Naruto melakukan salah satu gerakan kuda-kuda untuk bela diri Taekwondo, yakni Dwit Koobi. Kuda-kuda dengan membuka kedua kaki di mana kaki belakang posisinya harus ke arah samping dengan kaki depan berposisi lurus saja ke depan. Tumpuan berat tubuh pastikan diberikan pada bagian kaki belakang dengan kaki ditekuk agar lebih maksimal dalam posisi kuda-kuda ini.

"Kau seorang yang berbakat di pertarungan tangan kosong ya, Naruto-Junior. Melawanmu membuat hatiku menjadi terbakar api semangat." Pein memberikan senyuman sportif, Naruto membalas senyuman tersebut.

"Kau juga, Pein…"

Pertarungan itu terus berlanjut

Icha and Michi-san Present:

The Girl with One Hope

.

.

.

Naruto dan Highschool DxD bukan milik saya, keduanya adalah karya besar dari Masashi dan Ichibumi

Rate: M

Genre: Adventure, Fantasy, Drama, Romance

Warn: Latar Original. Lolicon (maybe), Chapter ini berisi kata-kata Kasar

Naruto (16) x Hinata (10), Lolicon khan?

.

.

.

Poveglia Magic Academy's 4

Taekwondo memiliki teknik khas bela diri yang menyeluruh dari pukulan dan tendangan, serta pertahanan dengan tangan. Namun secara umum, Taekwondo tidak berfokus pada pergulatan. Taekwondo memiliki makna dari tiga kata, yakni Tae berarti menghancurkan dengan kaki, Kwon memiliki makna tinju dan Do berarti seni atau jalan.

Naruto yang sudah siap dengan Kuda-kuda Dwit Koobi-nya bersiap menunggu respon dari Pein. Jika Ketua Akatsukers itu menyerang, maka Naruto akan melakukan tendangan cepat. Tetapi jika ia menyerang duluan, maka ia harus melakukan pukulan sebelum melakukan tendangan khas Taekowondo.

"Benar-benar siswa yang penuh kejutan, hm. Kau pasti tidak menyangka anak baru itu memiliki tiga seni bela diri, Hidan-senpai."

"Diam, Deidara…" Hidan kesal karena mendengar Deidara memuji lawan Ketua mereka "Sebanyak apapun teknik bela diri kuning brengsek itu, Pein tetap akan mengalahkannya. Pein…"

Pein melesat maju. Naruto menegakkan kuda-kudanya. Ternyata Pein mengambil langkah untuk menyerang duluan.

"Pein memiliki kekuatan tinju dan tendangan yang dapat menghancurkan batu. Bahkan jedotan kepalanya bisa meruntuhkan sebuah tiang. Walaupun gaya bertarungnya tidak berseni, dengan kata lain ia memakai gaya bertarung bebas…" Hidan menyeringai "Kekuatan dan Ketahanan Pein tetap yang nomor satu!"

Naruto melakukan tendangan ke arah belakang sambil lututnya diangkat, ketika Pein beberapa langkah lagi mendekatinya, Naruto menyentakkan kakinya ke arah belakang. Ini adalah Tendangan Dwi Chagi. Anggota Chasseurs itu menargetkan perut Pein menjadi sasaran tendangannya.

Tak! Suara itu terdengar ketika punggung lengan kiri Pein menahan tendangan Dwi Chagi Naruto. Naruto sendiri merasakan kaki kanannya seperti menendang batu. Saat Pein ingin menghantam betis kanan Naruto dengan sikut tangan kanan, Naruto segera menarik kakinya dan melakukan tendangan Dolke Chagi, yakni tendangan memutar tubuh 360 derajat yang biasa disebut tendangan tornado.

Kepala Pein terkena tendangan tersebut. Namun Pein tetap tak bergeming. Naruto melompat, melakukan tendangan ganda ke samping dengan kedua kakinya. Tendangan itu adalah tendangan Narae Chagi. Tendangan ganda itu mengenai dada Pein dan membuat Ketua Akatsukers itu mundur tiga langkah.

Naruto berpijak di tanah dengan kaki kiri tertekuk dan kaki kanan terbuka lurus ke samping. Matanya menajam. Pein mengangkat wajahnya dan memasang wajah datar tanpa kesakitan. Ada bekas tendangan di pipi kiri Pein akibat tendangan tornado Naruto tadi, tetapi lelaki itu tidak menampakkan ekspresi apapun.

"Teknik Taekwondo-mu berkelas…cukup kuat, namun aku belum merasakan," Pein berlari ke arah Naruto "Kesakitan!"

Pein kembali membabi buta menyerang Naruto. Satu-satunya pilihan Naruto adalah menghindari serangan Pein atau akan fatal akibatnya walaupun serangan Pein mengenainya sekali. Anggota Chasseurs itu terus mundur ke belakang, hingga dia melompat di atas dinding kolam. Pein menerjang dindng kolam tersebut dan Naruto terjatuh ke dalam kolam. Dinding kolam yang ditendang Pein runtuh. Air kembali tersembur keluar. Tanah di sekitar kolam mancur tersebut basah.

'Serangan Taekwondo juga tidak berguna. Padahal dia telah menerima pukulan halus dari Tai Chi dan tendangan satu arah Taekwondo. Orang ini…' Naruto sengaja menenggelamkan dirinya di dalam air kolam. Ia berpikir tentang cara mengalahkan Pein. Dua kali tekniknya menumbangkan Pein, tetapi dalam hitungan kedua, lelaki itu langsung bangkit tegak.

Aku akan mencoba Muay Thai! Anggota Chasseurs itu bakal mengejutkan para penonton kembali… Naruto memejamkan matanya, memusatkan kekuatan pada 8 tungkainya. Muay Thai dikenal juga dengan Ilmu Delapan Tungkai karena semua teknik gerakannya berawal dari kekuatan delapan titik kontak. Jadi untuk melakukan seni bela diri ini, penggunaan energi harus ekstra.

Suara Byarr air karena Naruto melompat dari dalam kolam membuat semua penonton terkejut. Naruto melompat tinggi di depan Pein sambil menegakkan lengan kanannya ke atas. Ia akan melakukan sikutan, teknik khas dari Muay Thai. Sikutan yang Naruto lakukan bukan elbow biasa, tetapi Flying Smashing Elbow, gerakan smash dilakukan sambil melompat sehingga teknik ini berkekuatan tinggi.

"MUAY THAI JUGA?!" teriak Hidan terkaget-kaget. Dirinya langsung tahu serangan yang Naruto lakukan adalah teknik Elbow Muay Thai. Empat seni bela diri…yang benar saja, bukan siswa biasa jika menguasai empat seni bela diri. Uzumaki Naruto pasti pernah berada di camp pelatihan. Entah camp pelatihan apa…

Flying Smash Elbow tangan kanan Naruto menghantam bahu kiri Pein. Sebenarnya Naruto menargetkan batok kepala Ketua Akatsukers tersebut, namun Pein menggeser kepalanya sehingga hanya bahu saja yang terkena. 'Belum cukup!' ucap Naruto di dalam hatinya dengan mata melebar sangar.

Duakh! Kini sikutan horizontal tangan kiri Naruto mengenai pipi kiri Pein. Tidak hanya satu sikutan, Naruto berulang-ulang menghantam wajah Pein dengan horizontal elbow tangan kirinya, sementara sikut tangan kanannya terus menekan tubuh Pein ke bawah. Kedua kaki Pein tertekuk. Semua yang menonton pertarungan tersebut ternganga, benar-benar membuat jantung mereka berdebar.

'A-ayo Naruto-kun…' batin Hinata di dalam hatinya. Tetapi yang ia takuti adalah wajah non-ekspresi Pein ketika menerima horizontal elbow Naruto berkali-kali. Wajah itu seperti tidak merasakan sakit. Pein seperti tidak memiliki ujung saraf tanpa selaput. Ujung saraf tanpa selaput merupakan ujung saraf perasa nyeri/sakit di lapisan dermis kulit manusia.

"Hyaah…" Naruto menghentikan sikutan horizontal-nya dan melompat turun. Pein yang berada dalam posisi kedua lutut sebagai tumpuan langsung dihantam wajahnya dengan Hook Knee kaki kiri Naruto. Hook Knee adalah teknik memukul hook memakai lutut. Ketua Akatsukers itu terpental ke belakang, terseret beberapa meter dan terlentang di atas tanah. semuanya berbisik-bisik kaget. Ada yang tak percaya dengan kemampuan bela diri Naruto, ada yang tak percaya Pein jatuh tiga kali dan ada yang menganggap bahwa Naruto sudah menang.

Naruto menutup mata kanannya. Lutut kirinya terasa sakit setelah menghantam wajah Pein dengan teknik Hook Knee. Ia rasa sudah cukup bagi Pein untuk melakukan kejutan.

"Satu…Dua…"

Pein berdiri kembali, bak monster. Berdiri seperti Undertaker dan Kane di ajang WWF. Bekas pukulan dan hantaman di wajahnya tidak berarti apapun bagi Pein. Semua yang ada di sana menahan napas. Pein cocok dengan julukan Pilar-nya.

'Bagaimana…' Naruto memandang ke arah Shion 'Gadis itu mengalahkan Pein?!'

"Ow…dia benar-benar monster. Lihat…tatapan matanya tidak mengartikan apapun. Dia seperti orang yang baru memulai pertarungan, tidak ada rasa sakit dan lelah di sana." Rias memandang ke arah Naruto "Bagaimana caramu menyelesaikan ini, Uzumaki-kun?"

"Huahahahaha!" akhirnya Hidan tertawa terbahak-bahak "Lihat anak baru anjing jahanam, ketua kami bukanlah orang sembarangan. Dia pernah ditabrak sebuah truk di jalan Kota Poveglia dan truk-nya yang penyok. Huahahaha, kau telah berani menantang manusia besi Akatsukers!"

'Be-benarkah…?' Deidara baru mendengar cerita tentang Pein yang ditabrak truk. Itu seperti The Power of SetNov. Tetapi Ketua-nya benar-benar mengerikan. Dei dapat melihat wajah kebingungan dari Naruto. Tentu saja, jika orang biasa terkena hantaman Muay Thai tadi pasti sudah pingsan. Naruto pasti bingung karena Pein sepertinya tidak merasakan apapun. Tidak ada dampak buruk apapun dari serangan Naruto terhadap Pein.

'Ini sepertinya akan lama…' A-sensei memandang kedua petarung itu 'Di satu sisi, Pein memiliki kekuatan dan ketahanan tubuh yang luar biasa hebat. Di sisi lainnya,' mata A-sensei berfokus kepada Naruto 'Uzumaki Naruto memiliki gaya bertarung yang luar biasa cantiknya. Menguasai berbagai seni bela diri…hal itu yang membuatnya mampu mengimbangi Pein.'

"Keluarkan lagi semua kemampuanmu, Uzumaki Naruto…" Pein mengelap sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya "Buat aku senang. Buat Dewa senang!" Pein melesat maju dan melakukan terjangan yang mengerikan. Naruto melompat ke samping. Dia segera melakukan kuda-kuda dan menyerang Pein dengan pukulan Jab biasa. Pein mengelak tinjuan-tinjuan tersebut. Dari bawah dagunya, tangan kiri Naruto melakukan pukulan Upper cut.

Tap! Telapak tangan Pein menahan pukulan dari bawah dagu tersebut. Mata Naruto melebar. Pein bisa saja mematahkan tangannya!

"Heaaah!" Naruto melakukan Low Kick di kedua lutut Pein dengan cepat. Kaki kiri Pein bergetar dan jatuh sehingga Pein berdiri dengan lutut kiri sebagai tumpuan dan kaki kanan tertekuk. Dengan cepat, Naruto memutar sedikit tubuhnya ke kanan dan melakukan Circle Knee. Circle knee sama dengan gerakan Hook knee, hanya saja karena ada gaya putaran membuat kekuatan circle knee jauh lebih kuat.

Suara Buagh! Mengiringi hantaman lutut kanan Naruto yang mengenai pipi kiri Pein. Ketua Akatsukers itu tidak bergeming. Tangan kiri Naruto masih digenggam tangan kanan Pein.

"Berbahaya…" ucap Kiba "…Jika tidak cepat melepasnya, tangan Naruto-kun bisa dipatahkan Pein."

Asia menutup matanya. Ditambah kata-kata Kiba, ia tak mau melihat lengan kiri Naruto dipelintir oleh Pein.

Di gerombolan OSIS, Sona hanya membenarkan letak kacamatanya ketika Saji dan Tsubaki masih berdebat tentang pertarungan tersebut. Napas Sona sedikit berat karena ketegangan yang muncul dari pertarungan di depannya. Jantungnya berdebar seiring semakin ganasnya Naruto dan Pein bertarung.

'Naruto-kun…' Hinata menggigit bibir bawahnya. Dia berdoa. Dia terus berdoa…

Akan kucoba dengan teknik Wu Shu! Mata Naruto menajam. Dengan tangan kanan dan kedua kakinya, Naruto melakukan Jurus Tangan Kosong: Taiji Quan, 42 Jurus. Hantaman-hantaman mengenai Pein oleh tangan kanan dan kedua kaki Naruto untuk melepas genggaman Pein terhadap tangan kiri Naruto. Pein tidak bergeming.

Naruto menarik napasnya. Dia meningkatkan tekniknya "Jurus Tangan Kosong: Chang Quan, 62 Jurus!"

Buagh bugh Bagh Bugh Dakh! Tak perlu dijelaskan seberapa banyak Naruto menghantam Pein dengan anggota tubuhnya, Pein tetap memasang wajah datar. Bahkan ketika darah sudah mengalir dari lubang hidung kiri dan sudut bibir.

'Mo-monster seperti apa dia…?' batin Hinata ketakutan. Pein seperti patung yang kuat. Naruto seperti seseorang yang meninju sebuah benda mati. Tak ada ekspresi sedikitpun yang tercetak di wajah bertindik Pein.

"Masih belum kuat…" Pein mulai memelintir tangan kiri Naruto "…Uzumaki Naruto-Junior."

"Khhh…" Naruto merasakan sakit di lengan kirinya. Sementara para siswa-siswi terkaget-kaget karena Naruto juga menunjukkan penguasaan bela diri Wu Shu. Naruto telah membuat kejutan kepada siswa-siswi Akademi Magic Poveglia.

'Kalau begini…' Naruto memposisikan kaki kanannya tertekuk ke depan, lalu kaki kirinya diluruskan di belakang kaki kanan. Dengan melakukan tumpuan ke depan, anggota Chasseurs itu telah melakukan Kuda-Kuda Depan dari bela diri Pencak Silat.

Naruto menggeram pelan. Dia sudah memfokuskan tenaganya pada telapak kaki kirinya. Dengan hentkan telapak kaki kiri, Naruto melakukan Tendangan T dalam teknik bela diri Pencak Silat. Tendangan itu mengenai dada Pein, tetapi Ketua Akatsukers itu tidak bergeming.

'Cara menendang yang berbeda…' batin Pein. Dia sudah menerka-nerka, Uzumaki Naruto menunjukkan teknik bela diri yang berbeda lagi.

"Rasakan ini!" Naruto melakukan Tendangan T kembali. Dada Pein menjadi sasaran, tetapi lelaki bersurai jingga itu tetap tidak bergeming.

"Hyaaah!" Naruto melakukan Tendangan T berkali-kali ke dada Pein, tetapi tidak membuahkan hasil. Di pihak penonton, Hidan ternganga. Tidak salah lagi…tidak salah lagi…

"Itu adalah Teknik Pencak Silat." Gumam Hidan dengan suara bergetar. Deidara terkejut mendengar kata-kata dari senpai-nya. Benar-benar di luar nalar. Uzumaki Naruto menguasai 5 seni bela diri yang berbeda.

"Menakjubkan." Gumam Koneko sambil mengunyah keripik kentangnya "Buchou, jika dia dijadikan budakmu, maka dia sendiri bisa melindungimu."

Rias menganggukkan kepala, tetapi matanya telah fokus kepada Naruto. Benar-benar hebat. Tanpa tongkat sihirpun, Naruto bisa menjaga dirinya.

'Jika tidak bisa…' Naruto melompat, membuat semua yang menonton terkejut dengan gerakan Naruto. Anggota Chasseurs itu menendang bahu kanan Pein (sambil melompat ke atas) lalu menjepit dada Pein seperti gunting dan menjatuhkannya ke bawah. Mereka berdua berguling-guling di tanah hingga genggaman Pein di tangan kiri Naruto lepas.

"Itu adalah teknik menggunting dalam Pencak Silat. Luar biasa indahnya…" puji Saji tulus. Tsubaki membenarkan letak kacamatanya. Anak baru itu benar-benar kuat. Mampu mengimbangi Pein hingga saat ini adalah prestasi yang luar biasa.

Apa akan terjadi kejadian Shion kedua? Akankah Empat Pilar menjadi Lima Pilar?

'…Teknik Menggunting yang baik,' Naruto berdiri terengah-engah. Dia berhasil melepaskan tangan kirinya dari resiko terpelintir tenaga monster Pein. Ketika dia mengangkat kepalanya ke atas, Pein telah berada di depannya sambil melompat dan mengarahkan tinjuan ke wajah Naruto. Kelopak mata Naruto terbuka kaget.

'Tidak akan sempat menghindar!' Naruto menegakkan lengan kirinya di depan wajah. Ketika itu tinjuan Pein menghantam lengan kiri Naruto dengan keras. Semua yang ada di sana terkejut ketika melihat ada perubahan di lengan kiri Naruto. Hinata sampai-sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Kreek…itulah suara yang Naruto dengar ketika tulang hasta-nya patah. Tubuhnya sendiri terpental beberapa meter dan jatuh berdebum ke tanah.

"Game Over…" ucap Tsubaki. Uzumaki Naruto telah merasakan pukulan dahsyat dari Pein. Bahkan menahan dengan lengan kirinya tadi adalah keputusan yang buruk. Saji terdiam. Dia sendiri tak menyangka Pein melakukan pergerakan cepat untuk menyerang Naruto sehingga anak baru itu tidak sempat menghindar. Satu-satunya pilihan memang menahan pukulan tadi. Jika pukulan Pein langsung mengenai wajah Naruto, bisa dipastikan anggota Chasseurs itu akan menerima cidera yang lebih parah dan fatal.

Sona memandang Rias sambil membenarkan letak kacamatanya lagi. Ia dapat melihat ekspresi khawatir dari sahabat bersurai merahnya itu. Bisa dilihat jelas, Rias memiliki rasa pada pemuda pirang tersebut. Matanya memandang ke arah Pilar Penyendiri, Shion-sama…Shion menampilkan wajah non-ekspresi yang misterius. Sona tidak tahu, apa maksud dukungan Shion dengan puisinya di awal tadi. Lalu…apa dia juga mendukung Uzumaki Naruto untuk menjadi salah satu Pilar?

Satu

Suara dari mantera Notificacio bergema. Mulai menghitung ketika salah satu dari petarung terjatuh di tanah. Hidan di kelompok Akatsukers tertawa terbahak-bahak. Dia percaya Ketuanya akan menang.

Dua

Hinata memejamkan matanya. Naruto tidak mungkin kalah. Uzumaki Naruto adalah seorang Multitalent. Uzumaki Naruto mampu mengalahkan semua warga Desa Konoha. Uzumaki Naruto mampu menyelamatkan dirinya saat di Aleppo City.

Dan dia, Naruto, adalah anggota Chasseurs dari Vaexjoe!

Tiga

Empat

Lima

"Bangun…" Hinata membuka matanya dan memandang tubuh Naruto yang berdiri tegak, walaupun dengan kaki bergetar "Bangun dan bertarunglah, Naruto-kun!"

Suara penyemangat Hinata yang terlalu kecil tentu tidak terdengar oleh Naruto. Tetapi anggota Chasseurs itu sempat-sempatnya memandang Hinata. Dia tahu, gadis Hyuuga itu mendukungnya. Baru kali ini Naruto melihat kedua alis itu tertekuk ke bawah dan wajah manis itu mengeras. Hinata memandangnya dengan tatapan jangan menyerah kuning bego, aku akan selalu mendukungmu!

"Heh…" Naruto tersenyum. Dia memandang lengan kirinya yang terjuntai ke bawah. Tangan itu benar-benar tidak bisa digerakkan karena patah. Mata biru Naruto menajam. Dengan senyuman cool yang keren dan tatapan tajam tak gentar, Naruto berbicara santai kepada Pein.

"Kau adalah orang kedua yang membuatku mengeluarkan 5 teknik bela diri dalam satu pertarungan, Pein. Itu menandakan kau adalah orang yang kuat."

"Aku tersanjung." Ucap Pein datar "Tetapi itu adalah hal yang pantas untuk Dewa sepertiku. Kau yang mampu bertarung denganku lebih dari 5 menit adalah suatu kejutan. Kau juga sangat kuat, Naruto-Junior."

Saling memuji dan mawas diri, keduanya sama-sama membuat lawan mereka bangga atas hasil yang dicapai. Tetapi Naruto telah memutuskan untuk tidak menyerah. Walaupun harus menunjukkan Silent Technique-nya, teknik seni bela diri keenamnya, Naruto tidak peduli. Dengan kecepatan tinggi dan langkah tanpa suara, anggota Chasseurs itu sudah berada di belakang Pein.

"CEPATNYA!" terial Hidan. Deidara melotot. Itu bukan teknik Pencak Silat lagi, itu adalah teknik bela diri yang lainnya!

"Tanpa suara…" Pein memandang ke belakang "Kau bahkan menguasai kemampuan bela diri para Ninja? Kau sebenarnya siapa…Uzumaki Naruto?"

Pein melesatkan pukulan samping ke belakang tangan kanannya. Naruto melesat di antara dua selangkangan Pein dan berdiri di hadapan Ketua Akatsukers tersebut. Tanpa suara, Naruto menghantam dada Pein dengan telapak tangan kanannya. Tanpa berhenti, anggota Chasseurs itu terus memukul dada Pein. Ketua Akatsukers itu terus mundur ke belakang, tetapi wajah Pein tetap datar. Benar-benar monster mati rasa yang gregetan.

Hinata berpikir keras. Apa ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menolong Naruto memenangkan pertarungan ini? Sesuatu yang bisa ia teriakkan agar Naruto mempunyai ide untuk mengalahkan manusia besi-baja seperti Pein. Apa…Hinata terdiam. Dia teringat kata-kata Hiruzen saat kakek tua itu membantunya menanam jagung.

"Mau beribu kali kau menanam, jagung itu tidak akan tumbuh jika caranya tidak tepat. Lakukan saja yang penting-penting, Hinata-chan. Maka pertama, kau akan menghemat energimu. Kedua, kau akan tahu sesuatu yang efektif untuk menanam jagung."

Ketepatan…keefektifan…Hinata menghembuskan napasnya. Membuang dinding pemalunya, gadis manis itu berteriak, mengagetkan penonton di sekitarnya. Dengan wajah memerah yang imut, Hinata meneriakkan sesuatu yang akan membantu Naruto.

"NARUTO-KUN, SERANG DENGAN EFEKTIF DAN TEPAAAAT!" Hinata terengah-engah, dia tidak tahu apakah teriakan itu membantu. Tetapi di dalam lubuk hatinya ada rasa senang yang tinggi "JANGAN SAMPAI KALAAAA~H!" teriakan Hinata terdengar parau. Jantungnya sudah mau meledak karena malu. Badan Hinata panas, tetapi dia benar-benar senang. Apalagi Naruto menoleh ke arahnya.

Mata Amethyst bertemu iris biru beberapa detik. Ketika mata biru itu berkedip, Naruto langsung mengubah kuda-kudanya.

"Heee? Hinata-chan mulai berani juga ya…" gumam Rias sambil tersenyum simpul. Dia memandang Sona yang menggosok-gosok wajahnya. Sona pasti tidak terima Hinata yang imut menyemangati cowok bermarga Uzumaki itu. Tetapi Rias senang. Apalagi Naruto sepertinya mendapatkan pencerahan.

"Perubahan kuda-kuda?" Akeno menutup mulutnya "Ara ara…kok aku semakin berdebar menonton ini ya?"

Benar. Naruto merefleksikan serangannya terhadap Pein. Serangan itu memang brutal dan terus-menerus dilakukan, tetapi Naruto hanya mengenai dagu, pipi, dada dan perut Pein. Tidak spesifik ke titik lemah manusia. Keefektifan dan ketepatan. Dua hal penting itulah yang ia lupakan.

Naruto memutuskan akan menggunakan 6 seni bela dirinya sekaligus! Hal yang tak pernah ia lakukan dalam suatu pertarungan. Dia akan melakukan pergantian 6 seni bela diri saat menyerang Pein, itu akan ia lakukan dengan cepat dan menyerang titik vital Pein hingga manusia baja itu tak berkutik.

'Auranya berubah…' batin Pein waspada. Saat itu Naruto melakukan standing meditation singkat dan mulai melakukan serangan bela diri Tai Chi.

"Tai Chi kembali ya…" gumam Hidan "Tetapi tidak ada gunanya. Tadi kau sudah menggunakan Tai Chi dan itu tidak berdampak apapun terhadap Pein…" Hidan menyeringai "Sudah tidak punya variasi bela diri lagi hm? hehehehe…kuharap kau bisa mengeluarkan Judo, Kendo, Karate maupun Jujitsu…ternyata kau hanya memiliki 6 kemampuan seni bela diri, anak baru…"

"Tetapi itu sudah sangat hebat, Hidan-senpai." Kata Deidara realistis "Bahkan pengomentar sepertimu hanya punya satu teknik bela diri saja…" Deidara memasang wajah sweatdropped. Urat-urat kemarahan muncul di kening Hidan.

"DIAM DEIDARA!" teriak Hidan kesal.

Naruto menekuk kaki kanannya dan meluruskan kaki kirinya sejajar tanah. Tingginya sekarang sejajar dengan perut Pein. Naruto meluruskan tangan kanannya ke depan, lalu menaikkannya dengan cepat ke atas. Itu adalah gerakan Snake Creeps Down/Ular menyelinap ke Bawah. Telapak tangan kanan Naruto menghantam biji kelamin Pein. Mata Pein melebar. Sepanjang pertarungan yang pernah ia lakoni, baru kali ini ada yang pernah menghantam titik kejantanannya.

Tetapi Pein tetap memasang wajah datar. Semua penonton terkesima. Pein itu manusia atau benda mati…?

Kiba memasang wajah tak nyaman. Bukan hanya Kiba, tetapi semua penonton cowok di sana. Mereka dapat merasakan ngilu ketika membayangkan biji mereka dihantam seperti tadi.

"Salah besar kau menggunakan Tai Chi kepadaku Naruto-Juni-" mata Pein melebar. Naruto berdiri, lalu menggunakan Tai Chi Gaya Wu. Gaya Wu memiliki gerakan mikoskropik, yakni gerakan yang fokus pada aliran kuat energi dan gerakan dalam yang bertekanan. Gerakannya memang lambat dan tenang, tetapi sekali pukul, maka dampaknya akan terasa.

Dagh! Duakh! Tidak seperti tadi, pukulan-pukulan Naruto mengarah ke ulu hati Pein dan jakunnya. Pein sendiri mulai mengernyit karena pukulan Tai Chi Naruto sedikit menembus dinding baja non-sakitnya.

Tetapi itu akan menjadi bumerang bagimu, Naruto-Junior. Tai Chi Gaya Wu sangatlah lambat… Pein mengepalkan tangan kirinya "Sehingga aku bisa dengan mudah meninjumuu-"

Suara Duakhh! Yang keras terdengar ketika Naruto menghantam junior Pein dengan tendangan Dwi Chagi. Walaupun tidak menampilkan ekspresi kesakitan, tubuh Pein sedikit terbungkuk. Bagian leher belakang/tengkuk Pein bebas tanpa pertahanan.

"Hyaaah!" setelah dari Taekwondo, Naruto mengubah gaya bertarungnya menjadi Muay Thai. Dia melakukan Smashing Elbow ke tengkuk Pein. Mata Pein melebar. Dia langsung bangkit dan memegang lengan kanan Naruto yang melakukan elbow. Kaki Naruto bergerak melakukan Tendangan A Pencak Silat. Tendangan A adalah tendangan lurus ke depan menggunakan cocor kaki yang mengarah ke ulu hati. Mata Pein kembali melebar, genggamannya di tangan kanan Naruto melemah.

"Heaaah!" Naruto dengan cepat melakukan Tendangan A ke ulu hati Pein, Tendangan C atau Sabit ke rusuk kiri Pein, Tendangan T ke dada, dan terakhir Tendangan Melingkar ke pinggang kanan Pein. Pegangan Pein di tangan kanan Naruto semakin melemah. Naruto menyentakkan tangan kanannya dan berhasil membebaskannya.

"Pein mulai kesakitan…" gumam Sona, membuat Tsubaki dan Saji terkaget.

"Pein…Pein si manusia besi itu?" Saji menoleh kembali ke pertarungan "Jadi Pein bisa juga merasakan kesakitan ya…Apa anak baru itu telah membongkar triknya?"

"Bukan trik, tetapi Uzumaki Naruto terus melakukan serangan-serangan kepada Pein. Namun serangan itu berbeda dari serangan sebelum tangan kiri Uzumaki Naruto patah, serangan itu mengarah ke titik vital Pein dan dikombinasikan dengan 6 serangan bela diri yang berbeda." Mata Sona melebar. Naruto berputar cepat dan melakukan semua serangan Wu Shu-nya terhadap Pein dari belakang.

Mata Pein melebar. Dia merasakan hawa panas menerpa punggungnya.

"Jurus Tangan Kosong: Chang Quan: 62 Jurus!" Naruto melakukan serangan Wu Shu teknik Chang Quan. Teknik yang memiliki karakter menyerang, mantap serta loncatannya yang tinggi. Pukulan terakhir Naruto di tengkuk Pein membuat Ketua Akatsukers itu terjungkal dan jatuh tertelungkup di tanah taman.

"Pein jatuh untuk keempat kalinya!"

"Apa anak baru itu benar-benar bisa mengalahkan Pilar dengan fisik terkuat?!"

Suara heboh dari penonton mengiringi pertarungan yang semakin memanas. Ketika suara mulai menghitung dari Satu…semuanya terdiam menahan napas.

Satu…

Dua…

Tiga…

"WAAAAAAAH! MELEBIHI HITUNGAN KEDUAAA! PEIN BELUM BANGKIIIIT!"

Empat…

Pein berdiri dengan wajah datar. Tetapi matanya berubah. Dia memandang Naruto dengan serius.

"Walaupun tangan kirinya patah, Uzumaki Naruto bahkan mulai membuat Pein kerepotan." Gumam Saji "Heh…benar-benar pertarungan yang seru."

"Masih belum!" Naruto maju dan melakukan serangan Muay Thai. Dia melakukan pukulan Jab, Hook dan Upper Cut. Semuanya dilakukan dengan tangan kanan saja! Pein menghindarinya dengan mudah. Saat kepalanya menyamping ke kanan menghindari tinjuan Hook tangan kanan Naruto. Kaki Naruto melakukan High Kick ke kepala Pein. Ketua Akatsukers itu mundur dua langkah walaupun tak bergeming, Naruto melompat dan melakukan Circle Knee ke pipi kiri Pein. Berpijak di tanah sebentar, sambil melompat anggota Chasseurs itu menghantam dagu Pein dengan gerakan Upper Cut Knee-nya. Tubuh Pein sedikit terangkat ke atas, tanpa pertahanan, Naruto langsung menyerang Pein dengan Tai Chi Gaya Wu, dilanjutkan dengan Tai Chi gaya Chen yang cepat dan beralih ke Tai Chi gaya Yang yang stabil. Tiga gaya Tai Chi langsung Naruto keluarkan untuk menumbangkan Pein. Ketua Akatsukers itu jatuh berlutut. Naruto memegang kepala Pein dengan tangan kanannya dan menghantam wajah lelaki bertindik itu menggunakan lututnya. Serangan tadi adalah Hook Knee Muay Thai.

Pein jatuh terlentang ke tanah dengan kaki yang masih tertekuk dan kedua tangan terbuka lebar. Suara Notificacio kembali berhitung.

Satu…

Dua…

Tiga…

A-sensei memandang tajam Pein. Apakah serangan bertubi-tubi Naruto dapat mengalahkan Pilar dari Human Magic tersebut.

Empat…

Lima…

Enam…

Pein bangkit segera. Matanya menyalang. Dia maju melompat ke arah Naruto dan menghantam tanah yang bekas dipijak Naruto hingga hancur berantakan. Naruto melompat ke atas untuk menghindar. Saat ia berpijak beberapa langkah di depan Pein, lengan kirinya terasa sangat sakit. Naruto tidak bisa berlama-lama…tenaganya akan habis jika ia terus bertarung seperti ini.

"Naruto-Junior, kau benar-benar membakar semangatkuuu!" Pein dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya berlari kencang ke arah Naruto dengan tangan kanan terkepal kuat. Naruto melakukan kuda-kuda Taekwondo Ap Koobi, kuda-kuda langkah panjang dengan kaki melebar sebahu dan menurunkan kaki depan sambil menahan berat badan. Saat tangan kanan Pein melesat, Naruto mengelak ke samping kiri, berputar, dan berada di belakang Pein. Dia langsung memusatkan tenaganya pada kaki kiri.

"Gheeah!" Pein berputar dan menarik tangan kirinya ke belakang, akan menghantam Naruto dengan pukulan tangan kiri. BUAGH! Pisau kaki kiri Naruto menghantam jakun Pein. Naruto menggunakan Tendangan Yeop Chagi, salah satu tendangan terkuat di bela diri Taekwondo. Pein mundur beberapa langkah tetapi masih dapat berdiri. Naruto maju melesat dan melakukan pukulan Yeop Jireugi, Eolgol Jireugi, Arae Jireugi, Momtong Jireugi dan Chi Jireugi, semuanya dilakukan dengan tangan kanan! Dengan cepat, Naruto mengubah gaya bertarungnya menjadi Muay Thai dan melakukan Elbow Vertikal, Elbow Horizontal dan Smash Elbow ke batok kepala Pein. Dengan Low Kick, anggota Chasseurs itu menendang dua lutut Pein sehingga Ketua Akatsukers itu jatuh berlutut.

Maaf Pein…mata Naruto menajam. Dia mengubah gaya bertarungnya menjadi Silent Technique dan langsung berada di belakang Pein. Dia menarik tangan kanan Pein ke belakang dengan tangan kanannya lalu menendang tengkuk Pein dengan kaki kirinya. Naruto melesat ke depan, tanpa suara, dan menendang ulu hati Pein dengan kaki kirinya.

Lagi! Naruto mengubah gaya bertarungnya menjadi bela diri Tai Chi. Kini dia melakukan Tai Chi Gaya Chen yang cepat dan Tai Chi gaya Hao. Gaya Hao adalah gaya tersulit dalam bela diri Tai chi. Ketika tubuh Pein bergoyang pelan ke depan dan ke belakang, Naruto mengubah kembali teknik seni bela dirinya. Dia memakai Jurus Tangan Kosong: Nan Quan 65 Jurus. Teknik tangan kosong tertinggi dalam Wu Shu. Naruto meniru gaya harimau dan menghantam Pein dengan 65 serangan berbeda!

"Gi…la." Ucap Koneko sambil melahap cokelat batangan "Tetapi Pein-san terlihat masih belum kesakitan…"

Rias meneguk ludahnya. Dia menggenggam kedua tangannya di depan dada. Pertarungan itu semakin cepat ketika Naruto merubah seni bela dirinya menjadi Pencak Silat. Anggota Chasseurs itu melakukan Tendangan A dengan kaki kanan, Tendangan C dengan kaki kiri dan Tendangan T dengan kaki kanan kembali. Saat ingin menghantam ulu hati Pein dengan Tendangan Melingkar menggunakan kaki kiri, tangan Pein sempat menghantam kaki Naruto dan mematahkannya.

Semua penonton terlonjak kaget. Suara patahnya kaki Naruto cukup terdengar jelas. Hinata menutup mulutnya kembali. Setelah tangan kiri, kini kaki kiri Naruto juga patah.

"Masih beluum!"mata Naruto menatap tajam wajah Pein yang sudah mengeluarkan darah dari kedua lubang hidung dan sudut bibirnya. Wajah Pein juga sudah memar-memar. Naruto melompat dengan kaki kanannya dan juga melakukan Tendangan C dengan kaki kanan ke pelipis kiri Pein. Secara slowmotion, saat Pein perlahan-lahan jatuh ke samping kanan, Naruto menyelesaikan serangan terakhirnya di udara dengan Tendangan A yang tepat menghantam wajah Pein. Ketua Akatsukers itu terpental ke belakang beberapa meter hingga menabrak sebuah kursi taman. Beberapa penonton berhamburan karena takut terkena tubuh Pein yang terseret beberapa meter dari posisi awalnya.

Kedua fighter itu terjatuh di tanah. Naruto terlihat meringkuk kesakitan, sementara Pein tidak bergerak ditumpukan kayu-kayu kursi yang patah .

'Aku yang mampu mengalahkan 20 orang sendirian, bisa direpotkan seperti ini…' Naruto mendengar suara Notificacio mulai menghitung 'Pein-san, kau benar-benar lawan yang hebat…'

Satu…

Dua…

"Jika keduanya tidak bangkit hingga hitungan kesepuluh, hasilnya akan seri." Ucap Sona memberitahukan kepada Tsubaki dan Saji. Saji bertanya, apakah ada dampaknya bagi Naruto dan Pein, Sona menganggukkan kepala.

"Pein akan tetap menjadi Pilar dan Naruto tidak mendapatkan gelar Pilar tetapi tidak berkewajiban mematuhi keinginan Pilar. Jadi keduanya mendapatkan hasil yang seimbang karena tidak kalah dan tidak menang."

Tiga…

Naruto berusaha berdiri dengan menumpu pada tangan kanan dan kaki kanannya. Dengan kaki kanan yang bergetar, pada hitungan keempat, anggota Chasseurs itu berdiri dengan wajah tenang.

Empat…

Lima…

"ANAK BARU ITU BERDIRIII!"

"A-APAKAH DIA AKAN MENDAPATKAN GELAR PILAAAR?!"

Semua siswa-siswi Akademi Magic Poveglia berteriak. Mereka tak menyangka, sang Pilar dengan fisik terkuat, tumbang oleh anak baru kembali. Walaupun dalam keadaan riskan, patah tangan kiri dan kaki kiri, Uzumaki Naruto tetap memasang wajah tenang dikala napasnya terengah-engah.

"Na-Naruto-kun…" gumam Hinata dengan ekspresi yang masih cemas. Belum hitungan ke-10 maka pertarungan belum selesai.

Enam…

Jreeng! Mungkin jika ada SFX, begitulah bunyi yang menderang telinga semua orang di sana. Pein berdiri tegak, dengan wajah penuh lebam, terlihat gagah dan sangar. Sona dan anggota OSIS-nya, Rias dan anggota klubnya, semua siswa-siswi Akademi, semuanya menahan napas. Sebutan Monster Gila cocok bagi Pein sekarang. Di sisi lain, Shion tetap memasang wajah tidak terkejut, seperti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya…

"Haah…haah…" Naruto menutup mata kanannya karena kelelahan "Pein…kau…"

Pein berjalan perlahan-lahan, dengan sempoyongan. Walaupun ekspresi datar menghiasi wajah bertindik itu,tetapi irama langkahnya tidak lagi pas. Kadang-kadang terjatuh, kadang-kadang terdiam. Naruto sudah mengepalkan tangan kanannya, menguatkan kaki kanannya, menyiapkan semua tenaga dan anggota tubuh yang bisa dijadikan alat menyerang. Saat Pein sudah lima langkah lagi berada di depan, Ketua Akatukers itu jatuh tertelungkup dan tak bergerak.

Mata Naruto melebar. Dia memandang wajah Pein. Ketua Akatsukers itu mengadahkan kepalanya ke atas. Dia tersenyum.

"He-hebat sekali, Naruto-Junior. Walaupun rasa sakit itu tidak pernah terasa, tetapi tubuhku sudah tidak mampu bertahan secara alami karena menahan serangan-serangan brutalmu. Kau…"Pein memasang wajah fair. Benar-benar pria "…Menang."

Sampai hitungan ke-10, Pein tetap tidak mampu berdiri. semua siswa-siswi akademi bertepuk tangan, menyambut siswa Pilar terbaru, Pilar kelima…Uzumaki Naruto!

"Wajah Pein-san tetap datar dan tidak ada ekspresi kesakitan, tetapi kenapa dia tumbang?" gumam Kiba sambil memandang Buchou-nya, meminta penjelasan. Rias melipat kedua tangannya di depan dada. Pertanyaan bagus, Kiba…gadis bersurai merah itu menjelaskan "Pein memiliki kemampuan menahan rasa sakit yang sangat unik. Sebelum itu akan aku jelaskan sedikit proses munculnya rasa sakit/nyeri, Reseptor nyeri dalam tubuh adalah ujung-ujung saraf telanjang yang ditemukan hampir pada setiap jaringan tubuh. Impuls nyeri dihantarkan ke Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui dua sistem Serabut. Sistem pertama terdiri dari serabut Aδ bermielin halus bergaris tengah 2-5 µm, dengan kecepatan hantaran 6-30 m/detik. Sistem kedua terdiri dari serabut C tak bermielin dengan diameter 0.4-1.2 µm, dengan kecepatan hantaran 0,5-2 m/detik. Serabut Aδ berperan dalam menghantarkan "Nyeri cepat" dan menghasilkan persepsi nyeri yang jelas, tajam dan terlokalisasi, sedangkan serabut C menghantarkan "nyeri Lambat" dan menghasilkan persepsi samar-samar, rasa pegal dan perasaan tidak enak. Pusat nyeri terletak di talamus, kedua jenis serabut nyeri berakhir pada neuron traktus spinotalamus lateral dan impuls nyeri berjalan ke atas melalui traktus ini ke nukleus posteromidal ventral dan posterolateral dari talamus. Dari sini impuls diteruskan ke gyrus post sentral dari korteks otak."

Sedikit kuliah biologi dari Rias. Kemudian gadis itu melanjutkan "Nah, Pein mampu menahan rasa nyeri dari luar dengan cara menahan impuls nyeri di Sistem Saraf-nya. Jadi impuls nyeri tidak akan sampai di talamus (bagian otak), namun tertahan di sistem sarafnya. Karena tertahan di sana, walaupun otak Pein tidak akan memberikan "rasa sakit" pada tubuhnya sehingga wajah Pein tetap datar, tetapi tubuhnya yang memiliki sistem saraf dan terkumpulnya rasa sakit di sistem saraf tersebut membuat tubuh Pein secara alami tidak mampu lagi menahan rasa sakit."

"A-aku bersyukur Uzumaki-kun bisa menang." Ucap Asia tulus. Koneko melahap cokelat batangan ketiganya "Yah…kali ini aku takjub dengan anak baru itu," ucap Koneko "Walaupun keadaannya juga menyedihkan."

Para Akatsukers berkumpul mengerumuni Pein. Mereka panik melihat ketua mereka tak bisa menggerakkan badannya. Hidan memegang wajahnya dan berteriak parau.

"My Friend Pein, My Leader…ouh, seharusnya aku yang membuatmu begini…"

"Diam Hidan-senpai Psikopat!" ucap Dei kesal sambil menendang kaki lelaki berambut putih tersebut "Semuanya, tolong bawa Pein-senpai ke UKS sekolah. Di sana ada sensei yang bisa menyembuhkan dengan mantera Melia."

"Ba-baik!" teriak semua anggota Akatsukers dengan wajah panik. Lucu juga melihat anak –anak badung itu memasang wajah khawatir. Mereka mengangkat Pein beramai-ramai, seperti membawa seseorang yang memenangkan sesuatu, lalu membawanya beramai-ramai menuju UKS sekolah. Walaupun kalah, Pein mendapatkan tepuk tangan dari siswa-siswi Akademi. Benar-benar apresiasi yang indah.

"Naruto-Junior!" Pein berteriak, membuat anak buah di bawahnya berhenti membawanya "Kutunggu pertarungan babak kedua."

Bulu kuduk Naruto berdiri. bukan karena takut…tetapi saking semangatnya. Naruto membayangkan pertarungan yang lebih gila karena keduanya mengetahui kekuatan masing-masing "Aku menantikannya, Pein-senpai."

Pein tersenyum. Kemudian anak buahnya membawa dirinya sambil menyanyikan Mars Akatsukers

Marilah seluruh preman dunia

Arahkan pandanganmu ke depan

Raihlah mimpimu bagi bangsa Magician

Satukan tekadmu tuk masa depan

Pantang menyerah

Itulah pedomanmu

Entaslah kegalauan cita-citamu

Rintangan tak menggetarkan dirimu

Akatsukers maju, sejahtera, tujuanmu

Nyalakan api semangat perjuangan

Dengungkan gema, nyatakan persatuan

Oleh Akatsukers

Oleh Akatsukers

Jayalah Magician Akatsukers

'Sepertinya aku pernah mendengar lagu itu di TV…' batin Naruto jawsdropped.

"Naruto-kun!"

Mata biru Naruto otomatis memandang ke arah sumber suara. Suara yang manis tetapi terdengar mengkhawatirkannya. Hinata langsung terduduk di sampingnya sambil memeriksa keadaan Naruto. Wajah manis itu terlihat sedih. Dia menggelengkan kepala.

"K-kau terlalu memaksakan dirimu!"

"Bagaimana lagi-ttebayo. Pein adalah lawan yang hebat."

"Pa-padahal kau anggota Chasseurs, tak kusangka kau bisa babak belur seperti ini."

Naruto tertawa renyah. Hinata memasang wajah tak senang. Lagi-lagi Naruto pasti menganggap dirinya hanya seorang anak kecil yang penuh kekhawatiran.

"Dari semua misi yang pernah kulakukan, baru kali ini di dalam misiku, aku mendapatkan lawan yang sepadan. Memaksaku sampai menunjukkan 6 seni bela diri, waah…itu benar-benar hebat dattebayou. Hinata…" Naruto menoleh ke arah Hinata "…Berkat kata-katamu tadi, aku mendapatkan celah untuk mengalahkan Pein. Aku sangat senang…"

Wajah Hinata memerah. Ke-kenapa Naruto tiba-tiba berubah seperti Oppa Korea?! Keren-keren manis gitu?!

"Terima kasih. Kau bukanlah gadis kecil biasa…aku senang telah bertemu denganmu."

Spontan Hinata menjawab "Aku juga!" walaupun itu hanya cicitan tak jelas.

"Hm? Apa Hina-"

Hinata terdiam. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat "Lu-Lu-Lu-LUPAKAAAAAN!"

"Uzumaki Naruto," A-sensei datang mendekatinya sambil membawa sebuah gulungan. Dia meletakkan gulungan itu di dekat Naruto lalu menggerakkan tongkat sihir. Gulungan yang terbuat dari kulit Giant Anaconda itu berasap, menampilkan tulisan-tulisan dalam bahasa latin. Isinya perjanjian antara pihak Akademi dengan Siswa yang mendapatkan titel Pilar. Naruto membacanya sebentar. Benar kata Rias…siswa-siswi Pilar mempunyai hak-hak lebih yang diberikan sekolah.

"Gunakan darahmu untuk tanda tangan. Dengan ini kau menyetujui perjanjian dan kau mendapatkan gelar Pilar. Sekolah akan menyetujui hak-hak lebih Pilar kepadamu dan hasil pertarungan legal hari ini secara resmi bisa kusampaikan kepada Kepala Sekolah." A-sensei menggerakkan tongkat sihirnya "Tidak keberatan aku memberikan luka kecil di tubuhmu?"

Naruto menganggukkan kepala. Sebuah cahaya merah yang keluar dari ujung atas tongkat sihir A-sensei menyayat sedikit punggung tangan Naruto, mengeluarkan setetes darah. Menggunakan tangan kanannya, Naruto membuat tanda tangan dengan darahnya di atas gulungan perjanjian. Tanda tangan itu bersinar keunguan lalu gulungan itu secara otomatis menggulung sendiri dan tersegel dengan aksara-aksara sihir. A-sensei mengambil gulungan lalu mengucapkan terima kasih.

"Kau adalah Magician yang berbakat, sama seperti Pein, tanpa tongkat sihir kau pasti bisa mengalahkan lawan-lawanmu. Kami mendapatkan siswa yang pantas mendapatkan gelar Pilar." A-sensei terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu "Jadi ada tiga siswa dari Dark Magic yang mempunyai titel Pilar. Heh…menarik. Kuharap kalian bertiga siap berkonfrontasi untuk menentukan gelar Pilar tunggal dari aliran Dark. Jadi, itu saja dariku Uzumaki Naruto, tolong bawa dirimu ke UKS sekolah. Kau juga terlihat babak belur…" A-sensei hilang berteleportasi. Setelah itu semua siswa-siswi yang menonton mengerumuni Naruto dan mengucapkan selamat. Ada juga cewek-cewek yang minta foto bareng dengan anggota Chasseurs tersebut. Hinata terhimpit di barisan-barisan fans baru Naruto.

Di sela-sela permintaan foto dan ucapan selamat, Naruto melihat di celah kerumunan. Orang yang ia cari ternyata berdiri sendirian. Naruto menyipitkan matanya. Shion memandang datar ke arahnya. Tatapan Shion masih sama, seperti pedang yang siap menusuk. Gadis itu membalikkan badan dan berjalan entah ke mana meninggalkan taman sekolah. Saat Naruto ingin memanggil nama gadis itu, seorang siswi meminta Naruto untuk menghadap ke arah kamera.

Cekrek. Bunyi kamera itu menandakan wajah Naruto telah masuk dokumentasi Klub Majalah dan Koran. Saat difoto, Naruto berpikir….apa Shion sudah tahu hasil akhir pertarungannya?

"Ayo kita pergi…" Sona berbalik meninggalkan lokasi sambil menaikkan gagang kacamatanya. Saji dan Tsubaki saling berpandangan. Ajakan Sona kepada anggota OSIS diikuti semuanya, para organisator sekolah itu pergi meninggalkan taman sekolah. Masih banyak hal yang harus OSIS urus.

Rias tersenyum melihat kepergian sahabatnya. Menarik. Arah dan peta kekuatan di Akademi Magic Poveglia berubah. Dia memandang kerumunan siswa-siswi yang mengelilingi Naruto. Sebenarnya Rias ingin mengucapkan selamat, tetapi itu bisa dilakukan lain hari. Mungkin setelah Naruto benar-benar sembuh. Adik Sirzech itu mengajak anggotanya pergi meninggalkan taman.

"E-eh, tidak memberi selamat kepada Uzumaki-kun dulu, Buchou…?" tanya Asia dengan wajah sedikit kecewa.

"Ara ara…Asia-chan ngebet benar mau berbicara dengan Uzumaki Naruto-kun ya? Fufufu…"

Asia langsung panik karena digoda Akeno. Rias menghela napasnya…kemudian tersenyum misterius "Akan ada waktunya, Asia-chan. Kita biarkan Uzumaki-kun beristirahat," tangan kanan Rias terkepal di depan dada "Dia adalah murid baru yang unik."

Sabtu pagi itu, Pertarungan Legal Uzumaki Naruto Vs Pein, dimenangkan oleh Naruto!


Hal yang terindah di musim gugur adalah waktu sore hari. Cahaya matahari yang berwarna jingga sangat klop dengan dedaunan Pohon Mapel. Warna merah, kuning dan jingga daun Mapel di tanah-tanah memperindah Akademi Magic Poveglia. Beberapa peri bunga berterbangan mencari nektar. Cahaya-cahaya indah kekuningan yang merupakan cahaya sihir berterbangan di sekitar taman sekolah. Cahaya itu memperbaiki dinding kolam yang rusak akibat pertarungan Naruto melawan Pein.

Hinata masuk ke ruang perawatan. Dia memakai Blouse jenis Middy berwarna biru muda dengan lengan panjang, celana Jogger berwarna hitam dan sebuah syal biru yang membelit lehernya. Gadis Hyuuga itu menutup pintu ketika melihat Naruto memandang ke luar. Wajah Naruto begitu tenang dan dingin. Tidak ada ekspresi apapun. Persis saat ia pertama kali bertemu Naruto di Konoha.

"Naruto-kun…"

Naruto sedikit kaget. Dia sepertinya tidak sadar Hinata masuk ke ruang perawatannya.

"Oh, Hinata? W-wah…aku tidak mendengarmu masuk dattebayou."

"K-kau pasti terlalu banyak melamun."

Naruto menyengir. Dia menghela napasnya kembali "Aku mencoba merekonstruksi kejadian-kejadian di sekolah ini. Fenomena kesurupan…juga empat Pilar Akademi Magic Poveglia."

Hinata berjalan mendekati anggota Chasseurs tersebut. Amethyst Hinata memandang wajah berpikir Naruto. Lucu juga tidak fokus melihat Naruto sampai saat ini, padahal dia sudah cukup lama bersama Naruto dalam perjalanan mereka menuju Vaexjoe.

"Na-Naruto-kun, A-Anko-sensei yang menjaga UKS dipanggil mendadak ke Pusat Kota Poveglia. Ja-jadi setelah dia memulihkan Pein-san dengan mantera Melia, d-dia langsung pergi ke pusat kota. Se-sepertinya kau harus menunggu sampai sensei datang untuk menyembuhkan tangan dan kaki kirimu…"

Naruto mengangguk mengerti. Dia tidak memaksa untuk menyembuhkan tangan kiri dan kaki kirinya yang patah akibat pertarungan seru melawan Pein. Lagipula istirahat beberapa hari akan membuatnya bisa berpikir lebih dalam tentang fenomena kesurupan di akademi. Dia tinggal meminta tolong Hinata untuk membawakan buku-buku di perpus yang berkaitan tentang fenomena kesurupan, lalu dia-

"A-aku pinjam tongkat sihirmu, Naruto-kun…"

"Hmm…pinjam saja, EH MATTE?! Kenapa kau meminjamnya-ttebayo?!"

"A-aku akan mencoba menyembuhkanmu dengan mantera Melia."

"Haah? Hi-Hinata, mantera Melia membutuhkan skill dan mana yang banyak, kau tidak bisa melakukannya sembarangan."

Hinata menutup matanya. Dia sedikit menaikkan suaranya walaupun itu membuatnya semakin imut "To-tolong percaya kepadaku, a-aku…"

"Kau adalah Bangsa Ninjutsu, Hinata…"

Hinata membuka matanya kaget. Dia memandang wajah Naruto. Sangat dingin dan menusuk matanya. Ekspresi yang sama ketika ia bertemu pria itu di Konoha. Perlahan-lahan wajah dingin Naruto melembut.

"Hinata…aku tahu kekhawatiranmu itu, tetapi kau masih belum bisa menggunakan kemampuan Bangsa Magic, mereka jelas berbeda dengan dirimu yang merupakan keturunan Ninja Asli, walaupun sebenarnya…"

"Sa-saat aku menaiki sapu terbang, aku…aku merasa menyatu dengan sapu terbang tersebut. Walaupun sedikit, aku dapat merasakan mana mengalir di dalam tubuhku," Hinata memandang ke bawah "Aku merasa bisa membedakan antara Mana dan Chakra."

Jantung Naruto berdebar. Seperti yang dikatakan Bos-nya…

Keturunan Ninja terakhir adalah reinkarnasi dari-

"Izinkan aku mencobanya, Naruto-kun!"

Mata Naruto berkedip dua kali. Dia memandang ke luar. Sesaat, pria bernama panjang itu tersenyum, kemudian dia memandang kembali Hinata dengan wajah serius.

"Jika kau gagal melakukannya, maka kau harus berlatih melempar shuriken selama 12 jam saat kita menyelesaikan misi ini. Bagaimana? Setuju…atau, tidak?"

Hinata tersenyum senang. Walaupun terdengar tidak masuk akal, secara tak langsung Naruto menerima keinginannya. Hinata mengangguk dengan wajah imut meyakinkan. Dia memutar tongkat sihir Naruto dua kali lalu mengucapkan,

"Melia…"

Cahaya putih keluar dari atas tongkat sihir Naruto lalu menyelimuti tangan kiri dan kaki kiri Naruto yang berada di bawah selimut. Naruto merasakannya…dia dapat merasakannya. Aliran sihir yang menyejukkan. Sangat nikmat dan tenang…ketika terbuai dengan rasa nyaman tersebut, 5 menit berlalu dan tangan-kaki kiri Naruto telah sembuh. Tulang yang patah itu kembali bersatu. Iris biru naruto bergetar takjub.

"H-Hinata,"

Hinata tersenyum ketika Naruto memujinya dengan wajah melongo.

"K-kau hebat…"

"Bweeeh," Hinata menjulurkan lidahnya "Lihat, aku bisa melakukannya Naruto bego…"

Bukannya marah, Naruto membalasnya dengan kekehan. Sepertinya ada harapan yang dapat Naruto pertaruhkan kepada Hinata.

Sepertinya hari senin nanti, ia bisa masuk sekolah seperti biasa.


Timeline berita hari ini di Koran sekolah

SAMBUT UZUMAKI NARUTO, PILAR KELIMA AKADEMI MAGIC POVEGLIA! Tampan dan kuat, apakah dia sudah mempunyai pacar?!

Setelah menjadi siswa dengan gilar Pilar, maka hak-hak istimewa akan diberikan. Naruto merasakannya. Salah satu hak istimewa adalah bisa tidak masuk saat jam pelajaran. Lalu makan di kantin juga diberi diskon harga. Naruto juga baru tahu bahwa siswa bertitel Pilar bisa masuk ke perpustakaan tanpa scan kartu pelajar lagi. Itu-lah alasan mengapa Rias kemarin bisa masuk cepat ke perpus saat ingin memberitahukannya kalau Hinata diculik.

Naruto membolos dua jam pelajaran Magic dan memilih membaca literatur tentang fenomena kesurupan di perpustakaan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Yang ada hanya dirinya dan anjing Affenpinscher penjaga perpus yang masih saja tertidur dengan lelapnya. Naruto membaca lebih mendalam tentang Kesurupan dalam sudut pandang Bangsa Magic.

Beberapa bukti di abad 7 Masehi menunjukkan Bangsa Magic lebih sering disebut Witch, atau Penyihir. Mereka dikategorikan sebagai penganut paham ilmu hitam. Beberapa Bangsa Magic dibakar atas perintah Penguasa Dunia yang berkuasa saat itu karena kedapatan membuat sihir-sihir yang berbahaya. Salah satunya adalah Gangguna disosiatif jiwa yang diakibatkan oleh fenomena kesurupan. Beberapa saksi dari papirus dan prasasti Magician abad 7 mengatakan bahwa Bangsa Magic dari aliran Dark menjadi pelopor fenomena tersebut.

Mata Naruto menajam. Bangsa Magic dari aliran Dark menjadi pelopor fenomena tersebut…kalimat itu mengundang perhatiannya. Di sekolah ini banyak sekali Magician dari aliran Dark. Lagipula Penguasa Poveglia sekarang juga berasal dari Dark Magic, walaupun Akademi Magic-nya sendiri memiliki Kurikulum Multi-aliran Magic. Naruto menggosok pelan hidungnya. Jika ia kerucutkan, bagaimana siswa-siswi yang memiliki kemampuan hebat dan Mana yang sudah terlatih dari aliran Dark adalah dalang fenomena ini? Siswa-siswi di akademi ini yang memiliki kemampuan hebat...dari aliran Dark Magic pula…

Dua Pilar dari aliran Dark, Rias Gremory dan Shion. Naruto memandang ke arah luar. Senin ini adalah minggu ketiganya. Sebentar lagi akan genap sebulan dan penyamaran Hinata akan hilang. Jika dia tidak cepat-cepat menyelesaikan masalah ini, maka ia harus mendeportasi Hinata dari Pulau Poveglia dan mengerjakan misi ini sendirian. Hal itu akan membuat fokusnya pecah karena harus memikirkan misi ini dan misi menjaga Hinata.

Aku harus menyelesaikannya sebelum genap waktu sebulan…batin Uzumaki Naruto dengan guratan wajah serius. Kemenangan atas Pein dan mendapatkan titel Pilar mengindikasikan satu langkahnya berhasil. Tinggal dia menunggu langkah selanjutnya, yang akan mengantarkannya dekat dengan kebenaran.


Kali ini Naruto duduk sendirian menikmati makan siangnya di kantin. Hinata sudah berjanji dengan Rias untuk makan siang di Taman Sekolah. Ngomong-ngomong tentang taman sekolah, lokasi pertarungan antara dirinya melawan Pein sudah diperbaiki dengan Mantera Reparation. Sesuai titel sekolah Bangsa Magic, apapun yang dilakukan Magician-Magician pasti menggunakan sihir mereka.

"Kau sendirian, Naruto-Junior?"

Naruto tahu siapa satu-satunya yang memanggil dirinya seperti itu. Pein…

"Kau juga, Pein. Di mana anak buahmu?"

"Karena aku kalah, mereka berjanji akan giat belajar dan tidak akan membolos selama 2 minggu. Di jam istirahat ini, mereka ke ruang guru untuk menyelesaikan tugas-tugas yang tak pernah mereka kerjakan. Boleh aku duduk di sini?"

Naruto tersenyum. Lucu membayangkan para badung itu membungkuk meminta maaf kepada para sensei "Silahkan."

Pein duduk di depan Naruto sambil membawa sepiring nasi kari. Ketua Akatsukers itu melahap kari-nya dengan tenang. Oh ya…jika para preman itu menjalani hukumannya di ruang guru, mengapa Pein tidak melakukannya? Seperti bayangan orang awam, suatu kelompok jahat atau nakal pasti berisi orang-orang jahat atau nakal, nah…ketuanya pasti lebih jahat atau nakal dari anak buahnya…

Naruto bertanya tentang hal tersebut "Kau kenapa tidak menjalani hukuman bersama mereka, Pein? Maaf jika pertanyaanku menyinggungmu, tetapi aku hanya penasaran-ttebayo."

"Aku selalu masuk jam pelajaran. Aku tidak pernah membolos"

"Hm? Maaf? Apa katamu tadi, selalu masuk jam…pelajaran? Ti-ti-tidak pernah membolos?!"

Pein mengangguk. Dia menyuap sesendok nasi kari ke muluntnya. Setelah menelan suapannya tadi, ia kembali berbicara "Bagiku sekolah adalah hal yang utama. Orang tuaku hanya pekerja kecil-kecilan. Bisa dibilang keluargaku adalah keluarga kurang mampu. Aku masuk di sini karena beasiswa prestasi. Asal kau tahu, Naruto-Junior, biaya masuk ke Akademi Magic Poveglia sangat mahal. Hal tersebut bisa kau lihat dari status para muridnya. Ada adik dari Penguasa Kota Kuoh, anak dari Penguasa Kota Poveglia…makanya," Pein melahap nasi karinya lagi "Aku sangat bersyukur masuk ke sekolah ini dan berjanji akan sukses sehingga membahagiakan kedua orang tuaku. Aku akan menjadikan Akatsukers kelompok Magician sewaan yang membantu masyarakat dan mendapatkan dana dari situ untuk membantu anak-anak kurang mampu yang tidak bisa bersekolah di akademi magic."

Tunggu dulu…Pein tidak sedang bercanda kan? Preman berwajah sangar dengan banyak tindikan itu tidak menunjukkan kepantasan mendapatkan beasiswa. Apalagi beasiswa pendidikan. Sekali melihat Pein membuat kita berkata dalam hati, Ini induk preman diantara preman lainnya nih. Kurang lebih seperti itu…

'Tetapi kita tidak bisa menilai dari luarnya. Bungkus tidak akan bisa menunjukkan isi…' Naruto tersenyum "Jadi bisa dibilang kau adalah…murid teladan?"

Pein mengangguk. Naruto bisa saja tersedak, tetapi dia menahannya.

"Boleh kutebak, kau tidak merokok?"

Pein mengangguk kembali. Naruto teringat beberapa anggota Akastukers yang merokok dengan sok sangarnya.

"Lalu kenapa wajahmu bertindik seperti itu. Gara-gara tindikan itu, kau terlihat seperti bos-nya para preman."

Pein menghela napasnya. Dia menunjuk tindik-tindik di wajahnya tersebut "Kukira dulu menindik wajah itu adalah trend. Ternyata referensi yang kubaca di majalah salah. Walaupun sebagai murid teladan, aku juga ingin mengikuti perkembangan fashion. Nyatanya…" Pein menunduk lesu "…Aku salah fashion dan mencap diri sendiri menjadi seorang preman."

Naruto tertawa pelan. Nah…lagi-lagi dia mendapatkan karakter unik dari salah seorang Pilar. Jadi itu juga alasannya mengapa Pein sering terjatuh saat mengenalkan diri. Sebenarnya ketua Akastukers itu memang orang baik. Hanya saja anak buahnya yang terlalu berlebihan. Tetapi soal fisik kekuatan, Naruto mengakui Pein sangat kuat. Apalagi jika kemarin ia bertarung dengan Pein menggunakan tongkat sihir, bisa dipastikan dirinya akan lebih repot.

Naruto tiba-tiba teringat Shion. Shion dulu juga mengalahkan Pein. Itu yang membuatnya penasaran. Bagaimana seorang gadis bisa mengalahkan Dewa petarung tangan kosong. Naruto menanyakan hal tersebut.

"Shion ya?" Pein meletakkan sendoknya di atas piring yang telah kosong "Gadis itu sangat kuat, selain bakat sihir yang hebat, dia juga memiliki kemampuan supranatural."

"Kemampuan supranatural?"

Pein mengangguk "Kemampuan supranatural dibagi menjadi dua, yakni ESP dan PK. ESP, atau Extra Sensory Perception adalah kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang orang normal tidak ketahui melalui kemampuan khusus. Kewaskitaan (penerawangan) dan telepati masuk dalam kategorini ini. Lalu ada juga PK atau bisa disebut Psikokinesis, yakni kekuatan kehendak. Memindahkan objek dengan kemauan kuat yang ada di dalam kepala, itu adalah kemampuan PK. PK dibagi menjadi tiga: PK-ST, PK-MT dan PK-LT. PK-ST adalah kemampuan untuk mempengaruhi target statis, contohnya orang-orang yang bisa membengkokkan sendok. PK-MT adalah kekuatan yang mempengaruhi target bergerak, contohnya adalah mengendalikan mata dadu yang keluar dalam permainan dadu. PK-LT adalah kekuatan mempengaruhi mahluk hidup. Nah…Shion memiliki semua kemampuan yang aku sebutkan tadi."

Naruto terlonjak dari kursinya "A-apa?! Semuanya?"

Pein lagi-lagi mengangguk "Karena hal tersebut, dia tidak perlu menggunakan Mana terlalu banyak untuk mengalahkanku. Saat itu kami melakukan pertarungan Magic biasa menggunakan tongkat sihir dengan syarat tidak boleh membunuh. Aturannya sama seperti aturan pertarungan kita berdua, yang tidak bisa bangkit selama 10 detik maka ia kalah. Saat itu aku terbaring di bawah dan tidak bisa mengangkat tubuhku. Pada saat itu aku menyadari, anak pemimpin Kota Poveglia itu menggunakan kemampuan PK-ST nya terhadapku. Dia menahan tubuhku untuk berdiri…" Pein melipat kedua tangannya di depan dada "Saat kemarin dia mendukungmu lewat puisinya, aku sudah tahu bahwa aku kalah. Dia juga memiliki kemampuan penerawangan yang hebat. Shion adalah Magician muda yang sangat berbakat. Kelak, gadis itu pasti menjadi Pemimpin para Magician."

Naruto menundukkan kepalanya hingga kedua matanya tertutup poni rambut kuning. Dia harus bergerak cepat…

Saat itu Rias, Hinata, Akeno dan Kiba berjalan melewati kantin. Sepertinya makan siang bersama mereka selesai. Kiba yang melihat Naruto dan Pein berada dalam satu meja menyapa dengan nada ceria.

"Wah, tak kusangka dua fighter hebat terlihat akur dalam satu meja, apa kalian belum selesai dengan-"

"Rias Gremory-san…" Naruto mengangkat wajahnya. Memotong sapaan Kiba. Tenang dan dingin "Aku menantangmu untuk menentukan siapa yang pantas memegang gelar Pilar dari aliran Dark."

Semuanya terkejut. Hinata menutup mulutnya. Kenapa tiba-tiba Naruto melakukan hal gila lainnya? Bu-bukan hal gila, tetapi ini…ini terlalu mendadak!

Rias yang pada awalnya terkejut mampu menenangkan dirinya. Dia tersenyum manis ke arah Naruto "Menarik…Bagaimana jika kau mengambil alih Pilar dari Dark Magic-ku, Naruto-kun?"

"Itu terdengar menyenangkan." Ucap Naruto tak kalah misterius dan manis senyumannya.

"Na-Naruto-kun, ke-kenapa…" Hinata memandang Rias dan Naruto bergantian. Wajah panik di muka imutnya terlihat lucu. Tetapi yang pasti, Hyuuga Hinata tegang dengan keadaan saat ini.

"Aku menerimanya," entah kenapa, rambut merah indah itu berkibar pelan "Tetapi bukan aku yang akan kau hadapi, namun penerus titel Pilarku. Budakku yang paling kuat…"

Mata Naruto menajam. Siapa?

"Uzumaki-kun, kau akan melawan Yuuto Kiba-kun."

Mata Naruto melebar. Jadi selama ini penerus titel Pilar dari Rias adalah Kiba? Ternyata pria itu tidak hanya bagus di wajahnya, tetapi kemampuannya. Naruto memandang Kiba. Pria tampan itu tersenyum dan menganggukkan kepala. Siap bertarung melawan Naruto.

"Kau tidak keberatan, Naruto-kun?"

Naruto berdiri perlahan. Pein dapat merasakan aura hebat terpancar dari diri Naruto. Aura yang ia suka. Naruto berdiri tegak di hadapan Kiba dan meluruskan tangan kirinya ke arah pria tampan tersebut. Tidak lupa, senyuman tenang yang masih terpampang di wajah anggota Chasseurs itu.

"Tentu saja. Ini akan menjadi pertarungan yang menarik."

"Satu catatan saja, jika kau kalah karena pertarungan ini, maka gelar Pilar-mu akan dicabut dan kau harus menuruti Pilar yang memenangkan pertarungan. Bisa saja aku memintamu menjadi budakku, Uzumaki-kun."

"Bagaimana jika aku menang?"

Senyuman Rias semakin misterius "Gelar Pilar-ku akan dicabut dan kau bisa meminta apapun dariku maupun budakku."

"Walaupun itu menyerahkan tubuhmu di ranjang?" tentu saja Naruto bercanda dengan kata-kata tadi. Tanpa ia sadari, kucing kantin bernama Doni Ren udah ngaceng di dekat mejanya.

Rias tertawa kecil. Sementara Hinata yang kebingungan memandang keduanya bergantian. Dia tegang, tetapi kenapa Naruto dan Rias tidak menunjukkan wajah tegang sedikitpun?

"Lakukan terserahmu, Uzumaki-kun. Nah…kau pasti tahu syarat-syarat yang dibuat kan? Aku akan membantumu karena ini adalah pertarungan antar dua Pilar."

Dihadiri Pilar lainnya, minimal 100 orang murid menonton dan dihadiri seorang perwakilan guru. Setelah itu terpenuhi, Pertarungan Legal akan dilakukan.

Selasa sore, di Taman Sekolah, Naruto dan Kiba berdiri berhadapan. Yang menjadi perwakilan guru lagi-lagi A-sensei. Guru itu memandang Naruto dengan pandangan penasaran. Ternyata tidak cukup dengan gelar Pilar, Naruto kembali ingin mengerucutkan titel Pilar dari aliran Dark.

Berita pertarungan Naruto melawan Kiba tersebar cepat. Sore itu sebenarnya jadwal beberapa klub sekolah melakukan kegiatan mereka…tetapi semuanya berhenti dan fokus untuk menonton pertarungan tersebut. Sona sampai geleng-geleng kepala karena ulah anak baru tersebut. Lagi-lagi ia sebagai Ketua OSIS harus menyusun ulang jadwal kegiatan klub di Akademi.

Timeline Berita hari ini di Koran sekolah

Pemegang Pilar baru melawan kelompok Pilar Rias Gremory. Siapa yang menang dan menjadi Pilar sesungguhnya dari aliran Dark Magic?

Lalu salah satu kolom berita berbunyi Apakah Shion akan ikut dalam perebutan gelar satu-satunya Pilar dari aliran Dark Magic?

Shion, dengan kemampuan spiritual yang mengerikan, hanya berdiri di atas atap melihat persiapan pertarungan tersebut. Dia melompat turun dari atap sekolah dan tidak terjadi apa-apa karena mengeluarkan mantera Ventus Lente untuk memperlambat gaya jatuhnya. Dia berjalan menuju gedung olahraga.

"Yuuto Kiba memilih sisi tongkat sihir, otomatis kau mendapatkan sisi lingkaran sihir, Uzumaki Naruto…kalian sudah paham peraturan selanjutnya kan?"

Keduanya mengangguk. Koin yang menunjukkan sisi yang dipilih petarung akan menentukan siapa yang berhak memilih tempat dan jenis pertarungan. Setelah A-sensei melakukan lemparan dan menunjukkan sisi koin terpilih, Kiba berhak menjadi penentu tempat dan jenis pertarungan. Koin menunjukkan sisi tongkat sihir.

"Tempat pertarungan di gedung olahraga…"

Kiba menoleh ke arah Naruto. Jenis pertarungan yang Kiba pilih membuat anggota Chasseurs itu tersenyum kecut.

"Jenis pertarungan, Pertarungan menggunakan sapu terbang…yang jatuh duluan, dia yang kalah!"

Di dalam gedung olahraga, Shion duduk sendirian di tribun penonton. Kali ini di dalam gedung menampilkan lapangan basket indoor. Lapangan itu akan berubah menjadi arena pertarungan sapu terbang jika A-sensei mengucapkan mantera Mutatio.

Sepertinya hasil pertarungan nanti, hanya Tuhan dan Shion yang tahu…

Poveglia Magic Academy's 4 END

Author Note

Aku mulai dari mana ya…? Sebelumnya mohon maaf karena hari kamis/jumat kemarin tidak update karena aku memiliki beberapa kegiatan sehingga mengetik fic ini terhambat. Jadi kuputuskan untuk mengupdatenya pada jadwal hari senin/selasa.

Terkhusus untuk adegan fight, kuucapkan terima kasih kepada Doni-san yang mengirimnya lewat email setelah membaca sekilas fic ini. Juga kepada teman-temanku yang mendalami bidang olahraga di fic ini atas saran-sarannya. Informasi tentang gerakan-gerakan juga ada di Mbah Google. Jadi kuharapkan chapter ini tetap menghibur Readers semuanya.

Terima kasih kepada yudi wisesa, lauda, lastreader, akevover31 dan readers lainnya yang telah memuji adegan fight chapter lalu. Berarti konsep yang dibuat Doni-san berhasil kami tuangkan lewa tulisan, yeaay *toss dengan kucing ngaceng*

Ke mana perginya Maniak Oppai? Ahahaha, Issei kami simpan untuk arc selanjutnya. Walaupun namanya ada di Main chara fic, tetapi dia akan muncul di chapter-chapter depan. Terima kasih kepada ranchman fatur yang telah menanyakan sahabatnya tersebut *ups?*

Untuk saran Re: Taekwondo aku masih belum mengerti. Mungkin teman-teman bisa menjelaskan konsep Re: Taekwondo. Ehehe, maaf karena basic memang bukan anak petarung hihi. Mungkin jika cocok, bisa kujadikan variase bela diri Taekwondo yang telah Naruto miliki. Untuk masalah Pair, thanks atas saran dari Saladin al Ayyubi. Wah…mungkin karena baru pertama kali membuat fic di Fandom Xover jadinya aku berpikir Pair tidak masalah jika satu fandom. Mungkin ini bisa kujadikan pelajaran untuk membuat fic-fic Xover selanjutnya.

Tetapi aku harap Readers di sini tidak terlalu fokus kepada Pair, tetapi bisa menikmati alur cerita yang berusaha kubuat.

Nah…ada juga review dari Azarya Senju-san tentang Tai Chi. Yap…tepat. Tai Chi adalah seni bela diri China untuk kesehatan yang tidak fokus pada teknik Combat/bertarung. Sesuai informasi dari Mbah Google, Tai Chi itu "tinju halus". Jadi fokusnya memang ke titik-titik vital tanpa perlu melakukan gerakan/pukulan/tendangan kasar. Aku juga cukup sulit mendeskripsikan gerakan Tai Chi karena nama-nama gerakannya itu agak aneh. Ada gerakan bangau, ular menyelinap ke bawah, gerakan monyet mengayun ke atas dan bermacam-macam lainnya. Tetapi kalau tak salah, IP Man itu basic bela dirinya Tai Chi ya? Yang diperankan Donnie Yen itu kan? Kan? Kan?

Ada 4 gaya dalam seni bela diri Tai Chi, kuambil dari Wikihow

1 Gaya Chen mencampurkan tempo, bergerak lebih lambat lalu menjadi eksplosif. Ini mungkin sulit untuk pemula.

2 Gaya Yang merupakan yang paling populer. Gaya ini memiliki tempo yang stabil, dan seperti dijelaskan di atas, menggunakan gerakan rangka besar. Ini kemungkinan apa yang Anda pikirkan saat memikirkan Tai Chi.

3 Dalam Wu, gerakannya hampir mikoskropik. Hal ini membuatnya mudah dilakukan, namun sulit dikuasai. Ada banyak fokus pada aliran kuat energi dan gerakan dalam dan bertekanan. Gerakan ini sangat lambat dan tenang.

5 Gaya Hao tidak begitu banyak digunakan. Anda kemungkinan tidak akan menemukan guru yang melatihnya.

Naruto di pertarungan sudah memakai semua gaya Tai Chi-nya untuk mengalahkan Pein, termasuk Jurus Tangan Kosong Wu Shu-nya yang sampai tingkat Nan Quan 65 jurus. Nan Quan ini memiliki 65 jurus/gerakan yang semuanya meniru gaya binatang. Seperti gaya harimau, ular, kupu-kupu dsb.

Terima kasih atas Guest tentang saran meyerang titik-titik vital sepert ulu hati, jakun dan tengkuk. Aku langsung dapat pencerahan setelah membaca review darimu kawan.

Emm, apa lagi ya…yap. Info tentang kemampuan Shion terungkap. Itu kuambil dari Anime Ghost Hunt. Jadi kemampuan spiritual ada dua, ESP dan PK. ESP ini bahasa orang awamnya indera keenam, kalau PK itu ya kayak kemampuan pikiran yang mampu menggerakkan dan menguasai suatu objek (Mentalist).

Chapter depan aku sudah mempersiapkan kejutan karena ada chara dari Anime lain selain DxD dan Naruto. Setelah Alaindelon dari Beelzebub muncul sebagai kepala asrama, maka chapter depan akan ada 5 chara dari suatu anime yang berkonfrontasi dengan chara lainnya. Ahahaha…

See you next chapter dan terima kasih atas reviewsnya

Mohon kritik dan sarannya (bahasa aslinya, Please Review XD)

Next Chapter: Poveglia Magic Academy's 5

"UZUMAKI NARUTO…TERJATUH!"/"Kita harus mendapatkan Pandora Box yang terjatuh di Ghoul Dungeon."/"Aku sengaja…kalah."