Update, 31 Januari 2017:

Disclaimers, isi dan peringatan sama seperti di prolog. 2k+ words, tidak termasuk notes. I don't own the cover image.

Pairing(s): HijiGin (Hijikata Toushirou×Sakata Gintoki). Slight, TakaGin (Takasugi Shinsuke×Sakata Gintoki).

Tambahan peringatan: Ada secuil adegan cabul dan kekerasan. Jangan bilang saya tidak memperingatkan kalian. Tidak menerima apresiasi negatif atas semua hal yang sudah saya peringatkan.

Enjoy! :)


.

#

.


Bab 6 — Lambang yang Tiba-tiba Menghilang

Kedua kelopak mata Gintoki akhirnya terbuka. Selama beberapa menit dipandanginya langit-langit ruangan dalam diam, sekaligus mengumpulkan kesadarannya. Begitu kedua matanya tidak sengaja melihat jam yang tertempel di dinding, yang menunjukkan pukul dua siang, seketika Gintoki bangkit dari posisi tidurnya.

Sial! rutuknya dalam hati, sembari memakai sepatunya. Gara-gara dibius, dia sampai tak sadarkan diri selama berjam-jam?!

Dengan tubuh yang sebenarnya masih lemah—karena efek obat bius—Gintoki berjalan ke luar dari ruang kesehatan. Kepalanya masih terasa sedikit berat, hingga dia harus berjalan sambil berpegangan di dinding.

"Pergi ke mana dia?" tanya Gintoki entah pada siapa begitu dia sampai di kelas dan hanya melihat tas Hijikata. Apa jangan-jangan Hijikata sedang mencarinya sekarang?

Sempat terdiam sejenak, Gintoki akhirnya melipat seragam sekolahnya dan memasukkan ke dalam tasnya. Kemudian diambilnya tas Hijikata, sebelum dia menuju pintu kelas. Lebih baik dia juga mencari Hijikata.

.

. .

"Ayo, cepat buka bajumu!" Takasugi sudah tak sabar begitu Hijikata—yang masih berada di dalam kolam—hanya bergeming.

Pemuda berponi V itu sejak tadi memikirkan cara agar bisa kabur dari Tatsuma dan Takasugi. Dia harus berpikir dengan tenang, pasti ada sebuah cara!

"Hei, kalau kau tidak mau melepaskan bajumu sekarang..." Tatsuma akhirnya bersuara. Membuat Hijikata dan Takasugi kompak menoleh ke arahnya, karena nada suara itu terdengar mengancam. "Temanmu, Sakata Gintoki, akan kami sandera dan sekap di rumah kami."

Kedua mata Hijikata sontak membelalak. Berbeda reaksi dengan Takasugi yang tiba-tiba menyeringai, sebelum dia bersiul panjang.

"Ide yang bagus, Nii-san! Dengan begini," dia mengerling ke arah Hijikata dengan dagu terangkat, "aku bisa 'bermain-main' dengan Gintoki setiap hari~"

Seperti tersengat begitu mendengar perkataan pemuda bersurai ungu gelap itu, Hijikata akhirnya berseru, "Ti-tidak!" dia berenang ke pinggir kolam, "Kumohon, jangan lakukan hal buruk pada Gintoki. Aku... aku akan menuruti permintaan kalian!" Sadar kalau sekarang dia tak ada pilihan lain selain menunjukkan lambang di punggungnya.

Tatsuma dan Takasugi saling berpandangan dengan sudut bibir terangkat begitu melihat Hijikata akhirnya naik ke atas kolam. Baju olahraga yang dipakainya sudah basah semua. Hijikata berdiri di hadapan keduanya dengan sorot mata yang berubah suram. Setelah menarik napas panjang, dia akhirnya melepas baju olahraganya ke atas kepala hingga lepas.

"Ayo berbalik!" perintah Takasugi begitu Hijikata sudah bertelanjang dada. Hijikata kembali menarik napas panjang, sebelum akhirnya dia berbalik dan membelakangi kedua orang itu.

Seketika kedua mata Tatsuma dan Takasugi membelalak bersamaan. Keduanya tercekat. Hijikata mengernyit, kenapa kedua orang itu tidak merespon? Apa terlalu terkesima melihat lambang di punggungnya?

"Sepertinya...," suara Tatsuma akhirnya terdengar, "kami berdua sudah salah orang..."

Eh? Kali ini kedua mata Hijikata yang membelalak. "Nani?"

"Lambang itu tidak ada di punggungmu," jawab Tatsuma. Hijikata berbalik dan menatap keduanya dengan mata semakin membelalak. "Gomennasai," lanjutnya, kemudian menyenggol lengan Takasugi agar melakukan hal yang sama; meminta maaf pada Hijikata.

Takasugi berdecak begitu Tatsuma melotot ke arahnya, "Tch, aku juga minta maaf," katanya dengan setengah hati.

"Oh, ya, maaf juga sudah menyembunyikan seragam sekolahmu," ujar Tatsuma sambil cengengesan. "Ayo, ikut denganku. Seragam sekolahmu ada di dalam mobilku."

"Daijoubu," meski sebenarnya masih bingung karena kata Tatsuma tadi lambang di punggungnya tidak ada, Hijikata akhirnya menghela napas lega dalam hati. "Ah, kalau begitu nanti aku akan menyusul Sensei setelah mengambil tasku dan tas Gin—" Hijikata menepuk dahinya tiba-tiba. Astaga! Dia baru ingat dengan Gintoki! "Ah, gomen, aku pergi duluan! Nanti pasti aku menyusul!"

"Kalau begitu kami tunggu di tempat parkir!" seru Tatsuma begitu Hijikata sudah berlari pergi. Sebagai jawaban, pemuda itu mengangkat jempolnya ke udara tanpa berhenti berlari.

"Nii-san..."

Tatsuma tersentak begitu merasa aura berbahaya menguar dari tubuh adik sepupunya. Dengan wajah horor dia menoleh, "Ha'i?"

"Kau sudah membuat harga diriku jatuh karena meminta maaf pada makhluk norak yang kuanggap rivalku itu!" Takasugi menggeram dengan kedua mata menyipit.

"Hei, tenang. Calm down. Kita tidak menduga kalau ternyata salah orang, kan?" Tatsuma buru-buru menjelaskan pokok permasalahan. "Tapi, ini aneh sekali. Jam tangan yang kupakai ini memberi sinyal kalau Hijikata itu Toshi."

"Pasti sudah rusak. Nii-san itu kan tidak bisa menjaga barang," kata Takasugi sambil melengos pergi.

Tatsuma memajukan bibir bawahnya. "Kalau sudah begini, kita harus kembali ke dunia neraka sebentar malam, dan meminta penyihir di kerajaan kita untuk membuat sesuatu yang baru agar bisa menemukan Toshi."

"Tidak mau," dengus Takasugi tanpa menoleh. "Nii-san saja sana yang pergi sendiri!"

"Wakatta, wakatta." Tatsuma mengalah.

.

. .

"Benar-benar tidak ada," gumam Hijikata tak percaya begitu dia berhenti di salah satu jendela dan melihat lambang di punggungnya menghilang tanpa bekas!

Dengan senyuman lebar, Hijikata kembali meneruskan langkahnya. Dia harus kembali ke kelas untuk mengambil tasnya dan tas Gintoki, sebelum pergi ke ruang kesehatan. Hijikata berkedip dua kali begitu dari kejauhan dia melihat Gintoki sedang berjalan di koridor seorang diri.

"Gintoki!"

Gintoki terkejut dan menghentikan langkahnya. Begitu dia menoleh ke belakang, Hijikata berlari ke arahnya masih dengan bertelanjang dada. Pemuda itu berhenti di depannya dengan napas sedikit terengah.

"Kenapa kau basah kuyup dan bertelanjang dada begitu?" Kedua kening Gintoki mengerut bingung.

"Itu tidak penting!" Hijikata mengibas-ngibaskan tangannya. "Kau harus lihat ini! Lambang di punggungku menghilang!" Dia berbalik dan menunjukkan punggungnya pada pemuda perak itu.

Kedua alis Gintoki terangkat tinggi-tinggi. Ternyata Hijikata tidak asal berbicara. Bagaimana bisa?

Namun sedetik berikutnya, tiba-tiba lambang itu muncul lagi di punggung Hijikata. Gintoki membelalak, sebelum dia menyentuh punggung pemuda itu dengan sebelah tangannya. "Oi, lambang di punggungmu muncul lagi..."

"Are?!" Hijikata tersentak. "Muncul lagi?" Alisnya mengerut bingung.

Gintoki mengangguk begitu Hijikata kembali berbalik dan berhadapan dengannya. Pemuda berponi V itu segera berjalan ke arah jendela terdekat untuk melihat punggungnya. Ternyata apa yang dikatakan Gintoki benar, lambang di punggungnya muncul lagi!

"Benar kau tidak mau ikut denganku?"

"Sudah kujawab tadi, kan!"

Begitu mendengar suara Tatsuma dan Takasugi yang berjalan mendekat, dengan panik Hijikata celingak-celinguk mencari tempat bersembunyi. Bisa gawat jika kedua orang yang tadi menceburkannya di kolam dan menuduhnya Pangeran Toshi, melihat lambang yang sudah muncul kembali di punggungnya!

Aha! Itu dia! seru Hijikata dalam hati begitu melihat pintu kecil yang ada di samping tangga. Buru-buru Hijikata berlari menuju pintu itu, tak lupa menarik Gintoki juga ikut dengannya.

"Hei!" protes Gintoki begitu Hijikata mendorongnya masuk lebih dulu ke dalam ruang penyimpanan alat-alat kebersihan yang lebarnya hanya setengah meter itu. "Apa maksudnya ini—"

"Ssst!" Hijikata menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, sembari menarik pintu hingga menutup dengan tangannya yang bebas. "Ini benar-benar urgent! Kita harus bersembunyi di sini sementara waktu hingga dua orang itu pergi!"

"Dua orang siapa?" tanya Gintoki bingung. "Lagipula, tempat ini gelap dan sempit!" Matanya melotot tidak terima.

"Ssst! Nanti ketahuan!" bisik Hijikata sambil merapatkan tubuh mereka.

Kedua tangan Gintoki berusaha mendorong dada Hijikata agar pemuda itu memberinya ruang sedikit, karena dia sudah terjepit di antara dinding dan tubuh Hijikata. "Hijikata, jangan injak kakiku! Sakit tahu!" desisnya.

"Ah, gomen!" Tapi Hijikata kembali melakukan hal yang tidak sengaja. Kali ini lututnya melesak di antara selangkangan Gintoki. Tentu saja hal itu membuat pemuda perak itu menjerit kaget.

"HYAAA—Umph!"

Hijikata yang panik mendengar jeritan Gintoki seketika membekap mulut pemuda manis itu dengan telapak tangannya. Tubuh Gintoki semakin mengeliat tak nyaman atas perlakuan Hijikata; entah Hijikata sadar atau tidak, karena sebelah lengannya melingkar di pinggang Gintoki, dan membuat pemuda manis itu harus berjinjit karena dia menariknya sedikit naik ke atas pahanya.

"Kau mendengar suara tadi?" Langkah Takasugi sontak berhenti di depan tangga.

Tatsuma menggeleng. "Tidak. Memang suara apa?"

Kedua bola mata Takasugi memutar malas, "Lupakan," dia kembali berjalan, "sepertinya Nii-san harus pergi ke dokter THT untuk memeriksa telinga."

Hijikata menghembuskan napas lega lewat mulutnya begitu dia mendengar kedua orang itu sudah berlalu pergi. Dia akhirnya melepaskan bekapannya di mulut Gintoki. "Hei, kenapa kau sampai terengah-engah begitu?" tanyanya bingung.

"Bakayarou," Gintoki berkata di sela-sela napasnya yang masih belum teratur, "cepat singkirkan kakimu dari selangkanganku!"

"Kakiku?" Hijikata mengernyit. Karena tidak bisa melihat apa-apa, dia akhirnya menggunakan cara lain; dengan menggesek-gesekkan kakinya di antara selangkangan Gintoki. Pemuda manis itu mengerang tertahan, sembari berusaha mendorong dada Hijikata dengan kedua telapak tangannya. Dan Hijikata akhirnya baru sadar dengan apa yang dilakukannya. "Huwaaa! Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!" serunya panik.

Dengan sebagian tenaga yang berhasil dikumpulkan, Gintoki menonjok dagu Hijikata, hingga pintu di belakang pemuda itu terbuka.

"Auuuh..." Hijikata meringis, sembari berjongkok memegang dagunya dengan kedua tangannya.

"Dasar mesum! Sudah kubilang singkirkan kakimu! Kenapa malah melakukan hal mesum tadi, heh?" geram Gintoki sambil menjambak rambut Hijikata dengan kedua tangannya.

"Aw! Aw! Awww!" Hijikata berusaha melepaskan kedua tangan Gintoki dari rambutnya. "Sakit! Gintoki sudah cukup!"

Gintoki akhirnya melepaskan jambakannya. Hijikata menarik napas lega, tapi hanya sebentar, karena ternyata di sesi kekerasan berikutnya kali ini Gintoki menendang-nendang tubuhnya.

"Rasakan ini! Rasakan! Rasakan!"

"Wuaaa! Aduuuh... sudah cukup!" Hijikata meratap dengan tubuh yang terguling-guling di lantai.

Pemuda manis itu akhirnya berhenti begitu dia puas dan napasnya sudah terengah-engah. Hijikata bangun seperti orang sekarat, sebelum dia bersin beberapa kali. Sebelah tangannya menopang di dinding begitu dia merasa kepalanya tiba-tiba pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Gintoki yang melihat tubuh itu terhuyung-huyung, langsung cepat menahannya sebelum Hijikata terjengkang ke belakang.

"Oi, kau kenap—" pertanyaan Gintoki tak sempat selesai begitu tubuh Hijikata tiba-tiba menggigil dalam pelukannya. Terkejut, begitu dia menempelkan telapak tangannya di dahi Hijikata, dan merasakan panas. Tiba-tiba dia jadi merasa bersalah karena sudah melakukan tindakan kasar pada Hijikata.

Setelah meletakkan tubuh Hijikata duduk bersandar di dinding, Gintoki langsung melepas baju olahraganya dan memakaikannya di tubuh Hijikata. Dia berlari mengambil tasnya dan tas Hijikata, kemudian mengeluarkan gakuran-nya dari dalam tasnya, dan memakaikannya juga pada Hijikata.

"Hijikata, oi, kau masih bisa berjalan?" tanya Gintoki khawatir. Hijikata mengangguk setengah sadar. Setelah memakai kemeja sekolahnya, Gintoki menyampirkan tasnya dan tas Hijikata di bahu kirinya. Kemudian dia menopang sebelah lengan Hijikata di bahunya, sementara lengannya yang bebas melingkar di pinggang pemuda itu.

.

. .

"Lama sekali sih dia!" Takasugi berdecak tidak sabar di dalam mobil.

"Sudahlah," Tatsuma yang duduk di balik kemudi menoleh dan menatap adik sepupunya, "mungkin dia masih membangunkan si Gintoki itu. Kan tadi aku tidak sengaja membiusnya." Kedua mata Tatsuma kembali menoleh ke depan, hingga tiba-tiba menyipit begitu dia melihat Gintoki sedang menopang tubuh Hijikata yang berjalan. "Hei, bukannya itu Gintoki, kan? Lalu, kenapa dengan Hijikata?"

"Itu memang Gintoki! Cepat jalankan mobil dan dekati mereka, Nii-san!" perintah Takasugi.

Tatsuma mengangguk dan menyalakan mesin mobil. Mobil yang dikemudikannya berhenti tepat di samping kedua pemuda itu. "Kenapa dengan Hijikata?" tanya Tatsuma setelah menurunkan kaca jendela mobilnya.

Gintoki terkejut. Pria ini kan yang dilihatnya di ruang kesehatan. "Dia tiba-tiba demam," jawab Gintoki dengan sorot mata waspada.

Tatsuma dan Takasugi saling berpandangan. Apa karena tadi mereka menceburkannya di kolam renang, ya?

"Ah, kalau begitu naiklah. Biar kuantar kalian berdua pulang," kata Tatsuma karena merasa bersalah.

Kedua mata Gintoki masih menatap waspada dan curiga. Tapi begitu melihat kondisi Hijikata semakin melemah, dia akhirnya tak ada pilihan lain selain mengangguk. Dibukanya pintu tengah mobil dan memasukkan Hijikata lebih dulu, sebelum dia ikut masuk. Gintoki kembali terkejut begitu dia melihat Takasugi ternyata duduk di samping Tatsuma.

"Aku dan Tatsuma sensei bersepupu. Dan kami satu rumah," jelas Takasugi, seolah bisa membaca pikiran Gintoki.

Mobil Tatsuma akhirnya berjalan begitu Gintoki memberi tahu alamat apartemen mereka. Tidak ada yang memulai pembicaraan di dalam mobil itu. Dari kaca spion, Takasugi bisa melihat Gintoki membawa kepala Hijikata berbaring di atas pangkuannya. Dia benar-benar iri. Apalagi, pemuda manis itu tampak membelai sisi wajah Hijikata dengan lembut. Tidak mau melihat pemandangan menyakitkan matanya itu lebih lama, Takasugi akhirnya membuang pandangannya ke luar jendela sambil berdecih.

Tak sampai lima belas menit, mobil Tatsuma akhirnya berhenti di depan apartemen Hijikata dan Gintoki. Tatsuma membuka pintu di sampingnya, setelah sebelumnya dia berkata, "Ayo, Takasugi. Kita angkat Hijikata bersama."

Takasugi mendengus, "Tidak mau. Nii-san saja."

"Kau ini, teman sekelasmu lagi sakit tapi tega sekali," gerutu Tatsuma. Akhirnya, dia dan Gintoki yang membawa Hijikata, meninggalkan Takasugi yang menunggu sendiri di dalam mobil.

.

. .

"Arigatou, Sensei," kata Gintoki begitu dia mengantar Tatsuma sampai di depan pintu apartemen.

Tatsuma mengangguk sambil tersenyum, "Apa tidak apa-apa dia tidak dibawa ke dokter?"

"Iya, biar aku merawatnya saja di sini," jawab Gintoki.

"Oh, baiklah. Kalau begitu aku pamit pergi."

Kedua mata Gintoki terus mengikuti hingga punggung Tatsuma menghilang di balik tembok. Setelah menutup pintu, dia kembali menuju kamar Hijikata, melanjutkan untuk mengompres demam pemuda itu.

Setelah duduk di pinggir tempat tidur, Gintoki meremas handuk kecil yang dia celupkan di dalam mangkuk air, sebelum meletakkannya di dahi Hijikata. Dia terus melakukan hal itu dengan telaten sampai hampir sejam. Melihat panas Hijikata tak kunjung reda, Gintoki akhirnya memutuskan untuk pergi membeli obat. Tapi, baru saja dia akan berdiri, Hijikata langsung menahan pergelangan tangannya.

"Mau pergi ke mana?" tanya Hijikata dengan suara lemah dan kedua mata setengah terpejam.

"Aku mau pergi beli obat untukmu." Raut wajah Gintoki semakin bertambah cemas begitu melihat wajah Hijikata yang memerah karena demam.

Hijikata menggeleng-geleng, "Tidak usah. Jangan pergi. Di sini saja," pintanya.

Melihat Hijikata semakin tak berdaya seperti itu, Gintoki akhirnya mengalah, "Baiklah."

"Gintoki..."

"Ya?"

"Tidur di sampingku."

Gintoki terdiam. Bertahun-tahun selalu bersama Hijikata, dia sudah tahu kalau Pangeran Neraka ini selalu manja jika sakit. Gintoki menarik napas panjang, sebelum dia berkata, "Ha'i, ha'i, wakatta." Dia merangkak naik ke atas tempat tidur dan berbaring menyamping di sebelah Hijikata. Kedua mata Gintoki terpejam tanpa sadar begitu Hijikata membawa kepalanya bersandar di dada kiri. Dia bisa mendengar detak jantung Hijikata dengan jelas. "Sekarang, kau tidur, ya? Supaya demammu cepat turun."

"Tapi, kau harus janji tidak akan meninggalkanku—" ada jeda sejenak, sebelum Hijikata melanjutkan dengan suara lirih, "—aku takut sendirian."

Gintoki tertegun. "Aku janji. Saat kau bangun nanti, aku pasti akan selalu berada di sampingmu. Tidurlah..." Kemudian tanpa sadar, dia melantunkan sebuah lullaby, hingga membuat kedua mata Hijikata sayup-sayup mulai terpejam dan akhirnya pemuda itu tertidur.

.

.

.


Bersambung...


Jeanne's notes:

Terima kasih bagi yg sudah meninggalkan apresiasi di Bab 5:

AlcoholicOwl (yg sudah saya balas via PM) dan Hijikata Rinki (yg sudah saya balas via LINE). ^^

Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di Bab 7~ :)