Baekhyun menggendong bayi mungilnya yang sudah berumur dua bulan ditengah-tengah sebuah pesta pernikahan. Sesekali ia tersenyum saat orang-orang yang melewatinya menatap gemas kearah anaknya. Baekhyun benar-benar merawat Jesper dengan baik, walaupun anaknya lahir dengan premature, untuk bayi yang berumur dua bulan Jesper termasuk bayi yang memiliki berat badan yang ideal. Tidak terlalu kecil ataupun besar.

"Dia lucu sekali…"

Dia menoleh saat menrasakan kehadiran seseorang disampingnya, kemudian dia tersenyum kepada seorang gadis yang berada disampingnya.

"Terima kasih," Baekhyun membalas ucapan sang gadis yang sudah mencubit gemas pipi Jesper. Ada rasa bangga didalam diri Baekhyun. Bagaimana tidak, bayi mungilnya ini selalu menyita perhatian orang lain dan mereka menyukai bayi mungilnya ini.

"Siapa namanya?"

"Jesper."

Gadis itu menganggukkan kepalanya tanda paham. Setelah itu keduanya hanyut dalam kecanggungan. Baekhyun kembali memperhatikan kedua insan yang sedang menjadi raja-ratu hari ini. Demi Tuhan, dia sangat senang melihat wajah berseri-seri yang dikeluarkan Luhan.

"Ah…" Baekhyun kembali menoleh saat gadis disampingnya kembali bersuara. "Perkenalkan, aku Yeri."

Baekhyun tersenyum kemudian menjabat uluran tangan gadis itu. "Aku Baekhyun."

Yeri mengangguk lucu. "Dimana suamimu?"

Baekhyun melenyapkan senyumannya kemudian terdiam. Dia kembali menatap Jesper dan mengelus kepala bayi itu. "Dia… tidak ada."

Yeri menutup mulutnya tanda ia terkejut. Gadis itu memegang lengan Baekhyun kemudian menatapnya penuh rasa bersalah. "Ah… maafkan aku."

"Tidak apa-apa…" Baekhyun kembali memperlihatkan eye-smilenya, membuat Yeri mau tidak mau merasa sedikit tenang.

"Ah… apa kau teman Luhan-eonni atau Sehun-oppa?"

"Luhan…"

Yeri mengangguk lucu, membuat Baekhyun gemas dengan tingkah gadis itu.

"Aku adik Sehun-oppa. Senang berkenalan denganmu~"

.

Kang Seulla Present

COMEBACK (LIE)

BYUN BAEKHYUN (GS)

PARK CHANYEOL

OH SEHUN

XI LUHAN (GS)

Summary

Baekhyun tau kalau hidupnya benar-benar penuh dengan kebohongan. Mengajarkan anaknya untuk berbohong. Walaupun begitu, dia tetap bahagia diatas kebohongan ini. Tapi semua berubah saat seseorang berucap "Aku kembali."

.

Cerita ini murni hasil pemikiran Seulla. Jika ada kesamaan itu tidak disengaja

.

Tulisan yang dicetak miring adalah flashback

.

Happy Reading~

.

.

.

oOo

.

Baekhyun mengaduk kopi yang telah ia seduh didalam cangkir, kemudian membawanya keruang makan dimana dua orang lelaki yang berbeda umur tengah menunggunya. Bibirnya membentuk sebuah senyuman hangat saat melihat interaksi yang diperlihatkan kedua lelaki yang sedang memakan sarapan mereka.

"Ini kopinya."

Chanyeol menoleh kemudian tersenyum kearah Baekhyun yang baru saja meletakkan secangkir kopi untuknya. Ia memang memutuskan untuk menginap dirumah Baekhyun semalam. Bahkan Jesper juga yang menyuruhnya untuk menginap.

"Terima kasih, Baek."

Baekhyun mengangguk kemudian duduk disamping Jesper yang sedang meminum susu miliknya. Tangannya merapihkan seragam yang dikenakan Jesper, membuat anaknya itu menoleh kearahnya.

"Eomma, tadi Jesper bercerita kalau Jesper akan berperan menjadi domba nanti diacara perpisahan pada appa."

Baekhyun mengangguk kecil. Dia mengambil satu lembar roti kemudian mengolesinya dengan selai strawberry kesukaannya. "Lalu?"

"Appa akan datang!" kedua tangan Jesper terangkat keatas, wajahnya berbinar senang.

Baekhyun menoleh kearah Chanyeol, meminta penjelasan dari lelaki tersebut. Chanyeol yang mengerti membalas tatapan Baekhyun kemudian mengangguk dan tersenyum. "Aku dapat mengatur semuanya."

Baekhyun memilih diam dan merapihkan tatanan rambut Jesper. Dengan telaten, ia memakaikan topi khas taman kanak-kanak dikelas Jesper. Kemudian memberikan sentuhan terakhir, yaitu kecupan sayang dipucuk kepala Chanyeol.

"Jesper belajar yang rajin ya, supaya dapat membahagiakan eomma."

Kepala bertopi kuning Jesper mengangguk lucu. Dia mendongakkan kepalanya untuk menatap sang ibu. Sedangkan, Baekhyun terkekeh melihat bibir tipis anaknya yang belepotan susunya. Ia mengambil tissue yang berada diatas meja kemudian membersihkan pinggiran bibir Jesper.

Chanyeol yang melihat pemandangan didepannya tersenyum haru. Seandainya dia dapat melihat kejadian ini setiap harinya. Menunggu secangkir kopi dari Baekhyun, sarapan dengan Jesper kemudian mendengar suara mereka dipagi hari. Ia yakin, umurnya pun akan panjang karena kebahagiaan ini.

Tapi…

Mungkin ini adalah yang terakhir untuknya.

Setidaknya dia bahagia, didalam hidupnya yang hanya sementara ini ia masih dapat merasakan kebahagiaan ini. Walaupun hanya dapat satu kali.

"Ayo kita pergi kesekolah, sayang," Baekhyun mengambil tas ransel milik Jesper, tapi tangan mungil anaknya itu sudah merebutnya. "Kenapa, Jesper?"

"Jesper akan diantar oleh appa~"

Baekhyun menoleh kearah Chanyeol yang mengangguk dan tersenyum kepadanya. Baekhyun menghela nafasnya kemudian tersenyum menatap anaknya. "Baiklah, hati-hati."

Jesper melonjak senang kemudian turun dari kursinya. Dia berlalri dengan tangan yang menenteng tasnya kearah garasi, tempat mobil Chanyeol berada. "Ayo appa!"

Chanyeol terkekeh pelan kemudian membersihkan tangannya dengan tissue yang berada diatas meja makan. Dia berjalan menuju pintu depan dengan Baekhyun yang mengikutinya dari belakang.

"Chan…" tangan mungil Baekhyun menjulur kearah Chanyeol, memberikan tas kerja milik lelaki itu. Kemudian diterima dengan senyuman teduh dari sang lelaki.

"Aku pergi dulu Baek."

Baekhyun mengangguk dan memperhatikan punggung Chanyeol yang semakin menjauh darinya. Tapi saat pemilik itu berbalik dan mendekatinya, Baekhyun hanya dapat diam. Apalagi saat tangan si lelaki melingkar dipinggangnya kemudian mencium keningnya lembut.

"Kau tau… aku selalu memimpikan hari ini."

Baekhyun menatap kedalam mata Chanyeol. Wajahnya bersemu merah saat menyadari betapa memujanya tatapan Chanyeol. Dengan dada yang berdebar, Baekhyun mendekatkan wajahnya kemudian menyesap pelan bibir Chanyeol.

Chanyeol yang awalnya terkejut, mulai membalas ciuman yang diawali oleh Baekhyun. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Baekhyun. Telapak tangannya mengelus lembut punggung Baekhyun, sedangkan bibirnya masih asik mengysap bibir tipis Baekhyun yang membengkak.

TIN TIN

Pagutan keduanya terlepas saat mendengar suara klakson dari arah garasi.

"Appa! Cepat, nanti Jesper terlambat."

Baekhyun terkekeh mendengar teriakan dari bocah kecil yang sudah menunggu didalam mobil. Dia menjauhkan tubuhnya dari Chanyeol kemudian menepuk pelan dada si lelaki. "Pergilah, sebelum Jesper terlambat nanti."

Chanyeol mengangguk kemudian melepaskan pelukkannya dipinggang Baekhyun kemudian mencium pipi wanita itu dengan gemas. "Nanti siang aku akan kemari untuk menjemput Jesper nanti. Sehun pulang besok bukan?"

"Ya… aku menunggu."

Chanyeol tersenyum kemudian mulai berjalan menjauh dari Baekhyun setelah sebelumnya ia mengucapkan "Aku pergi," untuk wanita yang sedang tersenyum manis mengantarkannya. Sungguh. Pagi ini adalah pagi terbaiknya. Dan dia berharap semoga pagi yang seperti ini akan terulang kembali dihidupnya.

.

.

.

Sepeninggal Chanyeol dan Jesper, Baekhyun mulai membersihkan rumahnya. Dimulai dari ruang makan bekas mereka sarapan kemudian dapur. Tapi semua kegiatannya terhenti saat dirinya mendengar suara bel rumahnya. Dengan langkah ringan, Baekhyun berjalan menuju pintu depan.

"Apa itu… Chanyeol? Untuk aa dia kembali lagi?" gumamnya pelan. Dengan menerka-nerka siapa gerangan yang datang, Baekhyun merapikan penampilannya. Melepaskan ikatan rambutnya, membuat rambut sebahunya tergerai indah. Bibirnya tersenyum tipis saat otaknya berpikir bahwa orang dibalik pintu adalah lelaki yang baru saja meninggalkan rumah ini.

CKLEK

Tapi senyumnya luntur saat mata sipitnya menemukan sosok lelaki lain yang bukan dalam fantasinya. Melainkan sosok lelaki yang selama ini berperan menjadi suaminya. Yang sedang menenteng koper dengan wajah gembiranya dan juga sebuket bunga yang berada ditangannya.

"Kejutan!"

"Se…Sehun?"

Lelaki itu mengangguk riang dan tersenyum, mau tidak mau Baekhyun membalas senyuman itu. Dengan canggung, Baekhyun mengangkat tangannya untuk mengambil bucket bunga dari lelaki tersebut.

"Apa kau terkejut?"

Baekhyun mengangguk kaku. Bibirnya terbuka hendak mengucapkan sesuatu, tetapi kembali tertutup saat dia merasa ucapannya tersendat ditenggorokkan. Sedangkan manik matanya terus memperhatikan lelaki yang sedang tersenyum lebar dihadapannya.

"Kenapa kau… disini?" Baekhyun merutuki mulutnya yang sudah bertanya seperti itu, karena senyuman dibibir Sehun langsung hilang. Bodoh.

"Kau tidak senang aku pulang?"

"Bukan begitu…" ia melangkah mendekati Sehun kemudian memeluk lengan lelaki itu. "Memangnya pekerjaanmu sudah selesai?"

Sehun mengangguk. Dia melangkah memasuki rumahnya lebih dalam, diikuti Baekhyun yang masih memeluk lengannya. "Tentu. Aku mengerjakan itu semua dalam satu hari, karena aku sangat merindukan istriku ini."

Baekhyun memukul lengan Sehun pelan dan tersenyum malu. Sedangkan sang lelaki tengah tertawa dengan tangan yang memeluk tubuh sang istri. Ia menghentikan tawanya hanya untuk sekedar memperhatikan wajah cantik istrinya. Tangannya terangkat untuk membelai lembut pipi sang istri kemudian mengecup ujung hidung mancung perempuan itu.

"Lu…" perempuan didekapannya itu bergumam kemudian menatapnya. "Badanku sangat lengket. Mandikan aku ya?"

NYUT

Kulit pinggang Sehun dapat dipastikan memerah karena cubitan Baekhyun. Ia mengaduh tapi semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan karena gemas, Sehun mencium pipi sang istri berulang-kali.

"Ayolah~"

Mendengar nada memohon dari Sehun, membuat kepala Baekhyun mengangguk dengan sendirinya. Setelah itu, Baekhyun hanya dapat pasrah saat tubuhnya diangkat kedalam gendongan Sehun yang menuju kamar mandi dalam kamar mereka. Walaupun sejujurnya dalam hatinya ada perasaan yang mengganjal.

.

.

.

Saat ini, Baekhyun dan Sehun berada didepan sekolah Jesper, selesai kegiatan mari-memandikan-Sehun tadi dan membuat makanan untuk Sehun mereka bergegas untuk menjemput bocah kecil itu. Mata sipit Baekhyun terus menghindar untuk menatap mobil berwarna hitam yang tidak jauh terparkir didekat mobil Sehun. Mobil yang dimiliki seorang lelaki tinggi.

Baekhyun yakin, saat ini Chanyeol pasti sangat kecewa. Pasalnya, pagi tadi dia berjanji kalau siang ini mereka anak menjemput Jesper, tapi ternyata Sehun pulang lebih awal.

"Sayang?" suara Sehun menyadarkan Baekhyun dari lamunannya. Dia menoleh dan mendapati wajah Sehun yang menatapnya cemas. Dengan terpaksa, ia tersenyum kearah Sehun dan mengangkat tangannya untuk mengelus pipi lelaki itu. "Kau melamun?"

Baekhyun menggeleng dengan senyumannya. "Tidak," dia mengalihkan pandangannya saat mendengar banyak derap kaki yang menuju gerbang sekolah. Ternyata kelas sudah bubar. Manik matanya mencari-cari keberadaan anaknya.

"Eomma!" suara khas bocah yang sangat dikenalnya memanggil dirinya. Mau tidak mau dia tersenyum kemudian menatap kearah seorang anak kecil yang sedang berlari dengan tas ransel berwarna birunya. Sesampainya didepan Baekhyun, sang anak memeluk kaki ibunya.

"Eoh?" matanya menatap kearah lelaki yang berdiri disamping sang ibu. "APPA!" Jesper melepaskan pelukannya pada Baekhyun kemudian beralih memeluk sang ayah. Dia tertawa senang saat tubuh mungilnya diangkat kedalam gendongan sang ayah. "Appa sudah pulang!" tangannya memeluk erat leher Sehun kemudian menggerak-gerakkan kakinya senang.

"Jesper senang?"

"Sangat senang! Ayo kita jalan-jalan appa!"

Sehun mengangguk kemudian berjalan kekuris belakang mobilnya. Mengerti maksud sang ayah, Jesper duduk dikursi belakang tanpa disuruh oleh ayahnya. Senyum senang tidak pernah lepas dari wajah imutnya, yang menunjukkan gigi susu rapi miliknya.

"Ayo sayang," Sehun meremas pelan pinggang Baekhyun saat dia menyadari sang istri hanya terdiam dari tadi.

Baekhyun memegang tangan Sehun yang melingkar dipinggangnya. "Apa kau serius ingin mengajak Jesper jalan-jalan?" dia menghela nafasnya saat Sehun mengangguk senang. "Kau tidak lelah?"

Sehun terkekeh. Dia mencium gemas pipi Baekhyun yang kemudian mendapat tatapan tajam dari sang istri. "Lelah. Tapi energiku sudah terisi tadi."

Wajah Baekhyun memerah saat mengerti apa yang dimaksud dari ucapan Sehun. Akhirnya dia memilih mengikuti ucapan sang suami dan masuk kedalam mobil. Setelah sebelumnya menatap kearah mobil yang dimana sang pemilik sedang bersandar disampingnya. Menatap kearahnya dengan pandangan yang menyakitkan.

.

.

oOo

.

.

Baekhyun menghentikan kegiatannya yang sedang menyusui Jesper saat ia mendengar suara bel berbunyi. Setelah meletakkan bayinya diranjang dengan pelan, dia berjalan menuju pintu depan untuk menemui sang tamu. Matanya melotot saat pupilnya dapat melihat dua orang wanita yang bertamu diapartement milik Luhan –yang saat ini berubah menjadi miliknya.

"Seulgi!" pekiknya girang. Dia memeluk tubuh perempuan bermata kucing dengan rambut yang diikat tinggi itu dengan erat. Sedangkan perempuan yang dipeluknya juga tidak kalah erat membalas pelukkannya. Bahkan tubuh keduanya berputar saking girangnya.

"Baekhyun! Aku merindukanmu!"

"Aku lebih merindukanmu!"

Pelukkan keduanya terlepas saat keduanya mendengar deheman dari perempuan dengan perut buncit yang berada disamping mereka. "Apa aku boleh masuk?"

Baekhyun terkekeh kemudian mundur beberaa langkah, memberikan jarak agar perempuan hamil itu dapat masuk kedalam. "Silahkan tuan putri."

Luhan –perempuan hamil, itu terkekeh kemudian dia berjalan memasuki apartment miliknya yang saat ini ditempati oleh Baekhyun. Matanya menatap setiap sudut ruangan apartement tersebut kemudian tersenyum puas saat melihat apartement itu terawatt dengan baik. "Tidak salah aku menyuruhmu untuk tinggal disini Baek. Kau merawatnya dengan baik."

Baekhyun tersenyum bangga. Setelah menyuruh kedua temannya untuk duduk diruang tengah, ia berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman juga beberapa cemilan. Tidak lama setelah itu, ia kembali keruang tengah dengan sebuah nampan yang akhirnya ia hidangkan didepan kedua temannya itu.

Seulgi yang menyadari ada beberapa kue kering yang dibawa Baekhyun, dia langsung menatapnya penuh binary kemudian mengambilnya cepat untuk segera memakannya. "Mana Jesper?" Seulgi menatap sekilas kearah Baekhyun kemudian kembali memakan cemilannya.

"Dia baru saja tidur setelah aku menyusuinya."

Perempuan bermata kucing itu mengangguk paham. Dia mengambil remot kemudian menyalakan televise yang berada didepan mereka.

Baekhyun membiarkan temannya itu asik dengan acara menotonnya. Dia mengalihkan pandangannya kearah Luhan yang tiba-tiba saja terdiam.

"Lu?" temannya itu hanya menoleh dan bergumam. "Kandunganmu sudah memasuki bulan kesembilan bukan?"

Wajah Luhan tiba-tiba berbinar. Ia mengelus sayang perut buncitnya kemudian menatapnya penuh kasih sayang. "Yap! Dan kata dokter kira-kira lima hari lagi aku akan melahirkan! Kau tau Baek? Aku sangat tidak sabar melihat malaikatku nanti!"

Baekhyun tersenyum hangat. Dia juga sudah tidak sabar melihat bagaimana lucunya anak dari temannya ini.

"Memangnya, kau dan Sehun akan memberikan nama apa untuk bayi kalian?" Seulgi mulai ikut dalam pembicaraan kedua temannya ini.

Luhan menatap kearah televise yang sedang menyala. Dia tersenyum kecil dengan tangan yang masih mengelus perutnya. Tanpa diketahui oleh kedua perempuan yang berada disana kalau ia menangis dalam hati.

"Ziyu. Itu nama pemberian Sehun."

.

.

oOo

.

.

Hal yang paling menyenangkan bagi seorang anak pasti adalah berkumpul dengan keluarganya. Tapi bagi seorang bocah kecil bernama Ziyu, yang terpenting adalah melihat senyuman mamanya. Dia tidak pernah bertemu dengan babanya, mengenalnya saja tidak. Dia hanya menuruti semua ucapan sang ibu yang menyuruhnya agar tidak pernah mencari ayahnya, karena tanpa seorang ayah ibunya dapat membuat dirinya bahagia. Maka dari itu, dia selalu bangga kepada sang ibu. Karena ibunya sudah dapat berperan menjadi ayah dan ibu dalam kehidupannya.

Tapi walau bagaimanapun, seorang anak kecil berumur lima tahun sepertinya pasti akan cemburu saat melihat teman-teman ditaman kanak-kanak yang berangkat diantar oleh sang ayah. Yang akan difoto oleh sang ayah saat mereka tampil diacara sekolah. Yang akan dipeluk dan digendong oleh sang ayah saat mereka terjatuh. Tapi sekali lagi, dia akan menuruti ucapan ibunya.

"Hiks…"

"Jangan menangis, sayang. Ayo kita kepusat informasi."

Kepalanya menggeleng saat seorang lelaki dewasa yang berjongkok didepannya dengan wajah cemasnya. Lelaki ini adalah orang asing. Dan ibunya berkata, kalau dia tidak boleh dekat-dekat dengan orang asing. Hanya saja, genggaman lelaki dewasa ini sangat membuatnya nyaman.

Dia tersesat saat sekolahnya sedang ada tour ke sebuah kebun binatang. Dia ceroboh karena terlalu asik dengan atraksi seekor monyet yang membuatnya terpisah dari rombongannya. Dan disaat tidak ada orang yang mempedulikannya, seorang lelaki dewasa dan keluarganya mendekatinya dan menajaknya kepusat informasi.

"Jangan takut," Ziyu mendongak saat mendengar suara bocah yang berada didepannya. "Appa Jesper itu baik kok!"

Mata bening miliknya menatap kearah kedua lelaki berbeda usia didepannya. Setelah itu dia tersenyum kemudian berdiri dan mengangguk. Dia hanya diam saat airmata yang berada dipipinya dihapus oleh bocah yang seumuran dengannya ini.

"Appa, tubuhnya kecil sekali dia cocok menjadi adik Jesper!"

Lelaki dewasa itu tertawa saat mendengar ucapan lugu yang keluar dari bibir bocah itu. Mata bening milik Ziyu hanya menatap uluran tangan dari sang lelaki dewasa. Dia diam. Bukannya dia manja atau apa, dia tidak ingin digandeng dia ingin digendong.

"Ada apa, hm?" suara lembut seorang perempuan menyapa gendang telinganya. Mungkin ini istri dari lelaki yang menegurnya ini. Mata beningnya menatap kearah keluarga kecil yang berada didepannya. Dia meremas tangannya sendiri saat menyadari betapa beruntungnya anak kecil yang berada didepannya ini.

Kepalanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan wanita didepannya.

"Kau ingin digendong?" kepalanya menoleh cepat kearah lelaki dewasa tersebut. Dia ingin mengangguk, hanya saja… dia malu.

"Eh?!"

Dia memekik pelan saat merasakan tubuhnya terangkat saat lelaki itu menggendong tubuh kecilnya. Dia memeluk leher lelaki itu.

"Appa! Jesper juga mau digendong!"

Mata bening milik Ziyu dapat melihat bocah yang seumuran dengannya menjulurkan tangannya kearah ayahnya. Dia juga dapat melihat sang ibu yang tertawa melihat tingkah anak tidak mau, ujung bibirnya melengkung membuat senyuman tipis.

Tubuhnya kembali turun saat lelaki yang menggendongnya itu kembali berjongkok untuk membawa anak lelaki lain untuk digendongnya. Jadi kini kedua bocah itu berada dalam gendongan sang lelaki.

Ziyu tersenyum saat melihat anak lelaki itu bersorak senang. Tubuhnya terdorong kebelakang saat lelaki itu mulai melangkah, diikuti oleh sang istri yang juga berjalan disampingnya.

"Hei, nama kamu siapa? Aku Jesper!"

Ziyu mengalihkan pandangannya saat anak lelaki yang berada satu gendongan dengannya bertanya. "Namaku Ziyu."

"Ziyu?" dia mengangguk saat lelaki yang menggendongnya bertanya padanya. "Itu nama pemberian dari mama Ziyu."

Lelaki itu mengangguk. Ditengah perjalanan menuju pusat informasi, mereka habiskan dengan ocehan Jesper yang juga akan dibalas oleh Ziyu. Hingga tidak terasa, langkah lelaki yang menggendongnya sudah sampai didepan pos pusat infomasi. Yang membuat Ziyu tidak rela harus terlepas dari gendongan nyama lelaki itu.

"Appa, Jesper ingin pipis."

Jepser melipat kakinya dan meletakkan tangannya didepan selangkangannya. Ziyu menatap cemburu kearah Jesper yang kembali digendong oleh lelaki itu.

"Lu?" suara lelaki itu memanggil sang istri yang sedari tadi terdiam, hanyut dalam lamunannya. "Luhan sayang?"

Luhan?

Perempuan itu tersentak kemudian menoleh kearah sang lelaki. "Ada apa Sehun?"

"Kau tolong urus Ziyu dulu, aku akan membawa Jesper ketoilet."

Perempuan itu mengangguk kemudian setelah itu sang lelaki meninggalkan mereka berdua.

"Ayo, Ziyu…"

Ia menatap sang perempuan yang menggandeng tangannya. Dia ingin bertanya, hanya saja dia takut entah karena apa.

"Tante?" Perempuan itu bergumam kemudian menoleh dengan senyuman diwajahnya. "Nama tante Luhan?" Tanpa disadari oleh Ziyu, tubuh perempuan itu menegang. Perempuan itu mengangguk kaku. "Nama tante mirip dengan nama mama Ziyu!"

Baekhyun –perempuan itu menatap nanar kearah Ziyu yang sedang tersenyum riang disampingnya.

Ya Tuhan…

.

.

oOo

.

.

Baekhyun menatap takjub kearah seorang bayi yang sedang tertidur disebuah rak khusus bayi. Mata sipitnya menatap bayi tersebut penuh pujaan. Bayi ini sangat sempurna. Kulitnya mulus, hidungnya kecil mancung, bola matanya jernih, bibirnya tipis berwarna merah. Dia akui kalau bayi Luhan lebih tampan dari Jesper, hanya saja tetap Jesper yang lebih imut baginya.

Dia menoleh saat merasakan kehadiran seseorang disampingnya. Dia tersenyum kearah Sehun yang juga tersenyum kearahnya.

"Jadi, namanya Ziyu?"

Sehun mengangguk cepat. Tangannya terangkat untuk mengelus pipi bayi tersebut. "Bukankah namanya sangat cantik?"

"Hey, anakmu laki-laki."

Sehun terkekeh. "Maksudku, secantik ibunya."

Saat ini Baekhyun yang terkekeh. "Apa kau sangat mencintai Luhan?"

Sehun terdiam dengan matanya yang masih menatap kearah bayi yang sedang tertidur pulas tanpa beban. Senyuman dibibirnya tidak pernah luntur. Membuat wajah tampannya semakin terlihat tampan.

"Kau tau, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta sebesar aku mencintai Luhan. Dia… entahlah bagiku dia berbeda. Dia mampu membuatku nyaman walaupun dia sangat cerewet," keduanya tertawa lepas. "Mungkin aku akan gila jika dia pergi dariku."

"Kalau begitu, kau harus menjaga perasaannya. Jangan membuatnya sakit hati dan meninggalkanmu."

"Aku telah bertekad dalam hidupku, kalau aku tidak akan pernah membuat Luhan menangis sedih karenaku. Aku harus dapat membuat dia tidak pernah merasakan kesedihkan. Aku berjanji pada diriku sendiri."

Baekhyun tersenyum lebar. "Hidup Luhan lebih beruntung daripada hidupku."

Sehun menoleh kearah Baekhyun. Tangannya terangkat untuk mengelus pundak perempuan itu. "Hidup semua orang itu sama Baek, tidak ada yang lebih beruntung ataupun yang lebih sial. Tuhan menciptakan setiap manusia dengan tujuan yang sama. Yaitu untuk mencapai kebahagiaan. Kesedihan hanyalah sebuah 'selingan'. Karena tanpa kesedihan itu, hidup manusia akan hampa. Suatu saat kau pasti akan mencapai kebahagian itu, Baek."

Baekhyun hanya bisa terdiam dengan pandangan yang lurus kearah Sehun.

Demi Tuhan… bolehkan dia memiliki Sehun walaupun hanya satu hari?

.

.

.

Bersambung

.

.

.

Hallo~ ketemu lagi sama Seulla. Gimana? Makin penasaran atau makin aneh? Suer chapter ini bener-bener gaje. Maaf buat typo, ini ngetik Cuma sehari. Gada sehari kali, ngetik dari siang, sekarang update :v

Itu si Sehun udah ketemu Ziyu hayoloh. Ntar baper :v si Baek juga apaan sih labil. Sama Chanyeol mau, sama Sehun demen .g labil banget deh. Ewh jijix(?)

Gabisa ngomong banyak-banyak. Buat yang masih bingung samam cerita ini apalagi di flashbacknya, dibaca ya diatas kalo huruf cetak miring itu berarti Flashback dan kalo jeli, aku selalu kasih pembatas oOo kalo mau masuk flashback.

Oke gini aja ya~ abis ini aku mau uts jadi kemungkinan gak bakal update dulu u,u kangenin aku dong .g wkwkwk aku mau ucapin terima kasih buat yang masih setia sama cerita ini. Karena yang aku liat sider makin banyak dan yang kasih feedback Cuma 2% dari yang baca. Aku gak makasa buat kalian review Cuma yaa… terserah sih ya wkwk.

Oke! See you tiga minggu lagi~ luv yu muah :*