Disclaimer: Lahir Kembali hanya milik Amano Akira-sensei.
Notes: AU, OOC, kata baku dan kata-kata sehari-hari saya dijadikan satu (?).
Pagi yang cerah di hari minggu. Ah~ suami – suami di RT yang diketuai oleh Pak Reborn sedang menikmati libur terakhir mereka di minggu ini. Harusnya sih, mereka kerja bakti. Tapi berhubung Reborn lagi error gitu, mereka semua diliburin dari tugas kerja bakti—yang terkadang lebih tepat disebut kerja rodi itu.
Anak – anak imut yang sialan yang menyebut diri mereka VK, lagi berkumpul di rumahnya Tsuna. Nggak semua anak – anak VK pada ke rumahnya Tsuna, cuma ada Gokudera, Yamamoto, Byakuran, dan Mukuro. Ryohei nggak ikut ngumpul, dia sama Kyoko pergi sama Knuckle, biasa...memperdalam agama. Hibari nggak ikut karena, dia, Dino sama Fon diajak Alaude—yang sedang error—pergi jalan-jalan. Lalu terakhir, Enma, belakangan ini dia lagi pergi nginep di rumah sepupunya, Adelheid. Dia nginep di sana sama Cozart.
Yang cewek – ceweknya Cuma ada Uni sama Chrome.
Sebenernya alasan anak – anak VK ngumpul di rumah Tsuna itu karena mereka mau makanin kue buatannya Nana terus ngeliatin—gangguin— Giotto main PS.
Nana masuk ke ruang keluarga sambil membawa kue – kue yang bikin anak – anak VK ngiler dan nggak sabar pengen langsung nyobain kue itu.
"Ini kuenya anak – anak," serunya.
Yang dipanggil kan anak – anak ya, anak – anak VK, temen – temennya Tsuna. Tapi yang ngembat kue duluan malah Iemitsu yang lagi tidur-tiduran cuma pakai boxer doang. "Oh, sayang, enak seperti biasa."
Nana tersenyum gembira. "Sayang, yang ini untuk Tsuna dan teman – temannya bukan untukmu. Tapi, akan kubuatkan untuk mu."
"Kau suka hal yang romantis kan," Nana tersenyum. "kalau begitu, ayo kita ke dapur. Membuat kue lezat ini bersama-sama. Hanya kita berdua saja, Nana~"
Dan kedua orang dewasa yang entah kenapa malah kayak orang baru nikah itu langsung pergi ke tempat yang mereka anggap romantis, dapur.
"Nana~ adonan kuenya jangan diberikan gula terlalu banyak~ Karena kau sudah terlalu manis~ Aku takut aku kena diabetes dan nanti aku jadi tak boleh terlalu banyak melihat wajah manismu itu~"
Oh, suara Iemitsu yang ada di dapur bisa kedengeran di ruang keluarga. Giotto menghela napas.
"Giotto-nii," kata Tsuna sambil narik-narikin kerah bajunya Giotto.
"Tsuna, jangan kerah baju ku. Nanti aku tercekik," kata Giotto.
"Ma-maaf, Giotto-nii. Aku juga mau mainin PSnya."
"Aku baru main lima belas menit. Kamu makan kue aja sana."
"Aku kan udah sering makan kue Mama." Tsuna mulai menunjukkan puppy eyes mautnya. Dan itu membuat Giotto nggak kuat. Ya iyalah, siapa coba yang bisa kuat sama puppy eyes mautnya Tsuna? Siapa? Bahkan Xanxus pun kadang nggak kuat.
Giotto pindah tempat. Dia duduk di kerumunan anak – anak unyu itu.
"Giotto-san, ada game yang ada aliennya nggak?" tanya Gokudera disela-sela kunyahannya.
"Ada tapi aliennya main perang-perangan."
"Giotto-san, punya game yang berantem-berantemannya itu ada orang yang di jidadnya ada apinya (?)nggak?" tanya Byakuran.
"Game apaan itu? Kayaknya nggak ada."
"Yah payah, aku punya dong."
"Emang kamu punya PS? Bisa maininnya?"
"Bisa lah. Aku sering mainin sama Uni-chan, wee."
"Iya tapi aku lebih sering menang," kata Uni.
"Aku juga punya PS," kata Mukuro pamer.
"Iya tapi PSnya waktu itu keinjek sama Mukuro-nii pas lagi ngejar-ngejar Fran," tukas Chrome.
"Chrome, aku lagi pamer."
Giotto sweatdrop.
"Ah, aku mau ngeliatin Tsuna main PS ah." Yamamoto berdiri dari tempatnya sambil meganging dua kue di kedua tangannya. Terus dia duduk di samping Tsuna.
Tsuna lagi main balapan mobil.
"Ih Tsuna kamu mainnya jago," puji Yamamoto.
Tsuna tersenyum. "Wah, iya apa?"
Sekedar memberitau, padahal sebenernya Tsuna cuma muter-muter analog doang. Mobil balap yang ada di game juga jalannya nggak bener. Tabrak sini tabrak sana. Udah gitu, arah mobilnya berlawanan sama mobil computer. Haduh...
"Aku juga mau liat bos," kata Gokudera. Terus dia pindah dan duduk di sisi lainnya Tsuna.
"Aku juga mau liat Tsunayoshi-kun," kata Byakuran. "Giotto-san, aku boleh pakai stick yang satunya nggak?"
"Sticknya rusak. Maaf ya," kata Giotto.
"Yaaah," Byakuran kecewa. "Yaudah nggak apa-apa. Tsunayohi-kun kalau kamu menang aku pinjem ya~"
Tsuna mengalihkan pandangannya dari layar tv ke Byakuran. "Oke o—"
"BOS AWAS! ITU MOBILNYA MAU NABRAK PEMBATAS JALAN!" teriak Gokudera histeris. Tsuna langsung banting stir(?).
"Yah, mobilnya salah arah," kata Yamamoto kecewa. EMANG DARI AWAL SALAH OI!
"Wah, mobilnya meledak," kata Mukuro.
"Keren," kata Yamamoto lagi, kali ini ditambah cengiran khasnya.
Giotto sweatdrop untuk kedua kalinya.
Byakuran ngingetin Tsuna. "Tsunayoshi-kun! Mobil kamu salah arahnya! Balik lagi balik"—Tsuna muter-muter analog stick PS—"pakai NOS! Pakai NOS!"
"Gi-gimana caranya? Aku belum ngerti," kata Tsuna panik.
"Ya gitu caranya! Ayo cepat Tsunayoshi-kun!"
"Kufufu, tanganku gatal. Ah, Crhome, pulang yuk. Suruh Papa beli PS lagi," gerutu Mukuro. Tapi Chrome mengabaikan omongan kakaknya.
"Tsuna-san! Awas itu! Ada mobil di belakangnya!" pekik Uni.
CKIIIIIITTTT. BRUAK.
"Yah yah, mobilnya bos ketabrak. Rese ih yang nabrak!" Gokudera mulai kesal sendiri.
"Ganti mobil kenapa ganti," ujar Byakuran.
"Tsunaaaaaaaaaaaaaa. Udah belum? Aku mau nyelesain game ku nih," tanya Giotto yang mulai bosan. "HUAH! Cozart rese ih. Ngapain nginep ke rumah sepupunya coba! AWAS KAU BESOK YAH!" …dan yang tidak melakukan kesalahan apa pun malah yang disalahin.
Sementara itu:
"HATCHUUU."
"Cozart-nii, masuk angin?" tanya Enma khawatir.
"Hm, kan kita baru berenang lima menit," komentar Adelheid.
"Heh, nggak kok. Kalian salah denger kali."
Enma dan Adelheid saling bertatapan satu sama lain. Terus mereka berdua menatap Cozart. Cozart nyengir. Mereka berdua langsung lanjut main air.
'FIRASATKU JADI NGGAK ENAK BEGINI?! INI PASTI GIOTTO NIH PASTI!'
"GYAAAA. Nana, tanganku kebakar oven," Iemitsu meringis kesakitan dan tentu saja Giotto dapat mendengarnya.
"Oh," gumam Nana sedih. "Tunggu dulu sayang, akan kuambilkan salep bakar."
Ah, betapa irinya Giotto dengan kedua orang tuanya yang selalu berpacaran walaupun udah resmi jadi suami-istri dan punya buku nikah itu. Makanya Giotto cari pacar sana. Di luar sana ada berjuta-juta cewek yang menunggu pernyataan cinta darimu…dan itu termasuk saya…. Okeh kembali lagi ke PS.
"Yah, bos, mobilnya meledak lagi," kata Gokudera.
"Itu nyawa mobilnya udah tinggal satu." Byakuran nunujuk-nunjuk gambar stir kecil di ujung layar tv yang menjadi lambing nyawa mobil itu.
Gokudera mendengus, "Yang punya itu cuma manusia." Ah belajar tujuh menit bersama Gokudera dimulai...
"Mana aku tau. Emang begitu disebutnya!"
Sekitar lima menit Byakuran dan Gokudera mendebatkan 'nyawa sang mobil' yang ada di layar tv. Tak lama setelah mereka selesai berdebat. Ada dua kata dengan huruf kapital semua muncul di layar tv dengan background mobilnya Tsuna hangus, masih kebakar tapi.
—GAME OVER—
Hening sebentar.
Tsuna nengok ke Gokudera, terus nunjuk ke layar tv dan nanya, "Gokudera-kun itu artinya apa?"
"Oh, bos itu artinya—"
"Haha, Tsuna kamu keren. Kamu bisa menangin gamenya!" puji Yamamoto.
Hening lagi sebentar.
"ITU ARTINYA KALAH TAU!" bentak Gokudera.
"Kufufufu, ganti game aja sih," usul Mukuro.
"Mau ganti game apa? Adanya game berantem-beranteman, kejar-kejaran sama zombie, sekalinya yang nggak berantem, adanya mainan yang orang temenan sama orang lain, terus lama-lama pacaran, lama-lama nikah. Nikahnya bisa sesama jenis pula (?). Nggak ada game buat seumuran kalian," sahut Giotto. Padahal mah dia bohong.
"Yaudah, seru dong kalau begitu," balas Byakuran. "Yang kejar-kejaran sama zombie aja. Itu namanya apa tuh, Presiden Evil!"
"Geez, bukan itu judulnya. Lagipula itu kan ada secene rate T-nya (?). Rate kalian aja masih K (?) ya! Hah sudahlah, kan di sini ada Uni sama Chrome juga."
"Oh kalau aku udah sering liat kok, Giotto-san," seru Uni.
"Iya Uni-chan udah sering main sama aku! Sampai ketemu kelelawar apa burung setan gitu, tapi kalah terus," kata Byakuran sambil mengembungkan pipinya. Astaga…pasti unyu.
Giotto langsung facepalm. "Kalian berdua serius? Ya ampun, tante Aria…kok bocah kayak kalian dibiarin mainan begituan."
"Orang tente Aria kadang ikutan main, Nenek Luce juga. Kalau Moyang Sepira sih nggak." Giotto menghela napas karena menurutnya di kediamannya Byakuran dan Uni masih ada yang waras otaknya. "Tapi Moyang Sepira sukanya mainan apa tuh namanya, GT4!" sambung Uni.
Sdfgsdfgsdfgsdfgsdfg; kenapa semua orang malah jadi nggak waras kayak gini?!
"Giotto-nii, aku mau main tanem-taneman sayuran," pinta Tsuna dengan puppy eyes mautnya. Bukan hanya Tsuna yang meluncurkan serangan puppy eyes mautnya, tapi yang lain juga ikutan, bahkan Chrome pun ikutan—oh Giotto mau berbuat apa kau kali ini? Melawan? Pasti tak bisa kan?
Giotto mengusap-usap pelipisnya, frustasi kelas dewa. Bahkan, mungkin, ngerjain soal fisika dengan tingkat kesulitan yang hanya bisa diselesaikan sama Verde itu bisa-bisa terasa lebih menyenangkan daripada menghadapi anak – anak imut yang sialan yang menyebut diri mereka VK ini.
"Huh." dia mengehelasa napas panjang.
Game tanem-taneman pun dimulai.
"Oh game yang ini. Aku sih bentar lagi hampir tamat," ujar Mukuro.
"Iya, kalau PSnya nggak Mukuro-nii injek. Padahal punyaku juga hampir selesai itu," kata Chrome menyalahkan Mukuro.
"Oya oya Chrome adikku tersayang. Salahin si Fran lah."
Dan setelah Mukuro bilang begitu, keadaan langsung hening. Cuma sfx sama backsound game doang yang kedengeran. Giotto entah gimana caranya bisa tidur di samping meja…mari bayangkan wajahnya ketika sedang tidur.
"Yah, Tsuna! Tanaman sayur-sayurannya mati," kata Yamamoto dengan tampang sedih.
"Ganti gamenya dong, aku jadi mau main nih," pinta Byakuran.
"Tapi aku nggak ngerti cara gantinya. Giotto-nii—yah tidur."
"Yaudah sini aku gantiin," ujar Mukuro.
"Game Presiden Evil ya!" pinta Byakuran sekali lagi.
"Jangan, aku kadang sukanya main game Teken!"
"Kayaknya aku pernah mainin deh," Gokudera jbjb. "Tapi baru lima menit PSnya dimatiin sama on G., terus PSnya diumpetin."
"Aku kalau main sukanya pakai Jin Pajama. Keren tau," kata Mukuro.
"Main The Sim aja," ujar Chrome.
"Main itu aja, apa tuh, yang tembak-tembakan bola. Itu lebih gampang. Lagipula, kalau kita main game buat yang remaja nanti Giotto-san marah," Uni menasihati. "Tapi aku juga mau main Presiden Evil."
Mereka pun terus mendebatkan game apa yang akan mereka mainkan selanjutnya. Beruntung Giotto tidurnya pulas banget. Coba kalau nggak, ada kemungkinan dia bisa denger rencana anak – anak itu.
"Main game bola aja deh," kata Tsuna yang lagi megang kaset PS dengan gambar pemain bola bertulisan; Euro 2120. "Mau nggak?" tanyanya.
"Yah, aku sukanya baseball," kata Yamamoto.
"Yaudah kamu liatin aja," kata Gokudera dengan suara yang keras.
Tiba-tiba Nana datang, membawakan cemilan dan beberapa gelas susu. Susu! Yeay! Mata caramel Yamamoto langsung berbinar-binar. Susu susu susu! Begitu meletakkan cemilan dan susu di atas meja, Nana agak kaget dan bingung. Kenapa anaknya yang ganteng bisa tidur di dekat meja itu?
Nana tersenyum kecil. Ia ingin membangunkan Giotto dan menyuruhnya untuk pindah ke kamar, daripada tidur di lantai—yang walaupun sudah dilapisi karpet seperti itu. Tapi, belum sempat Nana menyentuh Giotto Tsuna langsung memekik, "Jangan, Ma!"
"Kenapa?" tanya Nana.
"Kasian Giotto-nii-nya Tante. Dia udah tidur pulas banget," kata Mukuro. Padahal mah, alesan yang benernya sih begini; "Jangan Tante! Nanti Giotto-nii liat kita mau main Presiden Evil!"
Nana diem sebentar, terus dia bilang, "Oh baiklah. Tapi nanti tolong bangunkan Giotto saat waktu makan siang yah."
"SIP TANTE!"
Nana pun keluar dari ruang keluarga, tapi beberapa menit kemudian dia kembali lagi. Tapi cuma buat nyelimutin Giotto doang~ Maklum pagi itu udaranya entah kenapa lagi dingin, langit lumayan mendung. Dia menunjukkan senyuman sebentar lalu keluar lagi.
"Okeh, sekarang kita mau main game apaan jadinya?" bisik Tsuna.
"Presiden Evil aja udah!" kata Byakuran.
"Deal ya," kata Gokudera yang lain—minus Yamamoto yang lagi syahdu menikmati susunya mengangguk.
Byakuran memasukkan kaset Presiden Evil ke apanya itu si PS (?). Untuk kali ini, karena cuma dia dan Uni yang ngerti cara mainnya, dia lah yang ambil alih stick PSnya. "Tenang aja Uni-chan, kalau aku kalah, nanti aku pasti gantian sama kamu," katanya. Uni mengangguk sambil tersenyum.
Byakuran memilih lokasi gamenya. Dia milih lokasi yang ada scene pembunuhan kualitas rate T. Itu kan sebelum gamenya dimulai, ada cuplikan sebentar, harusnya yang bagian itu bisa di skip—emang bisa di skip sih sebenernya. Tapi Byakuran malah sengaja nggak ngeskip. Astaga sdfgsdfg, bocah ini emang ya! Saya aja dulu sempet agak takut liat cuplikannya itu.
"Mukuro-nii aku—" belum sempat Chrome ngumpet di balik Mukuro, Mukuro malah ngumpet di balik tubuhnya terlebih dahulu. "Mukuro-nii."
Tsuna, dia sama aja kayak Mukuro. Tapi dia nggak mungkin ngumpet di balik tubuhnya Giotto, yang ada bukannya ngumpet malah ditindih Giotto yang lagi tidur sampai sesak napas dia. Gokudera, dia sih berani, jadi yang begituan mah biasa aja. Yamamoto, masih terlalu mencintai segelas susu yang ada di tangannya. Uni, menonton dengan seksama.
"Nih, liatin nih. Nanti aku pakai tembakan terus zombienya nanti mati," jelas Byakuran.
Dor Dor Dor Dor Dor.
"Liatkan? Zombienya mati."
"Iya zombienya mati. Tapi kamu juga ikutan mati," komentar Gokudera. Ya, playernya Byakuran juga ikutan mati karena di gigitin sama zombie yang ada di belakangnya. Inilah kelemahan Byakuran saat main Presiden Evil; dia cuma fokus sama musuh—zombie yang ada di depannya.
"Yes! Byakuran sekarang giliran ku!" ujar Uni. Dengan tidak ikhlas ia memberikan stick PSnya ke Uni.
Dor Dor Dor Dor Dor Dor Dor.
Tsuna, Gokudera, Byakuran dan Mukuro menganga. 'UNI JAGO BANGET!' batin mereka.
Dor Dor Dor Dor Dor Dor Dor Dor Dor Dor.
"Yah, peluru ku abis," kata Uni. Dengan cekatan tangannya ngegerakin analog terus ngarahin playernya nyari kotak, terus abis itu ditendang-tendangin gitu kotaknya. "Ih, Uni-chan dapet apa itu...IH AKU AJA NGGAK PERNAH DAPET ITU!" kata Byakuran iri.
"Uni kok lebih jago dari Byakuran," celetuk Tsuna.
"Ini gara-gara aku nggak makan marshmallow makanya Uni lebih jago dari aku," Byakuran cari alasan.
Hampir setengah jam berlalu.
"Ganti gamenya dong. Aku bosan nih, udah aku ulang sampai tiga kali levelnya," pinta Uni.
'AKHIRNYA,' batin yang lainnya.
"Aku mau mainan yang ada aliennya," pinta Gokudera.
"Main Euro 2120 aja," pinta Tsuna.
"Main Moto JP aja," Mukuro jbjb.
"Main Pakman, itu yang paling gampang," kata Chrome.
"Kalian nggak mau minum susunya ya, aku abisin ya," Yamamoto jbjb dan itu melenceng dari topik utama. Yang lain pun langsung ngambil susu mereka. Yamamoto tersenyum kecewa.
"Argh, coba ada si Kyoya. Kalo nggak salah dia juga punya PS, game berantem-berantemannya banyak," gumam Mukuro pada dirinya sendiri dan anak – anak unyu selain dirinya menoleh ke arahnya. Menyadari adanya mata – mata lebar, berbinar, dan dapat menyesakan napas sedang memperhatikannya, Mukuro nanya, "Apa?"
Gokudera langsung berdiri. "ITU DIA ITU! Sekarang si Hibari mana?"
"Tadi kan udah dijelasin kalau Hibari lagi pergi jalan-jalan sama Dino-san, Alaude-san dan Fon-san," sahut Yamamoto.
"Kapan?" tanya yang lain sambil menatap Yamamoto heran.
"Lho, perasaan tadi udah ada yang bilang gitu deh—eh tapi kayaknya itu perasaanku aja deh, haha." Yamamoto tertawa renyah. Dan tanpa disadari, setengah gelas susunya Yamamoto (?) hampir tumpah. "Awas susunya tumpah," Gokudera memberitau.
"Kalau tumpah aku tinggal minta punya kamu."
"Aku ancurin dulu warung sushi (?) kamu."
"Hiee, udah-udah Gokudera-kun. Jangan ribut terus, jadinya kita mau main apa?" Tsuna mencoba untuk melerai dan mengembalikan ke topik utama.
Lalu hening. Hening karena anak – anak unyu itu lagi mikirin game apa yang mau mereka mainin. "Yang adil mending kita mainin semua game yang ada aja," ujar Gokudera.
"OKEH!" seru yang lain.
Entah itu udah berapa lama berlalu.
Udah tinggal sekitar lima kaset PS yang belum dimainin. Kalau nggak salah, Giotto punya sekitar empat puluh kaset PS. Iya, empat puluh; lima diantaranya diminta temennya dan karena Giotto baik hati jadi dikasih aja, sepuluh diantaranya rusak—beberapanya ada yang patah, entah kenapa bisa begitu—, sepuluhnya lagi diumpetin Nana—sampai sekarang masih belom dikasih, entah kenapa bisa disita begitu—, limanya lagi, ilang. Yang ke sisa Cuma sepuluh…sumpah ya itu sayang BANGET! Giotto memang bodoh…
Giotto bangun dari tidurnya. Melihat selimut yang ada di tubuhnya, 'Pasti Mama,' pikirnya. Terus dia ngelongok sebentar ke adiknya dan gerombolannya. 'Aih, main apa itu,' pikirnya lagi. "Tsuna, sekarang jam berapa?" Tsuna masih terlalu fokus sama game yang lagi Mukuro mainin (?). "Geez. Ah biarin aja lah." Lalu dia pergi ke dapur.
"GYAAA SIAL... UNTUNG GIOTTO-SAN NGGAK NGECEK PSNYA!" teriak Gokudera dengan suara yang lumayan kencang. Ketika Giotto udah sampai di dapur.
"Oi anak – anak, ada apa bawa-bawa namaku?" tanya Giotto yang ada di dapur. Oh ternyata teriakannya Gokudera itu bukan lumayan kencang tapi SANGAT KENCANG.
'SIAL!'
Sret.
Giotto menampakkan wajahnya dari pintu ruang keluarga. "Ada apa?" tanyanya dengan sangat polos.
"Ng-nggak ada apa-apa kok, Giotto-nii." Giotto menaikkan sebelah alisnya, masih bingung.
"Kufufu, tadi Gokudera bilang kalau Giotto-san itu baik. Oh ya, Giotto-san, ngerti cara balapan di Kras bandikot lho," sela Mukuro.
"Oh okay." Lalu Giotto balik lagi ke dapur. Sebenernya, Giotto ke dapur itu buat cari makanan. Gimana sih rasanya orang yang kelamaan tidur itu? Rata-rata pas bangun itu pasti pada laper...dan di tengah malam ini, saya jadi ikut-ikutan laper.
"Fiuh," Tsuna menghela napas. "Untung Giotto-nii percaya."
"Untung kalian pinter bohong," Yamamoto memberi pujian—entah mereka harus bangga atau nggak.
"Ano, Tsuna-san, kira-kira, Giotto-san bakal marah nggak yah kalau dia tau kalau PSnya itu error?" tanya Uni. Tsuna menggelengkan kepalanya.
Gokudera langsung masang muka horor. "A-aku pernah sekali liat Giotto-san marah."
"Aku aja yang jadi adiknya belum pernah," kata Tsuna datar.
"Alaude-san aja langsung pucet pas liat Giotto-san marah."
"Se-seseram itukah?" tanya Mukuro. "Lebih seram dari Mama ku nggak?"
"Mama mu kayaknya lebih seram deh. Tapi serius, deh aku masih ingat tuh pas Giotto-san marah-marah."
"Giotto-san marah-marah kenapa?" tanya Chrome penasaran.
"Aku lupa, tapi yang pasti aku nggak mau liat Giotto-san marah-marah lagi."
Byakuran panik. "Wah gimana ini?"
"Matiin aja dulu PSnya. Omong-omong kita mainin itu PS dari jam berapa sih?" tanya Gokudera. "Daritadi kan," dia menjawab. "Sekarang udah jam berapa?" tanyanya lagi. "Jam. Jam setengah empat sore," dia menjawabnya lagi. "Astaga gawat ini. Pantes aja PSnya kepanasan. Pantes aja om G. ngumpetin PSnya mulu."
"Apa hubungannya?" tanya Yamamoto.
"Kalau begitu, kalian pulang aja sana—eh tapi nanti aku—" tidak Tsuna, anak buah mu udah pergi dari ruang keluarga. Tsuna ikut keluar.
"Dah~ Tsuna~ Besok main lagi ya!" mereka semua, anak – anak VK, anak – anak buahnya Tsuna, teman – temannya Tsuna, mengkhianati dirinya. "Kita udah harus pulang~" Tsuna facepalm.
"Tante Nana, besok kita main lagi ya!"
Nana tersenyum. "Oh ya boleh!" sahutnya. Lalu anak – anak imut yang sialan yang menyebut diri mereka VK itu berjalan dengan langkah yang dipercepat. Pas udah lewatin pager rumahnya Tsuna mereka langsung—WUSH. Kabur pakai apa tuh, NOS kali itu ya?
Tsuna merinding ketakutan ngebayangin kakaknya marah.
"Eh, tunggu aku," teriak Yamamoto. "Tsuna aku pulang dulu ya! Oi tunggu!" dan dia pun lari. Sebenarnya, diantara anak – anak imut itu, yang kemungkinan buat dimarahinya kecil kecil banget itu Yamamoto. Soalnya dia cuma liatin doang, Chrome juga sih.
'Gawat gawat gawat." Tsuna mulai frustasi. 'Ah ya, aku tidur aja. Kebetulan aku ngantuk." Dan dia pun pergi ke kamarnya—kamar Nana sih tepatnya. Minta tolong disiapin tempat tidur sama Nana menggunakan puppy eyes mautnya.
Makan malam.
Semua makan dalam hening—nggak deng, di RTnya Reborn nggak ada satu pun keluarga yang selalu makan dalam hening, bahkan kediamannya si Alaude kadang makan dalam keributan; biasa, mereka sering debat sambil makan, ujung-ujungnya berenti gara-gara keselek.
Iemitsu makan dengan lahab seperti biasa. "Sayang, tambah lagi! Besok aku harus kerja!" entah apa hubungannya makan malam sama besok kerja.
"Mama, aku nggak suka ini," kata Tsuna sambil nunjuk-nunjuk paprika. Lho kok jadi kayak si Sincan?!
Seperti biasa juga, Nana selalu menanggapi keluhan anaknya dan permintaan nambah nasi dari suaminya dengan senyuman dan kata "Baik" atau "Iya". Lalu Giotto, dia makan dalam tenang dan mukanya keliatan frustasi.
"Tsuna," panggilnya. Tsuna menoleh ke Giotto. "PS ku error ya?" Tsuna diem.
"Aku nggak tau."
"Bohong."
Tsuna langsung nangis kejer. "AMPUN GIOTTO-NII! MAAF MAAF! AKU SAMA YANG LAIN NGGAK SENGAJA NGERUSAKIN!" dan oh Giotto nggak seperti biasanya, dia nggak terpengaruh dengan muka adiknya yang oh-so unyu-sekali itu. Aura ungu kehitam-hitaman muncul di belakangnya. Seram. Benar-benar seram.
"HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH HHHHHHHHHHHHH GIOTTO-NII MAAF MAAF!"
Nana tersentak kaget mendengar suara anaknya yang unyu itu nangis sampe sehisteris itu. "Ada apa Tsuna?"
"GIOTTO-NII JAHAT (?)."
"Lho, kok aku sih?" sergah Giotto. "Aku aja belum ngapa-ngapain (?) dia, Ma."
"Giotto," kata Iemitsu.
"PSNYA GIOTTO-NII ERROR GARA-GARA AKU SAMA YANG LAIN!"
"Err, Tsuna—"
"TERUS GIOTTO-NII NGGAK MAU MAAFIN AKU! HUAAAAAH."
"Tsuna, PSnya emang udah agak error dari kemarin."
Hening.
"Au, sakit Ma," Giotto meringis kesakitan gara-gara pipinya dicubit Nana. "Kamu nggak boleh gitu. Minta maaf sama adik kamu dulu."
"Okay... Tsuna... maafin aku ya hehe."
Tsuna berenti nangis. Tapi masih sesenggukan (?). "Hiks, Giotto-nii jahat."
"Iya makanya aku minta maaf. Abis kamu gampang diledekin sih."
"GIOTTO-NII JAHAT! AKU SUMPAHIN GIOTTO-NII JADI JOMBLO SEUMUR HIDUP!"
JLEB.
Nana diem. Iemitsu ngakak.
"TSUNA KAMU BELAJAR BAHASA KAYAK BEGITU DARI SIAPA?!" Giotto frustasi.
A/N: Setiap kali ngecek Traffic Graph rasanya tuh kayak; Wew, Fantastic Baby 8')
Oh yeah, Silent Reader, makasih udah mau baca fanfic ini. Walaupun kalian Silent Reader, saya yakin pas baca fanfic ini kalian tetep ngeluarin suara tawa...oh okay, saya PD banget.
Then then, biasanya saya update kan pas malem Minggu atau nggak pas Minggu dini hari =3 Niatnya semalem juga mau begitu, tapi oh— gambar-gambar .gif TYL! Dino sama Xanxus bikin saya fg-ing, sampe males ngetik. Terus lagi, dari kemarin saya lagi baca fanfic Being a Boss is Hard by Noname-NN, sampe bikin saya males ngetik dan lupa sama apa yang mau diketik B) /dihajar/
Btw, jangan tanya saya itu Tsuna dkk mainin PS1 apa PS2 apa PS3 apa PS8059 BD [Dafuq, emang ada PS8059?]
Oh yeah, guys, thanks for following this fanfic from the chapter 1 until now, terus itu udah difav segala, awaw uvu
Mind to review?
