"Jangan sakit, aku menyayangimu."

Brothers;

CHAPTER VI


"Mama.."

Suara Jaemin terdengar dari pintu kamar Johnny dan Ten. Ten yang sedang membereskan berkas-berkas milik Johnny di meja kerja menoleh dan mendapati putra manisnya berjalan lemas ke arahnya dengan wajah murung.

"Nana, kenapa Sayang? Sini," Ten meninggalkan pekerjaannya lalu menghampiri Jaemin dan mendudukannya di tepi ranjang.

Ten berjongkok di hadapan Jaemin dan menatap wajah putra tersayangnya dengan khawatir. Sebab, Jaemin terlihat tidak bertenaga dan pucat. Kedua tangannya juga dingin saat Ten menggenggamnya.

"Kenapa Sayang? Sakit?"

Jaemin mengangguk lesu. Matanya terpejam rapat seperti bisa tumbang kapan saja.

"Sayang, kok bisa? Sini, kakinya naikkan dulu, berbaring ya. Mau tidur di sini atau di kamar saja Sayang?" tanya Ten dengan perasaan resah.

Jaemin tidak menjawab. Sepertinya terlalu pusing untuk mendengarkan.

Ten sibuk menyelimuti tubuh Jaemin yang menggigil sambil memikirkan obat yang akan ia ambil nanti, kompres, dan sup panas yang akan ia buat setelahnya. Kemudian ia mulai panik, karena Johnny maupun Haechan belum pulang dan bibi asisten yang keluarga mereka pekerjakan harian sudah pulang setengah jam yang lalu. Jadi siapa yang akan menjaga Jaemin sementara ia mengurus hal-hal yang diperlukan tadi?

"Babe, ada apa?"

Syukurlah! Johnny pulang di saat yang tepat. Suaminya memang yang terbaik.

"Baby! Nana sakit, bisa tolong jaga sebentar? Aku perlu mengambil obat dan kompres lalu memasak sup," adu Ten gelisah.

"Eh, sakit?" Johnny menanggapi dengan khawatir. Kemudian ia masuk mendekati tempat tidurnya dengan Ten untuk melihat keadaan anak bungsunya. Meskipun belum lama bersama Jaemin, Johnny sudah menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.

Johnny meraba kening Jaemin yang panas. Ia bergumam resah lalu mengecup lama kening anaknya itu, berharap agar Jaemin merasakan afeksi yang ia berikan sebagai orang ayah.

"Kamu di sini saja, jaga Jaemin. Soal yang lain biar aku yang kerjakan, ya, Sayang? Kamu lebih handal mengurus orang sakit, sementara aku lebih handal memasak, kau tahu kan?" ujar Johnny kepada Ten yang sempat-sempatnya ia sisipi sindiran jenaka soal kemampuan memasak Ten yang jauh di bawah kemampuan rata-rata. "Jaemin akan cepat sembuh, aku yakin," lanjut Johnny, kemudian ia mengecup pipi Ten sebelum melangkah keluar kamar.

Mau tidak mau Ten sedikit tersenyum mendengar hiburan dari Johnny, walaupun ia masih mengkhawatirkan Jaemin. Tapi ia akui, perlakuan Johnny membuatnya bisa merasa sedikit lebih tenang dan juga aman.


Haechan baru sampai rumah pukul setengah delapan malam. Ia harus sekolah sampai semalam ini karena harus mempersiapkan festival kuliner yang akan diadakan minggu depan di sekolahnya, dan ia adalah salah satu panitianya.

Setelah Mark selesai mengantarkannya sampai rumah dengan selamat, ia segera masuk ke dalam dan langsung menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.

Biasanya, di jam-jam segini keluarganya sedang makan malam bersama di ruang makan. Tapi, saat Haechan melewati ruang makan, tidak ada siapa-siapa di sana. Meja makan juga kosong, hanya ada sebuah panci berisi sup ayam di sana, itu pun tidak banyak.

Niatnya, ia ingin menanyakan keberadaan yang lain kepada Jaemin. Tapi ternyata Jaemin tidak ada di kamar, padahal biasanya anak itu hampir selalu berada di kamar sepanjang waktu, menenggelamkan diri dalam selimut sambil menonton film atau bermain games.

Haechan meninggalkan tas nya di kamar lalu keluar untuk mencari keberadaan anggota keluarganya.

Untungnya, di lorong ia melihat ayahnya. Haechan hampir saja merasa takut kalau-kalau keluarganya hilang ditelan bumi.

"Dad," Haechan menghampiri ayahnya.

"Oh, Darling. You are home. Ayo, kemari, adikmu sakit."

"Hah?" Haechan berucap khawatir. Ia mengikuti langkah ayahnya menuju kamar kedua orangtuanya dengan terburu-buru.

"Jaemin kenapa?" Haechan langsung bergegas mendekati Jaemin yang sedang dijagai oleh Ten. Wajah Jaemin pias dan sejujurnya ia terlihat sangat mengkhawatirkan.

Haechan menatap Jaemin tidak tega. Sebenarnya sudah dari kemarin Jaemin mengeluh pusing kepadanya, tapi Haechan kurang mengindahkan, karena ia sibuk dengan urusan kepanitiaan. Seharusnya ia lebih memperhatikan Jaemin sejak awal, ia menyesal.

"Haechan mandi dulu saja, setelah itu istirahat. Tenang saja, pasti Jaemin akan sembuh dengan cepat," ujar Ten berusaha tenang, padahal Haechan tahu ibunya itu pasti sedang gelisah setengah mati memikirkan Jaemin.

"Ini salahku. Seharusnya aku sadar lebih awal kalau Jaemin sakit," sesal Haechan.

"Ini juga salahku," timpal Ten. "Aku terlalu sibuk sampai Nana sakit begini."

"Sudah, sudah. Bukan salah siapa-siapa. Sebaiknya kalian istirahat dulu ya, Haechan kan baru pulang sekolah, kalian juga belum makan malam. Nanti aku pesankan makanan ya, jangan sampai lupa memperhatikan diri kalian juga," ujar Johnny.

Meskipun dengan berat hati, Haechan akan menuruti perkataan ayahnya untuk mandi terlebih dahulu. Sebelum beranjak, ia mendekati Jaemin lalu menggenggam tangannya. Tidak tahu kenapa, berat saja rasanya melihat anak itu sakit. Padahal Haechan tidak pernah merasa begini terhadap seseorang sebelumnya. Waktu ayahnya atau Mark sakit sebelumnya, Haechan tenang-tenang saja.

Mungkin seperti inilah yang dirasakan Johnny atau Mark ketika Haechan yang sakit, karena mereka merasa punya tanggung jawab untuk menjaga Haechan, sebab Haechan adalah yang termuda dan paling rentan.

Begitu pula seperti yang Haechan rasakan sekarang, ia menjadi sangat khawatir karena ia merasa bertanggung jawab sebagai yang lebih tua untuk menjaga Jaemin yang lebih muda. Makanya, baru sekarang Haechan tahu bagaimana rasanya punya tanggung jawab menjaga seseorang, karena sebelumnya Haechan hanya pernah menjadi pihak yang dijaga.

"Cepat sembuh ya," bisik Haechan sebelum keluar meninggalkan kamar.


Haechan menggedor pintu kamar Jeno dengan tidak sabar karena si pemilik kamar tidak juga membukakan pintu untuknya. Huh, pasti anak itu sudah tidur dengan enak sejak sore tadi karena hidup Jeno jarang dipenuhi kesibukan.

"Jeno! Buka, cepat! Kemana sih orang ini?!" teriak Haechan.

"Haechan-ie kenapa nyari Jeno?"

Haechan menoleh begitu mendengar suara mendayu milik Taeyong, Nyonya Keluarga Jung yang termahsyur karena wajahnya yang mendekati sempurna seperti dewa.

"Ya ampun, Taeyong Eomma. Kukira aku melihat dewi di rumah tetanggaku. Ada urusan genting nih Ma," Haechan menjawab sambil menggoda dan berpura-pura kaget.

Keluarga Jung dan Keluarga Seo sudah lama sangat dekat, bahkan Haechan sudah terbiasa memanggil suami-istri Jung, Jaehyun dan Taeyong, dengan sebutan Appa-Eomma. Bahkan Haechan diperbolehkan bertingkah sesuka hati di rumah keluarga tersebut, contohnya berteriak-teriak seperti tadi. Intinya, mereka sangat menerima Haechan layaknya anak sendiri.

Taeyong tersipu mendengar ucapan Haechan. Pria cantik itu memang mudah sekali dibuat memerah.

"Ah, Haechan. Sudah, biar Eomma yang panggil ya," Taeyong mengetuk pintu kamar Jeno dengan pergerakan yang menurut Haechan sangat anggun.

"Jeno-ya, ada Haechan. Bangun dulu, Sayang. Bukakan pintunya ya."

Tidak sampai satu menit, pintu itu terbuka walau terkesan enggan. Taeyong tersenyum manis ke arah putranya yang masih acak-acakan.

"Jeno-ya, ada Haechan nih. Kok tidak diladeni dari tadi sih?"

"Maaf Ma, tidak kedengaran. Suara dia melebihi frekuensi pendengaran manusia, yang dengar hanya anjing."

Dahi Haechan mengkerut kesal. Kalau tidak ada Taeyong, sudah pasti dia akan menendang wajah batu Jeno sekarang juga.

"Hei, tidak baik ngomong begitu. Sudah, Eomma tinggal ya."

Setelah Taeyong pergi, Haechan langsung masuk ke dalam kamar Jeno tanpa permisi. Jeno hanya mendesah malas.

"Heh, Jeno! Kenapa sih kau hanya mendengarkan ucapan mamamu?" serang Haechan.

"Yah.. dia kan ibuku," jawab Jeno masa bodoh.

"Huh, sakit tenggorokanku teriak-teriak terus dari tadi. Hei, aku ke sini untuk memintamu menggantikan posisiku sebagai panitia—"

"Tidak mau," Jeno langsung menyela perkataan Haechan bahkan sebelum anak itu menyelesaikan ucapannya.

"Harus mau! Jen, sudah berapa lama kita berteman? Aku kecewa kalau kau tidak mau menolongku!"

"Tetap tidak mau. Sudah sana pulang," usir Jeno.

"Ish, asal kau tahu ya, kalau kau menolongku, artinya kau juga menolong Jaemin!"

"Hah, apa hubungannya?" tanya Jeno, sedikit tertarik karena Haechan mengucapkan nama Jaemin.

Haechan melipat kedua tangannya di dada. "Jaemin sedang sakit. Jadi, aku tidak bisa sibuk dengan kepanitiaan karena aku mau merawatnya!"

"Si Manis sakit?" Jeno bergumam. "Sakit apa dia? Kalau begitu aku saja yang merawatnya untukmu. Begitu baru namanya menolong."

"Enak saja, tidak!

"Pokoknya aku tidak mau kalau harus menggantikanmu. Sekarang aku mau keluar menjenguk Jaemin."

"Tidak boleh! Jaemin sedang istirahat, tidak boleh diganggu. Sudahlah, sia-sia saja aku kemari. Dasar teman palsu, aku tidak akan merestui hubunganmu dengan Jaemin!" Haechan menghentak pergi dengan sebal.

"Hyung cantik itu sakit ya, Jeno Hyung?" Jisung yang sedari tadi mendengarkan percakapan Haechan dengan Jeno bertanya.

"Bukan urusanmu. Kerjakan PR-mu saja sana," jawab Jeno. Dia masih agak kesal karena Jaemin lebih menyukai Jisung dibanding dirinya.


Haechan pulang diantar Mark yang sebelumnya memaksa agar Haechan mau diantar. Berlebihan, padahal rumah mereka sangat berdekatan. Saling bersebelahan, tepatnya.

"Loh kok semuanya menghilang?" Haechan berseru nyaring begitu mendapati rumahnya kosong.

"Coba kau hubungi ayahmu," saran Mark.

Ketika Haechan membuka ponselnya yang jarang ia sentuh, ia mendapati beberapa pesan masuk dari ayahnya. Haechan menyentuh layar ponselnya dan membuka pesan-pesan tersebut.


Dad

Dad dan Mum pergi dulu mengantar Jaemin ke dokter.

Kalau takut sendiri, di rumah Mark dulu sampai kami pulang ya sayang.


"Yah, aku ditinggal. Kenapa tidak bilang mau ke dokter sih.." keluh Haechan.

Mark tertawa. "Ya sudah, ayo aku temani sampai mereka pulang."

Mark dan Haechan memutuskan untuk menonton televisi sambil memakan beberapa camilan untuk menghabiskan waktu sampai Jaemin pulang. Tak lama, Jeno juga datang setelah susah payah melarang Jisung untuk ikut.

"Pulang kau, tadi giliran aku datang kau menolakku," usir Haechan membalas perlakuan Jeno sebelumnya.

"Jangan jahat begitu lah. Nanti aku tidak merestuimu dengan Mark Hyung nih."

"Ya kalau begitu aku juga tidak akan merestuimu dengan Jaemin!"

Ya ampun, lama-lama telinga Mark panas juga mendengar perdebatan adik-adik ini yang tidak berhenti-berhenti.

.

.

.

.

.

End of Chapter VI.


Halo..

Aku mau ralat marga kakak-beradik Lee di sini ya. Sebelumnya kan aku bilang mereka itu keluarga Lee. Sekarang aku ubah jadi keluarga Jung yaa.

Jadi mereka adalah Mark Jung, Jung Jeno, dan Jung Jisung.

Thank you!