FF BAP/YAOI/BANGHIM & All Couple/ONE SHOT/Part 7

Title: One Shot

Author: Bang Young Ran

Rating: T

Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Crime(?)/AU

Length: Chaptered

Main Cast:

Kim Him Chan *(^3)(0.0)*

Bang Yong Guk~~ *Gukie~ (/)*

Support Cast:

DaeLo (Jung Dae Hyun & Choi Zelo/Jun Hong)

JongJae (Moon Jong Up & Yoo Young Jae)

Disclaimer: BAP is TSEntertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*

Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!

Summary: Kim Him Chan adalah seorang polisi yang ditugaskan untuk menyamar, menjadi salah satu anggota geng yang disebut The Mato's. Dalam penyamarannya, Him Chan berperan sebagai kekasih Bang Yong Guk, si pemimpin geng The Mato's. Lalu, akankah Him Chan berhasil menjebak The Mato's? Atau dia harus terjebak, terperosok begitu dalam atas kasih sayang dari seorang Bang Yong Guk?!

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?

.

.

~~( ^3)(.o )~~

.

.

TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT

HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^

.

.

.

One Shot

Part 7

Somewhere in Bangkok

"Appa! Kenapa appa membiarkan Chanie menyelinap ke dalam The Mato's? Appa tahu betapa berbahayanya itu?! Nyawanya bisa saja terancam!"

"Not right now, Dan! Kau tidak lihat kita sedang dalam misi?! Agenku membutuhkan kita. Sekarang."

Daniel mendengus kesal atas jawaban sambil lalu sang ayah. Tidak satu pun pertanyaan yang dilontarkannya dijawab dengan benar. "APPA! Seharusnya appa mengatakan lebih awal kepadaku!"

"Huft... lalu setelahnya apa? Kau akan menemuinya? Kau tentunya tahu, Son, Him Chan tidak ingin melihatmu."

Yah, benar. Him Chan tidak sudi lagi melihatnya. Namja cantik itu meneriakkan kata-kata tersebut dengan histeris waktu di rumah sakit dulu. Bahkan setelahnya, hubungan pertunangan mereka diputuskan secara sepihak oleh Him Chan, diikuti dengan menghilangnya keberadaan namja cantik tersebut.

Melihat kebungkaman Daniel, sang appa kembali menghela nafas berat. Entah dia harus menyalahkan siapa atas semua yang telah terjadi. Daniel bertabiat buruk dari dulu. Dia tahu itu. Satu-satunya hal baik yang pernah dilakukan sang putera hanyalah... menjalin hubungan serius dengan bocah riang penuh semangat bernama Kim Him Chan. Bocah yatim-piatu. Rasa kasih sayang yang tumbuh membuatnya mengangkat Kim Him Chan pula sebagai anak. Namun apa boleh buat bila putera kandungnya sendiri mengacaukan semuanya. Hingga dengan terpaksa, ia mengizinkan Him Chan keluar dari rumah untuk menghindari Daniel.

"Dengar, Son. Aku tahu kau sangat menyesal dan ingin minta maaf padanya. Tapi... kau tahu? Kau sudah membunuh setengah dari hidup bocah malang itu. Biarkan dia mengambil waktunya dan bila tiba saatnya nanti, dia mungkin akan memaafkanmu. Tapi tidak sekarang. Sekarang kita harus menyelamatkannya. Dia membutuhkan bantuan kita. Okay?"

Kali ini giliran Daniel yang menghela nafas berat. Appa-nya benar. Keselamatan Him Chan adalah hal terpenting sekarang.

Dengan lelah namja tampan berdarah campuran tersebut menutup kedua matanya dengan telapak tangan dan mengangguk setuju. Apapun itu. Sebentar lagi dia akan melihat wajah cantik itu lagi. Dia, Daniel, sangat merindukan Kim Him Chan.

########^0^#########

"Aku hamil. Karena itulah aku tidak ingin kau membunuh orang. Aku tidak ingin anak kita nantinya dikenal sebagai anak seorang... pembunuh."

Trak~

Senjata dalam genggaman Yong Guk jatuh begitu saja, menghantam lantai keramik. Tangan yang biasanya begitu pasti memegang senjata itu, mendadak lunglai. Bang Yong Guk, si monster penuh amarah, entah lenyap kemana.

1 detik...

2 detik...

Hingga...

Lebih kurang delapan detik berlalu... diliputi kesunyian. Him Chan mulai berpikir kalau dirinya baru saja melakukan kesalahan. Dan yang lebih menyakitkan... apa Yong Guk tidak menginginkan anak mereka? Namja itu hanya mencintainya, dan sama sekali tidak menginginkan anak darinya? Begitukah?!

Baru saja Him Chan hendak menyemburkan pertanyaan-pertanyaan berupa tuduhan tersebut ketika dua lengan kokoh tiba-tiba menarik tubuhnya dan memeluk dengan luar biasa erat.

Bang Yong Guk.

"Bbang?" Him Chan terlalu shock untuk berkata-kata. Karena sekarang... nafas Yong Guk terasa berat di lehernya. Belum lagi tubuh namja itu yang sedikit bergetar. Dia... menangis?

"Jadi karena itukah beberapa hari ini kau bersikap aneh? Se-seharusnya aku tahu. Se-seharusnya aku tidak begitu bo-bodoh se-sehingga tidak melihat tanda-tandanya. Seharusnya—"

Rasanya seperti menghilang. Him Chan menemukan dirinya tidak mampu berkata apa-apa hingga malah memilih untuk membungkam bibir Yong Guk dengan bibirnya. Terus terang namja cantik itu tidak mau mendengar lagi gumaman lirih dari sang kekasih. Dia tidak mau kalau kata-kata itu nantinya akan berakhir dengan makna penyesalan. Sudah cukup rasa penyesalan dan kecewa itu berada di pihak Him Chan. Tidak perlu Yong Guk pula yang mengalaminya. Dan jujur, sekarang Him Chan memikirkan; apa dan bagaimana masa depan mereka kelak? Bagaimana aegya mereka akan tumbuh? Dan, apakah dunia The Mato's adalah tempat yang pantas untuk membangun sebuah keluarga?

Deg~

Tidak.

Tentu saja tidak.

Ctak!

Suara benda logam di lantai membuat Him Chan dan Yong Guk memisahkan diri. Menatap ke bawah hanya untuk menemukan tubuh lunglai dengan wajah babak belur yang mengacungkan senjata super canggih ke arah mereka.

Oh, seharusnya Yong Guk tidak menjatuhkan senjata itu.

Seharusnya jangan membiarkan sebilah pisau berada pada jarak jangkau seorang psikopat.

"Kkkkk~ wah, wah, wah... how romantic. Tcih! Jadi namja berwajah cantik ini kekasihmu?! Bang Yong Guk yang terkenal akan kesadisannya... akan menjadi seorang ayah? Kkkk~ aku penasaran, apa yang akan terjadi kalau aku menembus kepala kekasihmu dengan peluru ini?" Samuel berdendang sembari meringis. Tangannya mulai menarik pelatuk pistol, mengarahkan tepat ke kepala Him Chan yang tengah mematung. Terlalu shock.

Yong Guk yang melihat hal itu, bergerak secepat mungkin, melindungi Him Chan di balik punggungnya.

Sssst!

"AKHH!"

Tidak ada ledakan besar, hanya suara letupan pelan dan teriakan kesakitan.

Tunggu,

Yong Guk dan Him Chan membuka mata. Keduanya bahkan tidak sadar telah memejamkan mata mereka dengan begitu erat.

"AKHH!" teriak Samuel histeris memegangi pergelangan tangannya. Ugh, siapapun pastilah akan berteriak seperti itu bila... punggung telapak tangan kanannya ditembusi peluru.

"Seharusnya kau tidak melakukan itu, Brengsek." Dae Hyun menyeringai, meskipun pada akhirnya namja itu harus meringis karena merasakan kulit pada sudut bibir dan pipinya yang robek tertarik. Meskipun mata namja tampan itu sedikit kabur akibat lebam, bukan berarti bidikan senjatanya akan meleset.

Samuel hanya... tidak beruntung karena berhadapan dengan The Mato's. Sangat-sangat tidak beruntung. Sekarang dia harus menerima jika seandainya dokter mem-vonis tangan kanannya lumpuh akibat tulang yang hancur.

Yong Guk melirik Dae Hyun dan mengangguk, memberikan isyarat berterima kasih karena telah menyelamatkan mereka. Sementara Him Chan tidak diam begitu saja. Senjata yang tadinya sempat berada di tangan Samuel, dipungutnya dari lantai. Dia hanya bisa menatap prihatin namja yang saat ini bergelung kesakitan di lantai. Ibakah? Tidak.

"Gwenchana?" Yong Guk bertanya, membantu Him Chan berdiri dari posisi jongkoknya di samping Samuel.

"Nan gwencahana, Bbang," jawab Him Chan dengan senyuman cerah.

"Aku benci mengganggu momen indah ini tapi... bukankah sudah waktunya kita menemui Zelo? Kurasa dia sudah tiba di titik pertemuan," kata Young Jae menyela. Terdengar kekehan pelan dari namja yang tengah dipapahnya, sementara Dae Hyun di seberang sana memutar bola mata.

'Itulah yang kurasakan ketika kau bermesraan dengan Jong Up di hadapanku,' keluh Dae Hyun membatin.

Bertepatan dengan itu, suara sirine terdengar dari kejauhan. Mungkin kalau hanya satu sirine tidak masalah. Bisa saja itu mobil ambulan atau mungkin pemadam kebakaran. Tapi... kalau suara sirine terdengar banyak, hanya ada satu kesimpulan...

Polisi.

"Shit! Polisi!" Dae Hyun mengintip ke balik jendela. Halaman depan masih kosong. Namun suara sirine yang terdengar semakin jelas membuatnya bertambah panik.

Him Chan mematung. Oh, dia sampai lupa kalau tadi telah menghubungi sang atasan dan... dijawab oleh Daniel.

Daniel.

Namja itu pasti juga ikut dalam penggerebekan ini. Dan Him Chan sama sekali tidak berencana untuk bertatap muka dengan namja itu. Ah! ada yang lebih penting lagi dari hal itu! Yong Guk! Yong Guk dan yang lainnya akan tertangkap bila terus berada di tempat ini.

"Bbang! Ayo! Kita pergi dari sini!" Entah apa yang Him Chan pikirkan. Tanpa mengulur waktu, dia menarik tangan Yong Guk untuk pergi bersamanya. Namun... namja yang ditarik malah menyentak tangannya.

"Aku tidak akan pergi sebelum menghabisi bajingan itu, Hime. Kau akan melepaskan orang brengsek sepertinya begitu saja? Dia akan menyakiti yeoja lainnya!" Yong Guk berteriak penuh emosi.

Oh, mereka tidak punya waktu untuk ini. Bang Yong Guk kembali menjadi dirinya yang diselimuti dendam.

Him Chan melirik ke arah Young Jae, Dae Hyun, dan Jong Up. Namja cantik itu mengisyaratkan dengan gerakan kepala agar ketiganya pergi lebih dulu.

Meskipun sempat saling bertatapan ragu, ketiganya akhirnya menurut dan pergi meninggalkan Him Chan beserta Yong Guk. Entahlah, saat ini, mereka hanya bisa menggantungkan harapan pada Him Chan.

Setelah menghela nafas berat, makhluk cantik itu akhirnya kembali berbicara. "Aku tahu betapa besarnya keinginanmu untuk membunuhnya. Tapi kumohon, Bbang, serahkan semuanya kepada polisi. Aku yakin setelah ini semua bisnis ilegalnya akan terbongkar. Dan aku serius saat mengatakan kalau aku tidak mau appa dari aegya-ku dikenal sebagai seorang pembunuh. Aku serius, Bbang."

Nafas Yong Guk tercekat dikala marbel hitam tersebut menatapnya lurus. Him Chan serius dengan ucapannya. Entah mengapa Yong Guk seolah mendapat firasat kalau Him Chan akan meninggalkannya.

"Do you wanna go with me right now, or not?"

Yah, Him Chan pastilah akan meninggalkannya. Meskipun makhluk cantik tersebut tidak mengatakan secara jelas. Mungkin... ini bukan saatnya Yong Guk untuk mempertahankan sifat keras kepalanya.

"Ne, aku ikut denganmu, Hime." Yong Guk berkata pelan. Him Chan yang pergi dan tidak mau bertemu lagi dengannya, terus terang Yong Guk tidak mau lagi menggalaminya.

~~~~~~\(=^3^=)(=^0^=)/~~~~~~

—Kediaman pejabat Samuel James, pagi ini dikepung oleh tim SWAT. Dilaporkan bahwa Samuel melakukan transaksi bisnis ilegal di kediamannya. Kabar baru yang kami terima, bisnis ilegal yang dilakoni Samuel berhubungan dengan human trafficking. Kemungkinan bisnis ini juga melibatkan beberapa pejabat penting lainnya. Dan juga terdengar kabar bahwa The Mato's sebelumnya berada di tempat kejadian perkara. Pihak berwajib berspekulasi kalau berkemungkinan, Samuel James adalah target The Mato's berikutnya. Namun tidak dapat dipastikan apa alasannya Samuel James dibiarkan tetap hidup padahal, selama ini The Mato's selalu menghabisi nyawa pejabat yang menjadi targetnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kami akan terus mela—

Pip.

Yong Guk menekan tombol off pada remote control televisi di tangannya. Membuat Zelo dan Young Jae yang tengah menonton berita pada layar televisi secara cermat, terlonjak kaget.

"Kalian tidurlah. Ini hari yang melelahkan."

Mendengar ketegasan dalam suara sang leader, reflek Zelo dan Young Jae mengangguk patuh.

Young Jae bergegas menuju kamarnya di lantai dua sementara Zelo yang meskipun berdiri, namun malah melangkah ke samping Yong Guk.

"Hyung," panggilnya ragu.

"Ne?"

"Bagaimana keadaan Him Chan Hyung?"

Sang leader menelengkan kepala ke samping, alisnya berkerut bingung, tidak menangkap kemana arah pembicaraan si maknae. "Dia baik. Hanya kelelahan, kurasa. Kemungkinan sekarang dia sudah tidur. Kenapa?"

Zelo tersenyum simpul dan menggeleng pelan. "Ani. Aku hanya khawatir saja. Eum... Hyung?" panggil Zelo lagi. Wajah manisnya terlihat sedang menimbang-nimbang sesuatu.

"Apa, Zelo-ya? Katakan saja."

"Bolehkah... aku mengucapkan selamat untuk kalian?"

Oh.

Itu ternyata yang ingin si maknae ini sampaikan. Him Chan hamil. Seluruh The Mato's tahu saat kekasihnya itu meneriakkan hal tersebut. Tidak terkecuali Zelo yang menerima teriakan itu secara langsung tepat pada radio di telinganya.

"Kkkk~ ne, tentu saja kau bisa mengucapkan selamat, Zelo-ya."

Wajah Zelo kembali sumringah. "Selamat, kalau begitu, Hyung! Aku yakin, Hyungie berdua akan memiliki bayi luar biasa tampa – ah! Atau mungkin cantik seperti Him Chan Hyung!" serunya bersemangat. Dua tangan terkepal erat dengan wajah sedikit menerawang ke atas, pose penuh keyakinan.

Yong Guk yang melihat tingkah si maknae hanya terkekeh. Terkadang ia lupa betapa mudanya seorang Choi Jun Hong.

"Terima kasih, Zelo-ya. Sekarang kau tidur, ne?! Aku akan menyampaikannya pada Him Chan. Oh, atau kau ingin menyampaikannya sendiri saat dia bangun nanti?"

"Ne! Aku akan menyampaikannya sendiri saja, Hyung!"

"Kkkkk, baiklah~"

#######^0^#######

"Aku mendengar ribut-ribut suara Zelo. Ada apa?" tanya Him Chan begitu Yong Guk muncul dari balik pintu kamar mereka.

"Hahahaha~ dia mengucapkan selamat untuk kita. Ah! Aku lupa. Seharusnya aku tidak memberitahu sebelum dia mengucapkannya langsung padamu. Besok kau pura-pura tidak tahu saja, ne?!"

Him Chan terkikik mendengar Yong Guk yang mengajaknya bersekutu. Tangan kurusnya bergerak menyingkapkan selimut untuk sang kekasih yang saat ini merangkak ke atas tempat tidur.

Setelah dirasa posisinya pas, Yong Guk kemudian menyamping. Lengan kekarnya memeluk tubuh Him Chan yang juga menghadap padanya. "Kenapa kau masih belum tidur? Kau tidak merasa lelah setelah semalaman bergadang?"

"Aku menunggumu," jawab Him Chan singkat. Wajah cantik tersebut bersembunyi diantara dada bidang Yong Guk. Menghela wangi cologne namja tampan itu. Rasanya seperti di rumah. Meskipun Him Chan sendiri tidak pernah benar-benar merasakan apa itu 'rumah' sebenarnya.

Tunggu,

Bagaimana dengan rumah 'ayah mertuanya'? Mungkin... Him Chan akan menempatkannya seperti 'rumah singgah'. Sama seperti panti asuhan tempatnya ditinggalkan dulu.

Panti asuhan.

Bagaimana mungkin wanita jalang itu tega meninggalkannya disana? Dan bicara soal 'wanita jalang'... yah, hanya itulah yang Him Chan simpulkan dari keterangan ibu pengasuhnya di panti asuhan. Katanya, dia melihat bayangan seorang yeoja di samping jendela kaca panti. Dan begitu keluar untuk melihat, si ibu pengasuh hanya menemukan keranjang berisi bayi disertai secarik kertas pink.

—Namanya Kim Him Chan. Aku memanggilnya Hime. Karena dia cantik seperti seorang puteri. Kumohon jaga dia baik-baik. Katakan padanya, aku minta maaf, dan, seluruh cintaku hanya untuknya—

With Love,

K.H.C

Hanya pesan singkat tersebut yang tertera. Tidak ada petunjuk lain selain huruf kapital bertuliskan 'K.H.C'. Him Chan tidak bodoh untuk langsung menyadari kalau huruf-huruf tersebut pastilah inisial nama dari wanita itu. Tapi, dengan membuangnya ke panti asuhan, Him Chan memutuskan untuk tidak juga peduli. Dibuang, itu artinya kau tidak diinginkan, 'kan?

Alis Yong Guk berkerut merasakan nafas Him Chan yang mendadak berat di dadanya. Kenapa?

Yong Guk mendorong pelan kedua bahu kekasihnya hanya untuk mendapati wajah cantik itu berurai air mata. "Hime! Waegeure?!"

Tanpa menjawab Him Chan kembali memeluk pinggang Yong Guk erat. Kata-kata dibuang dan tidak diinginkan yang dirangkai oleh otaknya sendiri, malah membuatnya menangis. Panggilan 'hime' dari Yong Guk semakin memperburuk suasana hatinya. Yang lebih menyebalkannya lagi, Him Chan tidak bisa melakukan apa-apa untuk merubahnya. Paling tidak, jangan memanggilnya 'hime'.

"Waegeure, Hime-ya~? Ada yang sakit?" tanya Yong Guk lagi, namun hanya disambut anggukan cepat dari kepala si makhluk cantik yang kini membasahi kaus putih tanpa lengan yang dikenakan Yong Guk dengan air mata.

Menyerah, Yong Guk memutuskan untuk membiarkan Him Chan menangis di dadanya. Belajar dari pengalaman, lebih baik tidak mendesak makhluk cantik ini. Biarlah. Mungkin sebuah pelukan erat cukup menemani Him Chan, sekaligus memberitahu kalau dia tidak sendiri. Ada Bang Yong Guk di samping Kim Him Chan. Dan, aegya mereka.

Yong Guk tersenyum lebar.

Their baby...

Him Chan expecting his blood...

His love-little creature symbol~ inside of His Beautiful Hime...

Pemandangan kontras tengah terjadi di atas ranjang king size; dimana si namja tampan tersenyum konyol menampakkan gummy smile, sementara namja cantik dalam pelukannya menangis hebat dengan bahu bergetar.

Yong Guk luar biasa senang, dan Him Chan...

Huft... damn hormon~

#######^0^#########

From : Himchanie

Subject : Changing the plan

—Aku sudah melumpuhkan Samuel dan antek-anteknya. Para korban berada di kamar tengah. Mereka gadis-gadis malang. Perlakukan mereka dengan baik dan jangan buat mereka takut saat melakukan interogasi. Mereka korban. Dan masalah The Mato's serahkan semuanya padaku. Masih ada yang perlu kuselidiki. Aku menunggu waktu yang tepat, Bos—

Namja paruh baya itu memijit pelipisnya saat entah yang keberapa kalinya ia mengecek email tersebut. Seolah dengan melakukannya, ia akan mengerti apa maksud 'menunggu waktu yang tepat' yang Him Chan katakan.

Waktu yang tepat.

Bukankah terbongkarnya bisnis kotor Samuel James beserta tertangkapnya The Mato's dalam penggerebekan yang sama, merupakan waktu yang sangat tepat? Him Chan tidak perlu bekerja dua kali. Dengan satu tembakan, namja cantik itu akan melumpuhkan dua serigala sekaligus! Ada apa ini sebenarnya!?

It's must be just one shot. Only one shot, for a God sake...

Kecuali...

Brak!

"APPA! Apa yang terjadi sebenarnya?! Kenapa Chanie malah kabur bersama The Mato's? Bukankah seharusnya tadi kita menangkap mereka?!" Daniel berteriak masuk setelah mendobrak kasar pintu ruang kerja sang appa. Engsel pintu tersebut bisa saja terlepas akibat kerasnya namja bertubuh tinggi itu menghantamnya.

"Huft... what the hell this is all about, Dan? At least you have to knock the fuckin' door first! That's damn-thing made for reasons!" Namja paruh baya tersebut sekarang berteriak. Benar-benar tidak tahan akan kelakuan serampangan sang putera yang masuk begitu saja. Padahal, baru saja otaknya memikirkan sesuatu.

"Appa tidak menghiraukanku! Appa bahkan seolah tidak perduli kalau nyawa Chanie dipertaruhkan dalam hal ini!? Appa pikir The Mato's bodoh? Mereka akan segera mengetahui kalau sebenarnya Chanie adalah polisi yang menyamar!"

Mungkin apa yang dikatakan orang-orang itu benar; anak laki-laki sebelas-dua-belas dengan appanya. Inilah yang terjadi sekarang. Daniel sama keras kepalanya dengan sang appa.

"Mereka bahkan sama sekali tidak mencurigai Himchanie, Dan! Lebih kurang tiga bulan dia memasuki The Mato's. Bahkan, dua bulan sudah dia menjalin hubungan dengan Bang Yong Guk. Jangan paranoid dan berhenti meragukan bocah itu!"

Daniel mematung, "tunggu," katanya memulai. Mata membulat penuh antisipasi akan apa yang selanjutnya ia ucapkan. "Apa maksud appa dengan menjalin hubungan dengan... bu-bukankah Bang Yong Guk itu adalah pemimpin dari The Mato's?!" teriaknya sangsi. Namun sayangnya pria paruh baya di seberang meja tampak mengunci mulut dan tidak menjawab. Hanya mengiyakan lewat ekspresi lurus tanpa berkedip menatapnya.

Benar...

Apapun yang ditanyakannya saat ini adalah benar.

Benar, Him Chan menyamar.

Benar, Him Chan menjalin hubungan pura-pura dengan... dengan...

BANG YONG GUK!

TIDAK!

Apa yang makhluk cantik itu pikirkan?! Merangkak ke dalam sarang buaya?!

"APPA! Oh, aku tidak percaya ini! Appa membiarkan Chanie terlibat dengan pria kejam itu?! Dia sudah membunuh banyak orang, Appa. Bang Yong Guk pembunuh berdarah dingin! Dia seorang pembunuh!" Daniel berteriak frustasi sembari mengacak rambut hitamnya. Dia tidak dapat membayangkan makhluk cantik seperti Him Chan dikelilingi oleh namja-namja buas. Terlebih lagi, dalam pelukan seorang pembunuh seperti Bang Yong Guk.

"Kalau aku tidak membiarkannya terlibat dengan seorang pembunuh... itu berarti juga... termasuk kau, Son."

Skakmat.

Daniel terdiam menatap lurus ke mata sang appa yang juga menatapnya lurus. Tampaknya, Daniel harus lebih berusaha lagi. Bahkan ayah kandungnya sendiri, tampak belum bisa melupakan kejadian dua tahun yang lalu.

He is, Daniel Philip Henney, already kills their little-baby...

He screws Him Chan's big dream in just one crazy-night drunk...

He makes Him Chan losing his half-soul...

He kills... his appa going to be granchild...

Daniel is... the murderrer too~

Right?

~~~~~~\(=^3^=)(=^0^=)/~~~~~~

"Auch! YA! Itu sakit! Bisa tidak, kau pelan-pelan sedikit!?"

Young Jae memutar bola mata mendengar bentakan Dae Hyun yang sudah tidak dapat dihitung jumlahnya lagi. Demi Tuhan, dia sedang berusaha untuk berbaik hati di sini! Sudah untung dia mau membantu mengobati luka Dae Hyun, tapi... namja itu malah membentak dan berteriak ribut layaknya yeoja.

"Shikkeuro! Kau berisik sekali! Kau ingin cepat sembuh, tidak?!" Young Jae juga ikut meninggikan suara dibuatnya.

Dae Hyun hanya menggerutu tidak jelas. Akhirnya dia mau diam juga dan membiarkan namja manis berpipi chubby itu membalutkan perban pada lengannya. Meskipun beberapa kali masih mengeluh ini-itu, sih.

Zelo yang saat ini tengah bersandar pada daun pintu ruang tengah, diam-diam memperhatikan dua orang di atas sofa kulit hitam yang berhadapan langsung dengan televisi itu. Mereka memang selalu ribut, tapi Zelo malah merasa keduanya cocok. Baiklah, Zelo sekarang jadi iri sekali pada Young Jae. Seandainya... dia juga bisa seakrab itu saat bersama Dae Hyun. Seandainya dia tidak terlambat bergabung ke dalam The Mato's, mungkin, 'kan, Dae Hyun bertemu dengannya lebih dulu sebelum Young Jae?

"Mereka ribut lagi?"

Zelo terkesiap dan memegangi dadanya begitu mendapati Jong Up sudah berdiri di sebelahnya. "Hyung! Kau mengagetkanku!"

"Hahaha, aku sudah berdiri cukup lama di sini, Zelo-ah. Kau saja yang terlalu sibuk... dengan 'dunia'mu sendiri," kata Jong Up disertai cengiran penuh arti. Membuat namja manis disebelahnya langsung manyun. Tsk, mungkin karena inilah Jong Up dan Young Jae berjodoh. Mereka sama. Suka meledek dan sebaiknya, berhati-hati karena mata mereka terlalu jeli. Tidak ada yang bisa menyimpan rahasia pribadi bila terlalu dekat dengan Jong Up dan Young Jae.

"Berhenti menyelidikiku, Hyung."

"Kkkkk, aku tidak menyelidikimu, Zelo-ah~ Kau saja yang terlalu transparan seperti air jernih."

Menghela nafas, tatapan Zelo kembali beralih pada dua orang di sofa. Keduanya terlihat sudah tidak lagi ribut. Malah, Young Jae saat ini tengah menertawai mata kiri Dae Hyun yang membengkak parah setelah perbannya dibuka.

"Hyung bilang aku transparan. Tapi... kenapa Dae Hyun Hyung tidak menyadarinya?" Zelo bergumam lirih. Pandangan lurusnya jelas sekali tengah menerawang.

Jong Up hanya mengangkat kedua bahu dan melirik sekilas, "entahlah. Kalau kau sangat penasaran, kenapa tidak menanyakan langsung padanya?! Bertanya padanya akan membuatmu mendapatkan jawaban yang lebih pasti," jawabnya.

Zelo kembali menghela nafas mendengarnya. Justru itulah yang menjadi masalah terbesar. Menanyakannya secara langsung. Itu tidak mungkin ia lakukan. Pengecut? Ne, Zelo mengakuinya. Terlebih... Dae Hyun sepertinya menyukai...

Reflek Zelo menatap namja di sebelahnya yang saat ini malah tersenyum memperhatikan dua orang di sofa sana. Zelo tidak mengerti, kenapa Jong Up baik-baik saja melihat keakraban Dae Hyun dan Young Jae? Bukankah dia dan Young Jae sedang berpacaran? Tidakkah seharusnya Jong Up merasa... cemburu?

"Hyung, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Apa?"

"Eumm... hyung tidak merasa cemburu melihat keakraban mereka?"

"Kkkkk~ oh, aku mengerti sekarang. Kau cemburu, ne? Tsk, singkirkan pikiran negatif itu, Choi Jun Hong. Kau seharusnya tidak pesimis. Sudah! Pergi ke Dae Hyun Hyung-Mu sana!" Entah mendapat tenaga darimana, dengan mudahnya Jong Up menyeret tubuh tinggi Zelo dan mendudukkannya di sebelah Dae Hyun.

"Nah, Dae Hyun Hyung, aku pinjam Youngie sebentar. Zelo bisa membantumu kalau hanya mengganti perban. Ne? Ayo, Youngie." Tanpa menunggu reaksi apa-apa dari ketiga orang di sana, Jong Up menarik begitu saja tangan kekasihnya. Meninggalkan Dae Hyun dan Zelo yang menganga melihat kepergian mereka.

######^0^######

"Ya, Moon Jong Up. Kau sengaja, bukan, menyeretku dan membiarkan mereka berdua?!"

Jong Up tertawa sembari menyeruput cappuccino yang disiapkan Young Jae untuknya. Mereka saat ini berada di meja makan dapur. Makan siang—kalau jam empat sore masih bisa dikategorikan sebagai makan siang.

"Aku hanya memberi mereka 'kesempatan', Youngie~"

"Huh, seharusnya kau membiarkan Si Jung Dae Hyun sedikit berusaha, Babbo. Dia itu terlalu pengecut," gerutu Young Jae jengkel. Dengan malas disendoknya makaroni ke dalam mulut. Dia tidak terlalu lapar sebenarnya. Dia hanya diseret Jong Up ke dapur dan namja itu memintanya membuatkan makaroni.

"Kkkkkk~ kau tidak pernah akur dengan Dae Hyun Hyung, ne? Hati-hati, kau malah membuat Zelo cemburu."

"Mwo?! Cemburu padaku? Bersama Jung Dae Hyun!? Yang benar saja!" Sudut pipi Young Jae berkedut geli. Anti sekali, eoh? Seakan-akan Dae Hyun ulat bulu menjijikkan.

Ekspresi geli namja manis ini membuat Jong Up tertawa keras. Bagaimana mungkin dia bisa cemburu kalau Young Jae saja begitu antis pada Jung Dae Hyun?!

#######^0^########

Kulit yang putih...

Bibirnya sangat pink dan lembut dari jarak sedekat ini...

Oh, seandainya...

YA!

'Ok, Jung Dae Hyun. Kendalikan otakmu. Kau mulai kehilangan akal sehatmu...'

Kira-kira pikiran seperti ini yang terlintas tiap dua menit sekali di kepala Dae Hyun. Tsk! Bagaimana tidak? Zelo duduk begitu dekat saat ini dengannya. Si manis berambut abu-abu itu tengah membantu – ah, atau mungkin lebih tepatnya 'mencoba' membantunya memasangkan perban.

Dae Hyun jadi kasihan melihat Zelo kesusahan seperti ini. Huh! Seharusnya Jong Up bisa bersabar sedikit dan membiarkan Young Jae yang memasangkan perban ini.

"Junhongie, kalau kau tidak bisa melakukannya, tidak apa. Nanti aku akan meminta Young Jae untuk—"

"Maaf, kalau aku tidak setelaten dan sehebat Young Jae Hyung. Young Jae Hyung memang sangat cerdas. Dia bisa segalanya. Tentu saja hyung kagum pada Young Jae Hyung. Sementara aku, apa? Aku hanya bocah. Anak kecil. Aku bahkan tidak tahu aku ini ahli dalam bidang apa!" Tanpa bisa dicegah Zelo mengeluarkan unek-uneknya. Tangan yang tadi memegang perban, sekarang terkepal dalam pangkuan. Kepala abu-abunya tertunduk, menatap kepalan tangan tersebut.

"Junhongie, kau ini bicara apa? Dan apa maksudmu dengan aku mengagumi Young Jae?"

"Huft... entahlah, Hyung. Aku hanya merasa hyungie berdua begitu akrab. Kalian memang sering ribut, tetapi itu pertanda bahwa hubungan kalian sangat akrab."

"Aku masih tidak mengerti, Junhongie!"

Zelo bungkam. Tiba-tiba amarah menguasainya; membakar otak Zelo layaknya api di padang kemarau.

Menyebalkan!

Di saat orang lain berpendapat kalau dirinya transparan, Dae Hyun yang merupakan orang terdekatnya malah sama sekali tidak menyadari!

Demi Tuhan, Zelo sudah tidak tahan lagi.

"Junho—"

"Aku cemburu pada Young Jae Hyung! Kenapa hyung tidak pernah mengerti?! Aku mencintaimu, Dae Hyun Hyung! NAN CHINJJA JEONGMAL SARANGHAE!" teriak Zelo histeris.

Nafas Dae Hyun langsung tercekat. Terlalu shock akan pengakuan lantang Zelo padanya.

Zelo... Junhongie-Nya yang manis... juga menyukainya?

Oh, Dae Hyun juga...

Tunggu,

Ini terlalu tiba-tiba.

Dae Hyun butuh waktu untuk berpikir jernih.

Dia tidak bisa begitu saja merubah ikatan persaudaraan mereka selama ini dengan atas dasar 'cinta'. Memangnya, Zelo tahu apa itu cinta? Zelo masih terlalu kecil, mungkinkah namja manis itu menganggap persaudaraan mereka sebagai sebuah 'cinta'?

Diamnya Dae Hyun bagai penolakan sunyi bagi Zelo. Namja manis itu merasa sesuatu hancur tanpa kasat mata di dalam dadanya. Seolah sebuah belati tajam telah mencabik-cabik di dalam sana. Rasannya sakit. Jeongmal shinjja neomu appa~

Gawat.

Mata Zelo mulai memanas. Dia ingin menangis. Dan, sekalipun dia tidak ingin melakukannya di depan Dae Hyun.

Melihat pergerakan Zelo yang hendak bangkit dari sofa. Dan, siapa yang Makhluk manis itu bohongi? Dae Hyun tahu, Zelo ingin menangis.

Tanpa berpikir apa-apa, namja tampan berkulit tan itu mulai bergerak. Mengulurkan tangan kirinya yang tidak sakit untuk menahan paha Zelo hingga membuat namja manis berambut abu-abu tersebut kembali pada posisinya semula di samping Dae Hyun.

Kemudian semua terjadi begitu saja. Tangan kiri yang tadi berada di paha Zelo mulai berpindah ke pipi kanan putih milik si manis. Lalu... Dae Hyun menempelkan bibir mereka. Seolah menyalurkan perasaan yang selama ini dipendamnya, ia mencium Zelo penuh perasaan. Ciuman keduanya dalam. Entah siapa yang memulai. Mereka hanya saling mendominasi.

Dae Hyun dapat merasakan pipi putih yang dielusnya mulai basah oleh air hangat. Zelo menangis. Mengakibatkan Dae Hyun semakin memperdalam ciuman mereka.

Saat ciuman dipenuhi berjuta perasaan itu berakhir, akhirnya, pada akhirnya Dae hyun dapat mengucapkan kalimat sakral tersebut pada Zelo secara langsung.

"Saranghae, Junhongie. Nado saranghae. Nan jeongmal chinjja neomu saranghae. Maukah kau menjadi kekasihku?"

Masih menangis, Zelo hanya mampu menganggukkan kepala tanpa bisa mengeluarkan satu patah kata pun. Namun mungkin kata tidak lagi Dae Hyun perlukan. Zelo sudah mengucapkannya lebih dulu. Namun ada yang lebih pasti; sorot matanya. Sorot mata doe-nya yang seolah berkata,

'Nado saranghae, Dae Hyun Hyung~'

Kembali, perasaan membuncah membawa keduanya tenggelam dalam ciuman hangat. Namun fase romantis mendadak berubah menjadi french kiss. Dan dari french kiss... tubuh Zelo hampir berbaring di sofa. Dan di saat itulah Dae Hyun merasakan sesuatu.

Bukan. Bukannya ada seseorang yang datang.

Hanya...

"Huft..." Dae Hyun mendesah sembari kembali membawa tubuh mereka untuk duduk dengan benar di sofa. "Sial. Seandainya sistem motorikku tidak sedang terluka parah. Shit! Aku bahkan tidak dapat merasakan bagian pinggang ke bawah!" keluhnya frustasi.

Zelo yang mendengarnya hanya bisa terkekeh. Dae Hyun ternyata lucu kalau seperti ini. Lagipula, mereka punya waktu banyak untuk melakukan 'hal-hal' lainnya.

"AGGHHH! AKU INGIN CEPAT SEMBUUUUUUHHHHH!"

TBC

NB : BANGHIM! BANGHIM! BANGHIIIIIIIIIIMMMMMM!