Title : Let Me Love You Again, Next Time.

Length : Chaptered

Main Pair : Sehun x Luhan (GS)

Genre : Family, Drama, Tragedy, Angst.

Chapter 6

Ketiga bersaudara itu duduk di teras lantai dua. Jae Hyun melipat kedua tangannya didada dan menatap Sehun dan Luhan yang duduk diseberangnya bergantian. Tidak ada yang berbicara setelah penjelasan yang diberikan Sehun dan Luhan secara bergantian. Tenang saja, tidak ada hal-hal terlalu mendrama terjadi disini, bagaimanapun juga mereka semua bukan remaja labil lagi, yang melebih-lebihkan segala sesuatu.

Sehun mengajak kedua adiknya untuk membicarakan hal ini dengan kepala dingin, dan Jae Hyun menyetujuinya. Setidaknya ia berharap dengan memberikan kesempatan kepada Hyung dan Noonanya untuk memberikan penjelasan ia tidak akan bertindak bodoh karena mengikuti emosinya saja.

Jae Hyun menghela napas panjang dan menyisir rambutnya kebelakang dengan jari, Sehun menumpukan sikunya pada lutut untuk menahan kepalanya dengan kedua tangan, Luhan menoleh ke kanan untuk menghindari tatapan Sehun dan Jae Hyun. Ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Kapan eomma selesai dengan konferensinya?" Sehun bertanya masih dengan kedua tangan menahan kepalanya dan menatap lantai.

"Senin, minggu depan. Empat hari dari sekarang" jawab Jae Hyun yang kini bersandar pada kursi dan mendongakkan kepalanya ke atas.

Luhan bangkit dari kursinya dan masuk ke dalam. Ia benar-benar tidak tahu harus memberikan respon apa, bersikap seperti apa sekarang. Ia hanya butuh tidur.

Sehun dan Jae Hyun menatap Luhan yang pergi tanpa sepatah kata. Sehun menahan Jae Hyun yang sudah membuka mulutnya, hendak memanggil Luhan.

"Kau harus menyelesaikan semuanya sebelum eomma dan appa pulang, hyung" Jae Hyun ikut bangkit dari kursinya dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Sehun sendirian ditemani angin malam yang mulai dingin.

"Memangnya apa yang harus aku lakukan?" bisik Sehun putus asa.

Dan malam itu ketiganya tidak bisa tidur di kamar masing-masing.

.

.

Keesokan harinya berjalan hampir seperti biasa, yang berbeda, tidak ada seorangpun yang duduk di meja makan untuk sarapan, ketiga bersaudara itu berangkat pada aktivitas masing-masing secara terpisah. Ajummapun dibuat kebingungan karena ketiganya meninggalkan kamar masing-masing dalam keadaan terkunci, sehingga ia tidak bisa masuk dan membersihkan kamar.

Luhan menyibukkan dirinya seharian di kampus. Setelah mengikuti kuliah dan praktek dari pagi hingga sore, ia mengajak teman-temannya untuk menghabiskan waktu diluar dengan minum dan karaoke. Meskipun dihujani tatapan keheranan karena gadis itu tidak pernah sekalipun memberi ide untuk bersenang-senang, semua menyetujui usul Luhan.

Luhan berpisah dengan teman-temannya pukul dua belas malam. Seoul masih ramai sehingga Luhan memutuskan berjalan sejenak sebelum naik taksi untuk menikmati udara malam ditengah keramaian pusat kota.

Gadis itu melangkahkan kakinya dengan pelan, tidak ingin terburu-buru. Meskipun matanya menoleh ke kiri dan kanan, pikiran Luhan sebenarnya tidak terlepas dari masalahnya dengan Sehun dan Jae Hyun. Satu sisi Luhan tahu, hanya orang gila yang mengatakan bahwa ia mencintai oppa-nya sebagai laki-laki. Tapi ada sebuah sudut di pikirannya yang berkata dengan angkuh bahwa ia tidak salah, toh Sehun bukan saudara kandungnya. Kemudian Luhan si penganut nilai moral akan kembali menyanggah, 'Tentu saja salah, dasar bodoh! Kalian memanggil eomma dan appa kepada orang yang sama! Jika kau tetap egois dengan kebodohan yang mengatasnamakan cinta itu, kenapa tidak meminta eomma dan appamu untuk menghapus namamu dari kartu keluarga dan hidup sebagai orang asing. Atau jika kau mau paksa kedua orang tuamu bercerai jika kalian tetap keras kepala'.

"Huh~" Jika dihitung Luhan mungkin sudah menghela napas untuk kelima kalinya sejak ia berpisah dengan teman-temannya.

Luhan menatap jam di pergelangan tangannya, bagaimanapun ia harus tetap pulang.

.

.

Sehun memulai harinya dengan pemotretan untuk majalah, kemudian dilanjutkan dengan syuting seperti biasa hingga pukul sembilan malam, mengisi acara radio selama satu jam, dan pada pukul sebelas malam Sehun sudah mengendarai mobilnya sendiri dalam perjalanan menuju rumah. Saat berhenti karena lampu merah ia tiba-tiba berubah pikiran dan menyalakan lampu sen untuk berbelok. Sehun masih ingin mengulur waktu sebelum pulang ke rumah. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri kota Seoul yang masih ramai dan semakin ramai saat memasuki pusat kota. Ia tidak tahu apa tujuannya ia berputar-putar di pusat kota dan ia tidak ingin berpikir terlalu lama untuk mendapatkan alasan. Terkadang kau hanya perlu mengikuti keinginan hatimu tanpa perlu mengetahui alasannya.

Sehun mematikan mesin mobilnya saat telah memasuki pekarangan rumah. Namun namja itu memilih tetap duduk di mobil. Sehun mengambil ponsel dan menyalakan layar, sudah pukul satu dini hari. Dan ia sudah menghabiskan satu hari tanpa keputusan apa-apa. Sehun sendiri tidak mengerti kenapa ia memusingkan hal yang sudah jelas jawabannya ini, berhenti menyukai Luhan dan habiskan hidupmu sebagai kakak. Entahlah, ingin menceritakan kebingungannya pun Sehun tidak tahu apa yang membuatnya bingung.

Sehun memastikan ia telah mengunci pintu dengan benar kemudian melangkah pelan menuju kamarnya.

"Oppa"

Sehun menoleh saat akan melangkahkan kaki menaiki anak tangga. Luhan ada disana, duduk sendirian di ruang keluarga dengan bantuan cahaya lampu meja.

Meskipun dalam keadaan remang, Sehun bisa melihat keraguan di mata Luhan. Kedua hanya diam sesaat, "Mau bicara di kamarku?" Luhan mengangguk menanggapi pertanyaan Sehun dan segera bangkit dari duduknya, mengekori Sehun naik menuju kamar namja itu.

Luhan masuk saat Sehun membukakan pintu dan segera duduk di kursi yang dulu sering digunakan Sehun saat sedang belajar.

Sehun menutup pintu dan membuka jaketnya, kemudian duduk di pinggir tempat tidur yang menghadap pada Luhan.

Luhan menaikkan kedua kakinya dan duduk bersila diatas kursi kemudian memainkan jemarinya canggung.

"Apa yang harus kita bicarakan?" Sehun tergelak sendiri dengan kalimatnya, membuat Luhan ikut tersenyum, "Gereoge ( I know, right)?".

Keduanya menghela napas berbarengan kemudian tertawa saat menyadarinya.

"Apa yang kau lakukan hari ini?" Sehun mengalihkan pembicaraan.

Luhan terlihat berpikir, "Mengikuti kuliah, praktek, pergi karaoke bersama teman-temanku, kemudian minum bir, dan pulang. Oppa sendiri?"

"Wah, kau sibuk sekali hari ini. Aku hanya, seperti biasa, syuting ini itu kemudian sedikit berputar putar sebelum pulang" Sehun mengangkat bahunya.

Keduanya kembali terdiam, saling menatap, kemudian kembali tersenyum geli, "Ini awkward sekali" keluh Luhan.

"Kau sudah memikirkannya?" Sehun menarik kursi Luhan sehingga berada lebih dekat dengannya.

"Hm.. aku berusaha untuk tidak berpikir, tapi akhirnya aku malah tenggelam sendiri dengan pikiranku. Jadi.. aku tidak yakin memikirkannya atau tidak" Luhan menggerak-gerakkan kepalanya seperti sedang berpikir.

"Lalu, bagaimana menurutmu?" Sehun sedikit menengadah karena Luhan duduk diatas kursi.

"Apanya?" Sehun tidak menjawab pertanyaan Luhan. Sebenarnya mereka berdua sama-sama mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, namun terlalu takut, segan, pengecut atau apalah itu untuk membicarakan topik ini secara terbuka. Mungkin mereka hanya sedikit ingin berbelit-belit untuk mengulur waktu.

"Pendapatmu lebih penting" Sehun menatap Luhan sungguh-sungguh.

Luhan menunduk kembali memainkan jemarinya, ia terlihat berpikir sesaat, kemudian mengangkat kepala, menatap Sehun.

"Oppa"

"Hm"

"Oppa"

"Hm?"

"Sehun oppa"

Sehun tersenyum pada Luhan, ia mengangguk, mengerti dengan maksud Luhan. Namja itu berdiri dari duduknya, memeluk Luhan yang masih duduk diatas kursi. Luhan balas memeluk pinggang oppanya dan menikmati belaian Sehun pada kepalanya.

.

.

Waktu berlalu dengan cepat jika kau menyibukkan dirimu. Itu prinsip yang dipakai Sehun dan Luhan setelah berbicara berputar-putar dikamar Sehun tempo hari. Tanpa terasa hari ini sudah hari Selasa, itu artinya pagi ini keluarga Oh sarapan dengan formasi lengkap. Sarapan berjalan seperti biasa sebelum Sehun memanggil kedua orang tuanya untuk meminta perhatian.

"Kenapa Sehun-a?" Nyonya Oh menghentikan gerakan tangannya dan memusatkan perhatian pada Sehun.

Sehun menatap Luhan yang duduk diseberangnya. Luhan hanya menunduk menyuap makanannya, seolah-olah tidak terpengaruh dengan keadaan sekitar. Sedangkan Jae Hyun mengeratkan pegangannya pada alat makan. Sejak malam itu, Jae Hyun tidak pernah berbicara dengan Hyung dan Noonanya, sehingga ia tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan. Jantungnya berdebar-debar seperti ingin meloncat keluar sekarang.

Saat merasa perhatian telah terpusat kepadanya, Sehun membuka mulut, "Aku ingin mencoba tinggal sendiri jika eomma dan appa tidak keberatan".

Tuan Oh meminum air putihnya untuk membantu menelan makanan, "Appa tidak keberatan, tapi kenapa? Apa kau sudah membicarakan ini dengan Luhan dan Jae Hyun?" Tuan Oh menatap satu persatu penghuni meja itu.

"Aniyo appa. Aku baru membicarakannya sekarang" jawab Sehun menatap Luhan dengan ekor matanya. Ia berbohong tentu saja. Luhan sudah tahu semua ini, dan ini adalah keputusan terbaik menurut Luhan. Mereka memang tidak boleh terlalu sering bertemu jika ingin tetap menjadi kakak-adik.

Jae Hyun melepaskan genggamannya pada peralatan makan dan meminum susunya dengan sekali teguk.

"Kenapa Sehun-a? Apa ada yang membuatmu terganggu?" Nyonya Oh menatap Sehun sedih, ia sensitif dengan hal seperti ini.

"A-aniyo eomma! Bukan begitu! Tidak ada yang menggangguku. Aku tidak bermaksud membuat eomma sedih, sungguh! Aku hanya.. merasa sudah saatnya aku tinggal sendiri. Rumah ini terlalu nyaman, eomma" Alasan!

"Kalau nyaman kenapa kau pindah?" Nyonya Oh masih belum bisa menerima keputusan Sehun. Ia memasang tampang memelas terbaiknya agar Sehun membatalkan keinginannya.

"Karena aku tidak bisa belajar apa-apa jika terlalu nyaman eomma" Sehun memberikan senyum menenangkannya pada Nyonya Oh, walaupun wanita paruh baya itu masih belum menerima keputusannya.

"Apa kau sudah mencari tempat tinggal?" Tuan Oh memotong istrinya yang kembali akan menyuarakan protes.

"Aku sudah membeli apartemen di dekat kantor agensiku, appa"

"Ya! Sehun-a, kalau begitu ini bukan meminta ijin namanya, ini pemberitahuan! Jae Hyun-a, Luhan-a! Kenapa kalian diam saja?" Nyonya Oh masih tetap dengan kekeras-kepalaannya.

"Eomma~" kali ini Sehun yang memasang tampang memohon.

"Sudahlah yeobo. Sehun benar, sudah saatnya ia tinggal sendiri. Ayolah, ini bukan berarti kita tidak akan pernah bertemu dengan Sehun lagi" Tuan Oh membujuk istrinya yang masih mengerutkan kening.

"Tapi tetap saja... Kapan kau akan pindah?"

"Dalam minggu depan, mungkin?"

"Ani! Setelah minggu depan! Yeobo, kosongkan jadwalmu mulai Jumat, kalian semua juga. Kita akan liburan sebelum Sehun pindah" Putus Nyonya Oh telak.

"Eomma! Kenapa harus pakai liburan segala! Aku bahkan masih tinggal di kota yang sama! Kenapa membuatku seolah-olah akan pergi jauh?" keluh Sehun tidak terima.

"Tidak ada penolakan. Cih, kau yakin adik-adikmu tidak tahu apa-apa? Mereka bahkan tidak merespon apapun!" Nyonya Oh menembakkan laser dari matanya pada Jae Hyun dan Luhan bergantian.

Sehun hanya menjawab Nyonya Oh dengan senyumnya, Jae Hyun mencuri pandang pada Sehun dan Luhan bergantian. Ia perlu penjelasan!

.

"Hyung! Tunggu aku!" Jae Hyun berlalu mengejar hyungnya yang sudah membuka pintu mobil. Sehun terlihat tidak percaya dengan telinganya. Namun ia hanya diam dan menghentikan gerakannya untuk masuk ke mobil.

"Apa yang hyung lakukan? Cepat antarkan aku ke sekolah!" Jae Hyun yang telah duduk disamping bangku pengemudi berteriak dari dalam pada Sehun yang masih berdiri.

Disaat bersamaan Tuan dan Nyonya Oh juga keluar dari rumah diikuti Luhan yang kebetulan menatap ke arah Sehun, mata keduanya bertemu membuat Luhan sedikit gelagapan.

"Eomma! Aku berangkat bersama eomma!"

Nyonya Oh yang baru saja melepas suaminya menatap Luhan bingung, tentu saja Luhan akan berangkat dengannya. Mereka punya tujuan yang sama, kenapa harus berangkat terpisah?

Mengerti maksud pernyataan Luhan, Sehun segera masuk ke mobilnya dan keluar dari gerbang duluan.

"Hyung tidak bertanya kenapa aku berangkat denganmu?" Jae Hyun akhirnya buka suara karena Sehun tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak mereka meninggalkan rumah.

"Bukannya kau yang punya pertanyaan untukku?" Sehun balik bertanya dengan mata fokus pada jalanan.

Jae Hyun menoleh untuk menyembunyikan wajah malunya, Sehun terlalu mengenal adiknya ini.

"Ehm. Apa yang terjadi hyung? Kenapa tiba-tiba kau ingin tinggal sendiri?" Jae Hyun menatap Sehun penasaran. Ia benar-benar ingin tahu apa yang sedang direncanakan hyungnya ini.

"Apanya yang 'apa' Oh Jae Hyun. Sudah jelas bukan, aku tidak boleh terlalu sering berada di rumah agar aku tetap menjadi hyungmu.." Sehun memberi jarak pada kalimatnya, "..dan tetap menjadi oppa Luhan. Bukankah aku kakak tertua?" Sehun menoleh sekilas pada Jae Hyun untuk memberikan penekanan pada kalimatnya.

"Kau yakin, hyung?" Jae Hyun masih menatap hyungnya dengan tatapan setengah tidak percaya.

"Wae? Apa aku terlihat tidak bisa hidup sendiri?" Sehun tergelak.

"Hyung!"

"Percaya padaku Jae Hyun-a. Aku hyungmu" jawab Sehun dengan nada rendah, matanya masih fokus pada jalanan.

Jae Hyun meluruskan punggungnya dan menghadap ke depan. Bagaimanapun juga ia sangat menyayangi hyungnya. Setengah hatinya lega karena Sehun menanggapi masalahnya dengan serius, namun setengah hatinya lagi merasa tidak enak karena ia seperti sedang menendang hyungnya keluar dari rumah.

Dan hingga Jae Hyun sampai di depan gerbang sekolahnya, tidak ada lagi yang berbicara.

.

.

.

Sehun menatap kedua adiknya yang sibuk dengan ponsel masing-masing. Mereka tengah berkumpul di ruang tengah setelah mendapat pesan dari Nyonya Oh bahwa ia dan suaminya baru bisa berangkat setelah pukul sepuluh malam. Sehingga ketiga bersaudara ini harus pergi duluan bertiga menuju villa yang telah disewanya dengan membawa semua barang-barang yang sudah dipersiapkan.

"Kita berangkat sekarang? Aku rasa tidak ada yang tertinggal lagi" Sehun berusaha mendapatkan perhatian dari kedua adiknya.

Luhan menghela napasnya kemudian memasukkan ponsel ke dalam saku, "Dia yang memaksa liburan, dia yang terlambat" keluh Luhan sebelum mengangkat beberapa barang yang telah dipersiapkan untuk dibawa ke villa.

"Jae Hyun-a" Sehun mengingatkan Jae Hyun yang masih duduk. Dengan tampang malas Jae Hyun bangkit dari duduknya dan mengikuti Luhan yang telah keluar menuju mobil Sehun terlebih dahulu.

Sehun menutup bagasi mobilnya kemudian berlari menuju kemudi.

"Ah hyung, jika seperti ini kenapa kita harus berangkat duluan?" keluh Jae Hyun yang telah duduk disamping kemudi.

"Ya! Apa kau benar-benar harus membawa benda ini?!" Luhan memukul boneka berwarna putih yang duduk disampingnya.

"Noona! Jangan melukai boong-boong ku!"

"Berhenti bertengkar dan pasang seat-belt kalian anak-anak" potong Sehun sebelum menyalakan mesin mobil.

Perjalanan dua jam itu dimulai dengan konser mini Jae Hyun dan Luhan yang membuat Sehun geleng-geleng kepala melihat kelakukan kedua adiknya, kemudian diam-diam tersenyum dan ikut bergumam menyanyikan lagu yang diputar cukup keras oleh Jae Hyun.

Tiga puluh menit berlalu, Jae Hyun dan Luhan kini tersandar pada jok masing-masing.

"Hyung apa kita tidak membawa minum?" bisik Jae Hyun kelelahan.

"Aku lapar" Luhan menimpali dari kursi belakang.

"Apa minimarket masih jauh?" Sehun menengok ke kiri dan ke kanan untuk mencari tanda – tanda minimarket.

"Itu hyung! Di depan!" Jae Hyun seketika berteriak histeris saat melihat tanda minimarket dari kejauhan.

"Hyung mau sesuatu?" Jae Hyun membuka seatbeltnya dengan riang padahal mobil yang dikendarainya belum menepi.

"Kopi. Americano lebih baik"

"Noona?" Jae Hyun memutar tubuhnya untuk melihat Luhan yang duduk dibelakang bersama boong-boong.

"Aku ingin ramen. Oppa?"Luhan yang telah membuka pintunya untuk turun berhenti dan menatap Sehun.

Sehun tersenyum dan menggeleng, ia akan menunggu di mobil saja.

Sendirian di mobil membuat pikiran Sehun berjalan kemana-mana. Bahkan ia meragukan niat Luhan yang turun karena ingin ramen, bisa jadi Luhan hanya tidak ingin ditinggal berdua dengannya. Dan kemudian Sehun akan tertawa sendiri dengan pikirannya.

Tiga puluh menit berlalu Jae Hyun dan Luhan kembali ke mobil.

"Wah, aku tidak tahu jika akan mendapatkan americano ku selama ini" sindir Sehun saat menerima cup dari Jae Hyun.

"Mian"

"Ayo berangkat!"

.

.

"Hey, berbicaralah tentang sesuatu! Jika kalian berdua diam seperti ini aku jadi mengantuk!" Sehun menoleh pada Jae Hyun yang bersandar ke arah pintu dan menatap Luhan yang bersandar pada jok dari pantulan kaca.

"Hyung"

"Hm"

"Apa yang sedang kita lakukan?"

"Hm?" Sehun kembali menoleh pada Jae Hyun yang masih betah dengan posisi bersandarnya.

Jae Hyun tertawa lemah, "Ini seperti sedang bermain drama". Sehun segera meminum americanonya setelah mendengar kalimat Jae Hyun.

"Apa hyung sungguh baik-baik saja? Bagaimana denganmu noona?"

Jae Hyun dan Luhan tampak tenang dengan posisi masing-masing hanya Sehun yang terlihat tidak nyaman dan gelagapan.

"Jangan berbicara padaku" jawab Luhan singkat, padat tanpa intonasi.

"Jae Hyun-a" Sehun mengingatkan Jae Hyun untuk berhenti dengan lelucon-tidak-lucunya.

"Ani, hyung. Apa hanya aku yang merasa aneh? Kita tahu kita tidak dalam hubungan baik-baik saja tapi berlagak tidak pernah terjadi apa-apa. Aku tidak merasa kita pernah membicarakan masalah ini setelah hari itu. Atau hanya aku yang tidak diikutsertakan? Aku benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang" Jae Hyun mengangkat punggungnya dan menatap Sehun dengan tatapan menuntut.

"Jae Hyun-a. Geumanhae. Kau tidak perlu melakukan apapun dan cukup bersikap seperti biasa" Sehun menjawab tanpa menatap Jae Hyun, ia berlagak fokus pada jalanan padahal perhatiannya sebagian berada di dalam situasi tidak enak di mobil.

"'Tidak melakukan apapun' sekalipun juga butuh aba-aba hyung! Noona, bagaimana menurutmu?" kali ini Jae Hyun menoleh kebelakang dan tepat saat itu Luhan tengah memandang ke arahnya.

"Jawaban apa yang kau inginkan dariku? Sudahlah hentikan semua ini, anggap semua salahku dan selesai. Jadi mari berfikir kedepan mulai sekarang, oke?" Luhan menjawab dengan tegas.

Suasana di dalam mobil itu semakin mencekik, Jae Hyun baru saja membuka mulutnya saat Sehun menyela, "Aku rasa kau sudah kelewatan Jae Hyun-a"

"Wah, kenapa aku yang disalahkan sekarang. Aku tidak percaya ini—"

"OPPA!"

BRAK! CKIIT!

Sebuah minibus yang melaju cepat menerobos lampu merah dari arah kanan langsung menyambar bagian belakang mobil bermuatan empat orang itu. Akibatnya mobil yang dikendarai Sehun itu berputar-putar tak terkendali sebelum berhenti karena menabrak tiang traffic light yang digunakan untuk arah berlawanan. Semuanya terjadi begitu cepat saat Sehun baru saja menginjak gas ketika traffic light berubah warna menjadi hijau.

"Hyung! Noona!" Jae Hyun yang baru saja mengangkat kepalanya segera memanggil kedua orang yang dalam keadaan tidak sadar itu.

Jae Hyun yang terluka di bagian kepala itu menutup mulutnya tidak percaya saat melihat keadaan Luhan dibangku belakang. Minibus itu menabrak tepat pada posisi Luhan duduk sehingga Luhan terkena pecahan kaca dan terlempar kebagian lain tempat duduknya. Sayangnya Luhan tidak mengenakan seatbelt.

Dengan tangan bergetar Jae Hyun mengguncang tubuh Sehun yang tidak jauh lebih baik keadaannya dari Luhan. Kakinya terjepit karena mobil itu menabrak tiang dengan kuat, "H-hyung". Keadaan semakin diluar kendali saat Jae Hyun melihat asap mengepul dari cap depan mobil hyungnya.

"Hyung! Hyung etteohke! Ireona OH SEHUN!"

Jae Hyun hampir saja memeluk Sehun saat namja itu mengeluh kesakitan dan membuka matanya perlahan.

"Hyung! Sadarlah! Kita harus keluar dengan cepat!" Jae Hyun melepas seatbeltnya dan Sehun bergantian kemudian mengguncang tubuh Sehun yang masih mengumpulkan kesadarannya itu.

"Aish! HYUNG! Hiks! Jebal! Noona—"

"Jae Hyun-a gwaenchanha?" Sehun menyentuh tangan Jae Hyun yang terus mengguncang tubuhnya, berusaha untuk memperbaiki duduk, kemudian menoleh ke belakang dan menemukan Luhan dengan wajah dipenuhi darah.

Sehun berusaha bergerak namun kakinya terjepit sehingga ia meringis kesakitan dan berusaha memikirkan jalan keluar lainnya. Matanya menangkap asap yang terus keluar dari cap mobil, dan hal itu berhasil membuat Sehun semakin panik.

"Jae Hyun-a! Cepat keluarkan noonamu!" Sehun berusaha membuka pintu mobilnya.

"Hyung! Hiks! Bagaimana—"

"PPALLI!"

Jae Hyun segera bergerak cepat keluar dan membuka pintu belakang. Tanpa berpikir panjang ia segera menarik Luhan yang masih tidak sadarkan diri untuk keluar dari mobil, tidak lagi mempedulikan bonekanya yang terjatuh. Sementara itu Sehun sedang berusaha membebaskan kakinya dengan cepat sambil berteriak kesakitan.

Beruntung tepat saat Jae Hyun berhasil menggendong Luhan ke pinggir jalan sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Ini adalah jalan lintas untuk keluar kota, terlalu jarang kendaraan yang lewat pada malam hari.

"Haksaeng! Kau baik-baik saja?" Seorang wanita paruh baya tergopoh – gopoh ke arah Jae Hyun yang memangku noonanya.

"Hiks! Ambulans! Kumohon telepon ambulans! Hiks!"

Si wanita paruh baya langsung memerintahkan putranya yang ikut turun untuk menelepon ambulans sementara wanita itu menenangkan Jae Hyun yang terisak seperti anak kecil.

"Hyung hiks! Hyungku masih berada di mobil, aku hiks! Mohon tolong hyungku!" Jae Hyun terus meraung sambil memeluk noonanya.

Pemuda yang tadinya menelepon ambulans segera bergerak ke arah mobil yang ringsek itu dan menemukan Sehun masih berusaha melepaskan kakinya. Si pemuda kembali ke mobilnya dan mengambil sesuatu untuk membantu melepaskan Sehun.

Tak lama kemudian terdengar sirine dan mobil polisi berhenti tepat di depan mobil Sehun. Jae Hyun terus berteriak histeris memanggil nama Sehun hingga ambulans mendekat dan kesadarannya ikut menghilang.

.

.

Kelopak mata yang tertutup itu bergerak-gerak dengan cepat sebelum terbuka perlahan. Jae Hyun mengerutkan dahinya, merasa silau dengan cahaya yang baru saja masuk ke retinanya.

"Adeul, gwaenchanha? Kau bisa mengenali eomma?"

Jae Hyun menurunkan pandangannya dan menemukan ibunya di samping tempat tidur, "Eomma"

"Anak nakal! Bukankah eomma bilang untuk selalu menjaga diri kalian! Kenapa mengabari eomma dengan hal seperti ini!" Wanita yang dipanggil eomma oleh Jae Hyun itu memukul pelan lengan putranya. Ia adalah ibu kandung Sehun dan Jae Hyun yang segera menuju ke rumah sakit saat mendapat kabar dari mantan suaminya.

"Hyung? Noona? Bagaimana dengan hyung dan noona, eomma?" Jae Hyun berusaha duduk untuk melihat ke sekelilingnya. Namun ia hanya menemukan dirinya dan sang ibu di ruang rawat VIP ini.

Wanita paruh baya itu terlihat bingung harus menjawab apa.

"Eomma!"

"Apa kau sanggup berjalan?" bukannya mendapat jawaban Jae Hyun malah kembali diberikan pertanyaan dan mengangguk tampak berpikir panjang.

Langkah Jae Hyun terhenti saat melihat ibu Luhan tengah menutup wajah dan disampingnya sang ayah terlihat duduk dengan tegang. Jae Hyun mendadak diserang ketakutan saat sang ibu membawanya ke arah ruang operasi. Sekelabat kejadian sebelum kecelakaan itu berputar dikepalanya dan perasaan bersalah menyerang bertubi-tubi. Jika saja ia tidak mengungkit masalah itu, jika saja ia tidak membuat Sehun kehilangan fokus, jika saja...

"Jae Hyun-a?" sang Ibu menyentuh lengan Jae Hyun dengan lembut dan menuntun putranya untuk mendekat ke arah ruang tunggu.

"Oh Jae Hyun!" Jae Hyun tidak bisa menyembunyikan tangisannya saat sang ayah bergerak ke arahnya dengan cepat dan memeluknya dengan erat.

"Appa mianhaeyo.."

"Terimakasih karena sudah baik-baik saja" bisik Tuan Oh mengelus kepala putra bungsunya dan membawa putranya yang masih menyeret infus itu untuk duduk bergabung dengan ibu Luhan.

Ibu Jae Hyun duduk disamping istri mantan suaminya dan menggenggam tangan wanita yang sudah menjadi ibu untuk kedua putranya hampir dua tahun kebelakang, saling menguatkan, karena darah daging mereka berdua sama-sama masih berada di dalam ruang operasi.

Pintu ruang operasi terbuka dan dokter yang mengenakan pakaian berwarna biru itu dikerubungi dengan cepat.

"Seonsaengnim, bagaimana dengan kedua anakku?" Tuan Oh mengambil kendali

"Saya menangani operasi putra anda, dan operasi berjalan dengan lancar, putra anda akan segera dibawa ke ruang ICU. Anda bisa melihatnya disana. Untuk putri anda, dokter yang bertanggung jawab akan segera keluar jika operasinya susah selesai, jangan khawatir Tuan"

"Kamsahabnida seonsaengnim, jeongmal kamsahabnida" Tuan Oh membungkuk berkali – kali dan mengucap syukur, setidaknya salah satu anaknya sudah dipastikan selamat.

Dua jam kemudian pintu ruang operasi kembali terbuka, kali ini semua yang menunggu di depan pintu berdiri dengan penuh harap.

"Keluarga Oh Luhan-ssi?"

"Saya ayahnya" jawab Tuan Oh tidak sabaran

"Kami belum bisa memberikan kepastian apapun sampai Oh Luhan-ssi melewati masa kritisnya. Untuk sementara Luhan-ssi akan dipindahkan ke ICU dan dipantau keadaannya." Pria paruh baya yang masih mengenakan penutup kepala itu memberi hormat sebelum meninggalkan Tuan Oh dan keluarganya.

Ibu Luhan merosot ke lantai meskipun Ibu Jaehyun telah menahannya. Melihat istrinya tidak bisa mengendalikan diri Tuan Oh ikut duduk dan menenangkan wanita yang kesadarannya sudah hampir hilang itu.

Jaehyun? Ia hanya bisa menunduk sambil memegangi tiang infusnya, tidak punya tenaga lagi untuk menyalahkan diri sendiri.

"[BREAKING] Aktor Oh Sehun mengalami kecelakaan bersama kedua adiknya"

"AKTOR OH SEHUN BELUM SADARKAN DIRI SETELAH MENGALAMI KECELAKAAN BERSAMA KEDUA ADIKNYA"

"Saksi mata mengatakan adik perempuan Oh Sehun ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri"

Headline mengenai kecelakaan Sehun memenuhi home page berita online maupun offline. Pemburu berita berlomba – lomba memberikan perkembangan paling cepat mengenai kecelakaan aktor yang baru saja comeback dengan drama terbarunya itu.

.

.

.

Dua hari berlalu, Sehun telah sadar kemaren sore dan dapat dipindahkan ke ruang rawat yang sama dengan Jae Hyun. Tuan Oh selalu mengecek keadaan Sehun dan Luhan bergantian karena keduanya berada di ruangan terpisah. Satu satunya perkembangan yang membuat Tuan Oh mendesah lega adalah saat Luhan telah dinyatakan melewati masa kritis pagi tadi, selebihnya semua sama saja.

"Ne hyung?" Jae Hyun bergerak mendekati Sehun yang mengangkat tangannya. Saat ini hanya ada mereka berdua di ruang rawat karena Ibu Sehun dan Jae Hyun harus kembali pada schedulenya, sedangkan Tuan dan Nyonya Oh sedang berada di ICU sekarang.

"Luhan" bisik Sehun dengan tatapan penuh harap pada Jae Hyun.

Sebenarnya Sehun sudah ingin menanyakan hal ini beberapa saat setelah ia sadar, namun ia terlalu takut untuk mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Jae Hyun duduk di kursi kosong yang berada di samping tempat tidur Sehun, "Noona masih di ICU. Semua pasti akan baik-baik saja hyung. Pasti" tanpa sadar Jae Hyun meremas ujung pakaiannya.

"Official Statement Kecelakaan Oh Sehun"

"Oh Sehun Mengalami Patah Tulang Kaki Akibat Kecelakaan yang Menimpanya"

"Oh Sehun Telah Sadar Setelah Menjalani Operasi"

"Adik Perempuan Oh Sehun Masih Berada di Ruang ICU"

Dipenghujung hari ketiga, Luhan membuat Nyonya Oh memekik bahagia karena gadis itu membuka matanya sebentar dan membuat gerakan 'eomma' dengan bibirnya meskipun tidak bersuara. Tak lama kemudian, Luhan kembali tertidur. Nyonya Oh menggenggam tangan putrinya dengan erat saat tim dokter datang dan memeriksa keadaan Luhan, harapannya semakin meninggi.

"Tuan, apa anda bisa ikut saya sebentar?" Dokter yang terlihat seumuran dengan Tuan Oh itu tersenyum dan mengajak Tuan Oh yang menunggu di luar ruangan untuk berbicara di ruangannya.

Seminggu berlalu, Sehun sudah mulai pulih dan dapat duduk dikursi roda.

"Hyung!" Jae Hyun muncul dari balik pintu ruang rawat Sehun dengan seragam sekolahnya. Ia kembali sekolah hari ini karena luka – luka yang dideritanya tidak parah dan sudah mulai mengering.

Sehun tersenyum dan menggerakkan kendali kursi rodanya untuk memutar menghadap Jae Hyun, "Wasseo?"

"Maaf aku terlambat sedikit, kaja hyung" Jae Hyun membukakan pintu untuk Sehun. Mereka selalu mengunjungi Luhan yang masih berada di ICU setiap hari. Walaupun Luhan tidak pernah lagi membuka matanya sejak terakhir kali, tapi Sehun dan Jae Hyun selalu mengunjungi Luhan di ICU agar Nyonya Oh dapat beristirahat sebentar.

"Noona~ Kami datang lagi! Kau tidak bosan kan?" ujar Jae Hyun dengan nada ceria dan mengambil tempat disamping kanan Luhan. Sedangkan Sehun hanya tersenyum dan menggerakkan kursi rodanya sedekat mungkin dengan tempat tidur Luhan.

"Noona! Ini sebenarnya rahasia, tapi aku akan memberitahumu. Akhirnya hari ini aku makan ramen! Noona pasti iri kan? Ayo cepat bangun kalau begitu! Aku akan buatkan ramen untukmu"

"Bagaimana denganku?" Sehun memasang wajah merengut pada Jae Hyun.

"Ah, baiklah – baiklah. Jika hyung dan noona pulang dari rumah sakit aku akan membuatkan kalian ramen sebagai pesta penyambutan. Oke?" Jae Hyun menyatukan telunjuk dan ibu jarinya membentuk lingkaran.

Getar di saku seragamnya menghentikan celotehan Jae Hyun, "Hyung, aku keluar sebentar. Eomma menelepon"

Setelah pintu memastikan Jae Hyun menutup pintu, Sehun kembali menatap Luhan yang masih terbaring dengan berbagai alat bantu. Tangan kanannya yang masih menyisakan beberapa luka terulur untuk menyentuh tangan Luhan, memegang ujung jemarinya lembut, Sehun menatap Luhan dengan berbagai pikiran dikepalanya, "Ireona, hm?" bisik Sehun parau.

Pria itu menghembuskan napas kecewa karena tidak mendapat jawaban dari Luhan. Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu sesaat sebelum suara gumaman masuk ke telinga Sehun. Sehun segera mengangkat kepalanya, dan benar saja Luhan menatap ke arahnya!

"Lu!"

Sehun melihat bibir Luhan bergerak, walau ia tidak mendengar dengan jelas apa yang disebutkan Luhan.

"Aku akan panggil dokter, jamkanman!"

"Jollyeo (Sleepy).." bisik Luhan susah payah.

"Ne?" Sehun kembali mendekatkan tubuhnya ke arah Luhan untuk mendengar dengan jelas, "Kau butuh sesuatu?" Sehun menggenggam tangan Luhan dengan hati-hati.

"Saranghae"

Sehun membuka mulutnya, matanya berkedip dengan cepat. Apa ia tidak salah dengar?

Luhan tersenyum sekilas, membuat Sehun terbuai dengan pikirannya, sayangnya sesaat kemudian bunyi monoton memekakkan telinga menyadarkan Sehun dan membuatnya mengalami disorientasi sesaat.

Semua berjalan seperti slow motion, Sehun yang meraung – raung memanggil Luhan, Jae Hyun yang baru saja menutup pintu dan kebingungan sesaat kemudian terjatuh ke lantai, kemudian paramedis yang berlari masuk ke kamar Luhan.

Sehun tidak lagi berada dalam keadaan waras saat perawat menggerakkan kursi rodanya menjauhi tempat tidur Luhan dan menahannya yang terus berusaha meraih Luhan. Dan Sehun merasa seperti terhisap ke sebuah lubang gelap saat melihat semua orang berbaju putih yang mengelilingi tempat tidur Luhan mengehentikan gerakan dan menundukkan kepala ke arah Luhan, kemudian seseorang dengan stetoskop menggantung di lehernya melepas alat bantu napas Luhan.

"[BREAKING] Adik Perempuan Oh Sehun Meninggal Dunia"

"Aktor Oh Sehun Berduka; Adik Perempuan Oh Sehun Meninggal Dunia"

"Oh Sehun Mundur dari Dramanya, Pengganti Belum Diputuskan"

Flashback

"Tuan, apa anda bisa ikut saya sebentar?" Dokter yang terlihat seumuran dengan Tuan Oh itu tersenyum dan mengajak Tuan Oh yang menunggu di luar ruangan untuk berbicara di ruangannya.

Setelah mempersilahkan Tuan Oh untuk duduk, Si Dokter paruh baya tersenyum sambil menghela napas.

"Saya paham anda berharap putri anda untuk pulih, kita semua berharap seperti itu. Maafkan saya untuk menyampaikan hal ini, namun putri anda tidak lagi memberikan respon motorik. Saya hanya ingin menyampaikan, kita akan terus berusaha, namun saya harap anda untuk bersiap-siap"

Tuan Oh menatap lawan bicaranya dengan pandangan kosong, kedua bahunya merosot.

.

END