YOU ARE NOT MY WIFE [ChanBaek GS]


xxx

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

xxx

#ig : ddnoona #wattpad : dnoonaa #ffn : dnoona

xxx

Please enjoy our time in this chap ^^

"Tolong Anda siapkan segala sesuatunya Tuan. Aku akan datang pada rapat direksi lusa nanti."

Melihat ketegasan dan ketegaran Baekhyun, Tuan Hwang pun mengangguk mengerti. Sementara Baekhyun telah lebih dulu berdiri dan memberi hormat pada seluruh anggota keluarga Park.

"Tanpa mengurangi rasa hormatsaya, saya undur diri terlebih dahulu. Permisi."

-MW-

Hari ini pun tiba, hari dimana Baekhyun dan Chanyeol akan pindah ke rumah mereka sendiri. Rumah yang ditinggalkan kedua orang tua Baekhyun sebagai hadiah pernikahan mereka.

Pagi ini sebelum meninggalkan rumah Keluarga Park, Baekhyun melakukan beberapa hal yang membuat semua orang terheran-heran. Apa yang dilakukan gadis itu tak seperti yang dilakukannya beberapa hari kemarin.

Hari ini tidak ada lagi Baekhyun yang berdiam diri di dalam kamar, menyendiri, dan menangis sepanjang hari. Namun, Baekhyun yang mereka lihat hari ini bangun lebih pagi dengan kamar yang sudah rapi dan ia ikut sarapan bersama Keluarga Park, Baekhyun juga membantu mengangkat piring kotor setelahnya.

Walaupun semua orang melihat aneh gadis itu namun mereka semua merasakan ketulusan dari gadis itu. Tak terkecuali Chanyeol yang sedari memperhatikan wanita itu dari jauh.

Setelah menyelesaikan sarapannya Chanyeol mulai memasukkan semua barang-barang ke dalam mobil sementara Baekhyun berpelukkan dengan semua orang. Terakhir Baekhyun memeluk Nyonya Park dengan erat sambil berbisik,

"Eomma-nim~ maafkan sikapku beberapa hari ini. Aku telah banyak membuatmu khawatir. Aku berjanji padamu untuk tidak menyusahkan kalian. Jadi eomma-nim tidak perlu khawatir."

Walau pun sedih, Nyonya Park tersenyum hangat, "Aku akan selalu mendoakan kalian berdua. Semoga slalu berbahagia."

-MW-

Baekhyun baru saja keluar dari kamarnya di lantai atas dengan pakaian rapi. Light Grey Dresses tanpa lengan yang panjanganya diatas lutut dilengkapi White Bone with pearl heels menghiasi tubuhnya yang indah. Sementara di tangannya terdapat blazer berwarna putih pearl.

"Lebih baik kau sarapan terlebih dulu." Itu Chanyeol.

Pria itu sudah berdiri dibelakang pantry dengan kemeja putih yang dibiarkannya tergulung sampai siku. Sedangkan matanya meniti wajah sang istri yang nampak terkejut dengan panggilannya namun detik berikutnya berubah dingin kembali.

"Terimakasih, tapi aku harus berangkat sekarang." Baekhyun membungkuk hormat dan pergi meninggalkan Chanyeol tanpa menoleh sedikit pun pada pria itu. Chanyeol menghela nafas karenanya.

Naas Chanyeol hanya menatap nanar dua potong sandwitch di atas piring yang dibuatnya pagi ini. Wanita itu benar-benar terlihat tak bernyawa bahkan badannya terlihat mengurus beberapa hari ini. Chanyeol hanya khawatir

Chanyeol mengambil ponselnya dan tak lama sambungan telpon terhubung.

"Pak Lee, beri aku kabar kalau Anda sudah mengantarkan Baekhyun."

"..."

"Tidak perlu, aku akan membawa mobilku sendiri. Oh ya Pak Lee—"

-MW-

Setelah semua orang hadir di ruang meeting tak ada dari mereka yang tak menunjukkan sikap hormat dan turut berduka mengingat kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Baekhyun.

Baekhyun selaku pewaris Byun Group berdiri dari duduknya menuju podium. Langkahnya yang terasa bergetar dan bibirnya seakan mati rasa mengingat kedua orang tuanya ditekannya kuat-kuat dalam hati. Mengingat alasannya berdiri tegar saat ini di depan belasan orang yang ia tak tau harus bagaimana memperlakukan mereka hanya untuk ayahnya.

Bisnis bukan dunianya, tempat in juga bukan tempatnya tapi ayahnya adalah alasannya saat ini...

"Sebelumnya saya ingin menyampaikan permintaan maaf untuk kedua orang tua saya, saya mohon maaf." Baekhyun membungkuknya badannya pada seluruh jajaran direksi.

"Kemudian saya juga ingin menyampaikan terimakasih karena sudah menjaga dan memperlakukan kedua orang tua saya dengan baik. Kedepannya saya akan mengambil alih peran ayah saya dan saya harapkan bimbingan dari Anda sekalian." Dan Baekhyun membungkuk kembali.

Kemudian seluruh jajaran direksi pun turut membungkuk hormat pada Baekhyun

Tok.. Tok.. Tok..

"Masuk..." Titah Baekhyun.

Wanita dengan Desk Name Plate, President Director tersebut tak sedikit pun mengalihkan perhatiannya pada tumpukan berkas di hadapannya tanpa memerdulikan seseorang yang tengah masuk ke dalam ruangannya.

"Nona, Pak Lee datang kemari."

Seketika dahinya berkerut tanya, untuk apa Pak Lee datang kemari? – batinnya.

"Persilahkan masuk." Tandasnya.

Baekhyun benar-benar serius dengan kesibukkannya namun kedatangan Pak Lee yang tidak biasa membuatnya menanti apa yang membawa Pak Lee datang ke ruangannya saat ini.

Tak lama pria tua itu datang dan membungkuk hormat.

"Maaf mengganggu Nyonya~"

"Ah tidak apa-apa Pak Lee. Ayo silahkan duduk." Baekhyun pun bangkit dari kursinya. Namun, usahanya terintrupsi.

"Ah, tidak perlu nyonya. Saya hanya ingin mengantar ini." Diberikannya sebuah paper bag coklat di tangannya pada Baekhyun.

"Dari siapa Pak Lee?" Tanyanya heran.

"Ini tuan Chanyeol yang menitipkannya untuk Anda."

Huh? Dahinya berkerut tanya. Lama tak memberikan respon, Baekhyun pun sadar bahwa ia telah mengacuhkan Pak Lee. Daripada membuat Pak Lee bertanya dengan reaksinya maka Baekhyun memilih untuk mengambil paper bag tersebut.

"Terimakasih Pak Lee."

"Kalau begitu saya undur diri, Nyonya~"

"Hu um" Baekhyun pun mengangguk paham dan membiarkan Pak Lee pergi.

Entahlah, pikirannya saat ini tak lagi berfokus pada siapapun. Baekhyun tidak menghiraukan paper bag tersebut dan lebih memilih meninggalnya di atas nakas.

-MW-

"Tuan Chanyeol, kandidat sekretaris Anda sudah datang." Ujar seorang pria lebih tua yang tiba-tiba mengintrupsinya.

Chanyeol menghela nafas dan berdiri dari duduk.

"Persilahkan ia masuk."

"Baik Tuan."

Tak menunggu lama, wanita dengan tinggi 1.72 cm dengan senyuman yang manis membungkuk hormat pada Chanyeol kemudian mereka bersalaman.

"Senang bertemu dengan Anda, Nona Do Kyungsoo"

"Cha- Chanyeol?"

"Aku serius dengan kata-kataku tempo hari, Lu." Ujar Chanyeol tegas.

"Tapi ini tidak profesional, kau tahu?" Hardik Luhan dengan mengacungkan amplop coklat ditangannya di depan Chanyeol.

"Dengar, Aku tidak nyaman bertemu denganmu setiap hari dan itu sangat mempengaruhiku."

"Itu alasan Chanyeol~ Jelas Baekhyun tidak mengetahui hubungan kita jadi untuk apa kau memecatku? Itu tidak akan mengubah apapun." Luhan tak lagi berpura-pura saat Chanyeol benar-benar menguji kesabarannya.

"Aku sudah mengatakan yang sejujurnya padamu. Terserah jika kau beranggapan lain aku akan tetap melakukan ini."

"Park Chanyeol!"

"Park Chanyeol~"

"Hng?" Chanyeol tersengal kala sebuah tangan mencengkram bahunya.

"Hei~ Kau mendengarku?" Teguh sahabatnya, Sehun.

Setelah perkenalannya dengan sekretaris barunya tadi pagi, Chanyeol memutuskan untuk bertemu dengan Sehun siang ini. Kini Sehun dan Chanyeol ada di sebuah restoran untuk makan siang bersama dan menikmati kopi. Begitulah mereka bertemu setelah sekian lama.

"Oh—Aku baik. Maaf" Chanyeol menyesap kembali kopinya sementara Sehun mengangkat bahu tanda tak peduli dengan sikap aneh sahabatnya. Lalu pria itu teringat sesuatu dan mencoba bertanya pada Chanyeol.

"Oh iya, ngomong-ngomong bagaimana pendapatmu tentang Do Kyungsoo?" Tanya Sehun penasaran.

"Good. Personalitily dan gagasannya terlihat segar dan penuh inovasi. Aku merasa cocok dengannya." Ujar Chanyeol ringan.

"Baguslah, aku tepat kan memilihkan sekretaris untukmu?" Bangganya dengan nada sombong yang ketara. Namun Chnayeol hanya menarik sudut bibirnya maklum.

"Beruntung saja kau kebetulan berkenan dengan orang yang aku cari."

"Hhh~ Kau ini. Aku seperti seorang penyalur tenaga kerja wanita malam saja. Dasar tidak sopan~"

"Kekeke... Tapi kelihatannya dia mengenalmu dengan baik."

"Hey~ Kau tidak sedang mencari kesempatan lain kan? Kau sudah beristri sobat!" Disikutnya lengan partnernya.

"Drama saja kau. Tapi benarkan?"

"Um~ Tidak begitu dekat juga sih sebenarnya~ hanya saja kalau aku ingin bercerita, dia adalah orang pertama yang aku anggap tepat untuk mendengarkan ceritaku-"

"Kau tidak menganggapku?"

"Kau? Kau payah Chanyeol~ Bukannya memberi solusi kau malah bermain-main dan mengejekku." Dengusnya kesal.

"Aku? Tidak."

"Kau? Iya." Lalu keduanya terkekeh remeh mengingat masa lalu.

Perbincangan-perbincangan ringan seperti kejadian-kejadian di masa lalu terasa asik dan menyenangkan. Bahkan Chanyeol dan Sehun sempat bertukar alamat untuk saling mengunjungi rumah masing-masing.

-MW-

Jarum pendek sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sementara sosok wanita di balik meja kerja nampak sibuk membaca kembali beberapa berkas hari ini yang sudah dikerjakannya.

Baekhyun memang selalu begitu, ia akan mengoreksi kembali pekerjaan yang sudah dilakukannya untuk mengecek tak ada satu pun yang terlewatkan. Kemudian setelah cukup puas dengan pekerjaannya, ia menyambar kunci mobil dan tasnya namun netranya tertancap pada paper bag di atas nakas.

"Kau baru pulang?" Tiba-tiba sang suami muncul dari balik pintu kamarnya setelah mendengar derap langkah menuju lantai dua.

"Hu um~ aku ingin istirahat~" Timbal Baekhyun sekenanya sembari menenteng tasnya lesu.

"K- kau sudah makan malam?" Tanya pria itu ragu.

Namun untuk beberapa saat wanita itu tak bergeming dan berdiam diri cukup lama yang ketara lelah.

"Sudah~" ujarnya lirih sambil tersenyum.

Tanpa menunggu tanggapan sang suami, Baekhyun sudah lebih dulu berlalu menuju kamar dan diam-diam ada yang merasa bersyukur dan membalas senyum itu dari bibir tebalnya.

-MW-

"Nyonya Ahn, terkait peresmian mall kita yang baru aku ingin diadakan spring fashion week. Kita harus membuatnya terlihat luar biasa, aku kira iklan dan pemasaran digital akan sangat bagus untuk mempromosikannya. Dan tolong hubungi beberapa perancang terbaik, artis, musisi, dan media digital untuk merayakan peresmian ini. Bicarakanlah dengan bagian Corporate terkait rencanaku ini dan aku - "

Entah mengapa Baekhyun suara tuts keyboard yang terdengar lambat banyak mempengaruhi fokusnya dan itu membuat tatapannya teralih pada Nyonya Ahn, sekretaris ayahnya.

Wanita itu sudah lebih dari 30 tahun mengabdikan dirinya pada perusahaan dan kesetiannya pada mendiang ayahnya selama bertahun-tahun adalah bentuk dari kredibilitas yang baik.

Kesetiaan memang tidak berbohong namun masa depan adalah angan. Baekhyun lebih dari perfeksionis dalam pekerjaan dan melihat bagaimana wanita itu bekerja membuatnya memejamkan mata. Ia cukup logis pikirnya untuk mengingkan sesuatu perubahan yang lebih baik lagi.

"Aku rasa kita lanjutkan nanti, Nyonya Ahn. Aku ingin membicarakan hal lain."

"Ya, Nona?"

"Aku memang baru bekerja disini dan hanya sedikit tahu tentang sistem kerja disini dibandingkan Anda sendiri. Banyak gagasan yang ingin aku lakukan untuk perusahaan ini dan aku membutuhkan lebih banyak orang lagi untuk membantuku."

Nyonya Ahn pun mengangguk pelan. Sejujurnya ia tak mengerti maksud dari ucapan Baekhyun.

Nyatanya yang lebih muda terlebih dulu menghampiri yang lebih tua dan menggenggam erat tangan keriput yang sudah bergetar tersebut. Dan untuk kesekian kali Baekhyun teringat Ibu dan ayahnya.

"Nyonya Ahn, tanpa mengurangi rasa hormatku. Aku ingin merekrut salah seorang lagi untuk menjadi sekretarisku. Apa boleh aku melakukan itu?" Tanyanya lembut.

Baekhyun menatap Nyonya Ahn dengan harap, ia berharap Nyonya Ahn tidak tersinggung dengan permintaannya. Akan sangat sulit melibatkan Nyonya Ahn pada sistem kerjanya yang sangat cepat dan banyak.

Setidaknya Baekhyun tidak berpikir untuk memecat Nyonya Ahn dan melempar wanita tua itu ke jalanan. Mungkin setelahnya pekerjaan Nyonya Ahn adalah mengarahkan sekretaris baru dan mereview pekerjaan yang sudah selesai.

"Silahkan, Nona." Sebentuk senyum tulus Nyonya Ahn membuat Baekhyun turun bahagia melihatnya.

Kemudian keduanya terlibat dalam pekerjaan masing-masing sementara jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.

"Nona? Aku lupa memberitahumu, Pak Lee menitipkan sebuah paper bag tadi siang."

"Huh?" Yang lebih muda mengalihkan tensinya pada paper bag coklat di nakas.

"Iya, tadi siang Pak Lee datang saat Anda sedang meeting."

"Ah begitu, baiklah~ Terimakasih Nyonya Ahn."

"Sama-sama Nona. Kalau begitu saya undur diri." Kemudian wanita paruh baya tersebut membungkuk hormat.

Namun saat wanita tua itu berbalik Baekhyun memanggilnya.

"Nyonya Ahn, boleh kapan-kapan aku berkunjung ke rumahmu?" Si muda menunggu jawaban dengan ragu.

"Dengan senang hati, Nona."

Senyum itu tak pernah luntur dari wajah Nyonya Ahn membuat Baekhyun merasa nyaman dengan itu.

-MW-

"Nona Do, siapkan passport dan visaku.-" Chanyeol nampak terburu-buru memakai jas dan dasi yang sempat dilepasnya saat makan siang tadi.

"Sudah tuan." Itu Kyungsoo yang sudah setia berdiri disamping pintu dengan tab nya.

"Dan pastikan semua file yang aku kirim padamu sudah terkoreksi dan siap dibawa di mejaku.-"

"Sudah tuan."

"Dan—Oh~" Erang Chanyeol frustasi saat dasi yang membelit tak karuan dilehernya. "SIAL!"

"Tuan?"

"Tunggu sebentar." Tukasnya dan masih sibuk dengan simpul dasinya.

"Tidak—Maksudku, aku bisa membantu Anda."

Chanyeol diam dan tak menolak saat Kyungsoo membantunya memasangkan dasi. Sebenarnya ini adalah kesalahannya juga, Chanyeol terlalu lelah dan tertidur melupakan jadwal penerbangan menuju Pulau Jeju untuk menghadiri meeting dengan beberapa perusahaan.

Jadilah Chanyeol kelimpungan dan terlihat bingung setelah sadar bahwa waktunya untuk mengejar pesawat tidak lama.

Sialnya, Kyungsoo malah terpesona oleh ketampanan dan aroma mint segar dari dada bidang atasannya tersebut. Bahkan Kyungsoo dibuat tersipu dengan keringat yang membasahi dahi direkturnya yang entah bagaimana terlihat - sexy.

"C- Chanyeol?"

-TBC-

Kau pilih gadis atau janda~

terereretttttt~~~