Gekkan Shoujo Nozaki-kun
©Izumi Tsubaki sensei
.
.
A/N: Humor is more difficult than romance. And romance ain't as easy as humor. General is little safe. Romance with a little bit humor, and overall it's general. Well, enjoy it.
.
.
—Hubungan Kita—
by oishit
.
Chapter 7
[ Melarikan Diri ]
#
#
#
Telinga mungil itu dapat mendengar lebih dari yang ia harapkan. Suasana cafe begitu ramai hingga jarak setengah meter terasa begitu jauh. Pria di hadapannya hanya duduk dan menatap layar ponsel dan sesekali membetulkan posisi kacamatanya. Kadang wajahnya terlihat tegang, namun bersamaan menghela napas kelegaan. Chiyo hanya bisa duduk diam sambil sesekali meminum jus mangganya, ia berharap Nozaki segera kembali dari toilet.
Suara batuk yang pelan membuat Chiyo mengalihkan atensinya pada satu-satunya teman di meja. Terlebih ketika suara berat itu menyerukan namanya, "Sakura-san?" panggil Pak Ken.
"I-iya," jawabnya terbata. Chiyo tidak tahu seberapa cepat darah memompa jantungnya saat ini tapi, ia bisa mendengar suaranya yang sedikit bergetar.
"Sudah berapa lama—" Setiap kata yang terujar membuat pikiran kekasih Nozaki tak menentu, namun juga membawanya pada asumsi semu, "—kau menjadi," pupilnya semakin mengecil untuk sampai di penghujung kalimat. Chiyo heran kenapa satu kalimat ringkas begitu lamban terselesaikan, "—asisten Yumeno sensei?"
.
.
.
Sakura Chiyo berjalan tepat di sisi Nozaki. Pria itu berjalan ke depan, namun Chiyo masih mencuri pandang padanya seolah tiada hari esok yang mengizinkan dirinya menatap wajah tegas itu. Chiyo membuang napasnya, ia ingat dengan pertanyaan Pak Ken. Jika ia berpikir kembali, tidak ada seorang pun yang tahu rahasia kecil antara ia dan Nozaki. Sangat menyenangkan bagi Chiyo memiliki hubungan rahasia, tapi terkadang sedikit menyesakkan.
"Apakah Nozaki-kun tidak ingin meng-expose hubungan ini?"
Ia membuang napasnya.
"Ataukah Nozaki-kun punya kekasih yang lain?"
Kali ini ia menggeleng hebat, "i-itu tidak mungkin, iya kan?" kekehnya. Tanpa ia sadari Nozaki mendengarnya.
"Apa yang tidak mungkin, Sakura?"
Nozaki menarik tali clutch milik Chiyo menghentikannya untuk menyebrang di lampu hijau. "Berbahaya sekali," ujar Nozaki. Ia menoleh ke jalan raya yang penuh dengan kendaraan bermotor.
"Apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu, Sakura?"
Pipi tembam itu seketika merona, Nozaki begitu perhatian padanya, "Hn? tidak... hanya tugas yang belum aku selesaikan."
"Ah, apa aku juga punya tugas yang belum aku selesaikan?" Nozaki mengusap dagunya, seolah ia tengah memikirkan plot chapter terbaru manga-nya. "Oh," ujarnya.
"Kaumemilikinya juga, Nozaki-kun?"
"Ya, tugas yang sangat sulit."
"Apa ini tentang manga-mu?"
Chiyo sedikitnya atau bahkan sangat mengerti kemana arah pembicaraan Nozaki berlabuh. "Bukan, ini tugas yang lain." Nozaki menatap lampu yang akan menjadi merah, "aku rasa," ia menatap Chiyo yang berusaha menangkap netra hitamnya, Nozaki kembali berpaling pada lampu yang sudah berubah merah, "hubungan rahasia itu sedikit menekan perasaan," sambung Nozaki. Kakinya melangkah bersama puluhan langkah kaki lainnya, tapi Chiyo masih mematung seperti kendaraan yang terjebak lampu merah.
.
.
"Mengapa aku harus mempertanyakanmu dan hubungan kita, Nozaki-kun..."
"Sakura, es krimmu," panggil Nozaki. Sebenarnya ia memperingatkan Chiyo tentang lelehan es krim yang membasahi tangannya hingga ke siku. Chiyo lantas berteriak dan baru merasakan dingin yang menyentuh kulitnya. "Apa kali ini tugasmu bertambah, Sakura?"
"Eh?" ia menatap Nozaki lekat-lekat. Bertanya-tanya kenapa Nozaki begitu perasa hari ini. "Hn, ya... i-itu," Chiyo tidak berani mengatakannya. Tapi, ekoran mata Nozaki seolah menekannya untuk membongkar isi hati dan perasaanya. "A-aku sedang berpikir tentang anak-anak itu," kelit Chiyo. Ia menunjuk sekumpulan anak kecil yang tangah bermain di kotak pasir, membuat istana dan perosotan dari pasir. "Betapa menyenangkan hidup seperti mereka," lanjut Chiyo.
"Tidak sama sekali," pikir Nozaki. "Apalagi dengan kakak pengawas sepertinya," kini raut wajah Nozaki seolah enggan untuk berada disana. Sosok gadis bermata calang itu menatap anak-anak seolah ia akan menerkam mereka. Ia memakan es krimnya dengan cepat, "kita harus pergi," katanya lagi.
Tapi, bahkan ia gagal.
"Wo! Raksasa! Chiyorin juga!"
Virus berbahaya yang harus Nozaki hindari—Seo Yuzuki. Gadis berambut ikal dengan kuncir menyamping itu menghampiri mereka dengan cepat. "Apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanyanya.
Nozaki baru saja akan menjawab, tapi wanita itu memandang Nozaki dan es krim di tangan Chiyo dengan mata setajam elang, ia mengelus dagunya, "aku tahu," kataya begitu serius. Ia masih mengelus dagunya dan netra nya mengintimidasi manik hitam. "Ini adalah bentuk penyuapan tugas! Kau menyuap Chiyorin dengan es krim murahan ini, sudah begitu di tempat gratisan seperti ini!"
Kedutan-kedutan halus terpantri di wajah Sakura Chiyo, tapi bahkan Nozaki ingin sekali melemparkan kursi taman ke wajah wanita paling tidak tahu situasi yang masih melafalkan asumsi-asumsi menyebalkannya.
"Tenanglah, Nozaki-kun! Tenang!" Chiyo menahan Nozaki yang hampir hilang kendali.
"Cih! Menyusahkan sekali," Yuzuki bertolak pinggang. Lalu, tangan kanannya menyentuh pundak Nozaki, membuat ia berhenti dari kekalutannya, "Cobalah lebih bermodal sedikit, Hoi raksasa," ujarnya penuh makna. "Seperti mereka," tunjuk Yuzuki ke balik pundak pada beberapa pasang pria-wanita yaang membawa perlengkapan piknik.
Bukannya memberi semangat, hal itu membuat kemarahan Nozaki menjadi-jadi. Ia benar-benar akan melemparkan bangku taman, "Baiklah aku pergi, sampai jumpa!"
"Seandainya," gumam Nozaki. Ia menjatuhkan dudukannya di kursi taman yang sudah kembali ke tempat semula, "seandainya Seo tahu."
Sakura Chiyo membulatkan matanya, jantungnya berdegup sangat kencang. Nozaki mengatakan apa yang Chiyo pikirkan. "Maafkan aku, Sakura," sambung Nozaki.
"Ti-tidak, Nozaki-kun. Ja-jangan dengarkan Yuzuki," ia mencoba menenangkan wajah yang mulai menampakkan sedikit depresi.
"Sebagai seorang mangaka muda, harga diriku sudah hancur. Maafkan aku, Sakura!" Nozaki membungkukkan tubuhnya. Ia benar-benar menyesal.
"Nozaki-kun," lirih Chiyo. Ia tidak peduli lagi akan pengakuan hubungan rahasia ataupun tidak, hubungan ini rasanya begitu manis.
"Lain kali aku akan membawamu ke tempat dimana tidak ada Seo!"
"Ah..."
"Sayang sekali dia tidak tahu aku seorang mangaka, aku juga akan mentraktirnya makan es krim," sambung Nozaki lagi.
"He..."
Chiyo hanya bisa memakan eskrim yang hanya menyisakan cone-nya. Ia berdiri, dan melempar napasnya, "Benar-benar Nozaki-kun!" serunya di iringi tawa membuat pria jangkung itu bingung. Tapi, ia ikut tersenyum saat gadis berambut oranye itu juga tersenyum.
Mata hitam Nozaki menatapnya dengan hangat, dan terdiam pada satu titik—pergelangan tangan mungil. Chiyo yang menyadarinya segera menarik lengan, menatap jam tangannya dengan teliti. "Ah, sekarang hampir sore, Nozaki-kun!"
Nozaki menyungging senyum, "Baiklah, mari kita pulang."
Mereka beranjak meninggalkan taman. Tidak ada percakapan yang berarti, bahkan mereka saling terdiam. Chiyo masih setia mengikuti Nozaki disisinya dan sesekali mencuri pandang pada rahang tegas Nozaki. "Sakura," Nozaki akhirnya bersuara. Ia menghentikan langkahnya, melipat lengannya, lalu menunjuk pergelangan tangannya sendiri.
"Oh, itu," seru Chiyo seolah mengerti. Ia mengalih pada pergelangan tangannya yang terpasang jam tangan analog, "masih sempat, Nozaki-kun. Aku tidak akan kemalaman," ia menjelaskan.
"Ya, tentu saja."
Mereka kembali berjalan. Suasana mulai ramai, dari pejalan kaki hingga pengendara bermotor. Mata tajam Nozaki tidak bisa tertipu, rambut merah itu begitu mencolok hingga ia bisa langsung mengenalinya. "Miko—" ia mengurungkan niatnya untuk memanggil. "Ah, Kashima," keluhnya begitu ia melihat penampakan biru di sisi Mikoshiba Mikoto.
"Eh? Dimana? Dimana?" Chiyo berusaha mencari mereka, namun tubuhnya tak akan berdaya di tengah kerumunan. Tapi, Nozaki ada untuk menjadi matanya. Ia menunjukan keberadaan dua sejoli itu, Chiyo berusaha memanggil hingga ia melompat untuk memberikan eksistensinya.
Nozaki meraih pergelangan mungil Sakura Chiyo. "Sudah sore, nanti kemalaman," ujar Nozaki. Ia menarik Chiyo ke sisi lain, membelot dari arah Kashima dan Mikoshiba.
"Eh? No-nozaki-kun."
Jantungnya berpacu cepat, entah karena adrenalin atau tangan besar itu penyebabnya. Tidak kah Chiyo sadar, bahwa hari ini dirinya begitu tidak perasa.
.
.
.
Melarikan Diri
[ End ]
A/n : Hi! Ini update-nya kelamaan, yah? udah lama, terus isinya gitu doang. Pendek banget, cih! Tolong maafkeun author, yah kalau ternyata ini diluar ekspektasi kalian. Entah mengapa dibandingkan nuansa romantis mereka berdua, authornya malah kepo sama hubungan rahasia yang dianut Nozaki, dimana sampai sekarang belum terjawab (padahal author yang bikin, tapi authornya kepo sendiri). Warning aja, disini Nozaki nggak akan jadi full romantis. Jadi, jangan terlalu berharap. Maafkeun yah... Tolong jangan nunggu chapter selanjutnya, dijamin kalian sedih. Sedih karena penantian tak berujung. hohox!
Terimakasih, guys! Kalian hebat dan luar biasa! terimakasih sudah baca sampai chapter ini. Kalau bertanya-tanya (kayaknya sih nggak) kenapa dibikin completed, jawabnya adalah karena cerita satu chap ke chap lain itu tidak berkesinambungan. aka. kalian bisa lompat baca, tapi chapter satu wajib dibaca karena disitu semuanya bermula. Sudah completed? sudah... tapi, akan selalu ada cerita baru. Kapan? tergantung otaknya author yang ngebulnya moody.
Oke! sekali lagi terimakasih semuanya!
