~ Fall in Love With You, again and again ~

Judul : Fall in Love With You, again and again.
Author : Ciel Bocchan
Genre : Romance, School, Comedy, and Fantasy
Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata)
Rating : T


[Chapter 7]

|Kau harus percaya, bahwa tak ada yang bisa mencintaimu seperti aku mencintaimu|

Satu minggu berlalu setelah Naruto ikut pergi bersama Sasuke dan teman-temannya. Semuanya tampak terlihat baik-baik saja. Naruto tak lagi merasa bahwa ada yang sedang mengintainya. Anak-anak perempuan tak lagi berisik terhadapnya. Naruto senang kalau perempuan-perempuan manusia itu bersikap biasa terhadapnya. Naruto tak ingin ada manusia yang menyukainya. Pemuda itu hanya ingin ia dan manusia berteman baik.

Tetapi, ada satu hal yang sangat Naruto rasakan, telah berubah. Bahwa Hyuuga Hinata, menjauhinya. Ya, gadis berambut indigo panjang itu seperti sengaja menjauhinya. Naruto tak ingin ada manusia yang menjauhinya. Apalagi manusia itu adalah Hyuuga Hinata. Naruto bahkan tak mengerti kenapa dirinya merasa ada yang berbeda ketika bersama Hinata. Naruto menyukai semua teman-temannya. Naruto menyukai saat ketika ia bersama, berkumpul, atau mengobrol dengan teman-temannya. Tetapi pemuda itu merasa berbeda saat bersama Hinata. Ketika berada di dekat gadis itu. Semuanya tak sama ketika ia sedang bersama teman-temannya yang lain.

"kenapa? Padahal aku menyukai mereka semua" gumam Naruto bingung.

Yang Naruto tahu, bahwa dirinya merasa nyaman ketika Hyuuga Hinata berada di dekatnya. Pemuda itu menyukai semua yang dilakukan Hinata. Cara gadis itu tersenyum. Caranya tertawa. Caranya menatap. Caranya berbicara. Caranya bergerak. Semuanya telah Naruto ingat baik-baik. Memorinya menyimpan semua itu dengan baik. Naruto tak tahu kenapa ia bisa begitu cepat mengingat apapun yang telah Hinata lakukan.

"kenapa kau melamun saja? Sudah waktunya pulang" kata Sasuke yang sudah siap dengan tasnya. Naruto tersadar dari lamunannya. Pemuda itu langsung membereskan buku-bukunya. Memakai jaket. Lalu beranjak keluar kelas bersama Sasuke.

"Sasuke, apa aku boleh bermain di tempatmu? Ada yang harus aku bicarakan dengan kakakmu" kata Naruto ketika mereka telah keluar dari kelas.

"bicara dengan kakakku? Ada masalah apa kalian?"

"rahasia" jawab Naruto.

"tentu saja. Kau boleh datang, Itachi-niichan baru pulang ke rumah saat sore hari. Tapi, aku tidak bisa ikut menemanimu" kata Sasuke dengan senyum lebar.

"kenapa?"

"aku ada janji dengan Hinata-chan" jawab Sasuke dengan wajah berseri-seri. Pemuda Uchiha itu sedang menyombongkan diri. Kening Naruto mengerut, antara heran dan kesal.

"Sasuke!" sebuah suara yang sudah sangat Sasuke kenal menyerukan namanya.

"seharusnya aku tidak berteman dengan laki-laki cerewet seperti itu" gumam Sasuke. Suigetsu datang dengan wajah cerah.

"kenapa kalian tak menungguku?" gerutunya. Naruto hampir berbicara ketika ekor matanya melihat Hyuuga Hinata.

"ngng, sepertinya aku harus pulang lebih dulu, rumah kita tak searah, bukan?" kata Naruto cepat lalu segera menyingkir. Pemuda itu juga tak ingin mendengar ocehan tak penting Suigetsu.


Hinata sedang berjalan pulang bersama Karin dan Nagato menuju halte bus ketika sebuah suara menyerukan namanya.

"Hinata-chan!" dua kali sudah Uzumaki Naruto menyerukan namanya.

"sebenarnya kau kenapa? Tiba-tiba menjauhi Naruto padahal sebelumnya kau senang pada si rambut kuning itu" kata Karin.

Hinata tak menghentikan langkahnya. Gadis Hyuuga itu terus berjalan walaupun tadi sempat menoleh ke arah Naruto.

"Naruto terlihat frustasi karena kau tak ingin bicara padanya" kata Nagato sambil tersenyum kecil. Kasihan pada Naruto.

"Hinata-chan!" panggil Naruto yang akhirnya telah berdiri mencegat Hinata. Hinata otomatis berhenti. Gadis itu hanya menunduk, tak berani menatap Naruto.

"seperti biasa, larimu selalu cepat" kata Karin lalu menarik Nagato menjauh. Membiarkan agar Naruto dan Hinata berbicara berdua.

"hai" sapa Naruto sambil berusaha melihat wajah Hinata yang terus menunduk.

"ngng, Hinata-chan, aku ingin menanyakan ini, apa kau membenciku?"

"tidak!" jawab Hinata cepat sambil mengangkat kembali kepalanya dan menatap Naruto. Hinata tak pernah membenci Naruto. Lagipula, kenapa ia harus membenci pemuda itu?

"kukira kau membenciku, karena kau tak mau bicara denganku sejak satu minggu ini" kata Naruto pelan. Pemuda itu memperhatikan raut wajah serta gerakan Hinata. Dan ia tak bisa membaca apapun melalui itu.

"a-aku hanya...teralu s-sibuk akhir-akhir ini"

"aah, hahaha... kukira kau membenciku" kata Naruto yang langsung tertawa lebar sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pemuda itu tak bisa membedakan mana kebohongan dan kejujuran.

Hinata hanya tersenyum kecil. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri, kenapa ia sampai harus menjauhi Naruto hanya karena perasaannya yang mungkin bisa dibilang, perasaan sepihak. Tetapi, Hinata meyakinkan dirinya bahwa ketika malam itu _ di bianglala_ ia menyatakan pada dirinya sendiri kalau ia jatuh cinta pada Uzumaki Naruto, itu terjadi karena ia terbawa suasana. Ya, Hinata yakin kalau saat itu ia hanya terbawa suasana. Karena saat itu Naruto sedang menggenggam tangannya. Karena melihat senyum pemuda itu ketika salju turun. Ya, Hinata hanya terbawa suasana. Hingga saat ini, satu-satunya orang yang ia sukai, hanya Sasuke, masih Uchiha Sasuke.

"kalau kalian masih lama, kami akan pulang lebih dulu. Naruto, rumahmu searah dengan Hinata, bukan?" seru Karin yang dari tadi sedang menunggu Hinata.

"aku akan bersamanya!" Naruto balas berseru. Karin melambai ke arah Hinata dan Naruto kemudian pulang bersama Nagato.

"aku akan mengantarmu pulang" kata Naruto. Hinata mengangguk.

Gadis itu terus meyakinkan dirinya bahwa ia tak menyukai Naruto, bahwa perasannya pada Naruto malam itu hanya karena ia terbawa suasana.

"bagaimana kau dengan Sakura-chan?" tanya Hinata setelah mereka kembali berjalan.

"bagaimana? Apa yang bagaimana?" Naruto malah balik bertanya. Pemuda itu bingung dengan pertanyaan Hinata.

"m-maksudku, hubungan kalian" Hinata tak habis pikir kenapa Naruto _ kata teman-temannya _ sama sekali tak mengerti dengan asmara.

"hubungan? Oh, hubungan kami baik-baik saja. Sakura-chan baik padaku. Aku juga harus baik padanya, bukan?" Naruto meminta pendapat walaupun pemuda itu tahu kalau jika orang lain berbuat baik padanya, ia harus balas dengan berbuat baik pula.

"i-iya, kau juga harus baik pada orang yang telah berbuat baik padamu"

"oya, aku lupa membawakan syalmu, Hinata-chan, maafkan aku" ucap Naruto menyesal.

"tak apa, kau boleh memakainya lagi jika kau mau, aku tidak terlalu memerlukannya" jawab Hinata sambil tersenyum.

"kau tidak kedinginan?" tanya Naruto karena Hinata hanya memakai sweater tipis untuk menutupi baju seragamnya.

"Tidak. Aku sudah pernah bercerita padamu, bukan?"

"aah, iya-iya, aku ingat" kata Naruto sambil mengangguk paham.

Mereka akhirnya sampai di halte bus. Jalanan sudah memutih karena tertutup salju. Naruto dan Hinata duduk untuk menunggu bus selanjutnya.

"sebaiknya kau jangan terlalu sering keluar saat musim dingin, Naruto-kun. Kau tahu sendiri bagaimana suhu tubuhmu. Kau bisa membeku jika terlalu lama berada di luar, kecuali untuk pergi sekolah. Musim dingin tak baik untuk suhu tubuh sepertimu" Hinata tiba-tiba memberikan nasehat untuk Naruto. Gadis itu hanya khawatir dengan suhu tubuh Naruto yang tak wajar. Akan sangat berbahaya kalau pemuda itu sering berada di luar rumah.

"terima kasih" ucap Naruto. Pemuda itu tersenyum sangat tulus.

Naruto telah hidup ratusan tahun. Namun, tak ada yang pernah memperingatinya seperti Hinata memberi peringatan tentang musim dingin yang berbahaya untuk tubuhnya. Naruto tahu, bahwa musim dingin memang sangat mengganggunya. Mengganggu kekuatannya.


"Kita harus segera menemukan buku kuno klan Uzumaki sebelum Uzumaki Mito menemukannya" kata Uchiha Izuna sambil menatap sebuah lukisan yang terpasang di dinding. Uchiha Izuna adalah penerus Uchiha Madara. Karena Madara pernah mengatakan bahwa satu-satunya yang cocok untuk menggantikannya adalah Uchiha Izuna.

Uchiha Madara meninggal dua ratus tahun yang lalu karena kekuatan Uzumaki yang ia simpan dalam tubuhnya telah habis. Madara tak lagi mampu bertahan dan tak bisa menemukan klan Uzumaki dimanapun. Namun, Uchiha Madara memiliki Uchiha Izuna. Satu-satunya Uchiha yang paling cocok dan memiliki peluang besar untuk bisa menangkap si rubah.

Uchiha Izuna telah hidup selama hampir dua ratus tahun dengan kekuatan yang disalurkan Madara sebelum meninggal. Juga dari kekuatan umur panjang yang telah ia ambil dari beberapa klan Uzumaki yang telah ia kalahkan. Saat ini, fisiknya juga tak lagi sekuat dulu. Ia bisa bertahan hidup hingga saat ini karena kekuatan klan Uzumaki yang masih tersisa di tubuhnya.

"sampai saat ini, kami belum bisa menemukan satupun klan Uzumaki yang tersisa selain Uzumaki Mito dan beberapa bawahannya yang masih hidup" lapor anggota Uchiha lainnya. Beberapa anggota Uchiha telah Izuna salurkan sebagian kekuatan klan Uzumaki agar mereka bisa bertahan lebih lama untuk membantunya menemukan si rubah. Dan sebagian lagi adalah anggota Uchiha yang terlahir di zaman ini.

"jika kita bisa menemukan buku itu lebih dulu, maka, si rubah akan berada dalam genggaman kita" kata Uchiha Izuna.

"sayangnya, tak ada siapapun yang tahu dimana buku kuno itu saat ini" kata suara yang lain

"ya, buku itu sepertinya telah sengaja disembunyikan oleh Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina"

"karena menurut cerita yang telah beredar, dua manusia itulah yang terakhir kali melihat buku tersebut"

Mata Izuna menyipit mendengar dua nama itu. Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina. Sebab, Uchiha Madara pernah menyebut dua nama itu dalam beberapa ceritanya dahulu. Siapa sebenarnya mereka?


Naruto sudah berada di rumah Sasuke untuk membicarakan sesuatu yang penting dengan Uchiha Itachi. Sayangnya, Itachi belum pulang.

"sebentar lagi" kata Sasuke yang sedang duduk di pintu rumah sambil memakai sepatunya. Pemuda berambut raven itu telah rapi.

"kau jadi pergi?" tanya Naruto yang sedang duduk di ruang tamu

"tentu saja. Aku berniat menembak Hinata-chan" jawab Sasuke semangat

"MENEMBAK? APA KAU SUDAH GILA? KENAPA KAU INGIN MENEMBAK HINATA-CHAN, SASUKE? KAU AKAN MEMBUATNYA TERLUKA!" teriak Naruto. Pemuda berambut kuning itu sampai berdiri karena terlalu kaget. Sasuke bahkan lebih kaget karena Naruto tiba-tiba berteriak.

"apa-apaan kau ini? Terluka apa? Aku hanya ingin menembak...tunggu! jangan bilang kau berpikir bahwa aku ingin menembak seperti yang dilakukan polisi pada penjahat?" tanya Sasuke curiga

"TENTU SAJA ITU YANG AKU PIKIRKAN! POLISI SUDAH SERING MENEMBAK ORANG DAN MEREKA TERLUKA ATAU MATI. BAGAIMANA JIKA KAU MEMBUAT HINATA-CHAN, MATI?" Naruto masih berteriak.

Uchiha Sasuke mendelik kesal. Ia berjalan ke arah Naruto yang masih berdiri melotot padanya. Pemuda Uchiha itu lalu memukul kepala Naruto dengan keras.

"sebenarnya kau ini tinggal di pedalaman jepang bagiman mana? Siapa bilang aku akan menembak Hinata-chan seperti polisi menembak penjahat, bodoh! Menembak maksudku adalah menyatakan, pernyataan suka" jelas Sasuke frustasi. Pemuda itu tak habis pikir dengan Naruto. Kenapa ada manusia sebodoh dia?

"suka?" tanya Naruto bingung

"ya, suka! Kau juga tak tahu SUKA itu apa?" Sasuke berteriak di depan Naruto. Geram dengan kebodohan pemuda berambut kuning itu.

"aku tahu. Seperti aku menyukaimu, Sakura-chan, ngng, Shino, Tenten, Ki..."

"cukup! Aku bisa gila berbicara denganmu!" hardik Sasuke.

Itachi akhirnya pulang juga. Dan melihat adiknya sedang melotot pada temannya, Uzumaki Naruto.

"ada apa dengan kalian?" tanya Itachi sambil melepas sepatunya.

Kakak dari Uchiha Sasuke itu baru saja pulang dari kampus. Pemuda itu kemudian masuk ke rumah untuk melihat apa yang terjadi.

"Tak ada. Naruto hanya bertingkah bodoh, seperti biasa" jawab Sasuke yang beranjak menuju pintu. Sudah waktunya ia menjemput Hinata.

"mau kemana kau?" tanya Itachi

"oya, Naruto kemari untuk berbicara dengan Oniichan" kata Sasuke sebelum pergi

"mau kemana kau?" tanya Itachi lagi

"kencan" jawab Sasuke dengan senyum lebarnya. Pemuda berambut raven itu sedang memamerkan kencannya dengan Hinata.

"jangan pulang terlalu malam, salju sepertinya akan turun" kata Itachi. Tak terlalu menghiraukan Itachi, Sasuke kemudian menghilang dari balik pintu. Itachi menghela nafas.

"aku tak pernah tau bahwa kita punya urusan" kata Itachi bercanda. Naruto hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Siluman rubah itu suka sekali menggaruk rambut kuning jabriknya saat ia dalam wujud manusia. Tetapi, rautnya berubah serius ketika Itachi telah duduk untuk menunggunya berbicara.

"sebelum aku berbicara, apa Oniisan ingin membuat janji denganku?" tanya Naruto. Itachi terlihat berpikir sebentar, lalu menjawab, "tergantung apa isi perjanjiannya."

"aku percaya padamu, Itachi-niisan" kata Naruto tegas. Kening Itachi mengerut.

"karena itu aku ingin membicarakan masalah ini dengan Oniisan" lanjut Naruto

"oke, sepertinya ini hal serius. Aku bisa saja berjanji, tetapi..."

"perjanjiannya mudah, bahwa Itachi-niisan tak boleh memberitahu siapapun tentang pembicaraan kita" potong Naruto bahkan sebelum Itachi menyelesaikan kalimatnya. Naruto yakin dengan Uchiha Itachi. Rubah itu sudah merasakan kebaikan dari kakak Uchiha Sasuke itu sejak melihatnya saat ia pertama kali datang ke rumah Sasuke.

"siapapun?"

"termasuk Sasuke" tegas Naruto.

"ngng, baiklah. Aku cukup pintar menjaga rahasia orang lain"

"aku ingin bertanya sedikit tentang klan Uchiha" kata Naruto langsung

"menyelidiki?" Itachi balik bertanya. Curiga dengan nada bicara Naruto

"aku tak menyelidiki, tapi diselidiki. Bukankah aku juga harus berbalik menyelidiki sebelum sesuatu yang buruk terjadi padaku?"

"jelaskan" kata Itachi yang sudah mulai serius

"seseorang sedang mengintaiku, berasal dari Uchiha. Tetapi aku belum yakin. Karena itu aku ingin bertanya pada Itachi-niisan, untuk memastikan" Naruto mulai menjelaskan. Pemuda itu berhenti sebentar untuk melihat reaksi Itachi. Kemudian melanjutkan ketika Itachi telah mengangguk.

"saat ini, siapa anggota tertua klan Uchiha?" tanya Naruto, suaranya berubah pelan, hampir seperti berbisik

"anggota tertua? Kurasa saudara dari kakekku, kakek Shisui. Usianya hampir seratus lima puluh tahun"

"seratus lima puluh tahun?" gumam Naruto.

"nama beliau, Uchiha Obito"

"Uchiha Obito" Naruto bergumam lagi.

"hidup selama itu benar-benar suatu keajaiban, bukan? Mungkin karena itu klan kami dianggap sebagai klan terkuat saat ini" kata Itachi.

"apakah ada yang lebih tua?" Naruto berharap jika Itachi akan menjawab 'ada'.

"tentu saja tak ada, manusia seperti apa yang mampu hidup selama ratusan tahun? Kakek Shisui saja benar-benar beruntung bisa hidup hingga saat ini. Kecuali..." Itachi sengaja tak melanjutkan kalimatnya karena pemuda Uchiha itu yakin kalau Naruto tahu kelanjutannya.

"klan Uzumaki dan klan lain yang memiliki sebagian dari kekuatan klan tersebut" lanjut Naruto.

"Aku tahu. Masalahnya, aku tak bisa mendekati klan Uzumaki saat ini"

"bukankah kau juga klan Uzumaki?"

"mereka tak mempercayaiku. Oniisan lihat sendiri bagaimana aku berbeda, contoh yang paling terlihat adalah warna rambut" kata Naruto. Padahal Naruto saja tidak tahu kenapa nama belakangnya adalah Uzumaki.

"iya-iya, rambutmu memang sangat berbeda dengan mereka"

Itachi menahan tawa setelah menyadari bahwa warna rambut Naruto memang sangat jauh berbeda dengan warna rambut dominan klan Uzumaki, merah.

"tapi, siapa orang yang sedang berusaha menyelidikimu itu? Kau bisa lapor polisi saja, bukan?" usul Itachi

"masalahku tak bisa diselesaikan oleh polisi" kata Naruto.

Pembicaraan mereka terganggu karena suara bel dari arah pintu. Naruto sangat kaget karena takut ada yang mendengar pembicaraan mereka. Itachi segera beranjak untuk membuka pintu. Ternyata tamu mereka adalah tetangga paling dekat. Haruno Sakura. Gadis berambut merah muda itu datang dengan wajah ditekuk, dan kedua tangan yang memegang piring berisi kue yang telah ditutup agar lalat tak mengerubungi.

"hai, Sakura-chan, aku tahu kenapa kau kesini dengan wajah ditekuk, lagi. Pasti Ibumu baru saja membuat kue dan memaksamu memberikan sebagian pada Sasuke, benar?"

"Tentu saja. Oniisan pikir aku mau kesini untuk menemui Sasuke kalau tidak dipaksa Ibu? Aku lebih senang bertemu Oniisan dari pada si Sasuke menyebalkan itu!" gerutu Sakura. Gadis itu lalu menyodorkan kue ditangannya pada Itachi.

"omong-omong, kemana dia?" tanya Sakura karena biasanya, jika ia berkunjung, Sasuke akan menyambut dengan mulut pedasnya.

"Sasuke pergi kencan dengan gadis Hyuuga itu" jawab Itachi.

"Hinata?" tanya Sakura kaget

"siapa lagi. Kau tidak mau masuk dulu?" tawar Itachi

"tidak usah, aku harus membantu Ibu lagi" jawab Sakura sambil tersenyum

"Baiklah. Terima kasih kuenya"

"Oniisan, bantu aku, bilang pada Sasuke bahwa aku telah menaruh racun dalam kue itu. Dia pasti akan ketakutan setengah mati" kata Sakura, lalu tertawa pelan.

"kau ini, ada-ada saja" Itachi ikut tertawa. Sakura kemudian pamit pulang.

Naruto bersiap-siap untuk pulang ketika Itachi telah menaruh kue ke dalam kulkas.

"sudah hampir gelap, akan semakin dingin jika aku pulang terlambat"

"baiklah, sepertinya, salju juga sebentar lagi akan turun"

"Itachi-niisan, beritahu aku jika Oniisan tahu sesuatu, hal aneh apapun tentang Uchiha. Aku berjanji aku hanya ingin tahu bukan untuk menghancurkan Uchiha"

"aku percaya padamu" sahut Itachi. Senyum pemuda Uchiha ramah dan hangat. Itachi sepertinya tahu jika Naruto memang tak bermaksud buruk pada Uchiha.


Naruto merapikan tudung jaketnya sambil berjalan menuju halte terdekat dari rumah Sasuke. Salju sudah turun sejak beberapa menit lalu. Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Tadi, Naruto berbicara sebentar lagi dengan Itachi sampai tak menyadari bahwa langit telah gelap dan salju telah turun, dan semakin lama semakin lebat. Naruto yang sedang menahan tubuhnya agar tak menggigil hampir mencapai halte ketika dilihatnya dua orang yang sangat ia kenal berjalan keluar dari halte.

"bukankah itu Sasuke dan Hinata-chan?" gumam Naruto lalu mempercepat langkahnya ke arah mereka karena salah satu dari mereka terlihat tidak baik.

"apa yang terjadi?" tanya Naruto ketika telah berhadapan dengan Sasuke dan Hinata. Hinata membantu Sasuke agar bisa berjalan sampai ke rumah. Gadis Hyuuga itu melingkarkan tangan kanan Sasuke di lehernya.

"Sasuke-kun hampir membeku. Bantu aku" kata Hinata panik karena tubuh Sasuke yang sejak tadi bergantung padanya terasa semakin berat karena tubuh pemuda berambut raven itu mulai kaku.

Melihat Sasuke yang pucat dan menggigil hebat membuat Naruto juga ikut panik. Pemuda itu langsung melepas jaketnya untuk menutupi tubuh Sasuke dan membantu Hinata memapah tubuh kaku pemuda Uchiha itu. Naruto terlalu panik sampai lupa memikirkan keadaannya sendiri. Berjalan di tengah hujan salju yang semakin lebat hanya dengan kaos lengan pendek yang tipis. Apalagi saat ini ia berada dalam wujud manusia. Kekuatannya yang sedang lemah ketika berada dalam wujud sekarang akan semakin lemah lagi dengan suhu yang semakin dingin. Berbeda dengan saat Naruto berada dalam wudud silumannya. Ia bisa bertahan lebih lama.

Itachi kaget ketika melihat Naruto kembali lagi. Tetapi bersama dengan Hinata dan adiknya yang hampir beku. Pemanas ruang tamu yang telah di nyalakan tak bisa membuat Sasuke langsung membaik. Karena itu Hinata terus berada di sisi Sasuke. Gadis Hyuuga itu menyelimuti Sasuke dengan selimut yang telah di bawakan Itachi. Hinata lalu merangkul Sasuke agar panas tubuhnya bisa membuat keadaan Sasuke mambaik.

"apa yang terjadi dengan Sasuke, Hinata-chan?" tanya Itachi panik setelah menyuruh Sasuke meminum teh hangat. Ia juga membuatkan masing-masing satu cangkir untuk Naruto dan Hinata. Naruto mengambil kembali jaketnya, membersihkan salju yang menempel disana, lalu memakainya kembali. Pemuda Uzumaki itu langsung menghabiskan satu gelas teh yang masih panas dalam sekali teguk.

"Sasuke-kun tiba-tiba menggigil saat salju mulai turun" jelas Hinata

"anak ini! Sudah kubilang untuk tak pulang terlalu malam. Salju sering turun ketika malam hari" omel Itachi sambil memukul pelan kepala adiknya. Sasuke tak merespon. Pemuda itu belum bisa berbicara karena bibirnya masih kaku.

"tapi, sepertinya si rambut kuning itu tak kalah beku" bisik Itachi sambil menunjuk Naruto dengan kepalanya. Naruto sedang sibuk sendiri mengurus tubuhnya yang menggigil.

"aku tak apa-apa" sahut Naruto

"kau dengar?" tanya Itachi kaget. Tentu saja ia kaget karena Naruto duduk cukup jauh dari mereka bertiga.

"p-pendengarannya m-memang t-tajam" kata Sasuke tiba-tiba. Ia sudah mulai bisa berbicara karena panas tubuh Hinata membantu mencairkan beku di tubuhnya.

"sepertinya kau sudah mulai membaik. Aku akan pulang sekarang. Sudah hampir jam delapan malam" kata Naruto cepat sambil berdiri dari duduknya. Naruto sudah tak sabar ingin sampai di rumahnya dan menyalakan pemanas ruangan sambil tidur dan menyelimuti tubuhnya. Tetapi, mengingat kondisi tubuhnya saat ini yang sudah benar-benar hampir membeku. Naruto sepertinya harus kembali ke wujud aslinya untuk bisa mengurangi dingin tubuhnya. Karena pada dasarnya, suhu tubuh Naruto memang hangat kecuali saat musim dingin.

"antarkan Hinata-chan, Naruto" seru Sasuke yang masih menggigil.

"kau lihat kondisiku sekarang? Aku tak mungkin mengantarnya pulang. Hinata-chan, pulanglah dengan Naruto. Maaf aku tak bisa mengantarmu" kata Sasuke

"tak apa Sasuke-kun. Sebaiknya kau istirahat agar tubuhmu membaik" ujar Hinata.

"baiklah. Cepat Hinata-chan, saljunya semakin lebat" Naruto berbicara tanpa melihat gadis Hyuuga itu. Ia sibuk menatap ke luar pintu. Berharap salju berhenti turun setidaknya sampai ia berada di rumah. Naruto kemudian memasang tudung jaket di kepalanya.

Hinata melepas rangkulannya dari Sasuke. Sweater berwarna ungu lembut yang ia pakai terlihat agak kusut karena memapah pemuda itu.

"hati-hati, Hinata-chan" seru Sasuke ketika Naruto dan Hinata sudah hampir keluar dari pintu rumah.

Hinata tersenyum kecil sambil mengangguk. Gadis itu kemudian mengikuti Naruto yang sepertinya tak sabar untuk pulang. Mereka berjalan menyusuri jalanan yang telah memutih dan menembus lebatnya salju yang turun.

Tanpa sadar, kuku-kuku jari Naruto memanjang di dalam saku jaketnya. Ia ingin segera berubah untuk mengurangi rasa dinginnya. Tetapi, ia harus mengantar Hinata dulu. Hinata yang sejak tadi berjalan agak jauh dibelakangnya berjalan cepat agar bisa menyusul Naruto. Gadis Hyuuga itu terlihat baik-baik saja bahkan di tengah salju seperti ini.

"kau menggigil lagi?" tanya Hinata yang telah berada disamping Naruto.

"Tentu saja. Karena itu aku harus segera mengantarmu pulang lalu pulang ke rumahku sendiri" jawab Naruto. Wajah pemuda Uzumaki itu agak memerah karena terlalu kedinginan. Nafasnya berubah menjadi uap.

"aku akan membantumu sampai ke rumah" kata Hinata sambil mendekat ke sisi Naruto. Naruto menoleh ke arah Hinata yang sedang mendongak cemas ke arahnya.

"hangat" ujar Naruto sambil tersenyum dengan gigi yang sesekali menggelutuk karena kedinginan. Pemuda Uzumaki itu sangat terbantu dengan keberadaan Hinata di sisinya. Panas tubuh Hinata sedikit menghangatkannya walaupun hanya sisi tubuh Hinata yang mengenai sisi tubuhnya. Bahkan sweater tipis Hinata mampu menghangatkannya. Perlahan, kuku-kuku panjang Naruto memendek kembali.

"lagipula, kenapa kau berada diluar rumah saat salju lebat seperti ini?" tanya Hinata. Gadis Hyuuga itu bisa merasakan dingin tubuh Naruto.

"aku ada urusan dengan Itachi-niisan" jawab Naruto.

Mereka akhirnya sampai di halte bus dan tak perlu menunggu lama karena bus langsung datang. Beberapa orang yang juga menunggu di halte tampak tak sabar untuk naik karena suhu diluar benar-benar dingin. Kali ini, Naruto dan Hinata beruntung bisa mendapat tempat duduk walaupun dibarisan belakang. Beberapa orang terpaksa berdiri.

"ngng, Hinata-chan..." panggil Naruto dengan suaranya yang gemetar karena kondisi Naruto hampir menyamai Sasuke. Tetapi, Naruto tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Hinata tiba-tiba memotong.

"tubuhmu kaku, Naruto-kun" kata Hinata cemas. Gadis itu memegang sisi kiri jaket Naruto.

"dengarkan aku dulu" kata Naruto yang sesekali harus mengatur nafas agar bisa berbicara lancar. Kedua tangannya yang berada di masing-masing saku jaket tak bisa bergerak. Beku.

"a-ada apa?" Hinata menatap cemas pemuda bermata biru safir yang duduk disampingnya.

"ini darurat, kau harus membantuku. Kalau tidak, aku akan membuat semua orang berteriak ketakutan. Bukan hanya semua orang, tetapi kau juga, Hinata-chan" Naruto berbicara sangat cepat karena kekuatan Naruto saat berada dalam wujud manusia hampir menghilang. Kekuatannya melemah karena tubuhnya yang hampir beku. Sebagain tubuhnya telah beku.

Hinata kaget, ketakutan melihat cara bicara Naruto yang berubah. Hinata baru saja akan balik bertanya karena masih bingung ketika melihat ada yang berubah pada warna mata pemuda Uzumaki itu.

"N-Naruto-kun... w-warna matamu..." suara Hinata sampai terbata-bata karena melihat perubahan pada warna mata Naruto.

"hanya kamu yang bisa membantuku saat ini, kumohon, Hinata-chan" kata Naruto lagi. Pemuda itu menatap Hinata serius.

Gadis Hyuuga itu menelan ludah karena panik. Wajahnya pucat ketika melihat bola mata Naruto juga mulai berubah. Dengan susah payah, Hinata akhirnya berbicara, "a-apa yang... b-b-bisa a-aku b-bantu?"

"mungkin ini sedikit tidak sopan. Tapi aku butuh apa saja yang bisa menghangatkanku. Jadi..." Naruto berhenti sebentar untuk melihat reaksi Hinata.

"j-jadi?"

"bisakah aku memelukmu? Aku ingin bilang seperti itu tadi, tapi, kau lihat aku beku dan aku tak bisa bergerak, tanganku tak bisa kukeluarkan dari saku jaket"

"j-jadi?" Hinata semakin panik, bukan karena ia tahu apa yang Naruto inginkan. Tapi, karena melihat kedua mata Naruto telah berubah total. Hinata melihat bahwa mata itu seperti mata kucing, mata Naruto berubah menjadi warna coklat terang. Dan Hinata tak bisa mengalihkan tatapannya dari mata itu. Gadis itu terlalu kaget, juga kagum.

"aku berharap kau ingin membantuku, Hinata-chan. Aku sudah hampir sampai pada batasku. Aku akan..."

"a-aku akan membantumu, N-Naruto-kun" potong Hinata cepat.

Gadis itu tahu kalau Naruto benar-benar butuh bantuannya saat ini. Hinata bisa melihat bahwa Naruto sudah tak bisa bergerak lagi. Pemuda Uzumaki itu membeku.

Akhirnya, Hinata bergeser agar bisa lebih dekat dengan Naruto. Hinata menghela nafas berkali-kali karena detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat. Naruto menatap gadis itu dengan kedua matanya yang telah berubah.
Hinata merentangkan kedua tangannya. Perlahan, gadis Hyuuga itu memegang pipi Naruto . Hinata bisa merasakan bagaimana pipi Naruto memerah dan beku. Kemudian, Hinata menarik kepala pemuda Uzumaki itu perlahan, ke arahnya. Naruto tersenyum kecil. Hinata balas tersenyum sebelum akhirnya gadis Hyuuga itu menaruh kepala Naruto di pundaknya kanannya. Menyandarkan kepala pemuda itu untuk memberikan rasa nyaman, aman.


TBC