The World Before her Eyes by Himawari96
I do not own of Naruto or Shingeki no Kyojin, nor the story
Saya telah meminta dan telah menerima ijin untuk mempublikasikan serta menterjemahkan cerita ini dengan beberapa pengeditan didalamnya.
.
Ini hampir waktunya. Aku akan keluar dari dinding-dinding ini. Sebagian diriku melihat ini sebagai kesempatan sempurna untuk melarikan diri. Bagaimanapun tempatku tidak disini, dan aku tidak menginginkan apapun yang melebihi kembali ke Konoha. Bagian lain diriku memiliki keinginan yang berbeda untuk membantu Eren. Aku berhutang budi padanya, karena dialah alasan aku keluar dari pengadilan dengan hidup-hidup. Dia mendukungku ketika dia sudah dalam posisi yang aman. Hanya sekali ini, aku ...bisa memanggilnya teman. Aku dan Eren bertemu dengan yang lain di ruang perlengkapan sementara atasan kami mengatur kuda-kuda diluar. Armin dan Connie mengisi tabung gas kami dengan teratur. Aku melihat gear milikku. Eren merangkulku sambil berjalan menuju kamar kami untuk mengambil gear-ku saat dia telah selesai bersih-bersih. Ini sedikit menganggu saat berjalan dengan seperti ini tapi ini tidak dapat membantu.
"Apa itu yang terakhir?" Jean bertanya pada si pirang yang sedikit berjongkok disebelah tabung persediaan. Dia mengencangkannya pada gear Mikasa.
"Ya kami sudah selesai dan siap."
"Bagus, sekarang kita bisa memakainya." Jean berjalan disekitar Eren dan berhenti secara tiba-tiba. Mata coklatnya mengamati wajah Eren. "Misi ini untukmu, kami diberitahu untuk melindungimu AT ALL COSTS."
Eren menegang. Aku bisa merasakan Mikasa agak mendekat diantara mereka.
"Eren, benarkah kau menyerang Mikasa saat kau menutup lubang di Dinding Rose?" Dia bertanya dengan getir. Mikasa menggeram.
"Tidak, ini hanya goresan." Dia berkata dengan cepat. Jean berputar kearahnya.
"Ini bukan hanya goresan! Mikasa, luka itu terlihat dalam,jika Eren memutuskan untuk berubah menjadi titan dan menyerang kita, lalu apa?!" Dia berbalik pada Eren. "Aku ingin tahu, untuk apa kita bertarung? Kami mempertaruhkan hidup kami untuk melindungimu, jadi aku ingin tahu, untuk apa kita bertarung?!" Mikasa melangkah.
"Kita bertarung karena itulah perintah untuk kita-"
"Mikasa, tidak semua orang disini sepertimu, kami tidak ingin mati untuk Eren tanpa sebab." Jean menyelanya. Mikasa menunduk dalam kekalahan. Eren menatap sekitar, tidak yakin apa yang harus dikatakannya. Dia menelan ludah.
"Aku, aku mendengar bahwa aku sungguh menyerang Mikasa, kurasa ini memang benar, tapi aku tidak mengingatnya, semua yang kuingat adalah mengangkat batu besar itu untuk menutup lubang." Eren terdengar seperti dia sedih karena telah melukai gadis berambut gelap itu. Jean mengejek. "Kau bahkan tidak tahu apa yang sedang kau lakukan dengan wujud titanmu, aku ingin bertarung, tapi kau perlu memberi kami sesuatu yang patut untuk diperjuangkan. Eren, berapa banyak yang bisa kau berikan kembali pada kami, berapa banyak kami bisa mempercayaimu?" Jean menggenggam bagian depan kemeja Eren, wajahnya hanya berjarak beberapa centi dari Eren. Mikasa terlihat bersiap untuk memukulnya menjadi bubur berdarah. Aku memperhatikan dengan ingin tahu bahwa Mikasa overprotektif pada Eren, sementara Armin biasanya bersembunyi dalam bayangan.
"Aku tidak tahu, berapa banyak yang bisa kuberikan padamu, tapi... aku akan berusaha yang terbaik untuk melindungi kalian." Eren berkata secara drastis, tangannya mengepal. Jean melepaskannya. "Itu cukup untuk kami, kami memperhitungkanmu, beberapa dari kami akan mati untukmu, jadi jangan mengacaukan ini sialan."
Eren menatap kami, matanya menyapu wajah kami semua dengan penentuan. "Tidak akan." Dia menjawab lembut.
"Baiklah, kita harus bergegas keluar." Ucap Jean. Armin mengangguk dan mengangkat tabung miliknya. Kami pergi keluar. Kuda-kuda berbaris dengan rapi di kandangnya. Aku bisa melihat para anggota lain pasukan pengintai memastikan pelana dengan kencang sebelum melompat diatasnya. "Anggota baru pasukan pengintai, kemarilah dan ambil seragam kalian." Suara Erwin melewati kami. Dia sedang berdiri didepan gedung dimana kami berbaris, menggenggam pakaian hijau yang terlipat. Dia tersenyum.
"Baik!" Teriak Connie sambil berlari kearah komandan, diikuti sisa anggota.
"Ayo." Eren menyikutku dan aku mengikuti trio untuk mendapatkan apa yang dihadiahkan untuk kami. Sebuah jubah-seperti jaket tanpa lengan. Erwin menatapku saat aku mengambil satu dari tangannya yang teracung. Pikiranku kembali pada waktu ketika titan Hanji dibunuh. 'Menurutmu siapa musuh itu?' Dia berkata pada Eren. Dia memberikan kepercayaannya padaku juga. Dia sama menakutkannya dengan Levi, dalam cara yang tenang. Aku memisahkan diri dari tatapannya saat aku menarik bahan diatas kepalaku. Aku meraba-raba sekitar sampai kepalaku muncul dari lubang jubah. Aku melompat mundur ketika wajah bosan Levi muncul didepanku.
"Disini kau rupanya, kupikir kepala pink akan menonjol diantara kerumunan ini, tapi kau sulit untuk dilacak." Aku berkedip saat dia menunjuk skuadnya. "Cari Eren dan temui yang lain, aku akan menemuimu segera untuk memberimu perintah." Aku menggumamkan 'ya' dan berjalan menuju tempat dimana tim Eren bertempat. Aku menangkap pemandangan Levi sedang berdiri disebelah Erwin. Mereka saling membicarakan banyak hal. Aku berharap aku tahu apa yang mereka bicarakan, aku tidak menyukai bagaimana ini terjadi.
Eren sedang berdiri dengan Armin dan Mikasa, saling bertukar kata. Aku menangkap mereka dengan cepat. "Hey, Levi ingin kita bergabung dengan skuadnya." Ucapku. Mata Mikasa memicing padaku. Aku bergidik ngeri, apa masalah perempuan itu?
"Oh baiklah, kurasa aku akan bertemu kalian lagi nanti teman-teman." Eren berkata pada keduanya. Mikasa mengamit tangan Eren.
"Berhati-hatilah." Dia bergumam dengan cemas.
Armin menatap kami berdua. "Semoga beruntung Sakura, Eren. Kita akan berjumpa setelah misi ini." Dia mengamit tangan kami berdua dan meremasnya. Jantungku serasa terhenti untuk sesaat. Orang-orang ini, mereka mengatakan selamat tinggal seolah-olah ini adalah saat terakhir mereka. Kenapa? Apa ini sangat buruk? Ketika aku berangkat dari Konoha untuk misi, tidak pernah seperti ini. Ini seolah-olah orang-orang menaburkan bunga untuk pemakaman kami secepatnya.
Armin melepaskan dan pergi. "Aku tahu... aku akan berjumpa kalian lagi." Dia mengucapkan salam perisahan pada Mikasa dan berlari menuju skuadnya. Mikasa melihat Eren sepintas dan memeluknya singkat sambil menggumamkan sampai jumpa padaku sebelum pergi.
"Ayo." Ucap Eren. Kami berjalan menuju skuad Levi. Petra dan sisanya sudah bersiap diatas kuda mereka. Ada dua kuda tersisa jadi aku dan Eren melompat diatasnya dengan mudah. Aku membelai rambut binatang ini dengan lembut. Aku sudah mengendarai kuda sebelumnya, di sebuah misi di tanah teh. Aku tahu aku menyukainya, tapi mengendarainya terlalu lama membuat bokongku sakit.
"Kukatakan, ini akan menjadi pertama kalinya bagi Eren dan Sakura di misi Pengintai. Hmm, waktu pertama bagi Petra mengerikan, dia kesal dengan dirinya saat melihat titan dalam jarak yang sangat dekat." Oluo menyeringai. Petra terkesiap.
"I-itu tidak benar! Aku tidak melakukannya!" Pipinya memerah terang saat dia memelototi Oluo.
Pria itu tertawa. "Tentu saja kau melakukannya! Aku mengingatnya seolah-olah ini kau melakukannya kemarin." Petra mendesis pada pria tua untuk diam.
Levi muncul dibelakang kami dengan kuda miliknya. "Apa yang sedang diributkan? Kita akan berpisah, dengarkan dengan hati-hati perintahku, kurasa kalian semua ingat rencana yang kita susun tadi malam." Mulutku hampir menghantam lantai. Aku tidur tadi malam! Mereka merencanakan misi tanpa aku. Aku mengerang. "Ini akan menjadi ekspedisi ke lima puluh tujuh diluar dinding, kita akan tetap bersama sebagai regu apapun yang terjadi, tidak ada yang meninggalkan lingkaran, tim lain memiliki pekerjaan yang lebih sulit untuk dilakukan, mereka harus mengingatkan kita pada titan yang mendekat dengan menembakkan asap hijau ke langit, ingat itu, kalian tidak benar-benar harus berbuat banyak selain mengikutiku, tujuan kita adalah membuatnya aman menuju hutan." Suara Levi lembut dan kuat. Aku bisa melihat Hanji berteriak pada skuadnya, dan Erwin berbicara dengan tenang. Sisa skuad yang lebih kecil berkumpul bersama untuk meninjau rencana. Rencana... aku masih tidak yakin dengan tujuan kami.
"Sakura." Suara Levi membawaku kembali pada kenyataan.
"Ya?" Aku berkata dengan cepat. Matanya mengeborku.
"Perhatikan, beberapa kesalahan bisa mengorbankan hidup." Aku mengangguk mengerti.
"Um, Levi. Apa yang kita lakukan sebenarnya? Maksudku, untuk apa misi ini?" Tatapannya menembusku.
"Kau akan segera mengetahuinya, jangan khawatirkan dirimu sendiri dengan hal itu sekarang, dan jika kau ingin menjadi anggota skuadku panggil aku sebagai korporal." Jantungku bergetar oleh ucapannya. Dia menekanku dalam jarak profesional. Baiklah, aku tidak peduli. Dia akan selalu menjadi Gila Bersih dan klon Sasuke bagiku. Dia bukan guruku, aku hanya mengikuti Kakashi-sensei. Tetap saja, jika berada di skuadnya berarti aku bisa bersama Eren, dan aku baik-baik saja denan itu. Bagaimanapun, hanya Eren temanku disini.
"Baiklah... Korporal." Gumamku, hampir dengan nada getir. Dia terus menatapku, ekspresinya agak menahan kebingungan.
"bagus, waktunya pergi, ingat untuk selalu disisiku." Perintahnya, dan mengarahkan kudanya kedepan. Tim lain berbaris dibelakang kami, sementara tim Erwin didepan.
"Jangan terkencing-kencing Eren, Sakura, aw!" Oluo melolong kesakitan saat dia menggigit lidahnya. Petra memelotot tajam padanya. Aku menghela napas.
"Tentu saja tidak aku tidak akan!" Jawabku. Langka kuda membuatku agak bergerak naik turun. Helaian merah mudaku terbang dengan liar disekitar wajahku karena udara. Sejak aku tidak memakai ikat kepalaku, rambutku menjadi tergerai bebas. Barangkali aku harus mengikatnya ekor kuda, pikirku. Aku memandang Eren. Ekspresinya terlihat berpikir penuh. Misi ini sebenarnya untuk menguji kemampuannya. Ini satu-satunya hal yang dapat kupikirkan. Kenapa ketua skuad merahasiakannya, siapa tahu. Sisa anggota terlihat tidak mengerti sama sepertiku, tapi tidak ada yang bertanya pada Korporal. Saat kami mendekati gerbang, kami disambut sorak-sorai dari orang kota. Barisan dari mereka berdiri di tiap sisi kota, berteriak pada Levi untuk membunuh titan, untuk memotong mereka. Aku menatap bagian belakang kepalanya. Dia terlihat santai dipuji sebanyak ini, dia pasti seorang pahlawan untuk desa ini. Aset yang bagus. Kami melewati kerumunan dan bergerak melalui gerbang yang dibukakan untuk kami. Untuk sesaat aku ingin bertanya kenapa kami memerlukan kuda, lalu aku ingat kenapa. Orang-orang ini bukan ninja. Mereka tidak bisa hanya berlari ke hutan sepertiku di tempat terbuka ketika ada banyak kanibal raksasa berkeliaran. Erwin meneriakan sesuatu yang tidak jelas pada tim lain yang menyebar di arah yang berbeda. Aku panik. Aku lupa apa yang dilakukan untuk sesaat. Levi bergerak maju dengan cepat, kudanya bergerak dengan kecepatan kencang membuat tubuhnya bergerak berirama. Aku mengikutinya dengan cepat, kuda milikku membuatku berpegangan pada pelana karena kecepatannya. Hanya tim kami yang bergerak lurus kedepan. Lainnya berpisah dalam empat arah yang berbeda di tiap sisi kami. Petra menangkap mataku dan dia tersenyum, meyakinkanku ini akan baik-baik saja. Aku benci tidak mengetahui apapun tentang ini, informasi selalu menjadi hal yang sangat penting untuk seorang ninja. Aku mengalihkan wajahku kedepan. Kami melingkar, dengan Levi didepan dan sisanya bergerombol membentuk seperti oval dibelakangnya. Kuda-kuda berlari dengan kecepatan penuh sementara kami mengendarainya dalam diam. Aku mendengar suara pop dan menatap kearah darimana ini berasal. Garis asap hijau muncul di langit disebelah kanan kami.
"Titan bersiaplah, heh, mereka hanya akan mengemis untuk mati ditanganku." Oluo membual dengan keras.
"Kita tidak bertarung dengan titan kecuali ini diperlukan, dan kau tidak turun dari kudamu pada situasi apapun." Levi berteriak.
Oluo merosot. Orang itu terlalu senang. Aku juga sedikit senang. Aku ingin melihat makhluk-makhluk yang ditakuti semua orang ini. Intinya dimana makhluk ini mengendalikan mereka untuk bersembunyi dibalik dinding-dinding raksasa. Kami mengendarai kuda dalam diam sekitar lima menit. Eldo dan lainnya mulai terlihat lelah. Pop lainnya membuat perhatianku teralih menuju langit. Sebuah jejak asap merah.
"Darurat?" Petra berucap sambil memandang asap. Pandangan Levi juga melekat pada asap itu. "Seseorang pasti turun dari kudanya, Eldo lihat apa yang terjadi dan bantu mereka." Levi terdengar tidak tentu.
"Ya kapten." Pria pirang itu mundur dari regu dan pergi menuju arah dimana asap berasal. Pop lain, asap merah membumbung di langit. Wajah Levi menggelap.
"Formasi pecah, idiot... tidak bisa melakukan satu hal." Suaranya rendah tapi aku bisa mendengar suaranya tidak teratur. Perutku menegang. Bukankah itu berarti bahwa mereka diserang?
"Haruskah kita menolongnya?" Aku bertanya dengan drastis. "Mereka bisa mati." Aku berbalik pada Petra dan lainnya. Mereka diam. Hanya Eren yang terlihat bingung dan cemas.
"Tidak, kita harus menuju hutan, hanya karena beberapa tim jatuh bukan berarti kita harus jatuh bersama mereka, terkadang, untuk bisa sukses pengorbanan harus dibuat." Mulutku menganga. Dia pasti tidak serius. Tapi... tidak ada yang mengatakan apapun. Tidak ada yang dilakukan selain berharap mereka tidak dimakan. Ini menyedihkan. Langit penuh oleh asap dan suara pesta kembang api dari senjata. Setelah sesaat aku dapat melihat hutan. Kami hampir sampai.
"Bentuk lingkaran yang lebih ketat, tetap didekatku." Levi memerintah. Kami menurut dan berlari dengan kecepatan yang cepat. Hutan jelas sekarang, dan ada sebuah jalan kecil yang sama seperti saat aku datang ketika pria tua menolongku. Aku berbalik pada Eren. Apakah dia bahkan tahu ayahnya ada diluar sini? Lagipula apa yang pria tua lakukan diluar dinding,dan bagaimanan dengan ini... kami memasuki hutan. Aku ditelan oleh bayangan-bayangan pepohonan. Bau familiar hutan mengembalikanku. Ini nostalgia. Aku memperhatikan orang-orang menegang, terutama Eren. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi... aku terkesiap. Apakah Levi bahkan tahu? Aku memandang punggungnya, simbol pasukan pengintai yang terdiri dari sayap biru dan putih bersinar dengan bangga di jubah hijaunya. Aku memiliki firasat Levi tidak mengetahui. Aku bertemu pandang dengan Eren. Bola mata birunya menahan kebingungan dan... ketakutan. Kami sebenarnya memikirkan hal yang sama. Kami berkendara selama beberapa menit sampai pop berhenti bersamaan. Keheningan yang mengerikan, membuatku menebak apa yang terjadi dengan skuad lain. Aku memegangi pelana. Ini bukan orang-orang dari duniaku, tapi mereka tetap orang. Aku tidak ingin siapapun mati.
"Apa kita hampir sampai?" Eren bertanya gelisah. Dia tidak menyukai situasi ini.
"Shh Eren, jangan berbicara, ikuti saja perintah Korporal." Petra bergumam. Matanya lebar dan dipenuhi ketakutan juga. Dia ketakutan. Ekspresinya tidak melakukan apapun untuk meringankan ketakutanku. Eren menggigit bibirnya dengan gugup dan berbalik. Aku terus memandang Levi. Apa yang sedang dia pikirkan? Aku akan memberikan apapun untuk membaca pikiran klon Sasuke. Kami berkendara selama beberapa menit sampai aku Gmenyerah. Aku sedikit bersabar. "Kita akan kemana?" Aku bertanya dengan keras. Aku tidak bisa memungkiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi.
"Kita akan bertemu dengan skuad Erwin dan Hanji secepatnya ditengah hutan, skuad lain akan tetap dibelakang dan memastikan tidak ada titan yang masuk kesini." Aku memberengut. Kami sudah berkendara selama lebih dari dua puluh lima menit dan masih belum melihat makhluk-makhluk yang konon memakan dunia. Aku melihat sekitar. Aku hanya melihat pohon, pohon dan pohon. Tidak ada titan. Dimana mereka? Lagipula kenapa kita akan ketengah hutan, untuk berlatih? Ini tentang Eren. Mereka akan memanfaatkannya untuk sesuatu tapi aku tidak dapat memahaminya saat suara tapak kaki kuda datang dari arah kananku dan aku seketikaperhatianku teralih. Eldo muncul, dengan Hwajah yang sangat ketakutan.
"Kapten! Ada satu titan betina cerdas menuju kemari." Dia berteriak. Napasku tercekat di tenggorokan.
"Cerdas?!" Petra berteriak. Eren terkesiap dan berbalik pada Levi untuk sebuah jawaban. Dia tidak mengatakan apapun, dia bahkan tidak berbalik.
"Kapten, apa yang kita lakukan!?" Oluo yang biasanya sombong kini tidak terdengar pembual lagi. Dia ketakutan.
"Kita tetap bergerak, jangan berhenti." Levi mengkomando. Eren meringis.
"Tapi Korporal, titan ini akan menangkap kita! Dia cepat! Tim Armin sudah tidak ada, mereka tidak memiliki kesempatan untuk melawannya, dia melindungi lehernya!" Eldo berteriak frustasi. Mata Eren melebar.
"Armin? Apa dia baik-baik saja?" Tanyanya sangat cemas. Eldo mengangguk.
"Dia baik-baik saja, titan ini tidak membunuh untuk makan, dia membunuh untuk membunuh, dia berjalan melewati Armin ketika dia turun dari kudanya, mengatakan bahwa titan itu mencari seseorang."
"Itu gila! Dia menyadari kelemahannya terletak dilehernya?! Bagaimana kita bisa mengalahkannya?!" Oluo berteriak. Dia kehilangannya. Petra bernapas berat.
"Diam! Dia tidak akan menangkap kita jika kita tetap bergerak! Jangan berhenti!" Levi berteriak. Dia juga, terdengar tidak yakin dan... marah. Aku tahu. Levi tidak tahu apa yang akan terjadi, selain kami harus bergerak ketengah hutan. Si buta memimpin orang buta.
"Tapi siapa yang dicarinya?" Eren berteriak. Dia mencengkram tampuk kuda dengan erat. Apakah yang sedang dicari titan itu... Eren? Jantungku hampir meloncat keluar ketika aku merasakannya. Tanah dibawah kami agak berguncang dengan pelan dan berirama. Ini cukup buruk semua orang panik, tapi merasakan tanah yang bergoyang membuatku ingin membentuk jutsu yang bisa membuatku menghilang dari sini selamanya. Kami semua tetap diam saat tanah bergetar lebih dan lebih kencang. Aku bisa mendengar debuman yang berbeda, seperti langkah kaki yang sedang berlari kearah kami. Langkah kaki lebar.
"Kapten!" Petra menjerit dalam keputusasaan. Aku menggertakan gigi. Apa yang sedang brengsek itu lakukan? Dia adalah kapten terburuk yang pernah ada.
"Eldo! Kawal kami beberapa saat, berusahalah untuk tenang! Semuanya tarik pedang kalian! Jika kau melihatnya lakukan dengan cepat." Levi berteriak pada pria pirang.
"Yes sir!" Dia berdiri diatas kudanya dan menggunakan gear-nya, dia terbang dan menyeimbangkan dirinya diudara diatas kami, mencengkram pedang dengan erat ditangannya. Dia bersiap untuk menyerang. Tiba-tiba segalanya terlihat dalam slow motion. Aku bisa mendengar jantungku berdegup kencang saat kami semua berbalik pria yang melayang diatas kami. Langkah kaki semakin terdengar keras... lebih keras. Jantungku berdegup kencang tiap detiknya. Aku menahan napas. Lebih keras... tanah memberikan guncangan terakhir.
Sebuah tangan raksasa tanpa kulit menabrak Eldo dan menerbangkannya menabrak sebuah pohon dengan kencang. Darah berceceran diseluruh udara. Aku menjerit. Dia sangat besar. Seekor titan, terlihat seperti seorang wanita dengan rambut pirang dan mata biru yang cerdik berlari dengan sebuah tangan yang teracung menuju kami. Tubuhnya tanpa kulit, dengan tulang di beberapa tempat. Wajahnya hanya satu-satunya bagian yang memiliki kulit, melindungi bagian atas matanya. Aku tidak pernah bisa menyiapkan diriku untuk ini. Aku tidak menginginkan apapun yang melebihi meninggalkan misi dan melompat menjauh dari pohon ke pohon dan tidak pernah melihat kebelakang. Ini tidak lebih buruk dari bijuu, atau kuchiyose. Tapi ini berbeda. Ini menyeramkan, tanpa kulit, kanibal raksasa. Aku tidak pernah melawan bijuu, dan tidak akan pernah bisa mengalahkannya. Aku bisa melakukan hal yang tak berbeda sekarang. Aku terkesiap. Kuchiyose. Aku bisa memanggil katsuyu! Dia bukan tipe petarung, dia penyembuh. Walaupun begitu, asamnya bisa lebih dari cukup. Ini yang kami butuhkan tapi, orang-orang ini tidak akan mengerti bagaimana aku bisa memunculkan seekor siput raksasa dimanapun. Akankah mereka melihat aku dan Katsuyu sebagai ancaman...
"Kapten! Dia semakin dekat, dia akan menangkap kita!" Petra berteriak. Aku bisa melihat sebuah bayangan tangan raksasa terlempar. Dia bisa menyabet salah satu dari kami segera. Dia menggelincir disekitar kami, menumbangkan pohon dalam proses. Eren menjerit.
"Tetap bergerak! Ini akan baik-baik saja!" Levi berteriak sambil menatap langit. Petra tidak yakin.
"Sial! Dia disebelah Eren? Kita kesini untuk menariknya kesini dengan punk ini dan sekarang kita akan mati!" Oluo berteriak ketakutan. Dia hilang kontrol. Eren menengok kebelakang dengan horror.
"Benarkah Korporal? Apa yang terjadi disini?!" Petra berteriak. Levi tidak mengatakan apapun. Orang-orang tiba-tiba muncul disisi titan.
"bala bantuan dari belakang?!" Petra berteriak. Seorang pria berputar di udara, menggunakan gear-nya untuk terbang dan bergerak untuk membunuh titan. Ini tidak bekerja. Titan itu menggenggam kawat dan melemparkannya pada pohon, meremas pria itu dibahunya menjadi bubur berdarah. Dia menjerit lalu mati. Seorang pria lain muncul dan berlari kearahnya yang hanya bernasib sama. Titan mencengkram kawat dan menariknya, menggenggam pria itu dengan tangannya dan eremasnya, meredam jeritannya. Darah lebih banyak muncul di udara.
"Kapten! Perintahmu!" Petra menjerit. Dia berguncang.
"Biarkan kami membunuhnya! dia akan menangkap kita jika begini terus menerus! Kita bunuh dia sekarang!"
"Kapten!"
"Levi!" Semuanya sekarang berteriak,bahkan aku. Aku panik. Dia menarik keluar sebuah senapan dan mengacungkannya keatas. Dia menarik pelatuk . Aku mendengar sebuah pop yang membuat telingaku berdenging.
"Granat asap?!" tanya Eren. Levi menengok kebelakang.
"Apa pekerjaanmu? Membiarkan perasaanmu mengambil alih seperti mereka sekarang? Tidak. Misi skuad ini adalah menjaga bocah itu dari satu goresanpun, bahkan jika mengorbankan hidup kita." Mike memasuki lingkaran, wajahnya suram saat dia berkendara. Lebih dan lebih banyak orang lagi bermunculan.
"Kita tetap pergi apapun yang terjadi, kita tidak berhenti apapun yang terjadi, mengerti?" suara Levi bahkan santai. Dia bahkan tidak terlihat takut sedikitpun.
"Roger!" Petra berteriak. Eren terkesiap tak percaya.
"Kita tetap bergerak?! Berapa lama? Dan titan itu dibelakang kita-" Kata-kata Eren dipotong oleh pasukan bala bantuan baru yang tiba-tiba muncul.
"Pasukan bantuan! Cepat, jika kita tidak menolong, mereka akan musnah! Tetap didepan! Tetap bergerak cepat dan jangan melihat kebelakang!" Anggota skuad ain berteriak padanya.
"Benar! Laksanakan perintah kapten!"
"Aku tidak mengerti kenapa kita meninggalkan mereka agar mati! Atau kenapa dia tak menjelaskan! Kenapa?!"
"Karena kapten memutuskan tidak mengatakan pad"a kita tentang misi ini, kau tidak mengerti karena kau baru!" Oluo menyela.
"Kenapa? Jika skuad Levi tidak mengalahkannya lalu siapa yang akanmelakukannya?!" Dia merespon keras kepala. Aku ingin ini berakhir. Seseorang menjerit. Kami berbalik demi melihat seorang pria menabrak pohon oleh ulah tangan titan.
"Dia mati! Dan mungkin kita bisa menyelamatkannya!" Eren berteriak dengan drastis. Dia kacau.
"Eren!tetap didepan!" Petra berteriak marah.
"Apa kau mengatakan padaku untuk menjauh?! Untuk meninggalkan teman-temanku dan lari?!" Eren bercekcok. Dia dibutakan oleh kemarahan dan ketidakberdayaan.
"Dengar! Aku bisa menjatuhkannya! Yang harus kulakukan adalah berubah!" dia menahan tangannya didepan mulutnya.
"Apa yang kau lakukan, Eren?! Kau kami!"
"Jika kau mengamuk aku tidak akan ragu untuk membunuhmu ditempat, hanya perlu ikuti perintahku." Levi berbicara pada Eren dengan nada serius. Eren berhenti.
"Tapi jika aku tidak melakukannya dia akan menagkap kita! Aku bisa melindungi kalian!"
"Eren! Percaya pada teman-temanmu! Kami memilih untuk mempercayaimu, jadi balaslah dengan mempercayai kami, kami akan melindungimu!" Ucap Petra sambil menatap pemuda itu dengan mata madu besarnya. Eren sedang bertarung dalam kepalanya. Untuk kembali atau tidak.
"Tapi..." Dia memulai.
"Jika kau ingin melakukannya maka lakukanlah, kau tidak bisa mencapai sesuatu tanpa pengorbanan, hanya perl meyakinkan bahwa kau memilih untuk melakukannya, kau tidak memiliki penyesalan, bisa kukatakan, dia raksasa yang nyata, tidak peduli apa yang kau katakan padanya, tidak peduli apa yang mengurungmu padanya,dia tidk akan pernah menyerahkannya pada siapapun ." Kata Levi, memberikan prospek untuk membiarkan Eren . Oluo mengangguk padanya. Eren menurunkan tangannya. "Eren, perbedaan antara kau dan aku adalah tentang pengalaman, tapi kau tidak harus mengandalkannya, pilih, percaya pada dirimu sendiri, atau percaya pada pasukan pengintai dan aku, aku tidak tahu dan tidak pernah meminta, aku mempercayai kemampuanku, atau pilihan dalam sahabat yang kupercaya, tapi tidak ada yang pernah tahu bagaimana caranya." Aku hampir terhipnotis kata-kata Levi. Eren menurunkan tangannya sepenuhnya.
"Percaya pada kami." Petra berbisik. Eren berguncang.
"Kau mengambilnya terlalu lama! Apa pilihanmu?!" Levi berteriak. Mata Eren berkaca-kaca seolah-olah dia ingin menangis. Dagunya mengeriput.
"Aku akan maju!" Dia berteriak. Aku menengok kebelakang pada titan. Kami semua akan mati. Makhluk itu akan menggepengkan kami. Tapi bahkan begitu... mereka menaruh kepercayaan pada Levi. Aku menggigit bibir, mataku berair juga. Orang-orang mati di kanan kiri, dan tetap saja, skuad ini memilih untuk meneruskan. Aku... harus melakukan sesuatu. Bahkan jika ini berarti menghancurkan kepercayaan yang mereka berikan padaku. Mereka saling percaya. Aku akan membunuh titan itu, pikirku. Aku mengangkat jariku untuk menggigitnya dan memanggil Katsuyu ketika sebuah letusan meledak. Kami semua terlonjak kaget saat Erwin dan Hanji berteriak pada skuad mereka. Asap menutupi. Kami tetap melanjutkan berkendara.
"Mereka melakukannya... jangan berhenti, tetap bergerak, Mike, kau yang memimpin, aku akan membantu mereka,jangan berhenti dalam situasi apapun sampai kau sampai ditengah, mengerti?" Mike menggumamkan ya dan melaju didepan kami. Aku menatap Levi saat dia menyamakan posisinya pada Eren.
"Saat kau berada dalam jarak yang cukup yang bagusjauh dari titan, sembunyikan Eren, dan tetap perhatikan Sakura." Dia melesat. Aku bisa melihat titan wanita diikat dengan kawat berlapis saat oleh kesatuan penyelidik yang mengerubunginya. Dia menahan tangannya diatas leher.
"mereka tidak bermaksud untuk mengambil titan itu dalam keadaan tetap hidup kan?" Eren bertanya.
"Kami telah menangkap titan, mengerti Eren? Ini kekuatan kesatuan penyelidik! Jangan meremehkan kami bodoh!" Oluo membual dengan bangga. Petra tersenyum.
"Ya!" Eren berteriak dengan lega. Aku tetap terdiam. Ini terlalu mudah... ini tidak mungkin bisa secepat itu.
"Kau baik-baik saja, Sakura? Kau kelihatan pucat." Eren berkomentar. Aku menganggukkan kepalaku. Aku tidak bisa menghilangkan perasaan burukku. Jantungku masihberdegup karena pengalaman ini.
"Y-ya... aku hanya kaget, aku tidak pernah melihat titan sedekat ini sebelumnya..." aku merespon dengan bergetar. Itu adalah makhluk yang telah memakan setengah dari populasi didunia ini.
"Huh? Tapi bukankah desamu diserang?!" Oluo bertanya dengan curiga. Aku tetap terdiam, terlalu lama untuk mempross pertanyaannya.
"Tinggalka dia sendirian, dia kaget." Petra membelaku. Aku menggigil ngeri. Ini terlalu cepat. Aku melihat kebelakang pada titan yang menjerit. Aku hampir menyerah pada diriku sendiri. Aku beruntung aku tidak segera memanggil kuchiyose. Mike mengarahkan kami maju. Kata-kata Levi mengembalikanku. Kau tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang akan terjadi. Apa yang akan terjadi jika aku melakukan jurus kuchiyose... menggigit bibirku. Aku tidak tahu, dan aku berharap aku tidak akan ditemukan. Kami harus menyembunyikan Eren untuk sekarang, aku bisa menyelesaikan masalahku lain waktu. Kami mengendarai kuda sambil bersorak disisa perjalanan. Ketakutan kami terlupakan
chapter yang sangat panjang -" RnR?
