Disclaimer: Naruto (c) Masashi Kishimoto
New Romantics
Touching him is like realizing all you ever wanted was right there in front of you
Memorizing him was as easy as knowing all the words to your old favorite song
_Taylor Swift – Red_
.
.
7
.
.
"Kau yakin Mona tak akan mengganggu kerja mu?" Sakura bertanya pada Sasuke sambil menguncir rambut ikal Mona menjadi satu. Sasuke berpaling dari koran nya dan menatap kedua perempuan itu dengan lembut "Tentu saja tidak, jadwal ku hari ini hanya memeriksa beberapa pasien rawat inap"
Sakura mengangguk sambil terus menciumi pipi Mona yang tembam sehingga gadis kecil itu terkikik geli. Tanpa sadar, Sasuke menyunggingkan senyum nya. Hatinya menghangat melihat Sakura dan Mona yang tertawa bersama. Kapan terakhir kali dia merasakan perasaan seperti ini? Mungkin sudah lama sekali, Sasuke bersyukur dia bisa dipertemukan oleh Sakura yang merubah hidupnya.
"Hei, jangan tersenyum sendiri seperti itu. Kau membuatku takut" lamunan Sasuke buyar seketika Sakura mengejek dirinya dan shit! Memang benar, dia telah tersenyum sendiri sambil terus menerawang. Itu hal paling aneh yang pernah dia lakukan selama ini.
Sasuke mendengus keras dan mengulurkan tangan nya kepada Mona. "Apa?" Sakura mengerutkan dahinya sambil terus mengeratkan pelukan nya pada Mona.
"kau ingin terlambat sekolah? Berikan Mona padaku, aku juga harus berangkat kerja" Sakura menepuk dahinya dan melihat jam tangan nya yang sudah menunjukan pukul 06.45. "Sial, aku lupa" Sakura segera memberikan Mona kepada Sasuke dan mengambil tas sekolah nya secepat kilat. "Aku pergi! Daahh!" Sakura mencium pipi Mona dan Sasuke secara bergantian, Sasuke tersentak dan menyeringai ketika melihat tatapan menggoda Sakura yang kini sudah menghilang dibalik pintu.
Sasuke tertawa melihat Mona yang mengerucutkan bibirnya sambil mengusap pipi sebelah kanan nya yang barusan di cium keras oleh Sakura. "Ya, tante mu memang agresif sayang" ucap Sasuke sambil menyentuh pipi kanan nya yang masih meninggalkan jejak basah sama seperti Mona, akibat ciuman Sakura yang meninggalkan saliva nya disana.
Sakura pov.
Aku tak percaya ternyata Sasuke cukup populer di Barbara Hospital. Setelah pulang sekolah, aku memutuskan untuk menyusul Sasuke di rumah sakit. Aku berencana untuk makan siang berdua dengan nya-bertiga dengan Mona.
Sesampainya di rumah sakit, aku pun segera bertanya kepada resepsionis berambut hijau-yang ku ketahui namanya adalah Mary- dimana aku bisa menemukan ruangan .
Namun, apa yang terjadi? Dia memintaku untuk membuat janji terlebih dahulu, karena tak bisa ditemui kalau tidak membuat janji. Padahal, aku sudah bilang kepada nya, kalau aku ini bukan pasien! Tapi Mary hijau itu tetap tak mengizinkan ku untuk menuju ruangan Sasuke.
Dan, sekarang aku sedang terduduk di loby rumah sakit sendirian. Para perawat pasti berfikir aku adalah anak sekolahan yang menunggu jemputan.
Smartphone ku lowbat! Double sial untuk hari ini. Karena itulah aku tak bisa menghubungi Sasuke dan aku terjebak dengan tatapan mematikan si Mary hijau yang pandangan nya seakan-akan menembus tubuh ku.
"Sakura?" Aku menoleh saat nama ku disebut. Aku kenal orang ini, dia salah satu teman Momma yang pernah berkunjung ke rumah ku.
"Ngg.., Paman Naruto?" Aku berharap tak salah memanggil namanya. Dan, syukurlah ternyata itu benar namanya. Karena sekarang, dia telah tersenyum sumringah ke arah ku.
"Astaga! Ternyata benar kau Sakura! Ku dengar, Karin sedang dipindah tugaskan? Lalu, apa yang kau lakukan disini?" Paman Naruto bertanya dengan sangat antusias, membuat beberapa pasang mata melirik ke arah kami berdua.
"Aku ingin bertemu dengan Sa- , maksudku, Paman Sasuke" Aku tersenyum paksa ke arahnya. Paman Naruto mengangguk "Teme? Kau mencari dia? Baiklah, aku akan segera menghubungi nya" Aku mendesah lega saat mengetahui paman Naruto tak bertanya banyak tentang keberadaan ku disini.
Tak lama setelah paman Naruto mengakhiri panggilan nya, terlihat seorang pria yang sangat ku kenal berjalan menghampiri kami berdua. Sesaat, aku tak mengenali bahwa itu adalah Sasuke. Karena dia terlihat berbeda. Dengan jas lab yang sangat pas di tubuhnya, sebuah stetoskop menggantung di lehernya dan kacamata berframe hitam terpasang manis di matanya.
"Sasuke teme! Kau cepat sekali, tapi baguslah. Sakura telah menunggumu sejak tadi" Paman Naruto melambai ke arah Sasuke yang kini berada di hadapan kami berdua.
"Sudah lama menunggu?" Sasuke mengabaikan Paman Naruto dan bertanya padaku. "Lumayan lama, karena hp ku lowbat dan resepsionis hijau itu menahan ku disini. Dia bilang, aku tak bisa bertemu dengan mu kalau tak memiliki janji" Aku berujar sambil memasang tampang kesal.\
Paman Naruto menghembuskan nafasnya lelah "Ya, Mary memang salah satu dari penggemar Sasuke. Jadi, wajah saja bila dia tak suka melihat ada wanita yang lebih manis datang berkunjung." Aku menatap bingung ke arah Sasuke. Lalu, lelaki itu mengangguk "Paman, sudah tau tentang hubungan kami?" Aku bertanya dengan hati-hati.
Paman Naruti tergelak "Tentu saja! Bagaimana kau tidak tahu? Karena sehari setelah Momma mu mengetahui hubungan kalian berdua. Aku lah yang menjadi sasaran curahan hatinya" Aku tersenyum grogi mendengar penuturan Paman Naruto.
"Jadi, ayo kita tunjukan siapa dirimu" Paman Naruto menggandeng tangan ku ke arah resepsionis, beserta Sasuke mengikuti kami.
Si Mary Hijau tampak membetulkan penampilan nya sesaat kami sampai di depan meja. Dia tersenyum manis. Dan aku muak.
"Dr. Uzumaki? ? Ada keperluan apa datang kemari?" Suara nya yang mendayu membuat ku ingin muntah.
"Kenapa kau tak membiarkan Sakura menuju ruangan ?" Paman Naruto terlihat menyeramkan saat sedang serius. Mary Hijau terlihat pucat. Dan aku pun rasanya ingin menertawai nya sekarang juga.
"Maaf, aku tak tahu kalau dia adalah adik " Aku menganga mendengar penuturan Mary yang tak bisa ku terima. Aku dan Paman Naruto ingin berbicara, namun segera dihentikan oleh Sauke yang lebih dulu mengeluarkan suaranya.
"Adik?" Suara Sasuke terdengar meremehkan. Si Mary hijau memandang Sasuke dengan pipi merona.
"Ya, dia adik mu kan? Aku minta maaf karena tak mengenalinya" Sasuke terkekeh sinis mendengar perkataan Mary.
Dengan gerakan secepat kilat, Sasuke menarik ku ke arah nya dan dia mendekap pinggang ku erat. "Dia buka adik ku, dia kekasih ku." Aksi Sasuke sontak membuat ku, paman Naruto dan si Mery hijau kaget tak karuan. Apalagi, wajah Mery yang merah padam tak bisa memungkiri kalau dia cemburu, kesal, malu dan patah hati-mungkin- .
"Jadi, jangan pernah menahan nya untuk menuju ruangan ku, mengerti?" Perintah Sasuke adalah mutlak. Si Mery hijau segera menganggukan kepalanya dan tak berani memandang ke arah Sasuke lagi.
"Kau, luar biasa teme!" Paman Naruto bersorak girang sesampainya kami di lantai 3. Sasuke tersenyum miring. Itu sangat menggoda.
"Kau ingin makan siang bersama kami, paman?" Aku bertanya kepada paman Naruto yang langsung menggeleng. "Tidak, aku ada janji dengan seorang wanita juga" Dia menunjukan cengiran nya dan berpisah dengan kami di persimpangan koridor. Aku menatap nya dengan bingung. "Tunangan nya adalah seorang perawat disini" Sasuke menjelaskan rasa penasaran ku. Aku mengangguk, "Dimana Mona?" Sasuke membuka satu ruangan yang terletak bersebelahan dengan balkon ujung rumah sakit. "Sedang tertidur" jawaban Sasuke diiringi oleh pemandangan Mona yang sedang tertidur lelap di sofa hitam yang terlihat sangat kontras di ruangan Sasuke yang serba putih.
Aku pun memasuki ruangan itu dan segera menuju titik fokus ku, Mona.
"Apakah dia sudah makan?" Aku bertanya ketika suara klik-pintu dikunci-terdengar dari arah Sasuke. "Ya, dia meminum satu botol susu sebelum tidur" Sasuke berjalan ke arah kami.
"Aku sudah memesan 2 bento untuk kita berdua" Sasuke menunjuk 2 kotak bento yang sudah berada disamping meja kerja nya. Aku berbinar melihatnya, perutku sudah sangat keroncongan. "Kalau begitu, ayo kita makaan" Sasuke menggelengkan kepalanya. Aku menatap nya heran "Kenapa?"
"Tidak ada makan siang sebelum makanan pembuka" Sasuke tersenyum misterius ke arah ku.
Aku memiringkan kepala tanda tak mengerti. Lalu, Sasuke mendekat ke arah ku dan menunjuk bibirnya sendiri. Sontak, aku pun langsung memerah dibuatnya. "Satu ciuman sebelum makan siang" aku menggigit bibir ku ragu, Sasuke mendesah lelah.
"Ayolah, aku sangat lelah bekerja seharian. Yang aku butuhkan hanya satu ciuman panas untuk mengisi tenaga ku" Aku berfikir sebentar dan melihat ke arah Sasuke yang telah menaikan kedua alisnya. Aku pun mendekatkan diriku ke arah nya dan melingkarkan kedua tanganku ke lehernya.
Sasuke tersenyum penuh kemenangan saat bibirku mengecup bibir Sasuke. Aku pun segera melepaskan nya kembali. Sasuke mengerutkan dahinya "Hei, itu tak seperti yang ku harapkan"
Aku terkekeh geli "Tak selamanya yang kau harapkan akan menjadi kenyataan, "
Sasuke pun menggeram dan menggendongku ke arah Meja kerja nya. Aku berusaha tak menjerit karena bisa membangunkan Mona.
"Turunkan aku Sasuke!" Aku memukul dadanya saat dia menghimpit ku di meja kerja nya.
Sasuke tak menjawab ku dan menubrukan bibir kissable nya ke arah bibirku kembali. Kali ini, bukan hanya sekedar kecupan. Tapi lumatan dan lidah Sasuke yang terus berusaha menerobos masuk ke arah mulutku. Aku membuka bibirku, dan kurasakan dia menyeringai. Dasar sombong. Tapi, aku pun menikmati ciuman ini. He was a good kisser!
Tangan Sasuke pun merambat naik ke arah payudaraku yang tertutup berlapis seragam sekolah.
Dia meraba halus payudara kiri ku. Jari lincah nya menemukan puting ku dan dia terus menekan nya hingga kurasakan puting ku mengeras. Sasuke meremas payudaraku ketika berhasil membuat puting ku mengeras.
Aku mendesah lumayan keras sehingga Sasuke menyeringai angkuh. "Jangan membuatku on dengan suara desahanmu itu, baby" Sasuke melepas lumatan nya pada bibirku, diikuti oleh tangan nya pada payudaraku.
Kini, aku merasa hampa sekaligus bodoh. Pasti penampilan ku saat ini sudah tak karuan.
Sasuke membantu ku turun dari meja kerja nya "Ralat baby, semua hal bisa didapatkan oleh seorang Uchiha. Ku pastikan itu" Sasuke mengecup sekilas bibir ku sebelum beranjak menuju Mona yang mengeluarkan suara merengek. Aku terlalu lelah untuk membalasnya. Dan untung nya, Mona baru saja terbangun.
Sasuke pov.
Kami bertiga pulang bersamaan. Di perjalanan, aku terpaksa memberhentikan mobil beberapa kali untuk membeli segala hal yang diinginkan Mona-tentu saja Sakura juga- yang mau tak mau harus kuturuti.
Kini, mobil ku sudah seperti replika dari taman hiburan. Dengan 4 balon yang berdesakan di jok belakang, Permen kapas yang membuat mulut Sakura dan Mona kotor dengan serbuk warna pink, Glitter dari buku bergambar, sekantung permen lolipop, boneka panda berukuran jumbo-yang aku yakini bisa menelan Mona bila boneka itu hidup- dan sepasang anak kelinci berwarna putih.
Aku tak tau apa yang membuatku begitu mudah menuruti keinginan Sakura dan Mona. Tapi, ketika ku berusaha untuk menolak, pasti sepasang mata hijau milik Sakura dan mata keabu-abuan milik Mona meratap sedih. Dan aku tak suka mereka menunjukan ekspresi itu padaku.
Baiklah, mungkin benar kata Hana, aku adalah 'si pria baik hati' yang sulit menolak permintaan orang tersayang nya.
Tapi, biarlah. Yang terpenting, kini Sakura dan Mona sudah tidur terlelap. Dengan Sakura yang mendekap Mona di atas dadanya.
Aku bersyukur Itachi menitipkan Mona disini selama 2 hari kedepan. Karena entah mengapa, Sakura dan Mona seperti membawa aura positif dalam kehidupan ku. Aku merasa menjadi lebih 'hidup'
Tanpa kusadari, mobil ku sudah memasuki parkiran basement apartementku. Aku pun memanggil seorang penjaga untuk membawa segala barang-barang ke apartementku. Aku pun memandangi wajah Sakura yang masih terlelap. Tak tega bila membangunkan dia. Namun, bagaimana dengan Mona?
Akhirnya, aku pun mengelus dahinya secara perlahan sehingga Sakura membuka sedikit kelopak matanya.
"eratkan gendonganmu dengan Mona" Aku berbisik ke arahnya. Entah dia sadar atau tidak, namun Sakura segera menuruti perintahku.
Aku pun membungkuk untuk menggendong Sakura. Mungkin, pemandangan ini terlihat sangat menggemaskan untuk beberapa pasang mata yang memandangi kami ketika ku kasuk ke dalam lobby.
Aku yang menggedong Sakura dan Sakura yang mendekap Mona. Tentu saja pemandangan ini cukup menggemaskan sehingga sepasang lansia berbicara padaku di dalam lift.
"Istri dan anak mu, tuan?" si kakek menanyaiku, dan aku pun mengangguk singkat. "Sangat bertanggung jawab. Sungguh jarang anak muda yang mau berlaku manis seperti ini bila sudah menikah, apalagi kau sudah memiliki anak. Pasti hidup kalian sangat bahagia" Aku tersenyum canggung mendengar penuturan si nenek.
Untung saja, Mona tertutupi selimut tebal. Kalau saja Mona terbuka, pasti Kakek dan Nenek ini akan menanyai bermacam-macam hal tentang Mona yang berkulit hitam. Atau, orang-orang mungkin akan mengira aku sedang menculik seorang gadis beserta anak berkulit hitam.
Aku menggelengkan kepalaku untuk mengusir segala macam fikiran ku yang tak masuk akal.
Bunyi ting! Membuat ku tersadar bahwa ini sudah mencapai lantaiku. Aku mengangguk sopan kepada pasangan lansia itu sebelum melangkah keluar dari lift.
Bersyukur karena penjaga sudah sampai lebih awal di dalam apartement ku sehingga aku tak perlu kerepotan untuk membuka sandi pintu.
Setelah membaringkan kedua gadis itu di tempat yang terpisah, aku segera memberi uang tips kepada para penjaga yang tersenyum sumringah.
Aku pun membaringkan tubuhku di samping Sakura yang sedang meringkuk menghadap ke arahku.
Hari ini sungguh melelahkan, sekaligus menyenangkan. Aku tak percaya bisa tertawa dengan kapasitas yang banyak hanya dalam waktu sehari.
Dan itu semua berkat kehadiran Sakura-ku.
Well, setelah sekian lama absen dari update ini. Akhirnya, bisa muncul kembali. Maaf atas keterlambatan nyaa dan terimakasih untuk kalian yang sudah me-review fanfic New romantic ini!
Semoga bisa memuaskan HAHAHA
maaf jika terjadi typo, salah kata atau penempatan nya disini.
Review membangun kalian sangat bermanfaat bagiku.
.
.
.
.KendallSwiftie.
