Maaf... Maaf... Maaf... Semoga nggak pada lupa sama cerita ini~ (Sujud mohon ampun sama pembaca)
Suara samar Wonwoo menyadarkan Mingyu, tapi yang bisa dia lihat hanya kegelapan. Ia ingin mencari dari mana sumber suara tersebut berasal namun Mingyu seakan berdiri di sebuah ruang kosong tanpa cahaya. Sesak dan menyakitkan. Tidak ada yang bisa ia lihat atau rasakan, hanya suara sayup Wonwoo memanggil namanya lah yang membuat Mingyu tetap bertahan.
Rasa sakit di sekujur tubuhnya masih terasa, tapi perlahan menghilang dengan sendirinya. Perlahan rasa hangat menjalar memenuhi jiwa Mingyu, memberi energi yang membuatnya seakan utuh. Namun yang membuat indra Mingyu menajam adalah lidah basah yang membelai lehernya dengan lembut. Tidak diragukan lagi, Mingyu bisa mencium aroma khas Wonwoo yang menguar di sekitarnya. Aroma sabun dan sedikit sitrun yang terus melekat di ingatan Mingyu sejak pertama kali mereka bertemu.
Jantung Mingyu mengentak kuat seakan siap meledak setiap saat. Lidah Wonwoo masih meluncur ringan, meninggalkan kecupan lembut di sana-sini. Mingyu merasakan sentakan kuat di bagian depan tubuhnya saat jari kurus Wonwoo menarik jas Mingyu dari tubuhnya. Entah kenapa Mingyu bisa merasakan semua pergerakan Wonwoo meski dirinya masih dilingkupi kegelapan. Jantungnya menggila, mengantisipasi apa yang akan Wonwoo lakukan pada dirinya.
Jemari Wonwoo yang bergetar membelai rambut Mingyu sebelum menariknya dalam sebuah ciuman, menyatukan bibir mereka dalam gerakan memabukkan. Mingyu ingin menggenggam tangan Wonwoo, menenangkannya dan menariknya mendekat dalam pelukan. Tapi yang bisa ia lakukan hanya mengerang rendah. Bahkan suara tak mampu keluar dari tenggorokannya.
"Mingyu? Hey..."
Wonwoo menghentikan aktivitasnya saat mendengar Mingyu mengerang dalam ciuman mereka. Meski tak ada pergerakan, Wonwoo yakin suara yang ia dengar bukanlah halusinasi belaka. Dengan gugup Wonwoo melepas kancing kemeja Mingyu satu persatu. Sepertinya tak ada pilihan lain bagi Wonwoo selain mengubah Mingyu menjadi manusia jika ingin menyelamatkannya.
"Bertahanlah Mingyu, aku akan membuatmu hidup seutuhnya."
Kemeja Mingyu mendarat ringan di atas lantai, memberikan pemandangan mengejutkan yang membuat wajah Wonwoo memanas. Tentu saja Wonwoo pernah melihat pria lain bertelanjang dada, dia dan Junhui sering pergi bersama ke pemandian umum. Tapi pemandangan Mingyu tergeletak di hadapannya, tanpa sehelai benang pun menutupi bagian atas tubuhnya membuat Wonwoo sedikit malu. Tubuh Mingyu kuat, kokoh, dan berotot di tempat-tempat sempurna. Berbeda dengan Wonwoo yang memiliki tubuh ramping dan tak berbentuk.
"Bagaimana aku memulainya?"
Dengan sedikit kikuk, Wonwoo memosisikan tubuhnya di atas Mingyu. Kedua kakinya menekuk canggung di sisi tubuh Mingyu yang masih tak bergerak. Wonwoo memejamkan matanya dengan begitu kuat hingga keningnya berkerut menyakitkan saat membuka gesper sabuk Mingyu. Tapi Mingyu menangkap pergelangan tangan Wonwoo dan menghentikannya. Seketika mata Wonwoo terbuka dan menatap wajah Mingyu yang sedikit bingung dengan mata berembun.
"Wonwoo? Apa yang kau lakukan?"
Suara Mingyu berat dan serak, bibirnya tersenyum tapi ada rasa penasaran terpancar dari tatapan matanya. Mingyu bisa melihat air mata yang menggenang di sudut mata Wonwoo, dan itu membuat hatinya sakit. Mendapati Wonwoo menderita adalah hal terakhir yang ingin Mingyu lihat.
"Jangan menangis." Mingyu berbisik, sebelah tangannya terangkat membelai pipi Wonwoo yang terasa dingin.
"Aku tidak menangis."
"Matamu berkaca-kaca."
"Aku tidak menangis, bodoh." Wonwoo menjawab dengan keras kepala. Tubuhnya terjatuh lemas di atas Mingyu karena perasaan lega yang menyerangnya secara tiba-tiba. Melingkarkan kedua lengan di seputar leher, Wonwoo memeluk begitu kuat saat menyandarkan kepalanya di lekuk bahu Mingyu. Menghirup aroma samar hujan dan embun yang semakin hari terasa begitu familiar bagi Wonwoo.
"Kau menakutiku."
"Maaf."
Tangan Mingyu menggosok punggung Wonwoo perlahan, menenangkan tubuhnya yang sedikit gemetar. Tak ada lagi kata yang perlu diucapkan, Mingyu bisa merasakan tubuh Wonwoo perlahan rileks dalam pelukannya. Nafas teratur membelai sisi wajah Mingyu, menandakan Wonwoo sudah terlelap dalam tidurnya.
Saat terjaga, Wonwoo mendapati tubuhnya meringkuk nyaman dalam pelukan Mingyu. Hangat dan menenangkan seperti yang Wonwoo ingat. Mata Wonwoo memandang wajah Mingyu yang tertidur, nafas lembut mengalir ringan membelai sisi wajah Wonwoo, membuat bulu kuduknya meremang menyenangkan.
Wonwoo membelai pipi Mingyu perlahan, merasakan kulit hangat menyapa telapak tangannya. Meski mata Mingyu tertutup, tapi sudut bibirnya tertarik ke atas, mengulas senyum malas sebelum menyapa Wonwoo dengan suara berat.
"Kau sudah bangun?"
"Hmm..."
Mingyu membuka matanya dan memandang wajah Wonwoo, senyumnya semakin mengembang saat melihat Wonwoo menunduk menyembunyikan wajahnya dari tatapan Mingyu. Hidung Wonwoo membelai tulang selangka Mingyu dengan ringan, membuat Mingyu mengerang rendah dan mempererat pelukannya di sekitar tubuh Wonwoo.
"Kita harus melakukannya." Wonwoo berkata lirih, masih menyembunyikan wajahnya di dada Mingyu.
"Melakukan apa?"
"Kau benar-benar tidak tahu?"
Mingyu menggeleng pelan. Berusaha mencerna setiap perkataan Wonwoo tapi sama sekali tidak berhasil mendapatkan petunjuk.
"Jika kau ingin keluar dari ruangan ini, aku harus mengubahmu menjadi manusia."
"Kau bisa mengubahku menjadi manusia?"
Bukan kaget, suara Mingyu lebih terdengar skeptis saat mengetahui Wonwoo bisa mengubahnya menjadi manusia.
"Kau tidak tahu?"
"Aku sama sekali tidak tahu kau bisa mengubahku menjadi manusia. Maksudku, entahlah Wonwoo, semua ini terasa janggal bahkan untuk makhluk tidak nyata sepertiku."
Wonwoo tertawa rendah mendengar ucapan Mingyu, bahkan untuk Mingyu sendiri hal ini terasa tidak wajar.
"Tapi kau tahu bagaimana cara meminta energi padaku."
"Sebenarnya aku juga tidak tahu."
"Hah?"
Wonwoo bangun dari pelukan Mingyu secara tiba-tiba dan duduk memandang Mingyu dengan tatapan tak percaya.
"Mingyu, kau menciumku berulang kali. Bagaimana bisa kau bilang tidak tahu cara mengambil energi?"
"Maksudku awalnya memang aku tidak tahu, tapi entah kenapa saat memandangmu dorongan untuk mencium sangat kuat." Mingyu menyangga kepalanya dengan santai sambil mengamati Wonwoo yang masih memasang wajah tak percaya.
"Lalu?"
"Lalu saat aku akhirnya menciummu baru aku sadar energiku bertambah, jadi begitulah."
Wonwoo mendengus kasar dan mendorong tubuh Mingyu hingga terlentang dan duduk di perutnya.
"Jadi kesimpulannya, kau ingin menjadi manusia atau tidak?"
"Wonwoo, jika aku menjadi manusia artinya kau tidak akan bisa lepas dariku untuk selamanya. Kau yakin tidak keberatan dengan kenyataan itu?"
Wonwoo menghela nafas panjang dan memejamkan matanya penuh pertimbangan. Dia tidak keberatan menghabiskan seluruh hidupnya bersama Mingyu, karena Wonwoo tahu bagaimana rasa takut menyerangnya saat melihat Mingyu sekarat.
"Aku tidak ingin kau menghilang." Wonwoo meletakkan tangannya di dada Mingyu, tepat dimana jantung Mingyu berdetak. "Aku tidak ingin kau lenyap."
Mingyu mengulurkan tangan membelai pipi Wonwoo dengan sangat perlahan sebelum mengangkat tubuhnya untuk duduk. Refleks Wonwoo melingkarkan kakinya di seputar pinggang dan menyandarkan dagunya di bahu telanjang Mingyu.
"Apa yang harus kulakukan, Wonwoo?"
"Apa yang ingin kau lakukan padaku?"
"Aku ingin menciummu."
"Kalau begitu lakukan."
Wonwoo menatap lurus ke dalam mata Mingyu, memberikan seluruh kepercayaannya pada pria yang tengah berada di hadapannya ini. Sama sekali tidak memberi Mingyu kesempatan untuk ragu.
Jari-jari Mingyu melebar di punggung Wonwoo yang masih terbalut kemeja, menarik tubuhnya mendekat dan menghapus semua jarak hingga tak bersisa. Lengan Wonwoo melingkar longgar di sisi leher Mingyu, menyisir rambut coklat gelap Mingyu dengan perlahan. Menikmati setiap momen yang sedang mengalir, seakan tak ada dunia lain selain dalam ruangan tersebut.
Sebelah tangan Mingyu membelai rahang Wonwoo sebelum akhirnya menarik tengkuknya mendekat, menyatukan bibir mereka dalam tekanan lembut. Tidak ada lidah, atau bahkan gerakan. Mingyu menikmati sensasi bibir Wonwoo yang menekan lembut di bibirnya. Bergumam penuh kelegaan saat Wonwoo berinisiatif membuka bibirnya dan memangut.
Genggaman Wonwoo di rambut Mingyu menguat, memperdalam ciuman mereka. Ujung lidah Mingyu menyeruak membelai setiap sudut mulut Wonwoo dengan sapuan ringan. Erangan rendah lolos dari tenggorokan Wonwoo saat jari Mingyu menari di kulit pinggangnya.
Mingyu tidak tergesa-gesa, meski dia tidak tahu apa yang harus dilakukan tapi Mingyu tahu apa yang dia inginkan. Jari tangannya masih bertengger di pinggang Wonwoo sebelum akhirnya merayap naik dengan sangat perlahan dari balik kemeja, menikmati sensasi hangat serta tarikan nafas Wonwoo yang tersentak setiap kali jari Mingyu menyentuh tempat sensitif.
"Hnng...uuuhh..."
Mingyu mengerang kasar saat Wonwoo bergerak mendekat dan secara tidak sengaja menggesek kelelakiannya yang mulai mengeras. Pertahanan diri Mingyu hancur, erangan kasar lagi-lagi lolos dari tenggorokan Mingyu sebelum akhirnya memutar tubuh Wonwoo hingga tergeletak di bawah kungkungannya.
"Wonwoo... Aku tidak bisa berhenti."
"Kalau begitu jangan." Wonwoo tersenyum lembut saat menatap wajah Mingyu yang sedikit ketakutan, meraihnya mendekat dan berbisik di telinganya. "Aku mencintaimu Mingyu."
Sedetik kemudian Wonwoo mendapati bibir Mingyu menguasainya dengan kuat, lapar dengan segala kenikmatan yang menyerbu dirinya setiap menyentuh tubuh Wonwoo. Dengan penuh ketergesaan Mingyu menarik kemeja Wonwoo hingga lepas dan membuangnya sembarangan.
"Wonwoo."
Mingyu menggumamkan nama Wonwoo berulang kali, tangannya bergerak tak beraturan tapi mata Mingyu terfokus menatap wajah Wonwoo. Mingyu menyeret bibirnya di sepanjang leher jenjang Wonwoo saat kedua tangannya sibuk melepas celana yang masih membungkus kaki Wonwoo. Menariknya kasar dan membiarkannya menggantung di betis yang melingkari pinggangnya.
"Ooh...Aaahhh...Mingghh"
Wonwoo mengerang rendah saat bibir Mingyu menyentuh putingnya, lidah basah Mingyu menjilat menggoda dan menangkapnya di antara gigi. Wonwoo terkesiap, tangannya mencengkeram bahu Mingyu yang menegang di bawah jari-jarinya.
Pinggang Mingyu mendorong kuat, kembali menggesekkan kejantanan mereka yang masih terhalang kain. Dengan putus asa tangan Wonwoo meraba celana Mingyu, sedikit kesulitan melepas kancing dan resleting ketika Mingyu tak berhenti menggerakkan pinggangnya dengan brutal.
"Mingyu...Stop!"
Seketika Mingyu mematung, tubuhnya melengkung tak nyaman di atas tubuh Wonwoo dan tangannya sedikit gemetar saat menopang tubuhnya sendiri. Wonwoo ingin tertawa saat memandang ekspresi wajah Mingyu, begitu bingung seperti bocah kehilangan ibunya di tengah keramaian kota.
"Maafkan aku Wonwoo, apa aku menyakitimu?"
Wonwoo menggeleng pelan, sebelah tangannya menggapai pundak Mingyu sebelum akhirnya mendorong pria yang lebih tinggi darinya itu untuk berbaring. Wonwoo suka gerakan Mingyu yang begitu posesif dan agresif, tapi saat ini mereka tidak bisa hanya mengandalkan insting. Jadi Wonwoo memutuskan untuk mengambil alih kendali.
"Diam di sana. Kau boleh melakukan apa yang kau inginkan, tapi tidak sekarang." Wonwoo mulai melepas celana Mingyu dan membuangnya sembarangan. "Nanti, kau boleh melakukannya sesukamu."
Kening Mingyu berkerut mendengar ucapan Wonwoo tapi semua pertanyaan dalam otaknya seketika menghilang saat jari lentik Wonwoo melingkar di sekitar kelelakiannya yang sudah mengeras.
"O'oohh... Wonwoo?"
Mingyu menghempaskan kepalanya ke bantal, tubuhnya serasa berteriak ingin bergerak, tapi terlalu takut untuk melawan perkataan Wonwoo. Tangan Mingyu mengepal menggenggam sprei yang sudah tak beraturan, menyerap kenikmatan saat tangan Wonwoo terus bergerak menggodanya.
"Hnngg..."
Kepala Mingyu terangkat seketika saat mendengar erang kesakitan yang keluar dari tenggorokan Wonwoo. Rasa khawatir menyerangnya, melebihi apapun, hal terakhir yang Mingyu inginkan adalah menyakiti Wonwoo.
"Wonwoo?"
"Aku baik-baik saja, tetap diam di sana. Aku harus menyiapkan diri."
Tangan Wonwoo masih menggenggam milik Mingyu, memompanya dengan irama teratur ketika sebelah tangannya yang bebas terulur ke belakang. Dari tempat Mingyu berbaring, dia bisa melihat tubuh Wonwoo yang meliuk menggoda di atasnya serta jari-jari lentik yang menghilang ke dalam tubuhnya.
Mingyu menelan ludah dengan susah payah, pemandangan itu benar-benar membuat perut Mingyu kaku. Suara kesakitan berubah menjadi rintihan, Mingyu menggigit bibirnya menahan diri saat Wonwoo memompa milik mereka secara bersamaan.
"Won... Aahh... Wonwoohhhnn... "
Wonwoo bergerak perlahan, memandu milik Mingyu yang sudah membengkak memasuki tubuhnya dengan hati-hati. Erangan kasar terlontar dari tenggorokan Mingyu saat merasa keseluruhan dirinya masuk dalam kehangatan. Wonwoo begitu ketat dan basah, memijat milik Mingyu dengan nyaman. Di sisi lain, Wonwoo merasa dirinya penuh dan utuh. Mengisinya hingga ke dalam jiwa.
Mingyu menggerakkan pinggulnya penuh rasa ingin tahu, yang langsung dibalas dengan desahan lembut oleh Wonwoo saat milik Mingyu menyetuh tempat menyenangkan. Seakan di beri dorongan, Mingyu menggenggam pinggang ramping Wonwoo dan menghujam dengan kuat, lagi dan lagi hingga desahan Wonwoo berubah menjadi rintihan tak tertahankan.
"Aahh... Ahh.. Ming... Aahh... Uuhnn..."
Mingyu bangkit, mendorong tubuhnya bangun dan menopangnya dengan lutut, menarik kaki jenjang Wonwoo melingkar di pinggangnya. Sebelah tangan Mingyu menyangga punggung Wonwoo agar tidak jatuh ketika tangan yang lain mencengkeram bokong Wonwoo dengan kuat.
Suara desahan dan kulit yang beradu memenuhi ruangan. Udara memanas seiring dengan tarian mereka, mengabaikan ranjang yang berderit dan juga waktu yang terus berjalan. Karena bagi Mingyu dan Wonwoo hanya ada saat ini, saat dimana mereka saling melengkapi dan berbagi.
"Minghh... Ahh... Aku... Akuu..."
Wonwoo mengetat di sekeliling Mingyu saat mencapai puncak, mencengkeram dengan nikmat hingga geraman rendah Mingyu menggaung keseluruh penjuru ruangan dan menyemburkan benih cintanya dalam tubuh Wonwoo.
Lutut Mingyu kehilangan kekuatan, tak sanggup lagi menopang berat tubuh Wonwoo dan dirinya hingga membuat kakinya jatuh bersimpuh. Wonwoo masih duduk di pangkuannya, memeluk Mingyu begitu erat hingga tubuh mereka menempel tanpa jarak barang sesenti pun.
"Jangan pergi."
Wonwoo membisikkan kalimat tersebut ke telinga Mingyu berulang kali. Air mata mengaburkan pandangannya tapi Wonwoo tidak merasa sedih, melainkan rasa bahagia yang membuncah dalam dadanya. Wonwoo tidak tahu apa yang telah dilakukannya hingga Tuhan mengirim seseorang seperti Mingyu kepadanya. Wonwoo merasa tidak pantas, tapi juga sangat bersyukur.
"Aku akan terus di sini. Bersamamu."
Yosshaaaa! Kalian nggak tahu betapa diriku berjuang sangat keras untuk adegan ini. Bahkan sempet mlongo depan layar dengan tangan ngambang di atas keyboard. Wkwkwkwk... Mau nulis apa? Mau nulis apa? Posisinya gimana? ((/..\))
Abis ini epilog ya. See you next time~
