Sudah lama Hikari penasaran seperti apa orang yang sering di ceritakan Hinata padanya sehingga memunculkan keinginan yang besar untuk berbicara dengan pria ini. Ia pun menjawab panggilan itu.

"Hey Bocah, kau terlambat. Kalau 15 menit lagi kau tidak datang…" Hyuuga Hikari terpaku mendengar suara yang ia dengar. Sungguh ia berani bersumpah ia sangat mengenal nada suara yang seperti yang tegas seakan mengintimidasi ini tak lain dan tak bukan…

"Sasuke…" panggilnya pada seseorang diseberang sana.

SCANDAL OF PRINCESS

.

Yanagi Xenophellysh Hinagiku

Lizy94

.

Genre : Drama, Romance

Rate : T - K

Warning :

OOC, Typos, Cerita yang sudah pasaran

.

Desclaimer :

Naruto is NOT mine

.

..

7th Chapter : Flashback

...

..

.

Flash Back on

Sasuke duduk di ruang tamu kediaman Hyuuga. Tuan muda berambut spike hitam ini berlutut untuk mengikat tali sepatunya. Sudah lima belas menit ia berkutat pada benda itu, namun usahanya gagal. Ingin sekali ia pungkiri kalau ia SAMA SEKALI tidak bisa mengikat tali sepatu. Sulit dipercaya memang, tapi inilah kenyataan. Tuan muda Hyuuga Sasuke tidak bisa mengikat tali sepatu. Dan Sasuke BENCI akan keadaan ini. Perlahan emosinya terbakar.

Seorang pelayan wanita kira-kira berumur tiga puluh tahun memberanikan diri untuk menawarkan dirinya membantu Sasuke.

"Tuan Muda, perkenankan saya mengikat tali sepatu Anda," ucap pelayan itu dengan sopan namun apa yang ia dapat, tatapan tajam dari Sasuke. Ya, terkadang emosi dapat membutakan mata dan menulikan telinga bahkan hal yang baik bisa diterima menjadi hal yang buruk. Sasuke merasa pelayannya ingin meledeknya, dan itu akan merendahkan harga dirinya. Itulah Sasuke, bocah berusia enam tahun tidak mau menunjukkan kelemahan pada orang lain. Benar-benar didikan dari Hyuuga Hiashi.

Terdengar suara langkah kaki dari arah tangga menuju tempat Sasuke berada. Seorang wanita berusia sekitar dua puluh tahun lebih tengah menggendong seorang gadis kecil, di belakangnya diikuti oleh seorang anak laki-laki yang umurnya lebih tua empat tahun dari Sasuke, Neji Hyuuga pengasuh Sasuke.

Nyonya Hyuuga nan jelita itu menyerahkan Hinata, anak gadisnya pada seorang pelayan perempuan yang tadi menawarkan bantuan pada Sasuke. Mendengar langkah kaki khas ibunya semakin mendekat pada dirinya, Sasuke makin berusaha agar bisa menalikan tali sepatunya. Sang ibu hanya tersenyum melihat tingkah putranya yang gengsi untuk sekedar meminta tolong, bahkan pada ibunya.

"Tuan Muda-ku, butuh bantuan?" Tanya Hikari dengan senyum yang mengembang. Sasuke menatap ibunya. Yah… kali ini saskuke mengaku kalah pada kekurangan dan kegengsiannya. Sasuke yang semula jongkok merubah posisinya jadi duduk di lantai beralaskan karpet berwarna merah, sedangkan Sang ibu perlahan meraih tali sepati Sasuke dan mulai menalikannya.

"Harus berapa kali Kaachan harus mengajarimu menalikan tali sepatu, hn?" Tanya Hikari dengan ucapan yang sangat sabar khas seorang ibu.

"Aku berusaha, Kaachan," jawab Sasuke dengan semburat merah di pipinya, malu.

"Mana anak Kaachan yang jenius?" Hikari tertawa melihat wajah Sasuke yang teripu malu. Siapa yang tidak malu jika ia adalah seorang yang serba bias tapi tidak bias menlikan tali sepatu.

"Ternyata benar kalimat 'tidak ada manusia yang terlahir sempurnya'" ujar Sasuke tiba-tiba.

Hikari tercengang menatap putranya. Bagaimana bias anak yang baru akan menginjak sekolah dasar tahu akan kalimat itu. "Darimana kau mendapat ucapan itu, Nak?" Tanya Hikari sambil mengusap kepala anaknya.

"Dari buku Neji," jawab Sasuke singkat. Hikari tersenyum memandang putranya lalu mengalihkan pandangannya pada Neji yang sudah siap berangkat ke sekolah, tinggal menunggu adik asuhnya saja.

"Kalau kau tidak suka kado dari Kaachan ini, akan Kaachan belikan model yang lain," ujar Hikari sambil menyentuh sepatu Sasuke. Itu adalah kado atas berhasilnya Sasuke masuk Sekolah Dasar favoritnya.

"Jangan, aku suka," jawab Sasuke cepat lalu berdiri. "Neji ayo berangkat!" ajak Sasuke, maksudnya perintah.

"Sudah siap?" Tanya Kepala keluarga Hyuuga, Hyuuga Hiashi yang sedari tadi melihat pertunjukan pagi antara Istrinya dengan anak laki-lakinya.

"Ittekimasu,"

Hikari membetulkan dasi suaminya sebelum suaminya benar-benar pergi, juga mencium pipi Sasuke dan Neji.

"Itterasai,"

Flashback off

Normal P.O.V

Hinata mengedarkan pandangannya menuju semua penjuru taman, berharap menemukan Senpai berambut aneh. Ah! Ketemu. Dengan langkah cepat, ia langkahkan kaki jenjang yang dialasi flat shoes berwarna ungu. Ia segera menempati tempat di samping sasuke yang tengah menunduk.

"Senpai..." dengan hati-hati Hinata menyentuh tubuh Sasuke. Pria bermata onyx itu hanya menoleh ke arah Hinata tanpa ekspresi. Yang ada dalam pikiran Sasuke saat ini adalah wajah ibu angkatnya. Wanita itu sekarang pasti sedih karena teringat pada dirinya. Walau dalam dirinya pun ia tak menyangkal kalau dia sangat merindukan pelukan ibunya untuk mengurai rasa rindunya. Hinata menatap balik pandangan Sasuke dengan wajah tanpa dosa. Pupil mata Hinata membesar kala pria itu tiba-tiba memeluk tubuhnya.

Hinata terpaku mendapati perlakuan Sasuke. Untuk beberapa detik lalu ia seakan lupa untuk mengambil nafas. Manik lavendernya mengarah ke segala arah. Menyadari kalau mereka tengah menjadi tontonan gratis dari pengunjung lain, tangan mungilnya mulai merambat ke dada bidang Sasuke dan bersiap mendorongnya.

"Semenit saja... Hanya semenit..." Ujar Sasuke sambil terus memeluk Hinata. Hinata yang mendengar perkataan Sasuke mengurungkan niatnya. Entah kenapa Hinata pernah merasakan pelukan ini. Ya, seperti ini. Seperti pelukan dari seseorang yang ia rindukan...

"O-niichan," desis Hinata. walaupun dengan intensitas rendah tapi jika dalam keadaan sedekat ini, siapa yang tak mendengar. Sasuke segera menjauhkan tubuhnya dari Hinata kemudian menatap Hinata yang wajahnya tengah tertunduk. Perlahan diangkatnya wajah Hinata, mata onyx-nya menemukan jejak aliran air mata di sana. Sasuke panik, apakah Hinata sudah tahu kalau dia itu Sasuke.

Dengan tetap mempertahankan ekspresi wajahnya setenag mungkin agar tidak terkesan diluar kepribadiannya, Sasuke menyeka pipi Hinata yang basah menggunakan ibu jarinya.

"Pelukan itu seperti milik O-niichan-ku," ucap Hinata sambil menggulirkan manik lavendernya pada kedua mata Sasuke. Sasuke yang semula menahan nafas karena khawatir kedoknya terbongkar perlahan memenghembuskan nafar dari paru-parunya. Sedikit kekhawatirannya musnah, bagaimana bisa ketahuan secepat ini.

"Sudah, jangan menangis, dasar cengeng!" ujar Sasuke sambil mengacak-acak rambut Hinata. Hinata melayangkan tatapan mematikan pada Sasuke karena dandanannya berantakan.

"Apa kau lama hanya untuk melakukan ini,?" Tanya Sasuke sinis sambil menyentuh kepangan rambut Hinata yang di arahkan ke samping.

"Laki-laki macam apa kau ini, tidak menghormati jerih payah wanita sama sekali." Ujar Hinata ketus sambil menepuk lengan Sasuke sekeras mungkin, sampai Sasuke mengerang kesakitan.

"Kau ini…" ujar Sasuke bersiap member pembalasan untuk mengacak-acak rambut Hinata lagi, tapi kedua tangan Hinata sudah membentuk silang untuk melindungi kepalanya dari serangan manusia aneh di depannya. Dan pad akhirnya Sasuke menggenggam lengan kanan Hinata dengan kangan kirinya kemudian menarik gadis itu untuk berdiri.

"Ayo… kita jalan-jalan," ajak Sasuke.

"Kemana?" Tanya Hinata sambil memiringkan kepalanya membuat Sasuke yang tak sengaja melihat ekspresi mata Hinata yang terlihat imut jadi merona.

"Ke suatu tempat," jawab Sasuke sambil mengalihkan pengangannya agar Hinata tidak memperhatikan perubahan raut wajahnya. Sasuke merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari buasanya. Apa dengan menatap wajah polos gadis itu bisa menjadikannya salah tingkah seperti ini? Oh.. ini yang pertama baginya.

"Kau tidak ingin menculikku kan?" Tanya Hinata sambil menyipitkan matanya. Merasa diremehkan, Sasuke memandang Hinata kemudian mendaratkan sebuah subitan di pipi Hinata.

"Berhenti bersikap kekanakan seperti itu," ujar Sasuke kemudian menggandeng Hinata untuk segera berjalan mengikuti langkahnya.

Hinata sebenarnya ingin marah pada Sasuke. Hinata tetap merasa sikap Sasuke lah yang kekanakan. Sifatnya yang sering berubah, terkadang baik, perhatian, judes, dingin, jahil, narsis, tapi entah kenapa Hinata suka berada di sampingnya. Hinata perlahan mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Sasuke, meskipun tertinggal satu langkah dari Sasuke dia masih bisa menatap sedikit wajah pemuda itu.

Untuk sejenak Hinata mengakui dari lubuk hatinya yang paling dalam kalau Senpainya ini benar-benar memiliki wajah yang sempurna. Hey… apa yang kau pikirkan Hyuuga Hinata, kau ini masih bocah dan Hyuuga tidak mengajarimu untuk terpaku pada ketampanan pria. Hinata pun menunduk kembali saat wajahnya dirasa memanas. Mungkin cuaca hari ini terlalu panas, batinnya.

Yanagi X. Hinagiku

Sasuke dan Hinata masuk ke sebuah toko bunga setelah berjalan kira-kira lima belas menit. Sekarang tangan Sasuke tak lagi menggandeng tangan Hinata. Di toko tersebut mereka langsung di sambut para penjaga toko bunga pada waktu itu. Nampaknya mereka sudah saling mengenal satu sama lain.

"Apa kabar Sasuke kun?" Tanya seorang gadis pada Sasuke dengan ramah. Mereka memang sudah saling mengenal karena Sasuke sering membeli bunga disini.

"Baik, bagaimana kabarmu, Matsuri?" Tanya Sasuke sambil menjabat tangan Matsuri dan tak lupa senyuman juga di sunggingkan Sasuke pada gadis penjaga toko di sini.

"Baik juga, kau mencari apa? Apakah seperti biasanya? Sembilan batang bunga lili berwarna putih yang diikat dengan pita biru?" tebak Matsuri.

"Ya, kau benar," jawab Sasuke sambil tersenyum tipis. Hinata yang sedari tadi hadir di antara mereka entah kenapa merasakan hal yang ganjil di hatinya. Dia tidak pernah tahu Sasuke tidak pernah tersenyum begitu ramah pada orang lain, dia tidak pernah tahu Sasuke berbalik tanya tentang keadaan seseorang, dan dia tidak pernah tahu Sasuke suka membeli bunga di toko ini. Ia merasa kan tidak enak di hatinya, perih dan merasa dia tidak tahu apa-apa. Eh bukannya dia memang tidak tahu apa-apa? Tapi Hinata merasa kalau dia sangat dekat dengan Sasuke.

"Oh… Siapa gadis ini,?" Tanya gadis bernama matsuri pada Sasuke.

"Aah ya… Dia Hinata, kencanku hari ini," jawab Sasuke dan spontan membuat Hinata menolehkan wajahnya pada Sasuke. Tapi Sasuke tidak membalas tatapannya. Ya, Sasuke berbohong, dia tidak benar-benar menganggap Hinata sebagai kencannya. Kecewa? Entahlah, sebenarnya apa yang ada di pikiran Hinata kita.

Hinata membungkuk pada Matsuri, ia terus menundukkan wajahnya, menyembunyikan semburat merah yang tak tahu apa artinya dan menutupi setitik kekesalannya sampai Matsuri menyuruh Hinata untuk duduk di kursi taman yang ada di sudut ruangan untuk menunggu.

Keheningan muncul menyelimuti dua pemuda berbeda gender ini. Hinata enggan memulai percakapan karena malas sedangkan Sasuke bingung harus memulai dengan kata apa. Seakan frustasi diselimuti keheningan Sasuke pun menghadapkan dirinya pada Hinata.

"Jangan diam," ujar Sasuke, tapi Hinata tetap diam. "Kenapa?" Tanya Sasuke.

"Kau tanya kenapa? Kau berbohong dan aku tidak suka," ujar Hinata ketus sambil mempermainkan kuku ibu jarinya. Sasuke melihat kebiasaan Hinata ketika sedang ngambek.

"Oh… yang itu. Jadi kau mau aku bagaimana? Akan sangat aneh jika orang sepertiku mengatakan kalau kau bukan teman kencanku, iya kan?" jelas Sasuke pada Hinata. Ya laki-laki di sampingnya benar, itu akan terlihat aneh. Tapi bahkan Hinata juga tidak menyadari apa maksud dirinya mendiamkan Sasuke seperti ini.

"Tapi setidaknya lakukan dengan jujur," tukas Hinata tidak mau kalah berdebat dengan Sasuke.

"Jujur?" Sasuke tengah memikirkan perkataan Hinata beberapa detik yang lalu.

"Baiklah… kita benar-benar kencan hari ini," ucap Sasuke yang sudah keberapa kalinya membuat Hinata tercengang.

"Apa?" Tanya Hinata Sekali lagi, seakan mengkonfirmasi atas perkataan yang di dengarnya tidaklah bohong semata.

"Ya, kita kencan," Ujar Sasuke

LIZY.94

Hinata dan Sasuke keluar dari took bunga dan kembali menapaki jalanan setelah berpamitan dengan semua karyawan disana. Lagi-lagi Hinata hanya diam, bukan karena marah atau jengkel lagi, tapi karena ucapan Sasuke yang bilang mereka akan berkencan.

Dengan membawa sebuket bunga yangia beli berapa waktu yang lalu, Sasuke mengajak Hinata ke suatu tempat yang mungkin hinata belum pernah kunjungi. Pemakaman umum Kyoto. Sasuke behenti sejenak tepat di depan pintu gerbang pemakaman. Hinata memandang heran ke arah pria di sampingnya. Apa yang akan mereka lakukan di sini? Apa benar Sasuke akan mengajaknya kencan di pemakaman?

"Kita akan mengunjungi makam O-kaasan-ku dulu," ujar Sasuke seakan tahu maksud tatapan Hinata.

"Aku akan mengunjunginya dulu,sebelum jalan-jalan denganmu," ujar Sasuke sambil mengarahkan pandangannya pada Hinata.

"I-ya," Hinata tidak bisa lagi berkata apa-apa. Ia hanya mengikuti ke mana arah langkah kaki Sasuke melangkah.

Setelah melewati tangga yang panjang, akhirnya mereka berdua sampa pada sebuah makam dengan gundukan tanah yang tertutup rumput di bawah pohon besar. Tepat di depan batu nisan makam itu, Sasuke berhenti dan disusul juga dengan Hinata yang terlihat sangat lelah terlihat jelas dari wajahnya yang lesu dan keringat yangmenetes di pelipisnya. Hinata langsung terduduk setelah sampai di puncak. Dia belum pernah merasakan berjalan selelah ini sebelumnya, maklum dia adalah Tuan Putri keluarga Hyuuga yang sangat di sayangi oleh kedua orangtuanya.

Setelah dirasa nafasnya agak stabil, Hinata berlari menuju Sasuke yang mengusap nisan, memang tidak jauh dari tempatnya. Sasuke sedang berdoa dengan sungguh-sungguh sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan mata yang tertutup. Hinata tersenyum melihat buketbunga yang di bawa Sasuke. Hinata menebak kalau bunga itu adalah bunga kesayangan ibu Sasuke.

Pada akhirnya Hinata mulai berdoa, seperti yang dilakukan Sasuke. Ketika manik lavender Hinata tertutup oleh kelopak matanya, mata onyx Sasuketerbuka dan menolehkan pandangannya pada Hinata yanag sedang berdoa. Dan tanpa Hinata sadari, Sasuke memberikan senyuman termanais yang pernah ia miliki pada gadis itu, Hyuuga Hinata

'O-Kaasan… Apa mungkin aku menyukainya?' Sasuke menatap setiap lekuk waajah Hinata yang terlihat dari samping, ia juga bisa melihat peluh yang menetes lewat anak rambutnya.

"Ah… Sudah selesai ya?" Tanya hinata pada Sasuke setelah selesai berdoa.

"Ya… Tunggu di sini, akan kubelikan sesuatu," kata Sasuke. Setelah meletakkan buket lili di balik nisan, Sasuke beranjak dari tempatnya semula. Sedangkan Hinata mengamati punggung Sasuke yang perlahan menjauh. Hinata kembali menatap ke depan, ia tersenyum sambil membungkuk seakan di depannya ada orang lain.

"O-Baasan, Konnichiwa. Aku Hinata teman Tenshi Senpai. Apa kabar Anda? Semoga baik. Putra Anda yang baik itu membawakan sebuket lili untuk Anda. Anda suka? pasti menyenangkan jika memiliki anak penurut seperti di walaupun terkadang dia sering menindasku. Tapi aku percaya dia adalah pria yang bisa di andalkan," ujar Hinata pada batu nisan itu seakan dia tengah berbincang dengan seseorang di depanya.

"Anda pasti sangat cantik, karena putra Anda pun terlihat menawan. Di mataku dia selalu terlihat bersinar. Oh ya, O-Baasan, bagaimana seandainya akumenyukai putra Anda? Apakah Anda tidak keberatan?" ujar hinata sambil tersenyum kecil ketikan mengingat kerkataannya barusan.

"Apa yang keberatan?" sebuah suara menginterupsi, membuat Hinata terlonjak terkejut.

"Ka-kau kapan datang?" Tanya Hinata tergugup.

"Baru saja," jawab Sasuke sambil kembali ke tempat duduknya semula. Hinata yang masih cengo hanya bisa mengangguk walau berbagai macam pertanyaan mucul dibenaknya, contohnya…

"Kau dengar apa ucapanku tadi?" Tanya Hinata sambil menunjuk wajahnya. Sasuke memiringkan kepalanya meniru tingkah Hinata saat sedang berfikir.

"H-hey, aku serius," kata Hinata sambil memukul lengan Sasuke dengan keras.

"Kau tidak merasa sungkan dengan O-kaasan ku dengan seenaknya memukul putra tersayangnya ini?" Tanya Sasuke sambil ber-narsis-ria. Hinata hanya meliriknya tajam.

"Untukmu," kata Sasuke sambil mengulurkan sebotol air mineral yang masih dalam keadaan tersegel.

"Arigatou," ucap Hinata sambil membuka segelnya. Sasuke kembali menatap ke depan setelah mengangguk sebagai jawaban ucapan terimakasih dari Hinata.

"Ah… Jadi tidak ya kencannya?" ujar Sasuke bermonolog. Hinata yang mendengarnya pun menoleh kea rah Sasuke.

"Bukannya pria tidak boleh mengingkari ucapannya," tukas Hinata sambil menyipitkan matanya.

"Ya, baiklah. Dengan sangat terpaksa kau boleh meminta apa yang kau inginkan." Jawab Sasuke pura-purbosan.

"Terpaksa?" ulang Hinata.

"Ya! Untuk hari ini saja," ujar Sasuke penuh keambiguan.

-"

Sasuke dan Hinata kembali ke taman tempat mereka bertemu sebelumnya. Tidak banyak wahana permainan di sana tapi pepohonan rindang dan taman yang ditumbuhi berbagai macam bunga member kesan cantik dan asri di taman ini. Di tengah tama nada kolam ikan yang dilengkapi air mancur. Beberapa stan makanan dan minuman juga tersedia.

Mereka baru saja keluar dari sebuah kedai eskrim. Hinata membawa dua eskrim coklat di tangannya sedangkan Sasuke hanya membawa sebuah es krim. Mereka berjalan mengelilingi taman sambil ngobrol banyak hal. Tanpa mereka sadari dua orang berjas hitam yang berlainan orang dan berlainan posisi mengamati gerak gerik mereka berdua.

Sasuke sudah mengendus aksi mata-mata yang mengikutinya sejak ia dan Hinata berada di pemakaman ibunya tidak khawatir karena ia yakin kalau mata-mata itu adalah suruhan ayahnya. Ia malah khawatir pada Hinata. Mungkin karena wajah imut dan menggemaskan yang dimiliki gadis itu beberapa pemuda yang ada di sana terpesona akan kecantikan Hinata. Sasuke merasakan suatu perasaan aneh di dadanya mengingat hal itu. Akhirnya dia mengajak Hinata untuk masuk ke toko aksesoris.

"Kau mau beli apa?" Tanya Hinata. "Jangan menghambur-hamburkan uang," lanjut Hinata.

Tanpa peduli akan pertanyaan Hinata Sasuke melenggang ke sebuah deretan topi sedangkan Hinata sudah terpana ke deretan aksesoris yang tebuat dari monel. Memang benar kata orang kalau wanita memang tertarik pada sesuatu yang berkilau.

"Senpai! Kesini!" panggil Hinata sambil menyeret Sasuke ke deretan aksesoris wanita. Sasuke dengan sabar menuruti kemauan Hinata. Sungguh kekanakan memang.

"Aku mau ini," ucap Hinata sambil menunjuk sepasang cincin dengan ukiran-ukiran artistic. Bagus juga seleranya, pikir Sasuke.

"Tidak, pilih apa saja asal jangan cincin," tolak Sasuke sambil menunjuk hal lain di sekitar mereka. Tapi Hinata menggeleng dengan kuat.

"Aku mau ini," ucapnya lagi. "Kalau tidak boleh, kita pulang saja," ujar Hinata sambil beranjak pergi.

Yah… Sasuke sudah menyangka hal yang seperti ini akan terjadi.

Hinata dengan langkah kesal keluar dari toko aksesoris. Ia sekarang berjalan ke segala arah tanpa tujuan. Bukankah dia tadi ingin pulang? Tapi waktu masih menunjukkan pukul 12.29 sedangkan jemputannya akan datang sekitar setengah jam lagi. Lalu harus kemana dia sekarang?

Seorang anak kecil menangis sambil menggenggam benang yang hampir tak terlihat jika kita melihatnya dari kejauhan. Hinata mengetahui anak tersebut mengangis segera mendekat.

"Adik kecil, kenapa menangis?" Tanya Hinata dengan lembut, menirukan ibunya ketika berbicara dengan anak asuhnya di panti asuhan.

"Balonku tersangkut, benangnya putus," jawab anak kecil yang kira-kira berusia lima tahun itu sambil menunjuk kearah atas diikutu oleh Hinata. Sebuah balon berwarna merah dan diikat dengan benang dengan warna senada bertengger manis di ranting pohon. Hinata merasa teringat sesuatu. Rasanya dia pernah mengalami kejadian ini tapi kapan ia tidak tahu.

"Baiklah, akan kubantu. Siapa namamu?" Tanya Hinata.

"Shiro," jawabnya detengah isakan kecilnya.

"Shiro, tenang ya jangan menangis lagi. Semuanya akan baik-baik saja," ujar Hinata sambil mengusap puncak kepala Shiro.

Dengan bantuan bangku taman yang terbuat dari kayu, Hinata berusaha meraih balon itu. Namun sayangnya ia belum berhasil sampai saat ini. Yah, mungkin karena tinggi badannya yang kurang mendukung.

"Hey. Kau bisa jatuh!" ujar seseorang. Mendengar suara itu membuat Hinata terkejut dan karena gerakan Hinata, kaki Hinata tidak mendarat dengan pas saat melonjak dan otomatis bangkunya oleng. Untung saja ada seseorang yang menolongnya.

"Tuh, kan? Apa kubilang" ujar seseorang yang tak lain tak bukan adalah Sasuke, yang berhasil membuat Hinata terkejut dan berhasil menopang tubuh Hinata dengan menangkap Hinata ke dalam pelukannya. Juga…

" Ini untukmu," ucap Sasuke sambil menyerahkan balon merah yang sempat ia selamatkan kepada Shiro,

"O-niichan Arigatou," ucap Shiro sambil membungkuk pada bocah itu.

"Hn, padanya?" Sasuke mengangguk kemudian menunjuk Hinata yang ada di sampingnnya.

Bocah itu mendekat kearah Hinata dan Sasuke.

"O-neechan Arigatou," ucap Shiro pada Hinata. Dan dengan cepat Shiro nenyisipkan sesuatu ke jari Hinata. Kemudian berlari meninggalkan dua orang yang terpaku atas tindakan bocah itu.

"Eh," keduanya terperenggah ketika melihat kelingking mereka diikat kuat menggunakan benag berwarnya merah. Kemuduan mereka mengarahkan pandangan mereka kea rah Shiro berlari. Dari kejauhan dapat dilihat Shiro bersama balon yang tengah digenggam melingkarkan kedua lengannya di atas kepala membentuk simbol hati. Sasuke dan Hinata tahu maksud bocah itu. Hinata menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya sedangkan Sasuke menutup wajahnya menggunakan punggung tangannya yang bebas.

"Sebaiknya kita benar-benar pulang," ujar Sasuke. Membuat Hinata mengalihkan pandangannya pada Sasuke. Wajah Sasuke sudah kembali ke keadaan semula. Sembari melepaskan ikatan yang dibuat oleh Shirp

"Iya, sepertinya aku akan berada disini dulu. Menunggu jemputan," ujar Hinata entah kenapa dia merasa sangat sedih, padahal dia yang pertama mengajak pulang. Mereka berjalan menuju sebuah ayunan. Hinata segera menduduki sebuah ayunan kosong seakan takut ayunan itu akan diisi oleh o9rang lain, bisa saja Sauke yang menjadi ancaman.

"Akan kutemani," ujar Sasuke sambil duduk di ayunan kosong sebelah Hinata. Setelah itu tidak ada percakapan di antara mereka. Hinata terus memainkan ayunannya sampai mengayun tinggi. Sepoi angin memainkan anak rambutnya yang tak terikat dan wajahnya yang bak porselen jadi bersinar di bawah sinar matahari.

Waktu telah menunjukkan pukul 13.00 saatnya Hinata untuk pulang. Hinata turun dari ayunannya dan berdiri di depan Sasuke.

"Aku pulang dulu, terima kasih untuk hari ini," jar Hinata sambil membungkuk. "Dan maafkan tingkahku yang kekanakan tadi," ujar Hinata.

"Hn, sebenarnya aku mengajakmu kesini untuk menemaniku jalan-jalan di hari ulang tahunku. Sayangkan kalau ulang tahun di rayakan sendirian." Kata Sasuke.

"E-eh… Senpai ulang tahun? Kenapa tidak bilang sebelumnya, aku bisa menyiapkan kado untukmu," Tukas Hinata.

Sasuke menggeleng lemah. "Berikan aku kado sekarang," ujar Sasuke dengan tampang datar tanpa emosi miliknya.

"E-eh?"

"Cium disini!" menunjuk pipi kananya.

"H-hey. Kau bercanda?" Tanya Hinata, pipinya sekarang jadi merah.

"Cepat!" ujar Sasuke. Yah Hinata pun akhirnya mencium pipi kanan Sasuke, namun saat ia akan menjauhkan wajahnnya tangan Sasuke menahannya dan ciuman singkat mendarat ke bibir Hinata. Hinata terlalu terkejut untuk mendapatkan ciuman dadakan dari senpainya yang jahil.

"Hati-hati di jalan, Hinata chan," ucap Sasuke tepat di depan telinga Hinata.

=.=''

Seorang wanita berusia tiga puluh tahun lebih meletakkan sebuah karangan bunga lili Sembilan tangkai di depan batu nisan sebuah makam. Matanya yang tertutup dibalik kaca mata hitam itu memancarkan kerinduan yang besar pada sahabatnya yang tertidur di bawah sana.

"Mikoto… Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga Sasuke seperti janjiku padamu, " ujar Hyuuga Hikari sambil menahan getaran suaranya yang ingin sekali menangis.

Flash back ON

Dua orang perempuan tengah duduk saling berhadapan. Salah satu memiliki iris perak dengan rambut berwarna biru gelap dikuncir satu dan gadis lainnya berambut panjang dengan warna yang senada dengan iris matanya, hitam. Kedua orang itu tengah duduk di belakang panti asuhan tempat mereka di asuh. Raut wajah mereka tampak tegang, terlebih gadis berambut hitam yang digerai.

"Kau tidak bercanda kan, Mikoto?" Tanya gadis bermata onyx, Hikari. Seseorang di depannya menunduk, perasaannya kini terjepit oleh berbagai emosi. Panik, takut, sedih dan sedikit ada rasa kebahagiaan.

"Ya, aku hamil, Hikari," Jawab Mikoto menahan kegugupan yang menjalar pada dirinya.

"Bagaimana dengan Fugaku? Apa yang dia katakan padamu?" tanya Hikari dengan tegas. Kedua perempuan berusia 17 tahun itu saling terdiam. Yang satu menunggu jawaban, dan yang satu lagi bingung harus menjawab apa. Pada akhirnya Mikoto menggeleng dengan wajah datar, namun setitik air mata meleleh.

"Tidak mungkin aku menuntut putra tunggal orang nomor satu di Jepang kan?" jawab Mikoto menahan getaran yang muncul dari setiap kata yang meluncur dari mulutnya.

Hikari nampak geram, tangannya terkepal. Dia ingin sekali menjawab kata-kata sahabat terbaiknya.

"Aku harusnya tahu diri. Mana mungkin seorang sepertiku mendapatkannya. Aku hanya seorang yatim piatu," ucap Mikoto dan pada akhirnya pertahanannya pun luluh, ia menangis. Hikari menarik sahabatnya dalam pelukannya, mencoba meringankan beban Mikoto.

"Pada akhirnya dia akan menyadarinya, biarkan waktu yang membuka segalanya." Ucap Hikari.
"Aku akan minta ayah menjemput kita. Kita pergi dari sini sebelum kepala panti tahu,"

"Itu akan merepotkan keluargamu," Mikoto mencoba menolak ajakan Hikari dengan sopan. Bagaimanapun dia merasa tidak enak jika harus menumpang di rumah sahabatnya yang notabene adalah putri tunggal salah satu keluarga tingkat atas di Kyoto.

"Tidak masalah, kita teman. Dan aku ingin ikut mengasuh anak ini suatu hari nanti," ujar Hikari sambil mengelus lembut perut Mikoto yang mulai membuncit.

"Arigatou,"

Hikari membawa Mikoto ke rumahnya. Dan waktu pun berjalan sangat cepat. Usia kandungan Mikoto hampir sembilan bulan.

Malam itu Mikoto mengerang kesakitan akibat kontraksi uterus kandungannya. Hikari segera membawanya ke rumah sakit, diantar beberapa pelayan dan sopirnya.

Sampai di rumah sakit, Mikoto langsung dibawa ke UGD untuk menerima pertolongan pertama.

Beberapa penjaga berdiri berjajar di depan UGD untuk menjaga Nonanya dan sahabat majikannya yang berjuang antara hidup dan mati.

Tiba-tiba lampu emergency menyala dan berbunyi. Seorang dokter keluar, membuat Hikari yang malam itu hanya mengenakan piyama berwarna soft blue berdiri menanyakan keadaan sahabatnya.

"Sepertinya Nyonya Mikoto harus segera di operasi karena bayinya berada dalam keadaan sungsang, dan mustahil untuk melahirkan secara normal." ujar Dokter.

"Be-benarkah?" Hikari gugup dan mulai tidak tenang. Setelah menimbang ia pun menyetujui perkataan dokter.
"Lakukan yang terbaik untuk sahabat saya dan calon keponakan saya," Jawab Hikari dengan mantap.

Operasi berlangsung kira-kira sejak satu jam yang lalu. Hikari tidak bisa duduk, berjalan mondar mandir dengan tangan terkepal di depan dadanya. Ia berdoa untuk keselamatan sahabat serta calon bayi yang dikandung. Beberapa kali pelayannya menyarankan untuk duduk tenang. Bagaimana dia bisa tenang kalau teman baik sejak ia berusia dua belas tahun dalam keadaan antara hidup dan mati.

Suara tangisan bayi terdengar, membuat Hikari yang semula menunduk menegakkan kepalanya berhenti mondar-mandir dan berhambur menuju pintu. Salah seorang dokter keluar dan langsung diserang oleh seberondong pertanyaan oleh Hikari.

"B-bagaimana dokter? Apa mereka baik-baik saja? Bayi, bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Hikari tak sabar. Dokter tidak segera menjawab. Membuat Hikari semakin penasaran. Dokter menepuk pundak kiri Hikari. Si pemilik pundak hanya menatap ke arah pundaknya yang ditepuk oleh sang dokter. Ia bukan orang tidak peka, ia tahu maksud dokter.

Air mata Hikari berlinang untuk pertama kali sejak ibunya meninggal. Ia segera menerobos masuk ke dalam ruang operasi. Bau alkohol dan anyir darah menjadi satu masuk ke organ pernafasannya. Dia bisa saja pingsan jika sadar yang dia masuki adalah ruang operasi.

Di hadapannya kini terbujur seorang wanita dengan peluh yang membasahi setiap inci tubuhnya memeluk bayi yang tengkurap di dadanya. Wanita itu memejamkan mata dengan air mata meleleh di sudut matanya.

"Mikoto..." Panggil Hikari dengan tatapan nanar. Suaranya bergetar menahan isak.

"Jangan menampakan wajah seolah-olah aku sudah mati," canda Mikoto kemudian menampakan senyumnya. Hikari tersenyum namun tetap dengan wajah sendu.

"Aku senang bisa mengenalmu, kau adalah gadis yang baik, Hikari. Maaf sebelum aku membalas kebaikanmu aku malah akan pergi." Ujar Mikoto dengan segenap kekuatan yang tersisa dari dirinya. Hikari mengangguk menahan tangisnya agar tidak pecah.

"Tapi sebagai gantinya, kuberikan anak ini padamu. Kau bisa menjodohkannya dengan putrimu jika kau memiliki anak nanti. Dia akan memberimu dan keluargamu berjuta kebahagiaan, aku yakin." Mikoto membelai putranya yang tertidur di dadanya.

"Jadi... Dengan nama apa aku harus memanggilnya?" tanya Hikari ditengah isaknya.

"Sasuke..."

Flash back OFF

Hikari memutuskan untuk segera pulang, ia harus berada di rumah sebelum putrinya datang atau Hinata akan sangat kebingungan saat ibunya tidak ada di rumah. Saat berdiri Hikari tidak sengaja melihat sesuatu, seperti bunga. Ia pin mendekati sebuket bunga lili sebanyak Sembilan tangkai.

Air mata Hikari menetes memeluk buket bunga itu, ia tidak akan lupa. Bunga ini pasti dari Sasuke dan ia yakin Sasuke baru saja dari sini. Ia sangat terharu, ia merasa bangga pada putra angkatnya itu. Putranya masih rutin mengunjungi makam ibu kandungnya. Ia juga menangis karena menahan rindu yang besar kepada putra kesayangannya itu.

"Sasuke… Kenapa tidak datang pada Kaachan juga?" isaknya sambil memeluk bunga itu dengan kuat seakan-akan mewakili kalau bunga itu adalah Sasuke kecilnya.

=][=

Sasuke melangkahkan kakinya di atas terotoar tepi jalan. Ia ngin segera pulang ke penginapan yang telah Naruto siapkan untuknya, walaupun terkadang menyebalkan ia juga mengakui kalau terkadang Naruto sangat bisa di andalkan.

Karena tergesa-gesa secara tidak sengaja Sasuke menginjak tali sepatunya sendiri. Sasuke mau tidak mau harus mengikat tali sepatunya walau dia sendiri tahu kalau ia sangat tidak menyukai hal ini. Dari sekian banyak sepatu kenapa ia malah membawa sepatu bertali? Dia menyesal memilih sepatu seperti ini. Masih di tepi jalan, Sasuke memutar otaknya supaya bisa mengakali permasalahannya ini. Tidak mungkin Sasuke meminta tolong pada orang yang berlalulalang di sekitarnya. Mereka pasti berfikir negative tentang Sasuke.

"Tuan Muda-ku, butuh bantuan?" sebuah suara menginterupsi kegiatannya dengan menyentuh punggung tangan Sasuke. Tangan Sasuke mendadak menjadi kelu saat mendengar suara yang sangat lembut juga sedikit serak.

"Harus berapa kali Kaachan harus mengajarimu menalikan tali sepatu, hn?" Kali ini suara itu tak mampu menahan isaknya. Mendengar suara itu membuat air mata Sasuke mau tidak mau meleleh. Sasuke tahu dengan baik siapa pemilik suara itu.

Dengan lembut dan perlahan, wanita itu mengangkat dagu Sasuke agar ia bisa melihat dengan jelas bahwa pemuda di depannya kali ini benar-benar Sasuke-nya. Ia bisa melihat mata onyx Sasuke yang berkaca-kaca dan jejak air mata yang mengaliri pipi putihnya.

"O-kaachan," sapa Sasuke sambil tersenyum disela-sela linangan airmatanya.

To Be Continued

A/N :

Sekali lagi saya telat update nih Fanfic….

Ah… tolong maafkan saya, saya harap kedatangan chapter ini bisa sedikit mengungkapkan misteri tentang Sasuke kita.

Jawab Review :

sasuhina-caem: =D bagaimana? Apakah disini sedikit member pencerahan pada anda tentang siapa sasuke sebenarnya?

The Reader: =O hahaha itu karena…. Yah Sasuke masih menganggap hinata sbg sodaranya.

nona fergie: XD mungkin, mungkin nilai PKN sasuke jongkok kaliii #dihajarsasuke

Suzu AizawaDX maaf maaf sekarang update loo! Tuh akhirnya ketemu juga kan?

Mamizu Me, Mamoka, Sugar Princess71 : XD UPDATE NIHHHHH! Ahahahaha makasiiiii

Ryu Matsuda : wah semua pertanyaan mu udah saya jawab disini ^^

Kertas Biru, Kyou Ichikawa : XD iya hari ini update…

Terima kasih atas reviewnya dan juga terima kasih untuk sempat mampir di sini. Jangan lupa tinggalkan jejak!

ARIGATOU