Disclaimer: Kuroko no Basuke's owned by Fujimaki Tadatoshi
Warning: Typo(s), ooc, Au, slow progress, slow update, dsb.
Genre: Supernatural n Fantasy
.
.
Hbd Kuroko Tetsuya
.
.
.
"Ohayou…"
Tetsuya mengusap kelopak matanya dan menghampiri Chihiro yang duduk di depan televisi sambil memegang secangkir susu cokelat hangat yang mengepulkan uap.
Mengangkat bahu dan melangkah menjauh karena tidak adanya respon, Tetsuya dapat mendengar suara pembawa berita sambil berlalu menuju dapur untuk membuat teh hijau kemudian membawa cangkirnya menuju sofa.
"Aku tidak suka atmosfir hari ini," Chihiro bergumam saat Tetsuya mendudukkan diri di sebelahnya, kening si surai kelabu berkerut dan mata menyipit, tertuju pada layar televisi, seolah benda itu baru saja mengejeknya.
"Seperti ada aliran yang pekat di tengah massa udara, mendesak dan mendorong," lanjutnya. Tetsuya mendengungkan suara persetujuan. Ia juga dapat merasakannya, sebuah beban berat yang menggantung di atmosfir.
Dialog penyiar dan narasumber mengalihkan fokus Tetsuya, mereka tampak membicarakan topik hari ini dengan bersemangat.
'Ini merupakan fenomena yang luar biasa, sebuah gerhana total yang akan berlangsung dalam durasi yang panjang, belum juga bahwa hari ini bulan berada di lintasan terdekatnya dengan bumi,' sang narasumber menjelaskan dengan ekspresif. Sang penyiar menanggapi dan memberikan pertanyaan selanjutnya.
'Tentu saja, bulan akan tampak begitu besar dan berwarna merah, malam ini akan menarik sekali, setelah super blood moon akan disambung dengan blue moon, bagaimanapun ini adalah bulan tambahan pada perhitungan angkasa dan partikel debu yang cukup tebal akhir-akhir ini akan menambah efek warna birunya,' dengan lancar si narasumber menjelaskan panjang lebar.
Tetsuya melirik Chihiro yang menyesap susu cokelatnya dengan tidak tenang, patron itu pasti memiliki firasat yang tak enak.
"Ah, ini hari yang buruk," ujarnya merenungi susu cokelat. Tetsuya bangkit berdiri dan bersandar pada jendela. Ia dapat melihat pekerja kantoran yang berlalu lalang di bawah, matahari bersinar cerah, langit biru jernih dihiasi beberapa gumpalan awan putih bersih, tetesan embun tampak menggantung di ujung daun. Ini adalah pemandangan yang diharapkan orang-orang menyapa ketika bangun tidur.
"Kurasa manusia tidak akan setuju dengan ucapanmu Chihiro," komentarnya menyesap teh hijau pahit.
"Mereka kan tidak tahu apa-apa," cibir Chihiro. Oh, massa jenis yang berat itu masih keras kepala melawan udara ringan yang melingkupi. Ia tahu itu, sebuah takdir yang sedang bergeser, menolak berjalan beriringan dengan yang lainnya, karena ia punya dorongan yang terlalu besar untuk dapat bersabar merangkak pelan.
Chihiro mendesah, "Unmei … unmei …"
.
…
.
Kelopak mata terbuka perlahan, berkedip beberapa kali untuk mengadaptasikan retina dengan sinar mentari yang menyusup lewat celah gorden. Kagami mendudukkan diri. Wajah bangun tidurnya terlihat lesu dan kusut.
Ia segera beranjak untuk menggeser gorden lebih lebar, mempersilahkan masuk cahaya matahari pagi yang begitu cerah.
"Padahal ini adalah hari yang bagus," gumamnya sambil menelengkan kepala ke kanan dan ke kiri, mengusir kekakuan yang disebabkan tidur. "Tapi rasanya perasaanku sama sekali tidak cerah."
Tidak mau berlama-lama melamun, pemuda berambut merah bergradasi gelap itu segera ke kamar mandi, mencuci muka dan menggosok gigi sebelum beranjak ke dapur untuk membuat sarapan yang simpel.
Setelah selesai membersihkan peralatan makan, ia membawa secangkir kopi panas ke arah sofa menyalakan televisi tanpa benar-benar menyimak berita pagi yang disajikan saluran yang sembarangan ia pilih.
Hari ini libur dan dia tidak punya agenda apapun untuk mengisi kekosongan waktu yang ia miliki seharian ini.
Biasanya Kagami tidak keberatan hanya menghabiskan waktu bermalasan di apartemennya sendirian, tapi perasaannya yang tidak enak sedari bangun tadi membuatnya bagai kucing yang sedang gugup. Tak mau diam.
"Ah, lebih baik aku berjalan keluar saja," pikirnya membuat sebuah keputusan.
Ia segera mengambil jaket hitam bertudung, memakainya lalu melesat keluar setelah dua pasang sepatu menutupi kaki.
Kagami berjalan tanpa tujuan, hanya mengelilingi kota. Melihat-lihat etalase toko, pejalan kaki lainnya, atau apa saja yang bisa dilirik.
Pada saat jam makan siang ia mengunjungi Maji burger, memesan segunung burger dan segelas besar cola. Setelah itu ia kembali menyusuri kota dengan angin yang membimbing sampai ia menemukan lapangan basket jalanan yang kosong dan sebuah bola yang tergelatak di dekat ring. Tidak ada orang lain dalam radius dekat, sehingga Kagami tanpa ragu memainkan bola tersebut.
Tanpa sadar langit sudah bermandikan cahaya jingga begitu ia puas bermain. Tubuh dibanjiri keringat, membuat kaos singlet putih yang dikenakannya basah kuyup seperti baru saja kehujanan.
Kagami meletakkan bola yang dipakainya bermain kembali ke tempat ia menemukan. Menyampirkan jaket yang dilepas sebelum bermain kemudian berjalan untuk kembali ke apartemen.
Teringat akan persedian bahan makanannya yang menipis, Kagami memutuskan untuk singgah sebentar ke konbini, membeli bahan untuk dimasak malam ini dan besok pagi.
"Sudah jam segini," gumamnya melirik jam tangan dan bertanya-tanya apakah ia sampai nanti ke apartemen akan sudah terlalu larut.
Kagami terhenti begitu mendengar samar suara-suara aneh dari gang kecil dan gelap. Gang itu sebuah lorong kecil yang membatasi gudang yang terbengkalai dan toko tua yang sudah ditutup pemiliknya tadi sore.
Kagami sebenarnya tidak mau memperdulikan dan tetap akan berjalan pergi, namun rasa penasaran malah menuntun kakinya berbelok.
Semakin mendekat, Kagami dapat mendengar suara beberapa orang pria, tertawa-tawa dengan suara berat dan parau. Pemuda itu mengernyitkan hidung begitu mencium bau asap rokok serta minuman keras yang tajam.
Ia sudah akan berbalik kembali karena berpikir itu hanyalah tempat orang-orang kacau berkumpul ketika suara tangis ketakutan terdengar.
Kagami menahan napas sembari perlahan mendekat, sedapat mungkin tidak menimbulkan suara. Ia letakkan kantung belanjaannya dan mengendap dengan langkah hati-hati.
Dalam minimnya penerangan, Kagami dapat melihat sekumpulan pria berpakaian lusuh menyudutkan seorang wanita yang menggigil ketakutan dikitari wajah-wajah jelek yang menyeringai padanya. Kagami dengan cepat menghitung jumlah mereka, ada sepuluh orang laki-laki bertampang preman, di sekitar mereka berserakan botol-botol minuman keras yang telah kosong.
Salah satu dari mereka menahan seorang wanita muda yang mengenakan baju kantoran menyandar rapat ke dinding gang yang buntu. Salah satu lututnya diletakkan di antara paha si wanita sedang tangan kanannya menyentuh bagian-bagian tubuh yang tak seharusnya.
Wanita itu menangis, memohon untuk dilepaskan, namun permintaannya tidak akan mungkin dikabulkan melihat kilat nafsu di mata pria yang mengepungnya.
Segera saja Kagami tahu apa yang sudah terjadi. Wanita malang itu baru pulang kerja, dengan sialnya melewati daerah sepi dimana ada sekumpulan preman yang tengah mabuk yang kemudian menariknya dan kemungkinan besar akan mereka gilir untuk memuaskan birahi.
"Hei hentikan!" teriak Kagami tepat pada saat orang yang menahan si wanita itu ingin melepas roknya. Semua kepala menoleh pada Kagami. Raut wajah terkejut segera berubah kesal.
"Apa bocah?! Lebih baik pergi saja jangan mengganggu kami!"
"Lepaskan dia!" tunjuk Kagami pada si wanita yang menatapnya dengan tatapan memohon pertolongan.
"Dia bukan urusanmu! Jangan sok jadi pahlawan!"
Pria yang menahan si wanita itu melempar si wanita sampai membentur dinding toko kemudian melangkah dan berdiri di depan teman-temannya.
"Dengar ya anak muda," ucapnya dengan suara berat. "Kami akan berbaik hati membiarkan kau tidak berakhir biru-biru, jadi cepat pergi dari sini!"
"Tidak akan!" seru Kagami lantang. Dia mana mungkin membiarkan mereka melakukan perbuatan keji begitu.
Wajah mereka langsung berkerut tak senang.
"Hoo…" ucap salah satunya, menggertakkan gigi marah. "Punya nyali juga kau. Baiklah, sepertinya enak juga ya mematahkan beberapa tulang bocah sombong malam ini," lanjutnya sembari meninju kepalan tangan kanan ke telapak tangan kiri.
"Bagaimana?" tanyanya pada teman-temannya. Satu per satu mengangguk dengan seringai lebar.
Kagami memasang sikap siaga saat mereka mulai mendekatinya bersamaan. Sejujurnya, walau penampilannya tidak mendukung pernyaataan ini, dia belum pernah sekalipun berkelahi, semua pertarungan yang pernah ia alami berlangsung di lapangan dengan bola basket yang menjadi alat penentu dan tentunya sportif dan fair.
Bermodal fisik dan reflek dari hasil latihan selama bermain basket, Kagami berhasil menghindari serangan mereka dan satu dua meluncurkan kepalan tinju ke wajah mereka.
Tapi bagaimanapun, Kagami tetap kalah jumlah. Dia tidak bisa menangkis serangan dari seluruh penjuru sekaligus. Bisa dibilang, pukulan yang ia terima lebih banyak daripada yang ia lancarkan.
Satu pukulan telak di wajah dan satu pukulan keras lain di ulu hati pada tubuh yang sudah lebam dimana-mana membuat Kagami tumbang.
Para preman itu tertawa puas sembari menendangnya dengan angkuh.
"Begini akibatnya kalau kau menganggu orang yang ingin bersenang-senang," ucap seseorang sembari menginjak perutnya.
Kagami mengerang kesakitan. Matanya masih menatap tajam kelompok preman itu.
"Ini akan memberimu pelajaran untuk tidak sok menjadi pahlawan lagi," ucap yang lain dengan nada mengejek, kali ini menginjak dadanya.
"Akh!"
Ini lebih menyakitkan, udara serasa dipaksa keluar dari paru-parunya. Tendangan-tendangan lain menyusul mengenai sisi tubuhnya. Tawa ejekan dan ucapan cemoohan menggema di telinganya yang mulai berdenging dengan suara yang menyakitkan.
Setiap ejekan yang mereka keluarkan membuat rasa marah Kagami menggelegak, ia dapat merasakan amarahnya yang makin memuncak dalam dada. Tapi Kagami tidak punya tenaga lagi untuk melawan.
Pandangannya makin kabur. Tepat saat itu ia menenggadah ke langit. Bulan purnama terlihat begitu besar dan dekat, dapat diraih oleh lengannya. Warnanya merah menyala, mengerikan dan juga menawan. Bayangan hitam perlahan melahap cahaya bulan.
Semakin lama semakin bulan ditelan bayangan hitam.
Tepat dengan sempurnanya gerhana total, pandangan Kagami menggelap sepenuhnya.
.
…
.
Tetsuya dan Chihiro berdiri bersebelahan di depan jendela. Dalam diam memandangi bulan merah besar yang masih condong derajatnya di timur langit malam. Walau begitu proses gerhana bulan telah berlangsung setengahnya.
"Oh, sebentar lagi total," sahut Chihiro memandangi sisa cahaya merah yang akan ditelan bayangan hitam.
Tetsuya tertegun, menatap telapak tangannya yang bersinar kebiruan. Sebuah lingkaran dengan di dalamnya berpola dendritik radial.
Wajah Tetsuya langsung cemas. Ia menoleh pada Chihiro yang mengangguk. Langsung saja pakaian mereka berubah, baju putih longgar khas patron dan topeng masing-masing menutupi wajah.
"Ayo kita ke sana," ucap Chihiro memegang pundak Tetsuya karena hanya Tetsuya yang tahu lokasinya dengan mantra yang telah ditanam Tetsuya.
Tetsuya mengangguk dan dalam satu tarikan napas, keduanya hilang.
.
…
.
Chihiro menjejakkan kaki di atas atap toko dan melepaskan tangannya dari pundak Tetsuya.
Sebuah raungan keras mengalihkan atensi mereka berdua ke gang sempit yang ada di bawah.
Tetsuya menahan napas tanpa sadar. "Itu …"
"Roh hewan buas yang sempurna," Chihiro melengkapi perkataannya.
Tetsuya masih terperangah, hanya bisa mengangguk menyetujui. Di sana, di gang yang gelap, berdiri sosok yang berani Tetsuya katakan indah. Dia belum pernah melihat manusia yang memiliki roh hewan buas bisa bertransformasi seperti ini.
Biasanya wujud transformasi roh-roh yang lemah masih tampak sepenuhnya manusia dengan sedikit tanda-tanda hewan seperti kuping dan ekor. Sebagian yang lebih kuat malah terlihat bagai hybrida aneh dari manusia dan binatang.
Kulit manusia dan bulu hewan yang melebur tampak begitu ganjil. Ditambah bagian-bagian tubuh seperti moncong dan telapak kaki dan tangan yang tak bisa dikategorikan tangan manusia atau binatang.
Semua dari mereka selalu tak sedap dipandang.
Tapi baru kali ini ia melihat wujud yang begitu natural.
Bulu harimau yang belang jingga hitam tampak berkilau dan halus menutupi torso dan lengan Kagami, sama sekali tidak terlihat aneh. Telinga yang runcing berbulu khas kucing buas. Badan Kagami tampak lebih besar, otot-ototnya menegang dengan jelas, memberi lengkungan yang tampak perkasa. Lututnya tertekuk, dengan telapak kaki dan telapak tangan yang sudah seperti cakar harimau. Saat pemuda berambut merah gelap itu mengaum terlihat deretan gigi yang tajam dengan sepasang taring besar yang mencuat.
Jeritan ketakutan yang gugup mengalihkan fokus sepasang patron itu, mereka melihat beberapa manusia yang terpaku di tempat dengan wajah yang pucat dan kebingungan.
Lima diantaranya sudah tak sadarkan diri, kemungkinan besar dari pukulan telak yang dapat Tetsuya lihat dari jejak lebam biru di wajah dan cekungan di perut mereka.
"Gawat," desis Chihiro, dengan gerakan kilat ia berdiri diantara mereka yang masih sadar, memukul tengkuk mereka sehingga semuanya pingsan.
"Nah sekarang tinggal itu yang harus diurus," desahnya setelah melirik sekali lagi manusia-manusia yang dia buat pingsan kemudian menatap si manusia pemilik roh hewan buas yang terkendali insting hewannya.
Chihiro melihat Tetsuya yang melompat dan mendarat di depan Kagami. Kagami menoleh pada patron berambut biru tersebut kemudian menerjang.
Tetsuya mengelak dengan tangkas, merendahkan tubuh lalu melompat tinggi. Dia harus menempelkan telapak tangannya pada kening Kagami, tapi pemuda itu melawannya. Membuat si patron yang bertubuh lebih kecil hanya bisa menghindar dari tangan yang disenjatai cakar tajam.
Chihiro segera membantu, ia alihkan perhatian Kagami dari Tetsuya. Menahan setiap serangan dari lengan dan kaki yang begitu kuat. Pisau pendeknya beradu dengan kuku panjang milik harimau. Menghasilkan bunyi berdenting.
Tetsuya melompat kembali dan kali ini berhasil menempelkan telapak tangan kanannya pada kening Kagami.
"Zmrazene!"
Seluruh tubuh manusia ber-roh hewan buas itu membeku. Chihiro mundur. Dia tau bahwa Tetsuya baru hanya membekukan semua aliran darah dan sendi dari Kagami.
Tubuh Tetsuya berpendar kebiruan, sesuatu yang terlihat seperti aliran listrik mengalir di tangannya.
"Navrat!"
Perlahan tubuh Kagami kembali. Giginya yang tajam tampak normal. Otot-ototnya ke ukuran semula. Bulu-bulu belang menyusup ke dalam kulit, meninggalkan kulit manusianya yang kecoklatan. Cakar yang besar kembali menjadi kuku-kuku pendek.
Lalu mata Kagami tertutup dan ia terhuyung jatuh, Tetsuya menahan tubuh Kagami segera agar tidak mencium tanah.
"Oh lihat, ternyata anak itu baru selesai belanja ya," ujar Chihiro dengan nada cueknya yang khas sembari memungut satu kantong plastik belanjaan.
Tetsuya pasti akan menepuk jidat seandainya kedua tangan tidak sibuk menahan berat badan Kagami. Partnernya itu sempat saja memperhatikan detail tak penting.
Tetsuya menurunkan Kagami perlahan, menyandarkannya pada tembok. Kemudian patron tersebut menempelkan tangan ke tanah, sebuah pola kebiruan menyebar, menghubung ke setiap manusia.
"Smazat!"
"Nah dengan begini tidak ada yang akan ingat apa yang terjadi malam ini," ucap Tetsuya.
"Oh lihat, sepertinya Harimau kita ini tadinya ingin menjadi pahlawan." Tetsuya menoleh bingung pada Chihiro. Lalu ia mengerti maksud ucapan temannya begitu melihat seorang wanita muda yang pingsan.
"Perlu kita bawa dia?" tanya Tetsuya.
Chihiro menggeleng. "Tidak usah, aku mendengar sirine polisi, sepertinya ada yang mendengar keributan di sini lalu menelpon. Kalau mereka melihat ini mereka hanya akan menduga bahwa yang terjadi usaha pemerkosaan. Lebih baik kita pergi."
Tetsuya mengangguk. Kemudian berusaha memapah Kagami. "Hey, cepat bantu aku!" serunya pada sang rekan.
Chihiro memutar bola mata malas tapi tetap datang membantu untuk menahan Kagami di sisi yang satunya. "Kita bawa dia ke tempat tinggalnya kembali."
Tetsuya mengintip langit dari balik lubang topengnya. Gerhana telah lewat. Sekarang di angkasa menggantung bulan purnama besar.
.
…
.
Akashi duduk di depan jendela kamarnya dengan secangkir teh merah di tangan. Dua manik berbeda warna itu menonton bulan yang berwarna biru keperakan.
Langit yang hitam tampak ikut berpendar dengan warna biru gelap.
Sudut bibir tipisnya terangkat.
Menarik.
Ada satu aliran takdir yang begitu menarik.
.
Tbc
.
A/N:
Ai: "Loha~ duuuh, dah lama banget nggak update fic ini karena emang ilang ide. Moga masih ada yang minat baca ya…"
Chihiro: "Syok sendiri liat tanggal terakhir update."
Ai: "Tapi akhirnya bisa lanjutin lagi, yeay!" /loncat-loncat.
Tetsuya: "Dan habis ini bakalan pusing dengan ide buat chap selanjutnya." /deadpanned
Ai: /pout. "Disindir lagi. Betewe, aku mau sedikit masukin hint-hint romance, tapi akhir-akhir ini mulai ragu. Ada tiga pair yang rencananya ku masukin tapi dua pair utamanya nggak bakalan dapet ending yang bagus (aku padahal penyuka happy end) beberapa adegan romance itu sendiri sayang dibuang, menurut readers enaknya gimana?"
Chihiro: "Ada pair atau nggak nih ya?"
Tetsuya: "Mohon review dan sarannya." ^-^
