Killing Time

Naruto punya Kishimoto-sensei

Ada baiknya jika saya mengingatkan, fic ini penuh hal GAJE, AU, OOC

Author: Go Mio

Pair : SasuSaku

.


.

"Kurasa ini bukan berita baik untukmu," ujar Sasuke mengamati Sakura dengan tajam.

Sakura menggelengkan kepalanya. "Tidak! Seseorang sudah melakukan perjalanan waktu tanpa sepengetahuanku," gumamnya dan dapat didengar Sasuke. "Kemungkinan bisa berita baik, dan juga bisa berita buruk untukku. Aku tidak tahu apakah orang ini pengembara waktu yang sudah memiliki izin atau mungkin bala bantuan untuk pembunuh itu," sambil menunjuk layar TV. "Dan apa yang ada di dalam tanah itu?" sebenarnya Sakura sudah mengetahui apa isi dari lubang itu.

"Dua puluh tahun yang lalu, kota ini mengubur sebuah kapsul waktu," ujar Sasuke. "Senin pagi ini seseorang telah menggali dan mencurinya. Apa kau berpikir kalau si pengembara waktu itu, yang sudah mengambilnya?"

"Mungkin," gumam Sakura sambil berpikir dan sedikit menganggukkan kepalanya.

Melihat Sakura yang menganggukkan kepalanya Sasuke mengajukkan pertanyaan ke Sakura lagi, "Pertama, kenapa penggalian itu tidak terekam kamera? Kedua, kenapa ada orang yang mau repot-repot menggali dan mengambil kapsul waktu itu?"

"Jawaban untuk pertanyan pertamamu itu, karena pada saat seseorang dikirim, dia seakan-akan membekukan waktu untuk beberapa saat lamanya, seakan-akan semuanya itu berguncang dan berhenti untuk beberapa saat. Untuk sebab itulah, mengapa banyak bermunculannya para anti-perjalanan-waktu. Dan para ahli fisika pun juga belum mampu untuk menjelaskan kenapa hal itu bisa terjadi, tetapi mereka memiliki sebuah teori yang bisa membuat para petualang waktu bisa menyatu dengan zaman baru sampai tingkatan molekul, sehingga semuanya kembali normal seperti sedia kala."

"Tetapi jika semuanya membeku, bagaimana dengan si pengembara waktu? Bukankah pengiriman itu hanya memakan waktu beberapa detik saja, lalu bagaimana si pengembara bisa menggali tanah dan mengambil kapsul waktu secepat itu?"

"Secara terori, masa jeda itu sangat cepat, hanya sepersekian detik saja. Sangat singkat, sehingga aku tidak berpikir apakah si pengembara waktu itu membeku atau tidak," jawab Sakura.

"Secara logika, kita memang tidak bisa memindahkan lepengan granit dan menggali kapsul waktu itu secara bersamaan, hanya dengan waktu sepersekian detik saja," ujar Sasuke sambil berfikir.

"Memang tidak," ujar Sakura ragu. "Kecuali ada teknologi yang tidak kuketahui. Tetapi FBI selalu berusaha keras untuk selangkah lebih maju dalam masalah teknologi, sehingga aku dan timku tidak ketinggalan oleh zaman."

"Jadi kau belum bisa menjelaskan bagaimana kapsul waktu itu bisa menghilang?" tanya Sasuke sedikit kecewa. "Kecuali jika masa jeda itu lebih lama dari yang diperkirakan olehmu selama ini? Kalau menurutku itu adalah satu-satunya penjelasan yang logis, iya kan? Lalu bagaiman dengan pertanyaanku yang kedua?"

"Mungkin ada sebuah artikel yang dikubur di dalam kapsul waktu itu, yang mengandung sebuah terori dan beberapa cara untuk melakukan perjalanan waktu dengan sukses," jalas Sakura. "Jika artikel itu sudah tidak ada di dalam kapsul waktu saat dibuka pada tahun 2100 atau kapsul waktu itu sendiri sudah dicuri, maka teknologinya tidak akan berkembang sampai kezamanku."

"Di dalam kapsul waktu kami?" tanya Sasuke. "Siapa yang menulis hal seperti itu? Aku tidak mengenal adanya orang jenius yang ahli dalam bidang fisika di kota ini."

"Tidak ada seorang pun yang tahu, siapa yang menulis artikel tersebut. Mungkin dulu ada orang yang mengetahui siapa orang itu, tetapi informasi itu tidak sampai ke zamanku. Banyak informasi yang hilang pada zamanmu ini dizamanku."

"Waktu penguburan kapsul itu, aku ada di sana," ujar Sasuke datar.

"Apa? Kapan?" tanya Sakura semangat.

"Tanggal 1 Januari 1992. Surat kabar mengatakan ada dua belas barang yang dimasukkan ke dalam kapsul waktu, tetapi waktu aku menghitungnya, jumlahnya ada tiga belas barang. Tapi diantara barang-barang itu tidak ada jurnal penelitian yang seperti kau maksud. Dan aku juga tidak mengetahui barang yang ke tiga belas itu sampai saat ini."

"Kalau begitu, barang yang ketiga belasnya pasti artikel itu," ujar Sakura sambil menengok ke arah luar jendela menatap langit biru yang indah.

"Mungkin, tapi entahlah," ujar Sasuke santai, kemudian dia melihat jam tangannya lalu menguap dan menggosok kedua matanya. "Sungguh banyak cerita yang tidak masuk akal yang kau ceritakan padaku hari ini, tapi untuk sekarang cukup sampai sini dulu kau berceritanya, aku akan memberikan sedikit kelonggaran waktu padamu. Tapi jangan kau salah artikan, aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum aku mendapatkan sebuah penjelasan yang benar-benar jelas darimu. Jadi aku belum bisa memutuskan apa yang akan kulakukan padamu, tunggu di sini sebentar, aku ingin keluar sebentar."

"Dari pada kau menjebloskanku ke penjara, aku lebih menyarankan. Kalau kita bekerja sama saja. Kita berdua kan sedang mencari pembunuh yang sama," usul Sakura pada Sasuke. Sebelum Sasuke benar-benar bangun dari kursinya.

"Tunggu dulu ... bagaimana bisa kapsul waktu, pengembara tanpa izin, dan semua hal itu berhubungan dengan kasusku?" tanya Sasuke heran.

"Mungkin saja si korban yang menulis artikel itu? Yang pernah kubaca sih, penulis artikel itu belum diketahui. Sebuah informasi baru mungkin telah ditemukan tanpa sepengetahuanku."

Sasuke menggelengkan kepalanya. "Dapat dipastikan kalau Hidan bukanlah seorang ahli Fisika. Dia hanya seorang pengacara, itu saja. Dan apa yang membuatmu yakin kalau si pengembara waktu pembunuhnya?"

"Dia membunuh Hidan dengan sebuah tombak, iya kan?"

"Nah," ujar Sasuke pelan, menyandarkan tubuhnya kembali kekursinya. "Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu? Itu belum diberitahukan ke pihak media bukan?"

'Luar biasa,' pikir Sakura terkejut, 'bagaimana mata sehitam langit malam itu bisa berubah menjadi begitu dingin seperti ini lagi?' pikir Sakura.

Dengan perlahan Sakura pun menjelaskaanya "Saat Kabuto sedang mencari jejak si pengembara waktu, dia menemukan mayat Hidan. Kabuto tahu kalau si pengembara itulah yang telah membunuh Hidan, karena tombak itu, yang mungkin tidak akan pernah kau temukan asalnya. Karena tombak itu dibuat di Cina pada tahun 2045."

Sasuke membuka buku catatannya dan menulis dibukunya. "Cina berhenti membuat bom nuklir dan kembali memproduksi tombak?" gumam Sasuke sedikit tidak jelas.

"Aku bilang benda itu dibuat di sana, bukan berarti untuk digunakan sehari-hari. Apa kau harus melakukan itu?" tanya Sakura sambil menunjuk buku catatan Sasuke.

"Jika kita sedang membicarakan salah satu kasusku, maka aku akan menuliskan setiap informasi yang kudapatkan," nada bicaranya mendakan jika Sasuke tidak ingin didebat. "Kenapa ada orang yang mulai memproduksi tombak lagi? Itukan bukan tekhnologi mutakhir?"

"Biasanya dizamanku tombak digunakan oleh para teroris, karena senjata itu harganya murah. Dan senjata itu juga unik, khususnya saat benda itu menembus leher seseorang. Tombak senjata yang tidak mengeluarkan suara, benda itu paling efektif jika digunakan di malam hari."

"Apa tombak yang digunakan untuk membunuh Hidan itu memiliki arti simbolis di zamanmu?" tanya Sasuke lagi.

"Sebelumnya tombak itu disimpan di museum. Karena tombak itu memiliki arti simbolis yang cukup tinggi di zamanku. Tombak itu berhasil membunuh ratu Inggris yang dilindungi dengan sangat ketat pada tahun 2078-an."

"Begitu, kah? Hebat sekali!" ujar Sasuke kagum. Lalu bertanya kembali, "Sekarang langkah apa yang akan kau lakukan?"

"Aku harus pulang ke zamanku," ujar Sakura. "Aku harus menginformasikan pada atasanku bahwa ada seorang pengkhianat di markas, jika penghianat itu bukan salah satu dari tim kami, maka timku di sana akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan si pengembara waktu, yaitu dengan kembali kemasa sebelumnya dan menangkapnya. Dan kali ini aku akan pastikan, kami akan melakukannya lebih cepat dari si pengembara waktu tanpa izin itu."

"Kau membicarakan tetang pulang pergi dan menembus waktu?"

"Ya!" ujar Sakura senang karena Sasuke mulai memahami konsep perjalanan waktu. "Seperti yang kukatakan, ini memang baru bagi kami, tetapi yang harus kami lakukan adalah melindungi kapsul waktu dan menangkap pembunuhnya. Di sana kami memiliki catatan kapan dia tiba di zamanmu ini."

"Tetapi jika kau datang sebelum si pengembara itu, maka dia tidak bisa dituntut melakukan pembunuhan dan dia juga tidak bisa dikatakan bersalah atas semua tuduhan yang akan kau ajukan padanya. Kecuali hanya dengan tuduhan seorang pengembara tanpa izin saja," ucap Sasuke mengutarakan pemikirannya.

"Kalau maksudmu, kami bisa mengubah hidup dan kematian seseorang, itu salah! Kami tidak bisa melakukan hal itu," ujar Sakura dengan suara lirih. "Aku harus tetap kembali dan membuat laporan atas semua kejadian ini."

"Baiklah," ujar Sasuke datar. "Aku akan mengikutimu sepanjang aku boleh mengamati."

"Ya, kau boleh mengamati kegiatanku sesuka hatimu."

"Apa kita harus menunggu sampai malam? Untuk kau bisa pergi, mengembara, atau apa pun itu istilahmu?"

"Tidak, aku bisa pergi kapanpun aku mau," ujar Sakura.

"Oke, aku akan mengatarkanmu ke sana. Karena mobil sewaanmu sudah dikenali si penembak pagi ini. Tunggu di sini, aku akan memanggil salah satu deputiku untuk meletakkan mobilku ke daerah seteril yang biasa kami gunakan untuk tahanan khusus." Ucap Sasuke segera melesat keluar ruangan, dan diluar ruangannya sudah ditunggu oleh Asuma. Kepala Sheriff.

.

.

.

Sasuke POV :

Wanita itu mungkin saja orang gila, atau mungkin dia penipu, tapi bisa saja dialah si pembunuh itu, karena dia megetahui keberadaan tombak yang tertancap di tubuh korban. Tapi siapa pun wanita ini, dia pandai sekali bercerita. Saat aku siap untuk memenjarakannya, dia mampu membuatku harus berpikir kembali dengan alat-alat yang dibawanya dan juga ceritanya.

Bagaimanapun aku mengakui bahwa kartu pengenalnya, pemindai DNA, dan Cure itu adalah alat-alat yang belum pernah kulihat atau pun kudengar. Goresan di jempolku pun sudah menghilang tanpa bekas. Hal itu, memaksaku untuk mengakui bahwa mungkin, ada setitik kejujuran dalam kisahnya.

Tapi aku adalah seorang polisi dan polisi secara alamiah sulit untuk mempercayai apa pun yang mereka terima sampai mereka mendapatkan bukti bahwa hal itu adalah benar.

Sasuke End POV

.

.

.

Sasuke menghentikan langkahnya dihadapan Asuma dan menyerahkan kunci mobilnya pada salah satu deputi yang berdiri dibelakang Asuma untuk memindahkan mobil miliknya ke tempat seteril.

"Bagaimana agen FBI kita?" tanya Asuma, sebuah kilatan licik terpancar di matanya. "Cukup lama juga kau berada di dalam kantormu."

"Aku memang sedikit meragukan ucapan wanita itu," ujar Sasuke. "Dia mengetahui tentang tombak di lokasi kejadian, itu membuatku merasa sedikit tidak nyaman. Entah apakah ada kebocoran di kantor kita atau dia memang sudah mendapatkan informasi sebelumnya."

"Kau bermaksu mau mengatakan, kalau dia mendapatkan berita itu dari si pembunuh, begitu maksudmu Sasuke?" ujar Asuma sambil menyilangkan tangannya di dada. "Apa kau mau mengatakan kalau nona Haurno itu, terlibat dengan pembunuhan ini atau mungkin dia lah si pelempar tombak?"

"Aku tidak tahu! Kurasa sih tidak, tapi mungkin juga dia mengetahui tentang siapa pembunuhnya, dan orang itu mungkin adalah orang yang sama, yang pagi ini menembaknya. Entah apa alasanya, dia menjadi target pagi ini. Aku akan melakukan penyelidikan lebih mendalam lagi. Siapa pun yang menembaknya pagi ini, sudah mengenali mobil sewaanya dan mengikutinya pagi ini. Ada beberapa hal yang ingin kuperiksa dan aku akan membawanya pergi bersamaku."

Asuma mengangguk, "Oke, kalau begitu. Hati-hati!"

Setelah menganggukkan kepalannya Sasuke berjalan kembali ke kantornya. Sebenarnya Sasuke merasa tidak nyaman karena sudah menyembunyikan fakta lain dari Asuma, tapi jika dia menceritakan semuanya, mungkin tanpa menunggu apa pun lagi Asuma akan langsung menjebloskan Sakura ke penjara. Sebelum itu semua terjadi, Sasuke ingin mencari jawaban yang masuk akal. Dia tidak bisa menceritakan bahwa wanita itu datang dari masa depan, masa dua ratus tahun yang akan datang pada Asuma. Mungkin dirinya akan disangka tidak waras karena mempercayai hal seperti itu.

Saat Sasuke kembali, Sakura masih tetap menunggu dengan manis di dalam kantornya, sama saat dia pergi untuk memeriksa alat pemindai DNA tadi. Sasuke tidak tahu harus bersikap seperti apa, untuk menyikapi cara Sakura itu. Bila Sakura memang ingin melarikan diri, maka kesempatan terbaiknya adalah saat dia sedang berdua dengan Sasuke tadi. Tetapi wanita itu tidak juga memberi perlawanan.

"Ayo," ujar Sasuke, dan Sakura pun bangkit dari duduknya, memasukkan berbagai barang-barangnya ketasnya lagi.

Sasuke masih memegang pistol wanita itu, dan memang tidak berniat untuk mengembalikannya pada Sakura. Untuk sesaat Sakura melirik ka arah Sasuke, dan Sasuke mengangkat alis tanda bertanya. Untuk menanggapinya Sakura tertawa saat Sasuke menggeleng. "Jangan pernah berharap." Sakura menerima situasi tersebut, tanpa perlawanan kembali.

Sasuke yang berdiri di pinggir pintu masuk membiarkan Sakura keluar terlebih dahulu. Menyebabkan Sasuke yang berdiri diambang pintu, bisa merasakan panas tubuh Sakura, dan juga bisa mencium aroma manis yang menguar dari tubuh Sakura. Membuat Sasuke menegang ditempatnya berdiri.

'Astaga, aroma ini bisa membuatku gila,' pikir Sasuke sesaat.

Sudah cukup lama, Sasuke bisa sedekat ini lagi dengan seorang wanita. Wanita terakhir yang pernah dekat dengannya hanya, Ino tunangannya. Kedekatan tubuh Sakura tadi, membuat Sasuke ingin merasakan kehatan tubuh itu. Sasuke juga adalah seorang pria normal yang tidak ikut mati bersama Ino jadi dia masih menginginkan kehangatan lain dari seorang wanita.

Sebelumnya Sasuke memang belum pernah setegang ini saat berdekatan dengan wanita lain, sampai saat dia bertemu dengan Sakura dia kembali bisa merasakannya. Wanita yang memiliki bola mata emerald yang indah dan senyumnya juga yang bersahabat itu, membuat Sasuke terpesona. Tetapi pada waktu yang bersamaan Sasuke juga harus berhati-hati, jangan sampai ketertarikannya pada Sakura membuatnya buta pada kejahatan yang mungkin dilakukan wanita itu.

.

.

Setibanya di tempat seteril, mobil Sasuke sudah siap menunggu untuk dikemudikan pemiliknya. Tanpa menunggu lama mereka berdua memasuki mobil, dengan Sakura duduk dikursi penumpang disamping Sasuke. Posisi duduk Sakura membungkuk, untuk membuat dirinya tersembunyi dan tak terlihat saat meninggalkan pelataran gedung pengadilan nanti.

"Kita pergi ke mana?" kemudian tanya Sasuke pelan, setelah menyalahkan mesin mobilnya.

"Ambil jalan Konoha Barat," sahut Sakura. "Dan beritahu aku jika keadaan sudah aman agar aku bisa duduk dengan normal."

Saat mereka sudah melaju jauh dari gedung pengadilan Sasuke berkata, "Oke, sekarang kau sudah boleh duduk dengan normal."

Sakura segera menegakkan tubuhnya, dan mengibaskan rambutnya yang menempel di wajahnya. Sasuke kembali mencium aroma manis itu sekali lagi, yang membuatnya terbuai dengan harum manis Sakura, menyebabkan dirinya tegang kembali.

'Sial! Aroma ini...'

.

.

Jalan Konoha Barat menuntun mereka ke arah rumah Danzo. 'Ini bukan suatu kebetulan belaka,' ujar Sasuke pada dirinya sendiri dalam hati.

'Apa pun yang sedang terjadi pada wanita ini, pasti ada hubungannya dengan sesuatu yang di lihat Danzo pada malam itu. Jika Danzo mengetahui hal ini, mungkin dia akan mengatakan bahwa Sakura lah, orang yang sudah membunuh ayam-ayamnya, tapi entah mengapa aku tidak bisa mengatakan kalau wanita ini lah pelakunya.'

Saat Sasuke melirikkan pandangan matanya ke Sakura, wanita itu sedang membuka sebuah kotak kecil dengan cermin ditengahnya. Lalu dia melepaskan cermin itu dengan menekan sebuah kait, dan memperlihatkan sebuah alat GPS. "Kira-kira sekitar dua mil lagi, kita akan sampai," ujar Sakura setelah melihat beberapa tulisan dari alat yang dipegangnya.

Sasuke mengamati GPS itu dengan serius. GPS militer jauh lebih akurat dibandingkan dengan GPS yang ada di mobil atau pun perahu. Setelah Sasuke melihat GPS yang dipegang Sakura, Sasuke langsung berpikir kalau alat yang ada ditangan wanita itulah yang setidaknya setingkat dengan alat GPS militer. Dalam hatinya Sasuke bertanya-tanya.

'Bagaimana wanita ini bisa mendapatkan alat seperti itu? Apakah dia mencurinya dari pihak militer? Itu tidak mungkin!'

Sakura terus mengamati GPS digenggamannya dan sebelum mereka berbelok ke rumah Danzo, tiba-tiba Sakura berbicara, "Di sini. Berhenti di sini."

Dengan patuh, Sasuke menepikan mobilnya keluar dari jalan raya, lalu memberhentikan mobilnya di semak-semak untuk menyebunyikan mobilnya dari pandangan orang-orang yang lewat dijalan raya. Sedangkan Sakura sendiri sudah keluar dari mobil, dan berjalan menerobos pepohonan. Sasuke mengikutinya dari belakang, mengawasi, menagamati cara berjalan Sakura, dan menatap rambut pink panjang wanita itu berayun setiap langkah yang dilakukannya.

Setelah berjalan beberapa menit, mereka sudah tiba di tengah hutan dan suara lalu lintas pun sudah memudar. Digantikan dengan suara alam seperti suara serangga dan burung-burung. Sakura melangkahi setiap batang kayu yang cukup besar dengan mudahnya, kemudian dia berhenti dan menunjuk ke arah tanah, di bawah pijakannya. "Di sini."

Sasuke memeriksa tanah dihadapannya. Bila Sakura sudah menyembunyikan sesuatu di sana, maka dia sudah menghilangkan jejaknya di sana dengan sempurna. "Kurasa seharusnya aku membawa sekop."

"Tidak perlu. Aku punya ini," Sakura meraih kotak berbentuk tabung kecil dari dalam tasnya. Lalu menekan bagian bawahnya dan sebuah cahaya tipis berwarna kuning keluar dari ujung tabung dan cahaya itu mulai memasuki tanah. Sakura menggerakkan cahaya itu dalam bentuk berputar secara perlahan, dan setelah itu menggali dengan alat itu.

Setelah mematikan alatnya, Sakura berlutut, memasukkan alat GPS itu kembali ke tasnya. Sementara itu Sasuke bisa melihat ada sebuah benda diantara tumpukkan tanah yang tadi digali Sakura. Dan Sakura sendiri mulai menggali tanah dengan tangannya menyingkirkan serpihan-serpihan tanah yang menghalangi. Sasuke bergerak mendekati Sakura, untuk melihat benda yang sedang digali wanita itu.

"Aneh," ujar Sakura kemudian. "Sebelumnya aku tidak menggali sedalam ini sebelumnya."

"Apa kau yakin ini tempat yang tepat?" tanya Sasuke.

"Aku sudah menandai kordinatnya di GPS. Jadi aku cukup yakin," sejenak kemudian Sakura menarik napas puas dan meraih ujung plastik di dalam tanah dan menariknya.

"Tidak ada apa pun di dalam kantong itu?" tanya Sasuke sambil menatap tajam kantong dan wajah pucat Sakura.

"Hilang," ujar Sakura dengan suara tercekat. "Alat penghubungku hilang. Aku tidak bisa pulang. Aku terjebak di sini."

Sakura terduduk lemas diatas tanah, tidak mampu berbicara dan berpikir jernih. Dia shock, sangat takut dan terus berpikir siapa yang sudah mengambil alat penghubungnya? Siapa yang sudah mengetahui tempat penyimpanannya? Dia terus berpikir, sampai-sampai tidak memperdulikan keberadaan Sasuke lagi disampingnya.

'Pasti ada seseorang yang sudah melihatku saat aku sedang mengubur alat penghubungku!' pikir Sakura. 'Siapa? Apa orang yang menembakku pagi ini? Tapi kenapa dia tidak menembakku langsung saja, saat aku baru tiba, atau saat aku sedang mengubur alat penghubungku.'

Dengan tangan kanannya yang masih memegang kantung tahan airnya, Sakura meraih alat pemindai DNA-nya dari dalam tas karena tangannya gemetar dia meminta Sasuke untuk membukakan alat pemindainya. "Tolong bukakan alat ini!" ujarnya tercekat, dan sedikit bergetar.

Tanpa mengatakan apapun Sasuke membantu membukakan alat pemindai itu, kemudian mengembalikannya kepada Sakura setelah sebelumnya membuka tutup alat pemindai DNA itu. Lalu Sakura mengarahkan kantung kedap airnya kealat pemindai dan memencet tombolnya pemindai. Walau kantung tempat penyimpanan alat penghubungnya sudah penuh tanah, setidaknya dengan alat pemindai DNA dia bisa mengetahui siapa yang sudah membuka dan mengambil alat penghubungnya.

Lampu dialat pemindai berkelap-kelip bahwa alat pemindai itu sudah mendapatkan sampel DNA yang tercetak dikantung kedap air milik Sakura. Dengan cepat Sakura membaca informasi yang terpampang di layar pemindai, "Haruno, Sakura – oke, informasi ini tidak perlu dibaca," gumam Sakura tidak jelas. Lalu membaca informasi yang selanjutnya yang ada dilayar setelah dia menghapus informasi dirinya dilayar pemindai. "Subjek tidak dikenali. Struktur gen sesuai dengan daerah Asia bercampur dengan daerah Barat~ ya Tuhan ... ini kan kau?"

"Eh?!" Sasuke mengerutkan alisnya bingung, lalu segera tersadar dengan maksud Sakura. "Kurasa kau salah, rata-rata orang disini memiliki gen yang sama, karena mereka dari keturunan yang sama pula, kan?"

"Ya, kau benar. Tapi tidak juga, sisanya subjek memiliki mata hijau dan berambut pirang dan membutuhkan data tambahan untuk informasi lebih lengkap," ucap Sakura selesai membacakan isi dari alat pemindai.

"Gambaran seperti itu, banyak orang yang seperti itu di daerah sini."

Sakura terduduk lemas diatas tanah kembali, "Apa kau tahu arti dari semua kejadian ini?" tanya Sakura putus asa.

"Bahwa kau tidak bisa membuktikan padaku, kalau kau pernah melakukan perjalanan waktu?" ujar Sasuke sedikit sinis.

"Bukan itu maksudku!" ucap Sakura kesal. "Maksudku, bahwa orang yang mencuri alat penghubungku itu adalah orang dari zamanmu, bukan dari zamanku."

"Kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu, eh?" tanya Sasuke semakin sinis.

"Dari 'Subjek tidak diketahui'. Bila seseorang dari masaku yang telah mencurinya, maka kemungkinan besar dia sudah tercatat di bank data."

"Bank Data? Maksudmu bank yang menyimpan semua data orang di dunia ini?" tanya Sasuke kagum.

"Memang tidak semua orang tercatat disana. Tetapi semua agen FBI tercatat di bank data, begitu juga dengan orang-orang penting dan juga semua orang yang ada di Laboratorium Transit. Semua orang yang pernah melakukan kejahatan juga pernah tercatat di bank data," jawab Sakura sinis. "Dan ... karena orang-orang yang menjadi anggota kelompok anti perjalanan waktu telah paling tidak membuat keributan dan masalah dengan polisi maka mereka sudah terctat di bank data."

Sakura megelus dahinya yang sedikit berkeringat dengan tangannya yang belepotan tanah, meninggalkan bekas kotoran tanah didahinya, tetapi wanita itu tidak memperdulikannya.

"Aku yakin, alat penghubungku pasti diambil seseorang dari zamanmu. Aku tidak tahu apakah aku harus merasa lega atau tidak. Yang pasti jika si penemu itu adalah orang awam, maka dia tidak tahu cara mengaktifkan alat penghubungku."

Sakura yang berbicara dengan melihat wajah Sasuke yang dingin dan semakin datar itu menghentikan ucapannya, "Apa kau masih tidak mempercayaiku? Bahkan dengan alat pemindai DNA dan Cure itu?"

"Cure hampir membuatku percaya padamu," ujar Sasuke mengakuinya, sambil bangkit berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Sakura berdiri. "Tetapi aku masih tidak bisa mempercayaimu sepenuhnya. Aku tidak mau kau bilang orang sinting karena mau mempercayai hal semacam itu."

"Aku tidak mengatakan kau sinting," ujar Sakura kesal, menyambut uluran tangan Sasuke dan membiarkan Sasuke menariknya berdiri.

.

.

Lalu tiba-tiba saja dari bawah rimbunan pepohonan, cahaya mulai menjadi lebih terang dan sebuah suara dengungan rendah terdengar memenuhi udara. Tertegun, Sasuke melepaskan tangannya dari Sakura lalu memegang telinganya. "Suara apa itu? Apa kau mendengarnya?"

Perlahan Sakura meletakkan jari telunjuk ke mulutnya, memutar tubuhnya mencari asal suara dengungan itu. "Tiarap," perintah Sakura cepat pada Sasuke, sambil dengan cepat mengambil tube tabung kecil yang tadi digunakannya untuk menggali tadi dari dalam tasnya. Lalu tiarap di atas tanah.

"Cepat, tiarap!" teriak Sakura sambil menarik ujung jaket Sasuke, membuat Sasuke terjatuh dan dengan segera Sakura menindih tubuh Sasuke.

Sasuke yang jatuh terlentang diatas tanah dan ditindih Sakura, menatap kesal dan tajam pada wanita itu. Saat ingin memprotes Sakura memotongnya, "Tutup matamu!"

Lalu seberkas cahaya kilau yang sangat terang memenuhi setiap celah dedauan, dan ada sebuah energi yang sangat kuat membuatnya seperti terdorong, yang membuatnya merinding dan berusaha menahannya. Sakura yang sudah menutup matanya rapat-rapat saja masih bisa merasakan kilau cahaya itu. Tubuhnya terasa kaku untuk sejenak, kemudian saat efek itu yang perlahan-lahan menghilang, Sakura memaksakkan mengangkat kepalanya yang tersa berat. Di bawahnya Sasuke mulai menggerakkan tubuhnya, berusaha untuk bangkit, lalu mendongakkan kepalanya.

Saat cahaya itu mulai menghilang muncul lah sosok seorang laki-laki yang posisinya membelakangi mereka berdua yang sedang tiarap di atas tanah.

Rupanya keberuntungan masih berpihak pada Sakura, pria yang muncul secara tiba-tiba itu berdiri membelakangi mereka. Sakura dengan cepat mengenali senjata yang digengam oleh pria itu. "FBI!" teriak Sakura lantang. "Jatuhkan senjatamu!"

.


.

TBC