"TADAIMAA~!"
Terdengar suara langkah terburu-buru dari arah dalam rumah bergaya tradisional itu, mendekati pintu masuk utama—di mana seseorang baru saja mengucapkan salam.
Uchiha Itachi masaih berdiri terpaku di genkan, memperhatikan Mikoto yang terengah-engah mengatur napas setelah—mungkin, berlari-lari kecil menghampirinya. Topeng ANBU-nya ia geser ke samping kepalanya, menampakkan wajah rupawan khas Uchiha jenius itu. "Kaa-san?" Itachi menelengkan kepalanya, bingung dengan ekspresi ibunya yang sedikit panik dengan beberapa tetes keringat di pelipisnya.
"Okaeri-nasai," ucap Mikoto pelan. Ujung-ujung bibirnya tertarik membentuk seulas senyum penuh syukur. Rambut hitam panjangnya tampak sedikit bergoyang ketika wanita cantik itu mendekati anak sulungnya. "Syukurlah kau nggak apa-apa," ujarnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Eh? Memangnya kenapa?" tanya Itachi seraya melepaskan sandal ninjanya dan meletakkannya di getabako.
"Kaa-san kaget sekali waktu Sasuke-kun tiba-tiba pulang dalam keadaan kacau," jawab Mikoto pelan. Ada nada khawatir dalam setiap ucapannya. "Mestinya itu cuma upacara pengangkatan jounin biasa. Tapi, waktu pulang tadi dia babak belur."
"Hontou?" Itachi tersenyum geli, seolah mengerti apa yang terjadi pada adik kesayangannya itu dan sedikit membayangkannya.
"Itachi-kun..." ujar Mikoto dengan nada memperingatkan, sedikit kesal melihat anak tertuanya itu malah menganggap kekhawatirannya sebagai lelucon.
"Tenang saja, Kaa-san." Itachi tersenyum maklum dan merangkul Mikoto, menuntunnya masuk. "Aku akan bicara dengan Sasuke. Ne?"
The Story of Town Where サクラ Blooms
©Andromeda no Rei
.
Standard Disclaimer Applied
.
.
Story 6 :
A Night Alone
「一人ぼっちの夜」
.
.
.
"Ohayou~!"
"Ohayou gozaimasu, Yamanaka-san!"
"Ohayou, Minami-san!"
Seorang kunoichi berambut blonde panjang yang terikat ponytail tampak berlari-lari riang ketika memasuki pintu utama Rumah Sakit Konoha. Ia memamerkan senyum cantiknya pada semua pengunjung rumah sakit dan juga beberapa resepsionis. Gadis penerus klan Yamanaka itu melanjutkan langkahnya ke koridor utama rumah sakit, menaiki tangga menuju lantai dua dan kembali berlari-lari kecil mencari kamar yang ditujunya. Sesekali ia mengangguk dan tersenyum ramah ketika berpapasan dengan beberapa perawat, membuat helaian rambut pirangnya menari indah.
"Kamar 205." Ino bergumam pada dirinya sendiri ketika ia berhenti di depan sebuah kamar pasien bernomor 205. Ia menghela napas sejenak sebelum akhirnya mengetuk pintu di hadapannya.
Hening.
Sebelah alis Ino terangkat. Ia mengetuk pintu itu sekali lagi.
Masih tidak ada balasan apa pun.
Dengan sedikit kesal ia menggeser pintu abu-abu itu, siap meluapkan segala kekesalannya karena merasa terbaikan. "Saku—"
Suara Ino seolah tersangkut di tenggorokannya. Di dalam ruangan itu tampak Haruno Sakura tengah tertidur pulas—menelungkupkan kedua lengannya di tepi ranjang pasien dengan kepala sewarna permen kapas—yang kini terbalut band-aid tipis—yang tenggelam di antara lengannya. Mata emerald yang biasanya cerah itu kini tertutup sangat rapat. Nyenyak sekali, pikir Ino ketika ia mendekati gadis berambut pendek yang tengah tertidur dengan deru napas yang tenang.
Ino mengulum senyum maklum. Pandangan mata saphire itu kemudian beralih pada sosok lain di atas ranjang pasien. Sosok seorang shinobi yang setahun lebih muda darinya. Sosok yang terbalut perban nyaris di seluruh tubuhnya yang tertutup selimut tebal. Tanpa kacamata yang bertengger di hidungnya, wajah damai cowok berambut spiky burnette yang sedang tertidur itu terlihat tampan meski pipi kirinya ditutupi kasa dan plester.
Ino kembali beralih pada sahabatnya yang berambut bubble gum itu. Jemari jenjangnya mendarat di bahu Sakura dan mengguncangnya pelan—mencoba membangunkan sang medic-nin.
"Sakura, Sakura..." bisiknya pelan di dekat telinga Sakura. Ia kembali mengguncang bahu sang Haruno sedikit lebih keras. "Sakura, bangun..."
Terdengar lenguhan pelan dari bibir Sakura. Pelan, ia membuka kelopak matanya—menampakkan iris emerald indah yang tampak sayu. Ah, sepertinya Sakura begitu kelelahan.
"Ino..." Sakura bergumam dengan suara serak. Ia bangun dan meregangkan punggung dan persendiannya yang terasa sedikit pegal. Gadis itu menguap pelan. Tangan sewarna kuning langsatnya menghapus pelan air mata yang keluar dari ekor matanya ketiaka ia menguap tadi.
"Kalau terus tidur dengan posisi seperti itu, kau bisa sakit, baka," kata Ino sambil mencubit pelan pipi Sakura. "Ayolah sarapan dulu. Kau mau Naruto ngomel seharian di tokoku hanya karena ini sudah jam sembilan pagi dan kau belum sarapan?"
"Kalau begitu kau saja yang sarapan," ujar Sakura sambil tertawa kecil. Ia membayangkan Naruto yang marah-marah tidak jelas di depan toko bunga Yamanaka. Sakura tersenyum kecut. Naruto selalu saja mengkhawatirkannya dengan cara yang agak berlebihan. Hei, tidakkah ia sadar bahwa masih ada Hinata yang perlu dikhawatirkannya lebih dari apa pun? Tapi membuat Naruto untuk tidak mencemaskan sahabat-sahabatnya sama saja dengan menyuruhnya berhenti makan ramen selama seminggu. Mustahil.
"Haa, berisik." Ino menggenggam pergelangan tangan Sakura dan menyeretnya keluar dari ruangan berbau obat itu. "Naruto dan Hinata sudah menunggu di kedai Icharaku."
Sakura yang baru saja mengumpulkan seluruh tenaga untuk sekedar meregangkan otot-ototnya hanya bisa pasrah dan mengikuti sang kunoichi barbie-like itu menyeretnya keluar. Sebelum menutup pintu kamar, ekor mata emerald itu sempat melirik sosok Kuroyama Keitaro yang masih tertidur pulas di ranjang pasien.
"Oh ya, Jidat lebar."
"Hmm?"
"Nanti malam kau bakal datang, 'kan?"
"Datang apa?"
"Haahh... jangan bilang kau lupa."
"...?"
"Tanabata, Sakura—festivalnya nanti malam. Kau lupa, ya?"
"Aah, benar juga."
"Jadi?"
"Jadi apa?"
"Kau bakal datang, 'kan?"
"Ahaha, tentu saja, Ino-buta."
.
.
.
"Su-sumimasen~!"
Uchiha Mikoto menghampiri pintu masuk utama rumahnya, mendapati seorang gadis berambut merah muda sebahu dengan baju merah maroon dan rok pendek berwarna biru gelap. Gadis itu tersenyum canggung ketika Mikoto hanya terdiam menatapnya.
"Sakura?" Mikoto menelengkan kepalanya, membuat beberapa helai rambut hitamnya terayun ke bahunya.
Sakura tersenyum lebar. "Konnichiwa, Mikoto-baasan," ujar Sakura seraya sedikit membungkukkan badannya. "Err... sumimasen, apa Sasuke-kun ada? Saya mampir untuk—"
"Ah, tentu saja, Sakura. Ayo masuk," potong Mikoto seraya menuntun Sakura masuk lebih dalam rumah utama klan itu.
Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor yang cukup panjang. Jujur saja, seumur-umur Sakura belum pernah masuk ke dalam istana tradisional milik pemimpin pertahanan Konoha itu. Ketika masih genin pun ia dan Naruto belum pernah main ke rumah itu. Paling-paling hanya sekedar mampir ke distrik Uchiha dan menyapa beberapa kerabat Sasuke. Hah, apalagi sekarang. Usianya enam belas tahun dan yang mengantarnya masuk lebih dalam ke rumah luas itu adalah ibu dari cowok yang dulu ditaksirnya! Bagaimana mungkin Sakura tidak berdebar-debar?
Namun mengingat pertengkarannya dengan Sasuke kemarin membuatnya meringis ngeri. Ia tidak pernah menyangka akan terjadi hal mengerikan seperti itu antara dirinya dan Sasuke. Luka di kepala Sakura yang terbalut band-aid kembali terasa nyeri. Meski Shizune sudah mengganti perbannya sebelum pergi sarapan dengan Ino tadi, tetap saja luka yang sudah mengering itu terasa menusuk-nusuk tempurung kepalanya.
Sakura menghela napas berat setelah akhirnya mereka berhenti tepat di depan sebuah undakan kayu menuju lantai dua rumah itu. "Kamar Sasuke-kun yang di sebelah kiri itu," ucap Mikoto memberi intruksi. "Masuk saja, dia ada di dalam kok. Baa-san tinggal, ya."
Dan dengan sekali tepukan ringan di kepala merah muda Sakura, Mikoto telah membalik badan dan beranjak pergi. Punggungnya yang tertutupi rambut hitamnya semakin menjauh sebelum akhirnya menghilang di belokan koridor menuju dapur dan ruang makan.
Sakura menghembuskan napas panjang. Kaki-kaki jenjangnya kemudian menuntunnya menaiki undakan kayu itu dan berhenti di depan sebuah pintu kecokelatan. Ia menatap pintu itu sejenak, tampak ragu dengan apa yang ia ingin lakukan. Dan setelah mengatur degup jantungnya yang sempat tak karuan dengan menghembuskan napas panjang, tangan kanannya bergerak untuk mengetuk pintu di hadapannya.
Namun sebelum tangan Sakura berhasil menyentuh permukaan kayu pintu itu—
CKLEEEKK
"Ah, Sakura."
Uchiha Itachi membuka pintu itu dari dalam, menyapa Sakura dengan senyum ramahnya yang biasa. Itachi hanya mengenakan kaus hitam berleher tinggi dan celana abu-abu panjangnya yang biasa, menandakan ia sedang libur misi untuk hari ini. Ah, sepertinya semua shinobi dari setiap tingkatan mendapat libur istimewa khusus hari ini.
"K-konnichiwa, Itachi-nii." Sakura membungkukkan badannya agak kaku. Gadis itu sedikit terkejut mendapati sang ketua ANBU menyambutnya di depan pintu kamar seperti itu.
Matte kudasai.
Pintu? Jangan-jangan Sakura salah kamar!
Sakura mendongak, mendapati Itachi yang masih berdiri di depannya dengan wajah seolah menahan tawa. "A-ano..."
"Kau nyari Sasuke, ya?" Itachi menyingkir dari pintu, mempersilahkan Sakura untuk masuk. "Tuh," ucapnya seraya mengedikkan kepalanya ke arah sebuah doublebed bersprei putih di mana Sasuke sedang duduk bersandar pada dua bantal dengan kaki selonjor. Tatapan mata onyx-nya lurus ke depan, menerawang jauh entah ke mana.
Sakura melangkahkan kakinya masuk ruangan itu, menatap Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan. Entah apa yang dipikirkan gadis itu ketika mendapati teman sejak akademinya yang terkenal tampan itu berada dalam keadaan yang cukup kacau; piyama biru muda yang dikenakannya sedikit berantakan dengan tiga kancing teratas tidak dipasang—memperlihatkan dada bidangnya yang terbalut perban, serta beberapa plester di dahi dan pipinya.
Keduanya masih terdiam dalam posisi masing-masing. Seolah enggan memulai percakapan hangat karena ego masing-masing yang tak ingin disalahkan.
"Ne, Sakura—kau terluka?"
Suara baritone Itachi memecah keheningan di kamar itu. Sakura menoleh, memperhatikan Itachi yang berjalan ke arahnya dan mengusap perban yang melingkar di kepala merah mudanya. Sakura tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala dan melirik Sasuke melalui ekor matanya. Dan saat itulah tatapannya bersirobok dengan onyx Sasuke yang juga kebetulan melirik ke arahnya sekilas.
Itachi turut melirik adiknya yang masih diam di atas kasur kemudian memutar bola matanya, bosan. Pandangannya kemudian beralih pada sebuah bungkusan plastik berwarna putih yang digenggam Sakura di tangan kirinya. "Eh, itu apa, Sakura?"
Sakura tersentak kaget. Ia kemudian mengangkat tangan kirinya dan sedikit terkejut melihat bungkusan itu masih menggantung manis di tangan kirinya. "Oh, i-ini aku bawakan untuk Sasuke-kun," jawabnya sedikit canggung. Medic-nin asuhan Godaime Hokage itu kemudian melangkah mendekati doublebed Sasuke dan menyerahkan bungkusan yang sedaritadi dipegangnya kepada si bungsu Uchiha.
Sasuke memperhatikan bungkusan yang disodorkan Sakura sejenak, dengan mulut masih terkunci rapat. Ia meraih bungkusan itu perlahan—sedikit merasakan aliran listrik di bawah sel epidermis kulitnya ketika tak sengaja bersentuhan dengan tangan kecil gadis itu.
Itachi dan Sakura berdiri berdampingan di tepi ranjang, memperhatikan Sasuke yang tengah mengambil sebuah kotak kayu dari dalam plastik putih itu. Sedikit mengerutkan dahi, Sasuke membuka kotak kayu itu, yang ternyata isinya adalah—
"DANGO?"
Kerutan di dahi Sasuke semakin bertambah ketika ia menggumamkan nama jajanan bulat berwarna-warni yang ditusuk seperti sate terbaring manis dalam kotak itu.
Duh.
Sakura menepuk dahi lebarnya yang tertutup band-aid.
Sakura bodoh! Bagaimana mungkin ia membawakan makanan yang sebenarnya kesukaan si sulung Itachi? Seharusnya Sakura membawakan cowok berambut model pantat bebek itu—paling tidak—tomat segar. Oh, bukankah Sasuke itu—
"Aku nggak suka makanan manis," ucap Sasuke dengan suara beratnya yang khas.
Tepat.
Itachi tersenyum lebar. Well, jangan salahkan Sakura jika ia hampir—err... sama sekali tidak pernah makan berdua dengan Sasuke, dan tidak tahu menahu tentang jajanan favorit cowok berambut raven itu. Sedangkan Itachi? Oh, beruntung sekali si sulung itu.
Sekali lagi, Itachi seolah tidak bisa menyembunyikan ekspresi gembiranya. Ia merampas kotak dango dari tangan Sasuke dan menjejalkan sepotong dango ke dalam mulutnya. "Untukku saja," ujarnya di sela-sela kegiatannya mengunyah. ANBU berambut sepungungg itu kemudian duduk bersila di sebuah sofa di dekat jendela dan melahap empat tusuk dango dari dalam kotak yang diberikan Sakura.
"G-gomen, a-aku lupa," gumam Sakura seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia sungguh malu dan sedikit merasa bersalah.
"Hn," jawab Sasuke singkat.
"Syukurlah k-keadaanmu sudah baikan." Sakura melanjutkan. "Aku pamit dulu, Sasuke-kun, Itachi-nii," ucap Sakura seraya beranjak dari tempatnya berdiri. Gadis itu tersenyum tatkala melihat Itachi mengangguk ke arahnya dengan mulut penuh dango.
Sakura melangkahkan kakinya dan memegang kenop pintu kamar Sasuke dan berhenti sejenak. "Oh ya, Sasuke-kun," ujarnya tanpa menoleh. "Nanti malam... festival Tanabata."
BLAM
Dan kamar itu kembali hening.
.
.
DRAP DRAP DRAP
"Sakura!"
Suara baritone Itachi menghentikan langkah Sakura tepat di depan pintu masuk rumah keluarga Fugaku itu. Sakura menoleh—hanya untuk mendapati sebuah tangan besar menepuk pelan pucuk kepalanya dan mengelusnya lembut.
Sakura menunduk, menggigit bibir bawahnya ketika menyadari wajahnya hanya beberapa senti di depan dada bidang Itachi yang terbungkus kaus hitam.
"Gomen ne," kata Itachi dengan nada tenang, mencoba mengabaikan perasaan meletup-letup dalam dadanya. Ia tahu, kunoichi yang tengah menunduk di hadapannya ini bahkan jauh lebih terluka dibanding adiknya sendiri. Dan itulah yang membuatnya begitu menyayangkan ego Sasuke yang terlalu berpengaruh.
Sakura menggeleng lemah. Ia kemudian memberanikan diri mendongak, menatap onyx Itachi yang lebih tinggi darinya, dengan senyum masam. "Daijoubu desu, Itachi-nii," ucapnya pelan.
Itachi kembali mengulum senyum seraya menyingkirkan telapak tangannya dari kepala Sakura dan memasukkannya ke dalam saku celananya. "Mungkin dengan ini Sasuke bakal belajar untuk menyukai makanan manis," lanjut Itachi masih dengan senyum ramahnya.
Mau tak mau, Sakura cekikikan mendengar ucapan ketua ANBU itu. Secara tidak langsung, meski hanya sejenak—ia telah melupakan kejadian mengerikan kemarin. Sadar atau tidak, Uchiha Itachi selalu bisa membuat perasaannya jadi lebih ringan.
Ah, Uchiha itu~
.
.
.
Haruno Sakura merapihkan kanzashi berbentuk mawar merah yang tersisip pada rambut merah muda pendeknya yang tergelung sedikit berantakan. Beberapa helai bagian depannya jatuh membingkai wajah oval gadis itu—membuat riasannya terlihat lebih natural, serta dengan bedak bayi tipis yang memoles wajah manisnya.
Selesai dengan rambut, Sakura memundurkan tubuhnya dari cermin—memperhatikan penampilannya secara keseluruhan, dari ujung kaki sampai ujung kepala bubble gum-nya. Ah, yukata hijau gelap dengan corak bambu dan obi hijau pucat itu tampak begitu cocok melekat di tubuh kurusnya. Paling tidak, ia jadi kelihatan lebih berisi dengan pakaian itu.
Sakura memutar tubuhnya. Mengamati obi-nya dengan seksama. Memasang obi merupakan pekerjaan tersulit bagi Sakura. Apalagi kali ini ia harus memasangnya sendiri, mengingat ayah dan ibunya sudah berangkat ke kuil lebih awal. Medic-nin itu tersenyum puas setelah memastikan penampilannya sudah cukup sempurna untuk pergi ke festival dan menyapa semua warga. Well, bagaimana pun Tanabata hanya terjadi setahun sekali.
Puas dengan penampilannya, Sakura bergegas berlari menerjang pintu rumahnya. Ia meraihl pokkuri-nya di getabako dan segera memakainya—sedikit limbung karena haknya yang sedikit lebih tinggi dari sandal ninjanya yang biasa.
Sakura berlari kecil menuju pusat festival, di mana semua orang sedang berkumpul dan bersenang-senang dengan beberapa stan jajanan tradisional dan stan permainan. Semua warga tampak sama kali ini—tidak ada perbedaan warga sipil atau pun shinobi. Yukata yang mereka kenakan pun berwarna-warni. Ah, tanpa sadar Sakura mengembangkan seulas senyum bahagia. Terlepas dari masalahnya dengan Sasuke belakangan ini, ia cukup menikmati suasana santai seperti ini. Hn, musim panas memang selalu bisa membawa pengaruh positif, ya.
Tapi ada yang kurang.
Tentu saja.
Pergi ke perayaan Tanabata tanpa ditemani seorang kawan adalah hal yang cukup membosankan. Meski kunoichi ber-yukata hijau gelap itu memamerkan senyum lebarnya pada setiap warga yang ia sapa, tetap saja merasa kesepian. Kepala permen kapasnya celingukan mencari wajah-wajah yang dikenalnya dekat. Ke mana Naruto? Ino? Ayolah, bahkan Akamaru pun tidak kelihatan.
Sakura menghembuskan napas panjang.
Sedikit bosan dengan acara kelilingnya yang hanya seorang diri, ia memutuskan untuk langsung ke kuil, menuliskan permohonannya pada tanzaku dan menggantungnya di pohon harapan. Namun—
"OOOIII~! SAKURA-CHAAAANN~!"
Sakura belum pernah sebahagia ini mendengar teriakan itu. Pekikan yang terdengar lebih nge-bass dibanding tahun-tahun sebelumnya. Suara dari orang yang sama, yang menjadi sahabatnya sejak masih genin—Uzumaki Naruto.
Sakura menoleh, mendapati hampir semua rookie dua belas telah berkumpul. Mereka tampak baru saja selesai makan di kedai Icharaku. Ah, tentu saja Icharaku. Mengapa dari tadi Sakura tidak kepikiran untuk mencari mereka di tempat itu?
"Woof!"
"Hai, Akamaru~" Sakura mengelus-elus kepala Akamaru ketika anjing besar itu berlari riang menghampirinya.
"Yo, Sakura!"
"Sa-Sakura-san..."
"Sakura-san—kau bagaikan orihime yang nyasar ke bumi malam ini! Sangat mempesona!"
"Hn, Sakura."
"..."
"Ne, Sakura-chan cantik sekaliiii~!"
"Heh, jidat lebar! Kau ke mana saja, hah?"
"Hai, Sakura!"
"Zzzz..."
"Jangan tidur sambil berdiri, Shikamaru!"
"Aku masih lapar~"
Sakura tersenyum geli. Melihat semua teman-temannya berkumpul dan menyapanya satu per satu dengan gaya khas mereka masing-masing membuatnya begitu bersyukur. Ah, kalau diingat-ingat, dulu Sakura tidak punya teman-teman menyenangkan seperti ini rasanya.
Tapi sepertinya masih ada yang kurang.
Dare?
Ah, Uchiha Sasuke. Sepertinya anak itu tidak datang ke perayaan tahun ini. Sakura menggigit bibir bawahnya, sedikit kecewa menyadari salah satu teman setimnya itu tidak berkumpul bersama. Mungkin ia sedang berada di kuil Nakano. Merasa bersalah, Sakura?
Seharusnya ini menjadi perayaan yang menggemberikan. Seharusnya festival ini semeriah tahun-tahun sebelumnya. Tapi tidak untuk tahun ini. Pikiran Sakura melayang-layang. Meski kakinya melangkah mengikuti gerombolan shinobi-shinobi remaja itu berkeliling—mencicipi jajanan dan bermain di stan-stan—namun jiwanya benar-benar belum bisa tenang.
Mata emerald yang bersinar di antara lampion-lampion remang itu tampak beberapa kali mengamati sebuah bangunan besar yang berada di sebelah timur pusat festival. Bangunan itu tampak sepi, meski beberapa lampu di jendela-jendalanya masih menyala. Rumah Sakit Konoha.
Kuroyama Keitaro.
Sou desu ne, Sakura pernah berjanji pada Keitaro bahwa mereka akan pergi ke perayaan Tanabata bersama-sama tahun ini. Kesempatan yang berharga itu jadi hancur begitu saja. Sakura kembali menghela napas panjang dan menggigit bibir bawahnya. Perasaan bersalah itu kini meluap dalam dadanya. Bukan. Kali ini bukan untuk Sasuke.
Sakura memperhatikan sekelilingnya. Tanpa sadar ia telah berjalan sendirian di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang dengan canda tawa mereka. Tidak—sebenarnya Sakura tidak benar-benar sendirian saat itu. Tapi yang membuat ia merasa begitu terasing adalah pemandangan di sekelilingnya.
Naruto dan Hinata yang tampak sedang bermain menangkap ikan koi; Neji dan Tenten yang sedang memilih-milih manisan apel dan permen kapas sambil bergandengan tangan; Ino yang dengan semangat menyeret Shikamaru ke stan permainan boneka; bahkan Kiba tampak begitu asyik bermain kembang api kecil dengan Akamaru dan Shino.
Sakura tersenyum kecut. Sadar tidak ingin mengganggu, ia memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri—menjauhi keramaian festival.
Gadis berambut bubble gum itu berjalan tanpa tahu arah, sekedar mengikuti kemana kaki-kaki jenjangnya membawanya pergi. Hingga akhirnya ia berhenti di sebuah jembatan. Jembatan yang penuh kenangan. Jembatan yang dulu selalu menjadi tempat tim tujuh menunggu Hatake Kakashi yang selalu terlambat entah-karena-apa—dengan berbagai alasan konyol sebagai alibinya.
Sakura tersenyum mengingat masa-masa itu. Bukankah dulu itu sangat menyenangkan?
Tapi tidak ada waktu untuk terus tenggelam dalam kolam yang orang sebut kenangan. Karena tidak selamanya hidup itu bahagia, dipenuhi tawa bak mentari yang tak pernah terbenam. Masa-masa sulit akan selalu datang menghampiri—tidak peduli siapa dan bagaimana. Sakura sadar akan hal ini. Inilah saat-saat sulit yang akan membuat seseorang menjadi lebih kuat.
Seperti halnya kunang-kunang yang bersinar di sekeliling jembatan itu—menari-nari indah di sekitar Sakura, seolah turut bergembira merayakan festival tahunan Tanabata.
Sakura mendongak—menatap langit malam cerah di atasnya. Langit hitam yang indah dengan berjuta bintang yang menghiasi galaksi bima sakti yang terbentang membujur kathulistiwa. Biasanya, kembang api baru akan dinyalakan menjelang tengah malam. Dan saat-saat seperti itu akan lebih indah jika dinikmati bersama dengan orang-orang terkasih. Tapi tidak untuk tahun ini bagi Sakura. Jika tahun lalu ia melihat kembang api bersama Naruto dan Sasuke, atau bersama Ino dan yang lainnya, maka sepertinya hanya serangga-serangga kecil yang akan menemaninya melihat keindahan kembang api malam musim panas tahun ini.
Seolah ingat akan sesuatu, Sakura sedikit tersentak dan segera berlari menuju kuil kecil di dekat perbatasan hutan kematian.
.
.
Sosok gadis berambut merah muda dengan yukata hijau gelap yang tengah berlari-lari kecil di sekitar sungai tertangkap oleh tatapan tajam sepasang onyx di antara lampion-lampion festival di kejauhan. Pemilik mata onyx itu mengenakan kinagashi abu-abu dan geta yang tidak terlalu tinggi. Ia mendengus pelan.
"Ne, Sasuke—mau dango?"
"Aku nggak lapar, Nii-san."
"Hn, jangan-jangan kau cuma lapar Sakura, ya."
"Nii-san..."
"Maaf. Tapi dango ini sungguh enak."
"Tch."
"Kalau kau nggak lapar sakura, biar aku saja yang makan."
Twitch. Saraf di pelipis Sasuke berkedut. "Nii-san—!"
"Apa yang kau pikirkan? Maksudku 'kan sakuramochi ini, Sasuke."
"Ugh~"
"Hn, dasar mesum."
"Nii-san yang mesum."
"Tentu saja kau, baka otouto."
.
.
.
"Konbanwa, Haruno-san..."
"Konbanwa, Suzuki..."
"Konbanwa, Sakura-senpai~!"
"Konbanwa, Ichinose-kun..."
"Haruno-san, konbanwa..."
"Ah, konbanwa, Ono-san—kau nggak ke festival?"
"Iie. Kalau aku pergi, siapa yang bakal merawat Kaguya-san?"
"Ah, benar juga. Baiklah, sampai nanti~"
"Sampai nanti, Haruno-san."
Haruno Sakura tampak berjalan dengan santai menelusuri koridor utama rumah sakit Konoha. Sesekali ia menyapa beberapa perawat yang rela mengabaikan libur mereka untuk menjaga pasien-pasien di rumah sakit. Ah, medic-nin Konoha yang berada di bawah pimpinan Hokage langsung memang tidak perlu diragukan lagi loyalitas dan kemampuannya.
Sakura berhenti di depan kamar 205, tempatnya menginap kemarin malam—yang juga merupakan tempat pemulihan kondisi fisik Kuroyama Keitaro setelah insiden di Laboratorium Orochimaru kemarin. Gadis itu membuka pintu di depannya perlahan, dan mengintip penghuni kamar itu.
Masih belum sadar, pikir Sakura. Ia melangkahkan kakinya masuk perlahan-lahan, menghampiri meja kecil di dekat ranjang dan meletakkan dua buah manisan apel dan sekotak takoyaki.
"Ini aku belikan di stan milik Nana-san, lho, Keitaro," ucap Sakura pada Keitaro yang masih mengeluarkan dengkuran halusnya—tertanda ia masih terlelap dalam dunia mimpinya. Sakura mengamati Keitaro. Tidak ada respon—tentu saja. "Takoyaki-nya masih hangat," lanjutnya pelan, mengabaikan bahwa yang diajak bicara tidak akan pernah menyahut.
Sakura berjalan mengitari ranjang Keitaro, ke sisi di sebelahnya. Ia membuka tirai yang menutupi kamar berbau obat itu dari dunia luar, dan membuka jendelanya lebar-lebar—membiarkan semilir angin malam merayap masuk menyejukkan kamar itu. Kunoichi bermata emerald itu kemudian mematikan lampu di ruangan itu, membuat cahaya bintang dan lampu-lampu warna warni festival berpendar menerangi sisi tepi jendela kamar.
"Nah, indah, 'kan?" ujar Sakura. Ia merogoh kantung rajutnya dan mengeluarkan dua lembar kertas kecil berwarna merah dan kuning. Sambil tersenyum penuh arti, gadis itu kembali mendekati meja kecil tempatnya meletakkan manisan apel dan takoyaki. "Ini namanya tanzaku," katanya seraya menunjukkan kertas merah-kuning di tangan mungilnya. "Saat Tanabata, orang akan menulis permohonannya di kertas ini lalu menggantungnya di ranting daun bambu—pohon harapan."
Keitaro masih tertidur.
Tidak ada respon—kecuali hembusan napasnya yang tenang.
"Yang merah untukmu saja." Sakura melanjutkan sambil meletakkan kertas merah di atas meja kecil tersebut. "Dan tanzaku yang kuning ini kertas permohonanku," gumamnya seraya merogoh laci meja dan mengambil sebuah pena hitam. Ia kemudian menuliskan sesuatu di atas kertas kecil kuning yang sedari tadi digenggamnya itu.
Setelah selesai menulis, Sakura tersenyum masam pada Keitaro—meski ia tahu cowok berambut burnette tidak akan bisa melihatnya. Sakura berjalan ke arah balkon yang terbuka di ruangan itu. Dan di tepi pagar pembatas balkon, terdapat sebuah pohon bambu kecil yang ditanam di pot. Sudah jadi tradisi Konoha bahwa setiap musim panas, balkon-balkon rumah sakit dihiasi dengan masing-masing satu pot pohon bambu setinggi 150 senti untuk menggantungkan tanzaku.
Dan tepat setelah Sakura menggantungkan tanzaku-nya pada ranting daun bambu itu, terdengar letusan dari arah bukit Hokage. Sakura menoleh, mendapati kembang api spektakuler menghiasi langit gelap dengan pendaran cahaya warna warni dan bunyi debum keras setiap kali bunga-bunga api itu meledakkan diri di angkasa.
Senyum Sakura lebar terkembang.
Ia masih terus menatap ledakan kerlip berwarna-warni yang menyinari langit malam dengan tatapan kagum. Senang—melewati malam ini meski hanya sendiri.
"Ne, Keitaro—mitte!" serunya seraya menunjuk ke arah langit di atas bukit Hokage. Sesekali kepala merah mudanya menoleh ke belakang—ke arah Keitaro yang tertidur—seolah cowok itu juga melihatnya dari belakang, sambil terus menunjuk-nunjuk kembang api yang meletup-letup di angkasa. "Kireinaa~!"
Gelap.
Itu yang dapat Keitaro gambarkan untuk keadaan sekelilingnya. Ia tak dapat melihat apa pun. Kecuali sayup-sayup suara seseorang.
"Waa~ Kirei~"
Ah, lagi-lagi suara itu. Keitaro tidak begitu pasti tentang apa yang didengarnya. Suara siapa itu? Ada apa di sana? Mengapa ia tidak bisa melihat apa-apa?
Perlahan kegelapan itu memudar. Samar-samar dapat dilihatnya langit-langit sebuah ruangan—yang entah mengapa sedikit berpendar akan cahaya warna warni. Hei, atap tidak berpendar! Dari mana asal cahaya remang-remang itu?
Keitaro menolehkan kepalanya ke kanan, mengamati sumber pendaran cahaya yang sedikit menerangi ruangan gelap itu.
Apa itu yang bersinar di langit malam?
Seperti bunga—lalu menghilang, dan digantikan dengan letupan cahaya lainnya.
Dan saat itulah kepalanya berdenyut nyeri. Rasa sakit luar biasa kembali menyerang kepala dan saraf-sarafnya. Entah mengapa ia merasa begitu lelah. Hingga sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, ia dapat melihat siluet seseorang yang mengenakan yukata hijau gelap, dengan kanzashi mawar merah menghiasi rambutnya berwarna unik—membelakanginya, menengadah menatap keindahan kembang api yang masih terus menari-nari di kanvas sang malam.
Sakura?
.
.
.
Kuroyama Keitaro menyesap teh hijau hangatnya sambil menikmati angin pagi membelai setiap inchi kulit wajah dan rambutnya di pagar balkon kamar 205, Rumah Sakit Konoha. Mata amethyst itu kini tak terbingkai kacamata ovalnya yang biasa.
Ia menghela napas panjang, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Ah, rasanya Keitaro memimpikan sesuatu yang cukup menenangkan; kembang api. Seumur hidup Keitaro belum pernah melihat kembang api secara langsung. Dan yang semalam itu rasanya nyata sekali.
Iris amethyst Keitaro tanpa sengaja memandang pohon bambu yang berdiri tak jauh di sebelah kanannya. Daun-daunnya bergerak-gerak lembut diterpa angin pagi. Tapi bukan bambu itu yang menarik perhatiannya. Kertas kuning yang menggantung di salah satu ranting daunnya—yang turut berkibar karena hembusan angin.
Keitaro berjalan pelan menghampiri pohon yang tidak lebih tinggi darinya itu. Ia menelengkan kepalanya, mengamati kertas kecil kuning yang masih berkibar itu. Diraihnya kertas itu. Ah, ada tulisan di baliknya.
Jika saatnya sudah tiba,
semoga Keitaro bisa pulang dengan senyum bahagia~
-haruno sakura-
Pandangan mata amethys itu melembut, bersamaan dengan naiknya sudut-sudut bibir tipisnya—membentuk seulas senyum tulus.
Nyata, batinnya bergumam.
.
.
.
Ne, Legenda Tanabata mengisahkan tentang bintang Vega—bintang paling terang dalam rasi Lyra—sebagai Orihime, dan bintang Altair—di rasi Aquila—sebagai Hikoboshi, si penggembala sapi. Konon, jika hujan turun pada saat malam Tanabata, merupakan air mata Orihime dan Hikoboshi yang menangis karena tidak bisa bertemu.
Tapi malam itu—di Konoha, langit begitu cerah dengan ribuan bintang yang berkelip, ditemani pendaran cahaya kembang api yang menari-nari riang.
Sakura Haruno tersenyum, memantapkan hatinya.
"Orihime tidak akan menangis lagi meski tidak bisa bertemu dengan Hikoboshi."
.
.
.
.
Sakura Saku Machi Monogatari
Story 6
~ENDS~
Author's Note :
Yukata : kimono santai berbahan katun tipis tanpa pelapis untuk kesempatan santai di musim panas.
Obi : sabuk dari kain yang dililitkan ke tubuh pemakai sewaktu mengencangkan kimono.
Kanzashi : hiasan rambut seperti tusuk konde yang disisipkan ke rambut sewaktu memakai kimono.
Pokkuri : geta berhak tinggi dan tebal.
Geta : sandal berhak dari kayu.
Genkan : tempat di mana orang melepas alas kaki mereka sebelum masuk ke dalam rumah.
Getabako : rak/lemari untuk menyimpan alas kaki di samping genkan.
Kinagashi : kimono pria sehari-hari atau ketika keluar rumah pada kesempatan tidak resmi.
Tanzaku : secarik kertas berwarna-warni untuk menulis permohonan pada perayaan Tanabata.
Dare? : siapa?
Sakuramochi : kue Jepang bulat yang biasanya berwarna merah muda dan ditutupi dengan daun bunga sakura.
Baka otouto : adik laki-laki bodoh.
Mitte! : lihat! [look!]
[insert song : うたかた花火 — Supercell]
OKEE~! こんにちわ~ rei akhirnya apdet juga yah (^0^)/ maaf ya kalo kelamaan apdetnya~ ini juga udah ngebut kok *alesan—PLAKK* oke,
Oke bales review gak log in dulu~
vvvv :
eh? Awalnya gimana yak? Hn itu masih jadi misteri~ *ditabok* hehe, makasih udah R&R chap kemaren ^^ review lagi?
ddbb :
iya sasuke emang kasar. Yosh, ini uda apdet! Makasihh~ R&R lagi? ^^
Cyrax :
Hai'! arigato, cyrax-san ^^ sasuke emang parah tuh *deathglare* yosh ini apdetannya, semoga sukaa~ R&R lagi? Arigato!
ruki-ruki chan :
sipp makasih ruki-san, ntar rei sampein ke sakuranya deh xD inih apdet! R&R lagi? Domo arigato~
Kikyo Fujikazu :
Hehe ada dong, tuh sasuke nyatakan prasaan gitu *dijitak Sasuke* ^^ hai' ini udah apdet, R&R lagi? Arigato~
agnes BigBang :
lalalala sasu emang harus ngamuk! xD yosh nih apdet, makasihh yaa~ R&R lagi, ne? Arigato ^^
haruno gemini-chan males login :
hai hai hai, makasih ne~ ^^ inih inih uda apdet! R&R lagi, ne? Arigato gozaimashita xD
Just Ana g login :
Siap, ana-nee! Sasuke emang parah kok kalo lagi marah (==") tanya aja tuh sama Kabuto~ yosh yosh, ini uda apdet, nee! Makasihh... R&R lagi? Arigatoo~ xD
Putri Kecil Kuw :
Waa makasiii~ iya ini uda apdet ^^ R&R lagi yaa? *ngarep* arigato~ ^^
sasuxsaku forever :
eits eits, ingat sasuke bukan tipe yang bakal semudah itu minta maaf! xD kalo sasuke minta maaf, ntar OOC dong~ *digebukin Sasuke* yuhuu ini uda apdet! R&R lagi? Arigato~ ^^
nah, makasih juga buat :
Thia Nokoru, Ayumu to Miyako, 4ntk4-ch4n, applebumb, ayana rifa'i, Sagaarayuki, Valkyria Sapphire, Uchiharu 'nhiela Sasusaku, Aira Q-ara Cleopatra, UchihaKeyRaSHINee20, Umu Humairo Cho, Shubi Shubi, Ichika Harada de Chevalier, threedeathangel, Putri Luna, Kim Geun Hyun, Zhie Hikaruno-chan, Uchiha Reiko Ichihara, Anasasori29, Nanairo Zaocha, dan juga semua silent readers sekaliaaaann~! Your attentions are really precious for me~ ^^
Gimana untuk chapter ini? Menarikkah? Ato kurang gimana? Silakan muntahkan pendapatmu di kolam—eh, kolom review, oke? Ne? Ne? *deathglare* ahaha bercanda! Yosh, ini rei persembahkan buat yang udah setia nungguin SSMM sampe detik ini~ SEMOGA SUKAAA~! Xd
Trakhir, REVIEW おねがい?
Salam
Al-Shira Aohoshi
a.k.a
Andromeda no Rei
