I can't move on
Mingyu x Soonyoung
Semua tokoh di dalam cerita milik Tuhan, Orang tua, Keluarga, Ent, dan diri idol sendiri.
Jalan cerita milik saya. Mohon maaf apabila terdapat kesamaan. Bukan perbuatan yang disengaja
.
.
.
Saat Mingyu dan Soonyoung terjebak dalam permainan yang mereka buat sendiri
.
.
.
Senin, 5 Oktober 2015
.
.
.
Keadaan putra sulung keluarga Kwon sudah lebih baik dari hari sebelumnya, dan ia memutuskan untuk pergi ke kampus. Meskipun sebenarnya hari ini ia tak ada jadwal, entah kenapa Hoshi sangat ingin pergi kesana. Maka dari itu setelah berpamitan pada kedua orangtuanya, Hoshi melajukan mobil mini coopernya dan memutuskan untuk sarapan di kantin kampus saja.
"Ohayou, Soonyoung-ie." Mingyu dengan senyum lebarnya menyapa Hoshi yang sedang duduk sambil menikmati sarapan miliknya di kantin kampus mereka.
"Sampai jumpa pagiku yang damai." Bathin Hoshi nelangsa.
"Mau apa kau?" Tanyanya ketus.
"Apalagi selain menemuimu?" Mingyu mengambil tempat duduk yang kosong dihadapan Hoshi.
"Oh." Jawab pemuda yang bermarga Kwon dengan acuh.
"Kau sedang apa?" Mingyu menumpukan kedua tangannya di meja sambil memandangi Hoshi dan berusaha mengajaknya untuk berbicara.
"Kelihatannya?" Hoshi menaruh sumpitnya dengan sedikit keras sehingga menimbulkan bunyi yang cukup mengganggu bagi orang lain.
"Sarapan."
"Kalau bisa lihat sendiri kenapa masih bertanya?"
"Kan aku ingin mendengar suaramu."
"Hm. Terserah." Hoshi mengangkat bahu acuh lalu menyuapkan sepotong telur goreng ke dalam mulutnya.
"Soonyoung-ie, aku ini belum sarapan."
"Lalu?" Tanya Hoshi pura-pura tidak mengerti.
"Kau tak ingin membagi sedikit makananmu padaku?
"Oh jadi kau mau juga?"
Mingyu mengangguk, "Suapi aku."
"He?!" Hoshi rasa ada yang salah dengan pendengarannya. Karena ia rasa baru saja mendengar seorang Kim Mingyu, pewaris Kim Corp meminta untuk disuapi.
Hoshi menepuk kedua pipinya pelan, "Kurasa aku harus pergi ke dokter THT." Ucapnya pada diri sendiri.
"Ayo cepat." Mingyu menatap Hoshi dengan wajah memelasnya. Heol. Siapa yang bisa menolak? Bahkan Hoshi dengan gengsinya yang tinggi langsung luluh dengan itu.
"Ck. Dasar manja." Hoshi mencibir ke arah Mingyu, namun ia tetap menyuapkan sepotong sushi miliknya ke mulut Mingyu.
"Memangnya salah manja pada kekasihmu sendiri?"
Hoshi mendengus sebal, "Iya sudah, kau tidak salah." Tak ingin berdebat yang hanya akan makin merusak paginya, jadi ia putuskan untuk mengalah kali ini.
"Oh iya, kenapa kau ke sini- Maksud ku ke kampus? Bukankah hari ini kau tidak ada jadwal apapun?" Lanjutnya.
"Aku tiba-tiba merindukanmu. Ya siapa tau kau juga datang ke kampus." Mingyu mengendikkan bahunya, "Bukankah kau juga harusnya tidak ada jadwal hari ini?"
Blush
Hoshi merasakan hangat menjalar dari pipi hingga ke kedua telinganya, "Kau ini bicara apa?" Ia memutar bola matanya malas, bersikap seakan jengah dengan rayuan Mingyu padahal sebenarnya tidak, "Kebetulan aku mau mengerjakan beberapa tugas untuk minggu depan. Buku sumbernya ada di perpustakaan. Dan ya begitulah."
"Aku akan menemanimu."
"Do whatever you want, Kim." Hoshi dengan tempat makanan yang sudah kosong itu pergi lebih dulu dan meninggalkan Mingyu yang masih sibuk dengan sushi di mulutnya.
"Ya! Kwon Soonyoung tunggu!" Mingyu mengejar Hoshi dengan langkah besarnya.
Saat dirasa sudah cukup dekat, lengan panjang Mingyu melingkar dengan indahnya di pinggang Hoshi.
"Apa yang kau lakukan, Kim Mingyu?" Hoshi menghentikan langkahnya dan menatap Mingyu dengan sengit.
Mingyu tersenyum lebar pura-pura tidak melihat, "Seseorang baru saja bilang aku bisa melakukan apa mau yang aku mau."
Yang lebih pendek hanya bisa berdecih kesal. Ia menyesali perkataannya tadi. Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Ia hanya bisa merutuk tapi tetap menurut saat Mingyu -sedikit memaksanya- berjalan dan masih dengan tangan yang melingkar dengan indah di pinggangnya.
Karena ini masih pagi, jadi belum banyak mahasiswa yang masuk ke dalam kelas. Dan itulah yang menjadi alasan mengapa mereka berdua menjadi tontonan saat ini, Hoshi yang merasa risih dipandangi oleh banyak orang seperti itu kemudian menyenggol rusuk Mingyu dengan sikunya, "Mingyu, bisakah kau melepaskan tanganmu? Mereka memperhatikan kita."
"Biarkan saja. Aku ingin mereka tau kalau kau milikku." Ujar Mingyu dengan cueknya.
"Ya tapi-"
"Tidak ada tapi sayang."
"Ya sudah. Terserah." Hoshi makin merengut.
Namun Mingyu merasa menyesal karena sudah mengikuti Hoshi ke perpustakaan. Bukan apa-apa, tapi Hoshi malah sibuk dengan tumpukan buku literatur itu. Tuan muda Kim merasa teracuhkan. Berulangkali ia mengubah posisi duduknya, namun Hoshi tidak terganggu sama sekali. Jangankan bertanya, menolehpun tidak.
"Ya! Soonyoung." Mingyu mendekati Hoshi yang sedang memilih buku disebuah rak di ujung perpustakaan.
Yang dipanggil hanya bergumam dan lagi lagi tanpa menolehkan kepalanya sembari membuka lembaran buku, berharap apa yang dicarinya akan segera ketemu.
Karena gemas dengan kekasihnya, akhirnya Mingyu mendekati Hoshi dan memeluknya dari belakang.
"Aku benci diacuhkan, sayang." Hoshi merasakan dingin di pipi sebelah kanan miliknya, sebuah benda kenyal menempel disana, Mingyu menciumnya.
"Ming, lepas. Ini di perpustakaan." Hoshi mencoba melepaskan tangan Mingyu yang ada di pinggangnya, namun nihil karena tangan itu makin melingkar erat disana.
"Lantas kalau di perpustakaan kenapa?" Mingyu menaruh dagunya di pundak Hoshi sambil sesekali meniupkan napasnya ke leher lelaki yang lebih pendek.
Hoshi merasakan hembusan udara hangat ditengkuknya, ini bukan hangat biasa. Ini seperti hangatnya orang yang sedang sakit. Ia membalikkan badannya dan menatap Mingyu heran.
"Kau sakit?" Ia menaruh punggung tangannya di dahi Mingyu, dan benar saja. Dirasakan suhu tubuh yang diatas normal.
Mingyu menggeleng. Meskipun kepalanya terasa sedikit pusing, tapi ia tak ingin membuat Hoshi khawatir, "Tidak. Hanya kurang istirahat."
"Jangan berbohong." Diusapnya setetes keringat yang terjatuh dari anak rambut di dahi Mingyu.
"Aku sedikit pusing sebenarnya," Gumam lelaki yang lebih muda.
Hoshi menghembuskan napas panjang, "Jangan bilang kau kurang istirahat karena menjagaku kemarin?"
Yang ditanya hanya tersenyum sebagai jawabannya. Jujur Mingyu hanya tidur beberapa jam karena harus mengganti kompres Hoshi berulang kali dan memeriksa keadaannya. Begitu sampai di rumah jangankan tidur di ranjang, berganti baju saja sulit karena ia harus segera pergi untuk mengurus beberapa hal di perusahaan menggantikan sang ayah.
"Aku tak apa. Sudah cepat selesaikan tugasmu lalu ikut aku ke rumah."
"Heung? Untuk apa?"
"Bertemu orangtuaku. Kau pikir apa lagi?"
Hoshi diam, buku yang tadi terbuka di tangannya pun sudah tertutup. Ia tak tau ingin berkata apa. Menurutnya ini terlalu jauh untuk hubungan kontrak mereka yang bahkan akan berakhir dalam dua hari kedepan.
"T-tidak bisakah aku berkunjung lain kali?"
Mingyu menggeleng, "Lain kali kapan? Kita akan putus di dua hari yang akan datang. Belum tentu kau mau datang jika sudah bukan menjadi kekasihku. Lagipula Eomma sudah lama memintaku untuk mengajakmu ke rumah."
Sebenarnya tidak semua yang Mingyu katakan itu benar. Ibunya baru meminta ia mengajak Hoshi ke rumah mereka beberapa hari yang lalu. Namun bagaimana lagi? Kalau tidak begitu ia khawatir Hoshi takkan mau ke rumahnya.
"Baiklah. Biarkan aku menyelesaikan ini dulu. Kau pulang saja, nanti aku bisa kesana sendiri." Putra sulung keluarga Kwon itu kembali ke mejanya, melanjutkan kegiatan mencatat tugas yang sempat tertunda.
"Aku akan menunggumu."
"Tidak perlu. Aku nanti akan pulang dulu untuk bersiap-siap. Takut terlalu lama jika kau menungguku."
"Kita beli pakaian di butik milik teman ibuku saja."
Pandangan Hoshi tak lepas dari buku literatur dan buku catatan miliknya, ia tak ingin menatap Mingyu yang saat ini berjarak begitu dekat dengannya, "Pasti mahal. Aku tak punya uang."
Yang lebih muda tak kehabisan ide, "Aku yang bayar."
"Aku tak ingin punya hutang padamu." Hoshi mulai gemas, ternyata bukan hal yang mudah untuk menolak keinginan seorang Kim Mingyu.
"Anggap saja itu tanda terima kasih karena kau mau memenuhi undangan kedua orangtuaku."
"Tapi-"
Sebelum Hoshi selesai bicara, Mingyu menginterupsinya terlebih dulu, "Aku tidak terima alasan maupun penolakan apapun darimu."
Ctak!
Pulpen milik Hoshi dan meja perpustakaan berbenturan menghasilkan suara yang cukup nyaring, "Kau ini keras kepala sekali."
"Baru tau?"
"Harusnya aku tak memilihmu saat itu."
"Menyesal hm?"
"Antara iya dan tidak."
"Tak yakin dengan jawabanmu sendiri? Sudah mulai jatuh dalam pesonaku ya? Hahaha." Mingyu tertawa pelan lalu menarik tangan Hoshi untuk keluar dari perpustakaan.
Yang ditarik tangannya hanya dapat merengut dan mengikuti langkah kaki lebar milik Mingyu dengan setengah hati. Sedikit banyak ia dilema, di satu sisi ia ingin bertemu keluarga Mingyu namun di sisi lainnya ia tak ingin bertemu mereka. Khawatir, malu dan takut. Rasanya seperti akan melakukan pengakuan dosa.
.
.
.
.
.
Hoshi menepis berbagai macam pemikiran negatif yang ada di kepalanya saat ia dan Mingyu sampai di rumah keluarga Kim yang besarnya hampir menyamai sebuah mansion.
"Selamat datang di rumah kami, Tuan muda Soonyoung." Seorang lelaki paruh baya menyapa mereka di depan pintu dengan senyum lebar di bibirnya. Senyum manis berwibawa yang menyembunyikan banyak ambisi dibaliknya. Sama seperti milik Mingyu.
"Arigatou gozaimasu, Ojisan." Hoshi tersenyum dan membungkuk hormat pada lelaki itu.
Lalu seorang wanita keluar dari dalam rumah dan memeluk Hoshi dengan erat, "Terima kasih sudah bersedia datang kesini."
Hoshi awalnya sedikit kaget dengan pelukan itu, namun ia tak ambil pusing dan segera membalasnya, "Maaf baru bisa datang sekarang, Ahjumma."
"Tidak apa-apa." Wanita itu melepas pelukan itu dan mengajak tamunya untuk masuk ke dalam rumah, "Ayo masuk."
Hoshi mengangguk lalu berjalan di belakang sang pemilik rumah, diikuti oleh Mingyu dan sang ayah di belakangnya.
"Pilihanmu bagus juga." Bisik Tn. Kim sambil menyenggol rusuk sang putra dengan sikunya.
Mingyu tersenyum dan memperhatikan punggung milik kekasihnya dari belakang, "Tidak, Appa. Dia yang memilihku. Dan aku merasa beruntung untuk itu."
Ny. Kim membawa mereka ke ruang makan dan langsung mempersilahkan tamunya untuk duduk. Kebetulan sudah masuk waktunya makan siang.
"Ahjumma siapkan dulu makanannya, ya!"
"Biar kubantu, Ahjumma." Hoshi bangkit dari duduknya dan dengan cekatan membantu Ny. Kim membawa piring dan mangkuk berisi makanan. Ia tak bisa tinggal diam saat melihat orang lain kesusahan, apalagi jika itu seorang wanita.
Tn. Kim yang sedang mengecek perkembangan terbaru dari saham perusahaan dari ponsel miliknya hanya melihat itu sambil tersenyum, "Jaga ia dengan baik. Jangan sampai kehilangannya."
Mingyu tak dapat berkata apa-apa saat ayahnya mengucapkan hal itu. Belakangan ini perasaan ingin melindungi dan tak ingin kehilangan Hoshi muncul tanpa ia sadari. Namun kenyataan menampar Mingyu dengan keras, mereka hanya kekasih diatas sebuah kontrak. Palsu. Tak lebih dari itu.
"Makanan sudah siap. Ayo di makan. Jangan lupa berdo'a dulu." Suara Ny. Kim menyadarkan Mingyu dari lamunannya.
Saat ini Tn. dan Ny. Kim sudah duduk berhadapan di meja makan, sementara Mingyu dan Hoshi duduk bersebelahan. Melihat ini semua hati Mingyu terasa hangat. Ia merasa seperti menemukan sesuatu yang selama ini hilang. Sebuah kehangatan keluarga.
Selesai berdo'a semua orang yang duduk mengelilingi meja itu makan dengan khidmat, mereka tak banyak bicara. Hanya sesekali Ny. Kim menanyakan sesuatu yang akan dijawab seperlunya oleh Hoshi.
"Mingyu-ya, maaf mengganggu. Bisakah kau gantikan Appa untuk pergi ke perusahaan sekarang? Ada beberapa hal yang harus diurus mengenai kerja sama dengan perusahaan dari China."
Bahu Mingyu merosot. Ia baru menikmati waktu dengan kekasih dan keluarganya sebentar tapi sudah harus mengurusi perusahaan yang bahkan belum resmi menjadi tanggungjawabnya.
"Baiklah." Ia mengangguk dan berjalan ke kamar dengan lesu.
Hoshi hanya bisa melihat punggung Mingyu yang semakin menjauh. Dalam diam ia merasa sedikit khawatir karena kekasihnya itu sedang tidak begitu sehat.
"Soonyoung-ie, bisa tolong bantu Ahjumma dengan ini?" Tanya Ny. Kim yang membuyarkan lamunan Hoshi, "A-ah baiklah, Ahjumma."
Putra sulung keluarga Kwon itu bergerak dengan cepat, ingin segera menyelesaikan ini dan pergi ke suatu tempat, "Ahjumma, aku izin keluar sebentar. Ada yang harus kubeli."
"Hm? Baiklah. Hati-hati dan cepat kembali, Soonyoung-ie."
"Tentu." Hoshi tersenyum dan segera keluar dari rumah yang bernuansa klasik itu. Tujuannya hanya satu, sebuah apotek yang tadi ia lihat saat diperjalanan menuju rumah keluarga Mingyu.
.
.
.
.
Sekembalinya dari apotek, Hoshi langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamar Mingyu yang ada di lantai dua. Ia mengetuk pintu beberapa kali. Dan saat masuk dilihatnya Mingyu sudah hampir siap untuk pergi, maka sambil menunggu kekasihnya itu selesai Hoshi menyalakan televisi dan mencari acara yang menarik.
"Kenapa ini sulit sekali?" Ucap Mingyu hampir frustasi. Sedari tadi ia berusaha untuk membuat simpul pada dasinya, namun gagal.
Kegiatan Mingyu yang seperti itu lama-kelamaan menganggu ketenangan Hoshi. Maka lelaki bermarga Kwon itu berdiri dari duduknya dan menghampiri Mingyu, "Kau akan terlambat jika terus berurusan dengan ini."
"Kukira kau sudah biasa melakukan ini sendiri." Lanjut Hoshi sembari membuat simpul pada dasi yang tergantung di leher Mingyu.
Yang diajak bicara hanya bisa diam seribu bahasa. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Apakah ini karena jarak yang begitu dekat dengan sang kekasih? Mungkin saja.
"Kau tau sendiri aku sedang tak begitu sehat. Hal kecil jadi terasa begitu sulit." Mingyu mencebikkan bibirnya lucu.
"Nah. Sudah selesai." Hoshi merapikan simpul yang baru saja ia buat, "Minumlah ini sebelum kau berangkat." Ia mengeluarkan kantung plastik berisi obat yang baru saja ia beli.
"Kuharap ini bisa meringankan rasa sakitmu." Putra sulung keluarga Kwon itu mengambil segelas air yang ada di nakas sebelah tempat tidur dan menyodorkannya pada pemuda yang lebih tinggi, "Tenang. Ini takkan membuatmu mengantuk."
"Terima kasih, Soonyoung-ie." Ucap Mingyu dengan lirih. Ia merasa senang karena Hoshi perhatian padanya. Meskipun hanya hal sepele, tapi itu dapat membuatnya merasa lebih baik.
Hoshi menggelengkan kepalanya, "Iie, douitashimashite."
"Uhm .. Nanti kuantar kau pulang ya?"
"Tidak perlu. Kau berangkat saja langsung, aku bisa pulang sendiri," Hoshi memberi jeda sebentar. Ia tersenyum karena teringat sesuatu, "Lagipula aku takkan langsung pulang. Aku harus menjemput seseorang di bandara."
"Siapa?" Tanya Mingyu penasaran.
"Mau tau saja." Hoshi tertawa pelan dan menepuk kepala pemuda dihadapannya.
"Kalau tak mau memberi tau ya sudah." Mingyu mematut diri di depan cermin sekali lagi, meyakinkan bahwa tidak ada satupun yang kurang dari penampilannya.
"Aku berangkat sekarang."
"Aku juga sekalian. Ayo pamit dulu pada orangtuamu." Hoshi menggamit lengan Mingyu dan mengajaknya keluar dari kamar.
"Uhm." Mingyu mengangguk dan menutup pintu kamarnya.
Sampai di ruang keluarga, sepasang kekasih –palsu- itu menghampiri Tn. dan Ny. Kim untuk berpamitan.
"Appa, Eomma. Aku dan Soonyoung berangkat dulu." Mingyu mengecup pipi ibunya dan membungkukkan badannya pada sang ayah.
"Kenapa buru-buru, Soonyoung-ie? Tinggallah disini sampai Mingyu pulang." Ucap Ny. Kim saat memeluk Hoshi.
"Terima kasih, Ahjumma. Tapi aku harus pergi menemui seseorang."
Wanita paruh baya itu mengangguk, "Padahal Ahjumma ingin berbicara banyak hal denganmu. Tapi apa boleh buat? Hati-hati di jalan dan jangan lupa datang lagi lain kali!"
"Iya, Ahjumma. Akan aku usahakan. Jaga kesehatan ya Ahjumma, Ahjussi juga!" Hoshi tersenyum ke arah Tn. Kim yang sedari tadi hanya diam memperhatikan interaksi orang-orang di sekitarnya.
"Sampaikan salam kami untuk orangtuamu, Nak Soonyoung." Ucap Tn. Kim sambil tersenyum dan mengajak sang istri untuk mengantar tamu mereka sampai ke depan pintu.
"Nanti akan kusampaikan. Sekali lagi terima kasih Ahjussi, Ahjumma."
Sementara itu, Mingyu sudah menunggu Hoshi untuk berjalan menuju ke depan rumah tempat dimana mobilnya diparkirkan.
"Tidak ada yang tertinggal?" Tanya Hoshi sembari menghampiri Mingyu yang sudah berulang kali menengok ke arah jam tangannya dengan gelisah.
"Kurasa tidak."
"Baiklah. Ayo kuantar sampai depan." Hoshi memperlebar langkahnya supaya dapat berjalan disamping Mingyu.
Beruntung bagi putra sulung keluarga Kim karena jarak antara pintu rumahnya dengan tempat parkir agak jauh, maka ia bisa lebih lama berjalan beriringan dan menggenggam tangan sang kekasih lebih lama.
"Lalu kau nanti bagaimana?"
"Aku bisa naik kendaraan umum. Tenang saja."
"Itu panas dan mungkin akan sedikit lebih padat karena sekarang sudah hampir waktunya pulang kantor. Lebih baik jika aku mengantarmu."
Hoshi menggeleng, "Tidak perlu. Nanti kau bisa terlambat."
"Tidak peduli-" Ucapan yang lebih muda terpotong saat mereka berdua sudah sampai di depan mobil milik Mingyu yang terparkir dengan rapi.
"Nah, kita sudah sampai," Hoshi berdiri menghadap Mingyu dan sedikit merapikan penampilan sang kekasih, "Cepat berangkat. Jangan bekerja terlalu keras, nanti kau bisa sakit."
"Kabari aku jika kau sudah sampai." Yang lebih muda mencium dahi Hoshi lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Hati-hati di jalan." Hoshi melambaikan tangan seiring dengan bayangan kendaraan roda empat milik Mingyu yang semakin mengecil di pandangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Foot note:
Arigatou gozaimasu = terima kasih banyak, formal.
Iie, douitashimashite = Tidak perlu berterima kasih.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Akhirnya bisa update chapter ke-7. Maaf updatenya lama TAT Terima kasih buat yang sudah mau membaca. Mohon maaf apabila masih terdapat banyak kesalahan. Jangan lupa tinggalkan review ^^~ Saya menerima kritik dan saran yang bersifat membangun.
