The Love I've Never Wanted
by sava kaladze
Disclaimer: Masashi Kishimoto, who else…
Summary:
Haruno Sakura sudah mencintai Uchiha Sasuke sejak pertama kali ia melihatnya...dan seumur hidup ia hanya berniat pemuda itu. Mungkinkah ia jatuh cinta lagi pada pemuda lain?
Chapter 7
Hutan tempat jounin berlatih.
Uzumaki Naruto, ninja kebanggaan Konoha sedang terduduk dengan wajah lesu di depan air terjun tempatnya berlatih dulu dengan Yamato sensei. Air terjun itu hanyalah sebuah air terjun yang kecil, hanya merupakan cabang air terjun belaka dan airnya mengalir menuju sebuah anak sungai yang juga tidak besar. Bukan sebuah pemandangan alam yang sangat indah sebenarnya, akan tetapi tempat itu merupakan salah satu tempat kesukaan Naruto saat hatinya sedang gundah gulana.
Seperti saat ini.
Naruto memandangi air terjun kecil itu pandangan menerawang. Matanya memang mengarah ke arah air terjun itu akan tetapi pandangannya mengarah ke tempat lain. Suatu tempat yang tidak seharusnya ia masuki. Tempat yang tidak sembarang orang boleh masuk, akan tetapi ia masuki juga
Kamar perawatan penjahat kelas S, Uchiha Itachi.
Naruto dengan sengaja sudah memasuki kamar yang hanya orang-orang tertentu saja boleh memasukinya. Ia tidak berniat melanggar peraturan Godaime sebenarnya, hanya saja sudah lebih 3 minggu ia tidak pernah setitik pun melihat keberadaan Sakura. Tidak di kantor hokage, tidak di apartemennya, di Rumah Sakit…tidak di mana-mana. Selayaknya pemuda yang mencintai seorang gadis, tentu saja rasa kangennya sudah mencapai ubun-ubun. Ia ingin sekali melihat Sakura.
Naruto sungguh-sungguh merindukan wajahnya yang cantik. Merindukan suaranya yang galak. Merindukan rambut merah mudanya yang mencolok. Merindukan pukulan dan jitakannya. Merindukan aroma buah cherry yang tercium samar-samar dari tubuhnya.
Naruto meringis. Duh sungguh-sungguh menyiksa perasaan yang namanya merindu ini. Seorang ninja sehebat dia saja, yang bisa bertarung dengan mode saga, yang kekuatannya terkenal seantero negara Api, harus merasa tak berdaya dan tak tahu harus bagaimana karena terserang virus merindu.
Ia tahu Sakura dimana Sakura berada. Hanya saja cuma 3 orang saja yang boleh masuk ke ruangan itu; Sakura, Tsunade shishou dan Shizune san. Mereka saja. Alasannya? Pasti karena Uchiha Itachi itu penjahat berbahaya. Memang benar sekarang ia sedang koma, tapi seandainya ia bangun dan langsung bisa menggunakan sharingan? Sungguh tak bisa dibayangkan apa akibatnya.
Naruto masih ingat bahwa beberapa tahun yang lalu, Kakashi sensei harus dirawat selama seminggu di Rumah Sakit setelah diserang oleh mata sharingan Itachi. Itu Kakashi sensei…bagaimana jika hanya seorang genin atau orang sipil?
Tak bisa dibayangkan efeknya.
Akan tetapi bukan Naruto namanya kalau peduli hal-hal seperti itu. Ia kuat, cepat dan digjaya. Ia tak takut pada siapapun, apalagi hanyalah seorang Uchiha Itachi.
Ia hanya takut satu hal saja.
Virus rindunya bertambah parah dan membuatnya melakukan hal-hal ekstrim pada Sakura.
Ekstrim?
Naruto mendadak menyeringai. Ya…ekstrim. Ia suka kata itu. Perlahan pikirannya membayangkan hal yang ia sebut ekstrim itu. Ia membayangkan menarik kedua tangan Sakura ke atas kepalanya, mengunci kedua tangannya yang mungil lalu dengan hasrat yang sekian lama terpendam mengunci kedua bibir merah gadis itu dengan bibirnya sendiri…lalu…
DUAKKKK!
Naruto tersentak.
Jika hanya kedua tangan Sakura saja yang dikunci, kakinya yang kuat itu pasti langsung menendang perutnya dengan tenaganya yang super dan sudah bisa dipastikan ia akan terpelanting sejauh mungkin, mungkin mengalami patah tulang rusuk dan harus dirawat beberapa hari karena terluka.
Yah, itulah hal yang Naruto definisikan dengan ekstrim.
Segera pemuda itu menepis pikiran tentang hal ekstrim yang akan ia lakukan pada Sakura. Ia harus segera bertemu gadis pujaan jiwanya itu. Harus. Sudah tak bisa ia tawar-tawar lagi.
Pikirannya melayang kembali pada kejadian semalam.
Ia menyelinap ke dalam Rumah Sakit dan langsung berupaya mencari kamar perawatan khusus itu. Setelah mondar-mandir dari satu ujung-ke ujung yang lain dan dari satu lantai ke lantai yang lain, Naruto menemukan kamar perawatan khusus itu.
Letaknya di ujung lorong di sayap timur Rumah Sakit itu dan ternyata masih berada di lantai 1. Yang membuatnya sulit dicari karena tidak ada kamar-kamar lain sebelum kamar itu, mungkin memang didesain untuk menjaga eksklusifitas siapapun pasien yang dirawat di kamar itu. Pintu kamar yang berwarna hijau lembut tertutup. Tidak terdengar apa-apa dari kamar tersebut.
Naruto menempelkan telinga kanannya ke pintu dan sayup-sayup ia mendengar suara perempuan yang sepertinya sedang membaca. Lebih tepatnya membacakan cerita.
Suara Sakura.
Naruto tidak serta-merta masuk dan member kejutan pada Sakura. Ia ingin tahu lebih lanjut apa yang sedang Sakura lakukan di dalam. Lebih tepatnya, untuk siapa yang Sakura membacakan cerita rakyat Momotaro itu.
Dengan konsentrasi tinggi Naruto mendengarkan semua perkataan Sakura.
'Itachi san..apa yang kurang dari usahaku membangunkanmu'
'Aku sudah lakukan segalanya yang aku tahu, Itachi san. Segalanya. Tsunade shishou mempercayakanmu padaku, itu artinya ia yakin aku mampu. Tapi…kenapa sampai saat ini kau belum juga bangun?'
'Itachi san…kalau kau bangun, aku berjanji akan membawaku ke tempat paling indah di Konoha. Indah sekali, Itachi san. Aku yakin kau belum pernah pergi ke sana…dan kau pasti setuju denganku saat melihat tempat itu.'
Naruto tetap mendengarkan dengan seksama perkataan Sakura yang ternyata ditujukan pada pasiennya yang penjahat itu.
'Itachi san…kalau kau bangun, aku berjanji akan membawaku ke tempat paling indah di Konoha. Indah sekali, Itachi san. Aku yakin kau belum pernah pergi ke sana…dan kau pasti setuju denganku saat melihat tempat itu.'
Naruto mengernyitkan dahinya—bingung. Ia merasa heran dengan cara Sakura berbicara pada Uchiha Itachi yang sedang koma itu. Ia merasa sahabatnya itu terdengar…melankolis.
'Kalau kau bangun, aku tidak hanya akan mengajakmu ke tempat rahasiaku itu saja. Aku akan masakkan apapun masakan yang ingin kau rasakan. Katakan saja dan aku akan langsung membuatkannya khusus untukmu…pasti itu.'
What? Membuatkan penjahat itu makanan! Naruto berteriak protes dalam hatinya. Sakura jarang membuatkannya sesuatu yang ingin sekali ia makan. Yah pernah sih gadis itu membuatkannya pil-pil penguat tenaga saat ia sedang berlatih menggunakan chakra anginnya dengan Yamato sensei. Akan tetapi rasa pil-pil itu…jauh dari kata enak!
Naruto memutuskan untuk mendengarkan lagi.
'Dan jika kau minta lebih dari itu…lebih dari tempat terindah di Konoha dan masakanku, apapun saja milikku…aku akan berikan padamu.'
Deg!
Jantung Naruto serasa dihunjam belati tajam. Sakura benar-benar mengatakan hal itu? Apa gadis pujaan jiwanya benar-benar mengatakan hal seperti itu pada penjahat paling kejam di Konoha itu? Bagaimana mungkin Sakura—kunoichi paling handal dan cantik dari Konoha—mengatakan hal seromantis itu pada penjahat sekejam Uchiha Itachi?
Sakura tidak mungkin mengatakan hal itu kan? Sakura-nya tahu bagaimana memperlakukan penjahat. Mengatakan hal yang melankolis dan romantic jelas bukan hal yang akan Sakura lakukan seenak perutnya!
Naruto merasa dadanya panas. Sudah cukup ia mendengar. Ia ingin melihat. Ia harus memuaskan rasa ingin tahunya tidak hanya dengan mendengar, tapi juga dengan melihat. Ia lalu membuka pintu dengan perlahan.
Matanya terbelalak.
Sakura mencium tangan Itachi dengan…lembut.
Wajah gadis pujaan jiwanya itu menatap Itachi yang tertidur dengan wajah yang sungguh tak bisa Naruto gambarkan dengan kata-kata.
Wajah yang ditunjukkan Tsunade shishou setiap beliau mengingat kekasih hatinya Dan yang sudah meninggal puluhan tahun yang lalu. Wajah Shikamaru setiap ia melihat Kurenai sensei bermain di taman dengan putrinya yang merupakan anak dari almarhum Asuma sensei. Wajah Ino setiap ia memperhatikan Sai yang sedang menulis. Wajah almarhum Jiraiya setiap ia menceritakan kecantikan dan kegalakan Tsunade di sela-sela sesi latihan intensifnya dengan Naruto. Wajah Shizune san setiap berpapasan dengan Genma san.
Wajahnya sendiri setiap ia menatap Sakura diam-diam.
Wajah cinta.
Naruto merasakan dadanya sesak dan tanpa membuang waktu lebih lama lagi, ia melarikan diri dari tempat itu. Lari secepat kilat membawa hatinya yang kebingungan. Ia sungguh bingung akan apa yang ia lihat.
Sakura hanya mencintai Sasuke, itu yang ia tahu.
Kenapa gadis itu menunjukkan wajah seperti itu pada Uchiha Itachi?
Pikirannya kembali kepada dirinya yang sedang gundah gulana di hutan di dekat air terjun kecil yang merupakan tempat kesukaannya. Ia masih terduduk dengan lunglai. Rasanya sepiring besar ramen kesukaannya pun tak akan membantu menyemangatinya seperti biasanya.
Naruto paham jika Sakura tetap mempertahankan cintanya pada Sasuke setelah terpisah bertahun-tahun. Sasuke adalah cinta pertama Sakura. Sejak kecil Sakura selalu mengagumi ketampanan, kecerdasan dan sikap Sasuke yang terlihat 'cool'. Bertahun-tahun gadis berambut merah muda itu berusaha menarik perhatian Sasuke dengan berbagai macam cara. Sakura tidak sendiri. Ada banyak gadis yang berusaha merebut cintanya, diam-diam maupun terang-terangan. Salah satunya adalah sahabat Sakura sendiri, Yamanaka Ino.
Kompetisi secara terbuka dicanangkan mereka berdua. Persahabatan yang terjalin sejak kecil antara Sakura dan Ino, berubah menjadi rivalitas yang disebabkan pesona seorang Sasuke.
Lucunya yang berkompetisi bukan hanya Sakura dan Ino belaka, tapi juga pemuda berambut jabrik kuning—Uzumaki Naruto—dirinya sendiri. Ia pun ikut terjun dalam kompetisi itu. Ia memacu dirinya sendiri untuk bisa menyaingi Sasuke. Lebih kuat, lebih cepat, lebih terampil, lebih tangguh dan lebih digjaya dari Sasuke—itu tujuan hidupnya.
Semuanya demi Sakura.
Demi gadis yang sudah merebut hatinya sejak pertama kali ia melihatnya di Akademi Ninja Konoha.
Demi gadis itu pula, Naruto tak pernah beranjak dari sisinya selama bertahun-tahun meski ia tahu…diri gadis itu selalu menunggu kepulangan cinta pertamanya ke Konoha. Naruto percaya bahwa kelak mata hati Sakura akan terbuka lebar pada kesetiaannya pada gadis itu.
Ia yang selalu di samping gadis itu, ia yang selalu membantunya dalam setiap kesusahan…ia yang sampai kapan pun tidak akan pernah membuka hatinya pada seorang gadis, kecuali pada Haruno Sakura. Ialah Uzumaki Naruto.
Naruto tertunduk.
Bayangan Sakura mencium tangan Itachi dengan lembut menusuk hatinya dengan cara yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Sakura mencintai Sasuke, seisi Konoha tahu fakta itu. Naruto menerima kenyataan itu dengan hati lapang dan ikhlas. Sasuke akan selalu dicatat sejarah sebagai teman sekaligus rivalnya. Ia mahfum, ia sadar dan ia terima itu.
Akan tetapi Itachi?
Penjahat kelas S, pembantai seluruh klan Uchiha di usianya yang ke-13, pembunuh berdarah dingin…sungguh tak pantas ia disentuh oleh tangan suci Sakura.
Apapun alasannya, Sakura harus sadar ia ditugaskan untuk menyembuhkan Itachi—tidak lebih. Sakura tidak boleh melibatkan perasaannya sedikit pun menghadapi laki-laki sekeji Uchiha Itachi.
Tiada yang bisa menjamin, saat pria itu bangun, ia akan jadi orang baik kan?
Naruto menghela nafas dalam-dalam. Ia harus melindungi Sakura. Sampai kapan pun juga.
…..
….
….
********************************WWW**********************WWW********************
To be continued.
A/N: aku sedang ada waktu untuk update cepet hehehehehe, meski ga banyak. Alurnya masih pelan dan aku masih bereksplorasi pada perasaan masing-masing karakternya.
Sasuke kun mungkin akan muncul chapter depan.
Boleh minta review untuk penyemangatnya?
Domo arigatou.
