Crossing the Rubicon
Genre : Fantasy, Romance
Main pairing : Levi and Mikasa Ackerman
Disclaimer : Hajime Isayama
WARNING : OOC, AU, alur gak jelas, dan lain-lain
.
Epilogue
.
Oleh karena itu secara perlahan satu demi satu, kejadian-kejadian anehnya berhamburan keluar—Dan kini kisahnya selesai, dan kami pun menuju rumah, awak riang gembira. Di bawah sinar matahari terbenam.
—"Kata Pengantar", Petulangan Alice di Negeri Ajaib.
"Mikasa, di mana semangat tahun barumu?"
Aku disadarkan oleh suara sopran Sasha yang meledak di samping telingaku. Mau tidak mau punggungku bergidik. Aku menoleh kepadanya.
"Sasha, ayolah, aku sudah melakukan rencana equinox tahun baruku bersamamu barusan, ingat?"
Rencana equinox tahun baru, seperti yang dikatakan Sasha, adalah semacam resolusi—hampir seperti cita-cita populer—di awal tahun baru. Dikatakan harapan kecil juga tidak salah, dan gadis berkuncir kuda itu praktis telah menyihirku jadi orang yang suka berharap. Kami tengah berjalan-jalan di trotoar, melewati kendaraan roda empat yang berlalu-lalang dengan cepat seperti desing peluru. Sasha terus menyesap cappuccino-nya yang baru dibeli di kafe dekat toko konsinyasi seraya mendengarkan ceritaku.
Benar, sudah tujuh bulan berlalu sejak aku pulang. Kota ini bahkan sudah menjadi kota metropolitan lagi tanpa aku sadari.
Dan, sudah tujuh bulan berlalu saat Levi tidak pernah berkunjung. Aku sudah berusaha menghubunginya belakangan ini—bahkan sejak pertama kali aku pulang—tapi dia tidak pernah menjawab dan itu sangat sulit untukku. Aku berusaha menepis kemungkinan-kemungkinan terburuk. Sampai sekarang aku tidak pernah berhenti pada rencana equinox-ku yang berharap agar Levi menampakkan batang hidungnya. Lalu, kata Armin, karena demon tidak lagi melakukan invasi ke dunia manusia, organisasi prajurit pemusnah demon itu sudah dibubarkan, mengingat kalau kami juga sudah hidup nyaman selama tujuh bulan terakhir.
Armin juga menambahkan kalau kota ini sudah lama sekali dipulihkan, jadi tak heran orang-orang bisa beraktivitas tanpa cacat sedikitpun pada bagian jalan atau gedung-gedung pencakar langit.
Satu hari setelah beristirahat, aku menceritakan bagaimana aku bisa masuk ke dalam dunia demon kepada rekan-rekan satu barakku.
Tebak apa yang kudapat hari itu, suara-suara orang kagum.
"Mikasa, kau mau kuantar pulang?" Sasha menawarkan ketika kami tiba di tempat parkir. Dari kantung celananya terdengar gemerincing kunci mobil.
"Tentu," sahutku, masuk ke dalam mobil sedannya yang baru belakangan ini dibeli. Aku bersyukur pula dapat menghadiri pesta ulang tahunnya yang tak disangka-sangka meriah. Semuanya berjalan sesuai rencanaku kali ini.
Sasha memarkirkan mobilnya tepat di depan gang rumahku. Aku mengangkat tangannya seiring kepergiannya dan kemudian berpikir bagaimana aku harus menghabiskan sisa hariku. Aku harus berjalan lagi menyusuri gang sebelum tiba di depan pagar rumahku. Tepat sebelum menghilang ke dalam gang sempit dan dilapisi lumut lembap, aku melirik sepasang wanita tengah berdiri dekat tiang lampu rambu lalu lintas, mencicipi masing-masing es krim vanila mereka, kemungkinan besar menunggu sampai lampu memberikan warna hijau bagi pejalan kaki.
Aku pikir aku baru saja berhalusinasi, namun aku tidak percaya harus mengatakannya juga; itu Ymir dan Christa.
Segera tanpa ragu aku mengejar mereka, tetapi lampu sudah keburu berganti warna jadi merah penuh peringatan ketika aku tiba. Dua demon itu melebur bersama pejalan kaki yang lain—lenyap sekejap mata. Aku mengedarkan kepala ke segala arah. Tidak ada tanda-tanda rambut pirang dan hitam yang kukenal lagi.
Setelah menunggu cukup lama untuk kehilangan jejak, aku mencoba mengejar mereka lagi yang tadi sempat berjalan ke arah karnaval kota. Benar juga, Christa pasti ingin mencoba naik bianglala bersama Ymir.
"Christa! Ymir!" aku berseru ketika berhasil menyusul kedua demon itu. Aku beruntung mereka sedang berjalan santai karena aku punya firasat kalau kecepatan berlari demon tidak sebanding dengan manusia. Mereka menoleh bersamaan. Senyum lebar mendadak berkembang di wajah putih Christa. Dia tidak ragu-ragu untuk memekik gembira, segera berlari ke arahku juga hanya untuk diperhatikan oleh orang-orang sekitar.
"Mikasa, kau di sini rupanya!"
Aku tertawa ketika memberikan pelukan beruang kepadanya. Es krim vanila Christa menetes ke atas kardigan kelabu milikku, tapi aku tak hirau.
"Ke mana saja kau selama ini? Ya ampun, banyak sekali yang ingin kutanyakan sampai-sampai aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Ymir terkekeh. "Yah, kami sudah berada di sini tujuh bulan yang lalu—hidup seperti khalayak umum. Dunia demon telah hancur, sama sekali tidak ada yang tersisa. Setelah Penjaga mati, kami mencoba mencari jalan keluar dan tiba di tempat ini. Manusia memang mengizinkan kami masuk sebagai penduduk sipil karena tidak terlibat dalam perang, tapi dengan syarat; setiap demon tidak diperkenankan membawa kekuatan bersama mereka. Jadi, kami melucuti talenta kami dan menjadi apa yang orang-orang sebut manusia."
Aku terperangah. Butuh lima detik sempurna untuk membiarkan seluruh kalimat itu tercerna. "Jadi, kalian tidak punya kemampuan itu lagi? Mencari-cari benda yang hilang."
Christa praktis menggeleng. "Kalau punya, kau pasti akan menjadi orang pertama yang kami cari saat pertama tiba di sini."
Itu sangat menjelaskan kepala Levi tidak menjawab sinyalku.
"Oh, kalau begitu, apa Levi ikut bersama kalian?"
"Maaf, Mikasa," Christa menyahut lemah. "Aku keluar bersama Ymir saja. Kami tidak melihat siapa-siapa setelah itu."
Yang bisa kulakukan hanya mengangguk paham—harapan yang membuncah-buncah itu kembali surut, diam menjadi permukaan samudera yang damai. Jangan memasang wajah seperti ingin dihibur, aku mengingatkan diriku sendiri. Aku berusaha mengubah subjek sebelum reuni yang seharusnya ceria ini jadi mengharubiru. "Kalian tinggal di mana sekarang?"
Ymir yang menjawabku. "Untuk sementara ini Christa dan aku tinggal di tempat yang pemerintah berikan, khusus hanya untuk imigran-imigran demon yang berhasil selamat ke sini. Sebagai bayarannya, kami harus melakukan kontribusi sosial kepada masyarakat." Aku mengangguk mendengarnya. Membayangkan Ymir dan Christa sama-sama membantu di rumah panti asuhan benar-benar menenangkan hatiku.
"Ah, iya, rumahku tidak terlalu jauh dari sini, hitung-hitung jika kalian ingin mampir—sebelum pertigaan di tempat menyeberang ada gang kecil. Yah, rumahku tepat di ujung gang, yang sebelah kiri," kataku, mengubah subjek pembicaraan sebelum ruang kosong itu membuatku melamun memikirkan keadaan Levi yang tidak jelas. Aku rasa aku telah berusaha seceria yang dapat kulakukan.
Tapi, siapa yang kubohongi? Christa sadar aku begitu terpukul mendengar berita tersebut. Dia meremas jemariku dan tersenyum. Aku nyaris tidak bisa membedakan Christa sebagai demon dan manusia. Kedua versi Christa tersebut telah menolongku lebih banyak dari yang aku bayangkan.
"Akan kami ingat," jawab Ymir. Aku balas tersenyum kemudian memutuskan untuk benar-benar pulang. Berjalan kembali ke arah gang berlumut itu.
Barangkali akan merenung di sofaku.
"Mikasa, hei, tadi ada yang mencarimu." Ketika tiba di depan pagar rumah, tetanggaku memanggil dari terasnya. Aku mengerutkan alis, mencari-cari daftar kewajiban yang harus aku sudahi untuk seharian ini.
"Hannes, ya ampun, aku lupa mengambil pesanannya." Aku menepuk dahi, mencari-cari di dalam tas tanganku.
Petra, wanita yang usianya kurang lebih tiga tahun lebih tua dariku itu tersenyum. Dia tengah merawat salah satu tanaman Passiflora favoritnya. "Kau benar-benar seperti keponakannya."
Aku tertawa renyah, mendapati kalimat itu lebih pada sarkastis daripada menghibur seperti kedengarannya. "Demi kasih Tuhan, kutuk saja aku. Dia cuma pria tua pemabuk dengan hobi gila untuk menyuruhku mengambil makanan yang dipesannya."
"Yah, dia barangkali sibuk," ujar Petra, tapi aku sudah keburu berlari meninggalkan rumah.
Sebenarnya yang dikatakan wanita berambut karamel itu benar. Hannes sudah seperti paman tiri sejak dia praktis jadi mentor berlatihku. Armin bilang dia jago membunuh demon walaupun harus dengan tangan kosong. Waktu itu aku hanya melemparnya dengan pandangan hampa dan tidak lupa dengan, yang benar saja, Bung?
Karena sekarang kami semua sudah resmi pensiun, aku ragu Hannes bisa mendapatkan pekerjaan tetap dengan sikapnya. Kota ini tidak memerlukan tenaga kerja mantan pemusnah demon dan Hannes bukan tipe pria yang bakal menyetrika dasinya sendiri setiap pagi.
"Aku benar-benar menyesal," kataku ketika tiba di depan pintu apartemennya, membawa makanan Cina yang dia titip kepadaku. "Tapi, nyonya di konter itu bilang makanannya tidak dingin karena kebetulan baru diangkat dari kompor."
Pria bersurai kuning pasir itu tertawa keras. Aku hampir terlonjak karenanya. "Aku yang seharusnya minta maaf karena merepotkanmu—yah, anak-anak muda semestinya bisa menghabiskan waktu mereka tanpa harus menyanggupi pesanan seorang pria tua. Tapi, serius, aku masih bisa minta bantuanmu lain kali, 'kan?"
Aku tahu seharusnya aku minta orang lain mengantarkannya dan membuat alasan-alasan rasional. Ini memang persis Hannes yang kukenal. Di detik sebelumnya dia akan meminta maaf karena sudah membuat repot atau apalah, tapi di detik berikutnya dia sudah berpikir optimis kalau aku bakal siap membantunya seolah-olah aku sudah terlahir untuk itu.
"Tentu, tidak masalah," balasku dengan ringan.
"Apa kau mau mampir sebentar?"
"Hari sudah mau larut, barangkali lain kali. Terima kasih atas tawaran baik hatimu, Hannes."
Pintu kemudian ditutup dengan ceklikan lembut, meninggalkanku berdiri di bawah lampu neon temaram apartemennya. Malang sekali, Hannes bisa dapat tempat tinggal yang lebih layak dibandingkan sebuah apartemen tua.
Hari mulai gelap di sekitar sini. Omong-omong, semuanya terasa asing ketika aku pertama kali pulang. Langitnya, bentuk perumahan, dan kendaraan-kendaraan yang tidak bisa kau temukan di dunia demon. Aku tahu kendati nyaris tidak ada yang berubah di antara dua dunia yang berbeda itu, aku benar-benar membutuhkan waktu lama untuk readaptasi.
Tiga bulan memang waktu yang sebentar, di sisi lain, aku sudah terlanjur terikat dengan dunia demon.
Trotoar yang menuju ke rumahku sudah mulai sepi, begitu pula dengan jalan rayanya—sedikit kendaraan yang melaju, itu pun diselang beberapa menit lamanya. Lampu-lampu jalanan yang berwarna kuning sawo berdiri terpisah dengan jarak setimbang, laron-laron kecil mengerubunginya mencari kehangatan. Aku melesakkan kedua tanganku yang beku ke dalam saku kardigan.
Baiklah, itu tidak membantu sama sekali.
Di tikungan, aku berpapasan dengan tiga pria berpakaian serba hitam. Salah satunya mengerling ke arahku. "Hei, kau berhenti di sana."
Aku menghiraukan mereka dan terus berjalan, kaki kanan di depan disusul yang kiri. Hal seperti ini tidak jarang terjadi di bagian-bagian tersisih dari kota, orang-orang mesum seperti mereka selalu aktif beroperasi setiap malam.
Mencari mangsa yang keluyuran sendiri.
Salah satu dari tiga pria itu meraih bahuku, dan aku segera menampik kasar.
Seringaian masing-masing terlukis di wajah mereka. Aku hanya perlu mengernyit walaupun tidak dapat disangkal kalau jantungku mulai terpompa tidak normal. Bertanya-tanya melebihi batas wajar apakah mereka membawa senjata tajam atau tidak.
"Wow, kita punya satu wajah garang di sana," pria itu bersiul lewat gigi-giginya.
Mari lihat, aku sudah melewati masa-masa di mana nyawaku diregang sebanyak tiga kali. Atau mungkin lebih. Tubuhku dilatih sampai memar dan babak-belur hanya untuk mengelak dari serangan-serangan iblis berkulit manusia. Dan, orang-orang ini cuma manusia biasa. Jadi, yah, aku pikir aku sudah cukup tangguh sekarang.
Tanpa banyak berpikir aku beralih kepada pria di hadapanku, menghantamkan tungkaiku yang punya potensi tinggi untuk mengakhirinya dari mendapatkan keturunan. Dia mengerang dan terjengkang ke atas aspal.
Pria yang lain mencengkeram pergelangan tanganku, dan saat kulihat, seluruh seringai mesumnya lenyap. Kini dia bertampang maniak. Aku mengangkat serta membantingnya kepada pria di sayap kiriku. Mereka terlempar bersamaan dan melenguh nyeri.
Satu-satunya yang bisa menghentikan seluruh bela diri itu hanya Levi. Aku ingat betapa dia mampu meringkus tubuhku tanpa memerlukan tenaga yang berlebih.
Juga bisikan jernihnya di telingaku, Aku tidak akan melakukannya kalau jadi kau, Mikasa.
Selagi aku sibuk dengan ponselku untuk menelepon panggilan darurat, salah satu dari mereka telah pulih dan mencoba menamparku matang-matang. Aku menghindar cepat, untuk sesaat aku teringat wajah-wajah demon yang marah, gigi taring menghiasi mulut mereka yang agak terbuka. Mataku secara tidak sengaja melirik tato bulan sabit di lehernya. Sedetik aku tercenung mengamatinya menyala disiram cahaya rembulan.
Dia memakai kesempatan itu untuk mendorongku ke tembok terdekat, menghapus jarak kami sampai aku harus menggeram karena aroma alkoholnya menggapai hidungku. Ponselku jatuh dengan suara berkeretak tajam.
Aku tidak tahu apa yang mungkin dilakukannya setelah keadaan kalut ini, matanya hanya seperti Lycan lapar. Sebelum dia sempat melakukan apa yang terlintas di pikirannya, seseorang meninju wajahnya dari sisi kanan. Pria bertato itu terperosok ke sisi berlawanan, nyaris menarikku bersamaan karena bahuku dicengkeram kuat-kuat olehnya. Beruntung aku masih mampu berdiri di atas kedua kakiku.
Aku menoleh untuk mendapati seseorang dengan lengannya yang terjulur ke depan. Dia melirikku dan saat itu juga tubuhku terasa tenggelam ke dasar.
Levi.
"Hei, aku lihat kau berhasil menghancurkan beberapa di sana," katanya enteng, seolah-olah kami baru bermain petak umpet dan dia berhasil menemukanku di sini. Suara monoton itu tetap sama, gerak-geriknya, rambutnya, serta senyum simpulnya ketika melihatku.
Ya Tuhan, betapa aku merindukan segala hal kecil itu.
Aku memungut ponselku yang kini jadi serpihan metal, muram. "Kita tinggalkan saja mereka," kataku, menarik tangan Levi. Berjalan lurus ke arah rumahku.
Kali ini aku yang menjamunya. Levi sempat menyapu sekeliling rumahku seperti bertanya-tanya, awalnya dia ragu-ragu untuk masuk.
"Jadi, bagaimana kau bisa sampai di sini? Aku pikir kau… tidak selamat," bukaku, seraya menyerahkan secangkir teh merah hangat ke dalam tangannya. Levi membuat dirinya nyaman dengan duduk di atas sofa beleduku. Pemuda itu tersenyum.
"Baiklah, aku semacam terpisah dari kelompok sehingga aku sama sekali tidak punya ide tempat macam apa ini. Aku mencoba hidup membaur dengan mereka—tidak sesulit yang aku bayangkan." Levi mulai menyesap teh hangatnya.
"Sekarang kau mengerti rasanya jadi orang asing sendirian di dunia antah berantah," cetusku, mengambil tempat di sisinya. Debaran jantung yang sama, ritme yang tak pernah berubah, semua itu terikat menjadi satu dalam tubuhku. "Tentu saja tidak sulit, orang-orang ini 'kan tidak punya kuku-kuku tajam."
Demon itu terkekeh, mengusapkan telapak tangannya pada dinding cangkir. "Aku rasa mereka punya kebiasaan yang buruk untuk menyerang wanita di malam hari."
"Itu salah satunya." Sambil diam-diam menikmati kehangatan suhu ruangan, aku bersandar di bahu Levi.
"Aku senang kau kembali. Aku sempat putus asa karena kau tidak kunjung datang, tujuh bulan bukan waktu yang sebentar. Saat bertemu Christa tadi dia bilang tidak melihatmu sama sekali. Dan, di situ aku berpikir kau tidak selamat," kataku lirih, menempelkan tanganku di atas tangannya, meyakinkan diriku sendiri kalau orang ini adalah Levi yang kukenal.
Levi yang berhasil membuatku jatuh hati kepadanya.
Meletakkan cangkir di atas meja kaca, Levi segera membungkus tanganku dengan miliknya yang hangat. Aroma teh sejuk menyapa ke dalam tenggorokanku. "Aku tahu kau amat sangat khawatir—manusia-manusia itu memaksaku melenyapkan talentaku sendiri lalu membuatku harus tinggal di rumah sewaan. Aku juga melakukan berbagai macam pekerjaan sosial, itu kata mereka sebagai ganti rugi atas apa yang telah kaum demon lakukan sebelumnya, tetapi aku merasa lebih karena aku harus membayar ongkos tumpangan di dunia manusia. Rasanya gila mencarimu di setiap penjuru kota ini, tapi syukurlah aku masih dapat melihat masa depan di dalam mimpi jauh sebelum dunia demon resmi tamat."
Aku menyentakkan kepalaku dari bahunya, melempar sorot mata tidak percaya. "Apa maksudmu?"
Dia menatapku balik, nyaris memicing. "Ingat ketika aku mendapatkan mimpi buruk malam itu? Sebelum prajurit-prajurit melakukan invasi?"
Aku mengangguk pelan. Levi menyambung lagi kalimatnya. "Yah, nah, mimpiku memberitahu dunia demon akan benar-benar bobrok, hanya beberapa saja yang mampu menyelamatkan diri. Bagaimanapun, di mana ada kabar buruk, kabar baik tidak pernah ketinggalan keretanya untuk menyusul."
Aku tidak bisa menghentikan diriku dari tidak tertawa. "Serius, berita baik apa?"
"Aku akan bertemu denganmu kembali tepat di pertigaan jalan raya di pinggir kota. Saat itu aku tidak tahu kapan akan terjadi, persisnya, aku terus mencari tikungan yang diproyeksikan ke dalam mimpiku sampai-sampai aku tidak bisa menghitung lagi berapa banyak tikungan yang sudah kulewati." Levi menggaruk kepalanya sendiri seperti kebingungan. Kemudian menimbang-nimbang untuk melanjutkan, "Namun, aku tidak lihat kau diserang tiga orang tolol di sana."
"Masa depan tidak selalu benar."
Awalnya Levi melepaskan diri dari menggenggam tanganku lembut-lembut, di detik berikutnya dia sudah lebih dari optimis untuk mendorongku sampai telentang di atas sofa. Kepalaku terantuk lengan sofa yang keras nyaris seperti batu.
"Aw," aku merintih, menggosok tengkuk, tetapi sejurus kemudian kami sama-sama tertawa.
"Maaf," bisik Levi, menggeserkan bibirnya di atas pipiku, dan aku dapat merasakan seluruh tubuhku membara seperti tungku. "Sayang sekali, Mikasa, apa yang kulihat selalu benar. Termasuk kau yang berada di bawahku saat ini."
"Siapa yang tahu kau jadi pandai menggoda? Dulu kau masih kaku, dan mengerikan," tambahku, mencoba gerakan bulu-mata-menyapu-ke-bawah.
"Banyak hal yang sudah mengubah kita, Mikasa."
"Jadi, apakah tujuh bulan yang lama itu telah mengubah perasaanmu?" tanyaku, menelusurkan jari di antara helaian rambutnya yang selembut sutra, kemudian beralih ke tengkuk. Rasanya tidak cukup hanya dengan menelusuri jari di setiap permukaan kulitnya. Mendadak aku teringat fantasi Christa soal kami berdua yang berada di satu ranjang. Malam ini. Mungkin malam ini akan terulang lagi.
"Tidak sama sekali," Levi menyahut hangat, menyingkirkan sejumput poni hitamku yang baginya mengganggu. Aku menariknya lebih dekat, mencium bibirnya lembut. Kali ini tidak ada perasaan gelisah atau apa, Levi ada di sini, dia praktis melengkapi sebagian diriku yang hilang.
"Akhirnya aku tahu," ujarnya di atas bibirku, menyeringai, "bagaimana manusia menyatakan perasaannya."
Aku menaikkan sebelah alis, ikut tersenyum. "Dan apa itu?"
Levi merengkuhku lebih erat, kalimat yang selanjutnya berputar-putar manis di dalam kepalaku seperti puding custard. "Aku mencintaimu, Mikasa."
End
Reply Review:
xoxo : Ini mereka udah ketemu lagi kok, hehehehe. Gomenn jika updatenya gak asap! Terima kasih Review-nya :D
siskap906 : Wahh, terima kasih banyak! *bungkuk2* padahal saya merasa kalau alur cerita ini kecepetan :") tapi ya sudahlah *vlakk* Okeee, ini sudah di-updatee! Terima kasih atas Review-nya! :D
Halo! Yap, akhirnya fanfic ini tamatt. Rasanya lama banget ya, padahal cuma 7 chapter, hemmm. Ini semua karena keterlambatan update, hemmm. Bingung mau bahas apa lagi.
Terima kasih untuk yang sudah rajin kasih Review dari prolog sampai epilog yang berakhir dengan bahagia ini. Terima kasih untuk para Readers maupun Silent Readers yang mau merelakan waktunya untuk mengikuti alur cerita (aneh) ini. Semoga rasa penasarannya sudah lunas terbayarkan (?)
Sampai jumpa di fic RivaMika yang lain~! Have a great day! :D
