Because I Care

.

Because I Care © Sweatpanda

.

Cast :

Main

Lai Guanlin X Bae Jinyoung (PanDeep)

Slight

!2Park !SamHwi

Side

!NielHwang !OngWoon !HwanSung

And many more.

Genre :

Romance, Hurt/Comfort

Length :

Chaptered

Summary :

Menjadi seorang Beta, bukanlah keinginan seorang Bae Jinyoung. Karena jujur, Jinyoung tidak mau memilih antara sang sahabat Alphanya Lai Guanlin, atau Omega yang dijodohkan dengannya, Park Jihoon.

Rated :

T - M

Warning :

Omegaverse!AU, YAOI, Typo(s), OOC.

.

.

Chapter 7

.

.

Jinyoung tersenyum sambil memandang gelang pemberian dari Guanlin. Ia mengusap permukaan gelang berwarna putih itu yang kini melingkar di tangan kirinya. Jinyoung merasa senang, apalagi jika Guanlin yang memasangkannya. Sayangnya, anak satu itu terlalu bodoh. Bahkan setelah lima belas menit Jinyoung menunggu, anak itu belum muncul hingga sekarang. Padahal Guanlin sendiri yang semalam membuat janji.

Jinyoung mendengus kesal sekarang.

Wajah Jinyoung mendongak begitu melihat sepasang kaki anak kecil yang berdiri tepat di hadapannya. Jinyoung mengerjapkan matanya melihat sosok anak perempuan kecil yang tengah menyodorkan setangkai bunga mawar merah lengkap dengan senyum manisnya.

"Ini untuk oppa," suara kecil anak perempuan itu terdengar. Membuat Jinyoung tersadar dari lamunannya dan mengambil bunga mawar yang disodorkan anak kecil itu.

"Terima kasih," ucap Jinyoung lengkap dengan senyumnya.

Anak kecil itu mengangguk, ia lantas menarik tangan Jinyoung —yang membuat Jinyoung lantas berdiri— dan segera mengikuti langkah kecil anak perempuan itu.

Mata Jinyoung membulat begitu melihat pemandangan yang kini ia lihat, sementara anak kecil yang menuntunnya berlari pergi meninggalkan Jinyoung. Taman ini menjadi sangat indah karena taburan bunga mawar merah yang berada di sekitarnya dan juga rangkaian bunga mawar merah yang kini dilihatnya membentuk sebuah kalimat yang membuat Jinyoung tak tahu harus berkata apa.

"WOULD YOU BE MY MATE, BAE JINYOUNG?"

Jinyoung melangkah mendekat pada rangkaian bunga mawar itu. Jinyoung menyentuh rangkaian bunga mawar itu, ia mengambil salah satu tangkainya dan menghirup wangi bunga mawar —yang mungkin akan menjadi favoritnya—

itu.

"Kenapa kau merusaknya, Jinyoung-hyung?" Jinyoung reflek menoleh begitu mendengar suara Guanlin.

Dilihatnya Guanlin dengan pakaian yang begitu formal tengah berjalan menghampirinya dengan sebuket bunga mawar merah ada di tangannya.

"Guan—lin?" Jinyoung menatap tak percaya pada Guanlin yang kini berlutut di hadapannya.

"Aku tahu, mungkin ini terlalu dini untuk kita. Tapi, aku tidak bisa menahan perasaanku. Jinyoung-hyung, kita sudah lama saling mengenal. Dan harus kau tahu, aku juga sudah lama menyukaimu, ah tidak, tapi mencintaimu, Jinyoung-hyung." Guanlin memegang sebelah tangan Jinyoung dan menggenggamnya erat, tak lupa, Guanlin menatap tepat ke dalam mata Jinyoung.

"Guanlin," Jinyoung berujar pelan, matanya membalas tatapan Guanlin dengan mata yang berair.

Guanlin berdiri, ia menyerahkan buket bunga mawar itu dan diterima oleh Jinyoung. Membuat senyum Guanlin mengembang dengan lebar.

"Jadi, kau mau menjadi mateku 'kan hyung?" Tanya Guanlin.

"Kau tidak akan menyesal 'kan, Guanlin?" Jinyoung balik bertanya. Air mata perlahan mulai menggenang di mata Jinyoung.

"Aku tidak akan menyesal, hyung. Aku tahu, kau pasti ragu karena statusmu yang Beta itu 'kan hyung?" Jinyoung mengangguk pelan, sementara Guanlin terkekeh geli. "Tentu saja, aku tidak akan peduli dengan statusmu, Jinyoung-hyung. Mau kau Beta, Omega atau bahkan kau Alpha sekalipun, jika aku mencintaimu, aku akan terus mengejarmu, Bae Jinyoung," sambung Guanlin dengan senyum tulusnya.

Air mata kini meluncur dengan deras setelah mendengar kata-kata Guanlin. Jinyoung dengan segera memeluk tubuh Guanlin erat seraya menyembunyikan wajahnya diceruk leher calon matenya itu.

"Aku mau menjadi matemu, Lai Guanlin," ujar Jinyoung dengan suara serak akibat air matanya.

Guanlin bersorak senang dalam hati, ia lantas membalas pelukan Jinyoung dengan erat juga. Tak lupa, ia mencium kepala Jinyoung dengan sayang.

"Aku mencintaimu, Jinyoung-hyung."

Jinyoung mengangguk, dan Guanlin tersenyum lembut. Tanpa Jinyoung menjawab, Guanlin tahu jika Jinyoung juga mencintainya.

.

.

"Ahh akhirnya, aku bisa melihat mereka bersama juga." Minhyun tersenyum lebar melihat Jinyoung dan Guanlin yang tengah berpelukan di depan sana.

Kini, Minhyun, Daniel, serta Daehwi dan Samuel tengah berada di belakang pohon besar di dekat tempat pelamaran Guanlin dan Jinyoung.

"Aku bahagia melihat mereka bersama begini." Ujar Daniel seraya merangkul bahu Minhyun.

"Aku rasanya ingin menangis."

"Kau memang sudah menangis, Daehwi-ya."

Minhyun tertawa melihat Daehwi yang menangis dan kini tengah ditenangkan oleh Samuel.

"Aku harap, semuanya akan benar-benar bahagia sekarang." Gumam Minhyun seraya tersenyum lembut.

Daniel yang di sampingnya ikut tersenyum, ia merangkul erat bahu Minhyun dan mengecup pipinya.

"Aku yakin itu akan terjadi, Minhyun-ie."

.

.

Guanlin menatap wajah Jinyoung yang sembab akibat terus menangis sejak tadi. Kini keduanya sudah berada di rumah keluarga Hwang. Tepatnya di dalam kamar Jinyoung. Sementara Minhyun dan Daniel pergi untuk mengurus rencana pernikahan mereka berdua.

"Ini minum dulu, aku tahu suaramu pasti habis karena menangis terus." Goda Guanlin seraya menyodorkan segelas air putih.

Jinyoung mendengus namun tetap mengambil air putih dan segera meneguknya hingga habis.

Guanlin tersenyum, ia duduk di ranjang Jinyoung seraya memperhatikan setiap sudut kamar Jinyoung. Ini pertama kalinya Guanlin ke sini, karena memang Jinyoung selalu melarang siapapun untuk memasuki kamarnya kecuali Minhyun —dan sekarang ditambah Guanlin.

"Apa ada yang salah dengan kamarku? Kenapa kau tersenyum begitu?" Jinyoung mendelik menatap Guanlin.

"Memangnya kalau aku tersenyum itu, salah hyung?" Guanlin menautkan kedua alisnya dan menatap Jinyoung.

Jinyoung menjawab pelan, "Tergantung alasanmu."

"Aku tersenyum karena akhirnya aku bisa masuk ke dalam kamarmu," ujar Guanlin dengan senyum polosnya.

Jinyoung mengerjap, "Hanya itu?"

Guanlin mengangguk dan Jinyoung mengalihkan pandangannya seketika.

"Tapi, ada hal lain yang membuatku tak bisa berhenti tersenyum sekarang." Guanlin berdiri, mendekati Jinyoung yang saat ini tengah berdiri di dekat jendela —tempat yang sering Jinyoung gunakan untuk mengamati Guanlin saat pemuda itu tengah berada di dalam kamarnya.

Guanlin memeluk Jinyoung dari belakang yang membuat Jinyoung sedikit kaget. Jinyoung tak menyangka Guanlin akan memeluknya seperti ini.

"A—apa?" Tanya Jinyoung setelah sekian detik hanya keheningan yang melingkupi keduanya. Ekor mata Jinyoung menatap Guanlin yang kini menumpukan dagunya di bahu Jinyoung.

"Itu karena aku, akhirnya memilikimu, hyung." Bisik Guanlin.

Lalu keheningan kembali, Jinyoung memegang tangan Guanlin dan merematnya.

"Tapi kau tenang saja hyung. Aku tak akan melakukannya sekarang, aku akan melakukannya jika waktunya sudah tiba." Ujar Guanlin seraya memperat pelukannya.

"Kenapa?"

"Karena aku mencintaimu. Aku tak ingin menyakitimu."

"Tapi bukankah mating juga penting dalam hubungan ini, Guanlin-ah?" Jinyoung berbalik dan mengalungkan tangannya di leher Guanlin.

Guanlin menatap mata Jinyoung dan tersenyum lebar.

"Itu memang benar. Tapi untuk sekarang, gelang yang berada di tanganmu saja sudah cukup, Jinyoung-hyung. Lagipula, aku sudah berjanji pada Minhyun-hyung serta Wooseok-hyung untuk tidak bertindak lebih sebelum kita berdua lulus sekolah." Jelas Guanlin.

Jinyoung mengulum senyumnya, Guanlin memang benar-benar yang terbaik. Ia tak salah untuk jatuh cinta pada Alpha satu ini.

"Aku mengerti, Guanlin-ah. Dan ingat, jangan pernah berfikir untuk menyakitiku bahkan hingga meninggalkanku." Jinyoung menatap tajam Guanlin yang dibalas kekehan oleh pemuda Alpha itu.

"Berniat memikirkannya saja tidak, Jinyoung-hyung. Percaya padaku, kau adalah yang pertama dan terakhir bagiku, Bae Jinyoung."

Jinyoung tersenyum lebar dan mengangguk, "Aku percaya padamu, Lai Guanlin."

Perlahan tapi pasti, wajah keduanya semakin mendekat. Hingga dahi mereka berdua menempel begitu pula dengan bibir mereka. Dan ciuman manis penuh cinta itupun menutup hari indah itu yang juga diikuti oleh salju pertama yang turun di musim dingin tahun ini.

.

.

END

.

.

A/N :

1.) Ada yg kaget dengan tulisan end di sini?

2.) Ceritanya emang udah end ya. Dan emang belum ada adegan rated M-nya, karena rencananya aku bakal bikin special chap untuk masing-masing couple di ff ini.

3.) Special chapnya mungkin akan dimulai dari HwanSung - SamHwi - OngWoon - 2Park - NielHwang - PanDeep. Dan rencananya rated M semua. Tapi tergantung, ada yg mau baca atau nggak.

4.) FF lain menyusul ya, karena aku lagi bingung mau ngetik yg mana dulu. Ngetik yg ini, ide ff itu muncul. Ngetik ff itu, ide baru muncul. Kan ku bingung sendiri. /Ini curhat.

5.) Terima kasih buat yg udah setia ngikutin ff ini dari awal. Terima kasih banyak buat yg udah selalu review ff ini, serta yg udah favorite juga follow ff ini.

P.s : Aku lagi dilemma, mau bikin PanCham atau ChamDeep. Hahaha wkwkwk.

02 Desember 2017

Panda