Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing: Dark!Naruto x Naruto (Haruto x Naruto)

Warnings: TWINCEST, OOC, Typo, Mature content, Teens in heat!

ATTENTION: Dark!Naruto di fanfic ini bernama Haruto Namikaze.

Don't like PLEASE don't read.

-x-

My Bastard Twin

Chapter 7

-x-

If our love is tragedy, why are you my remedy?
If our love's insanity, why are you my clarity?

(Zedd - Clarity)

-x-

Cahaya matahari yang menembus tirai jendela, menyadarkan Naruto bahwa hari telah pagi. Sepanjang malam dia berusaha menutup mata namun kantuk belum menghampirinya. Tentu saja penyebabnya adalah insiden 'penembakan' Haruto padanya. Entah kenapa, setiap memikirkan hal itu membuat jantungnya berdetak cepat, tubuhnya terasa panas, dan perasaan bahagia memenuhi hatinya. Apakah benar bahwa dia telah—

"—jatuh cinta pada Haruto?"

Menyadari perkataannya barusan, Naruto segera bangun dan mengacak frustasi rambut pirangnya.

"A-ada apa denganku sebenarnya?"

Terlihat jelas dari raut wajah Naruto jika dirinya sangat bimbang. Dia tidak tahu kenapa dia merasakan perasaan ini – heck, dia bahkan tidak mengerti perasannya sendiri. Masih sulit dipercaya jika Haruto menyatakan cinta padanya. Mereka adalah kembar dan terlebih lagi sesama pria for God's sake.

"NARUTO BANGUN!"

Tubuh Naruto terpenjat kaget mendengar seruan ibunya. Matanya melihat ke arah pintu dengan was-was, berpikir apakah dia harus keluar atau tidak. Jika dia keluar dari kamar, kemungkinan besar Naruto akan bertemu dengan Haruto. Dan jujur saja dia sama sekali belum siap dengan apapun yang akan terjadi selanjutnya.

"IBU TAHU KAU SUDAH BANGUN, NARUTO! AYO TURUN DAN SARAPAN! ATAU KAU AKAN MENYESAL NANTINYA."

Seketika itu Naruto menjadi panik. Ancaman ibunya selalu sukses membuatnya ketakutan. Naruto menarik napas dalam-dalam, berusaha membuat dirinya serileks mungkin saat bertemu dengan kembaran brengseknya itu.

"Beranikan dirimu, prajurit," katanya pada dirinya sendiri. "Waktunya terjun ke medan perang."

Dia pun keluar dan menutup pintu kamarnya perlahan.

-x-

"Benar-benar! Ibu heran setiap hari kau ini susah untuk dibangunkan, Naruto!"

Cengiran kecil muncul di wajah Naruto saat mendengar omelan ibunya. Di meja makan, terlihat ayahnya sedang menyeduh kopi sembari membaca koran sedangkan Haruto terus saja memandangnya. Melihat tatapan kembarannya yang seperti seekor serigala sedang memperhatikan mangsanya dengan begitu intens dan penuh napsu, membuat bulu kuduk Naruto berdiri.

"Kenapa hanya berdiri saja di sana, Naruto? Cepat duduk dan makan!"

Perintah Kushina menyadarkannya dari lamunan. Tanpa melihat ke arah Haruto, dia segera duduk dan mengambil nasi beserta lauk pauknya.

"Ngomong-ngomong, Haruto, kapan kau akan kembali ke Tokyo?" tanya Minato.

Haruto berpikir sejenak, "Mungkin beberapa hari lagi, yah."

"Tinggal lah satu atau dua minggu lagi, Haruto," saran Kushina berharap. "Bukannya tidak puas rasanya hanya menghabiskan beberapa hari di Kyoto?"

Melihat ekspresi kecewa ibunya, Haruto tersenyum kecut, "Aku tidak bisa meninggalkan kuliahku lebih lama, bu."

Kushina menghela napas panjang, "Baiklah. Tapi kau harus berjanji, jika ada liburan atau waktu senggang kau harus ke pulang ke Kyoto."

"Tentu saja, bu!" kata Haruto meyakinkan. "Lagipula, aku tidak ingin lama-lama berpisah dengan adik kecilku."

Jantung Naruto berdebar saat melihat Haruto tersenyum lembut padanya. Alih-alih menyembunyikan wajahnya yang memerah, dia segera membuang muka dan memakan kembali sarapannya dalam diam.

Minato tertawa renyah, "Ayah sempat khawatir karena kalian begitu dekat sebagai anak kembar," dia meminum kopinya kembali. "Karena ayah tahu, Naruto adalah tipe yang manja dan selalu bergantung padamu, Haruto."

Mendengar perkataan ayahnya, urat kemarahan Naruto menegang, "Aku tidak manja!" belanya kesal. "Itu semua karena Haruto yang selalu memaksaku untuk bergantung padanya."

"Tapi kalau diingat-ingat," Kushina meletakan jari telenjuknya pada dagunya. "Hanya beberapa pekerjaan saja yang dulu kau lakukan secara mandiri, Naruto. Dan kebanyakan, dikerjakan oleh Haruto untukmu."

Memang benar, sewaktu Haruto masih tinggal satu atap dengannya, Haruto selalu mengerjakan apapun yang sebenarnya menjadi pekerjaan Naruto. Mulai dari tugas sekolah hingga tugas rumah. Hal itu telah menjadi kebiasaan tersendiri bagi Naruto yang 'dilayani' oleh kembarannya. Namun, Naruto baru merasakan dampaknya setelah kepergian Haruto dua tahun lalu yang membuatnya tidak dapat mengatur tugas-tugasnya dengan baik.

"Aku melakukannya dengan ikhlas, yah, bu," Haruto tertawa kecil. "Karena apapun akan ku lakukan untuk Naruto~"

Naruto hanya memutar mata melihat kembaran dan kedua orang tuanya tertawa lebar. Dia tidak memiliki alasan untuk ikut tertawa bersama mereka karena jelas-jelas tidak ada yang lucu dari pembicaraan itu.

"Kemarin kalian pergi kemana hingga larut malam?" tanya Minato setelah berhenti tertawa.

Haruto melirik ke arah Naruto yang saat ini lebih memilih diam sembari menguyah makanannya. Sepertinya kembarannya itu ngambek karena pembicaraan barusan, "Aku mengajak Naruto ke Kyoto Aquarium, yah."

"Waah! Kau pasti senang sekali Naruto –" sela Kushina sembari mengatupkan kedua tangannya. " – mengingat tempat itu adalah tempat yang ingin sekali kau kunjungi."

"Mm," guman Naruto datar.

"Saking senangnya, Naruto bertingkah seperti anak kecil di sana."

Udang yang ingin Naruto makan terlepas dari sumpit yang dia pegang. Dia segera memberikan maut pada kembarannya yang saat ini menyeringai padanya.

"Apa kau bilang!?" serunya kesal. "Aku tidak bertingkah seperti anak kecil!"

Haruto memberikan tatapan jahil padanya, "Benarkah?"

"Tentu saja benar!" Naruto melipat kedua tangannya di dada.

"Kau mengajakku berkeliling ke beberapa zona yang ada di Kyoto Aquarium dengan bersemangat. Merengek tak mau saat aku menyeretmu untuk makan – padahal jelas-jelas kau lapar. Lalu, ekspresi senang yang kau tunjukan saat menonton atraksi dan berfoto dengan lumba-lumba," Haruto menghentikan penjelasannya sejenak. "Kalau tidak seperti anak kecil, lalu apa namanya?"

Naruto membuang muka, "A-aku hanya tidak ingin membuang kesempatan saja," semburat kemerahan muncul di wajahnya. "Bukan berarti aku bertingkah seperti anak kecil."

Haruto tertawa kecil melihat Naruto cemberut, "Iya, iya, kau tidak bertingkah seperti anak kecil," katanya sembari mengacak-acak rambut kembarannya.

"Hentikan, Haruto!" perintah Naruto tidak suka. Dia segera menepis tangan Haruto dari rambutnya.

"Take it easy, Naru-chan," Haruto nyengir.

Masih segar diingatan Naruto saat bibir Haruto menempel di bibirnya dan menciumnya penuh napsu. Bagaimana suara lembut nan tegas milik kembarannya yang mengatakan bahwa orang yang dia cintai adalah dirinya. Tentu saja hal itu membuat Naruto sangat terkejut hingga dia tidak dapat tidur semalaman. Naruto mencuri pandang pada Haruto. Dan tidak dia sangka, Haruto terlihat biasa saja dan nyaris tanpa beban – berbanding terbalik dengan dirinya yang resah dan canggung saat ini. Apa jangan-jangan…

"Naruto? Kenapa tiba-tiba menangis? – hei! Mau kemana!? Naruto!" seru ibunya keheranan saat melihat Naruto beranjak dari meja makan menuju tangga dengan tergesa-gesa.

Naruto menunduk, "A-aku… aku sudah kenyang, bu," jawabnya kecil. "Aku ke atas duluan.

Melihat kepergian kembarannya, Haruto segera menghabiskan makanannya.

-x-

Setibanya di kamar, Naruto segera menghapus air matanya. Dia tidak tahu kenapa air matanya tiba-tiba keluar saat menyadari bahwa Haruto mungkin saja mengaggap kejadian kemarin tidak berarti atau bahkan tidak ada. Dia merutuki kebodohannya sendiri yang over-reacting terhadap masalah ini.

Bukankah ini pertanda baik? Tidak akan ada yang berubah diantara mereka. Dengan begitu Haruto bisa bersama dengan orang lain dan – damn! Hatinya kembali sakit…

"Naruto."

Terkejut mendengar seseorang memanggil namanya, dia segera menoleh kebelakang dan mendapati Haruto telah berdiri di depan pintu – menatapnya.

"A-apa yang kau lakukan di sini, Haruto?" tanya Naruto dengan suara bergetar. Susah payah dia menyembunyikan rasa gelisah yang dia rasakan saat ini.

Haruto menutup pintu kamar, "Bukankah sudah jelas?" dia melihat Naruto perlahan-lahan mundur saat dia berjalan mendekat ke arahnya. "Aku menunggu jawabanmu, Naruto."

Naruto tersentak setelah menyadari bahwa jarak Haruto dan dirinya begitu dekat, "Aku tidak mengerti maksudmu."

Baik Haruto maupun Naruto tahu bahwa itu adalah kebohongan.

"Jangan berpura-pura, Naruto," kata Haruto sesabar mungkin. "Aku tahu kau tidak lupa dengan pernyataan cintaku kemarin malam."

Wajah Naruto memerah.

"Itu semua terdengar sangat gila, aku tahu itu. Bagaimana bisa aku memiliki perasaan pada kembaranku sendiri dan lebih parahnya adalah pria. Namun, aku tidak bisa menggentikannya. Semakin hari perasaan ini semakin besar dan menggrogoti akal sehatku."

Naruto memandang nanar pada Haruto. Sama sekali tidak bisa mengenali ekspresi apa yang sedang dibuat oleh kembarannya saat ini.

"Ja-jangan – " Naruto menelan ludah dengan susah payah. " – membual Haruto. A-aku tahu pernyataan cintamu kemarin adalah trik baru untuk mengerjaiku dan itu sama sekali tidak lu—"

"Itu bukan lelucon!" seru Haruto sembari mendorong kasar tubuh Naruto hingga bersentuhan dengan tembok. "Aku sangat serius dengan perkataanku sendiri, Naruto. Aku mencintaimu seperti seorang pria mencintai seorang wanita. Aku benar-benar mencintaimu hingga… hingga aku tidak dapat hidup tanpamu."

Keduanya saling terdiam. Mereka seperti menyalurkan sesuatu lewat kontak mata. Naruto tidak tahu harus menjawab seperti apa. Dia masih bingung dengan perasaannya. Dan terlebih lagi dia merasa takut untuk melalui jalan itu bersama Haruto.

Tiba-tiba suara dering ponsel Naruto menggema di kamarnya. Menyadari seseorang meneleponnya, Naruto segera mendorong Haruto sedikit menjauh dan mengambil ponselnya di atas meja. Wajahnya langsung berseri saat melihat nama yang terlihat di layar ponselnya.

"Halo, Sakura-chan!?"

Melihat ekspresi bahagia yang ditunjukan Naruto saat menyebut nama perempuan itu, membuat darah Haruto mendidih. Dia mengepalkan tangannya erat. Napasnya terdengar memburu. Perasaan cemburu menyelimuti dirinya saat ini.

"Eh? Kau ingin bertemu denganku? Menanyakan sesuatu ap—"

Belum sempat Naruto menyelesaikan perbincangannya dengan Sakura, ponselnya telah terlebih dahulu direbut dan bunyi bam terdengar. Mata Naruto membulat saat menyadari ponselnya telah dilempar Haruto ke tembok.

"A-apa yang kau lakukan, brengsek! Kenapa kau tiba-tiba melakukannya!?" seru Naruto sangat kesal. "Aku sedang berbicara pada Sakura!"

Tanpa menjawab perkataan Naruto, Haruto segera menarik kembarannya dan mendorongnya kasar hingga berbaring di atas kasur.

"O – ouch…" rintih Naruto kesakitan. Dia memberikan tatapan maut pada kembarannya yang saat ini di atasnya. "Sebenarnya apa masalahmu, huh!?"

"Sakura, Sakura, Sakura! Selalu saja Sakura!"

Kedua tangan Naruto dicengkram kuat oleh tangan Haruto. Naruto meronta saat bibir kembarannya menempel pada bibirnya. Haruto yang menyadari bahwa Naruto tidak mau membuka mulutnya, dengan kasar mencengkram rahang Naruto dengan tangannya yang lain dan menggigit kuat bibir kemerahan kembarannya.

"Hnggh!" Naruto mengerang saat merasakan sensasi perih dan sakit yang dia rasakan.

Tidak ingin membuang kesempatan, Haruto segera memasukan lidahnya pada mulut Naruto yang terbuka. Dia menelusuri setiap inchi rongga mulut kembarannya. Hangat dan basah.

"Mm!"

Suara gumanan dan cipakan terdengar saat lidah Naruto dan Haruto beradu. Sesekali Haruto menghisap bibir Naruto dan memberikan gigitan kecil di sana. Setelah beberapa saat, akhirnya Haruto melepaskan ciumannya.

"Hahh… breng—hahh—sek hahh…"

Napas Naruto terengah-engah mencari asupan oksigen. Wajahnya memerah sempurna. Matanya sedikit menutup dengan setitik air mata muncul di ujungnya. Mulutnya terbuka dengan sehelai saliva menempel di dagunya.

"Kau selalu membicarakan perempuan itu tanpa tahu perasaanku, Naruto –"

Haruto beralih pada leher Naruto.

"Berhenti, Haruto! Dammit! Please fucking stop!"

Haruto tidak memperdulikan rasa sakit saat Naruto berkali-kali menjambak rambutnya dengan kasar ketika dia memberikan gigitan dan jilatan pada leher jenjang kembarannya. Seringai puas terbentuk saat melihat beberapa kiss mark muncul di sana. Dengan itu, semua orang tahu Naruto adalah miliknya, seorang.

"Aku lah orang yang sangat mencintaimu, Naruto –" Naruto menahan desahannya saat Haruto mengigit telinganya. "– dan hanya aku yang berhak untuk berada di sisimu."

Celana panjang yang dikenakan Naruto diturunkan oleh Haruto. Tawa kecil terdengar saat Haruto melihat celana dalam kembarannya telah menojol dan basah pada ujungnya. Dengan cekatan dia memberikan pijatan dan kocokan pada kejantanan Naruto agar menegang sempurna.

Naruto mengerang. Dia melihat Haruto ingin melakukan sesuatu padanya setelah ini.

"Ka-kau mau apa?" tanyanya cemas.

Haruto tersenyum kecil, "Kau akan tahu setelah ini, my cute little brother."

Tubuh Naruto tersentak saat merasakan mulut hangat Haruto membungkus kejantanannya. Kepala Haruto terlihat naik turun sembari memberikan jilatan pada kejantanannya. Dengan lihai, dia memberikan gigitan dan remasan pada kantung kejantanan kembarannya.

Naruto mendesah, "He-hentikan, Haruto! Ahhh."

Mengabaikan penolakan Naruto, Haruto yang mulai terangsang segera mengeluarkan kejantanannya dari dalam celana. Dia memberikan blow job pada kejantanan Naruto sembari mengocok kejantanannya sendiri dengan tempo yang sama – cepat namun intens.

"Ahhh – nghhh – mmm – uuuhhh!"

Menyadari bahwa Naruto akan segera mengeluarkan cairannya, Haruto segera menghentikan kegiatannya dan memegang erat kejantanan Naruto yang telah memerah.

"Tunggu sebentar, Naruto," bisiknya dengan suara parau. "Aku belum mau datang."

"Su-sudah hentikan Haruto – mmm –" dia melihat Haruto masih menggerakan tangannya sendiri pada kejantanannya.

Haruto semakin mempercepat tempo tangannya saat melihat Naruto mengerang sembari menggeliat tak nyaman. Benar-benar seksi. Dirasa hampir mencapai klimaksnya, Haruto melepaskan tangan yang berada di kejantanannya dan kejantanan Naruto. Secara bersamaan, kedua kejantanan itu menyemburkan cairan sperma.

"AAAAAH!"

Cairan sperma Haruto membasahi wajah Naruto sementara cairan sperma Naruto membasahi perutnya sendiri.

Jantung Haruto serasa berhenti berdetak saat melihat kembarannya meringkuk dengan tubuh bergetar. Apa yang sudah dilakukannya? Kenapa menjadi seperti ini? Dia tidak menyangka akan melakukan perbuatan yang membuat kembarannya menjadi terlihat rapuh dan tak berdaya seperti ini.

"Na-Naruto," bisiknya lirih.

"JANGAN SENTUH!"

Mendengar perintah Naruto membuat tangan Haruto terhenti. Dia segera menarik tangannya kembali dan menatap nanar pada tubuh yang saat ini membelakanginya.

"Na-Naruto… aku—"

"Pergi."

"Aku – aku minta maaf, Naru—"

"AKU BILANG PERGI, BRENGSEK! AKU TIDAK INGIN MELIHAT WAJAHMU LAGI!"

Perkataan Naruto bagaikan tamparan keras untuk Haruto. Hatinya terasa sakit. Perasaan bersalah yang teramat sangat menyelimuti hatinya. Dia merutuki kebodohannya sendiri yang dengan mudahnya dikuasi oleh rasa cemburu. Dia tahu saat ini Naruto membencinya. Naruto membencinya. Suara isak tangis kembarannya membuat Haruto tak bisa berpikir. Dunianya serasa hancur. Dengan tubuh lemas, dia segera berlari menuju pintu dan meninggalkan Naruto yang masih menangis.

-x-

Setelah merangkai kembali komponen ponselnya yang terlepas, Naruto segera menelepon Sakura dan melanjutkan perbincangan yang sempat tertunda. Dan di sinilah dia sekarang, berada di salah satu restoran cepat saji yang berada di tengah Kota Kyoto. Masih segar dipikirannya bagaimana ekspresi bersalah yang ditunjukan oleh Haruto saat melihatnya pergi dari rumah satu jam yang lalu.

"Maaf lama," kata Sakura dengan membawa burger dan minuman di nampan. "Kau yakin tidak mau makan?"

Naruto tersenyum kecil sembari mengangguk. Insiden dengan Haruto tadi membuatnya tidak napsu makan. Dia masih heran kenapa kembarannya bisa melakukan hal itu padanya, padahal jelas-jelas dia sudah memintanya untuk berhenti.

"Jadi, Sakura-chan. Kau ingin menanyakan apa padaku hingga memanggilku kemari?" tanya Naruto penasaran.

Sakura tersenyum gelisah, "Sebenarnya bukan aku yang ingin bertanya padamu."

Alis Naruto terangkat, "Lalu siapa?"

"Sakura!"

Sakura dan Naruto menoleh ke sumber suara. Mereka melihat Ino berjalan ke arah mereka.

"Hai, Naruto," sapa Ino setelah duduk di samping Sakura. "Sebenarnya aku yang meminta Sakura untuk menyuruhmu datang kemari untuk menanyakan sesuatu."

"O-oh. Jadi, kau ingin bertanya tentang apa?"

Ino tersenyum malu, "Ini mengenai –" dia menarik napas dalam-dalam. Mencoba mengurangi rasa gugupnya. " – Haruto, kembaranmu."

Dahi Naruto mengerut, "Ada apa dengan Haruto?" tanyanya dengan nada tidak suka.

"Aku ingin tahu segala sesuatu tentang Haruto," jelas Ino sembari memainkan rambut pirang panjangnya. "Mulai dari makanan yang dia suka, kepribadiannya, tipe gadis yang dia sukai – oh ngomong-ngomong, Haruto sudah pacar belum, Naruto? Ahh, pasti dia punya ya? Dia kan populer sekali di Tokyo –"

Naruto mengepalkan tangannya, "Langsung saja, Ino. Kenapa kau ingin sekali tahu mengenai kembaranku?"

Firasat buruk Naruto rasakan saat melihat semburat kemerahan muncul di wajah Ino.

"Bukankah sudah jelas, Naruto?" tanya Sakura dengan tawa kecil. "Ino menyukai Haruto."

Mendengar pernyataan Sakura membuat perasaan tidak rela muncul di hati Naruto.

Ino mengatupkan tangannya di depan wajahnya, "Aku mohon, Naruto, tolong beritahu aku semua mengenai Haruto."

"Maaf, tapi aku tidak tahu."

"Eh!? Kan kau kembarannya jadi mestinya kau—"

Naruto menggebrak meja di depannya, "Meskipun begitu tapi itu semua bukan urusanku!" serunya kesal. Dia menyadari semua orang di restoran termasuk Ino dan Sakura memandang terkejut padanya.

"Ma-maaf," katanya sembari menunduk. "Aku tidak bisa membantumu. Permisi," dia segera mengemasi barangnya dan pergi dari tempat itu.

Ino dan Sakura melihat sosok Naruto menghilang dari pandangan sebelum saling pandang.

"Ada apa dengannya, Sakura? Apa aku mengatakan sesuatu yang buruk hingga membuatnya marah?" tanya Ino bingung.

Sakura menaikan bahunya.

-x-

Helaan napas terdengar dari Naruto yang saat ini sedang berjalan di pinggir jalan raya tanpa arah dan tujuan. Meskipun hari telah sore, dia tidak ingin pulang ke rumah dan bertemu dengan Haruto. Saat ini dia merasa seperti orang yang lari dari kenyataan. Dia masih belum mengerti perasaannya sendiri. Apakah benar dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Haruto?

"Naruto?"

Naruto menoleh dan melihat Neji bersama dengan seorang pria berambut merah keluar dari mini market.

"Neji?"

Neji dan temannya pun mengajak Naruto ke taman terdekat.

"Jadi, kau adalah Naruto?" tanya pria berambut merah. "Haruto bercerita banyak tentang mu."

Alis Naruto terangkat – dia tidak mengenali orang ini, "Kau siapa?"

"Ah, maaf. Aku belum memperkenalkan diri. Namaku Sabaku Gaara, manajer Infinity," Gaara membungkuk sekilas.

"Salam kenal, Sabaku-san," jawab Naruto balik membungkuk.

"Panggil saja Gaara."

"A-ah, baiklah Gaara."

"Untukmu," Neji melempar minuman kaleng pada Naruto yang dengan sigap menerimanya. "Jadi, kenapa kau tampak bermasalah hari ini?"

Setelah meminum minumannya, Naruto memberikan senyum lemah pada Gaara dan Neji, "Apakah sangat kelihatan?"

Neji mengangguk, "Karena Haruto?"

"Ba-bagaimana kau bisa tahu?" tanya Naruto terkejut.

"Hanya firasat saja," jawab Neji enteng. "Kau bisa cerita pada kami jika kau mau. Karena ini menyangkut Haruto mungkin saja masalah ini akan berdampak pada pekerjaan nantinya."

Naruto memandang Gaara dan Neji dengan ragu, sebelum berkata, "Ta-tapi kalian jangan memberitahu siapa-siapa, oke?"

Neji dan Gaara mengangguk.

"Dan tolong jangan merasa aneh setelah ini, ya?"

Neji dan Gaara saling memandang sebelum mengangguk kembali.

Naruto menghela napas, "Dia – maksudku, Haruto menyatakan cinta padaku. Dia bilang bahwa dia jatuh cinta padaku."

"Dan jawabanmu?" tanya Gaara datar.

"Aku belum memberikan jawaban. Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri. Dan lagi, tadi pagi dia…" Naruto menghentikan perkataannya – tidak mampu melanjutkannya.

Alis Neji terangkat, "Apa yang Haruto lakukan padamu?"

"Ha-Haruto tiba-tiba saja menciumku dan memberikan –" Naruto menelan ludah dengan susah payah. " – b-b-blow job," wajahnya memerah.

"Lalu reaksimu?" tanya Neji penasaran.

"Tentu saja aku ketakutan! Aku berkali-kali meronta dan memintanya untuk berhenti tapi dia tetap melakukanya," jawab Naruto lirih. "Eh, tunggu! Kenapa kau tidak terkejut sama sekali?"

"Bukannya saat ini aku terlihat terkejut?" Gaara masih memasang tampang datarnya.

"Be-benarkah?" Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku kira kau tidak panik karena juga pernah mengalami hal yang sama denganku sebelumnya, maksudku, ditembak oleh laki-laki."

"Walaupun tampang anak ini terlihat bodoh, tapi instingnya tajam," bisik Gaara pada Neji. Neji terkekeh kecil mendengarnya.

Mata Naruto menyipit, "Kenapa kalian bisik-bisik?" tanyanya curiga.

"Tidak," kata Neji. "Sebenarnya yang menjadi masalah disini adalah kau juga mencintai Haruto atau tidak, Naruto?"

"A-aku tidak tahu. Aku sangat bingung. Meskipun Haruto sering jahil kepadaku tapi aku selalu merasa nyaman. Setiap di dekatnya aku merasa terlindungi dan jantungku sering berdebar karenanya," Naruto menghentikan perkataannya sejenak. "Entah kenapa juga, aku selalu merasa tidak suka jika ada orang lain yang terlalu dekat atau bahkan menyukai Haruto. Hal itu seperti membuatku marah."

Neji menghela napas, "Itu artinya kau juga mencintai Haruto," katanya tegas.

Mata Naruto melebar, "A-aku cinta Haruto?" ulangnya. "Ta-tapi kami—"

"Sesama pria? Kembar?" potong Gaara. Naruto mengangguk membenarkan. "Jika kau benar-benar mencintai seseorang seharusnya kau tidak ragu dengan pilihanmu. Tidak peduli bahwa orang yang kau cintai adalah bergender sama, kau harus tetap memperjuangkannya. Bersama kalian bisa melaluinya. Hiraukan semua tanggapan orang tentang hubungan kalian kelak. Satu hal yang harus kau pegang adalah – " dia menghentikan perkataannya sejenak. " – kau tidak akan bisa hidup tanpa dirinya."

Benar. Perkataan Gaara benar. Perkataan Gaara seolah menjawab seluruh keraguannya. Saat ini dia tahu. Saat ini Naruto sadar bahwa dia juga– juga sangat mencintai Haruto. Ketakutannya untuk keluar dari zona aman malah membuat kembarannya terluka.

Naruto mengambil ponselnya yang tiba-tiba berdering. Dia melihat nama 'Ibu' tertera di layar ponsel. Pasti ibunya menelepon untuk memarahinya dan menyuruhnya untuk segera pulang.

"Halo, bu? Ada apa menelepon?"

["Kau ini pergi kemana, huh!?"]

Naruto mendengus, "Aku sedang main keluar, bu. Sebentar lagi aku pulang."

Terdengar Kushina menghela napas, ["Kau ini benar-benar! Kembaranmu mau kembali ke Tokyo, kau malah asyik bermain!"]

Hati Naruto mencelos, "Ha?" tanyanya tidak percaya. "Ha-Haruto kembali ke Tokyo?"

-x-

To Be Continued

-x-

Terimakasih karena telah menunggu. Maaf jika Naruto kesannya 'penakut' gitu, karena dia sendiri adalah straight jadi kalau mau berubah orientasi tidak akan semudah itu dan pasti setiap orang yang mengalaminya akan merasa takut dan bingung. *tawa setan*

Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Mohon direview.