Author: aurorarosena

Cast: GOT7, BTS, etc.

Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom

Rate: T - M

Genre: school-life, romance, friendship.

Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.

Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.

Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)

.

.

.

.

Author POV -

"Aduh! Sakit!" Bambam mengernyit kesakitan ketika kepalanya di sentuh oleh Junhoe, padahal Junhoe hanya mengusapnya saja sedikit seperti yang biasanya ia lakukan, tapi tangannya seketika menyakiti Bambam seperti telah memukulnya.

"Ih, Bam," Junhoe bergidik, "kepalamu kok benjol begitu?" Junhoe bertanya penasaran.

"Aduh, iya," jawab Bambam seraya tertawa masam, "kemarin terbentur pintu waktu mau mandi."

"Bisa begitu Bam." Mingyu menatap wajah Bambam yang kesakitan.

"Bisa saja, apa sih yang tidak bisa di rumahku."

"Maksudmu?"

"Aniyo, hehe. Nanti juga sembuh." Bambam mengusap kepalanya seraya menahan sakit dari benjolan di bagian kiri kepalanya.

Sejak kejadian semalam yang membuat Bambam harus menderita karena sebuah siksaan dari suaminya sendiri, Bambam merasakan ada beberapa bagian tubuhnya yang selalu sakit bahkan tidak dapat berfungsi dengan baik. Seperti kepalanya yang benjol atau punggungnya yang lebam, pipinya juga sedikit membiru karena Mark menamparnya sedikit terlalu keras. Tega memang, entah hal apa lagi yang akan Bambam terima dari Mark selama hubungan pernikahan mereka masih berlangsung.

Tapi katakanlah Bambam kuat untuk mempertahankan cintanya.

Tadi pagi Bambam pergi sendirian membawa Vernon dengan angkutan umum. Jika masih ingat apa yang dikatakan Mark kepada Bambam; transportasi umum tidak baik untuk kesehatan Vernon dan bahaya bisa terjadi kepada mereka. Tetap saja pada akhirnya, Bambam harus rela menggendong tas sekolahnya di punggung, bersamaan dengan membawa Vernon di tangannya, dan berdesak-desakan di antara banyaknya orang di dalam transportasi umum.

"Kau tidak bawa Vernon hari ini?" tanya Mingyu.

"Kutitipkan kepada orang tuaku."

"Kenapa? Biasanya kau dan Mark selalu bergantian mengurusnya di kampus."

"Yah," Bambam menghela nafasnya berat, "kita kan tidak selalu ada waktu kalau ada di kampus, kasihan kalau kubawa-bawa terus."

"Kalau ribet titipkan saja padaku Bam, sekalian refreshing dengan anak kecil kan. Jinhwan hyung juga pasti suka." lanjut Jinhwan.

"Iya deh." jawab Bambam dengan seringai kecil. "Eh iya, aku sudah ada janji dengan Yugyeom dan Jungkook, kalian mau ikut?"

"Mau!" jawab Junhoe dan Mingyu serentak. "Bertemunya di mana, Bam?"

"Di cafe yang baru itu, tidak jauh kan dari sini?"

"Maksudmu cafe yang baru dibuka beberapa minggu lalu itu, Bam? Yang isinya anak-anak kampus semua?" tanya Junhoe.

"Iya. Sudah lama aku ingin kesitu."

Sudah lama sekali Bambam ingin mengunjungi tempat itu, walaupun seorang mahasiswa yang sibuk, tapi bergaul adalah suatu keharusan untuknya. Namun, bagi Junhoe yang sudah pernah menginjakan kaki di sana, tempat itu menjadi sebuah mimpi buruk dan masa lalu yang pahit untuk diingat. Jika ia bisa, Junhoe ingin mengatakan bahwa pernah ada Mark dan seseorang yang lain di tempat itu, tapi bukan saatnya untuk melihat Bambam menangis, jadi Junhoe memilih untuk diam.

"Junhoe, mau antarkan tidak? Kau mau ikut juga kan?" tanya Mingyu.

"Eh," Junhoe mengedipkan matanya beberapa kali dan sadar bahwa daritadi kedua temannya itu sedang mengajaknya berbicara, "iya, pasti."

"Tapi kalian bilang dulu ke pacar kalian, kalau mereka mencari bagaimana?"

"Iya, itu mudah, sekarang kita pergi dulu siapa tahu mereka sudah menunggu di sana."

"Okay, deh."

"Kau sendiri tidak mengabari Mark?"

Diam. Mendengar nama itu mood Bambam langsung merosot hingga ke dasar jurang. Tak ada jawaban, hanya tatapan dingin sementara yang ia berikan untuk Junhoe. Bambam menggendong ranselnya lalu beranjak pergi terlebih dahulu meninggalkan kedua temannya di belakang.

Jika Bambam meminta izin Mark untuk pergi sekali pun, Mark sudah pasti tidak akan perduli dengannya. Begitulah kira-kira yang akan terjadi.

Bambam POV -

Tubuhku nyaris saja Mark hyung hancurkan karena tadi malam dia tiba-tiba menjadi monster yang mengerikan. Lalu tadi pagi, tak ada sepatah kata apapun yang ia ucapkan kepadaku, dia nyaris seperti orang yang bisu, tapi saat seseorang menelfonnya, kemampuan bicaranya langsung melesat seperti balita yang baru bisa bicara. Di tambah lagi dia meninggalkanku di rumah begitu saja.

Aku belum punya pikiran sampai kesana karena kejadian tadi malam adalah yang pertama kali, jadi kupikir Mark hyung hanya lupa diri, atau mungkin dia terlalu lelah karena semalam juga tidurnya sangat nyenyak. Tapi jika hal itu terulang lebih dari dua atau tiga kali, mungkin aku akan mengambil tindakan hingga ke tingkat hukum. Semoga saja Mark hyung hanya lupa diri saja, bukan karena faktor lainnya.

Tapi tetap saja yang semalam itu nyaris membuatku gila. Aku tidak bisa tidur karena benjolan di kepalaku yang relatif besar.

Hari ini aku akan bertemu lagi dengan Yugyeom dan Jungkook setelah sekian lama kami tidak bertemu. Mereka berada di universitas yang sama, jelas karena alasan yang sama juga seperti kami; supaya bisa dekat dengan pacar masing-masing. Kedengarannya memang gila dan berlebihan, tapi itu tidak merugikan kami juga.

Yah, hingga beberapa bulan yang lalu aku masih belum merasa di rugikan, tapi lama-kelamaan rasanya menyiksa juga selalu berada di dekat Mark hyung karena sikapnya yang menjadi seperti itu.

Kami akhirnya sampai di cafe tujuan kami, ternyata namanya CoCo cafe. Lucu juga, aku suka dengan gayanya yang sangat kekinian. Mereka menata seluruh furniture termasuk mejanya dengan sangat rapi hingga kami tidak dipusingkan oleh ruangan sempit yang dipenuhi orang berlalu-lalang. Kami bertiga langsung melambaikan tangan ke arah dua orang yang sedang duduk di meja paling pinggir setelah menyadari bahwa mereka adalah Yugyeom dan Jungkook.

"Bamiee!" Jungkook lari ke arahku lalu memeluk tubuhku erat. Hmm, aroma parfum Jungkook masih sama seperti yang terakhir kali kuingat, sudah pasti aroma tubuh Taehyung hyung. Aku jadi penasaran apa yang sudah mereka lakukan selama beberapa tahun ini.

"Kalian tahu tidak aku merindukan kalian bertiga?!" Yugyeom mendekap kami satu persatu.

"Ayo duduk! Aku yang traktir." kataku. Lalu kami semua duduk di meja yang sama.

"Baru dapat uang bulanan dari si bos, ya?" Yugyeom menggoda.

"Bos siapa?"

"Mark Tuan Yi En lah, siapa lagi!?" lanjut Jungkook.

Mark lagi. Seandainya mereka tahu bahwa hal terakhir yang Mark berikan kepadaku adalah sebuah tamparan tenaga Hulk. Tapi aku hanya diam saja, aku tidak ingin menceritakan apapun tentang Mark hyung kepada mereka, karena aku tahu dampaknya tidak akan baik.

"Semalam kau mau binta bantuan apa, Bam?" tanya Jungkook.

"Hft." Aku menghela nafasku, mencoba untuk menyusun ulang segala kalimat yang sudah kupersiapkan di kepalaku agar nantinya akan terdengar lebih jelas dan tidak menyakitkan di telinga mereka. Mungkin ini menyakitkan untuk diriku sendiri, tapi mungkin setelah aku menceritakan segalanya kepada mereka, hatiku akan merasa lebih baik.

Perlahan-lahan aku memulainya, tentang bagaimana aku melihat sosok remaja yang duduk di sampingku saat itu, yang memakai pakaian serba putih dan rambutnya yang ikal kecokelatan, intinya segalanya yang kulihat di dalam mimpiku tadi malam, aku juga tidak melupakan tentang mata hazel cokelatnya yang bersinar seperti emas itu. Aku memang tidak mengingat segalanya, tapi setidaknya aku masih ingat apa yang anak itu katakan kepadaku.

Mereka terlihat serius saat mendengarkan ceritaku, mungkin mereka merasa aneh dengan mimpiku ini, begitu juga aku yang merasakannya sendiri. Beberapa kali aku melihat Mingyu menyeruput jus alpukat lewat sedotannya, tapi matanya tetap tertuju ke arahku dan kuharap telinganya terbuka lebar.

"Intinya yang paling mengerikan itu ketika ia memanggilku Mommy." aku bergidik.

"Kalau itu Vernon bagaimana?" tanya Mingyu.

"Tidak mungkin! Vernon kan masih kecil." Junhoe mengelak.

"Tapi mungkin itu pertanda untukmu, Bam." Jungkook menopang dagunya di tangan.

"Pertanda apa? Kau jangan menakut-nakuti." kataku.

"Ya bukan begitu," Jungkook menggeser cangkir cappuchino nya ke tengah meja lalu melihat ke arahku, "kau sendiri yang bilang hubunganmu dengan Mark hyung belakangan ini agak berantakan. Justru karena Vernon masih kecil, perasaannya jauh lebih peka ketimbang kita yang orang dewasa. Mungkin dia tidak mengungkapkannya lewat kata-kata, tapi lewat media yang lainnya, contohnya mimpimu itu." jelasnya. Lagi-lagi aku dibuat bingung. Lagipula, bodohnya aku, kenapa aku musti menceritakan hal ini kepada mereka? Itu sudah pasti akan membuat mereka curiga dengan rumah tanggaku.

"Aku nyaris tidak fokus belajar karena mimpi itu." aku mengendus kesal.

"Bam," panggil Yugyeom, "bagaimana kalau kita pergi ke peramal saja?"

"HAH!?" serentak kami semua menganga. Apa sih yang dia pelajari di universitas hingga percaya dengan hal yang seperti itu?

"Gyeomie, kau makan apa sih?" Junhoe menaruh pungguk tangannya di dahi Yugyeom.

"Ih, Junhoe, aku tidak gila tahu!" Yugyeom menepis tangan Junhoe, mereka masih sama lucunya seperti dulu.

"Yugyeom belakangan memang percaya dengan hal yang seperti itu." lanjut Jungkook.

"Aku bukannya percaya, tapi biasanya ramalan itu benar." kata Yugyeom ketus. "Memang keakuratannya tidak seratus persen, tapi kemungkinan-kemungkinannya sudah pasti benar kok."

"Jadi kau ingin aku pergi ke peramal?" aku memicingkan mata ke arahnya. Gilanya, dia malah mengangguk. "Tapi ke peramal siapa? Aku tidak pernah tahu soal peramal-peramal."

"Ah!" Mingyu memukul meja dengan pelan. "Keponakannya nenekku adalah seorang peramal, mungkin dia bisa membantu."

"Kenapa kau bisa tahu banyak tentang saudara jauhmu? Nama tanteku saja aku tidak tahu." protes Junhoe.

"Aku kan rajin ikut arisan keluarga!" jawab Mingyu.

"Tidak ah," aku menolak mereka dengan lembut, "lagipula aku masih cinta dengan Mark hyung kok."

"Ah, palingan juga makan hati." kata Junhoe tiba-tiba sambil bermain dengan handphonenya, dia tidak sadar bahwa kami semua tengah memusatkan perhatian kepadanya dan meminta sebuah penjelasan dari kalimatnya barusan. Makan hati? Siapa yang makan hati? Apa dia sedang menyinggungku?

"Junhoe, apa maksudmu dengan makan hati?" tanya Yugyeom, benar, apa maksudnya.

"Tidak, hanya bicara saja." ia melihat ke arah mata kami satu persatu. "Sudahlah Bam, itu kan hanya mimpi, tidak ada hal yang aneh kok, semua orang pernah bermimpi."

"Tapi Bam," Jungkook menyentuh tanganku, "kalau ada apa-apa bilang pada kami ya?" mataku bertemu dengan mata Jungkook. Dia tidak berubah, masih sama seperti saat kami masih di satu sekolah yang sama, rasa pekanya terhadapku masih sangat kuat hingga ia tahu bagaimana caranya menatapku. Aku percaya padanya bahwa ia akan menjadi tempat pertolonganku yang terbaik.

Nanti akan ada saatnya, di mana aku akan mengatakan sagalanya kepada mereka.

.

.

.

.

Author POV -

Tamparan Mark yang semalam itu memang menyakitkan, tapi akan pernah sebanding dengan apa yang Bambam lihat saat ini.

Bagaimana bisa seoang istri melihat suaminya bermanja-manjaan dengan orang lain, sama halnya ketika Bambam melihat Mark tengah bermesraan dengan seorang yeoja bernama Suji Bae, di rumah mereka, sekali lagi, di rumah Mark dan Bambam. Rasa sakitnya jauh lebih panas ketimbang bengkak di kepala Bambam, karena ini menyakiti perasaannya, menyakiti batinnya.

Di sofa ruang tamu, Mark dan Suji saling melempar kalimat manis dan juga cumbuan-cumbuan hangat di antara mereka berdua. Seharusnya Mark melakukan itu terhadap Bambam, seperti yang sejak beberapa tahun lalu ia lakukan, tapi kini Bambam tak pernah merasakan lagi hangatnya cumbuan Mark hanya karena ada orang ketiga yang merebut hatinya.

Saking menyakitkannya, Bambam sampai tidak tahu lagi harus berbuat apa, air matanya yang sudah menggumpal pun tidak dapat ia keluarkan. Hanya berdiri di depan pintu dan membeku, membiarkan seluruh tubuhnya bergetar dan runtuh, apalagi ia sedang menggendong Vernon di tangannya, bisa saja terjadi kecelakaan kalau Bambam terlalu lemas. Ia mencoba menarik napasnya perlahan-lahan untuk menenangkan diri, dan ternyata untuk bernapas pun rasanya sulit sekali jika keadaannya sudah begini.

Kemarin dipukul, hari ini diduakan, besok diapakan? Dibunuh? celoteh Bambam di dalam hatinya. Di luar nampaknya Bambam memang tegar, tapi di dalamnya, ia hancur menjadi serbuk debu yang rapuh. Apa boleh buat, kalau keadaannya memang Mark sudah tidak mencintainya lagi.

"Oh, kau sudah di rumah." sapa Mark, wajahnya terlihat sangat ceria dan tenang. "Sudah kenal dia? Pacar baruku, namanya Suji. Cantik, ya?"

Sekali lagi, dada Bambam mengembang dan mengempis karena napas panjang yang berulang-ulang Bambam lakukan. Satu persatu mata samurai menusuknya dari mulai nadi di pergelangan tangan hingga ke jantung di dadanya, tapi Bambam tidak mati, maka dari itu rasanya sangat sakit dan menyiksa. Ia takut jika Vernon yang melihatnya merasa aneh dan mempertanyakan, padahal umurnya masih dua tahun, tapi perasaan malaikat sekecil Vernon tidak akan bisa dibohongi.

"Kau masak apa hari ini? Kami lapar." kata Mark lagi.

Tidak bisa menangis, tidak bisa teriak, semuanya bagai tertahan di dalam benak Bambam. Kini Bambam bukanlah lagi seorang nyonya rumah di mata Mark, melainkan seorang pembantu rumah tangga untuk melayani, atau mungkin budaknya.

"Aku tidak akan masak." jawab Bambam pelan. "Sudah ya, aku naik dulu, Vernon harus mandi."

Mark tertawa sinis, "alasan."

Pura-pura tidak mendengar, Bambam segera saja naik ke lantai dua dan membiarkan Mark melanjutkan kenikmatan sesaatnya bersama Suji di ruang tamu. Begitu sampai di kamar, Bambam langsung menutup pintu kamarnya perlahan dan menaruh Vernon di dalam ranjang tidurnya. Ia terduduk lemas di pinggir kasur lalu mengingat kembali semua pemandangan yang baru saja ia lihat. Mark dengan yeoja lain, apa-apaan itu? Ternyata segala kekhawatiran Bambam menjadi kenyataan, dan ternyata lebih parah dari apa yang sekedar ia khawatirkan. Seperti menggunakan sihir, seorang Mark yang penyayang dan manis berubah menjadi Mark yang tidak punya hati dan kasar.

Setelah sekian lama Bambam melamun di kasurnya, air matanya baru mencair dan akhirnya dapat dikeluarkan. Buru-buru Bambam mengambil bantal untuk menutupi wajahnya dan meredam suara tangisannya.

Sakit... sedih... pedih... kecewa... sebutkan saja segala rasa negatif yang dapat hati ini rasakan, dan Bambam merasakan semuanya. Diaduk aduk seperti adonan dan hingga lemah dan dicincang seperti daging hingga hancur.

"Hiks... hiks..." tangisan itu lagi. Tak kuasa Bambam menahan tangisannya hingga membuat danau besar di atas bantal. Danau air mata penuh rasa sakit.

Aniyo, Bambam, kau harus kuat, kau harus tegar, Bambam mendorong dirinya sendiri dari dalam. Sangat berat dan melelahkan, tapi itu satu-satu cara untuk melawan segala rasa ketakutan di dalam dirinya. Bambam mengangkat kepalanya dan mengusap air mata di kedua pipi merah itu. Ia mengambil tas ranselnya dan mengganti semua peralatan kampus menjadi pakaiannya dan juga Vernon.

Brak! Seseorang membuka pintu kamar dengan kasar. Mark berdiri di amang pintu sambil memperhatikan Bambam yang tengah sibuk mengeluarkan pakaian dari dalam lemarinya.

"Kau sedang apa?!" tanya Mark ketus.

Tak ada jawaban dari Bambam.

"YAK!" Mark masuk ke dalam kamar lalu merebut tas Bambam. "Kau mau kabur, huh?!"

"Hyung, kembalikan!" Bambam mencoba untuk merebut kembali tasnya.

"Kau mau kabur, huh? Kau pikir kau bisa kabur dariku, iya!?"

"Hyung lepaskan!"

"Mau kabur kemana, huh? Mau menjadi pelacur saja, iya!?"

"Hyung!"

PLAK! Mark menampar Bambam hingga terjatuh lemas ke lantai, Suji mungkin bisa mendengar tamparan itu dari lantai satu, bahkan ia bisa mendengar pertengkaran panas antara Mark dan Bambam.

"Masih mau kabur, huh?" hembusan napas Mark terdengar berat dan mengerikan. "Kau pikir kau mau kemana, huh? Kau seharusnya berterima kasih karena sudah kuhidupi selama dua tahun ini."

"..."

"Pergi sana! Istri tak berguna!"

Mark membanting tas ransel itu ke atas Bambam lalu pergi meninggalkan anak dan istrinya di kamar sendirian. Katakanlah rasa sayang Bambam sudah tidak terbalaskan lagi oleh suaminya sendiri, jadi Bambam harus mencintai sendirian, berusaha sendirian demi mempertahankan rumah tangga mereka yang sudah dikoyak-koyak ini. Tapi justru itu, cinta membutuhkan pengorbanan, jika Bambam harus mengorbankan Mark untuk orang lain, itu bukan berarti Bambam tidak cinta lagi padanya.

"Ayo nak, kita pergi." Bambam mengangkat Vernon dan membawanya di dalam dekapan Bambam untuk segera keluar dari rumah itu. Terpaksa Bambam harus melewati Mark dan Suji di lantai satu, tapi sungguh orang-orang yang tidak berhati, tangisan luka Bambam hanya dipandang sinis oleh mereka berdua dan seakan membiarkan Bambam pergi begitu saja.

Ya, sekarang Bambam harus berjalan sendirian di trotoar jalanan hanya dengan bekal pakaian dan ditemani oleh anak satu-satunya. Hari itu sudah menjelang malam, matahari sudah mulai menghilang dan langit sudah mulai gelap, suhunya juga menurun menjadi lebih dingin. Bambam tidak perduli jika tubuhnya disakiti atau terluka, tapi jika batinnya tersakiti, Bambam hanya dapat berharap bahwa segalanya bukanlah kenyataan, melainkan mimpi buruk.

Sayangnya, mimpi buruk Bambam telah menjadi nyata.

Lapar, haus, pusing, untungnya tidak ada sinar matahari yang menyengat, jadi setidaknya Bambam masih bisa bertahan... ya... kurang lebih setengah jam jika ia harus terus mengawasi Vernon dan menggendong tas ranselnya. Kakinya sudah gontai dan nyaris ambruk, ingin rasanya ia beristirahat di suatu tempat, tapi di mana? Tidak mungkin ia menganggu teman-temannya hanya untuk menginap semalam, apalagi sambil membawa Vernon.

BRUK! Bambam menabrak seseorang dan mengejutkannya.

"Oh my god! Belanjaankuuuu!" pekik seorang yeoja. Hanya kata "sial" yang dapat Bambam ucapkan di dalam hatinya. Jika di dengar dari jeritannya, yeoja itu pasti sangat menyebalkan. "Yaampun! Kau ini kalau jalan pakai mata! Lihat dong belanjaan-" yeoja itu berhenti di tengah-tengah omelannya yang terdiri atas paragraf. Ia melihat Bambam, Bambam juga melihatnya, keduanya sama-sama terkejut, hanya saja Bambam tidak menunjukkan ekspresi apapun karena tenaganya sudah nyaris habis. "Kau..."

"Annyeong haseyo," sebisa mungkin Bambam tetap terlihat ramah.

"Kau... pacarnya Mark, kan!?"

"Ne," jawab Bambam lemas, "apakabar? Sudah lama tidak bertemu?"

"Apa yang kau lakukan-? Oh my god! Itu pasti anakmu dan Mark!" yeoja itu memekik lagi.

Bambam tersenyum, "ayo Vernon, berikan salam untuk nuna Krystal. Katakan apa?" walau masih berumur dua tahun, Bambam tetap mengajarkan Vernon berbagai tatakrama dan budipekerti sejak dini. "Ann...yeong, ha?seyo."

"Omo, neomu gwiyeoweo!" yeoja bernama Krystal itu dengan tidak sadar mengagumi si Vernon kecil. "Tapi... bagaimana..."

"Kami mengadopsinya." kata Bambam.

"Astaga, kau membuatku panik!" Krystal bertingkah sedikit berlebihan. "Mwoya? Sedang apa kau di sini? Kau seharusnya sudah berada di rumah dan melayani suamimu."

Ya, tapi dia sudah dilayani oleh orang lain, Bambam menjawab dalam hati. Dengan lemah dan lembut, Bambam tersenyum dan menenggelamkan kepalanya di balik punggung Vernon.

"Wajahmu terlihat pucat." kata Krystal penasaran, seketika ada sesuatu yang melintas di benaknya yang membuat Krystal keheranan. "Wait! Wait! Wait! Perasaanku tidak enak tentang ini." kata Krystal. "Apa isi tasmu?"

"Peralatan kuliahku."

"Mmm, begitu ya?" tanpa berpikir panjang, Krystal berpindah tumpuan ke belakang Bambam dan membuka ranselnya secara paksa. Mata Krystal terbelalak lebar ketika melihat tas Bambam dipenuhi oleh berbagai pakaian dan juga perlengkapan bayi. "Yak! Kau ini kuliah atau mau dagang grosiran? Mana ada kuliah membawa pakaian dan popok sebanyak ini."

"Vernon kan harus..." kepala Bambam tiba-tiba serasa diputar ke segala arah hingga kakinya semakin gontai bahkan Bambam nyaris jatuh dari tumpuannya, seperti orang yang mau pingsan. Kepalanya pusing sekali karena belum makan, di tambah lagi ada benjolan yang menyakitkan di atas sana dan tubuhnya yang dipenuhi angin.

"Yak! Neo gwenchana!? Kurasa ada yang tidak beres." kata Krystal panik seraya menahan Bambam dengan tangannya.

"Aniyo, aku tidak apa-apa."

"Tidak apa-apa bagaimana?! Kau nyaris saja pingsan!"

"Nan gwencha-" lagi-lagi kepala Bambam berputar dan matanya serasa dipenuhi oleh kunang-kunang.

"Kalau kau begini bagaimana bisa kau menjadi istri yang baik untuk Mark!? Ayo kita pergi ke apartementku." Krystal mendorong Bambam perlahan sekaligus menjaganya agar tidak jatuh.

"Aniyo, nuna, gwenchana.."

"Yak! Aku tidak ingin ditangkap polisi hanya karena membiarkan seorang ibu dan anaknya terlantar pingsan di pinggir jalan pada malam hari yang dingin! Ayo cepat!"

..

..

Krystal's Apartment

..

..

"MWO!? KAU BILANG SUJI BAE!?"

"Ne, nuna mengenalnya?"

"Dasar yeoja murahan! Dia musuhku waktu di SMA."

Sambil mengobrol banyak tentang kehidupan bersama Krystal, Bambam perlahan menyendok sup jamur buatan Krystal dan memakannya dengan tenang. Dulu, Bambam sangat membenci yeoja ini, tapi setelah beberapa tahun terlampaui, yeoja ini menjadi sangat baik walaupun mungkin ia hanya terpaksa. Tapi setidaknya malam ini Bambam tidak perlu tidur di jalanan.

Karena Bambam terlalu malu untuk pulang ke rumah orang tuanya.

Di apartement ini Krystal hanya hidup sendirian sebagai seorang mahasiswa, tingkatannya sudah setara dengan Mark saat ini. Apartement nya mewah dan dipenuhi oleh barang-barang mahal seperti kristal atau berlian lainnya, seringkali Krystal merasa kesepian walaupun rumahnya sangat lengkap akan berbagai fitur dan hiburan, tapi tentu ia membutuhkan seseorang untuk berbicara, ia membutuhkan manusia lain.

Dan kedatangan Bambam diam-diam membawa warna baru ke dalam rumahnya.

"Bagaimana bisa dia menikahimu tapi pada akhirnya dia tetap mencampakanmu?!" ujar Krsystal dengan penuh emosi. "Aku baru tahu Mark itu namja yang brengsek."

"Yasudah lah, nuna, mungkin Mark hyung hanya lupa diri saja."

"Bagaimana bisa dia lupa diri sementara kau bilang dia memukulmu dua hari berturut-turut?! Harusnya dia memperlakukanmu... maksudku... ya aku tahu kau seorang namja, tapi jiwamu kan seperti yeoja. Seharusnya dia memperlakukanmu bak seorang ratu di rumah, bukannya memperbudakmu seperti itu!"

Bambam terseyum, "kurasa ia menyesal karena sudah menikahiku."

"Kalau dia tidak yakin seharusnya dia tidak usah menikah terlalu cepat!" bentak Krystal. "Kalau tahu dia begini sih aku sudah pasti berhenti berharap untuk dinikahkan olehnya."

"Gwenchana, nuna, nanti aku coba bicara baik-baik dengan Mark hyung."

"Ternyata semua namja itu sama saja. Kau ingat saat temanmu menampar dan menjambak rambutku?! Kurasa kita adalah korban kekerasan terhadap wanita... maksudku... manusia." kata Krystal dengan gesit, bahkan sampai ia harus meralat kalimatnya di akhir.

Ya, seketika Bambam mengingat tentang Junhoe yang dulu pernah memperlakukan Krystal sama dengan Mark memperlakukannya saat ini.

"Bukan apa-apa sih, aku hanya tidak tega saja melihat anakmu. Dia masih sangat kecil, tidak baik jika harus berjalan-jalan terus keluar. Anak kecil kan mudah sakit."

"Terima kasih nuna, aku akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti." kata Bambam.

"Kebaikan apa? Kau jangan berlebihan seperti itu! Lihat kondisimu saat ini!" suara Krystal masih berada di atas oktaf rata-rata.

"Besok pagi-pagi sekali aku akan pulang dan kembali ke kampus. Kuharap aku tidak merepotkan nuna malam ini." Bambam menaruh sendok besi di samping mangkuk dengan rapi.

"Menetaplah di sini hingga Mark menyadari perbuatannya! Kalau kau dipukul lagi bagaimana?"

"Tidak akan kok, nuna. Aku yakin jika aku tidak melakukan kesalahan, Mark hyung tidak akan ngamuk."

"Bagaimana kalau besok kita berangkat ke kampus bersama? Aku bisa mengantarmu."

"Eh? Aniyo, jangan-"

"Sudahlah! Namja-namja sejenismu itu butuh perlindungan, apalagi kau membawa anak. Jangan menolak!"

"Nuna-"

"Sssshhh!" Krystal mengeluarkan jari telunjuknya di depan wajah Bambam, entah sihir apa yang jari telunjuk itu punya hingga Bambam tidak dapat mengucapkan kata-kata lagi, padahal bisa saja Bambam memaksa untuk menolak. "Kau ini sekolah di Hanyang University, ya?"

"Ne."

"Aku mengenal seseorang di sana." kata Krystal seraya mengibas rambutnya lalu membuka ponsel yang ada di atas meja. Ia mengetik serial nomor dan menghubungi nomor itu degan segera.

Nada sambung telah terdengar hanya tinggal menunggu seseorang mengangkatnya di seberang sana.

"Yoboseyo?"

"Oppaaaaa~~" sapa Krystal dengan semangat.

"Eo, Krystal Jung, kau belum tidur?"

"Belum oppa, aku kedatangan tamu." kata Krystal. "Oppa, oppa bersekolah di universitas Hanyang, kan?"

"Ne, mudah-mudahan saja setahun lagi akan lulus. Kenapa memangnya?"

"Oppa, apakah oppa mengenal namja yang bernama Bambam? Dia dari Thailand dan suka membawa seorang anak laki-laki."

"Oh, aku tahu orangnya, tapi aku tidak tahu namanya. Ada apa?"

"Oppa, bolehkah aku memintamu untuk menjaganya di kampus? Kau mungkin bisa mengajaknya berjalan-jalan sesekali. Pokoknya kau jaga saja dia supaya tidak sakit atau apapun."

"Wae? Kenapa aku?"

"Karena oppa satu-satunya yang dapat kupercaya. Kumohon oppaaaa, jebaaaal~~" tanpa dirinya sendiri sadari, Krystal sudah membuat beberapa jenis wajah aegyo yang berbeda.

"Arasseo, nanti kalau kami bertemu di kampus oppa akan berkenalan dengannya."

"Yaaay! Gomawoyo oppa. Salam untuk ahjumma dan ahjussi."

Klik! Krystal memutus hubungan telfonnya.

Melihatnya, Bambam jadi merasa canggung dan berhutang kepada Krystal, padahal niat Krystal benar-benar tulus ingin menjaga Bambam. Tujuannya hanya untuk melindungi Vernon agar tetap aman.

"Aduh, nuna, Bambam jadi tidak enak. Nuna kan tidak perlu melakukan hal itu." wajah Bambam berubah jadi masam.

"Gwenchana, dia orang yang baik kok."

"Omong-omong, siapa namja itu? Nuna menyebutnya oppa." Bambam penasaran.

"Dia? Oooh, dia hanya namja yang sangat baik. Dia akan menjagamu dengan baik."

.

.

.

.

- To be continued -

Question: Berikan author rekomendasi namja yang akan menjadi pahlawan bagi Bambam dan Vernon HAHAH:') anak GOT7 nya udah abis coooy boleh rekomendasi siapapun sesuka hati kalian, nanti yang menurut author image nya pas bakal author pilih pokoknya terserah readersku sayang. Elelelelele~~ update juga akhirnya. Gimana gimana gimana? Garing yah HAHAH. Author udah baca review kalian di chapter selanjutnya dan ternyata kita sama gedeknya ke Makeu HAHAH:') terima kasih banyaaak terima kasih terima kasiiiih kalian sangat mendukung FF ini mwaaah:* semoga kita ketemu di chapter 8 yeeey~~~