Seoul, 11.47am

Baekhyun masih duduk disofanya setelah 15 menit, masih fokus membaca artikel pendek yang dikirim oleh Minseok. Keningnya berkerut, dia berusaha mencari berita lain yang ada kaitannya dengan berita tersebut. Nama Chanyeol ada disana, disebut sebagai pahlawan bagi para penumpangnya.

Beep beep

Ponsel Baekhyun berdering, dengan sangat segera pria mungil itu mengangkatnya.

"Ya! Aku sudah membaca beritanya. Bagaimana keadanmu? Apa kau baik?" Tanya Baekhyun dengan cepat dan lantang. Diujung telepon hanya terdengar suara kekehan.

"Hyung? Tumben sekali kau bertanya seperti itu padaku?" Suara ini bukan suara Chanyeol. Baekhyun segera melihat layar ponselnya sambil bergumam tak jelas.

Dasar bodoh kau Byun Baekhyun.. buat malu diri sendiri saja. - inner Baekhyun.

"Eh, hehe. Halo Mingyu, maaf. Aku tidak membaca layar tadi".

"Apa hyung sedang banyak pikiran?" Tanya Mingyu dengan penasaran. "Berita apa yang kau baca?"

"Tidak ada. Hehe, ada apa Mingyu-ah? Tumben menelepon?" Ucap Baekhyun sambil menaruh iPadnya.

"Oh iya, apa hyung free siang ini?"

"Belum ada rencana akan pergi sih, kenapa?"

"Mau makan siang bersama? Aku sudah mau berangkat untuk menjemputmu, bersiaplah".

"Hah? Apa? Tapi, tunggu! Aku belum berganti baju, aku-"

"Cepatlah bersiap, aku memaksamu untuk hari ini. Hahahah. Sampai berjumpa beberapa menit lagi, hyung".

Beep!

Apa apaan ini. Disaat seperti ini Mingyu malah mengajaknya pergi? Sungguh rasanya ia ingin teriak saja. Pikirannya terlalu fokus pada keadaan Chanyeol. Dia masih menunggu kabar dari Chanyeolnya yang belum kembali mengabari. Dia butuh ketenangan.

Tapi ajakan Mingyu boleh juga. Lagipula dia hanya mengajak makan siang kan? Dia pasti nanti akan kembali bekerja lagi bukan? Ini jam makan siang. Baekhyun juga bosan dirumah karena libur hari ini.

"Lebih baik aku bersiap".

Baekhyun mengganti bajunya dengan setelan manis. Celana jeans denim, kaos putih polos dengan jaket denim biru muda, serta sepatu putih telah melekat dibadannya.

Beep beep

Incoming call

Angry Bird

Ponsel Baekhyun berbunyi, panggilan itu membuyarkan lamunan pria mungil tersebut. Dengan lesu Baekhyun menggeser tombol hijau.

"Halo?"

"Dimanakah dirimu duhai cabai?"

"Di apartemen Minseokie, kenapa?"

Minseok terdiam. Suara Baekhyun terdengar parau, membuat manager berisik itu sedikit khawatir dengan keadaan Baekhyun.

"Hey, kau tau? Priamu itu kuat. Lihatlah, dia tidak apa apa bukan? Bukankah tadi siang dia meneleponmu? Bagaimana keadaannya?"

Lenguhan nafas berat Baekhyun terdengar hingga ujung telepon. Baekhyun kembali menatap kosong kebawah, wajahnya bingung dan gelisah.

"A-aku tak tau. Sungguh menyakitkan rasanya, aku sangat khawatir. Dia meneleponku tadi siang saat masih dibandara, dan berjanji akan meneleponku setelah dia sampai di hotel. Namun sampai detik ini dia tak mengabariku lagi". Baekhyun menggigit ujung bibirnya.

"Baekhyunie, disana sudah tengah malam. Pasti Chanyeol masih shock sekarang. Perjalanan jauh itu melelahkan kau tau? Mungkin dia terlalu lelah, biarkan dia beristirahat". Kening Baekhyun melunak. Dilihatnya jam tangan rolex pemberian Chanyeol sambil berpikir sejenak. Betul juga, disini siang tetapi dini hari di Los Angeles.

"Baiklah. Setidaknya dia sudah mengabariku, dan dia baik baik saja". Baekhyun mulai tersenyum, memanjatkan Puji Syukur atas kesempatan yang Tuhan berikan padanya. "Anyway, aku akan pergi makan siang bersama Mingyu sebentar lagi".

"Loh? Mingyu tidak bekerja?"

"Hanya saat jam istirahat siang saja, aku tak akan lama". Ucap Baekhyun sambil memasukkan dompet ke pouch YSLnya.

"Baiklah, hati hati! Jangan nakal okay? Aku akan melaporkanmu pada Chanyeol jika kau nakal!" Ucap Minseok dengan nada mengancam. Meskipun Minseok belum bisa cocok bercengkrama dengan Chanyeol, tetapi si mungil bermarga Kim tersebut tetap mendukung penuh hubungan Penyanyi-Pilot tersebut.

"Iya iya, jangan khawatir. Hanya ada Chanyeol dihatiku. Hehe". Kekehan ringan akhirnya terdengar dari suara Baekhyun.

"Baiklah. Aku sedang disalon siang ini. Kita berjumpa besok dikantor jam 10. Jung ahjusshi akan menjemputmu pukul 9. See you!"

"Baiklah baby, see you tomorrow. Great day ya!"

Pip!

Baekhyun bergegas untuk turun ke lobby apartemennya, menunggu Mingyu di dropzone. Dan benar, nyatanya tak sampai 10 menit Baekhyun menunggu, motor Ducati hitam doff dipadukan body bergaris metalic senada berhenti tepat didepannya. Baekhyun agak sedikit kaget melihat orang didepannya, bahkan ia sampai mundur beberapa langkah dari motor tersebut.

"Hey, Maaf jika membuatmu menunggu terlalu lama hyung". Pria bermotor tersebut melepas helmnya santai. Seragam kepolisian sedikit terlihat saat pria itu menurunkan zip jaket kulit yang dikenakannya.

"Mingyu? Astaga maaf aku tak mengenalimu! Kau mengagetkan saja". Baekhyun terkekeh, dia mendekat pada Mingyu dan mengambil helm yang Mingyu berikan padanya.

"Demi efisiensi waktu, hyung. Tidak masalah menggunakan motor kan?" Tanya Mingyu sambil mengeratkan tali pengaman helm Baekhyun.

Baekhyun menggeleng manis.

"Tidaaak~ eheh"

Ya Tuhan, sangat manis - inner Mingyu

Mingyu kembali mengenakan helmnya lalu menghidupkan mesin 1200cc tersebut. Baekhyun mulai naik dan langsung berpegangan pada pinggang Mingyu.

"Kau sudah ada ide untuk makan?" Tanya Baekhyun pada Mingyu yang telah melajukan motornya dengan kecepatan ringan.

"Sudah kok. Kesukaanmu hyung, lihat saja nanti". Jawab Mingyu agak berseru karena helm full face nya yang sedikit mengganggu.

Baekhyun hanya mengangguk tanda setuju. Obrolan ringan masalah pekerjaan masing masing, menghiasi perjalanan mereka. Sekitar 20 menit melewati kemacetan Seoul, akhirnya mereka sampai disebuah area parkir yang lumayan luas. Lalu Mingyu mengajak Baekhyun berjalan sekitar beberapa menit, hingga tanpa sadar, Mingyu melihat Baekhyun tersenyum. Mereka masuk kesebuah perumahan yang sederhana, namun indah.

"Astaga, Mingyu. Disini sangat tenang". Baekhyun menatap sekeliling sambil menikmati udara musim gugur Korea disini.

Suara gemericik air disaluran irigasi, sampai indahnya alunan suara angin yang menerpa dedaunan dipohon, rasanya terdengar sangat menenangkan hati Baekhyun.

"Kau pernah kesini sebelumnya?" Tanya Mingyu. Pandangannya tak lepas dari wajah Baekhyun, bahkan sesekali Baekhyun memandang Mingyu dengan wajah bahagia.

"Ya! Satu kali. Saat itu aku kesini bersama program reality show. Namun tidak lama.. bahkan aku belum sempat berjalan jalan". Baekhyun berlari kecil ditengah jalan sempit yang licin itu.

"Awas, nanti kau jatuh". Ucap Mingyu sedikit berseru karena jarak mereka yang lumayan jauh.

"Tidak akan!" Baekhyun masih berlari kecil, sampai keujung pertigaan. "Kemana?"

"Belok kiri, Byun baby". Ucapan Mingyu membuat Baekhyun menghentikan langkahnya dan menatap Mingyu penuh tanya.

"Apa? Barusan kau memanggilku apa?"

"Byun baby. Panggilanmu dari para fans saat sekolah dulu". Mingyu mendekati Baekhyun hingga keduanya berjalan beriringan.

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Aku sudah berbeda sekarang". Pinta Baekhyun pada Mingyu dengan nada pelan.

"Kenapa? Kau masih seperti baby bagiku, hyung. Heheh". Jawaban Mingyu membuat Baekhyun manyun.

"Tidak. Aku tidak mau saja". Baekhyun kembali berjalan mendahului Mingyu. Hingga akhirnya Mingyu menarik lengan Baekhyun masuk ke sebuah restoran kecil disana. Mereka diarahkan kesebuah bilik dengan 2 bantal duduk dan juga berbagai macam makanan tradisional yang telah diletakkan diatas meja.

Baekhyun menatap meja makan itu dengan takjub. Lidahnya gatal ingin memakan makanan yang masih hangat dihadapannya ini. Baunya sangat harum dan menggugah selera.

"2 botol soju dan sup rumput laut Tuan Kim". Tiba tiba seorang ahjumma datang membawa botol soju dan sup rumput laut yang masih mengepul asap. Sepertinya baru saja matang.

"Wah, terimakasih ahjumma". Balas Mingyu dengan senyuman terbaiknya. Wanita itu berniat keluar dari milik private Mingyu dan Baekhyun, namun dia kembali mendekati Mingyu dan menunduk ringan.

"Oh iya, selamat ulang tahun, tuan Kim. Semoga panjang umur dan sehat selalu". Wanita itu berjalan menjauh dari dua orang didalam bilik restoran, dimana salah satunya memandang kosong kearah sup rumput laut dihadapannya. Ya, itu Baekhyun.

"Terimakasih ahjumma!" Balas Mingyu sedikit berteriak dan terkekeh.

"Kau- ulang tahun hari ini?" Baekhyun menatap Mingyu dengan wajah bingungnya. Dengan segera Baekhyun menghitung jumlah masakan dihadapannya sekarang, dan benar saja ada 9 jenis makanan. Ini upacara sederhana khas untuk orang berulang tahun di Korea. Wajah Baekhyun makin terlihat panik. Dia tidak tau bahwa hari ini ulang tahun Mingyu, maka dia tidak membawa kado.

"Iya hyung. Hey, kenapa wajahmu begitu?" Mingyu menyiapkan piringnya dan milik Baekhyun.

"M-mingyu, aku.. maaf aku tidak tau kau berulang tahun hari ini.. aku tidak membawa apapun.." Ucap Baekhyun dengan wajah puppy eyesnya, dia masih menatap Mingyu dengan penuh penyesalan.

"Astaga, Baekhyun hyung. Santai saja. Aku memang sengaja tidak bilang, dan hanya mengajakmu makan berdua. Bahkan ini direstoran langganan keluargaku. Aku ingin menghabiskan hari ulang tahunku dengan dirimu, walaupun hanya sebentar saja". Mingyu tersenyum menatap Baekhyun, disisi lain Baekhyun malah menatap bingung sang polisi.

"Ah. Baiklah." Dengan segera Baekhyun menuangkan soju ke gelasnya, lalu menuangkan juga ke gelas Mingyu dan langsung diterima.

"Terimakasih hyung".

"Sama sama Mingyu-ah! Selamat ulang tahun!" Keduanya minum bersamaan.

Keduanya mengetukkan gelas masing masing tanda cheers, dan langsung meminum dengan oneshot. Mingyu kembali membalikkan badannya setelah minum, dan menatap Baekhyun yang tersenyum sambil menatap hidangan didepannya. -di Korea, meminum alkohol memiliki aturan, yang lebih muda harus minum dengan menghadap kebelakang, sedangkan yang dituakan menghadap kedepan seperti biasa.

Senyum Mingyu terangkat, dia merasa tahun ini ulang tahun terindahnya. Dihadapannya kini tengah duduk seorang yang bahkan sampai saat ini masih menyisakan perasaan dihatinya. Atau mungkin bisa diralat menjadi -seseorang yang tak pernah bisa dia lupakan, seseorang yang telah mencuri hatinya sejak sekolah. Seseorang yang mengunci hati Kim Mingyu, seseorang yang membuat Mingyu menyimpan hatinya sampai hari ini. Ya, Mingyu telah lama menyukai Byun Baekhyun.

"Kau manis hari ini. Terimakasih sudah mau makan siang dan merayakan ulang tahun sederhana bersamaku". Ucap Mingyu dengan senyuman manisnya pada Baekhyun. Polisi itu melanjutkan makannya dengan santai, disisi lain Baekhyun menatap balik Mingyu dengan rasa penasaran.

"Sama sama. Oh iya, mengapa kau hanya mengajakku? Kenapa tidak orang tua, teman, atau mungkin kekasihmu? (-yeoja chingu?)" Tanya Baekhyun dengan pelan. Sebetulnya ini hal sensitif untuk ditanyakan. Tapi karena Baekhyun merasa sangat penasaran, maka ia dengan pedenya bertanya.

"Ayah ibuku masih di Gyeonggi-do. Ada yayasan dan usaha keluarga yang tidak bisa ditinggal disana, tapi mereka sudah mengucapkannya pagi sebelum aku bekerja. Teman.. ah semenjak bekerja, aku hanya dapat akrab dengan teman kantorku saja, dan mereka hendak merayakannya nanti setelah shift selesai. Dan, soal kekasih.. aku tidak punya kekasih. Lebih tepatnya, belum. Mungkin sebentar lagi?" Jawaban detail Mingyu sangat menjawab rasa penasaran Baekhyun.

"Ooh, begitu. Wah! Kau hendak menyatakan perasaanmu Mingyu?" Baekhyun tersenyum senang sampai mendiamkan kimchinya terjepit diantara sumpitnya.

"Hehe, iya. Tunggulah saja, habiskan makananmu dulu. Aku hendak memberitahu sesuatu padamu, hyung".

"Apa itu? Siapakah wanita beruntung itu, Mingyu?" Baekhyun telah menghabiskan makanannya, dia menatap Mingyu dengan penasaran.

"Hahah, kau penasaran ya?" Dan hanya anggukan yang Mingyu dapat dari Baekhyun.

Polisi berkulit tan tersebut menyingkirkan mangkuknya, lalu minum dengan santai. Baekhyun menatap setiap gerik Mingyu, menunggu jawaban dari pria dengan tinggi 185cm tersebut. Hingga akhirnya Mingyu terkekeh dengan Baekhyun yang mengikuti geriknya.

"Yaampun, jangan begitu. Aku jadi nervous". Tanya polisi itu dengan sok asik.

"Huh? Aku menunggu jawabmu, kau tau! Lama sekali tidak dijawab. YAAK! MALAH LANJUT MINUM..?!" Baekhyun memukul pelan bahu Mingyu yang malah lanjut meminum sojunya.

Kekehan Mingyu terdengar dari bilik mereka berdua, bahkan ia hampir tersedak sojunya sendiri. Baekhyun menggemaskan menurutnya.

"Hey hey, iya baiklah". Pria itu menatap Baekhyun dengan lekat secara tiba-tiba. Hal itu membuat Baekhyun dengan otomatis balik menatap Mingyu dengan mata mengintimidasi.

"Harus begitu ya menatapnya. Mata tajam milikmu menusuk mataku. Rasanya seperti dicolok saja". Baekhyun menutup mata sambil menguceknya pelan, seperti habis tercolok.

Sigh

Mingyu menghela nafas. Selalu saja Baekhyun menghancurkan moment serius saat ia sedang berusaha menggombali Baekhyun. Tapi biarpun begitu, si Kim ini tetap tersenyum.

"Byun Baekhyun.."

"APA?! Kau tukang colok!"

"Byun Baekhyun.. hahah astaga".

Mingyu berusaha serius, namun kelakuan Baekhyun membuatnya kembali tidak fokus. Hey, Baekhyun membuat Mingyu tertawa. Kemana Baekhyun kita yang sedang galau karena tidak kunjung menerima kabar dari sang pacar?

Bahkan obrolan mereka berlanjut sampai kemasa sekolah yang mereka habiskan bersama. Dan yang benar saja, mood Baekhyun naik dan kembali terkendali. Sikecil Byun ini mampu melupakan sejenak berita mengagetkan dari pacarnya yang jauh disana.

-My Special Flight with You-

LAX Airport, Los Angeles

"Please take some rest here, I'll reach some medicine for you both, capt. Wait for a moment okay?"

Disinilah Joohyuk dan Chanyeol, di klinik kesehatan LAX airport. Bentuknya seperti rumah sakit, sangat luas dan modern. Keduanya merebahkan diri di kasur yang letaknya bersebelahan. Captain dan first officer tersebut masih mengenakan seragamnya dengan lengkap.

"Kalian pasti masih shock". Ucap Seohyun yang duduk diapit dua kasur sambil mengusap lengan Chanyeol.

"Itu sangat mengagetkan Seohyun-ssi". Ucap Joohyuk sambil masih menutup matanya. "Argh, karena kejadian ini, kita harus stay 3 hari disini".

Kekehan Chanyeol dan Seohyun terdengar. Joohyuk terdengar sangat kekanakan, tapi Chanyeol sudah biasa dengan sifat Joohyuk yang satu ini.

"Aku tidak terlalu trauma, hanya sedikit shock. Aku sudah dua kali mengalami kejadian seperti ini. Saat itu aku bersama Captain Choi Minho, berusaha mendarat di Taipei. Tapi cuacanya sangat buruk. Walaupun tidak sampai merusak sayap sampai begini. Aku bisa mengontrol traumaku, tapi sepertinya Joohyuk yang lebih shock". Chanyeol bercerita pengalamanya didepan Joohyuk dan Seohyun dengan santai.

Joohyuk mengaggukkan kepalanya tanda setuju. "Jujur saja, aku hendak menangis tadi. Tapi karena Captain menyuruhku untuk tetap fokus, akhirnya aku bisa fokus".

Seohyun melirik Joohyuk dengan senyuman. "Kau anak yang hebat Joohyukssi. Jadilah sehebat Chanyeol".

"Tidak, kalau bisa kau harus lebih hebat dariku Joohyuk-ah". Ralat Chanyeol.

"Apa terjadi malfunction disayap kiri si biru?" Tanya Seohyun kepada keduanya.

"Ya, malfunction saat masuk flaps 2". Jawaban Joohyuk membuat Seohyun melotot.

"Ya Tuhan, beruntunglah kalian bisa mengontrol si biru itu. Yang penting semua penumpang selamat. Kalian sungguh hebat. Siapa flight pilotnya?"

"Joohyuk flight pilotnya, aku monitoring pilot". Chanyeol tersenyum pada Joohyuk. "Anak itu memang kadang menyebalkan, tapi dia hebat". Senyum kedua pria itu merekah.

"Tentu saja, siapa dulu flight pilotnya!" Kekehan terdengar lagi diruangan kesehatan tersebut.

"Tapi tidak ada pilot yang menangis saat bekerja". Ejek Chanyeol ke Joohyuk. Reflek Seohyun langsung menepuk pelan lengan Joohyuk dengan gemas.

"Hey, aku belum menangis. Baru akan menangis saja!" Lagi lagi gelak tawa muncul disana.

"Oh iya, bagaimana pekerjaanmu, Seohyun? Kau sedang stay ya?" Tiba tiba Chanyeol bertanya.

"Yap. sampai besok. Pekerjaanku.. Baik, tapi ya.. aku jadi jarang berbahasa Korea. Aku rindu bercengkrama dengan orang Korea seperti ini. Hah, ingin pulang saja rasanya". Jawab Seohyun seadanya sambil memainkan topi pilot milik Chanyeol yang digenggamnya.

"Kau terlihat sangat enjoy hidup di Dubai. Foto dan kegiatanmu sangat padat di instagram. Kau pasti sibuk ya kan?" Chanyeol berusaha menebak, tapi hanya kekehan yang dia dapat.

"Kau pikir bekerja di Emirates tidak penuh tekanan? Walaupun jabatanku SFA, tetapi tidak jarang ada rekan kerja yang memandangku sebelah mata, karena aku bukan local staff, dan itu menyiksaku, Chanyeol-ah". Senyuman Seohyun berubah menjadi senyum asam. Tanpa sadar Chanyeol mengusap kepala Seohyun dengan tangan kirinya.

SFA: Supervisor Flight Attendant - kepala Pramugari dalam setiap penerbangan.

"Tidak apa apa. Hadapi semuanya dengan senyuman. Kau sudah melakukan yang terbaik. Aku saja bangga padamu, karena kau bisa menembus ke pekerjaan beresiko ini dan mendapat jabatan khusus". Ucapan Chanyeol membuat Seohyun kembali tersenyum manis.

"Yak dasar yoda, kau membuatku terharu. Sudahlah. Seharusnya kan kau beristirahat!" Wanita tinggi itu menepuk lengan kekar Chanyeol pelan.

Cklek

"Excuse me, oh- your wife?" Suara dokter bernama Sarah tersebut menginterupsi keduanya. Pertanyaan tersebut bukanlah pertanyaan sulit bagi Captain Park.

"Ahah, she's not. She is my sister. Ah, actually, I'm in hurry, doctor. I need to go to my hotel". Chanyeol mulai mendudukkan dirinya di ranjang.

"Chanyeol-ah, sepertinya Joohyuk sangat kelelahan". Ucap Seohyun sambil menunjuk kearah Joohyuk.

"Astaga, Tuhan. Wajahnya jelek sekali". Chanyeol terbahak melihat wajah Joohyuk yang tidur dengan mulut terbuka. Sedari tadi Chanyeol dan Seohyun bercengkrama, ternyata pria Nam tersebut telah terbang ke alam mimpi.

Tidak lama, keduanya mendapatkan injeksi vitamin agar tidak drop saat menjalankan pemeriksaan esok hari. Chanyeol mulai berdiri dan Seohyun membantu membangunkan Joohyuk secara perlahan.

"Jadi, kalian akan diperiksa dimana?" Seohyun menyerahkan barang ke Chanyeol.

"Klinik maskapai. Doakan lancar, agar lusa kami bisa kembali ke Korea"

"Aku akan antar kalian ke hotel, sekalian berpamitan, karena esok siang aku harus kembali ke Dubai".

"Oh, begitu?" Joohyuk yang belum sadar dengan penuh, agak sedikit kaget dengan jawaban Seohyun.

"Iya Joohyuk-ssi, maka dari itu aku berniat mengantar kalian".

"Terimakasih Seohyun-ah" Chanyeol kembali mengusap kepala Seohyun lembut.

Akhirnya mereka bertigapun pergi bersama menuju hotel khusus yang telah disediakan oleh maskapai bersama Seohyun. Meski akhirnya Seohyun harus menggunakan Taksi untuk kembali ke mess maskapainya sendiri setelah mengantar pilot pilot tersebut.

-O-

Seoul, 19.25

"Pulang nak. Ibu sangat merindukamu". Tangis itu tak kunjung berhenti. Tangis seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan anak lelaki sematawayangnya yang kini masih berada dalam tugas dinasnya.

"Sudahlah, lagipula dia sudah sempat mengabari keadaannya melalui Baekhyun. Dia baik baik saja, yeobo". Tuan Park masih duduk dengan sedikit tegang di sofa tunggalnya, menghadap Baekhyun yang sedang mengusap lengan ibu Chanyeol sambil menggenggamnya erat.

"Betul yang dikatakan appa. Aku mendengar suaranya sendiri, bahkan Sehun selalu mengabari update tentang Chanyeol melalui berita dari kantor. Ia tidak apa apa, sungguh. Menurut kabar terakhir, dia sedang dalam pemeriksaan kesehatan, untuk mengetes mentalnya. Pasti para pilot sangat shock". Baekhyun tersenyum meyakinkan ibu Chanyeol untuk tetap tenang.

Namun tetap saja, wanita paruh baya tersebut tetap menangis. Ia sudah permah kehilangan Baekhee, dan sekarang dia hampir kehilangan anak lelaki satu satunya. Bisa kalian bayangkan seberapa khawatirnya ibu Chanyeol?

"Eomma, minumlah tehnya dahulu. Tehnya hampir dingin". Suara ini suara Park Yoora. Dia adalah kakak kandung Chanyeol, yang selama ini tinggal bersama ayah kandung Chanyeol semenjak ayah ibunya bercerai.

Baekhyun dengan segera mengambil cangkir teh dan meniupnya sedikit, lalu diberikan kepada nyonya Park.

"Eomma, ayo diminum sedikit". Dengan perlahan, nyonya Park meminum teh pemberian Baekhyun. Yoora dan Baekhyun mengurus nyonya Park yang sejak berita Chanyeol muncul pagi ini, langsung uring uringan. Karena Tuan Park kuwalahan menangani istrinya, maka guru besar Kyunghee University tersebut langsung menelepon Yoora dan Baekhyun.

Dimana Jiwon? Sejak pagi itu juga Jiwon menangis. Saat ini Jiwon sedang dibawa oleh suami Yoora yang mengajak Jiwon jalan jalan ke taman bermain agar fokusnya terpecah.

"Eomma, sabar ya? Kita disini menunggu Chanyeol. Aku yakin, dia akan pulang segera". Yoora memijat lengan nyonya Park dengan lembut, begitu juga Baekhyun yang menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapan Yoora.

"Ini yang eomma takutkan, saat Chanyeol meminta disekolahkan di sekolah penerbangan, eomma tidak mengijinkan. Karena ini yang eomma takutkan. Hiks. Chanyeol-ah, pulang nak". Tangis nyonya Park kembali menggema di ruang tamu mansion keluarga Park.

Baekhyun mengambil ponselnya setelah mengecek jam dinding. Dia langsung berusaha menelepon Chanyeol.

'Seharian tidak mengabariku dan keluarganya, dasar lelaki kurang ajar, bisanya buat khawatir saja'. - ucap Baekhyun dalam hati.

"Kau menelepon siapa Baekhyunah?". Tanya Yoora sambil memeluk ibunya.

Bukannya membalas, Baekhyun malah beranjak dan menuju teras didepan sambil terus menempelkan ponselnya ditelinga.

1x, 2x, hanya suara notifikasi tak terjawab yang dia dapatkan. Untuk percobaan yang ketiga kalinya, Baekhyun mendapat jawaban.

"Halo? Sayang?" Suara ini yang dia tunggu. Baekhyun memejamkan mata sambil mendengus lega.

"Dasar bodoh, idiot! Kau sadar tidak sih, kabarmu ditunggu banyak orang?" Lengkingan suara Baekhyun meninggi. Yang diujung telepon hanya heran sambil terkekeh.

"Astaga, aku baru selesai melakukan pemeriksaan, Baekhyuneeku sayang. Kau pasti khawatir padaku ya?"

"Tunjukan wajahmu".

"Apa? Untuk apa sayang?"

"Cepat tunjukan saja, idiot"

"Aku masih di klinik sayang, nanti di hotel saja, bagaimana?"

"Tunjukan wajahmu, sekarang. Aku sudah mengubahnya menjadi videocall".

"O-okay".

Chanyeol menjauhkan ponselnya dan mengubah modenya menjadi videocall. Disana terlihat Chanyeol menggunakan baju biru khas pasien. Disisi lain, Baekhyun hanya menatap Chanyeol dengan wajah nanar, matanya memerah menahan tangis. Keduanya saling menatap, Chanyeol tersenyum diujung sana.

"Hai, aku masih disini. Jangan sedih, kumohon. Buat aku semangat". Suara baritone lelakinya sungguh sangat menenangkan. Suara Chanyeol barusan sangat kalem, apalagi dengan tatapannya pada Baekhyun yang sangat dalam.

"Tuhan masih mengijinkanku untuk membahagiakanmu, sayangku. Ah, juga membahagiakan Jiwon, membahagiakan keluargaku terutama. Aku mohon berhentilah bersedih. Aku tidak perlu ditangisi, aku sudah sehat sekarang, dan besok aku akan pulang ke Korea".

Tetes manik berlian jatuh dari ujung mata seorang Byun Baekhyun.

"Aku membolos dari agensi hari ini untuk menunggu kabar darimu dan menenangkan eommamu".

"Eomma? Astaga. Kau sudah bilang pada Eomma bahwa aku baik saja?".

"Aku sudah bilang, tapi eommamu tidak berhenti menangis. Bahkan appa kuwalahan menenangkan eomma, sampai harus menghubungiku dan Yoora noona serta Hong hyung".

"Wah, kau memang calon pendampingku, Baekhyun. Sudah dong, jangan menangis. Aku kan baik baik saja sayang, ya?"

"Aku yang tidak baik saja".

Keduanya saling menatap dalam diam. Baekhyunpun terus menangis dalam panggilan tersebut.

"Maaf telah membuatmu khawatir karena kecelakaan pesawatku, Baekhyun. Pekerjaan ini kupilih karena aku merasa mampu. Dari pekerjaan ini kita dipertemukan. Dari pekerjaan ini aku mampu membahagiakan keluargaku, Jiwon kita, dan kau. Segala sesuatu memiliki resiko, dan ini salah satu resiko dari pekerjaanku. Tidak hanya pekerjaanku, pekerjaanmupun juga begitu".

Mata Baekhyun kembali tertutup, tangisnya kembali pecah dalam diam.

"Rasanya sakit sekali mendengar beritamu".

"Aku tau, aku sebenarnya juga takut. Sangat takut. Tapi karena aku percaya segala yang ditakdirkan Tuhan adalah yang terbaik untuk kita, maka aku berusaha untuk menjadikan itu pelajaran".

Baekhyun mengangguk, ia mendengarkan Chanyeol dengan sangat seksama.

"Aku bangga padamu, idiot".

Senyum mereka menghiasi malam dan siang hari dilokasi masing masing.

"Aku mencintaimu, tunggu aku. Karena sejauh apapun aku pergi, kau akan tetap menjadi tempatku kembali, Baekhyun".

"Aku juga sangat mencintaimu, aku akan menunggumu. Menunggumu pulang, dan akan terus menunggumu pulang, sampai kau benar benar pulang padaku, dan memelukku. Kau harus tetap pulang. Harus".

"Aku tak mampu/hidup tanpamu".

Kalimat itu, mereka ucapkan bersama, tanpa janji, tanpa kode. Keduanya ingin segera bertemu esok hari. Tidak peduli betapa lelah keduanya, yang jelas sejoli ini ingin segera bertemu.

Setelah melepas rindu, Baekhyun masuk kedalam rumah Chanyeol dan segera menyambungkan video call tersebut pada ayah, ibu, serta kakak kandung Chanyeol. Akhirnya Chanyeolpun melepas rindu dengan keluarganya.

TBC...

Aku menangis. Maapin alay yak. Tapi kok agak baper wkwk. Dasar xiu alay bat. Heran.

Btw gais, uda berjuta kali kumeminta maap atas keterlambatan update. Sumpah dah guah tuh kalo nulis mood2an banget sumpah gaboong.

Btw mental breakdown gue makin dlwm kenapa ya? Hiburan cu tu cuma ff2 aja... Tapi ttp aja w bacanya ff yg angst :) bego kan gw :)

Btw butuh vommentnya. Maap ya yang ini agak pendek. Biasanya w sampe 4500an kata. Tapi yang ini agak pendek. Soalnya aku mentok aja. Ehehe. Doain urusan aku lancar ya gais, soalnya lagi seret. Semoga kalo ga seret, aku bisa rutin up ff lagi.

ini aku langsung copas dr wp yha gaiz. maapkeun banyak anunya.