Chapter tujuh di sini!!

Semoga suka ya chapter terakhir ini!! :D

Bleach©Kubo Tite

Love In Library?

--Yuinayuki-chan—


Ichigo masuk ke kelasnya dan melihat banyak anak yang mengerubungi meja Rukia. Ichigo yang penasaran akhirnya mendekati meja Rukia.

"Kuchiki-san, kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Chizuru. Mata Ichigo melebar. Tiba-tiba Ichigo menyeruak di antara anak-anak yang lain.

"Kenapa kamu masuk?" tanya Ichigo. Rukia diam, Ichigo menghela nafasnya. "Aku tanya, kenapa kamu masuk?" tanya Ichigo lagi. Rukia masih diam, Ichigo berusaha menatap mata Rukia, tapi Rukia segera memalingkan wajahnya.

Tatsuki yang melihat itu akhirnya memberi kode agar teman-temannya keluar kelas. Teman-temannya akhirnya keluar, Tatsuki menutup pintu kelas dan membiarkan Ichigo dan Rukia di dalam kelas.

"Rukia!! Aku tanya, kenapa kamu masuk hari ini?" Ichigo mulai kesal dengan sikap Rukia yang tidak menganggapnya. Rukia masih diam. Ichigo menghentakkan kakinya, berusaha meredam emosinya yang naik. Tiba-tiba Rukia berdiri dari bangkunya lalu melangkah keluar. Ichigo berusaha menghentikan Rukia, Ichigo segera saja menarik tangan Rukia. "Rukia! Jawab aku!" Ichigo memperat pegangannya dan membuat Rukia meringis kecil.

"Kau bukan siapa-siapa ku! Apa urusanmu? Tahu apa kamu tentang aku?" hati Ichigo seakan tertusuk banyak pisau mendengar ucapan Rukia. Dan Ichigo merasa Rukia menyindirnya dengan kata-kata yang pernah diucapkannya pada Rukia.

Ichigo diam, menahan amarahnya yang sudah sampai puncak. Didorong pelan tubuh Rukia ke pojok. Ichigo melihat ke arah Rukia yang datar, tidak terlihat gelisah atau takut. "Rukia! Aku sudah berusaha sabar denganmu, aku tahu aku salah.." Ichigo diam lalu melirik ke arah Rukia yang masih bersikap datar. Ichigo mengerutkan alisnya. Sebelum Ichigo melanjutkan kalimatnya bibir mungil Rukia membuka.

"Lalu..?"

Mata Ichigo melebar. Ichigo menurukkan tangannya. "Aku.. memang terlambat, ya.. menyadarinya.. tapi, bisakah kau tidak mendiamkanku? Aku memang sama sekali tidak mengerti jalan pikiranmu itu.." tiba-tiba Ichigo tersenyum lalu melangkah keluar kelas.

Tatsuki masuk ke kelas lalu segera menghampiri Rukia. "Rukia, sebetulnya apa yang terjadi? Kamu dan Ichigo kenapa?" tanya Tatsuki. Rukia tersenyum.

"Aku dan Ichigo tidak ada apa-apa.. biarkan saja.." Rukia lalu berjalan ke bangkunya.


Sejak saat itu, Rukia dan Ichigo tidak lagi saling berbicara, menyapa pun tidak. Rukia dan Ichigo tidak mau membuka mulutnya lebih dulu. Rukia yang duduk bersebelahan dengan Ichigo pindah tempat duduk di dekat jendela, dan Rukia juga lebih sering bertanya pada Ishida jika ada soal yang sulit dan susah dimengertinya. Seakan Rukia menjaga jarak pada Ichigo.

Ichigo juga merasa tidak terjadi apa-apa, sikapnya biasa saja. Tapi, seringkali Ichigo melirik Rukia dan berusaha mendekati Rukia, Ichigo ingin mengajak Rukia bicara, tapi tidak pernah tersampaikan niatnya itu.

Walaupun sikap Ichigo dan Rukia terlihat biasa saja, sama seperti dulu. Rukia yang tidak terlalu dekat dengan Ichigo. Tapi, semua anak sekelas merasa kalau Rukia dan Ichigo ada masalah. Tapi, semua anak diam saja. Mereka tidak mau terlalu ikut campur urusan orang lain. Biar mereka berdua yang menyelesaikannya.


Ichigo masuk ke rumahnya. "Aku pulang!" seru Ichigo. Tidak ada jawaban. "Ke mana yang lain?" batin Ichigo. Ichigo lalu berjalan naik ke kamarnya. Saat berjalan ke kamarnya, Ichigo melihat kamar Orihime yang sedikit terbuka. Ichigo iseng masuk ke kamar Orihime yang kebetulan ada di sebelah kanan kamarnya.

"Kamar cewek. Rapi.." batin Ichigo. Ichigo berjalan melihat-lihat kamar Orihime, dibuka lebar jendela kamar Orihime, dibiarkannya angin yang sepoi meniup rambutnya. Ichigo menopang dagunya dengan tangannya. Matanya melihat keluar rumah. Ichigo menghela nafas lalu menutup matanya.

"Ya Tuhan.. apa yang harus aku lakukan..? Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Rukia?" batin Ichigo lalu menghela nafas lagi.

Brak


Rukia duduk di tangga dan menopang dagunya, melamun. Yuko yang melihatnya merasa kesal karena belakangan ini Rukia lebih sering melamun dan mengurung diri di kamar.

"Kak.." Yuko menghampiri Rukia lalu duduk di sebelahnya. Rukia menengok lalu tersenyum. Yuko menghela nafas.

"Aku tidak bisa dibohongi! Itu bukan senyum kakak yang biasanya!" Rukia menatap Yuko bingung. Yuko tersenyum. "Aku, kenal kakak lebih dari siapapun. Aku tahu kakak memendam semuanya, ya.. semua masalah kakak. Aku juga tahu kakak bertengkar dengan kak Ichigo." Rukia memalingkan wajahnya. "Kak, aku tidak tahu kenapa kakak bisa bertengkar dengan kak Ichigo.. tapi, kakak juga tidak bisa mendiamkannya begitu saja!"

"Kamu enggak tahu, Yuko! Aku kesal dengan sifatnya yang seenaknya! Dia bilang aku tidak usah campuri urusannya, dia juga kasar sekali pada anak baru di kelasku! Aku bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain!" Rukia menutup telingannya dan menutup juga matanya. Yuko menyenderkan kepalanya ke bahu Rukia.

"Kak.. aku yakin kakak mau baikkan sama kak Ichigo. Tapi, kakak terus menghindar dari kak Ichigo, kan?" tanya Yuko. Rukia tidak membuka mata dan telinganya, membiarkan suara Yuko sebagai angin.


Ichigo membuka matanya kaget. Ichigo lalu menengok ke belakang. "Orihime..? A.. maaf! Aku asal masuk ke kamarmu!" Ichigo lalu berjalan keluar. Tapi ada sesuatu yang menahannya untuk melihatnya dengan wajah ketakutan, banyak kertas yang berserakan di bawahnya dan sebuah kardus. Mata Ichigo melebar. Ichigo mengambil sebuah kertas yang berserakan lalu melihatnya.

"Kertas apa ini?" tanya Ichigo. Orihime diam lalu berjalan mundur. "Kertas apa ini?! Kau dengar, kan? Jawab!" bentak Ichigo. Orihime menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Ichigo. Ichigo mendekati Orihime lalu mencengkram bahunya. "Apa yang kau lakukan?! Aku tahu ini kertas soal Rukia! Apa yang kau lakukan!? Jawab!" Ichigo membentak lebih keras. Orihime mengangkat wajahnya. Air mata membasahi pipinya.

"A, aku.."

"… kau tahu tidak kau itu kasar sekali!" Ichigo diam, entah kenapa kata-kata Rukia berputar di kepalanya. Ichigo melepaskan cengkramannya pada Orihime dan membiarkannya terduduk lemas di lantai.

"Kau harus minta maaf padanya." Ichigo lalu keluar dari kamar Orihime.


"Pagi kak!" sapa Yuko.

"A.. pagi!" Yuko menarik kursi yang ada di sebelah Rukia lalu duduk.

"Bagaimana?" tanya Yuko, Rukia mengangkat alisnya bingung. "Minta maaf pada kak Ichigo?" Rukia menundukkan kepalanya. "Ayolah!" Yuko memasang muka memelas. Rukia tersenyum lalu mengangguk. "Kakak mengangguk terpaksa!" ledek Yuko.

"YUKO!!" jerit Rukia.

"Hehe.. sepertinya kakak kembali seperti biasanya." batin Yuko senang.


Rukia duduk di bangkunya dengan gelisah. Tatsuki segera menghampiri Rukia.

"Rukia, kamu kenapa?" tanya Tatsuki.

"A.. aku tidak kenapa-kenapa."

"Kamu kelihatan gelisah."

"A.. benarkah? A.. Tatsuki, aku mau ke perpustakaan saja. Dah!" Rukia melambai pada Tatsuki lalu berjalan keluar kelas.

"Dah!" Tatsuki balas melambai.


Rukia membuka pintu perpustakaan yang masih sepi. Rukia berjalan mengelilingi perpustakaan. Diambilnya sebuah buku. Tiba-tiba Rukia mendengar suara orang yang masuk ke perpustakaan. Rukia segera menutup buku itu, Rukia berjalan keluar. Tapi segera diurungkannya, Rukia segera bersembunyi di rak buku. Karena orang yang baru masuk perpustakaan itu Ichigo dan anak baru itu.

"Sedang apa dia bersama anak itu..?" batin Rukia.

Rukia sayup-sayup mendengar apa yang dibicarakan Ichigo dan anak baru itu. "Kau harus melakukannya. Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu melakukan itu." anak baru itu menunduk.

Rukia mengerutkan alisnya, sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan Ichigo. Rukia masih bersembunyi di balik rak buku dan mencoba mendengarkan lagi.

"A.. aku.. tidak bermaksud begitu, kak.. maafkan aku.." pinta anak itu. Ichigo menghela nafas.

"Harusnya bukan aku yang dapat permintaan itu. Kau harus minta maaf pada Rukia, Inoue." anak itu menunduk lagi.

"Minta maaf..? Anak itu punya salah apa padaku?" batin Rukia. "Eh.. tunggu dulu rasanya aku pernah dengar namanya.. I.. Inu.. Inoue.. apa Inoue?!" Rukia tiba-tiba menjerit, Rukia segera membekap mulutnya dengan ke dua tangannya.


Ichigo tersentak mendengar jeritan yang dekat dengannya. Segera dicari suara jeritan itu berasal dan ditemukannya seorang gadis berambut hitam yang duduk sambil membekam mulutnya. Ichigo menepuk pundak gadis itu.

"Huwa!!"

"Rukia..?! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ichigo heran. Rukia sedikit menjauh dari Ichigo.

"Itu bukan urusanmu." Rukia lalu berjalan keluar tapi, anak berambut coklat itu membungkukkan badannya di depannya.

"Eh?" Rukia heran melihat anak itu. "A.. apa yang kau lakukan?" tanya Rukia heran.

"Maafkan aku! Maafkan aku, kak! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud membuat kakak menangis! Maaf!" Rukia semakin bingung.

"Hei, apa salahmu? Kenapa harus minta maaf padaku?"

"A.. aku.. aku.. yang membakar kardus kakak..."

"Apa maksudmu..?" tanya Rukia. Ichigo bisa melihat kalau badan Rukia bergetar, Ichigo segera menghampiri anak berambut coklat itu. "Apa maksudmu? Cepat jelaskan?!"

"Tenanglah, Rukia!"

"Mana bisa aku tenang! Kau juga dengarkan? Dia bilang dia yang membakar kardusku?! Kenapa kau melakukan itu?! Apa mau mu?!" emosi Rukia naik. Ichigo hanya bisa diam sampai Rukia tenang.

"Diamlah! Dan dengarkan dia dulu. Aku juga tidak mengerti apa maksudnya melakukan hal itu.. ayo jelaskan, Inoue!"

"A.. aku.. melakukan itu karena kak Ichigo…" Ichigo mengerutkan alisnya heran.

"Apa maksudmu?"

"Aku.. tidak mau kehilangan kak Ichigo, karena aku lihat kak Ichigo dan kakak ini dekat. Aku takut semua orang yang dekat padaku tidak akan pernah peduli lagi padaku. Dan aku tahu dari awal, kalau aku memang sudah kalah.."

"Bodoh. Cara berpikirmu bodoh. Dasar, untuk apa kau memaksakan dirimu? Sampai kau rela mengejar orang yang dekat denganmu itu? Haa.. benar-benar pikiran anak kecil." Ichigo mengelus pelan rambut coklat Orihime.

"Yuko. Dia sangat senang waktu kau menjadi anak baru di kelasnya. Tapi kau bodoh, kau yang tidak pernah perduli pada orang yang dekat padamu. Yuko, dia sangat menanti-nantikan bisa makan siang bersamamu." Rukia berjalan keluar perpustakaan meninggalkan Ichigo dan Orihime yang bercucuran air mata.


"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi kak.. aku mau minta maaf pada kakak itu.." Ichigo menghela nafas.

"Ke rumahnya." mata Orihime melebar. "Ya, ke rumahnya. Nanti sore. Kau tidak ada alasan untuk menolaknya." Ichigo keluar perpustakaan membawa kardus milik Rukia.


Rukia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, kepalanya pusing. Yuko segera menghampiri Rukia.

"Kenapa, kak?" tanya Yuko. Rukia tidak menjawab, wajahnya dia tutupi dengan bantal. "Sudah baikan dengan kak Ichigo?" tanya Yuko lagi. Rukia menggeleng. "He? Kenapa?" tanya Yuko heran.

"Yuko, kau sekelas dengan Inoue?" tanya Rukia tiba-tiba. Yuko mengangguk.

"Memangnya ada apa kak?"

"Apa kau sudah makan siang bersamanya?" tanya Rukia. Yuko mengangguk.

"Tapi, paginya dia tidak masuk sekolah aku dengar dia pindah ke sekolah lain." ujar Yuko.

"Apa kau mengharapkannya kembali?" tanya Rukia lagi. Yuko tersenyum lalu mengangguk.

"Tentu saja.."


"Permisi!" Ichigo mengetuk pintu kayu rumah Rukia.

"A.. Kurosaki-kun.. masuklah."

"Terima kasih, Hisana-san."

"Duduklah, mau minum apa?"

"Eh? A.. aku teh saja." ujar Ichigo.

"Nona..?" tanya Hisana.

"A.. aku sa.. sama."

Hisana berjalan ke dapur lalu kembali membawa dua gelas teh. "Ayo diminum." ujar Hisana. Ichigo lalu meminum sedikit tehnya.

"Kurosaki-san, kau tahu kenapa Rukia jadi sering melamun?" tanya Hisana tiba-tiba.

"Aku tahu.. dan aku mau menjelaskan semuanya pada Rukia." jelas Ichigo.

"Kalian bertengkar?" tanya Hisana. Ichigo mengangguk malu.

"Haah.. naiklah ke kamar Rukia. Dia pasti ada di kamar, jelaskan semuanya. Aku tidak mau melihat kalian bertengkar lagi." Ichigo mengangguk lalu naik ke kamar Rukia diikuti Orihime.


Ichigo membuka pintu kamar Rukia. Ichigo segera menghampiri Rukia yang berbaring di tempat tidur. Ichigo lalu menarik paksa tangan Rukia.

"Aduh..!! Apa-apa.. Ichigo?! Kenapa kamu ada di sini?! Lepas!" Rukia berusaha melepaskan tangan Ichigo yang memegang pergelangan tangannya kuat. Ichigo lalu membawa Rukia ke luar rumah.

"A..! Ichigo! Lepas! Sakit!" Rukia mengelus-elus pergelangan tangannya.

"Apa kau sudah merasa senang? Kau senang?" Rukia menaikkan satu alisnya. "Kau senang membuatku bingung? Kau senang semuanya?" Rukia masih diam, tidak mengerti apa yang Ichigo bicarakan. "Jawab aku!" bentak Ichigo.

"Aku mana bisa menjawabmu! Omomganmu saja tidak bisa ku mengerti! Jangan seenaknya, dasar egois!" Rukia balas membentak membuat Ichigo diam. Hening.

Rukia lalu berjalan kembali ke rumahnya tapi Ichigo segera menarik tangan Rukia lalu memeluknya. Rukia berusaha lepas dari pelukan Ichigo, tapi tidak bisa karena pelukan Ichigo terlalu kuat.

"Apa yang harus kulakukan? Aku bingung.. denganmu Rukia.." Ichigo memperat pelukannya.


Yuko yang melihat Rukia tidak ada di kamarnya bingung. "Ke mana kakak?" batin Yuko. Yuko lalu melihat seorang gadis berambut coklat yang berdiri dekat jendela. Yuko segera mendekati gadis itu lalu menepuk pundaknya. "Siapa ka-"

"Hai, Yuko!" gadis itu melambai ke Yuko. Mata Yuko melebar, tiba-tiba ada air mata di matanya.

"Orihime!" Yuko tiba-tiba saja menangis, Orihime jadi salah tingkah.

"Ke.. kenapa kamu menangis?" tanya Orihime panik. Tangis Yuko bukannya berhenti semakin deras. "Yu.. Yuko.."

"Orihime.. kamu ke mana? Kenapa tidak masuk? Aku menghawatirkanmu!" ujar Yuko, wajahnya memerah. Orihime tersenyum.

"Aku juga.."


Yuko yang sudah berhenti menangis membuat Orihime lega. Tapi, ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Orihime belum memberi tahu Yuko kalau dialah yang membakar kardus Rukia.

"Yuko, a.. aku mau mengaku padamu. Aku juga akan menerima jika kau nantinya marah padaku. Tolong dengarkan.." Yuko yang tidak mengerti apa maksud perkataan Orihime mengangguk saja. "A.. aku.. yang membakar kardus punya kakakmu…" mata Yuko melebar.

"Ke.. kenapa kamu melakukan itu..?" tanya Yuko. Orihime menundukkan kepalanya.

"A.. aku.. tidak mau kehilangan kak Ichigo yang dekat denganku. A.. aku juga tahu aku sudah kalah.. tapi, aku berusaha meyakinkan diriku kalau aku tidak kalah, aku yang melakukan hal itu.. tapi, aku tidak membakarnya.. aku hanya membakar kardus lain yang mirip dengan kakak Yuko... maafkan aku Yuko.." hening. "Aku pindah juga karena aku tidak mau kehilangan.. aku sayang kak Ichigo.. maafkan aku Yuko.."

"Minta maaf pada kak Rukia, jangan padaku. Aku yakin kak Rukia akan memaafkanmu." Yuko lalu tersenyum membuat Orihime tersenyum.


"Ichigo, lepas!" Ichigo tidak merespon Rukia yang dari tadi berusaha lepas dari pelukannya. Ichigo akhirnya melepas Rukia dari pelukannya. Rukia lalu memukul kepala Ichigo dan membuatnya mengaduh kesakitan.

"Apa-apaan sih..?!" bentak Ichigo.

"Kau yang apa-apaan! Dasar bodoh! Apa maksudmu?!" bentak Rukia kesal. Rukia lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Kak!" Yuko menghampiri Rukia yang baru masuk ke dalam rumah. "Kak, ada yang mau menemui kakak." Yuko lalu melambaikan tangannya lalu berteriak, "Hei! Ayo keluar!" Orihime muncul dari balik tembok. Mata Rukia melebar. Orihime mendekati Rukia.

"Apa-apaan ini, Yuko?" tanya Rukia, Yuko diam. Orihime tiba-tiba membungkukkan badannya.

"Kak tolong maafkan aku! Aku memang salah. Tolong maafkan aku!" Rukia diam. "Tapi, aku tidak membakar kardus kakak. Aku hanya membakar kardus yang sama persis dengan milik kakak. Semua isinya aku ganti, yang asli ada bersamaku. Tolong maafkan aku, kak…" ujar Orihime, air matanya mengucur deras. Rukia tersenyum.

"Aku sudah memaafkanmu. Tadi aku hanya terbawa emosi. Maafkan aku juga." Rukia lalu membungkukkan badannya juga. Yuko tersenyum senang lalu merangkul Rukia dan Orihime.


"Kak.. aku juga ada satu hal yang ingin kakak tahu.."

"Eh? Apa itu?" tanya Rukia.

"Setelah ini, tolong kakak berbaikan dengan kak Ichigo. Dan.. kak Ichigo suka pada kakak." wajah Rukia memerah, sangat merah.

"Apa yang kau katakan sih..!? Aku tidak mengerti.." Yuko yang melihat tersenyum nakal.

"Ah.. masa?" tanya Yuko menggoda Rukia. Rukia tidak memperdulikan Yuko.

"Ka.. kalau berbaikan dengan Ichigo, aku sudah memikirkannya. Ta.. tapi aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu berkata ka.. kalau.."

Peeshhh..

Wajah Rukia semakin merah. Rukia yang tidak tahan akhirnya masuk ke kamarnya. Di bawah Yuko dan Orihime tersenyum melihat Rukia yang seperti itu, lalu terdengar gelak tawa dari ke duanya.


Besoknya Rukia sudah bisa mengumpulkan semua soal ke Maki-sensei. Ulangan semester pun sudah selesai dan Orihime sudah lama kembali ke sekolah lamanya dan bisa bersama dengan Yuko. Walaupun Rukia dan Ichigo sudah berbaikan mereka tidak terlihat selalu bersama, bahkan ada yang bilang mereka malu-malu untuk bertemu.


Rukia pergi ke perpustakaan. Seperti biasa, perpustakaan selalu sepi. Rukia berjalan melihat-lihat buku yang ada di rak. Diambilnya satu buku lalu Rukia berjalan ke meja terdekat. Rukia tiba-tiba berhenti lalu menutup bukunya lalu melihat ke depan.

Semuanya seakan berputar, saat pertama kali Rukia bertemu Ichigo. Bertengkar dengan Ichigo, memukul Ichigo, dan semuanya seakan terulang kembali.

Rukia tersenyum. "Aku kangen masa itu.." ujar Rukia.


Ada seseorang masuk ke perpustakaan. "Eh? Rukia?"

"I.. Ichigo.. sedang apa di sini?" tanya Rukia.

"Aku.. tidak tahu, tiba-tiba saja ingin datang ke tempat ini." ujar Ichigo. Rukia meneruskan membaca bukunya. Ichigo diam memperhatikan Rukia. tiba-tiba saja Ichigo tersenyum lalu menarik tangan Rukia.

"Eh.. eh? Mau ke mana?" tanya Rukia. Ichigo tersenyum. Ichigo membawa Rukia ke rak buku lalu Rukia ditinggal sendirian di sana. "Huh! Menyebalkan!" gerutu Rukia.

Rukia lalu melihat-lihat buku, Rukia sayup-sayup mendengar suara. Bersamaan dengan itu Ichigo muncul berjalan ke arah Rukia di mulutnya ada sebuah peluit, dan peluit itu yang pernah Rukia berikan pada Ichigo.

"Priiit… priiiiitttt… priiiiiiitt.. priiiittttt.. priiittttttt.. priiiiiiiitttt…" Ichigo akhirnya berhenti meniup peluitnya. Rukia memandangnya bingung. Ichigo lalu mendekati Rukia lalu menariknya ke tempatnya berdiri tadi. Ichigo lalu memegang tangan Rukia.

"Kamu enggak cantik, pendek, menyebalkan, cengeng.. banyak yang aku enggak ngerti dari kamu.." Ichigo diam lalu melihat reaksi Rukia, Rukia mengerutkan alisnya marah, ada otot kecil yang timbul di dahinya. Ichigo menghela nafas, ada rona merah di pipinya. "Tapi, itulah yang membuatku tertarik." mata Rukia melebar. Ichigo lalu berlutut.

"Bunyi peluit tadi, aku suka pada, Kuchiki Rukia.." wajah Ichigo sangat merah, Rukia yang mendengar wajahnya sangat merah seperti Ichigo. Hening.

Ichigo lalu bangun lalu membuka lubang kecil yang ada di sebelah kanan peluitnya. "Rukia, kamu bawa kalung yang aku kasih ke kamu?" tanya Ichigo. Rukia mengangguk lalu memberikannya pada Ichigo. Ichigo lalu menghadap ke belakang, memunggungi Rukia.

Ichigo lalu berbalik dan segera mengalungkan kalung berbandul kelinci itu ke leher Rukia lagi. Mata Rukia melebar, jarak Rukia dan Ichigo jadi sangat dekat. "Ke.. kenapa kalung ini.. bisa.." batin Rukia bingung. Ichigo tersenyum.

"Aku baru sadar kalau peluit ini ada lubang yang pas untuk kalung kelincimu itu." ujar Ichigo. Wajah Rukia memerah. "Akan aku ulangi."

"Kamu mau jadi pacarku, Kuchiki Rukia?" wajah Ichigo dan Rukia sama-sama memerah. Rukia menunduk lalu mengangguk pelan. Ichigo memeluk Rukia erat.

Entah kenapa, Ichigo terpeleset dan jatuh. Dan kini jarak Rukia dan Ichigo semakin dekat. Rukia tidak bisa bergerak mundur karena kalungnya yang ada di dalam kalung peluit Ichigo.

Ichigo lalu duduk dan Rukia duduk di hadapannya, Ichigo bergerak maju bersamaan dengan Rukia menutup matanya. Ichigo mengecup bibir mungil Rukia. Ichigo lalu membuka matanya lalu tertawa dan membuat Rukia tertawa.

Ichigo melirik ke belakang. "Aku sama sekali belum terlambat untuk menyatakannya." Ichigo lalu tertawa lagi bersama Rukia sambil mengelus kepala Rukia pelan.

The End


Ua!! Ua!! Fic ini selesai juga!! Senangnya~ -menangis terharu- XD

Maaf kalau bingungin!! Terus enggak romance, soalnya aku juga enggak bisa bikin yang kayak gituan hehe.. XD

Mm.. sebetulnya Orihime itu enggak ngebakar. Dia cuma nyembunyin kardus yang asli terus ngebakar kardus yang persis kayak punya Rukia. Kalau soal isinya kan bisa aja soal tahun kemarin.. ya, begitulah intinya!! Mohon dimaklumi!! XD

Saatnya bales review :

Kuchiki Rukia-taichou : Semoga harapan taichou-san di chap. ini terkabul!! XD Hehe.. iya IchiRuki..!!

Mss Dhyta : Hehe.. iya.. sekarang Orihime udah sadar kok.. iya!! Di chapter ini udah ku tambahin.. :D

dArkY SaKurai : Hehe.. iya, itu Ori.. wa.. benarkah?? Hehe.. kalau itu enggak lupa, kan udah dijalanin.. :D

NaMie Amalia : Hehe.. apa IchiRuki masih kurang?? Iya.. sebetulnya bukan ngebakar sih.. :D

shirayuki haruna : Hehe.. iya!! Mungkin aku nyampe guling-guling kalau di gituin.. XD

Ni-chan d' : Hehe.. iya.. :D

Agehanami-chan : Sebetulnya bukan ngebakar sih.. hehe.. iya!! XD

Yak! Selesai deh Love In Library nya!! Terima kasih ya yang udah mau ngikutin!! :D

Jangan lupa baca dan review ya! Semuanya, sekali lagi terima kasih!! Hatiku ini dipenuhi bunga –halah.. lebay!!- XD gara-gara bisa namatin satu fic!! :D

Baca dan review fic ku yang lain juga ya!! Hehe..