Paradise School : Rioki Akiyama
Chapter 6.
Aku terpisah dengan Mahoney di gedung sekolah. Aku menyelinap ke toilet selama beberapa saat untuk menghindari guru yang lewat. Aku tahu aku seharusnya kembali ke kelas, tapi aku tidak ada minat untuk belajar lagi setelah kejadian tadi. Siku-ku lecet akibat hempasan Ryo waktu dia menerjang Jan dan aku mengambil kesempatan untuk membasuhnya di wastafel. Aku memikirkan Ryo.
Aku kembali ke koridor yang sepi karena anak-anak sedang berada di kelas. Tidak tahu harus kemana, aku berjalan ke sisi lain dalam gedung yang digunakan untuk anak SD. Aku lupa memberitahumu tentang bentuk sekolah kami yang kalau dilihat dari langit yang tinggi tampak seperti kue donat utuh di atas piring. Piring itu adalah halaman sekolah. Bagian roti di kue donat adalah bangunan sekolah kami, dan lubang di tengah kue donat adalah Taman Dalam. Ya, kami memiliki taman di sekolah; lengkap dengan kolam kecil (bukan untuk berenang), dan bentuk bangunan sekolah kami bundar; dengan dinding putih mengilap. Gedung sekolah kami luas, dan terdiri dari empat lantai. Lantai empat sisi SD dipisahkan dengan dinding dari bagian lain; membentuk lapangan olahraga terbuka khusus untuk anak SD. Lapangan itu dikelilingi pagar.
Dan di tangga dari lantai tiga menuju lantai empat aku melihat Hinaki.
Dia duduk di salah satu anak tangga, dekat dinding yang memiliki lubang kabel. Handphone tua Jan ada di tangannya, dan kabel charger terhubung dari handphone itu ke lubang di dinding. Entah darimana dia mendapatkan charger untuk tipe tua hape itu. Mungkin Jan membawanya kemana-mana di dalam tas-nya sebagai persiapan untuk saat seperti ini.
Waktu aku datang Hinaki tidak menyadari kehadiranku. Dia tertunduk, menatap hape di tangannya yang tengah menyuarakan rekaman itu. Jan hanya merekam percakapan Ryo dan Jimmy dan memutusnya saat dia keluar dari balik rak waktu itu. Rekaman itu berhenti, dan Hinaki mengulangnya. Aku mendapat firasat bahwa dia sudah memutar ulang rekaman itu berkali-kali sejak Jan memberikan hape dan charger itu padanya.
Kemudian dia mengangkat wajahnya dan melihatku. Sebenarnya aku enggan bercakap-cakap dengan Hinaki ataupun menatap wajahnya lama-lama, tapi saat ini agak sulit untuk tidak merasa sedikit kasihan padanya. Sekilas aku melihat matanya memerah dan agak basah.
Dia memalingkan wajahnya dengan cepat; setengah menunduk; sehingga aku tidak bisa melihat apakah dia memang benar-benar menangis atau tidak. Jarinya mematikan rekaman yang masih berbunyi, tapi aku yakin aku benar: dia telah mendengarkan rekaman itu berkali-kali disini, sendirian. Apakah selama ini dia mengira Ryo benar-benar temannya? Apakah dia sungguh-sungguh terluka dan sakit hati? Yang benar saja! Hinaki Brooks; si iblis kecil; mana mungkin pernah menganggap seseorang sebagai sahabatnya?
Aku memutar tubuh, hendak meninggalkan tempat itu, tetapi baru satu langkah dia berbicara. Suaranya tetap datar, sama sekali tidak terdengar seperti sedang atau baru saja menangis, hanya saja agak pelan, nyaris seperti bisikan.
"Tolong panggilkan Mahoney kesini."
Selama sepersekian detik kupikir aku bermimpi. Suaranya benar-benar pelan. Aku memutar tubuh lagi untuk menghadapnya dan menegas, "Apa?"
Dia masih tidak menatapku, masih menunduk dan setengah memalingkan wajahnya. "Panggilkan Mahoney." Gumamnya, kali ini agak keras.
Oh, demi Tuhan, aku bisa saja menggodanya. Saat ini aku bisa mengganggunya dan membalas dendam sedikit. Aku bisa saja terus bertanya "apa" padanya.
Aku tidak melakukan itu.
Tapi agaknya aku telah terdiam cukup lama; cukup lama bagi Hinaki untuk mulai kehilangan kesabaran atau mulai berpikir bahwa aku sengaja mau mempermainkannya di saat seperti ini. Dia mengangkat wajahnya lagi, menatapku. Aku membalas tatapannya, dan melihat bahwa sepasang mata berwarna biru kelabu itu berkaca-kaca dan bulu matanya yang panjang dan lentik tampak basah. Tetapi ekspresi wajahnya keras. Malah, marah. "Pergi!" Dia membentak. "Panggilkan Mahoney! Kau tidak dengar?"
Buru-buru aku memutar tubuh. Tetapi baru tiga langkah, dia sudah berbicara lagi. Kali ini nadanya kembali pelan. "Akiyama." Gumamnya. "Aku tidak sedih karena Ryo Sawajiri dan Jimmy."
Aku terhenti. Walaupun nada suara Hinaki sudah kembali pelan saat mengucapkan kalimat tadi, aku merasa itu sebuah peringatan; seakan dia hendak mengancamku agar jangan menyebarkan berita bahwa dia menangis gara-gara Ryo membencinya.
"Aku tahu." Sahutku tanpa menoleh. Aku ingin cepat-cepat meninggalkan iblis ini. Kupikir dia tidak akan bersuara lagi dan membiarkan aku pergi memanggilkan Mahoney untuknya, tetapi; diluar dugaanku; dia menjawab. Bukan jawaban atas pernyataanku bahwa aku tahu, tapi lebih seperti sekedar mengatakan isi hatinya.
"Ayahku selalu mengatakan bahwa laki-laki tidak boleh menangis." Itu katanya, dan aku memutar tubuh lagi untuk menatapnya.
Dia memandang pada hape di tangannya, tetapi ekspresi wajahnya sudah datar kembali. Hanya sepasang matanya yang agak sembab yang memberitahuku bahwa dia memang sudah menitikkan air mata sewaktu mendengarkan rekaman itu.
"Ayahku bilang," Dia meneruskan tanpa menatapku, masih menatap pada hape, "Dalam keadaan bagaimana pun, seorang pria tidak boleh menangis. Hanya boleh melawan."
Aku terdiam. Separuh dari diriku ingin menghiburnya, tapi separuhnya lagi ingin berkata bahwa itu bukan urusanku dan menolak mempercayai bahwa biar bagaimana pun angkuhnya; Hinaki tetaplah seorang anak laki-laki berusia enam belas tahun dengan segala kelemahan dan kelebihannya. Saat ini, mengamati Hinaki sedang sedih membuat aku menyadari bahwa seperti seorang cowok tampan lainnya, pada usia belasan ini Hinaki lebih terlihat "cantik" daripada "tampan", tapi dia akan jadi cowok tampan saat dia dewasa nanti. Aku sendiri tahu bahwa aku juga tampan, tetapi aku tidak bisa dikatakan cantik. Kulitku coklat, rambutku dipotong pendek-pendek dan bulu mataku tidak panjang atau lentik seperti miliknya. Bentuk wajahku pun tidak oval seperti dia. Tapi meskipun Hinaki memiliki figur yang feminim, bentuk jakunnya lebih nyata dariku, dan suaranya lebih maskulin, meskipun tidak mencapai tahap "berat". Aku pun berpikir bahwa mungkin bersikap kasar dan dingin; seperti sikapnya selama ini; sebetulnya sangat cocok untuknya, sebab jika tidak (dan jika jakunnya tidak terlihat jelas) dia bisa saja dikira anak perempuan dari Eropa.
Aku menunggu dia bicara lagi, tapi kali ini dia benar-benar terdiam. Dia menatap hape, memencet-mencet beberapa tombol dan terfokus pada layar. Mungkin sekarang dia sedang memeriksa isi Pesan Masuk handphone milik Jan. Aku pun segera meninggalkan tempat itu.
Aku menemukan Mahoney di depan toilet putra di lantai dua sisi SMU. Tanpa banyak basa-basi aku memberitahunya bahwa Hinaki menunggunya di tangga di sisi gedung bagian SD, kemudian aku masuk ke kelasku. Aku mendapat teguran dan hukuman menulis karena masuk terlambat tanpa alasan yang jelas.
.
.
.
Aku tidak melihat Jan dan Ryo seharian itu, tetapi pulang sekolah aku kaget karena Mahoney menungguku di motorku. Dia duduk dengan santai di atas motorku. Aku sampai kuatir motorku rusak akibat berat badannya.
"Hey." Dia menyapaku sambil tersenyum.
Aku menghampiri motorku dengan perasaan mashygul. Saat ini, yang paling kuinginkan adalah menjalani kehidupan normal sebagai anak laki-laki berumur lima belas tahun biasa. Tentunya Mahoney takkan menolongku mencapai itu. Kuyakin dia akan menyeretku dalam upaya pembalasan dendam terhadap Ryo dan Jimmy.
"Mau apa kau?" Tanyaku masam.
"Jangan begitu, Akiyama." Mahoney menggodaku sedikit. "Kau lebih cakep kalau tersenyum."
"Bilang saja apa maumu!" Bentakku capek.
"Well…." Dia melompat turun dari motorku. Akhirnya. Aku pun segera mengangkat jok untuk menyimpan tas-ku di dalamnya dan naik ke atas motor.
"Aku cuma mau bilang," Dia meneruskan lambat-lambat sambil mengawasi gerak-gerikku, "Hinaki bukan menangis karena rekaman itu."
"Aku sudah tahu!" Balasku. Sudah kuduga, mereka hanya mau menyusahkanku. Aku yakin Hinaki menangis karena rekaman itu, tapi dia malu mengakui. Dan karena aku sudah memergokinya dalam keadaan begitu, sekarang dia pasti takkan melepaskanku. Dia menyuruh Mahoney mengancamku, dan mungkin besok aku akan mati dipukuli olehnya.
Mahoney menatapku dengan ekspresi curiga. "Kau tahu? Kurasa kau sedang berpendapat bahwa dia benar-benar terluka karena hal sepele seperti rekaman itu."
"Mana kutahu, sih?" Di luar keinginan, aku tidak tahan untuk tidak merengek. "Aku tidak perduli! Jangan ganggu aku! Aku takkan menceritakan pada siapa pun bahwa aku melihat dia dalam keadaan seperti itu!"
Ekspresi Mahoney berubah. Sekarang dia tampak agak heran dan penasaran. "Kau tidak mau tahu kenapa?"
"Kenapa apa?" Balasku kesal.
"Kenapa Hinaki menangis." Sahutnya lugu.
Ha! Jadi dia benar-benar menangis, ya?
Aku memutar bola mataku. Aku capek, dan malas berdebat. "Aku tahu kenapa dia menangis, tapi aku takkan membocorkan hal itu, jadi kalian tenanglah dan jangan ganggu aku lagi!"
"Memangnya menurutmu kenapa dia menangis?" Balas Mahoney.
Demi Tuhan! Yang ada di pikiran Mahoney hanya Hinaki, ya? Aku ragu apakah Mahoney pernah memikirkan seorang cewek lebih dari dia memikirkan Hinaki.
"Dia tidak terluka karena disebut binatang. Dia hanya terluka karena selama ini dia mengira Ryo temannya." Jawabku jujur.
Ekspresi wajah Mahoney berubah.
Aku menyalakan mesin, menolak keinginan untuk menatapnya. Sebelum aku tancap gas, Mahoney bicara lagi. Nadanya lambat-lambat. "Tadi Hinaki hanya sedih sesaat, karena dia pernah mengira Ryo adalah temannya."
Aku tidak menjawab.
Mahoney meneruskan, seakan meminta simpatiku. "Bagaimana pun juga, selama ini Ryo tidak pernah menunjukkan sikap benci atau iri padanya. Hinaki kaget mendengar rekaman itu. Dia nyaris tidak bisa percaya diam-diam Ryo menginginkan dia pergi dari tempat ini."
Karena itukah dia mendengarkan rekaman itu berulang-ulang?
Tapi, tetap saja, kan, aku yang benar? Hinaki menangis karena Ryo. Dia bisa saja menutupi itu dan memutar-balikkan kata. Intinya sama. Dia terluka karena rekaman itu.
"Aku tidak tertarik mendengarnya." Sahutku, mengedikkan bahu. Aku ingin merasa kasihan pada Hinaki, tapi; entahlah, aku terlalu membencinya untuk bisa merasa kasihan. "Tapi jangan kuatir, aku takkan menyebarkan rahasianya."
"Yeah." Mahoney menggaruk kepala dengan sikap canggung. "Maksudku, dia bukan menangis karena itu. Ah, aku juga tidak mengerti."
"Huh?" Aku menatapnya. "Kau kesini karena disuruh olehnya, kan? Dia menyuruhmu mengancamku untuk tutup mulut?"
"Sama sekali tidak." Muka Mahoney memerah sedikit, entah kenapa. "Dia minta izin pulang tadi siang, katanya tidak enak badan. Sebenarnya sebelum dia mendengarkan rekaman itu, seseorang meneleponnya. Bukan urusan tentang Jan atau Ryo. Tapi mungkin orang itulah yang menyebabkan Hinaki menitikkan air mata. Waktu dia menerima handphone itu dari Jan, baterenya habis. Jan memberinya charger juga, tapi dia kan tidak bisa langsung menyalakan hape itu. Begitulah yang dia ceritakan padaku." Mahoney menarik nafas. Aku tidak mengerti maksud semua ini.
"Yang pasti," Dia meneruskan, "Aku kesini bukan karena disuruh olehnya. Aku hanya.. eh..," Mukanya memerah lagi, "Butuh teman untuk berbincang-bincang." Dia menunduk.
Aku terperangah.
.
.
.
Begitulah. Secara aneh akhirnya aku setuju untuk mendengarkannya. Sekarang kami berdua duduk di kedai kopi di seberang sekolah, menyantap croissant dan minum cappuccino. Dia bilang dia akan membayar semua ini. Harga di kedai kopi ini sangat mahal. Tak urung aku pun bertanya darimana dia mendapatkan uang. Mahoney bukan anak dari keluarga kaya.
Wajahnya memerah lagi dan dia menolak menatapku. "Hinaki memberiku uang." Bisiknya lirih.
Aku hampir tidak percaya.
"Hinaki memberimu uang?" Ulangku.
"Pelan-pelan, Rioki!" Ekspresinya kembali galak. Dia menoleh sekeliling dengan cemas, lalu kembali menatapku. "Yeah, dia memberiku setiap minggu. Tidak banyak, tapi membuatku bisa jajan dengan layak dan mengikuti pergaulan dalam geng Ryo."
Huh? Berapa uang jajan Hinaki sebulan? Ayahnya hanya seorang polisi, kan?
Untunglah aku tidak perlu bertanya. Mahoney terus berbicara. "Aku adalah teman dekat Hinaki. Aku sudah mengenalnya semenjak dia masuk ke sekolah kita untuk pertama kalinya. Aku tahu, dulu dia anak yang pemalu. Dia berubah setelah ibunya meninggal." Mahoney menengok keluar jendela, setengah melamun.
"Terus?" Tanyaku tak tertarik. Kenapa sih semua orang senang membicarakan Hinaki? Apa bagusnya anak itu? Kecuali kalau Mahoney homo dan menyukainya.
"Tapi, meskipun diluarnya dia sangat kasar, sebetulnya dia masih Hinaki yang dulu. Dia sangat baik padaku, seperti seorang kakak." Lanjut Mahoney. "Dia lebih tua dua bulan dariku. Dia sangat dewasa dan sering melindungiku saat geng Ryo mengolok-olokku. Kemudian dia bertemu seseorang yang menyukai bakatnya dan.. kemudian mereka berdua menjadi akrab. Hinaki bekerja.. pada orang itu. Bukan bekerja seperti benar-benar melakukan pekerjaan sehari-hari. Dia.. eh.. aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Yang pasti, dari situ Hinaki mendapatkan uang, dan memberiku sebagian."
Aku mendengarkan dengan bosan, tapi pikiranku mulai menerawang. Yeah, aku tahu Hinaki memang dewasa. Dia selalu mengenakan kemeja berlengan panjang, sekalipun berada diluar sekolah dan bukan seragam. Dia tidak pernah mengenakan celana pendek atau gombrong, atau yang berkantong besar-besar. Dia selalu tampak.. dewasa dan rapi. Seringnya dia mengenakan kemeja berlengan panjang dengan ujung bawah kemeja dibiarkan diluar celana panjang jeans-nya. Di sekolah pun sama. Dia membiarkan ujung bawah kemejanya diluar celana panjang, tapi dia tidak pernah menggulung lengan panjang kemejanya, sementara sebagian besar dari kami melakukannya. Aku juga dengar dari cewek-cewek penggosip di kelasku bahwa Hinaki selalu tidak lupa mengenakan kaos dalam di balik kemejanya. Bukan hal penting, tapi sebagian besar cowok di sekolah ini sudah malas mengenakan kaos dalam lagi. Agaknya Mahoney benar. Dibalik sifat kasarnya yang egois dan mau menang sendiri, Hinaki tetaplah agak pemalu dan dewasa, dan rapi. Kudengar dari anak-anak lain pun cara berpikir Hinaki sangat dewasa.
"Kalau menurutmu dia pemalu, aku tidak bisa menyangkal." Kataku tak acuh.
Mahoney mengangguk. "Yeah. Aku tahu maksudmu."
"Lalu?" Tanyaku.
"Lalu.. yeah… aku….." Mahoney menggaruk-garuk kepala. "Aku tidak tahu harus bagaimana, setelah aku mendengar rekaman itu dengan kupingku sendiri."
Aku segera tahu kemana ujung percakapan ini. "Jangan bawa-bawa aku kalau kalian ingin membunuh Ryo!" Bentakku.
Seketika Mahoney melotototiku. "Jangan salah paham dulu, Akiyama!" Ucapnya dengan nada sebal. "Aku tidak tahu bagaimana dengan Ryo. Maksudku; aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Hinaki tidak bilang dia mau berbuat apa pada Ryo. Yang pasti, aku disini untuk curhat."
Curhat?
Aku terlalu shock untuk bisa menjawab.
"Yeah, aku…." Mahoney menunduk lagi. "Selama ini aku mengira Ryo dan Jimmy teman kami. Aku tahu banyak orang yang membenci Hinaki dan menghinanya di belakang. Banyak yang menyumpahi dia mati. Aku sering dengar sendiri anak-anak ngobrol tentang itu, saat aku di toilet. Mereka tidak tahu aku di toilet." Dia tampak tidak enak. Aku merasa agak iba padanya. Dia meneruskan, "Tapi di antara semua anak itu, aku tidak pernah memergoki Jimmy atau Ryo, atau Nick, atau siapapun lagi dalam geng kami. Aku.. kaget waktu mendengar rekaman dari Jan tadi. Aku.. selama ini mengira mereka teman kami." Dia sekarang tampak sedih. "Jujur saja, Akiyama, aku jadi.. tidak tahu lagi siapa yang bisa kupercayai dan siapa teman sejati disini. Dan aku sangat kasihan pada Hinaki. Aku saja kecewa dengan Ryo, apalagi Hinaki!"
Aku terdiam selama beberapa saat. Yeah, aku yakin Hinaki menangis karena rekaman itu. Dia pasti terluka dan kecewa. Dia hanya tidak mau mengakuinya, dan aku yakin diam-diam Mahoney menyadari itu juga.
Tapi bukankah itu semua salah Hinaki sendiri? Kalau saja dia bersikap lebih manis dan lebih menyenangkan, siapa sih yang akan mengutuknya dan membencinya sejauh ini?
Mahoney mengambil sendok dan mengaduk kopinya dengan enggan. "Aku kasihan." Dia mengulang, "Hinaki sangat baik padaku. Aku ingin sekali membunuh Ryo dan Jimmy."
Aku tidak bisa berkata apa-apa, tetapi mengaduk kopiku juga dengan sendok.
"Aku.. sekarang jadi ingin menghindari teman-teman kami yang lain." Dia meneruskan lagi tanpa diminta. "Bukan hanya Ryo dan Jimmy. Aku jadi.. sulit mempercayai yang lain. Dan kuyakin Hinaki juga begitu."
"Kau ingin aku berbuat apa?" Tanyaku pasrah.
Mahoney ragu sejenak. Dia menelan ludah, lalu menjawab dengan lirih. "Menjadi teman Hinaki."
"Apa?" Ulangku kaget, tidak percaya. "Kau ingin aku berteman dengannya? Kenapa?"
"Karena…." Mahoney menatap roti croissant di piringnya. "Aku tahu kau adalah teman yang baik. Kau.. kau.. tidak meninggalkan Jan." Dia menatapku, matanya basah. "Saat di tempat parkir tadi pagi, kau kan.. bisa saja meninggalkan Jan, tapi kau.. tidak melakukan itu. Padahal Jan tidak pernah memberimu apa-apa. Sikapmu yang itu mengingatkanku akan Hinaki sendiri. D-Dia tidak pernah meninggalkanku, meskipun dia tidak berhutang apa-apa padaku. Dia malah.. yang selalu memberiku pinjaman dan menjagaku."
Oh, Tuhan.
Aku terjebak dalam situasi ini, dan Mahoney mulai terisak kecil. Dia cengeng, walaupun badannya segede gajah. Hinaki saja tidak secengeng dia.
Tapi itu tidak berarti aku mau jadi teman Hinaki, atau lebih tepatnya; jadi budaknya. Sebab meskipun Mahoney memintaku, ini diluar sepengetahuan Hinaki, dan aku tidak bisa membayangkan apa reaksi Hinaki kalau aku mencoba menyapanya dengan sikap sok akrab. Dia pasti berang sekali.
"Aku.. Eh… Dia.. tidak menyukaiku." Kataku.
"Aku tahu." Sahut Mahoney polos. "Tapi kau kan bisa berusaha."
Apa? Dia ingin aku mengemis-ngemis pada Hinaki untuk menjadi temannya? Yang benar saja!
"Jangan aneh-aneh!" Bentakku tersinggung.
"Hinaki memang galak." Mahoney berusaha membujukku, "Tapi kalau kau bisa mendapatkan hatinya, dia akan membelamu mati-matian."
"Yeah. Masalahnya, aku tidak mau babak-belur duluan dalam usaha mendapatkan hatinya." Geramku. "Aku tidak tertarik. Bisa jadi kau sangat tertarik padanya, tapi aku tidak."
To be continued.
