Teen's Heart

Chapter 7

"Ngghh.." erang seorang gadis dalam tidurnya.

Hinata masih asik berada dalam mimpinya, mengabaikan fakta bahwa saat ini ia tengah terlelap di ruang pribadi si pemuda raven, Uchiha Sasuke. Bahkan saat ini si pemuda juga masih tertidur pulas, terlentang di samping kanan Hinata dengan gadis itu yang memunggunginya. Saat ini memang tampaknya dua anak remaja itu tidur dalam satu ranjang. Tapi jangan pernah memiliki pikiran macam-macam karena ini hanya rated T dan author tidak berminat menaikkan pangkat fanfic ini menjadi M. Kejadian ini bermula dari semalam saat listrik masih padam.

Flashback

Sesampainya Hinata di kamar Sasuke, gadis itu ditinggal sang empunya kamar untuk mengganti pakaiannya yang basah kuyup. Di tengah cahaya remang-remang, Hinata mencari sesuatu yang menarik di kamar yang sudah dua kali ini ia singgahi. Namun yang ia temukan hanya iphone hitam milik Sasuke yang tombol kuncinya memakai password dan jelas saja Hinata tidak berhasil membukanya. Lalu ia melihat laptop Sasuke yang salah satu lampu(?)nya berkedip menandakan laptop dalam mode sleep. Langsung saja ia mengambil laptop itu dan membawanya keatas ranjang dan ia mengambil posisi tengkurap menghadap kepala ranjang.

"Sedang apa kau?" pertanyaan Sasuke dari belakangnya membuat gadis itu tersentak kaget. Siapa yang tidak kaget coba kalau kau merasa sendirian di tempat gelap lalu tiba-tiba ada suara di belakangmu.

"Kau membuatku kaget dasar! Aku hanya melihat-lihat isi laptopmu. Siapa tau ada yang menarik." jawab gadis itu.

"Oh." gumam Sasuke. "Ini. Kau makan dulu." kata Sasuke sambil menyodorkan piring kemudian menyusul Hinata tiduran di ranjang king size miliknya setelah Hinata menerima piring berisi nasi serta lauk.

"Sankyuu.. Eh?! Kau sudah punya film ini? Aku mau menonton ini seminggu yang lalu tapi tidak jadi karena ujian." celetuk Hinata membuat Sasuke mengalihkan perhatiannya dan mendekat pada gadis itu. Sasuke menyandarkan kepalanya pada bahu Hinata dan pandangannya mengarah ke layar laptop.

"Ohh The Forest.. Tonton saja. Bagus kok." kata Sasuke.

"Nee, Sasuke.. Kau tidak sibuk kan?" tanya Hinata sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.

"Kenapa?" Tanya Sasuke sambil menatap Hinata lekat.

"Temani aku nonton ini! Pokoknya kau tidak boleh tertidur!" kata Hinata.

"Pfftt... Kau takut? Hahaha." Gadis berambut biru gelap itu mengerucutkan bibirnya kesal karena ditertawakan. Wajarkan kalau ia takut hantu? "Oke oke jangan cemberut begitu." Sasuke mencubit pipi gempal Hinata. "Menemanimu sampai pagi juga tidak apa-apa kok."

Yaah seperti itulah yang terjadi semalam. Kejadian selanjutnya sudah jelaskan? Mereka berdua menonton film sampai larut hingga akhirnya tertidur.

Flashback off

Oh baby I

Think that I'm falling in love wit-

Terdengar suara ringtone hp yang sepertinya ada telepon, membuat Hinata menjulurkan tangannya untuk mengambil benda kotak yang membangunkannya. Setelah berhasil mendapatkan ponsel tersebut, ia menggeser layar touchscreen dan kemudian menempelkannya ke telinganya dengan mata yang masih terpejam. Hinata masih mengantuk!

"Halo..." Sapa Hinata dengan suara parau khas bangun tidur.

"Eh? Bukankah ini ponsel Sasuke?!" Suara di seberang sana terdengar terkejut saat teleponnya diangkat seorang gadis.

"Sasuke? Oh Sasuke..." Hinata sedikit membuka matanya dengan masih setengah sadar dan menggoyang sosok yang masih tidur pulas di sampingnya. "Sasuke! Ada telepon." kata Hinata sambil menempelkan ponsel di telinga kanan Sasuke kemudian memeluk leher pemuda itu dan berniat melanjutkan tidur. Namun Sasuke yang bangun secara tiba-tiba membuat gadis itu terkejut.

"Kenapa kau mengangkat teleponku?!"

"Ap-apa?! Telepon apa?!" Hinata juga ikut berseru setelah Sasuke membentaknya tadi. Gadis yang masih mencerna kata-kata pemuda di depannya kembali berseru "Astaga! Maaf Sasuke! Aku tidak sengaja, sungguh.. Nada deringnya sama dengan ponselku jadi yaa begitulah. Maaf yaa..." ujar Hinata sambil memainkan kedua jarinya, gugup.

"Sudahlah.. Tidak apa-apa." Sasuke menepuk puncak kepala Hinata lalu mencium kening gadis imut itu. "Maaf membentakmu." wajah Hinata merona. Mungkin karena melihat senyum Sasuke dari dekat. Tidak! Baru saja Sasuke menciumnya!

"Hei Sasuke! Kau masih disana?!" seru seseorang diseberang melalui ponsel Sasuke.

"Ah! Maaf.." Sasuke kembali menempelkan ponselnya. "Cuci mukamu sana." bisik Sasuke pada Hinata membuat gadis itu mengangguk patuh. Jujur saja Sasuke ingin tertawa melihat wajah Hinata yang tampak terkejut dan merona secara bersamaan karena ia mencium keningnya tadi. Bahkan sekarang Hinata juga masih linglung saat berjalan keluar kamar Sasuke.

"A-Apa?! Untuk apa kemari? Oke oke aku turun!" Sasuke segera melompat dari kasur saat mendengar senseinya, lebih tepatnya Kagami-sensei yang katanya sudah ada di depan gerbang rumahnya.

"Sasuke! Jangan lari di tangga sayang!" Seru Mikoto dari dapur yang melihat putra bungsunya berlarian saat menuruni tangga.

"Demi apapun sebenarnya apa yang kau lakukan disini pagi-pagi begini?" kata Sasuke sambil membuka pintu gerbang dan mempersilakan sensei nya itu masuk. Kagami-sensei adalah pelatih basket Konoha High School.

"Hanya bersepeda tadi dan karena ingat ada sesuatu yang harus ku katakan padamu jadi ya sekalian saja kemari." Kagami-sensei menjelaskan sambil berjalan mengiringi Sasuke untuk masuk ke dalam rumah.

"Oh.." hanya itu respon Sasuke, membuat senseinya itu gemas dan merangkul Sasuke agar mendekat.

"Aku baru tau kalau kau ini ternyata nakal juga memasukkan seorang gadis ke kamarmu. Biar aku tebak, kalian masih tidur saat aku telepon tadi. Jadi siapa gadis beruntung itu ha?" kata Kagami-sensei sambil mangacak-acak rambut Sasuke yang memang sudah berantakan. Jangan heran dengan hubungan antara murid dan guru ini. Kagami-sensei memang pelatih basket di sekolah Sasuke tapi dia juga merupakan kakak sepupu Sasuke.

"Lepaskan aku!" seru Sasuke. Mereka pun memasuki rumah Sasuke.

"Kagami-kun~" seru Mikoto yang langsung menghampiri kedua lelaki tampan itu.

"Hai bibi. Masak apa? Oh ya siapa yang mengajari Sasuke memasukkan seorang gadis ke kamarnya? Jangan bilang paman Fugaku yang mengajarinya!"

"Ahaha... Maksudmu Hinata? Semalam dia memang menginap disini." Mikoto tertawa renyah.

"Hinata? Hyuuga Hinata yang itu?" Seru Kagami.

"Tentu saja. Memangnya siapa lagi?" Mikoto tersenyum melihat Kagami yang tampak terkejut dan memijit pelipisnya.

"Dimana dia kaasan?" tanya Sasuke setelah lepas dari Kagami.

"Dari tadi belum turun." jawab Mikoto. Sedetik kemudian Sasuke melangkahkan kakinya ke lantai dua dimana Hinata berada. Namun samar-samar ia masih mendengar perkataan Kagami-sensei.

"Tidak menyerah juga ya dia hahaha..."

Cklek.. Sasuke membuka pintu kamarnya perlahan dan ia melihat gadis itu masih duduk di atas ranjangnya sambil melamun.

"Hinata?" panggil Sasuke tapi tidak ada respon dari Hinata. Sebenarnya apa yang ia lamunkan? Perlahan Sasuke mendekat dan duduk di samping Hinata. "Hei!"

"Eh! A-apa?" gadis itu tersentak.

"Kau melamun?" tanya Sasuke. Ia menatap Hinata lekat, tampak sekali kekhawatiran dari wajah ayu Hinata.

"Si-siapa yang menelepon? A-aku benar-benar minta maaf." sesal Hinata.

"Sudahlah. Tidak apa-apa Hinata.." Sasuke tersenyum dan mengusap puncak kepala Hinata dengan sayang. "Tak perlu khawatir. Oke? Yang menelepon hanya Kagami-sensei."

"Kagami-sensei?! Aduh Sasuke! Bagaimana kalau Kagami-sensei melapor ke sekolah? Bagaimana kalau semua orang tau kalau semalam aku di sini? Bagaimana kalau fans mu menyerangku? Bagaimana ka-"

"Astaga, berisik!" Ucapan Hinata terpotong saat tangan besar Sasuke membekap mulutnya. "Tidak akan ada yang terjadi! Kau lupa Kagami-sensei itu sepupuku?"

"Eh? Benarkah?" Hinata mndongak dan menatap Sasuke dengan mata besarnya membuat pemuda itu gemas. Hinata benar-benar imut!

"Hn."

"Syukurlaah~ Aku benar-benar takut."

"Ahaha.. Kau berlebihan." Sasuke tertawa. Gadis di sampingnya ini sangat menggemaskan.

"Ha-habisnya..." gadis itu tidak melanjutkan kalimatnya dan memilih memandangi Sasuke yang masih tertawa. Sasuke yang tertawa terlihat tampan bagi Hinata dan tanpa sadar ia memegang kedua pipinya yang sedikit hangat. Apakah wajahnya merona?

"Sudah ah.. Ayo turun, ibuku sudah menyiapkan sarapan." ajak Sasuke sambil menarik gadis itu turun dari tempat tidur.

"Ah Hinata-chan! Bagaimana tidurmu sayang?" sapa Mikoto begitu melihat Hinata yang ada di belakang putranya. Hinata hanya tersenyum kaku apalagi saat melihat Kagami-sensei duduk di meja makan yang juga tengah menatapnya.

"Nyenyak kok bi.." jawab Hinata. "Se-selamat pagi sensei."

"Pagi Hinata-chan. Kenapa rasanya aneh ya kau memanggilku sensei? Panggil onii-chan saja." Kagami terkekeh melihat Hinata yang salah tingkah.

"Tch! Guru macam apa kau?" umpat Sasuke membuat Kagami mengerling jail. "Menyebalkan!"

"Sudah sudah.. Ayo sarapan."

Sasuke dan Hinata segera menarik kursi dan duduk. Setelah semua orang duduk mereka berdoa kemudian mulai mengambil nasi dan lauk pauk dan mulai makan.

.

Selesai makan, Hinata membantu bibi Mikoto membersihkan meja makan dan mencuci piring sedangkan Sasuke dan Kagami-sensei saat ini berada di lantai dua. Sepertinya mereka sedang membahas tentang basket mengingat Kagami-sensei merupakan pelatih basket dan sebentar lagi akan ada kejuaraan interhigh setelah mereka lolos seleksi beberapa waktu yang lalu.

"Semalam kalian menonton apa sampai ketiduran seperti itu?" tanya Mikoto pada Hinata.

"Ehehe.. Darimana bibi tahu kalau kami menonton?" Hinata menatap wanita di sampingnya.

"Saat bibi pulang, bibi ke kamar Sasuke dan melihat kalian tidur dengan laptop yang masih menyala."

"Ooh.. Hanya menonton koleksi film Sasuke kok. Bibi tidak ke rumah sakit?"

"Nanti jam 9. Ya sudah kalau begitu bibi mau siap-siap dulu ya Hinata-chan. Hari ini kau disini saja menemani Sasuke. Oh ya.. Tadi ibumu menelepon katanya nanti sore akan pulang. Memangnya kenapa dengan ponselmu? Kenapa tidak bisa dihubungi?"

"Astaga! Aku lupa! Aku pulang dulu bi! Ponselku entah ada di manaa.." Hinata tampak panik saat mengingat ponselnya yang semalam tidak sengaja dia lempar. Ia pun segera meninggalkan Mikoto dan menuju pintu keluar untuk pulang ke rumahnya. Mikoto hanya geleng-geleng melihat tingkah calon menantunya itu #eh

"Hinata kenapa kaa-san?" seru Sasuke dari lantai dua.

"Dia pulang. Kaa-san harus siap-siap ke rumah sakit, Sasuke! Kau jaga rumah yaa jaga Hinata juga!" Mikoto berlalu menuju kamarnya untuk bersiap-siap.

.

"Kurasa strategi ini bagus juga.. Oke. Untuk latihan berikutnya kita memakai strategi ini." kata Gaara sambil melihat lembaran kertas yang berisi strategi-strategi permainan yang telah dibuat Sasuke. Yang lainnya pun tampaknya setuju dengan strategi itu dan mereka sepakat untuk mencobanya di latihan besok.

Tadi pagi, Kagami-sensei meminta Sasuke untuk mengumpulkan semua anggota tim basket untuk rapat dan sesuai kesepakatan rapat diadakan di rumah Sasuke. Disinilah mereka. Di ruang tamu kediaman Uchiha.

"Nah.. Karena sudah sepakat, sekarang kita akan membahas mengenai manajer tim yang baru. Kalian tau kan kalau aku sekarang sudah kelas tiga? Jadi sebisa mungkin harus menemukan manajer yang baru untuk tim secepatnya." Matsuri yang duduk di sebelah Gaara angkat suara. "Jadi.. Apa kalian mempunyai kandidat untuk mengisi posisi manajer?"

Semua laki-laki di ruangan itu diam. Sepertinya mereka berpikir siapa kira-kira yang bisa menggantikan Matsuri.

"Bagaimana kalau Hinata Hyuuga?" Celetuk Kiba.

"Apa? Aku tidak setuju!" Seru Karin tiba-tiba.

"Diamlah Karin! Kau bukan anggota klub basket!" Bentak Matsuri.

"Tapi aku tidak suka gadis itu, Matsuri! Lakukan sesuatu!" Karin merengek di samping Matsuri dan Matsuri hanya menatapnya serius. "Tch! Terserah!" Karin pun mengalah. Kalau sudah menyangkut kemajuan klub, Matsuri akan bertindak tegas tidak peduli bahwa itu Karin sekalipun dan Karin sepertinya tau akan hal itu.

"Iya Hinata saja! Saat SMP dia sempat menjadi manajer klub basket bersama Ino." Kata Ayato, salah satu pemain inti.

"Kalau begitu mereka berdua saja kandidatnya. Lagipula keduanya dekat dengan Sasuke dan Gaara."

"Apa kalian yakin?" Tanya Sasuke memastikan keputusan teman-temannya untuk memngangkat Hinata dan Ino sebagai manajer mereka yang baru.

"Kami yakin." Seru mereka kompak.

"Aku tidak masalah." Jawab Gaara.

"Kalau kalian yakin, besok aku akan menemui mereka." Ujar Matsuri. Dalam hatinya, Matsuri cukup setuju dengan pilihan para pemain. Ia juga sudah beberapa kali mengobrol dengan Hinata dan Ino mengenai basket jika mereka ikut ke lapangan. Jadi ia pikir tidak masalah untuk menjadikan mereka penggantinya.

"Kurasa tidak perlu. Aku akan memanggil Hinata sekarang." Sasuke bangkit berdiri.

"Huh? Mereka ada disini?" Tanya Kiba.

"Hn. Sebentar." Sasuke menaiki tangga untuk menuju kamarnya.

"Astaga! Jangan bilang dia menyembunyikan Hinata di kamarnya!" Seru Kiba heboh.

"Apaa?"

"Hei Hinataa! Buka pintunya!" Teriakan Sasuke terdengar dari lantai bawah membuat yang lain penasaran. Beberapa dari mereka menyusul Sasuke.

"Jangan teriak-teriak Sasuke!" Kini terdengar suara Hinata. "Ada apa?!"

"Ke rumahku sekarang! Ajak Ino juga!"

"Untuk apa?!"

"Sekarang! Jangan lama-lama!"

"Ugh! Iyaa! Telepon kan bisa!"

Sasuke menutup pintu balkonnya dan saat ia berbalik, ia melihat beberapa temannya sudah berada di dalam kamarnya. Karin juga ada di antara mereka.

"Kenapa kalian disini?" Tanya Sasuke.

"Jadi, kamarmu dan kamar Hinata berhadapan? Wow!" Tampak wajah Kiba yang takjub dengan fakta yang ia dapatkan.

"Keluar dari kamarku!"

"Eh? Ini jaket Hinata?" Gaara mengambil jaket yang dipakai Hinata semalam yang tergeletak di tempat tidurnya.

"Aku tidak percaya ini!" Teriak Karin kemudian keluar dari kamar Sasuke. Gadis itu benar-benar kesal!

"Gaara!" Sasuke merampas jaket di tangan Gaara. "Keluar kalian!" Sasuke mendorong mereka semua untuk keluar dari kamarnya kemudian menutup pintu kamarnya.

"Jadi Hinata benar-benar tidur di kamarmu ya? Hahaha." Kiba tertawa membayangkannya.

"Tch!" Decak Sasuke. Tapi tak dipungkiri, ada semburat merah di pipi pemuda tampan itu.

Ting tong

Sasuke berjalan cepat menuju pintu depan dan mendapati Hinata dan Ino berdiri di sana.

"Ayo masuk." Sasuke membuka jalan sehingga Hinata dan Ino bisa masuk.

"Eh? Kenapa ramai sekali?" Tanya Hinata yang cukup terkejut dengan banyaknya orang di ruang tamu.

"Gaara-kun!" Seruan Ino menyadarkan Hinata kalau ia mengenal mereka semua.

"Sasuke." Hinata menarik lengan Sasuke.

"Hn?"

"Kenapa anggota klub ada disini? Kenapa kau memintaku kesini? Kenapa Ino-"

"Ah mereka datang." Perkataan Ayato membuat semua yang ada di ruangan ini menatap ke arah mereka.

"Sebenarnya ada apa Sasuke?" Tanya Hinata lirih.

"Ayo duduk." Sasuke menuntun Hinata duduk di samping Ino yang sudah duduk duluan di samping Gaara.

"Halo Ino dan juga Hinata." Sapa Matsuri.

"Hai. Jadi apa ada sesuatu?" Ino mewakili pertanyaan yang juga ada di kepala Hinata.

"Begini. Aku kan sudah kelas tiga, jadi aku sebagai manajer tim ingin meminta tolong pada kalian untuk menggantikanku. Kalian mau kan?" Kata Matsuri to the point, sedangkan kedua gadis di depannya hanya menatapnya terkejut. Semuanya terdiam menunggu respon Hinata dan juga Ino. "Jadi... Bagaimana?"

"Tu-Tunggu sebentar. Senpai meminta kami menjadi manajer tim basket, begitu?" Ino angkat bicara.

"Iya. Anak-anak yang lain sudah setuju. Tinggal menunggu keputusan kalian berdua." Jawab Matsuri disertai anggukan persetujuan dari anggota yang lain.

"Sasuke, Ini pasti ulahmu kan?" Hinata berbisik pada Sasuke yang duduk di sampingnya.

"Aku tidak ikut campur. Nanti aku jelaskan. Kau terima saja." Balas Sasuke juga dengan berbisik.

"Aku tidak keberatan." Ino tersenyum menerima tawaran Matsuri. Kini semuanya menatap Hinata, menunggu jawabannya.

Gadis yang menjadi pusat perhatian ini mendadak merasa gugup. Matanya melirik Sasuke yang juga menatapnya. Anggukan Sasuke membuat Hinata memberanikan diri menatap Matsuri.

"A-aku juga tidak keberatan." Kata Hinata lirih.

"Woohoo!" Seru anak-anak disana heboh. Mereka akan memiliki dua manajer baru.

"Bagaimana ini Sasuke?" Hinata kembali menatap Sasuke.

"Kau bisa melakukannya. Aku yakin." Sasuke menatap Hinata sambil menautkan jemarinya di tangan gadis itu untuk meyakinkannya.

"Nah kalau begitu, aku tinggal memberitahu Kagami-sensei. Hehe.." Matsuri terkekeh. Ia tidak menyangka kalau anak-anak itu akan memilih Hinata dan juga Ino. Kalau mengingat percakapannya dengan Kagami-sensei beberapa hari yang lalu, ia menjadi semakin yakin pada gadis itu. Bagaimanapun, Hinata adalah orang yang direkomendasikan oleh Kagami-sensei sendiri tanpa sepengetahuan anak-anak yang lain, termasuk sang kapten, Sasuke.

"Menyebalkan!" Seru Karin kemudian gadis itu berdiri dan keluar dari rumah Sasuke.

T.B.C