kami pulang ke Jepang bersama bibi Mebuki. Setelahnya aku menghubungi ibuku meminta untuk mengirimiku sedikit uang, ingat uangku habis untuk ongkos taxi sialan itu. Mengingatnya membuatku kesal dan itu artinya aku berhutang sebuah pekerjaan di kantor. Oh Selamat untuk mu kakak, kau akan mendapat sebuah bantuan yang luar biasa.

TBC

Balas Review

Uchiha pioo : Terima kasih sudah mampir hehe

Ayuyu : garis takdir akan berpihak padanya kok ayuyu-san hehe, Terima kasih

Gamaichans : Terima kasih hehe

Luca Marvell : ee entahlah, hehe itu akan terjawab di chapter 9 mungkin haha Terima kasih

Prissa armstrong : Terima kasih, dan maaf malah update ngadat :v

Cherryhyuga1 : hahaha semoga saja, Terima kassih

Pinktomato : iya ini SAASUSAKU, Terima kasih

Dark blue dan pink cherry : maaf jika pendek, Terima kasih

EmikoRyuuzaki-chan : ini sudah Terima kasih

Misa safitri3 : hahaha Terima kasih

BackhyunSaranghaeHeni : maaf baru update

: haha iya, mereka tidak akan pisah, Terima kasih

: Terima kasih hehe

Yoktf : ini sudah lanjut, Terima kasih

Hyemi761 : maaf baru update, Terima kasih

Maaf banget para reader, kyori ngadet updatnya, huhu dan Terima kasih jika masih setia menunggu kelanjutan Difference. Dan sepertinya di chapter ini kyori banyak menggunakan kata yang berulan-ulang. Maafkan ketidak sempurnaan kyori huhuhu. Sekali lagi Terima kasih.

Salam Cinta

kyori