Review Reply :

Ryu mengucapkan terima kasih yang banyak untuk Nakamura Kumiko-chan, Naru-mania, Dei-kun 123, Uchiha Ry-chan (pp-nya mulai jd DeiSaku tuh, ketularan Ryu ya?), Intan, Angga Uchiha Haruno, Kuroshiro6yh (Lam knal juga, di fave? Silahkan, kan gak bayar XD), Fusae Deguchi, Haruchi Nigiyama.

Alasan dichapter sebelumnya gak ada lemon dikarenakan Ryu tertangkap basah mengetik bagian lemon (kategori parah dan menyerempet ke rate M) tersebut. Alhasil Ryu diteriakkin sama Okaasan yang tercinta. Maklum aja Ryu belum punya KTP Negara, baru punya KTP sekolah. Maka dari itu Ryu minta maaf kalo mengecewakan... Gomen ya...

- - -

- - -

WARNING !! (Warning penting untuk menjelaskan apa saja yang terkandung didalam fict/chapter ini) : Battle Scene (Sakura vs Karin, KakaAnko vs Suigetsu, HidanGenmaIbiki vs Jugo, Deidara vs Sasuke), Romance scene (dikit banget), OOC, many more...

- - -

- - -

Summary : Deidara dan yang lainnya menuju lokasi yang diminta Sasuke. Pertarungan berat terjadi ! Apakah kali ini mereka semua dapat menghentikan Sasuke sepenuhnya ? Check It Out !!

- - -

- - -

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

My Beautiful Guardian © Ryuku Zhank

My Beautiful Guardian, Chapter 7 : Battle Area

- - -

- - -

'Sa-su-ke?!'

Sakura menjatuhkan surat kecil itu. Tubuhnya bergetar hebat. Tanpa pikir panjang dia mendobrak masuk kesembarang pintu di lorong kiri.

'Dubraaaakkk!!'

Sakura memasuki kamar mini itu dan menemukan Hidan yang tengah menatapnya bingung.

"Ada apa Sakura?"

Sakura tidak merespon matanya masih menyiratkan ketakutan, keringatnya mengalir deras dan tubuhnya masih bergetar.

A few minutes later...

"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Hidan entah pada siapa sambil memainkan sebuah kertas ditangannya.

"Surat itu seperti memaksa kita untuk mengikuti semua yang tertera disana." Ucap Anko.

"Kita memang lebih banyak dari mereka, tapi bisa saja Sasuke menyewa beberapa orang." Tegas Genma.

"Benar! Tapi kalau tidak sekarang kapan lagi kita selesaikan masalah ini??!!" Jerit Anko.

"Baiklah. Kita putuskan saja sekarang!" Timpal Kakashi yang tiba-tiba muncul.

Hidan melirik pria perak itu dengan bingung.

"Kita bisa pergi kesana bersama-sama. Anko denganku, Hidan dengan Genma dan Ibiki kemudian Sakura dengan Deidara. Tidak sulit kan?"

"Kalau begitu kita bersiap-siap!" Seru Anko kemudian menghambur menuju kamarnya disusul dengan Genma, Kakashi, dan Ibiki.

"Sakura kau tidak apa-apa?" Tanya Hidan pada Sakura. Jelas saja sejak tadi Sakura hanya berdiri mematung.

"Ti-tidak..."

Sakura melangkahkan kakinya untuk kembali membangunkan Deidara.

'KREK'

"Ah!"

Betapa terkejutnya Sakura ketika menemukan Deidara berdiri dibelakang pintu saat ia masuk.

"Aku dengar semuanya." Katanya lirih.

Sakura hanya tersenyum tipis kemudian menatap mata safir Deidara.

"Ada apa Deidara?"

"Tidak ada..."

Deidara melemparkan pandangannya. Entah kenapa kali ini dia tidak berani menatap mata Sakura.

"Aku rasa ada."

"Eh?"

"Kau katakan saja."

"Aku bilang tidak ada. Sudahlah! Kita lebih baik bersiap!" Katanya kemudian beralih pada peralatan miliknya.

Sakura menunduk. Dia merasa kalau hari ini terasa aneh tidak seperti biasanya. Dia mengepalkan kedua tangannya kuat. Hatinya sakit teriris. Bukan karena sikap Deidara yang berubah hari ini, tapi karena surat dari Sasuke beberapa saat yang lalu.

Deidara melirik Sakura yang masih berdiri dalam diam.

"Sampai kapan mau disitu?"

"Hn..."

Sakura mendekati Deidara yang tengah sibuk dengan alat-alat miliknya. Sakura duduk disebelah Deidara, Deidara mendelik dan melihat wajah Sakura yang lesu dan tidak bersemangat.

"Kenapa?" Tanyanya.

"Tidak..."

"Aku rasa iya..."

"Kau mengembalikan kata-kataku."

Deidara tersenyum manis membuat Sakura tidak berhenti memandangi pria pirang itu.

"Jangan lihat aku seperti itu dong!"

"Mau aku bantu?"

"Tidak perlu."

Sakura terus-teruan memperhatikan pekerjaan Deidara selama beberapa menit. Mereka berdua sudah terkurung didalam keheningan hanya decitan pistol ataupun yang lainnya yang memecah keheningan diantara mereka.

"Dei-da-ra..."

"Hn?"

"A-aku mau katakan-se-suatu."

"Katakan saja..."

"Aku sebenarnya men..."

"Deidara!! Sakura!! Ayo cepat!!"

Teriakkan Kisame membuat Sakura menghentikan kata-katanya. Sepertinya bukan hanya Deidara yang gagal mengatakan 'cinta' pada Sakura, tetapi Sakura sendiri gagal mengatakannya. Seakan-akan Tuhan tidak mengizinkan mereka saling mencinta.

"Apa tadi?"

"Tidak!"

"Lho?"

- - -

- - -

"Ini gedung yang berada di utara Osaka. Sasuke hebat juga bisa mengetahui posisi kita. Setelah kita menuruni bukit ada pertigaan. Kita berpencar dan bertemu disatu titik, kalaupun kita tidak bertemu didepan gedung itu kita harus tetap masuk." Jelas Hidan sambil menganalisa denah menuju sebuah gedung melalui GPS-nya.

"Baiklah."

Mereka semua berlari dengan cepat menuruni bukit. Memang terbukti kalau turun itu lebih mudah daripada naik. Mereka meninggalkan villa pada tengah hari, yang masih berada disana hanyalah Kiba dan Akamaru.

Sampai dipertigaan, Sakura dan Deidara mengambil jalan lurus, Kakashi dan Anko kekanan sementara Genma, Hidan juga Ibiki mengambil jalan kekiri. Mereka semua terus berlari tanpa gentar. Rasa lelah tak hadir didalam raga mereka, yang hadir hanyalah rasa kekekasalan.

Sakura yang tertinggal berusaha menambah kecepatan berlarinya berada tepat disamping Deidara. Baru saja posisi Sakura sejajar dengannya, Deidara segera menarik tangan kanan Sakura dan mengajaknya berlari lebih cepat.

"Wow!"

Sakura kewalahan untuk mengimbangi kecepatan berlari Deidara. Beberapa kali ia tersandung batu dan hampir jatuh. Untungnya tangan Deidara kuat untuk menahannya.

A few minutes later...

Deidara dan Sakura mendongakkan kepalanya ketika mereka melihat sebuah gedung menjulang tinggi serta satu-satunya gedung yang paling jauh dari gedung lainnya seperti sengaja dibangun dengan letak yang jauh dari jangkauan orang.

"Itu!!"

Mereka berdua masuk kedalam gedung yang luar biasa tinggi tersebut. Tidak ada tanda-tanda akan kemunculan yang lain saat mereka berada didalam maupun diluar tadi.

"Apapun yang terjadi, jangan pernah melepas tanganmu dariku." Ucap Deidara.

"Iya!"

Mereka terus berlari. Ruangan yang mereka masuki kosong. Tidak ada apapun didalamnya hanya ada tangga pada ujung ruangan. Mereka terus berlari, menaiki tangga secara berulang-ulang. Sampai...

"Kyaaaaaaa!!"

"Sakura!!"

Tiba-tiba saja Sakura menghilang saat dirinya menyentuh sebuah dinding. Deidara shock dan berusaha memanggil nama gadis itu dengan cemas.

"Aku baik-baik saja! Kau teruskan saja!!"

"Tapi Sakura, aku..."

"Sudah sana! Aku akan menyusul!"

'Berjanjilah!!'

Dengan terpaksa Deidara kembali menaiki tangga menuju lantaii atas. Sementara Sakura, dia berada diruangan yang sunyi. Ruangan itu cukup luas didepan Sakura, memanjang jendela sehingga Sakura bisa melihat pemandangan yang ada diluar.

"Aku tidak mengerti kenapa Sasuke-sama menginginkan kau mati..."

Sakura terperanjat dan menoleh ke sumber suara. Dirinya menemukan sosok seorang wanita berambut merah, bermata merah, dan berkacamata. Sakura merasa kalau wanita itu adalah korban mode, dikarenakan rambutnya panjang sebelah.

"Siapa kau?" Tanya Sakura.

"Karin."

"Karin? Apa maumu?"

"Seperti yang kau tahu. Aku punya tugas untuk membunuhmu."

"Cih! Memangnya kau mempunyai kemampuan apa ?"

"Kau akan tahu nanti."

Karin menarik sesuatu dari belakang tubuhnya. Sakura tengah bersiap memasang kuda-kudanya sambil tersenyum mengejek. Karin menarik seutuhnya benda yang ia pegang lalu menunjukkannya pada Sakura.

"Rantai itu senjatamu ya? Kita lihat saja, apakah kau bisa selamat dariku?"

Karin melemparkan rantainya ke Sakura sedangkan Sakura berhasil menghindar dan bersiap meninju Karin.

- - -

- - -

"Sial! Apa kita salah masuk ruangan?" Umpat Hidan kesal masuk kedalam ruangan yang terang dan aneh.

Aneh karena warna ruangan itu yang sangat mencolok. Warna oranye berseling kuning, siapapun yang melihat ruangan itu pasti langsung sakit mata.

"Sudah tiba saatnya."

Seorang laki-laki berbadan besar dengan dua katana (untung inget) dipinggangnya muncul didepan Hidan dan lainnya.

"Siapa?" Tanya Ibiki dengan tatapan mengintimidasi.

"Aku? Jugo..."

"Jadi kau yang menyerang Deidara dan Sakura ? Payah juga kau kalah dari mereka yang berbadan kecil." Ejek Hidan.

"Aku akan membunuh kalian semua !"

Jugo mencabut dua katananya sedangkan Hidan, Ibiki dan Genma sudah siap dengan senjata-senjata mereka.

"Tiga lawan satu? Tidak masalah bagiku." Remeh Jugo.

"Cih ! Kau sombong juga !" Balas Genma.

Genma mencabut dua pistolnya yang terletak dikedua kakinya, kalau Ibiki ia mengambil sebuah shotgun dari dalam jubahnya(?) sedangkan Hidan dia mengambil dua bilah pisau lipat dari saku celananya.

"Hidan?"

"Cih! Sudahlah kita bertarung saja!!"

- - -

- - -

Sepasang mata abu-abu dan hitam gelap menerawang tempat mereka berada sekarang. Ruangan yang seratus persen tidak ada atau sama sekali tidak bercahaya.

"Kita ini dimana Kakashi-kun?"

"Entahlah..."

Mereka terus berjalan. Anko memeluk lengan kiri Kakashi tanpa ampun, entah takut atau mencari kesempatan didalam kegelapan. Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka.

"Senang bisa bertemu dengan kalian lagi!"

"Siapa itu?"

"Oh, maaf. Aku lupa menyalakan lampu, namaku..."

Tiba-tiba ruangan gelap itu mulai terang walaupun sedikit suram dan redup. Kakashi dan Anko membelalak saat mata mereka menemukan sosok yang sudah mereka kenal.

"Suigetsu Hozuki..."

Anko menatap mata Kakashi yang menyiratkan kebencian yang luar biasa kuat.

'Kakashi?'

"Jadi kita akan lanjutkan yang waktu itu?"

"Tentu."

Suigetsu mencabut pedang besarnya. Kakashi dan Anko sudah bersiap dengan senjata masing-masing.

"Aku penasaran. Darimana kau mendapatkan pedang itu?"

"Ini milik seniorku dulu, Zabuza Momochi..."

"Jadi tiga tahun lalu, kau yang membunuhnya."

"Memang benar. Bagaimana kalau kita mulai sekarang?"

"Memang harus sekarang!!"

"Heyyyaaaaaaa!!"

Suigetsu mengayunkan pedangnya kearah Anko dan Kakashi. Anko menghindar dengan melompat sementara Kakashi hanya merunduk. Kaki Kakashi dengan cepat menyelengkat kaki Suigetsu, Suigetsu melompat untuk menghindar tapi Anko dengan cepat menendang tubuhnya hingga membentur tembok. Suigetsu bangkit dengan cepat, segera ia lemparkan pedang besar miliknya itu kearah Kakashi. Kakashi yang reflek segera menghindar tapi sayang itu hanya tipuan. Suigetsu menarik gagang pedangnya dan menendang kuat tubuh Kakashi yang tidak jauh dari jangkauan kakinya. Kakashi menahan kaki Suigetsu, Suigetsu meletakkan pedangnya dan dengan lihai ia memutar badan serta kakinya dengan cepat kembali menggapai pedangnya dan menebas Kakashi. Kakashi yang terlambat menghindar terkena tebasan Suigetsu walaupun tidak dalam.

"Cih! Kurang dalam!"

"Ugh!"

"Kau tidak apa??!!"

"Ya!"

Suigetsu yang tanpa ampun kembali meyerang duo itu. Anko menghindar dengan cepat dan menembakkan pistolnya sambil terus menghindar. Kakashi kembali bangkit walaupun lukanya cukup sakit. Anko menembak gagang pedang Suigetsu, karena firing speed pistol milik Anko sangat kuat, pedang lelaki bertaring itu terlepas dari tangannya sambil meringis.

'Wanita sial!'

Anko tidak tinggal diam. Dia segera mengajak Suigetsu terlibat dalam baku hantam yang kasar. Saling serang sana-sini. Suigetsu terus menghindar sembari mencari celah untuk kembali meraih pedang miliknya.

"Gotcha!!"

Suigetsu mengayunkan pedangnya menghunus Anko. Nyaris saja wanita itu terpotong kalau ia tidak menghindar dengan cepat. Kakashi kini ambil alih dari pertempuran, sengaja membiarkan Anko mengumpulkan tenaganya kembali.

- - -

- - -

"UARRRRGGGHHH!!"

"Kalian kuat juga..."

'Sial!'

Hidan, Ibiki, dan Genma sudah kewalahan menghadapi Jugo. Walaupun kondisinya 3 lawan 1, entah kenapa sulit sekali untuk menaklukkan Jugo. Kalau sekarang mereka bersebelahan dengan Deidara ataupun Sakura, mereka pasti sudah bertanya cara untuk mengatasi pria berbadan besar itu.

Hidan bangkit dan menyeka darah yang mengalir dari dahinya. Sementara Genma sudah penuh luka parah hampir diseluruh bagian tubuhnya. Ibiki masih berdiri tegap walaupun tubuhnya juga penuh luka.

"Genma beristirahatlah. Kami akan atasi ini."

Genma tidak merespon. Matanya mulai berat dan akhirnya tertutup. Bukan karena tewas tapi karena tidak tubuhnya tidak sanggup menahan beban lelah ditambah beban luka.

'Jtaaaarrr!! Jtaaaarrr!!'

Hidan menyerang Jugo dengan tangan kosong dalam jarak yang dekat, kemudian menyerang pemuda berbadan besar itu hanya dengan pukulan. Jugo menghindari pukulan serta tembakkan dari Hidan dan Ibiki dengan mudah, sampai akhirnya ia mendapat kesempatan untuk menghunus Hidan saat Hidan lengah.

'ZLEEEEEEEBBBB!'

"Hidan!!!"

Suasana menjadi tenang. Hidan dan Jugo tidak bergeming. Sampai pada akhirnya Hidan menyeringai dan menarik katana milik Jugo yang menancap dipinggangnya.

"Kukembalikan!! GYAHAHAHAHAHAHA!!"

Hidan menikam pinggang Jugo. Jugo tersentak dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Sementara itu Ibiki bernafas lega karena Hidan hanya mencoba mengelabui dia maupun lawan mereka.

"I-ni be-belum se-lesaiiii!!!!"

"...!! APA?!!"

Jugo menendang pinggang Hidan yang terluka hingga terpental menghantam tembok. Mulutnya berulang kali mengeluarkan darah segar. Pandangan Hidan kian memburuk. Matanya mulai sulit untuk mencerna keadaan.

"Hidan!!"

"Jangan lengah..."

Ibiki sukses menghindar sebelum Jugo mengayunkan katananya.

"Sekarang jadi 1 lawan 1. Kau hadapi aku, Jugo."

- - -

- - -

"Hosh...hosh...hosh..."

'Sial sudah berapa lantai kunaiki tapi aku belum sampai juga ke paling atas' Batin Deidara sambil berlari menaiki tangga yang berputar-putar. Entah sudah lantai keberapa dia berada sekarang, yang jelas sejak tadi pria pirang ini tidak sampai-sampai.

Deidara terus berlari tanpa henti. Pikirannya terbagi menjadi dua, disatu sisi dirinya tak henti-henti memikirkan Sakura.

'Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa?!' Batinnya menjerit.

Deidara berhenti berlari saat ia tidak lagi menemukan tangga menuju atas. Matanya terpaku pada pintu yang ada didepannya. Dengan hati-hati ia membuka pintu tersebut.

'WUUUSSHHH...'

"Ini sudah paling atas..."

Deidara celingukkan saat dirinya berada diatap gedung dimana pembatasnya sangat pendek. Sangat memungkinkan untuk membuat siapapun yang berkelahi disini akan cepat mati. Deidara menuju pinggir atap, matanya pusing saat menatap kebawah yang sangat jauh dari posisinya sekarang.

"Aduuhhh..." Gumamnya sambil menggeleng-geleng.

"Sudah lama tidak bertemu, Deidara."

Deidara menoleh betapa terkejutnya dia saat menemukan Sasuke berdiri dengan gagah diatas atap (diatas pintu masuk yang tadi).

"Sasuke?!"

- - -

"Ya."

"Akhirnya kau menampakkan diri juga."

"Karena ini memang sudah saatnya."

"Apa? Apa tujuanmu mengincar Sakura?"

"Hanya untuk membuat dia menyusul kakaknya tercinta."

"Kau!! Kalau begitu kau juga! Kau juga akan kubuat menyusul Itachi!!"

"Coba saja kalau kau bisa."

Sasuke melompat dan menembakkan pistolnya kearah Deidara. Deidara spontan menghindar dan menjangkau pistolnya yang berada didalam jas hitamnya.

'DOR-DOR-DOR!!'

Sasuke menembak Deidara dari jarak dekat. Karena area pertempuran mereka sempit, Deidara hanya berputar-putar sambil terus menghindar dari Sasuke. Ia menggapai 2 pisau lipatnya dan ia lemparkan pada Sasuke. Sasuke menghindar dengan melompat, saat itu juga Deidara menembakkan pistolnya. Sasuke menghindar. Deidara melompat untuk menendang Sasuke dengan kaki kirinya. Sasuke menepis tendangan Deidara dengan kaki kirinya juga. Mereka berdua mendarat untuk mengatur nafas mereka yang tersengal-sengal.

- - -

- - -

Sakura berusaha memancing Karin untuk menyerangnya pada bagian leher. Tubuhnya sudah penuh luka sayatan sana-sini. Begitu juga dengan Karin yang wajahnya biru lebam sana-sini.

"Ayo kacamata!" Ejek Sakura.

"Wanita pink brengs*k!!"

Karin kembali mengayunkan rantainya kearah Sakura. Kali ini tepatnya kearah lehernya. Rantai itu memutari leher Sakura. Sakura berusaha menahan dengan kuat agar rantai tersebut tidak terlalu melilit lehernya.

"Hiiyyyaaaaaaaaa!!"

Karin mengangkat rantainya dan membanting Sakura tepat keluar kendela. Kaca-kacanya pecah berserakan.

"Berakhir sudah!" Gumam Karin.

Ia masih tetap memegang rantainya. Dia berjalan menuju pinggir jendela untuk melihat Sakura terjatuh ataupun mati karena terlilit rantai miliknya.

Sakura belum terjatuh. Tangannya memegang erat rantai milik Karin. Yang terpenting adalah kepalanya sudah terlepas dari rantai. Saat mengetahui Karin berada dipinggir jendela, Sakura berusaha mengangkat tubuhnya. Karena jendelanya luas, Sakura mengayunkan kakinya menyelengkat kaki Karin. Karin yang tidak tahu, segera jatuh berganti posisi dengan Sakura tadi.

Sakura menatap Karin dengan sangar.

"Semoga harimu menyenangkan."

Satu injakkan pada tangan Karin, membuat wanita berambut merah itu terjatuh menuju dasar dengan cara yang mengerikan.

Sakura terduduk lemas. Tubuhnya tidak sanggup berjalan maupun bergerak. Rasanya sangat berat. Hatinya tidak berhenti memanggil nama Deidara. Sakura memaksakan diri untuk kembali berdiri. Berusaha meraba-raba seluruh dinding.

'CKLAK--GEDUBRAAAK!'

"Wadaaaww!!"

Sakura terjungkang kebalik dinding. Saat berdiri dia mengetahui lokasinya berada. Yah... lokasinya saat terpisah dari Deidara beberapa jam yang lalu. Sakura berjalan kearah kiri dengan pelan-pelan. Walaupun lelah Sakura berusaha untuk menaiki tangga untuk menemukan Deidara.

- - -

- - -

Ibiki terlempar kesudut ruangan. Tubuhnya sudah berhiasi luka yang dalam. Darah tidak henti-hentinya mengalir dari seluruh bagian tubuhnya. Tak pernah terlintas dipikirannya kalau hidupnya akan berakhir disini.

'Sial...'

Jugo menghampiri tubuh Ibiki yang sudah sulit bergerak. Tangan kanannya sudah bersiap untuk menghabisi Ibiki hanya dengan satu tusukkan.

'Berakhirkah?'

Jugo mulai mengayunkan pedangnya...

Sedikit lagi...

Beberapa saat lagi...

Dan...

"DOR!!"

Katana Jugo terjatuh dan tangan kanannya mengeluarkan darah. jugo menengok kearah belakangnya dan menemukan seorang wanita yang menembaknya bersama dengan lelaki berjenggot dibelakangnya.

"Kalian rupanya...uhuk-uhuk!!"

"Yah kami datang untuk membantu."

"Siapa kalian?" Tanya Jugo pada pasangan yang baru saja datang itu.

"Kurenai Yuuhi."

"Asuma Sarutobi."

- - -

- - -

"KAKASHIIIII!!"

"Urghhh..."

Kakashi berusaha menahan sakit yang dirasakan diperutnya. Suigetsu menyeringai kejam dan melemparkan Kakashi sehingga pria perak itu terlepas dari beberapa centi pedang milik Suigetsu yang menancap diperutnya. Anko dengan sigap menangkap tubuh Kakashi yang terlempar. Airmatanya mulai mengalir deras saat tubuh Kakashi sudah memucat. Nafasnya tersengal-sengal dan darah tak henti-hentinya mengalir dari perutnya. Suigetsu tertawa jahat dan menghampiri mereka berdua.

"Kalian habis disini."

Suigetsu bersiap untuk menghunuskan pedangnya kepada Anko dan Kakashi. Anko menutup matanya karena tidak sanggup.

'TRAAANG!!'

"Kau??!!"

Anko membuka matanya saat mendengar bunyi gesekkan pedang. Dia terkejut saat menemukan dua sosok yang sangat ia kenal dengan baik.

"Ki-kisame? I-iruka?"

"Anko! Kau baik-baik saja?!" Tanya Iruka panik.

"Yah, tapi Kakashi..."

Iruka meraba nadi Kakashi. Dia bernafas lega karena nadi dan detak jantung Kakashi masih normal walaupun tubuhnya terluka parah.

"Kisame Hoshigaki dan pedang Samehada."

"Suigetsu ya? Sudah lama tak jumpa..."

"Aku akan dapatkan pedangmu."

"Coba saja!"

- - -

- - -

Sakura terengah-engah karena tak henti-hentinya menaiki tangga. Ia menghela nafas panjang. Matanya membelalak saat menemukan satu pintu ditambah dengan bunyi-bunyi yang mencurigakan.

'Deidara!!'

Sakura mencoba berlari walaupun sistim saraf tubuhnya serempak berteriak 'TIDAK!'. Dengan kasar ia mendobrak pintu itu dan menemukan Deidara tengah tergeletak bersimbah darah didepannya. Matanya juga melihat sosok seorang laki-laki dengan gaya rambut aneh serta mata onyx-nya yang kejam yang tubuhnya juga tidak luput dari luka dan darah. Sakura menghiraukan lelaki itu dan beralih pada Deidara.

"Deidara!!"

Sakura mengangkat kepala Deidara keatas pahanya.

"Sa-ku... Sakura?"

"Kau tidak apa-apa?"

"Lihat sendiri dong... Kau sendiri?"

"Aku baik..."

Sakura menitihkan airmatanya diwajah Deidara.

"Hei, ada ap-hmmmp."

Sakura mencium bibir Deidara penuh kasih sayang (author pengen). Tidak perduli akan bibir Deidara yang penuh darah atau apapun. Satu hal yang membuat Sakura takut, takut akan kehilangan Bodyguardnya yang cantik. Sakura melepas ciumannya dari Deidara.

"Hehehe, kau ini kenapa sih? Aku kan tidak akan mati..."

Deidara berusaha bangkit walaupun sulit. Saat tubuhnya hampir jatuh, dengan cekatan Sakura segera memapahnya.

"Khukhukhu... Kalian serasi juga." Ejek Sasuke sambil bangkit berdiri.

"Kau? Sasuke Uchiha?"

"Iya! Itu benar sekali. Kalian berdua tidak akan lolos dariku. Sudah saatnya kalian pergi dari muka bumi ini!!"

- - -

- - -

ToBeCo...

- - -

- - -

Pheeeeewwww... battle scene yang merepotkan... -pundung-

Dei : "Woi! Muke gile loe! Udah gue disuruh lari-lari, luka-luka lagi!"

Ryu : "Aduh, maaf ya Dei-san..."

Dei : "Maaf maaf!! Gue ledakkin baru tau rasa loe!!"

Ryu : "Jangan-jangan... m(_ _)m"

Dei : "KATSU!!"

DUARRRR!!

Ryu : "UWAAAAAAA!! TOLONG REPIEWNYA YA!!!!!!" -terbang gak turun"-