Disclaimer: NARUTO © Masashi Kishimoto

Inspirated by :

49 — a J-Drama by Shinji Nojima (writer)

Soraoto — a manga by Takamiya Satoru

.

Tittle : A Story Of 49 Days

Genre : Supernatural, Drama, Angst

Rating : T

Pairing: NaruSaku, MenmaIno, NaruSara, slight NaruIno

Summary: Mereka berdua bersahabat namun kepribadian keduanya sangat bertolak belakang. Keduanya memiliki pendapat yang berbeda tentang arti kehidupan. Sakura yang angkuh dan memandang semua hal dengan logika. Ino yang ramah dan sangat mempercayai hal-hal yang berbau supernatural. Akankah kisah dalam 49 hari mengubah sikap dan takdir keduanya?

Warning! : AU, OOC, typo, miss typo dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.

Enjoy and Hope You Like It!

.

Chapter 6 : Love me or not?

.

Hari ini Kiba ada jadwal piket dan dia kebagian tugas memberi makan kelinci. Sebelum memberi makan kelinci, Kiba mengirimi Shin pesan. Ia meminta Shin datang menemuinya di dekat rumah kelinci untuk menyerahkan foto pesanan Shin. Kiba menyodorkan rerumputan hijau yang masih segar dan beberapa wortel pada kelinci-kelinci tersebut.

"Kiba-kun?" panggil Shin.

Kiba pun menoleh dan terseyum pada Shin. Ia lantas memberikan sebuah amplop cokelat pada Kaptennya tersebut. "Kapten, silakan!"

Shin membuka amplop tersebut. Kiba memberinya 5 lembar foto dan Shin merasa puas karena hasil jepretan Kiba sangat bagus. "Arigatou!" Shin menyerahkan uang 9000 Yen pada Kiba.

"Aku benar-benar tak menyangka kalau Kapten menyukai Shizuka-senpai. Dia lumayan populer."

"Apakah itu buruk?"

Kiba menggeleng. "Kapten pasti bisa mendapatkannya."

Shin hanya mengangguk dengan senyuman yang terlukis di bibirnya. Shizuka mendapat julukan princess of tennis di Konoha Gakuen karena dia adalah anggota Klub tennis puteri yang paling berbakat. Orang-orang selalu menjodohkannya dengan Sasori Akasuna karena menurut mereka, keduanya adalah pasangan yang serasi mengingat Sasori sendiri dijuluki prince of tennis. Namun Shin bertekad untuk tidak sampai kalah dari Sasori apalagi sepengetahuannya gadis yang disukai Sasori adalah Sakura Haruno.

"Oi, Inuzuka-kun!" panggil seseorang.

"Ya, ada apa senpai?" kata Kiba sambil menghampiri orang yang memanggilnya tadi.

"Adik sepupuku meminta bantuanku untuk berbicara padamu."

"Adik sepupu Neji-senpai?"

"Ya. Namanya Hinata Hyuuga dari kelas 1-A. Dia menginginkan foto Menma-kun. Berikan dia foto-foto yang bagus."

"Baiklah, kalau foto Menma harganya 10.000 Yen."

"Aku mengerti, akan kusampaikan padanya. Ah, satu lagi!"

"Ya?"

"Berikan aku foto Yan Tenten."

"Siap! Kalau foto Tenten harganya 8000 Yen."

"Baiklah." Neji kemudian melirik Shin. "Shin-senpai, pelatih memanggilmu!"

Setelah Shin dan Neji pergi, Shikamaru menghampiri Kiba. "Bagaimana? Kemarin kau sudah ke Todai?"

"Orang luar tidak boleh masuk Todai jadi aku meminta bantuan Hana-Neechan. Dia sudah berhasil mendapatkan foto Temari-san. Kau tenang saja, hasil jepretan Kakakku juga bagus kok. Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau kau menyukai gadis yang lebih tua?!"

"Usia itu hanyalah angka dan kedewasaan itu bukan tentang usia. Walaupun dia terlihat seperti wanita perkasa…dia juga punya sisi manis dan manja. Wajahnya juga cantik dan yang terpenting, aku tidak suka cewek kurus macam Ino. Aku lebih suka cewek yang berisi."

"Nande?"

"Itu karena aku seorang atlet. Itu daging yang akan menyembuhkan tubuhku saat lelah."

"Memangnya bermain Go itu melelahkan, ya? Go 'kan tidak main fisik…hanya mengandalkan otak."

"Ck! Kau pikir bermain Go itu semudah membalikkan telapak tangan? Dalam bermain Go tidak hanya mengandalkan otak tetapi juga teknik dan psikologi."

"Ah, benar juga. Berpikir memang sangat melelahkan, apalagi memikirkan rumus Fisika dan Matematika."

"Itu kan menurutmu. Kalau aku hanya dengan sekali memerhatikan sensei mengajar, bahkan hanya dengan melihatnya sekali dalam buku-buku… aku bisa langsung mengingat semuanya."

Kiba mendengus. Tentu saja bagi Shikamaru itu merupakan perkara mudah. Dia memiliki otak yang encer yang membuatnya berbakat dalam bidang Akademik, tetapi bagi Kiba itu adalah hal yang sulit. Walaupun dia belajar seiap hari tetap saja ia merasa kesulitan memahami semua mata pelajaran yang dipelajari di Sekolah. Hanya ada beberapa mata pelajaran saja yang benar-benar dia kuasai.

"Jenius itu kan memang bakat alami mu. Terus terang aku merasa iri. Jika bersaing denganmu dalam hal akademik sudah pasti aku akan kalah."

"Pikiran seperti itu benar-benar salah!"

Kiba menatap mata Shikamaru. "Apa maksudmu?"

"Bagi kalian yang tidak memiliki bakat alami dalam bidang tertentu...semisal kalian kalah di sisi bakat tersebut, apa kalian akan membiarkan orang-orang seperti kami menang dari sisi kerja keras juga?!"

"Eh?"

"Aku mungkin jenius tetapi kau tahu sendiri kalau aku malas. Bukankah itu merupakan celah bagi orang-orang pekerja keras untuk bisa mengalahkanku? Bahkan aku pernah membaca di sebuah majalah… ada dua orang designer, yang satu memiliki bakat alami dan satu lagi adalah tipe pekerja keras. Pada saat mereka bersaing dalam sebuah acara fashion show, menurutmu siapa yang menang?"

"Tentu saja tipe bakat alami."

"Salah. Yang menang adalah tipe pekerja keras karena selain terus berusaha dan pantang menyerah dia juga memiliki strategi lain."

"Apa itu?"

"Model yang dipilihnya lebih cantik dan lebih terampil dari model yang dipilih si jenius."

"Sugooii!"

"Intinya adalah jika kau termotivasi, selalu bekerja keras, dan pantang menyerah…kau mungkin bisa mengalahkanku."

"Kalau begitu Menma-kun juga? Dia pasti bisa mengalahkan Naruto yang memiliki bakat alami di bidang olahraga kalau dia mau, kan?"

"Menurutku keinginan saja tidak cukup untuk bisa mengalahkan orang berbakat seperti Naruto. Menma harus menyukai basket juga karena permaian bola itu semuanya tentang sense. Jika dia tidak tertarik dengan olahraga, mana mungkin dia bisa lebih hebat dari Naruto."

"Benar juga, bahkan kalaupun dia merasa termotivasi tetapi hal itu bukanlah keinginannya. Kurasa untuk menjadi sehebat Naruto kemungkinannya sangat kecil."

Shikamaru mengangguk. "Kau juga kalau ingin mengalahkanku dalam bidang akademik, cobalah berusaha dengan fokus pada kuncinya."

"Memangnya kuncinya apa?"

"Tentu saja kerja keras, berdoa, ambisi, dan optimis!"

"Kurasa itu tidak mungkin," gumam Kiba.

"Percaya diri juga penting lho…"

"Urusai! Sudah cukup sok bijaksananya. Kau seperti bukan Shikamaru saja."

Shikamaru hanya mengangkat bahu, kemudian mengambil wortel dan menyodorkanya pada salah satu kelinci. "Kau menyukainya, kelinci? Makan yang banyak ya!"

.

Di Atap gedung

"Aku dengar kemarin kau datang ke sekolah dengan Sakura. Jadi dia sudah tidak marah lagi?"

"Ya, sepertinya dia tahu kalau aku adalah kembarannya."

"Aku mengerti. Aku rasa lebih mudah untuk percaya kalau Naruto-kun masih hidup daripada mempercayai bahwa kalian beralih jiwa. Sakura itu berbeda denganku."

"Dia ingin tahu namaku. Aku bilang Menma itu namaku dan dia adalah Naruto. Kubilang padanya kalau dia itu lembut sedangkan aku keras seperti menma dan naruto dalam ramen."

"Haha…apa-apaan itu?"

Menma menunduk dalam. "—bahkan ketika aku melihatnya, itulah perbandinganku dengan Naruto."

"Ya."

"Ya?" Menma mendengus mendengar ucapan Ino tersebut. Ia kemudian kembali membuka pembicaraan. "Dua hari yang lalu tiba-tiba saja Ayahku membicarakan soal pernikahannya dengan Mikoto-san. Aku bilang aku tidak setuju, tapi Ayahku bilang aku sudah setuju."

"Aku tahu. Itu mengagumkan, Naruto-kun mencoba untuk mendukung Minato-san."

Menma masih mempertahankan ekspresi datar tanpa ekspresinya. "Dia membuat Ibuku menderita selama ini. Dan sekarang dia ingin menikah dengan wanita lain? Yang benar saja, sampai kapan pun aku tidak akan pernah merestui hubungan mereka!"

"Ayahmu juga berhak bahagia. Itulah kenapa Naruto-kun merestui hubungan mereka. Seharusnya kau juga mencontoh Naruto-kun. Itu juga demi kebaikanmu." Ino mengatakan kalimat tersebut dengan mata berkaca-kaca.

Mendengar ucapan Ino tersebut, Menma tidak bisa menahan amarahnya lagi. Poker face-nya hancur saat itu juga, tergantikan dengan kilatan emosi dalam sorot matanya. "Dia selalu saja berbuat seenaknya."

Ino menunduk dalam— menahan tangis. "Dia hanya ingin Ayahmu bahagia. Dia ingin kau merasakan kasih sayang seorang Ibu lagi. Dia ingin keluarga Uchiha dan Namikaze bersatu supaya kau mempunyai saudara yang baru. Itachi-san dan Sasuke-kun, mereka pasti bisa menjadi Kakak yang baik untukmu. Pada akhirnya semua yang dia lakukan adalah demi dirimu. Dia melakukannya supaya kau tidak merasa kesepian lagi. Dia ingin kau bahagia."

"Itulah kenapa aku membencinya!" teriak Menma.

Ino menatap mata Menma lekat mencoba membaca pikirannya. "Benarkah kau benar-benar membenci Naruto-kun?"

"Aku benci anak itu."

"Begitukah?"

"Itu benar. Dia melakukan apapun semaunya tanpa meminta persetujuanku lebih dulu."

Ino menghela nafas. Dia memandang Menma tepat di mata. "Pada akhirnya apa?"

"Apa maksudmu?"

Ino tertawa kecil. "Hanya karena kau tidak dapat melakukan sesuatu yang lebih baik daripada Naruto-kun, kau hanya menjadi seseorang yang jahat. Apa kau lupa? Kau sendirilah yang setuju dia meminjam tubuhmu!"

"Bukan itu masalahnya!"

Ino yang sudah tidak bisa menahan emosi menjatuhkan air mata. Dia benar-benar kecewa pada Menma—tak menyangka Menma bisa mengatakan hal sekejam itu tentang Naruto. "Sebenarnya, aku fikir kau memiliki beberapa sisi baik. Klub basket— meskipun kau tidak suka dan tidak bisa bermain basket, kau tidak menolak dan terus melakukannya."

Menma hanya tertegun mendengar kalimat yang dilontarkan Ino. Ino begitu mati-matian membela saudara kembarnya. Ia jadi semakin yakin kalau gadis itu sudah benar-benar jatuh cinta pada Naruto. Ino bahkan sampai menangis. Melihat gadis itu menangis membuat hatinya semakin sakit.

"Aku pikir kau punya simpati dan kebaikan, tetapi kurasa aku salah." Ino menghapus air mata di pipinya dengan sebelah tangan.

"Itu merepotkan, beralih jiwa dan mencoba orang lain mempercayainya."

"Aku rasa itu tidak benar. Kau sebenarnya menyayangi Adikmu di lubuk hati. Itulah mengapa kau tidak mengacaukan apa yang dia lakukan meskipun kau menentangnya dan mengatakan kau membencinya."

Menma tersentak— tak menyangka perkataan gadis ini begitu tepat sasaran.

"Aku sedikit mengerti. Naruto-kun adalah orang yang menarik." Ino tersenyum.

"Eh?"

Ino memandang Menma lurus. Manik sapphire itu beradu dengan manik aquamarine Ino untuk kesekian kalinya. Ekspresi gadis itu terlihat begitu serius.

"Aku akan mengatakan ini karena— sepertinya aku telah jatuh cinta padanya." Ino mengangguk mantap, sama sekali tidak ada keraguan di matanya. "Ya, aku menyukainya."

"Uso darou? Dia sudah tiada. Bagaimana bisa kau jatuh cinta padanya?" Menma terlihat begitu frustasi. Ia merasa dikalahkan dengan telak.

"Aku tidak merasakannya. Aku tidak merasa dia tidak berada di dunia ini. Itu karena dia ada di dalam tubuhmu."

Menma mengepalkan kedua tangannya. Ia benar-benar merasa kesal. Ia lah yang menyukai Ino lebih dulu, tetapi kenapa Ino sama sekali tidak menyadari perasaannya.

Ino mulai terisak. Dia sudah tidak tahan lagi. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dia merasa begitu sedih dan terpukul melihat kenyataan ini. Dia begitu putus asa. Ini sangat menyakitkan.

"Aku merasa sedih ketika ku berpikir tentang dia akan menghilang pada akhirnya. Aku merasa takut juga."

"Yamanaka."

Ino merasa frustasi. Ia masih bercucuran air mata. "Aku benci kau."

"Nani?" Menma merasa tertohok oleh ucapan Ino.

Ino menghapus air matanya lagi. Ia kemudian menatap Menma tajam. "Aku merasa buruk mengatakan ini kepadamu, tetapi kuharap kau yang hilang."

Menma menggeleng— semuanya berakhir sudah. Ia merasa sudah kehilangan semuanya. Ia kehilangan Ibunya enam tahun yang lalu. Ia kehilangan Adiknya yang sangat ia sayangi dan begitu ingin ia lindungi. Ia merasa dicampakkan oleh Ayahnya yang mungkin akan lebih memilih keluarga Uchiha. Dan sekarang ia kehilangan cintanya. Namun ia tidak tahan melihat gadis itu nampak terluka dan begitu sedih. Ia hanya ingin Ino bahagia.

"Meskipun aku tahu itu tidak mungkin… Aku berharap Naruto-kun bisa tinggal di sisiku selamanya, di dalam tubuh itu. Itu sebabnya aku kesal setiap kali melihatmu." Ino mengakhiri kalimatnya dengan nada yang lebih tinggi.

Menma tersenyum pahit. "Baiklah, tidak apa-apa."

Menma berjalan menuju pembatas atap gedung. Ia memegang pagar tersebut sambil menatap ke bawah.

Ino menyesal dengan apa yang barusan ia katakan. Dia pun kembali menghapus air matanya dan melirik Menma. "Maafkan aku, itu bukan kesalahanmu."

"Aku akan menghilang."

"Eh?" kaget Ino.

Menma kembali menoleh pada Ino. "Jika aku mati, mungkin Naruto bisa tetap hidup di dalam tubuh ini."

Menma mulai melompati pagar pembatas. Kini kedua kakinya berpijak dibagian luar pagar tersebut. Ia masih memegang pagar tersebut dengan kedua tangannya. Namun jika ia melepaskan pegangan itu maka ia akan langsung terjatuh dengan kepala lebih dulu.

Menma memandang Ino sekali lagi. Kalau memang dengan kematiannya ia bisa membuat Naruto kembali hidup… ia tidak peduli. Lagipula, sudah tidak ada gunanya dia hidup. Kalau memang dengan kematiannya, Ino akan merasa bahagia karena Naruto bisa selalu berada di sisinya untuk selamanya… ia tidak peduli lagi dengan hidupnya sendiri. Ia akan ikut berbahagia untuk gadis itu.

"Bodoh, apa yang kau lakukan?" teriak Ino.

"Urusai! Lebih baik begini, kan? Semua orang lebih suka dia, kan?"

Menma tersenyum kemudian memejamkan mata. Ia lalu melepas pegangan tangannya dari pembatas pagar. Kini, kedua kakinya tak lagi berpijak. Ia menjatuhkan diri dengan posisi terlentang. Detik itu juga ia meluncur jatuh seiring dengan gaya gravitasi bumi yang menariknya.

"MENMAA-KUUN!"

.

Merasa shock dengan gaya gravitasi bumi yang menariknya, ia sontak membuka kedua matanya. Secepat mungkin ia membalik tubuh terlentang itu menjadi posisi tengkurap. Dalam keadaan melayang di udara, bisa ia lihat pemandangan di bawah sana yang semakin lama semakin terlihat jelas kengeriannya. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan terjatuh dari ketinggian dan itu ternyata jauh lebih menakutkan dari yang selama ini ia bayangkan. Jika ia sampai terjatuh dari ketinggian dengan kecepatan seperti ini otomatis tubuh ini akan hancur. Namun ia tidak akan pernah membiarkan hal itu.

'BRAAAKK!'

.

"Uwoohh!" Kiba dan Shikamaru kaget setengah mati karena tiba-tiba saja ada seseorang yang jatuh dari atap sekolah dan mendarat di atas rumah kelinci.

Ino yang sudah sangat panik, ketakutan, dan merasa bersalah, lekas berlari menuruni tangga. Ia berlari secepat yang ia bisa menuju perkiraan tempat di mana Menma terjatuh.

"Menma-kun!"

Shikamaru dan Kiba hanya terbengong-bengong menyaksikan kejadian mengejutkan yang baru saja terjadi. Mereka melihat tubuh Menma mendarat di atap rumah kelinci. Untungnya kepalanya tidak sampai terluka karena ia melindungi kepalanya dengan menjadikan tangan kirinya sebagai bantalan.

Ino tiba di dekat rumah kelinci dengan nafas terengah-engah. Dia menumpu kedua tangannya di atas lutut, masih mencoba menstabilkan nafasnya yang memburu. Sementara itu, Shikamaru dan Kiba hanya berdiri diam bak patung.

"Apa yang kalian lakukan? Cepat panggil ambulance!" perintah Ino masih dengan wajah panik.

Kiba yang baru saja tersadar dari rasa shock-nya mengeluarkan ponselnya dari saku celana untuk memanggil ambulance.

"Aku baik-baik saja." Mendengar suara rintihan itu, ketiga orang itu pun serentak menoleh pada atap rumah kelinci.

"Menma-kun!" Ino berteriak dengan wajah yang nampak pucat.

"Kau bisa berdiri?" tanya Shikamaru.

Ia mencoba menggerakkan badannya. Namun baru bergerak sedikit saja, ia langsung menjawab sambil meringis kesakitan. "Tidak bisa! Mungkin ada yang retak."

"Aku akan pergi mencari perawat sekolah," sahut Shikamaru yang langsung berlari ke dalam gedung sekolah menuju ruang infirmary.

"Ano… Apa kau Naruto?" tanya Kiba.

"Ya!"

"—tapi tadi…"

"Dia takut dan rohnya menghilang, jadi aku memasukinya." Naruto memotong perkataan Ino masih sambil merintih kesakitan.

"Begitu?" tanya Ino.

"Tak kusangka dia akan mencoba bunuh diri."

Kiba melongo. Ia nampak heran. "Bukankah dia tak sengaja jatuh dari atap?"

Ino menoleh pada Kiba. "Gomennasai, itu kesalahanku. Aku mengatakan hal yang cukup kejam kepada Menma-kun."

"Jangan khawatir. Siapa suruh bunuh diri begitu mudah? Aku tahu dia bodoh— tapi tak kusangka dia akan bertindak sejauh ini."

.

"Aku akan pergi ke surga tanpa memikirkan orang lain, tapi tampaknya manusia tidak bisa melakukan itu dengan mudah. Masih ada banyak hal yang perlu dikhawatirkan. Kore wa ore de ari, ore janai."

.

oOOo

.

Keesokan harinya sebelum ia berangkat ke Sekolah, Naruto memeriksa Laptop Menma. Dia mengecek riwayat pencarian internet. Apa yang ditemukannya membuatnya terkejut sekaligus marah. Semua artikel yang Menma baca adalah tentang; cara terbaik untuk bunuh diri, bulletin bunuh diri, cara bunuh diri yang rasa sakitnya hanya sekejap, dll.

Naruto menghela nafas dan menutup Laptop tersebut. "Ia melihat hal semacam ini?"

Ketika Naruto tiba di ruang makan, Minato dan Karin yang sedang sarapan terkejut melihat lengan kiri Menma yang digips. Tadi malam Karin Uzumaki memang kebetulan berkunjung ke rumah Minato untuk menginap.

"Ada apa dengan lenganmu?" tanya Karin.

"Aku terpeleset kulit pisang dan jatuh."

Karin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Drama komedi apa yang kau lakukan?"

Naruto duduk di salah satu kursi dan kembali membuka pembicaraan. "Ano saa~ aku ingin meminta pendapat kalian sebagai anggota keluarga."

"Mm?"

"Apa yang kau pikirkan tentang aku?"

Karin dan Minato tertawa. "Haha… apa yang kita pikirkan? Apa maksudmu?"

"Aku hanya ingin tahu sisi baik apa yang kupunya?"

"Etto…" Minato memiringkan kepala, mulai berpikir. "Ah, kau bisa main biola."

"Hanya itu?"

Karin memerhatikannya lekat-lekat dan tertawa meremehkan. "Menurutku yang kau punya hanya wajah tampanmu saja."

"Heh?"

"Naruto lebih menarik, dia ceria. Lebih menyenangkan daripada orang pesimis seperti dirimu."

"Jadi menuut Karin-Nee tidak menyenangkan menghabiskan waktu denganku?"

"Ya, kau membosankan."

Naruto terkejut dengan jawaban Karin yang begitu jujur.

"Tidak usah diambil hati~ Karin hanya becanda!"

"Dia seorang kutu buku yang suka mengurung diri di rumah, orang-orang akan berpikir itu buruk, kan?" Karin mengatakan hal tersebut sambil menatap mata Minato.

"—tapi dia berbeda akhir-akhir ini. Dia pergi ke sekolah dan berteman. Dia bahkan ikut Klub Basket."

"Masa sih Paman?"

"Terus, Karin-Nee, apa yang kau pikirkan tentang pesonaku?" Naruto kembali memancing jawaban Karin sambil tersenyum.

"Pesona mu, ya? Nilai mu rata-rata, kau tidak berbakat dalam bidang olahraga seperti Paman Minato dan Naruto, kau juga tidak punya rasa percaya diri seperti Bibi Kushina."

"Ya, Karin benar juga."

Naruto melirik Ayahnya. "Pasti ada sesuatu, kan? Seperti keahlian tersembunyi atau sesuatu yang hanya seorang Ayah dapat melihatnya."

"Sesuatu yang khusus?"

"Ya, kau tahu sesuatu 'kan, Tou-san?"

Minato menopang dagu. "Selain kau punya bakat di bidang musik… Aku rasa cuma wajahmu."

Karin tertawa terbahak-bahak. "Hahaha…benarkan yang kukatakan?"

Naruto menghela nafas. "Itu saja?"

"Apa lagi? Bersyukurlah karena kau dianugerahi wajah yang tampan dan manis!" komentar Karin.

"Lalu, kalian berdua…bagaimana jika aku punya pacar? Apa dia akan pergi kencan denganku?"

Karin tertawa kecil. "Tidak mungkin, tidak mungkin! Jika kau adalah pacarku, kami akan berakhir tidak melakukan apapun dan itu akan sangat membosankan!"

"Sebenarnya jawaban apa yang kau harapkan?" tanya Minato.

Naruto yang tidak tahu harus berkata apa-apa lagi mulai menyantap makanannya.

.

.

"Situs bunuh diri?" tanya Kiba.

"Yeah, dia melihat itu? Bukankah itu sangat buruk?"

"Aku telah melihat itu sebelumnya," sambung Chouji.

"Aku juga pernah melihat itu," sahut Ino. "Maksudku, aku ingin mati hanya dengan melihat jerawat di wajahku ketika aku bangun di pagi hari."

"Kalian menganggap kematian terlalu mudah? Seharusnya kalian bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup!"

"Aku mengerti mengapa kau khawatir tentang Kakakmu," ujar Shikamaru.

"Benarkan? Jika kita bisa menemukan sesuatu yang ia kuasai dan dia mendapatkan kepercayaan, banyak jalan yang terbuka baginya."

"—tapi aku pikir hanya ada sedikit orang yang memiliki mimpi dan harapan di usia ini," sambung Ino.

"Kau tidak punya?"

"Aku? Aku ingin kuliah di luar negeri setelah lulus."

"Berarti kau punya, kan?" Naruto mengalihkan pandangannya dari Ino, kemudian melirik Chouji, Kiba, dan Shikamaru bergantian. "Bagaimana dengan kalian?"

"Di masa depan aku ingin menjadi seorang koki yang terkenal!" tegas Chouji.

"Aku ingin menjadi juru kamera dan mengambil banyak foto Idol," sambung Kiba.

"Bagaimana denganmu Shikamaru?"

"Aku ingin menjadi seorang pemain Go professional. Aku ingin menikah dengan Temari dan memiliki dua orang anak. Satu laki-laki dan satu perempuan. Yeah, meskipun sepertinya semua itu merepotkan."

"Jadi begitu! Pasti ada sesuatu yang akan membuat Menma terbakar dengan semangat!"

"Setiap orang pasti memiliki potensi. Menma bisa saja menjadi violinist terkenal kalau dia mau. Dan mungkin dia juga punya keahlian lain yang tidak kita ketahui."

"Ya, aku setuju dengan Shikamaru."

Naruto tersenyum. Ia juga setuju dengan perkataan Shikamaru. Mungkin saja selain bisa bermain biola sehebat seorang professional… Menma juga bisa membuat keramik yang memiliki nilai seni yang tinggi seperti Kushina.

.

.

Sakura yang tengah mengamati anggota team Klub Amefuto berlatih di lapangan langsung berlari menghampiri Naruto ketika pemuda itu lewat.

"Ada apa dengan lenganmu?"

"Aku melompat dari atap dan mendarat di rumah kelinci."

Sakura tidak percaya. "Apa itu? Benarkah?"

Naruto tersenyum. "Itu yang sebenarnya."

"Menceritakan lelucon seperti itu, kau bukan Menma. Kau Naruto-kun, kan?"

"Naruto?" Naruto kaget karena Sakura tiba-tiba menyebut namanya.

Naruto tersenyum. Ia langsung teringat kalau beberapa hari ini Sakura dan Menma sering menghabiskan waktu bersama. Namun ia tidak tahu apa saja yang sering kedua orang itu bicarakan. Selama berada di dalam tubuh Menma— pada saat kembarannya itu sedang tersadar, ia hanya bisa melihat bahasa tubuh orang-orang di sekitarnya tanpa bisa membaca gerakan bibir mereka.

"Ah ya~ aku Naruto."

"Syukurlah jika Menma tidak apa-apa. Aku menyukainya jadi aku khawatir."

Naruto nampak tertarik dengan ucapan Sakura barusan. Ia rasa ini adalah waktu yang tepat untuk menguji gadis itu. Mungkin saja Sakura bisa menerima Menma apa adanya.

"Kau mengatakan menyukai Menma? Apa itu bukan lelucon?"

"Apa maksudmu?"

"Yang dia punya hanya wajahnya. Dia pemalu dan dia cepat merajuk, ditambah dia pesimis."

Sakura tersenyum lebar. "Itulah yang baik tentang dia."

Naruto kaget dengan kalimat yang dilontarkan oleh Sakura. "Ha?"

"Aku ingin seseorang menjadi peliharaanku."

"Pacarmu seperti hewan peliharaan?"

"Yup, hewan peliharaanku saja."

"…."

Naruto terdiam. Ia heran karena sikap Sakura yang sekarang sungguh berbeda dengan sikap gadis ini sebelumnya yang sukar didekati. Namun setelah ia pikirlan lagi… selama ini Sakura mungkin lebih memilih bertahan karena tidak ingin terluka. Dia tidak tanggung-tanggung menguji orang-orang yang ingin menjadi kekasihnya agar tidak tersakiti. Dia nampaknya hanya ingin mengetes, apakah mereka semua yang mendekatinya benar-benar serius menyayanginya atau justru hanya ingin bermain-main. Sikap dingin Sakura sendiri adalah bentuk dari pertahanan diri. Ya, gadis itu benar-benar tsundere.

"Kau penuh percaya diri dan sepertinya kau juga pergi dengan gadis lain. Bukan hanya Ino Yamanaka, tetapi juga Sara Akazawa. Namun Menma berbeda. Aku menyadari bahwa ketenangan pikiran itu penting bagiku."

"—tetapi dia tidak akan dapat mendukungmu di masa depan."

"Aku akan memberinya makan jadi itu tidak apa-apa."

"Aku mengerti. Beberapa pasangan seperti itu bagus juga, ya?"

"Sakura-san?" panggil seseorang anggota tim Amefuto.

"Kita lanjutkan perbincangan kita lain kali, ya?"

"Hai."

"Salam untuk Menma."

Sakura tersenyum kemudian lekas kembali ke lapangan Amefuto.

Sasori menghampiri Naruto. "Kau, bisa tidak berhenti mengganggu latihan team Amefuto?"

"Ah, konnichiwa!" sapa Naruto. "Senpai, kau belum keluar akhir-akhir ini. Apa kau baik-baik saja?"

"Geez~ kau tidak mengerti, kan? Ada alasan untuk tidak menonjol dalam cerita. Peran utama selalu mengambil bagian terbaik pada saat akhir."

"Acara ini akan berakahir jika kau mengatakannya. Kapan kau akan menembaknya? Apa senpai tidak tahu, kalau saat ini dia sedang benar-benar jatuh cinta?"

Naruto menunjuk Sakura. Meskipun gadis itu sedang sibuk mengurus team Amefuto, wajah gadis itu terlihat berbunga-bunga. Tentu saja hal tersebut membuat Sasori terusik. Ia nampak cemas karena merasa terganggu.

"Aku tidak akan membiarkannya berakhir seperti itu!" tegas Sasori yang kemudian berlari menghampiri Sakura untuk menyelidiki apa yang sedang gadis itu pikirkan sekarang.

Naruto memerhatikan Sakura sejenak. Ia menghela nafas lega. 'Aku tidak perlu khawatir lagi. Seorang gadis cantik yang telah jatuh cinta padanya.'

"Apa kau lupa kalau gadis yang Menma sukai adalah Ino Yamanaka?" ujar Sara yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya.

"Ah, kau benar juga! Kenapa semuanya menjadi semakin rumit?" Naruto mengacak-ngacak rambutnya. Ia benar-benar merasa bingung.

Sara kemudian memberitahunya bahwa Sakura itu mirip dengan Menma. Jika Menma adalah seorang brother complex… menurut Sara, sikap keibuan Sakura telah bangkit. Sakura tersentuh melihat sikap Menma yang seperti itu. Namun gadis itu tidak sadar kalau yang sebenarnya benar-benar dia cintai adalah Naruto. Sakura bahkan tidak rela Naruto dekat dengan gadis lain.

"Sakura-san mulai menjaga jarak denganmu semenjak kau menceritakan padanya kalau kau sakit dan akan segera meninggal. Gadis itu hanya tidak ingin perasaannya terhadapmu semakin dalam. Dia tidak ingin kehilanganmu. Itulah sebabnya dia mulai mendekati Menma-kun."

"Menurutmu begitu?"

"Ini bukan sekedar opini. Aku telah membaca pikiran gadis itu. Kali ini pun hatinya berbunga-bunga bukan karena Menma-kun, tetapi dia merasa senang karena kau kembali. Dia mungkin menyukai Menma-kun tapi itu bukan rasa cinta."

"Maksudmu Sakura-chan hanya akan menjadikan Menma sebagai pelampiasan karena wajah Menma sangat mirip denganku?"

Sara menggeleng. "Itu adalah kasih sayang."

"Kasih sayang?" Naruto mengerutkan kening. Ia tak mengerti apa yang dimaksud Sara.

"Bagi Sakura-san jika Menma-kun dekat dengannya, itu akan lebih baik. Dengan berada di sisinya, Menma-kun akan aman. Dia ingin melindungi dan membahagian Menma-kun sama seperti yang seorang Ibu lakukan untuk anak-anaknya."

"Eh?"

"Singkatnya seandainya nanti kau pergi dan meninggalkannya untuk selamanya… dia tidak akan telalu merasa sedih dan kesepian, karena dengan adanya Menma-kun di sisinya dia bisa tetap melanjutkan hidupnya."

"Maksudmu sama seperti seorang Ibu yang ditinggal mati suaminya, tetapi masih bisa terus bertahan hidup demi anak-anaknya?"

Sara mengangguk. "Kalau kau ingin Sakura-san bahagia, jangan biarkan dia berpacaran dengan Menma-kun! Cari saja lelaki lain yang lebih tepat untuknya. Seseorang lelaki yang mencintainya~ sama seperti kau yang mencintainya dengan sepenuh hati."

"Seseorang yang mencintainya dengan tulus? Sasori-senpai?"

"Ya. Dia boleh juga."

Naruto melirik Sakura lagi. Ia memang tidak boleh egois hanya karena merasa tidak rela menyerahkan gadis itu kepada lelaki lain selain saudara kembarnya. Lagipula, ia tidak mungkin bisa membuat Sakura bahagia jika seperti itu— karena yang Menma cintai adalah Ino bukan gadis itu.

"Dapatkan kepercayaan Ino-san. Katakan padanyabahwa Menma-kun benar-benar mencintainya. Kau juga harus membuat Sakura-san menjauh dari Menma-kun. Jika kau membiarkan Sakura-san untuk terus mendekati Menma-kun… kau akan berakhir melukai mereka berdua dan juga dirimu sendiri."

"Lalu menurutmu apa yang harus kulakukan? Semua ini membingungkan! Aku mencintai Sakura-chan. Menma mencintai Ino. Sedangkan Ino dan Sakura— Kau bilang yang sebenarnya Sakura-chan cintai adalah aku? Dan Ino… dia malah menyukaiku juga?"

Sara mengangguk mantap. "Sakura itu tsundere. Dia sebenarnya mencintaimu dengan tulus, hanya saja dia tidak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya dan masuk dalam mode gadis."

"Masuk dalam mode gadis?"

"Ya, dia terlalu malu untuk mengakui perasaannya yang sesungguhnya pada lelaki yang dicintainya. Itulah sebabnya dia berbuat kebalikannya."

Naruto mulai paham apa yang Sara maksud. Mungkin ini adalah pertama kalinya Sakura jatuh cinta pada seseorang dan karena ini baru pertama kalinya, gadis itu masih belum dapat membedakan antara rasa sayang terhadap lawan jenis dan rasa sayang karena sifat keibuanya yang telah bangkit. Saat ini Sakura mungkin menganggap bahwa dia sudah berpaling pada Menma, padahal sebenarnya tidak.

"Apa yang harus kulakukan?"

"Buat Ino-chan jatuh cinta pada Menma. Lagipula, memangnya kau rela Kakakmu diperlakukan seperti hewan peliharaan oleh Sakura-san?"

"Tentu saja tidak!"

Naruto sangat menyayangi Menma. Mana mungkin dia membiarkan seorang gadis memperlakukan saudara kembarnya itu sebagai hewan peliharaan. Menma harus lebih kuat agar di masa depan, dia tidak akan dimanfaatkan orang lain. Jika mental Menma lebih kuat, dia juga pasti tidak akan pernah melakukan percobaan bunuh diri lagi. Lagipula dia percaya bahwa dengan dukungan Ino— perlahan sikap Menma akan berubah. Ino yang ceria akan sangat cocok dengan Menma. Ino juga mungkin bisa memberikan banyak motivasi pada Menma sehingga kembarannya itu bisa lebih percaya diri dan optimis.

oOOo

.

.

Naruto memerhatikan sekeliling Gym yang masih kosong. Nampaknya ia yang pertama kali datang. Naruto melangkah mendekati sekeranjang bola dan mengambil sebuah bola dengan tangannya yang tidak digips. Ia kemudian tersenyum dan mulai bermain basket dengan menggunakan satu tangan. Naruto men-dribble bola sambil terus maju mendekati ring. Ternyata bermain bola basket dengan satu tangan jauh lebih sulit daripada yang dia bayangkan.

"Memaksakan diri seperti itu, kau pasti Naruto."

Mendengar suara yang familier itu, Naruto reflek menjatuhkan bola yang sedang di pegangnya. Bola orange itu pun menggelinding. 'Dia memanggilku Naruto? Apa aku salah dengar?'

"Kalau tanganmu masih sakit, jangan main basket dulu! Yah, tapi kurasa itu percuma. Jangankan dengan sebelah tangan yang cedera. Dulu, dalam keadaan sakit pun— kau tetap memforsir tubuh mu."

Naruto berbalik badan. Ternyata memang suara Sasuke. Dia sedang berjalan mendekatinya sambil membawa sebuah bola basket. Sasuke tersenyum kemudian mengambil posisi untuk melakukan lemparan tiga angka dan masuk.

Naruto menampakkan wajah datar tanpa ekspresinya. "Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau memanggilku Naruto?"

Sasuke menoleh pada Naruto dan tersenyum. "Akuilah kalau kau Naruto! Aku sudah tahu dari Sara-senpai kalau roh mu masih bergentayangan di dunia ini dan meminjam tubuh Menma."

Naruto tertawa kecil. "Dan kau percaya?"

"Awalnya aku tidak percaya, tetapi sebelum Sara-senpai memberitahukan tentang hal itu— aku memang sudah merasa curiga. Kau mungkin pernah berhasil menipu sekali tetapi persis seperti yang pernah kau katakan…"

Sasuke menghela nafas sejenak dan kembali melanjutkan. "Sejenius apapun seseorang, dia tidak mungkin bisa meniru gerakan atau teknik orang lain sesempurna itu."

Naruto tersenyum. Kalau Sasuke sudah mempercayai perkataan Sara, tidak ada gunanya lagi dia berbohong. "Kupikir kau tidak akan pernah mempercayai hal-hal semacam itu?"

"Tentu saja aku tidak akan percaya, tetapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Ada banyak arwah penasaran yang masih bergentayangan di dunia ini. Salah satu dari mereka bahkan sering berkeliaran di sekitar rumahku."

"Ayahmu?"

Sasuke menggeleng. "Ayahku tidak mempunyai urusan yang belum selesai. Yang sering berkeliaran di sekitar rumahku adalah seorang gadis remaja yang usianya sekitar 13-14 tahun. Dia bilang tidak bisa menemukan tubuhnya, jadi dia belum bisa pergi."

"Tidak bisa menemukan tubuhnya?"

"Ya, mungkin dia korban penculikan atau pembunuhan berencana dan mayatnya belum ditemukan sampai sekarang."

"Kasihan sekali anak itu. Siapa namanya?"

"Namanya Rin Nohara. Kurasa dia adalah orang yang sering diceritakan oleh Obito-jisan."

"Kalau dia adalah kenalan Pamanmu, berarti kejadian itu sudah lama sekali? Kuharap tubuhnya segera ditemukan."

Sasuke mengangguk. "Naruto berapa lama lagi waktu yang tersisa sebelum kau benar-benar menghilang?"

"Aku sering beralih dengan Menma jadi aku tidak begitu ingat. Mungkin sekitar 2-3 minggu lagi."

"Ibuku… maukah kau menemuinya? Dia belum benar-benar bisa merelakanmu pergi."

Naruto tersentak. Kenapa Mikoto sampai segitunya, padahal wanita itu bukan Ibu kandungnya? Meskipun demikian, ia merasa senang. Itu berarti Mikoto benar-benar sudah menganggap Menma dan dirinya sebagai anaknya sendiri.

Naruto kemudian tersenyum. "Yeah! Mungkin aku akan menemuinya sebagai Menma. Ano saa~ kapan pertandingan resmi tahun ini di mulai?"

"Kapten bilang dua minggu lagi. Lawan pertama kita Seiseki Gakuen."

Naruto menghela nafas. "Kira-kira saat itu tangan ini sudah sembuh atau belum, ya?"

"Apa yang dikatakan dokter? Apa tangannya patah?"

Naruto menggeleng. "Dokter bilang hanya retak."

Sasuke sebenarnya juga ingin sekali Naruto ikut bertanding dalam babak penyisihan, tetapi sebagai manusia kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin saja saat itu cedera tanganya belum sembuh atau yang lebih parah, Menma dan Naruto sudah beralih tubuh lagi.

"Sebenarnya apa yang sudah 'si bodoh' itu lakukan?"

"Dia melompat dari atap. Syukurlah posisinya jatuh sejajar dengan rumah kelinci."

Sasuke tertawa. "Haha… jadi kau mendarat di rumah kelinci? Konyol sekali!"

Naruto tertegun. Bisakah Sasuke tertawa seperti ini di depan Menma?

"Sasuke tolong maafkan Menma-Niisan dan jangan membencinya lagi! Kau harus memperlakukannya sama seperti kau memperlakukanku selama ini!"

Ekspresi ceria Sasuke lenyap dan kembali berubah suram. "Kenapa aku harus?"

"Dia mencoba bunuh diri. Beruntung Tuhan masih melindunginya. Aku tidak ingin dia mengalami cedera yang parah jadi aku menyelamatkannya. Sasuke onegai, anggap saja ini permintaan terakhirku!"

Sasuke mengepalkan kedua tangannya. "Kau pikir mudah untuk memaafkan orang seperti itu? Dia sudah berulang kali menyakiti Ibuku!"

"Karakter Menma terbentuk seperti itu bukan tanpa alasan. Kami berdua sama-sama kekurangan kasih sayang orangtua. Ibu kami meninggal saat kami masih anak-anak. Ayah selalu sibuk bekerja. Aku ingin memberinya perhatian lebih, tetapi selama ini malah dia yang merasa lebih bertanggungjawab kepadaku. Mungkin karena itulah dia jadi childish."

"Naruto?"

"Tolong gantikan aku untuk memberinya perhatian. Sasuke kau pasti bisa melakukannya."

Mata biru itu berkaca-kaca. Sasuke tidak tega melihat ekspresi Naruto yang terlihat begitu sedih karena sangat mengkhawatirkan Menma. "Kau benar-benar menitipkan dia kepadaku?"

"Kalau kau tidak mau, katakan saja permintaanku ini pada Itachi-Nii!"

"Baiklah, akan kukatakan pada Onii-san karena aku tidak yakin bisa memperlakukannya seperti aku memperlakukanmu selama ini. Aku hanya bisa menjanjikanmu satu hal— kalau Ibuku saja selalu bisa memaafkannya aku juga akan berusaha untuk memaafkannya."

Naruto mengangguk. "Arigatou Sasuke."

Sasuke hanya tersenyum, kemudian mengambil satu bola basket lagi dan mulai berlatih men-dribble bola.

Selang beberapa menit kemudian Shin dan anggota team basket lainnya datang. Dibawah bimbingan Shin, mereka semua pun mulai melakukan pemanasan sebelum melanjutkan latihan.

"Sayang sekali ya, kau tidak bisa ikut berlatih."

Naruto tersenyum pada Ino yang baru saja mengajaknya bicara dan mengangguk. "Dokter bilang, kalau aku terlalu memaksa tangan kiriku bekerja keras cederanya bisa bertambah parah."

"Terimakasih karena sudah menyelamatkannya. Kalau waktu itu kau tidak cepat-cepat mengambil alih tubuhnya…dia pasti akan mengalami cedera yang jauh lebih parah. Tidak hanya cedera kepala tetapi mungkin beberapa tulang rusuknya akan patah."

"Mana mungkin aku membiarkan kepalanya terluka, kan? Cedera kepala itu bisa berakibat fatal."

"—tetapi tulang rusuknya tidak ada yang patah, kan?"

"Yah, untungnya tidak."

Ino tersenyum. "Itu pasti karena selama ini kau sudah membentuk otot-ototnya dengan baik."

"Saat jatuh itu rasanya sakit sekali. Syukurlah, tidak ada luka luar yang serius ataupun luka dalam."

"Kau pasti sangat mengkhawatirkannya?"

"Ya. Menma itu butuh seseorang sepertimu Ino."

"Eh? Atashi?"

"Ini bukan pertama kalinya— bahkan sebelumnya dia sampai melukai dirinya sendiri karena merasa terpukul dengan kematianku. Ino mungkin kau tidak menyadarinya, tetapi aku ingin kau tahu kalau Menma itu sudah mencintaimu sejak dulu."

"Eh?"

"Dia sudah jatuh cinta padamu sejak masih SMP. Selama tiga tahun lebih dia menjadi pemuja rahasiamu. Menma selalu memerhatikanmu tetapi dia tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya padamu."

Ekspresi Ino datar seolah dia tidak percaya dengan perkataan Naruto. Mungkin saja perasaan Menma itu hanya perasaan suka karena faktor hormon. Itu biasa bagi para remaja memiliki perasaan seperti itu. Itu untuk sementara, dan seiring berjalannya waktu perasaan itu akan hilang.

"Ino?"

"Aku tidak percaya. Kalau dia bisa memberiku bukti, baru aku akan percaya bahwa dia menyayangiku."

"Kalau begitu mari kita bersandiwara!"

Ino memiringkan kepala. "Bersandiwara?"

"Aku memiliki banyak bakat. Basket, bermain piano, dan berakting. Kau dan aku cocok menjadi partner karena kau juga pernah berhasil menipuku dengan acting-mu yang benar-benar terlihat natural."

"Apa rencanamu?"

Naruto mulai membisikkan rencananya pada Ino.

oOOo

.

.

Naruto mulai berpose seperti yang diintruksikan Kiba. Awalnya Kiba memintanya berpose dengan menggunakan property polisi seperti seragam dan topi polisi, kemudian jubah dokter lengkap dengan stetoskop yang menggantung di leher. Selanjutnya Kiba memintanya berpose cool dengan menggunakan pakaian ala boyband Korea— yang memang Menma banget. Setelah itu Kiba juga memintanya untuk berpose ala Nerd berkacamata.

'Cekrek!'

'Cekrek!'

"Itu bagus. Ya, itu juga bagus!"

'Cekrek!'

'Cekrek!'

"Ayo lagi! Lagi-lagi!"

'Cekrek!'

"Aku senang sekali. Naruto sepertinya kau memang berbakat menjadi seorang Idol."

'Cekrek!'

"Sudahlah hentikan! Aku capek dan tanganku masih sakit tapi kau terus-menerus memaksaku berganti baju. Dan lagi, aku ini bukan model apalagi seorang idol."

Kiba mengatakan padanya kalau ada banyak sekali siswi-siswi Konoha Gakuen yang menginginkan foto Menma. Bukan hanya murid-murid seangkatan mereka saja tetapi juga murid-murid senior. Awalnya Naruto menolak karena dia takut Menma akan marah padanya jika foto-fotonya tersebar. Selain itu tangan kirinya juga masih sakit. Namun Kiba terus membujuk dan memaksanya sehingga Naruto terpaksa menurutinya.

"Menma-kun itu otaku setengah hikikomori. Namun berkat kau dia makin populer belakangan ini."

"—tapi tahu tempat dong! Ini tuh masih di Sekolah."

"Atap sekolah ini kan sudah seperti markas kita. Lagipula, di sini jarang sekali ada orang lain yang datang. Itulah mengapa menurutku ini adalah tempat yang tepat."

Naruto tak menghiraukan perkataan Kiba dan kembali mengenakan pakaian seragamnya lagi. Selain ada Naruto dan Kiba, di atap ini juga ada Chouji dan Shikamaru yang sekarang sedang sibuk membereskan kostum-kostum dan beberapa property yang dipinjam Kiba dari Klub Drama.

"Ne, Kiba! Bagaimana denganku?" Chouji bertanya seraya memerhatikan sunglasses yang tadi dipakai Naruto.

"Gomen, kau masih belum ada permintaan."

"Begitu? Ah, benar juga foto Karui yang kuminta padamu apa kau sudah selesai mencetaknya?"

Kiba mengangguk. Ia kemudian mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Chouji. Chouji tersenyum dan memberikan sejumlah uang pada Kiba.

"Bagaimana denganmu? Apakah ada permintaan untukmu?" tanya Shikamaru.

"Ah, ya! Ada anak kelas 1-C yang meminta fotoku."

Naruto tersenyum. "Kalau begitu biar aku memotretmu."

"Arigatou!" sahut Kiba yang kemudian meminjamkan kameranya pada Naruto. Naruto pun meminta Kiba melakukan beberapa pose dan memotretnya.

'Cekrek!'

'Cekrek!'

"Ternyata kalian masih di sini. Jam istirahat hampir habis lho. Sebaiknya kalian cepat kembali ke kelas!"

Mendengar suara familier tersebut, mereka berempat pun menoleh. Ino sampai repot-repot menyusul mereka ke sini padahal ia bisa memberitahu lewat sms, baik sekali dia.

Naruto dan yang lainnya menuruti Ino. Sambil menuruni tangga dan memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka, Ino mulai membicarakan rencananya dengan Naruto pada Shikamaru, Chouji dan Kiba. Mereka sepakat akan mulai menjalankan rencana tersebut setelah cedera Menma sembuh. Shikamaru dan yang lainnya diminta untuk membantu agar sandiwara mereka nanti berjalan lancar.

.

.

Naruto baru saja akan berjalan sampai Halte Bus saat ia melihat Sakura melambaikan tangannya sambil tersenyum. Mobil Sakura sendiri terparkir di depan pintu gerbang Konoha Gakuen. Sakura memang sengaja menunggu Naruto agar mereka bisa pulang bersama, tetapi tentu saja Sakura tidak mau mengakui hal itu secara terang-terangan.

"Sakura-chan?"

"Aku ingin kau menemaniku ke Toko buku!"

"Ha? Kenapa aku?"

"Kau 'kan pacarku. Ayo pergi!" Sakura mendorong punggung Naruto dan meminta pemuda itu untuk masuk ke dalam mobilnya.

Naruto sendiri hanya bisa pasrah menuruti permintaan Sakura. Gadis itu rupanya tidak hanya memintanya untuk menemaninya ke toko buku, tetapi dia bahkan memintanya untuk mampir ke tempat karaoke. Sakura menyuruhnya untuk menyanyikan sebuah lagu. Sakura sendiri yang memilih lagunya. Naruto menolak dengan halus. Ia mengatakan kalau ia hanya menyukai musik klasik dan lebih suka bermain piano daripada bernyanyi.

Sakura menghargai keputusan Naruto dan tersenyum. "Kalau begitu baiklah…biar aku yang menyanyikan beberapa lagu untukmu tapi sebagai gantinya setelah tanganmu sembuh nanti, kau harus memainkan piano untukku. Aku akan ikut ke rumahmu."

"Ke rumahku?" kaget Naruto.

"Kenapa? Apa kau takut kalau aku malah akan menempel pada saudara kembarmu nantinya? Mungkinkah kau cemburu?" tanya Sakura penuh harap.

"Tidak, bukan begitu maksudku."

"Kalau begitu apa?"

"Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, jadi aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu."

"Why not?"

"…karena mungkin saja saat itu aku—"

"Jangan khawatir aku akan terus berdoa supaya kau selalu sehat!" potong Sakura cepat.

'Padahal yang aku maksud adalah… saat itu mungkin aku dan Menma akan beralih lagi.'

"Kalau penyakitmu kambuh ceritakan padaku. Aku akan menjengukmu. Aku benar-benar merasa kesepian kalau kau tidak datang untuk menggangguku."

"Ahaha…"

Naruto hanya tertawa— sampai kapan gadis ini akan bersikap tsundere padanya? Ternyata dugaannya selama ini benar, Sakura memang seorang gadis yang kesepian. Pantas saja sikapnya agak dingin. Sakura bahkan lebih memilih tempat ramai seperti tempat karaoke untuk membunuh waktu.

Sakura berdiri dan mulai menyayikan beberapa lagu. Naruto sampai tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu karena ternyata suara Sakura sangat bagus. Dia bernyanyi seperti seorang Idol. Melihat penampilan Sakura, membuatnya semakin menyukai gadis itu. Penampilan Sakura bahkan tidak kalah hebat dengan members AKB48 sekali pun. Setiap kali lagu yang Sakura nyanyikan selesai… dia selalu mendapatkan point 100.

Naruto bertepuk tangan dengan penuh antusias. "Hebat! Kau memperoleh nilai sempurna lagi!"

Sakura kembali duduk di samping Naruto dan meminum jus strawberry pesanannya.

"Suaramu benar-benar indah Sakura-chan!" puji Naruto pula.

"Aku terbiasa bernyanyi di Gereja sejak masih kecil."

"Oh, pantas saja!"

Sakura memerhatikan jam tangannya. Seingatnya mereka sampai di tempat karaoke pukul 17.40 dan sekarang sudah pukul 18.42. "Ayo kita makan malam dulu! Setelah itu aku akan mengantarmu pulang."

"Okay, kebetulan aku juga sudah lapar."

Sakura mengajak Naruto ke Restoran langganannya. Mereka berdua pun mulai memilih menu. Sakura diam-diam memandang Naruto yang masih melihat-lihat menu. Di satu sisi ia merasa senang karena bisa berkencan dengan Naruto. Namun di sisi lain dia juga merasa takut. Dia benar-benar takut kehilangan pemuda itu. Naruto kini sedang menyebutkan makanan dan minuman pesanannya pada seorang waitress.

"Bagaimana dengan anda, nona?" tanya waitress tersebut beberapa menit kemudian.

Sakura yang masih melamun tersentak untuk sesaat, tetapi kemudian lekas tersadar dan menyebutkan makanan dan minuman pesanannya. Waitress tersebut kemudian undur diri dengan sopan.

"Sakura-chan? Ada apa? Kau barusan melamun!"

Sakura menggeleng. "Iie, nande mo nai."

"Kalau Sakura-chan sedang ada masalah ceritakan saja padaku! Mungkin aku bisa membantumu?"

"Aku hanya teringat Ayah dan Ibuku. Sebelum mereka bercerai, mereka sering membawaku ke Restoran ini."

"Mm… wakatta. Ini pasti salah satu tempat favoritmu, kan?"

Sakura mengangguk. Ia kemudian kembali menatap mata Naruto. "Naruto, kau tidak merasa lelah karena sejak tadi aku terus memintamu untuk menemaniku ke tempat-tempat yang ingin aku kunjungi?"

Naruto menggeleng dan tersenyum. "Tidak! Hari ini aku benar-benar merasa sangat sehat. Itu karena aku bisa berduan dengan Sakura-chan."

"Eh?" kaget Sakura dengan wajah merona merah.

"Arigatou karena sudah mengajakku kencan."

"Aku tidak mengajakmu kencan! Aku hanya ingin kau menemaniku ke tempat-tempat yang aku suka!" sanggah Sakura.

Naruto hanya tersenyum dan memandang wajah Sakura, yang tentu saja membuat gadis cantik itu terlihat salah tingkah.

"Kalau aku sudah pergi nanti, jagalah dirimu baik-baik ya Sakura-chan dan kau juga harus bahagia!"

Rona merah di wajah Sakura lenyap seketika. Kini gadis itu hanya memasang wajah datar tanpa ekspresinya lagi. "Kau benar-benar akan segera pergi?"

Naruto hanya mengangguk. Berat sekali rasanya untuk meninggalkan Sakura. Ia masih ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadis ini. Namun ia tidak boleh bersikap egois. Ia dan Sakura sudah berada di dunia yang berbeda. Sudah saatnya dia melepas gadis itu.

Seorang waiter mengantarkan makanan dan minuman pesanan mereka. Naruto tersenyum ramah dan berterimakasih. Sementara itu, Sakura menggigit bibir. Ia berusaha keras untuk tidak menangis.

"Kau sakit apa sebenarnya?"

"Hypertrophic Cardiomyophaty."

Sakura nampak shock. Dia reflek menutupi mulutnya dengan sebelah tangan hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar…sebagai puteri dari seorang dokter, tentu saja dia tahu betul kalau penyakit itu belum bisa disembuhkan.

Kardiomiopati adalah penyakit yang berhubungan dengan miokard atau otot jantung. Penyakit ini tidak berkaitan dengan penyakit arteri jantung, katup jantung, atau darah tinggi, namun memiliki beberapa tingkatan disfungsi otot jantung yang dapat disebabkan oleh penyakit lain.

Kardiomiopati dapat menjadi penyebab detak jantung yang lemah ataupun tidak beraturan hingga gagal jantung pada penderitanya. Sebagian kasus kardiomiopati merupakan penyakit turunan dan banyak ditemui pada anak kecil serta orang yang berusia muda. Ada empat tipe utama kardiomiopati, yaitu: dilated cardiomyophaty, hypertrophic cardiomiopaty, restrictive cardiomyophaty dan arrhythmogenic right ventricular cardiomyophaty. Pengobatan penyakit ini akan bergantung kepada seberapa serius jenis kardiomiopati yang diderita.

Kardiomiopati terjadi ketika miokard tidak dapat memompa dan mengirimkan darah ke seluruh bagian tubuh. Selain dipengaruhi oleh struktur otot jantung yang abnormal, gangguan fungsi ini juga terkait dengan beberapa faktor resiko.

Adapun untuk hypertrophic cardiomyophaty, tipe ini menyerang otot ruang utama jantung.Kondisi ini sebagian besar diakibatkan oleh kondisi genetik yang menurun di dalam keluarga dan dapat terjadi pada segala usia, tetapi kondisi ini cenderung lebih parah jika terjadi ketika masih kanak-kanak. Gangguan timbul akibat menebalnya otot jantung secara abnormal, khususnya pada ventrikel kiri jantung. Selama penebalan terjadi, otot cenderung untuk mengeras dan ukuran ruang pompa dapat menyusut. Penebalan ini mengakibatkan jantung menjadi sulit untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

"Sejak kapan kau mengidap penyakit itu?" tanya Sakura pula.

"Entah. Aku baru mengetahuinya tiga tahun yang lalu."

"Itu saat kau berumur 12 'kan? Pantas saja! Pengobatan apa saja yang sudah kau lakukan selama ini?"

"Aku melakukan serangkaian tindakan medis maupun pemberian obat. Dokter bilang, obat-obatan itu dapat mengurangi tenaga pompa jantung, menstabilkan ritmenya, dan membuat jantung menjadi lebih rilek."

"Tindakan medis apa saja yang pernah kau lakukan?"

"Implan defibrillator kardioversi, septal myectomy, septal ablation— ah, aku tidak ingat yang lainnya."

"Bagaimana dengan operasi transplantasi jantung?"

Naruto hanya tertawa kecil. "Mendapatkan donor jantung tidak semudah itu… terakhir kali yang kuingat, aku masih berada di nomor sekian dalam list dan harus menunggu sekitar 4-6 tahun lagi. Menurutmu aku bisa bertahan selama itu?"

Sakura menjawab masih dengan mempertahankan ekspresi datarnya. "Mungkin saja."

"Kurasa itu tidak mungkin. Itulah sebabnya aku tetap bermain basket. Daripada hal itu berakhir tanpa aku melakukan apapun selama sisa hidupku… bukankah itu lebih baik?"

Sakura tertegun. Dalam hati dia setuju dengan pendapat Naruto. Naruto masih remaja dan mungkin dia mengidap penyakit tersebut sejak masih kanak-kanak. Kemungkinan dia bisa bertahan selama itu sangatlah kecil.

"—tetapi kenapa kau yang kena?"

"Itu karena aku lebih banyak mewarisi gen Ibuku."

"Ah, benar juga! Jika Menma anak pertama…kemungkinan dia lebih banyak mewarisi gen Ayah kalian."

"Yeah! Mungkin itu sudah takdir."

"Etto…untuk orang yang mengidap penyakit serius, wajahmu itu lebih sering terlihat fresh ya? Hanya kadang-kadang saja wajahmu terlihat pucat, contohnya saat tempo hari kelas kita akan bertanding renang. Apa selama ini kau selalu memakai make up untuk menyembunyikan wajah aslimu?"

"Ya. Hebat bukan? Aku memang berbakat menjadi seorang Aktor sih."

"Boo~!"

"Ano~ kenapa jadi sesi introgasi begini? Bukankah kita sedang makan malam?"

"Gomen. Ittadakimasu!"

"Ittadakimasu…."

Mereka berdua pun mulai menikmati makan malam mereka. Naruto senang sekali bisa menghabiskan waktu bersama Sakura. Ia jadi sedikit menyesal. Seandainya mereka berdua bisa bertemu- jauh sebelum ia meninggal, pasti akan lebih menyenangkan. Naruto hanya tersenyum tipis. Setidaknya ia bahagia dengan kesempatan kedua yang diberikan Sara. Selain ia bisa bermain basket, ia juga bisa bertemu dengan keluarga dan sahabatnya lagi. Ia bisa menjalin persahabatan dengan beberapa teman baru. Tidak hanya itu saja… ia bahkan bisa bertemu dengan Sakura dan merasakan jatuh cinta.

"Ne, Naruto! Bagaimana kalau kita melakukan hubungan macam itu?"

Naruto melongo tak mengerti. "Hubungan macam itu?"

Sakura sungguh tak menyangka kalau sebenarnya Naruto itu begitu polos. Ekspresi innocent-nya barusan malah membuatnya ingin tertawa. "Jangan berpura-pura bego! Maksudku had sex?"

"EHH?!"

Naruto reflek berdiri dari kursinya dan menggebarak meja saking kagetnya dengan pertanyaan Sakura yang tiba-tiba itu. Lagi, ia kembali dibuat melebarkan mata. Sebelumnya Ino dan sekarang Sakura?

"Doushite? Kau tidak mau? Apa aku masih belum bisa membuat perasaanmu tergerak?"

'Gawat! Mengapa gadis-gadis yang menyukaiku agresif semua?'

"Naruto?"

"Etto… ano~ tentu saja perasaanku tergerak tetapi kita masih terlalu muda untuk melakukan itu."

"Jangan munafik! Sebenarnya kau sangat menginginkannya, bukan?"

"Memang benar tapi Sakura-chan aku akan segera pergi lho… nanti kau yang akan menyesal dan merasa rugi."

"Aku tidak akan menyesal ataupun merasa rugi. Asal, kau jangan membuatku kebobolan saja. Kita bisa atur waktunya…misalnya pada saat aku sedang tidak dalam masa subur. Dengan begitu—"

"Tidak Sakura-chan! Menghabiskan waktu bersamamu seperti ini pun sudah jauh lebih cukup bagiku. Lagipula, dengan kondisi tubuhku yang seperti ini kurasa aku tidak akan kuat. Ditambah tanganku masih sakit."

"Benar juga. Sayang sekali…padahal aku sudah siap lho."

Naruto hanya tersenyum canggung. 'Sebenarnya karena ini adalah tubuh Menma yang membuatku tidak bisa melakukannya walaupun sebenarnya aku sangat ingin.'

.

~ To be Continued ~

.

A/n: Hi, minna! Apa kabar? Berhubung ini masih suasana lebaran (walaupun telat) Minal aidzin walfaidzin ya! Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga kalian semua puas dengan words yang lagi-lagi panjang begini :-)

Thanks for read, review, follow, and fav. See you next chapter! ^^

.