I Really Didn't Know Chap. 7 -End-

Title : I Really Didn't Know

Author : Putri ChanBaek26

Casts :

- Byun Baekhyun

- Park Chanyeol

- Luhan

- Sehun

- Chen

- Others

Pairing : ChanBaek

Genre : T, Sad.

Warning! : SHOUNEN-AI! YAOI! BOY X BOY, BOYS LOVE, & TYPO(s)

Note : FF ini murni dari otak gaje saya, kalau ada persamaan dengan FF lain mungkin hanya suatu kebetulan belaka. Tapi jangan pernah coba – coba untuk meniru/Plagiat FF saya! Sekian :D

Happy Reading!

"Aku juga menginginkanmu Chanyeol~ah. Saranghae"

"Aku tau.. Oleh karena itu, laten we voor elkaar door het leven gaan. Trouw met me"

Chap. 7

Baekhyun menaikkan alisnya, ia tidak mengerti dengan kalimat terakhir yang diucapkan Chanyeol.

"Artinya apa Chanyeol~ah?" Tanya Baekhyun sambil mengerjapkan matanya.

Chanyeol tiba - tiba menunduk malu, tangan kanannya tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Umm.. Kris hyung memberitahukanku kata - kata itu. Jadi aku menghapalnya tadi malam."

Baekhyun terkikik, tangannya mengelus pelan wajah Chanyeol.

"Lalu apa artinya?"

"Artinya, mari hidup bersama. Dan menikahlah denganku." Usai mengatakan itu Chanyeol mengalihkan pandangannya. Ia tampak malu. Begitupun Baekhyun, semburat merah tampak muncul dipipinya.

"Be-benarkah? Apa itu cuma kata - kata Kris hyung saja?"

Chanyeol cepat mengibaskan tangannya.

"Tidak! Aku yang meminta Kris hyung menerjemahkan kata - kataku itu dalam bahasa belanda." Sergahnya.

Baekhyun mengangguk pelan, bibir mungilnya membentuk huruf O.

"Jadi, kau ingin menikah denganku?"

Kini semburat merah yang muncul dipipi Chanyeol, ia pun mengangguk pelan tanpa melihat wajah menggoda Baekhyun.

"Kau melamarku?"

Pertanyaan Baekhyun tersebut kontan membuat Chanyeol membelalakkan matanya. Baekhyun benar, seharusnya moment seperti ini adalah moment yang bagus untuknya melamar namja mungil itu. Namun ia lupa membeli cincin.

"Eh? Ah! Mmm.. Y-ya." Jawab Chanyeol tak jelas, sangat kelihatan bahwa ia sedang gugup.

"Lalu cincin atau sesuatu untuk melamarku mana?"

Lagi - lagi Chanyeol harus bertingkah layaknya orang bodoh, ia bahkan tampak merutuki dirinya sendiri.

Baekhyun tertawa kecil melihat kelakuan konyol Chanyeol yang kini terlihat berbicara sendiri, ia pun menangkup wajah tampan Chanyeol.

"Tidak apa - apa. Lagipula aku juga lupa membawa hadiah."

Chanyeol tersenyum lembut, namun senyum itu berubah menjadi sebuah seringai.

"Aku mau hadiahku, tapi dikamar."

"Yak!"

Baekhyun langsung protes, oh ayolah! Kenapa Chanyeol harus berubah menjadi pervert lagi?

"Jadi kata - katamu itu semua palsu? Ternyata kau masih pervert?"

Chanyeol tertawa dengan keras, ia pun menghidupkan mesin mobilnya. Tak ia hiraukan ceracauan protes dari bibir mungil itu. Dalam pikirannya hanyalah ia harus sampai dikamar, ia ingin segera berbagi kehangatan dengan namja yang sangat ia cintai itu.

'Ketahuilah Baekhyun, aku sangat mencintaimu. Semua kata - kataku padamu adalah benar adanya. Aku berani bersumpah. Aku mencintaimu.' Batin Chanyeol berteriak senang.

-oOo-

Chanyeol memeluk tubuh mungil Baekhyun semakin erat, tangannya yang Baekhyun tiduri ia tarik secara perlahan. Takut kalau sampai namja mungil itu terganggu dari tidurnya.

Setelah menyelimuti tubuh yang polos itu, ia pun melirik jam kecil disampingnya. Sudah pukul 00.00 pikirnya.

Ia melepaskan pelukannya dari tubuh mungil itu, kemudian kepalanya ia dekatkan untuk mencium bibir merah muda yang tersuguh dihadapannya.

Klek~

Chanyeol terkejut setengah mati saat mendengar pintu kamarnya dibuka, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Kris sedang berdiri mematung melihat kearah mereka.

"Sial!" Umpat Kris dengan kesal, ia pun berjalan cepat keluar.

Chanyeol yang melihat itu segera memakai celananya, setelah itu ia keluar menemui Kris.

"Hyung, apa yang kau lihat?" Tanya Chanyeol ketika ia dan Kris berjalan kearah dapur.

"Apa perlu ku jelaskan? Melihat keadaan kalian yang berantakan saja aku sudah mengerti." Jawab Kris sambil mengambil air dari kulkas.

"Kau cemburu hyung?" Goda Chanyeol sambil tertawa.

Kris hanya mampu mendelik tajam, kemudian matanya menatap tubuh Chanyeol yang topless.

"Um ya hyung cemburu. Tapi kini hyung lebih kearah terkejut. Terkejut melihat tanda ditubuhmu ini, aku tidak menyangka Baekkie ku yang polos mampu melakukan itu."

Chanyeol mendengus kesal, ia segera merebut air putih itu dari tangan Kris. Kemudian ia meneguknya secara brutal.

"Baekkie is mine! Lagipula jangan katakan Baekkie, aku tidak berani membayangkan aku melakukan this and that dengan tubuh sekecil itu. Panggil ia Park Baekhyun."

Ganti Kris yang mendengus kesal, ia benar - benar cemburu mendengar perkataan sepupunya itu.

"Seharusnya Wu Baekhyun! Tapi sayang, karena Suho si pendek aku harus merelakannya denganmu."

Chanyeol menaikkan alisnya, ia tidak tau siapa yang dimaksud Kris. Ia memang pernah mendengar nama Suho, tapi ia tidak tau siapa itu.

"Suho siapa hyung?"

Kris tiba - tiba tertawa mengejek, ia pun memasukkan kedua tangannya ke kantong.

"Suho itu pengganti mertuamu, ia adalah hyung Baekhyun. Ia sangat pemilih sekali, apalagi kalau berhubungan dengan adiknya. Aku tidak yakin kau lulus seleksi. Jadi berhati – hatilah."

Setelah mengatakan itu, Kris langsung beranjak pergi. Meninggalkan Chanyeol yang terlihat kebingungan.

-oOo-

"Apa?!"

Kris langsung menutup telinganya mendengar teriakan sahabatnya itu, bagaimana pun ia tidak mau tuli. Apa kata dunia ketika melihat namja sesempurna dirinya ternyata tuli?
Oh, Kris bahkan tidak dapat membayangkan hal itu.

"Berani sekali adikmu itu menyentuh adikku! Oh Tuhan!" Suho menggelengkan kepalanya tanda tidak menyangka.

"Adik sepupu." Koreksi Kris cepat.

"Sama saja! Ah, anak itu benar - benar! Adikku yang polos jadi rusak karenanya. Tidak akan kumaafkan!"

Kris bersorak dalam hati, ia sangat senang melihat respon Suho yang berlebihan.

Ia berpikir dengan marahnya Suho ia pasti akan bisa kembali merebut Baekhyun, ia licik? Tentu.

"Akan kuberi pelajaran."

"Bagus!"

-oOo-

Suho berdiri didepan pintu apartemen miliknya sambil berkacak pinggang, dihadapannya telah berdiri adik kesayangannya dengan takut - takut.

"Jadi mana namja itu? Ia tidak berani mengantarmu pulang? Ckck, pengecut!"

Baekhyun menggelengkan kepalanya perlahan, pandangannya masih terlihat takut - takut.

"T-tidak hyung. Ia ada dibawah, ia masih belum siap bertemu hyung."

"Apa? Benar - benar pengecut! Kalau ia jantan, suruh agar ia berhadapan langsung denganku." Kata Suho dengan tangan masih berada dipinggang.

Baekhyun meraih telepon genggamnya, mengetikkan sesuatu disana. Kemudian ia menempelkan benda itu pada telinganya.

"Datanglah." Ucapnya pelan ketika ia mendengar suara dari sebrang sana.

-oOo-

"Jadi kau yang bernama Park Chanyeol?" Tanya Suho dengan tatapan mengintimidasi.

Chanyeol yang duduk disamping Baekhyun pun menatap namja mungil itu, seolah bertanya apa yang akan ia jawab.

"Katakan saja ya atau tidak! Apa kau lupa nama mu sendiri?"

Chanyeol berdehem, kemudian ia menatap tepat kemata Suho.

"Ya, namaku Park Chanyeol."

Suho sedikit gentar saat mendengar suara Chanyeol, bagaimanapun suara namja itu sangat manly. Ia juga sangat tinggi, walaupun tidak lebih tinggi dari Kris.

"Apa pekerjaanmu?"

"Aku masih kuliah."

Suho tertawa remeh, dalam hati ingin sekali ia memukul wajah polos tanpa dosa namja itu.

"Lalu, apa pekerjaan orang tuamu?"

"Hyung—"

Baekhyun memasang tatapan memohon pada Suho, ia sangat kesal pada hyungnya karena berlagak seperti orang tua.

"Aku rasa aku tidak perlu memberitahumu hyung, hyung kenal dengan Kris hyung kan? Hyung pasti tau dia berasal dari keluarga baik - baik. Begitupun aku, kami tidak berbeda."

Suho mengangguk - anggukkan kepalanya, kemudian ia melipat tangannya didada.

"Apa jaminanmu untuk adikku dimasa depan?"

"Hyung! Kami be—"

"Aku berani jamin akan membahagiakan Baekhyun, aku tidak akan menyakitinya dan membuatnya hidup susah." Ucap Chanyeol yang memotong perkataan Baekhyun. Wajahnya tampak terlihat sangat yakin.

"Good answer."

-oOo-

Sehun menghisap rokoknya dalam - dalam, matanya tertutup seolah sangat menikmati hisapannya itu.

Kemudian mata sayunya terbuka perlahan, ia langsung membuang puntung rokok yang telah habis ke keranjang sampah disudut kamarnya.

Tiba - tiba ia tertawa dengan keras, pandangannya tak henti menatap kearah objek yang ia tertawakan.

"Haha, kau memang brengsek Baekhyun! Bisa - bisanya kau tidak mencintaiku? Brengsek!"

Sehun melemparkan foto yang berbingkai hitam itu kelantai, membuat pecahan kaca memenuhi lantai kamarnya.

"Apa yang membuatmu lebih memilih Chanyeol hah? Apa kurangnya aku Baekhyun? Katakan!"

Sehun segera mengambil foto itu, kemudian ia mengusap dengan sayang.

"Kata orang aku tampan Baekhyun, aku sempurna. Tapi kenapa kisah cintaku tidak pernah bisa sesempurna diriku? Apa sebenarnya salahku?"

Sehun pun mencium foto itu dengan penuh perasaan, setelah itu senyum tipis terpatri dibibirnya.

"Sepertinya aku harus menutup hatiku. Aku tidak akan membuka lagi luka dihatiku karena—cinta!"

-oOo-

Luhan tersenyum melihat seorang namja tampan duduk membelakanginya, kemudian ia melangkah perlahan kearah namja itu.

Kedua tangannya ia gunakan untuk menutup mata namja tampan itu. Cara yang sama yang pernah Baekhyun lakukan pada Sehun.

"Lepaskan! Sialan!"

Luhan mengerutkan keningnya, ia heran kenapa namja itu tidak menyangka ia adalah Baekhyun.

"Kenapa kau tau aku bukan Baekhyun?" Tanya Luhan sambil duduk disamping namja itu.

"Tentu saja aku tau, ia kekasihku. Lagipula tangannya halus dan lentik." Tutur namja itu.

Luhan membelalak kaget. Ia menatap tidak percaya.

"Bagaimana bisa? Baekhyun kan pacar Sehun?"

Namja itu tertawa, ia kemudian menatap Luhan sinis.

"Itu dulu, lagi pula kami saling mencintai. Jadi tidak ada alasan untuk kami tidak bersama."

Luhan menarik napas dengan kasar, kemudian ia meraih kerah kemeja namja itu –Chanyeol hingga wajah mereka berdekatan.

Chu~

Chanyeol langsung memiringkan kepalanya hingga Luhan hanya dapat mencium pipinya.

"Sialan!"

Plak!

Chanyeol menampar pipi namja itu hingga tersungkur, ia mengatur napasnya yang tidak beraturan.

"Kau pikir apa yang kau lakukan? Brengsek!" Teriak Chanyeol lagi, ia benar - benar kesal dengan namja itu.

"Aku sangat mencintaimu Chanyeol~ah! Hiks."

"Apa peduliku? Aku hanya mencintai Baekhyun!"

"Hiks.. Chanyeol!"

"Dengar Luhan! Kau tau Sehun? Ia dulu sangat mencintaimu, tapi karena sifatmu yang seperti itu ia menjadi membencimu! Dan kini ia malah mencintai Baekhyun. Jadi intinya adalah kau memang tidak pantas dicintai!"

Chanyeol langsung berdiri pergi, sebelumnya ia sempat berbisik ke telinga namja itu.

"Sekali lagi kau menggangguku, ku jamin kau akan mati ditanganku."

Luhan langsung menutup bibirnya, hingga isak tangisnya teredam.

"Brengsek kau Park Chanyeol! Seharusnya kau juga menderita sama sepertiku! Bahkan seharusnya kau yang lebih menderita! Benar – benar tidak adil!" Teriaknya masih terisak, ia menatap kepergian Chanyeol dengan linangan air mata.

Setelah puas berteriak ia kemudian terdiam sambil mengingat kata – kata Chanyeol tadi.

"J-jadi Sehun sempat mencintaiku?"

-oOo-

Luhan melangkah dengan gontai, pikirannya benar - benar kacau saat ini. Ia masih memikirkan Chanyeol dan perkataannya, ia tidak pernah menyangka bahwa Sehun pernah mencintainya. Karena selama ini Sehun bahkan tidak pernah menunjukkan tanda - tanda bahwa ia mencintai dirinya. Jadi saat mengetahui hal itu rasanya ia menjadi sangat terkejut, yah walaupun itu dulu. Kini Sehun sudah tidak menyukainya, dan lagi - lagi mantan sahabatnya itu lah yang menyebabkan hal itu.

"Bodoh! Luhan bodoh!" Rutuknya, ia tampak memukuli kepalanya sendiri.

Ia berhenti didepan gerbang kampus, hendak melangkahkan kakinya ke tempat pemberhentian bus. Namun sebuah suara menghentikannya.

"Luhan!" Panggil orang itu.

Luhan menoleh, ia pun tersenyum tipis saat melihat orang itu.

"Suho hyung."

"Ya, apa kabarmu?"

"Baik." Jawab Luhan datar, ia bahkan tidak berminat menanyakan keadaan orang yang berada dihadapannya itu.

"Ada masalah?"

Luhan menggeleng lemah.

"Apa hyung menunggu Baekhyun?"

"Ya, tapi dia terlalu lama. Apa kau mau kita berbincang - bincang sebentar?"

"Baiklah."

-oOo-

"Hyung, apa aku boleh tau dimana tempat hyung bekerja dulu? Maksudku, tempat Profesor yang dulu hyung ceritakan." Ucap Luhan sambil menoleh kearah Suho yang berada disampingnya. Mereka berada dikafe dekat kampus sekarang.

Suho tampak berpikir sejenak, wajahnya menunjukkan betapa ia tidak suka dengan hal menyangkut dengan Profesor gila itu.

"Untuk apa?"

"Aku hanya penasaran."

Suho kembali terdiam, kemudian tangannya tampak merogoh sesuatu dari dompetnya.

"Ini kartu namanya, kau bisa menghubunginya langsung."

Luhan mengangguk senang, ia menerima kartu nama itu dengan perasaan bahagia.

"Terima kasih hyung."

"Sama - sama. Oh ya, kau tidak ada jadwal kuliah hari ini?"

-oOo-

Chanyeol menekan bel apartemen Baekhyun dengan senyum indah yang melengkung dibibirnya, tangan kanannya menenteng kotak sedang bergambar kue strawberry.

Tak lama kemudian, muncul lah seorang namja mungil dari dalamnya. Raut wajahnya terlihat sangat kacau.

"Mau apa kau kemari?" Tanyanya datar.

"Baekhyun~ah? Kau kenapa? Apakah kau sakit?" Bukannya menjawab, Chanyeol malah melontarkan pertanyaan - pertanyaan padanya.

"Aku baik - baik saja. Pergilah."

Baekhyun hendak menutup pintu, tapi Chanyeol segera menahannya.

"Katakan apa salahku Baekhyun~ah? Aku punya salah kan? Katakanlah!"

"Tidak ada!"

Greb~

Chanyeol langsung memeluk tubuh Baekhyun, dan membawanya masuk ke dalam.

"Baekhyun~ah, katakan saja. Aku tidak mau kita saling berbohong, jujur saja Baekhyun~ah." Pujuk Chanyeol, ia semakin mengeratkan pelukannya. Chanyeol benar – benar bingung kenapa Baekhyun tiba – tiba bersikap seperti itu.

"Jujur? Baiklah.. Aku melihatmu berciuman dengan Luhan."

Chanyeol membulatkan bibirnya, lalu ia menutup matanya perlahan. Ia benar – benar benci kesalahpahaman.

"Luhan yang memaksa, tapi ia hanya mencium pipiku. Percayalah."

"Menurutmu apa aku akan percaya begitu saja? Tidak akan!"

"Lalu apa yang membuatmu percaya Baekhyun~ah? Ayolah, jangan seperti di drama murahan. Aku sangat sangat mencintaimu, aku bahkan tidak sanggup hanya untuk meliriknya. Kau begitu berharga, kau harta terindahku Baekhyun~ah."

Baekhyun tiba - tiba tersenyum tipis, matanya menatap Chanyeol lekat - lekat.

"Tadinya aku hanya bercanda mengatakan begitu, tapi ternyata benar kalian berciuman."

Chanyeol mendesah pelan, ia merasa bodoh karena memberitahu hal yang tidak patut diberitahukan. Seharusnya itu menjadi rahasia, rahasia yang tidak pantas dikenang.

"Dicium, bukan berciuman. Itu berbeda Baekhyun~ah." Ralat Chanyeol tak terima.

"Intinya sama - sama berciuman."

Chanyeol lagi - lagi mendesah, tidak menyangka pacarnya ini sangat keras kepala.

"Berciuman itu begini Baekhyun~ah."

Setelah mengatakan itu Chanyeol langsung meraih dagu Baekhyun, ia segera mengecup bibir mungil yang selalu menggodanya.

Kemudian ia menghisap bibir atas dan bibir bawah Baekhyun secara bergantian, ia sudah siap hendak melesakkan lidahnya ke dalam mulut Baekhyun. Namun namja mungil itu malah menutup bibirnya rapat - rapat. Chanyeol pun tampak kewalahan untuk membuka bibir namja mungil itu, tapi ia tidak mau menggunakan cara kekerasan. Sehingga ia hanya mampu menyesap bibir itu dengan sedikit terlihat rakus.

Brak!

"Kau apakan adikku hah?!"

-oOo-

"Ah.. Sial!" Rutuk Chanyeol ketika ia masuk ke dalam apartemennya, ada Kris disana. Namja tampan itu tampak sedang membaca koran.

"Sial kenapa?" Tanya Kris tanpa mengalihkan pandangan dari koran yang berada dihadapannya.

"Aku tertangkap basah Suho hyung sedang berciuman dengan Baekhyun. Hah.. Sekarang ia malah menghukumku sebelum menikah tidak boleh berciuman dan bercinta dengan Baekhyun."

Kris melebarkan matanya, tidak menyangka Chanyeol akan berbicara se-frontal itu padanya. Ayolah, Kris itu sudah dewasa. Tidak seharusnya Chanyeol berbicara se-frontal itu didepannya. Itu benar – benar tidak sopan.

"Rasakan! Kau masih muda saja sudah melakukan hal seperti itu! Kalau kau sudah sukses baru membicarakan pernikahan dan melakukan hal bodoh itu."

"Apa kau juga begitu hyung? Kau sudah sukseskan? Tapi kenapa tidak pernah membicarakan pernikahan, hah?"

Kris tampak meringis kesal, hampir saja ia melempar vas bunga yang berada dihadapannya ke wajah Chanyeol.

"Itu karena calon istriku kau rebut! Idiot!"

Chanyeol tertawa terpingkal - pingkal, ia merasa menang dari hyung sempurnanya itu.

Ia pun segera berlari ketika sadar aura Kris mulai menghitam.

"Oh Tuhan! Aku ingin bercinta!" Jerit Chanyeol sebelum masuk kekamarnya.

"Park Chanyeol sialan! Jaga bicaramu!"

-oOo-

Luhan tersenyum ketika membereskan peralatan milik seorang yang berada dihadapannya, namun matanya tak pernah lekat dari cairan yang terlihat seperti kristal itu.

"Jadi kau bekerja denganku karena kau butuh uang?" Tanya seorang namja paruh baya, ia duduk sambil bersedekap.

"Iya Profesor, aku sangat senang walaupun harus bekerja sebagai pembantu Profesor."

"Bagus, anak yang rajin."

Luhan tersenyum lagi, padahal ia sama sekali sedang tidak membutuhkan uang. Ia mau bekerja dengan Profesor ini dengan tujuan lain. Ia mau melakukan hal yang menantang untuk dirinya sendiri, yah sekaligus ingin mengubah nasib. Mungkin.

"Jadi Profesor, ini apa?" Tanya Luhan sambil menunjuk cairan kristal.

Profesor itu semula hanya diam, ia tampak berpikir. Tapi kemudian ia beranjak mendekati Luhan.

"Buang saja."

"Kenapa Profesor?"

"Aku tidak mau ada korban lagi, cukup hanya adik Suho saja."

Luhan mengangguk pelan, ia sudah paham cairan apa itu sekarang. Lalu wajahnya berubah menyeringai.

"Aku akan membuangnya Profesor."

-oOo-

Baekhyun menghentikan langkahnya ketika ia berhadapan dengan orang yang sempat menjadi kekasihnya, ia terlihat sangat gugup. Tapi namja yang berada dihadapannya malah sebaliknya, wajahnya terlihat datar.

"Sehun~ah, a-apa kabar?" Sapa Baekhyun dengan senyum mengembang.

Sehun hanya diam, ia bahkan melangkahkan kakinya hendak pergi dari tempat itu.

"Sehun, kau masih marah padaku?"

Sehun menghentikan langkahnya, ia pun menoleh kearah Baekhyun. Mata tajamnya tampak sangat menusuk.

"Menurutmu?"

Baekhyun menunduk, ia tampak memainkan jari - jarinya karena gugup.

"Sehun~ah, aku—"

"Diam! Tidak ada yang perlu dibicarakan. Jangan pernah lagi mencoba untuk berbicara padaku. Karena aku sangat.. Membencimu."

'Mencintaimu.'

Baekhyun mendongak karena kaget, ia tidak menyangka Sehun akan sebenci itu padanya.

"Sehun~ah, maaf—"

"Ku bilang diam! Dengar.. Karena kau, aku akan menutup hatiku selama - lamanya. Itu karena kau."

"Sehun.. Hiks."

"Jangan cengeng!"

Sehun segera beranjak pergi, meninggalkan namja yang sangat ia cintai. Bahkan hingga saat ini, ia sudah berjanji akan memulai hidup barunya tanpa ada kata cinta. Karena baginya cinta itu hanyalah Bullshit!

-oOo-

Kris tampak menyesap kopi yang berada dihadapannya dengan hati – hati, mungkin karena masih panas. Setelah itu ia menatap namja yang berada dihadapannya dengan senyuman.

"Aku ingin berterima kasih denganmu. Karenamu Chanyeol menjadi kembali menyebalkan seperti semula."

Namja itu tertawa, ia sedikit lucu dengan perkataan sahabatnya itu.

"Sebenarnya Chanyeol hanya shock saja, karena ia terlalu mencintai namja itu. Jadi saat aku memberikannya motivasi, dan beberapa ejekan yang membangun menurutku. Ia bisa menjadi bangkit seperti semula." jelas namja itu –Kai.

"Ah, begitu ternyata. Aku sebenarnya sangat menyayanginya, tapi sedikit menyesal karena kami mencintai orang yang sama. Aku bahkan merasa bahwa aku menjadi buta karena cintaku pada namja itu. Aku tidak mau perasaan ini terus – terusan menghantuiku, karena aku tidak mau hubunganku dengan sepupuku sendiri rusak hanya karena cinta. Menurutmu aku harus bagaimana Kai?"

Kai mengangguk pelan, seolah ia memahami perasaan Kris yang sedang dirundung dilema itu.

"Menurutku sebaiknya kau mundur Kris, Chanyeol dan namja itu saling mencintai. Jadi sebaiknya tidak kau rusak hubungan mereka dan hubungan persaudaraan kalian sendiri."

Kris hanya diam mendengar itu, mencoba menelaah setiap kata – kata yang baru saja ia dengar.

"Ku pikir juga begitu Kai."

"Baguslah kalau kau berpikir hal yang sama, ini semua demi kebaikan kalian. Kau pasti mendapatkan yang terbaik."

"Ya."

Keduanya pun terdiam, sepertinya masih larut dalam pikiran mereka masing – masing. Kemudian Kris segera hendak permisi pulang, namun sebuah suara muncul dari balik pintu ruang kerja Kai.

"Kai.. Aku membawa ku— eh?"

Namja itu tidak melanjutkan kalimatnya ketika melihat bahwa Kai memiliki seorang tamu diruangannya.

"Maaf kalau aku mengganggu." Ucap namja itu sambil membungkuk.

"Tidak apa – apa Tao, lagi pula dia ini sahabatku."

Namja yang bernama Tao itu tersenyum manis, membuat namja tampan yang mengaku sempurna –Kris ikut tersenyum malu – malu.

"Lebih baik kalian berkenalan dulu." Ucap Kai dengan tampang menggoda pada keduanya.

Kris segera melayangkan deathglarenya kepada Kai, kalau tidak ada namja bernama Tao itu sudah pasti Kris habis memukuli kepala namja berkulit tan itu.

"Aku Tao." Kata Tao memperkenalkan diri, ia menjulurkan tangannya kearah Kris.

"Ah.. Ya.. Aku Kris." Kris pun menerima juluran tangan Tao dengan diiringi suara detakan jantungnya sendiri .

"Sepertinya ada yang baru saja move on." Goda Kai.

-oOo-

Baekhyun dan Chanyeol sedang duduk bersisian di ruang tamu apartemen Baekhyun, keduanya tampak malu – malu satu sama lain. Entah karena apa.

"Mm.. B-Baekhyun~ah? Suho hyung tidak ada kan?" Tanya Chanyeol memecah keheningan.

Baekhyun menggeleng ragu, sepertinya ia sedang menyembunyikan sesuatu.

"Ti-tidak ada kok."

"Syukurlah.. Kalau tidak ia bisa jadi pengganggu."

Seorang namja yang tidak lebih tinggi dari Baekhyun tampak mengepalkan tangannya, ia sedang berdiri dibalik tembok. Telinganya ia tempelkan kedinding agar mendengar percakapan dua orang yang berada dibalik sana.

"Y-ya. Memangnya ada apa Chanyeol~ah?"

Chanyeol menundukkan kepalanya, setelah itu ia turun dari kursi dan berlutut dihadapan namja mungil itu. Ia mengeluarkan kotak kecil dari kantongnya, kemudian mengarahkan kotak itu kepada Baekhyun.

"Byun Baekhyun.. Maukah kau menikah denganku?"

Pipi Baekhyun tiba – tiba bersemu merah, ingin sekali ia berteriak saat itu juga karena Chanyeol sedang melamarnya.

"Cha-Chanyeol~ah.. A-aku—"

Chanyeol menatap harap, ia sangat takut kalau Baekhyun akan menolak lamarannya. Karena jika itu terjadi, Chanyeol telah sebelumnya menyiapkan tali untuk gantung diri dikamarnya. Benar – benar idiot.

"Chanyeol.. A-aku tentu sa-saja mau me-menikah denganmu." Terima Baekhyun dengan terbata.

Ingin rasanya Chanyeol berteriak sambil mengitari seluruh Seoul sanking senangnya, tapi ia harus menahan itu semua. Karena ia lebih tidak bisa menahan hasratnya.

"Terima kasih Baekhyun~ah. Aku berjanji akan menikahimu setelah kita lulus kuliah." Ucap Chanyeol sembari tersenyum, ia segera memasangkan cincin dijari manis Baekhyun. Kemudian ia mengecup jemari lentik itu dengan penuh perasaan.

"Sama – sama Chanyeol~ah."

Tiba – tiba Chanyeol berdiri, kedua tangannya meraih tubuh mungil itu kedalam gendongannya.

"Sepertinya malam pertama kita harus dilakukan disini." Kata Chanyeol sambil berjalan kearah kamar Baekhyun.

"Yak! Chanyeol! Kita bahkan belum menikah—"

Bibir Baekhyun segera dibungkam oleh Chanyeol dengan sebuah ciuman, sehingga keduanya saling berpangutan.

Namja kecil yang tadi bersembunyi dibalik tembok kini segera berlari keluar.

Kemudian..

Blam!

Namja itu meringis hendak menangis ketika melihat kamar adiknya telah tertutup rapat.

"Park Chanyeol! Keluar sekarang juga! Jangan sentuh adikku! Kontrol hormonmu brengsek!" Teriak namja itu bertubi – tubi.

"APAA? Maaf Suho hyung ! I can't control my hormon!"

"Siaaaaaaaaaaaaaaaallll! Awas kau kalau keluar!"

"Maaf hyungggg~~~ah"

-oOo-

Teettt~ Teeett~

Sehun beranjak keluar dari kamarnya dengan malas – malasan setelah mendengar bel apartemennya, padahal saat ini ia sedang tidak mau diganggu oleh siapapun.

Dengan gontai ia pun berjalan menuju pintu depan. Ia membuka pintu itu dengan pelan – pelan. Berharap orang yang datang itu salah alamat.

Karena ia memang benar – benar tidak ingin diganggu.

Kriet~

Setelah berhadapan dengan orang itu, Sehun pun memandangi orang itu hati – hati. Matanya menyipit ketika melihat anak kecil yang wajahnya sangat familiar itu.

"Selamat siang hyung, Aku lulu~"

BLAM!

Pintu tertutup sempurna.

-END-

Jangan lupa Review ya~