Disclaimer © Tite kubo
(Bleach bukan punya saya)
…
Dandelion
By
Ann
…
Warning : Au, Ooc, typo(s).
Tidak suka? Bisa klik 'Close' atau 'Back'.
and
Selamat membaca!
…
Ini liburan yang sempurna. Aku, kau, dan bocah kecil yang begitu bersemangat berpetualang.
...
Bab VII
Best Holiday Ever
...
Nao Kuchiki begitu mirip dengan ibunya. Berambut hitam, wajah mungil dan bermata besar. Hanya warna matanya yang cokelat serta kulitnya yang sedikit gelap yang diwarisinya dari sang ayah. Selebihnya ia terlihat seperti ibunya. Bagi Ichigo melihat Nao sama dengan melihat Rukia versi bocah laki-laki, meski bocah itu tidak memiliki poni nakal yang melintang di antara alis seperti ibunya—rambut hitam bocah itu dipotong pendek di atas telinga. Dan berinteraksi dengan bocah itu adalah tantangan dan pengalaman baru baginya.
Nao Kuchiki adalah anak yang menggemaskan. Anak itu tidak mau diam, selalu bergerak. Bocah itu menarik Ichigo ke semua bagian saat mereka sampai di stasiun kereta gantung. Selalu ingin tahu, ada ribuan pertanyaan di kepalanya, dan tak segan mengutarakannya, untungnya sampai saat ini Ichigo selalu dapat menjawab pertanyaan bocah berusia enam tahun itu.
Saat mereka naik gondola, bocah itu menempelkan wajahnya di jendela kaca, tampak begitu terpesona dengan pemandangan yang tersaji di bawahnya. Pepohonan yang mulai ditutupi salju, danau yang mulai membeku, rumah-rumah di kota yang tampak seperti kotak-kotak kecil di kejauhan, semua itu membuatnya begitu girang dan terkagum-kagum. Ia menunjuk ke berbagai arah, dan menanyakan nama tempat yang ia tunjuk pada Ichigo—anak itu benar-benar melupakan keberadaan ibunya. Dengan sabar Ichigo menjawab setiap pertanyaan, dan saat pria itu tampak kesulitan memberi penjelasan, Rukia akan membantunya.
Ketika mereka turun dari gondola anak itu bercerita dengan antusias tentang pengalamannya naik kereta gantung.
"Temanku Makoto bilang kalau naik kereta gantung itu menyeramkan," ujarnya.
"O ya? Apa tadi kau takut?" tanya Ichigo, meski sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.
Nao menggeleng. "Sama sekali tidak," sahutnya, "tadi itu keren, tidak menakutkan sama sekali." Bocah itu terlihat begitu bangga.
Ichigo mengacak pelan rambut Nao dengan tangan besarnya. "Bagus. Anak lelaki memang tidak boleh takut."
"Aku tidak takut, Ichigo-ji," ujar Nao diikuti cengiran lebar di wajahnya.
"Anak pemberani." Noa lalu berlari menjauh, tertarik pada sebuah toko yang memajang miniatur kereta gantung.
"Anak yang bersemangat." Seorang wanita berkomentar pada Rukia yang berada tepat di belakang Ichigo.
"Ya, ini pertama kalinya dia naik kereta gantung," sahut Rukia. Ia memandangi anaknya yang terlihat begitu senang dan antusias. Ia tersenyum kecil. "Ini pengalaman pertamanya."
"Pilihan yang bagus mengajaknya ke sini. Anak itu terlihat sangat senang."
Rukia mengangguk. Ia harus berterima kasih pada Ichigo untuk itu.
"Siapa namanya?"
"Nao."
"Langit biru. Nama yang bagus."
Rukia yang memilih nama itu untuk anaknya, berharap anaknya akan hidup seperti langit biru yang membuat orang tersenyum saat melihatnya.
"Kalian baru pindah ke Karakura?" Wanita itu bertanya lagi.
Rukia mengangguk. "Sekitar enam bulan yang lalu."
"Kalian betah di sini?"
Sekali lagi Rukia mengangguk. "Kota ini tempat yang indah dan nyaman untuk tinggal." Ia mengakui. Karakura memang membuatnya merasa nyaman, dan di kota ini ia bisa memulai kehidupan barunya.
Wanita itu mengangguk-angguk tanda mengerti. "Aku jamin kalian akan betah di sini. Aku sudah lima tahun di sini dan tidak ingin pindah lagi. Suamimu bekerja di mana?"
"Dia buka—"
"Saya bekerja di klinik Kurosaki." Ichigo menyela sebelum Rukia sempat menyelesaikan jawabannya.
Wanita itu memerhatikan Ichigo. "Ah! Kau Dokter Kurosaki. Dokter yang muncul di TV itu."
Ichigo hanya mengangguk dan tersenyum.
"Jadi, kau sudah menikah?"
"Kami tidak—"
"Seperti yang kaulihat." Sekali lagi Ichigo mendahului Rukia sebelum wanita itu sempat menjawab. Tangannya bergerak merangkul pundak Rukia.
"Bagaimana dengan model itu? Neliel?" Wanita itu bertanya penuh semangat. Tahu sekarang ia akan mendapat bahan gosip untuk dibicarakan dengan wanita-wanita lain besok.
Rukia memerhatikan Ichigo. Tak menyangka bahwa dirinya sama penasarannya dengan si penanya tentang hubungan Ichigo dengan model cantik nan seksi itu.
"Hanya gosip," jawab Ichigo. "Aku tidak pernah punya hubungan khusus dengannya."
Wanita itu mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Lagi pula ..." Mata madu Ichigo mengarah ke Rukia. "Aku tidak akan sempat melirik wanita lain ketika sudah memiliki istri secantik ini." Ia mengedipkan sebelah matanya. Seketika wajah Rukia langsung memerah dan menunduk menyembunyikannya.
"Kau sangat manis," ujar wanita itu. Ia berbalik kepada Rukia dan berkata, "Kau sangat beruntung, Nyonya Kurosaki." Setelah itu wanita itu melangkah pergi meninggalkan mereka sambil mengucapkan salam perpisahan, sebab sang suami memanggilnya.
"Kau salah sangka, aku bukan istrinya." Rukia mencoba menjelaskan, tetapi wanita itu sudah terlalu jauh untuk dapat mendengarnya. Ia menoleh putus asa ke arah Ichigo. "Kita harus menjelaskannya."
"Tidak usah," ujar Ichigo enteng.
"Tapi, dia mungkin akan mengatakannya kepada temannya." Rukia mencoba menjelaskan dampak negatif yang mungkin akan muncul dari pembicaraan singkat mereka dengan wanita tadi.
"Tenang saja, tidak akan jadi masalah." Ichigo mencoba menenangkan Rukia yang mulai panik.
"Dampaknya akan buruk, Ichigo. Aku harus menemuinya dan menjelaskan bahwa tadi itu hanya salah paham." Rukia melepaskan diri dari Ichigo, berniat mengejar wanita tadi. Tetapi Ichigo meraih tangannya, menghentikan langkahnya dengan sebelah tangan, lalu tangan satunya bergerak meraih pinggang Rukia, membuatnya kehilangan kesempatan mengejar wanita itu, sebab dari dinding kaca Rukia melihat wanita itu dan keluarga kecilnya sudah masuk ke dalam mobil dan melesat pergi.
"Jangan merepotkan diri sendiri, mereka sudah pergi," ujar Ichigo.
Rukia melepaskan diri dari Ichigo, lalu berputar menghadap pria itu sambil berkacak pinggang. "Dan salah siapa itu?"
Ichigo hanya mengangkat bahu tak acuh. "Jangan terlalu dipikirkan," ujarnya enteng seraya mulai beranjak.
"Apa?!" Rukia menghalangi langkah Ichigo. "Kau tidak bisa berkata semudah itu. Gosipnya akan menyebar, dan bagaimana jika orang-orang di klinik tahu? Bagaimana jika orang tuamu mendengarnya? Apa yang akan mereka pikirkan?"
Ichigo menunduk hingga mulutnya berada tepat di telinga Rukia. "Terima saja, Nyonya Kurosaki," bisiknya di telinga wanita itu lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Rukia.
Rukia membeku di tempat, dengan rona merah yang mulai menjalari pipi porselennya. Sedang Ichigo melenggang santai menghampiri Nao dengan sebuah senyum puas di bibirnya.
...
Setelah kejadian itu Rukia sebisa mungkin mengabaikan Ichigo. Ia hanya bicara sepatah-dua patah kata, selebihnya ia lebih banyak diam. Bahkan ia memberengut pada Ichigo saat Nao tidak memerhatikan.
Ichigo hanya tersenyum melihat tingkah Rukia yang menjaga jarak. Ia tahu bahwa wanita itu marah padanya karena sikapnya sebelum ini. Ia akan meminta maaf untuk itu, atau mungkin tidak usah saja?
"Nao, kau mau duduk di depan?" Ichigo menawarkan sambil menepuk-nepuk kursi penumpang di sebelahnya.
"Mau!" Bocah itu menjawab dengan antusias. Ia segera beringsut ke pintu untuk turun.
"Nao."
Panggilan ibunya membuat anak itu urung turun dan berputar menghadap ibunya. "Aku tidak boleh duduk di depan ya, kaa-san?" tanyanya. Rukia tidak menjawab, tetapi tanpa perlu menjawab pun, Nao sudah mengerti bahwa ia harus tetap berada di tempatnya. Ia segera melepaskan tangan dari pintu dan beringsut menjauh, merapat ke ibunya. Wajahnya tampak kecewa, tetapi ia tetap menuruti kemauan ibunya.
Rukia memandangi Nao. Jantungnya serasa diremas saat ia dengan begitu egois menghilangkan senyum di wajah anaknya hanya karena alasan sepele. "Kau boleh duduk di depan," ujarnya mengalah.
"Benarkah?" Nao mendongak menatapnya. Mata cokelat anak itu berbinar senang.
Aku tidak boleh merebut kebahagiaan yang jarang sekali bisa didapatkan Nao.
Rukia mengangguk. Ia lalu membukakan pintu mobil agar putranya bisa berpindah tempat duduk ke kursi depan. Saat ia kembali duduk, matanya bertemu pandang dengan Ichigo lewat kaca spion atas. Dilihatnya Ichigo tersenyum. Senyum kemenangan karena sekali lagi pria itu memenangkan sesuatu dari Rukia.
Nao dengan tidak sabar ia menunggu Ichigo membukakan pintu untuknya, kemudian begitu pintu itu terbuka ia segera memanjat naik ke kursi. Ia mulai mengoceh dan bertanya ini-itu saat Ichigo memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya.
"Nao, kau harus tenang. Kau tak boleh mengganggu konsentrasi Ichigo-ji yang sedang mengemudi," ujar Rukia memperingatkan.
"Biarkan dia, Rukia," kata Ichigo. "Dia sedang sangat bersemangat."
Rukia kembali ke tempatnya, menyandarkan tubuhnya di kursi dan membiarkan Ichigo menangani Nao untuk sementara, lagi pula pria itu tidak terlihat terganggu oleh keberadaan Nao beserta semua keingintahuan anak itu.
Ichigo mulai menyalakan mesin mobil, mengarahkan mobil keluar dari tempat parkir, memasuki jalan raya yang akan membawa mereka kembali ke pusat kota. Mobil melaju dengan kecepatan sedang di keramaian jalanan akhir pekan yang cukup padat tetapi tidak sampai menimbulkan kemacetan.
"Kau mau ke mana setelah ini, Nao?" Ichigo bertanya saat mobil mereka berhenti di lampu merah.
"Bukannya kita mau langsung pulang?" Rukia segera menyahut. Ia begitu tak sabar untuk segera berpisah dari Ichigo. Kejadian di stasiun kereta gantung tadi membuatnya agak tidak nyaman berada di dekat pria.
"Aku lapar, dan kurasa Nao juga. Ya 'kan?"
Nao mengangguk. "Aku lapar."
"Kita mampir makan siang dulu sebelum pulang bagaimana?" Ichigo menawarkan.
"Kurasa lebih baik makan di rumah," ujar Rukia. Makan siang bersama yang ditawarkan Ichigo adalah ide buruk. Bagaimana jika mereka bertemu dengan ibu-ibu penggosip lain? Bagaimana jika—
"Kau mau makan apa, Nao?" Ichigo jelas mengabaikan ketidak setujuan Rukia. Pria itu melajukan mobilnya sambil menawarkan beberapa alternatif makanan pada Nao.
Nao berputar menghadap Rukia dan bertanya, "Kaa-san mau makan apa?"
"Aku mau pulang," sahut Rukia tanpa sadar. Ia meringis melihat wajah kecewa putranya. Dalam waktu kurang dari setengah jam ia sudah dua kali membuat sinar di mata bocah itu meredup, hanya karena suasana hatinya yang kurang baik. "Kaa-san tidak lapar ya?" tanya Nao.
"Bukan begitu, Nao. Hanya saja kaa-san pikir lebih baik kita makan di rumah saja." Rukia berusaha beralasan, tetapi alasan itu tidak cukup untuk mengembalikan senyuman putranya.
"Baiklah." Nao kembali duduk di kursinya. Anak itu memandang keluar jendela dan menjadi sangat diam.
Rukia melirik putranya, dalam hati ia benar-benar merasa bersalah. Ia lalu melirik Ichigo, si sumber masalah. Andai tadi ia tadi tidak bertemu wanita itu, dan andai saja tadi Ichigo tidak menciumnya, sekarang suasana hatinya pastinya tidak akan sejelek ini. Dan akhirnya ia tidak akan melampiaskannya ke Nao. Ichigo tidak benar-benar bersalah sebenarnya. Pria itu sudah berbaik hati mengajak mereka pergi keluar, membawa mereka menikmati satu hari libur yang berbeda dari biasanya. Pria itu tidak merengut apalagi menggerutu saat menghadapi Nao, bahkan begitu sabar saat menjawab semua pertanyaan bocah itu yang seakan tidak ada habisnya. Yah, Ichigo mungkin melakukan sebuah candaan yang agak keterlaluan tadi, tetapi Rukia sendirilah yang menghadapinya dengan sikap kekanakan. Ia terlalu tegang, terlalu banyak berpikir. Ia seharusnya lebih santai sehingga bisa menikmati hari ini.
Ia menjawil lengan Ichigo. "Bisakah kau belok kiri di pertigaan depan?"
Sebelah alis Ichigo terangkat, tetapi ia mengangguk mengiyakan, memasang lampu sein untuk berbelok ke kiri.
"Kau mau singgah ke suatu tempat?" tanya Ichigo. Ia memelankan laju mobil karena beranggapan Rukia mungkin akan memintanya berhenti sewaktu-waktu.
"Di depan sana ada foodcount, kita bisa singgah untuk makan siang."
"Bukannya—"
"Tiba-tiba aku jadi lapar," potong Rukia sebelum Ichigo menyelesaikan kalimatnya. Ia berpaling pada Nao. "Kau mau makan apa, Nao? Di sana nanti ada ramen, burger, piza, kau bisa memilih makanan yang kausuka, tetapi tidak lebih dari tiga pilihan ya."
"Terima kasih, kaa-san." Nao mencium pipi ibunya sebagai ucapan terima kasih.
"Apakah aku juga perlu mengucapkan terima kasih dengan ciuman?" tanya Ichigo. Ia hanya terkekeh saat Rukia memelototinya sebagai jawaban dari pertanyaannya.
...
Mereka tiba di foodcount, menemukan sebuah meja kosong, dan Ichigo memesan piza untuk mereka. Mereka sepakat memesan makanan Italia itu karena Nao ingin memakannya.
Tak lama kemudian mereka mulai mengobrol soal kereta gantung, musim dingin, sekolah Nao, dan Karakura pada umumnya.
"Aku senang tinggak di sini, kaa-san. Suasananya lebih enak daripada tempat kita tinggal dulu. Coba bayangkan kita bisa naik kereta gantung setiap akhir minggu." Dengan mulut penuh piza Nao tersenyum lebar. "Dan karena ada Ichigo-ji di sini kita jadi seperti keluarga sungguhan."
Rukia merasa seolah tubuhnya disiram air es. "Kita kan memang keluarga sungguhan, Sayang," ujarnya sembari berusaha menyembunyikan kesedihan mendengar komentar itu.
Ichigo sudah berhenti makan dan menatap lekat-lekat Nao. "Kenapa karena ada aku di sini membuatmu merasa punya keluarga sungguhan?" Nada bicaranya terdengar parau sementara Nao memandangi mereka dengan rasa bersalah, jelas menyadari bahwa dirinya sudah mengatakan sesuatu yang keliru,
"Karena biasanya dalam keluarga ada Otou-san," gumam Nao. "Ibu dan ayah Makoto bercerai, tapi sekarang dia punya ayah lagi. Ayah yang baru. Menurutku aku juga ingin punya ayah lagi. Kau bisa jadi ayah yang baik, Ichigo-ji."
Rukia memelototinya, terperangah sekaligus malu. "Sam—"
"Tidak apa-apa." Ichigo mengulurkan tangannya ke atas meja dan menggenggam tangan Rukia, mengisyaratkan agar wanita itu mengizinkannya menangani masalah ini. "Kenapa kau ingin punya ayah lagi, Nao?"
"Karena kaa-san jadi suka tertawa," sahut Nao seketika. "Jika hanya berdua, kaa-san sering sedih. Tapi kalau Ichigo-ji ada dia selalu tersenyum."
"Nao, kumohon ..." sela Rukia jengah, sementara Ichigo mengeratkan genggaman tangannya.
"Pasti sulit sekali bagi ibumu karena ayahmu tidak ada bersamanya," ujar Ichigo pelan kepada Nao. "Tidak heran kalau kadang-kadang dia merasa sedih."
"Tapi kaa-san tidak sedih sejak bertemu dengan Ichigo-ji. Jadi, seharusnya kaa-san menikah denganmu," ujar Nao lugas.
Ichigo menatap Rukia lekat-lekat, sementara wanita itu langsung melengos dengan wajah memerah karena malu.
Apa yang telah ia lakukan?
Rukia seharusnya tidak pernah membiarkan pertemanan dengan Ichigo berkembang. Tak pernah terlintas di pikirannya bahwa Nao akan keliru memahami hubungan mereka. Ia tak pernah membayangkan bahwa Nao sangat merindukan perhatian seorang ayah sehingga begitu bersemangat menganggap Ichigo sebagai calon ayah barunya.
"Kaa-san dan Ichigo-ji hanya berteman, Nao," ujar Rukia buru-buru seraya melepaskan tangannya dari genggaman Ichigo sekaligus bertanya-tanya mengapa semua kembali ke situasi seperti saat ini ketika ia mencoba untuk bersantai.
"Tapi kaa-san sudah tidak menangis lagi sekarang," ucap Nao, dan Ichigo mengernyitkan dahi.
"Apa ibumu tadinya sering menangis?"
Nao mengangguk seraya bertukar pandang penuh arti layaknya pria dewasa dengan Ichigo. "Kalau malam. Waktu kaa-san pikir aku sudah tidur. Tapi aku bisa dengar kaa-san menangis di kamar sebelah."
Rukia memejamkan mata seraya berharap ia berada di tempat lain.
Percuma saja memasang tampang tegar di dekat anaknya, jika ternyata suara tangisnya tetap di malam hari masih dapat di dengar anak itu. Ia tak menyangka dinding kamar apartemen mereka di Soul Society begitu tipis.
"Kukira saat ini ibumu benar-benar belum berpikir untuk menikah lagi," jelas Ichigo sembari menghabiskan pizanya. "Kau tahu tidak, kadang-kadang, kalau kita punya pengalaman buruk, untuk sementara kita jadi patah semangat."
Nao memandangnya seraya mengangguk pelan. "Kurasa begitu."
Rukia memelototi sisa pizanya tanpa benar-benar memandanginya.
"Tak usah khawatir, kaa-san." Suara Nao terdengar menenangkan. "Buatku tidak apa-apa kalau kaa-san belum ingin menikah lagi. Aku cuma senang kaa-san tidak menangis lagi."
Rukia berdeham sembari menatap anaknya yang baru berusia enam tahun tetapi memiliki kearifan pria dewasa berusia enam puluh tahun. "Oh, bagus ... aku ... eh ..."
"Habiskan pizamu, Nao, sebelum menjadi dingin," saran Ichigo enteng, lalu memberi isyarat ke pelayan untuk memesan minuman lagi.
Tapi Rukia sudah tidak mampu makan apa-apa lagi. Yang ia pikirkan hanya Nao. Ia tak pernah menyangkan Nao memiliki perasaan seperti itu.
Mereka meninggalkan foodcount dan berkendara pulang. Sepanjang perjalanan Rukia hanya diam sementara Nao masih dengan ceriwis menanyakan banyak hal pada Ichigo, benaknya dipenuhi perasaan bersalah dan kekhawatiran.
Apakah Nao amat sangat menrindukan kehadiran seorang ayah?
Ia sudah berusaha sangat keras menutupi ketidakhadiran Renji, tetapi sepertinya itu tidak cukup.
Apakah ia terkesan seperti orang yang begitu menyedihkan sehingga perlu ditemani?
"Rukia ..." Suara lembut Ichigo membuyarkan lamunan Rukia yang menyiksa, dan ia memandang ke arah pria itu dengan sorot hampa. "Kita sudah sampai."
Rukia memandang keluar jendela, menyadari ia bahkan sama sekali tidak memperhatikan jalan.
"Oh, terima kasih." Ia berkutat dengan gagang pintu, menyadari Ichigo masih memandanginya dengan sorot khawatir. "Ayo, Nao. Sudah waktunya kita turun."
Rukia menggandeng Nao masuk ke gedung apartemen mereka, Ichigo mengikuti di belakang dan mengantar mereka hingga sampai di depan pintu apartemen.
Rukia memasukkan anak kunci, memutarnya hingga pintu bernomor 17 itu terbuka. "Nao, bilang apa pada Ichigo-ji?"
"Terima kasih, Ichigo-ji, hari ini sangat menyenangkan," ucap Nao patuh. Ia memandang Ichigo, mata cokelatnya terlihat ragu saat akan bertanya, "Lain kali Ichigo-ji akan mengajakku lagi kan?" Suaranya pelan, padahal sebelumnya begitu nyaring dan bersemangat.
"Nao, Ichi—"
"Tentu saja," Ichigo menjawab sebelum Rukia sempat memberi jawaban untuknya. Pria itu berlutut hingga tingginya sejajar dengan Nao. "Nanti kita pergi lagi waktu liburan musim dingin, bagaimana?"
"Benarkah?" Wajah Nao langsung sumringah dan langsung memeluk Ichigo. "Terima kasih, Ichigo-ji." Setelahnya bocah laki-laki itu berlari memasuki rumah bersama plastik berisi mainan barunya yang dibelikan Ichigo.
"Kau memanjakannya," ujar Rukia. Matanya tak lepas dari putra semata wayangnya yang menghilang ke ruang tengah.
"Dia memang perlu dimanjakan," sahut Ichigo enteng seraya berdiri.
"Hey, itu tidak baik tahu." Rukia memprotes.
"Ayolah, Rukia. Tak apa kan, sekali-sekali aku memanjakannya," ujar Ichigo.
Rukia menggeleng. "Aku takut dia akan tergantung padamu."
Ichigo menelengkan kepala. "Apa salahnya? Anak kecil memang perlu bergantung dengan orang dewasa."
Mata Rukia menyipit ke arah Ichigo.
"Apa?" tanya Ichigo bingung. "Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
Rukia menghela napas. "Kau punya kehidupan, Ichigo."
Ichigo mengernyit. "Lalu?" Ia memandangi Rukia tetapi tetap tak bisa membaca maksud perkataan wanita itu. "Aku tak mengerti, Rukia," ujarnya menyerah.
"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini," kata Rukia. "Tetapi aku harus jujur, bukan?" Ia mencoba tersenyum tetapi gagal, senyumnya terlihat canggung dan dipaksakan. "Kau mendengar sendiri apa yang dikatakan Nao. Dia menginginkan seorang ayah, dan baginya kau figur yang ia cari. Jika kalian terlalu dekat, dia akan berharap. Aku tidak ingin dia bersedih karena harapannya tidak terpenuhi."
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan," ujar Ichigo.
"Memang." Rukia mengangkat matanya hingga bertatapan dengan mata madu Ichigo. "Tetapi masa depan kau dan aku sudah jelas," ujarnya pelan.
"Apa?"
"Kita hanya akan berteman. Selamanya akan tetap seperti itu," jawab Rukia lugas. Lalu sebelum Ichigo sempat berkomentar ia mengucapkan salam perpisahan dan menutup pintu apartemennya.
...
bersambung
...
Review's review:
Rukii ku
Hola~ Salam kenal ya, ataukah kita sudah kenal sebelum ini? *soalnya saya baru nemu reviewer dengan nama ini sih*
Iya, tambah lama tambah greget, yang ngetik juga ikutan deg-deg serrr~ wkwkwk ...
Makasih dah RnR ya~
Guest
Wkwkwk ... Yup. Perjalanannya memang begitu, kadang sedih kadang bahagia, satu bab bahagia, lanjutannya berurai air mata. *authornya juga sotoy*
Hum, saya nggak berencana masukin mantan Ichigo dalam fic ini, cuma disebutin doang tapi nggak bakalan muncul.
Ini dah saya lanjutin. Makasih dah RnR ya~
Damai
Makasih juga sudah baca dan review ya~
Makasih sekali lagi karena selalu baca fanfik saya. Kalau bikin komik pastinya saya nggak bisa karena nggak bisa gambar. Kalau untuk novel ... saya memang lagi berusaha bikin yang bagus supaya bisa nembus penerbit mayor, soalnya selama ini naskah saya ditolak mulu.
Sudah saya lanjutin nih. Makasih untuk doanya ya~
Lucya Namikaze
Makasih dah RnR ya.
Chapter ini udah mulai manis tuh, meski ujungnya rada-rada asem sih. wkwkwk ...
Udah update nih.
Makasih semangatnya.
Louis
Iyup, begitulah adanya, makanya saya masih harus belajar supaya porsi deskripsi dan dialognya berimbang.
Ya kah? Drama korea apa? "plak!* soalnya saya juga suka nonton drama korea sih. wkwkwk ...
Makasih dan RnR, juga buat semangatnya ya~
Konflik greget? Hum, saya coba deh, tapi nggak janji ya.
Darries
Wkwkwk ...
Banyak hal yang nggak bisa diduga sebenarnya. *apaan tuh maksudnya?*
Udah saya update nih, moga aja keceriaan mereka terasa sampai ke kamu ya.
Makasih dah RnR ya, Danik. :3
...
Chapter 7 up! Maaf membuat para pembaca sekalian menunggu lama. Maklumlah author satu ini memang agak sibuk akhir-akhir ini. Hehehe ...
Di chapter ini saya berusaha menuliskan interaksi Ichigo dan Nao. Memperlihatkan bagaimana sosok Ichigo di mata Nao. Tidak terlalu jelek 'kan, meski saya akui ini lebih pendek dari chapter-chapter pendahulunya. :v
Akhir kata, terima kasih sudah mampir membacanya, mereview, follow, dan ngefav fanfiksi ini, semoga kalian menikmatinya, dan maaf jika ada kekurangan.
See ya,
Ann *-*
