I Want To Dream With You Forever Chapter 7:Easy to Say, Hard to Do.

Selepas pulang dari Konoha Land. Sakura dan Naruto tampak sangat akrab. Mereka lebih sering makan di kantin sekolah bersama, belajar bersama, dan pulang bersama.

Bahkan Ino saja hampir ingin menanyakan ada apa yang terjadi pada sahabat berambut soft pinknya tersebut. Sayangnya, gadis yang di tanyain olehnya hanya menanggapi dengan senyuman. Sampai suatu saat mereka akan menghadapi ujian kelulusan.

"Sakura,"panggil Ino pada sahabatnya yang tengah membaca ulang kisi-kisi ujian mata pelajaran Sejarah hari ini. Sakura menoleh kepada sahabatnya, "Ada apa?"sahut gadis itu.

Ino bangkit dari kursinya dan duduk di sebelah gadis itu, "Ceritakan. Belakangan ini kau terus bersama si durian kuning itu. Apa yang terjadi? Apa si Durian itu menyatakan perasaannya padamu?"Whoaa! Sakura gugup. Dengan wajah memerah, gadis itu segera menjawab. Tentu saja berbohong. "Ti, tidak ada yang terjadi. Na, Naruto hanya memintaku untuk belajar bersamanya, kok. Dia juga tidak menyatakan perasaannya. Memang kenapa?"

Ino menyipitkan matanya, menatap Sakura curiga. Ia memalingkan wajahnya, "Tapi, yang pasti ia pernah menyatakan perasaannya padamu, kan?"celutuk Ino.

Sakura tersedak, ia cepat-cepat mengambil botol minumnya di tas dan meneguk air yang ia bawa dari rumah.

"Bi, Bicara apa kau, Ino?" kata Sakura. Kenapa ia bisa-bisanya gugup begini. Padahal sudah pasti Naruto tidak menyukainya. Tunggu! Kau lemot sekali, sih. Haruno Sakura. Naruto menciumu di Ferris Wheel sebulan yang lalu, bukankah itu berarti satu? Naruto menyukaimu. Jadi, siapa yang lambat sekarang? Kau atau Naruto.

Ia ingin menyatakan perasaannya. Cuma susah.

"Hoi, Haruno!"Ino mengibaskan tangannya di depan wajah Sakura. "Ah, ah. Ino. Ada apa?"sahut gadis bermarga Haruno tersebut.

"Ungkapkan perasaanmu. Kau mau cowok itu di rebut cewek lain?"

"Aku tidak menyukainya!"

I Want To Dream With You Forever Chapter 6: Easy to Say, Hard to Do

I Want To Dream With You Forever

Chapter 7: Easy to Say, Hard to Do

Naruto bukan punyaku. Penciptanya cari sendiri di mbah gugel.

Sakura H. & Naruto U.

Friendship/Romance

Teen

Ttypo, OOC, OC, abal, gak jelas dan warning lainya.

Oke! Saachan kembali update lagi. kemarin sempat kena Writer Block. Makanya males banget update lagi. sekarang... udah sembuh. Cuma karena dengerin lagunya AKB48-UZA dan Kuraki Mai-DYNAMITE. Horeeeeeeeeeeeeee!

Kali ini temanya "Easy to Say, Hard to Do."terinspirasi dari fanfic dari fandom Case Closed dengan judul The Deduction. Kalau kalian baca, di jamin langsung kerasa seru dan humornya tuh easy banget. *Bahasa apa toh iki?* Pokoknya baca aja, deh. Ceritanya punya top.

Aku tidak ingin flame darimu. Jadi, jika kau membenci fanfic ini, silahkan kembali ke page sebelumnya. Karena aku tidak mau memberikan flame yang lebih pedas lagi dari flamemu. CAMKAN ITU! #dia emosi

Tapi, jika kau masih bersikeras membaca fanficku dan memflame apa boleh buat aku terpaska memberikan Flame yang sangat pedas padamu, terutama yang suka menghina fanfic-fanfic buatan Author penggemar NaruSaku.

Don't Like? Don't Read!

Simple and practical!

Enjoy it!

PLAY!

Sakura berjalan pelan kearah jalan rumahnya. Hari ini entah kenapa ia menjadi mood, berkat suksesnya kata-kata Ino tadi pagi. Untungnya itu tidak mengganggu logikanya saat ujian Sejarah yang merupakan mata ujian terakhir ujian kelulusan bulan ini.

Angin musim semi membelai lembut wajahnya. Hari ini memang dingin. Tapi, itu tidak membuat Sakura memakai sweaternya. Hari ini Naruto pulang lebih lama karena ada kegiatan OSIS. Kenapa ia tidak ikut? Tentu saja tidak. Ketua OSISnya kan sudah di ganti. Jadinya, yang sekarang menjabat sebagai Ketua OSIS adalah Watase Iwakura.

Kata-kata Ino terngiang-ngiang di benaknya.

"Ungkapkan perasaanmu. Kau mau cowok itu di rebut cewek lain?"

"Aku tidak menyukainya!"

Sakura mendengus. Bukan dia tidak berani. Bicaranya gampang. Ngelakuinnya itu susah. Ngerti maksudnya gak? Tapi, sebenarnya ia juga suka pada Naruto tidak sih?

Sakura mengacak-acak rambutnya frustasi. Tiba-tiba ia teringat akan acara Prom Night yang di adakan oleh sekolahnya. Oh, ya. Sakura pakai baju apa, ya?

Gadis itu bergegas berjalan ke rumahnya.

Komplek Perumahan Konoha, GREEN RESIDENCE..

Sakura tiduran di kasurnya. Ia memainkan sebuah game yang sempat di mainkannya di GAME CENTER KONOHA LAND sebulan yang lalu. Apalagi kalau bukan Shintai The House? Ia masih penasaran dengan kelanjutan game itu. Walau sebenarnya ia sendiri merasa takut.

"Kak Sakura."Suara Rin mengintrupsi kegiatan Sakura. Ia mengubah posisinya menjadi duduk dan mencodongkan tubuhnya kearah bawah tempat tidur. Di sekitarnya telah banyak berserakan baju-baju gaunnya. Mulai dari gaun keluaran lama sampai saat ini.

"Kenapa?"Rin menyodorkan sebuah kotak berpita hijau.

Sakura menatap adik semata wayangnya, "Apa ini, Rin? Tumben kau memberiku hadiah. Biasanya hanya hadiah sinisan darimu."Skaura tertawa. Rin mendengus.

"Itu hadiah ulang tahun kakak. Maaf memberikannya telat."kata Rin.

Sakura membuka kotak tersebut dan ia terkesiap. Kotak tersebut berisi gaun malam model terbaru. Ia membentangkan gaun tersebut. Matanya berbinar.

Ia memeluk adiknya, "Terima kasih, Rin."

Rin tersenyum. Menaggapi.

XXXX

Sakura dan Naruto duduk di beranda rumah Sakura. Mereka sedang belajar—maksudnya mengulang lagi pelajaran sambil menunggu hasil kelulusan mereka.

Suara Naruto mengintrupsi kegiatan membaca buku Sejarah yang tengah Sakura lakukan.

"Hoi."Naruto menyenggol Sakura. Ia nyengir-nyengir nggak jelas. "Kau kubunuh, kalau menggangguku."kata Sakura.

Naruto mendengus. "Santai sedikit, dong, Sakura-chan. Jujur saja, aku lelah hari ini."kata Naruto.

Sakura menghela napas. "Lagian siapa suruh ikut kegiatan OSIS. Sudah tahu aku tidak menjabat sebagai ketua lagi."ucap Sakura.

Naruto mengernyit, "Kau ge'er sekali, Sakura-chan. Aku memang mau masuk OSIS, kok."

Sakura merasakan wajahnya memerah. "Terserah, deh."

Hening. Naruto tiduran di sampingnya. Merasa bosan juga dengan pelajaran Sejarah, Sakura menutup bukunya dan duduk di samping sahabatnya dan menggandeng tangan Naruto.

"Naruto…"Sakura berbisik. Suaranya sangat pelan. Mungkin Naruto tidak bisa mendengarnya jika ada suara lain di ruangan itu. Namun, teras belakang rumah Sakura sepi saat ini. Hanya desahan napas, jantungnya berdebar, dan hembusan angin musim semi. Naruto menoleh.

"Apa?"sahut Naruto, mengisi kesunyian. Keheningan di ruangan itu membuat Naruto sedikit berdebar. Entah karena apa.

"Sebenarnya… aku…"Sakura melirik kiri mengikuti arah pandangan cewek itu, nanmun tidak menemukan apapun. Ia kembali menatap cewek musim semi tersebut. Si gadis nampaknya sangat gelisah… naruto sendiri heran melihatnya.

Namun, ia diam saja.

Tetapi ia memiliki sebuah dugaan di benaknya. Dugaan yang bisa membawanya ke langit ke tujuh.

Oke. Itu berlebihan, Naruto membatin. Namun, ia benar-benar merasa seperti itu, kok.

"Aku…"

Naruto merasa jantungnya berhenti berdetak saat itu.

"Aku…"

Pintu teras belakang menjeblak terbuka. Dengan cepat, Sakura melepas genggamannya. Lalu, Sakura melihat siapa yang beraninya menganggu moment yang tengah di buatnya. Seseorang dengan rambut cokelat sebahu melongokkan kepalanya dengan tampang malas-malasan. Rin Haruno.

"Oh, aku menganggu, ya? Maaf deh!"

Rin hendak menutup pintunya namun, keburu di tahan Naruto.

"Masuk saja, Rin. Lagi pula kami sedang bersantai-santai."ujar Naruto.

Rin tersenyum dan segera berjalan turun ke halaman untuk mengambil pemotong rumput, sebelum keluar dari teras belakang rumah, Rin berbisik.

"Boo-doh!", lalu terkikik sendiri.

"Kurang ajar!"umpat Sakura. Namun, adiknya keburu membanting pintu di depan wajahnya. Ia heran kenapa bisa memiliki adik yang seperti itu. Kadang baik kadang menyebalkan. Huuuh. Tuh, kan. Apa ia bilang. Ngomongnya gampang, ngelakuinnya susah. Bahasa gaulnya sih, Easy to Say, Hard to Do.

Sakura menghela napas.

To be Countiune…

Pendek? Khas aku banget. Oke. Maaf, nih. Saachan lagi kena Writer Block jadi, agak pendek ceritanya. * agak pendek? Emang dasarnya udah pendek kaliiii….*

Oke. Kali ini Saachan mau balas review..

Kirito: Iya. Aku lebih suka NaruSaku. Thanks reviewnya, ya.

SR not AUTHOR: Sungguh? Aku tidak percaya ini bagus. Hoke! Ini sudah lanjut. Makasih reviewnya, ya.

Anto borok: oke. Ini sudah di lanjut. Gak apa-apa. Biar merasa bahwa banyak yang review. Iya, aku agak kesel banget sama NaruHina lovers. Mereka lebay. Hooo. Tentu nanti aku balikin pairnya, bahkan sampe ku kembalikan ke tokonya. Jaaaah *kayak barang aja...* Wkwkwk... Terima kasih reviewnya.

Cindy elhy: Oke. Udah lanjut, kok. Aku juga gak sabar membaca review darimu dan reader lainnya. Terima kasih, reviewnya.

Salam sayang dari.

Sayaka Kashiwagi