f/n: Judul KHR's Boys Love Story resmi diganti menjadi velvet papers.
a/n: ...akhirnya saya pegang laptop lagi. Makasih, Ya Allah orz
a/n2: maaf, untuk shiorinkyo & Rachigekusa. Requestannya ditunda dulu. Next chap mungkin baru ada TYL!1818. cih, padahal udah ada ide malah kena WB -_- maaf ya orz
warning: pendek -_-
disclaimer: Akira Amano-sensei yang punya properti (?) KHR! saya cuma minjam :p
.x.
Seventh Page: D59
pervert
for Eszett
.x.
Bersiul pelan, Dino Cavallone mengetuk pelan pintu dengan buku-buku jarinya, tangan kanan di saku. Tidak seperti biasanya, Romario tidak berdiri tegap di belakang bosnya—Dino pasti menyuruh Romario untuk mengambil hari libur dulu. Jadi, Minggu pagi ini, Dino berdiri di depan apartemen Gokudera Hayato sendirian. Entah apa yang dilakukannya, yang pasti ini pasti berhubungan dengan mafia.
Dino kembali mengetuk pintu, mendatangkan umpatan khas Gokudera dari dalam. Pria ceroboh tersebut berkeringat dingin, membayangkan darimana Gokudera belajar kata-kata kutukan tersebut. Pasti mafia yang mengajarkannya. Pantas saja mafia dianggap penjahat. Haaaah...
Lima detik sudah berlalu. Dino menguap lebar sambil memusatkan pandangannya ke lantai menunggu Gokudera membuka pintunya. Gokudera memang lama sekali menjawab ketukan pintu. Hm...
Akhirnya, terdengar bunyi decitan pintu yang pelan. "Oh, Dino Cavallone, toh. Kukira musuh. Aku hampir saja meledakkanmu, tahu." Suara Gokudera.
Dino mendongakkan kepalanya dengan cepat dan menatapi Gokudera dan tangannya yang cekatan menyembunyikan beberapa dinamit di suatu tempat. Dino menggaruk belakang lehernya secara canggung. "Ya ampun, Gokudera-kun. Kau benar-benar umm... berhati-hati," komentar Dino gugup.
"Hmph, tentu saja aku harus berhati-hati. Kalau tidak, si Baseball Idiot itu akan merebut posisiku sebagai tangan kanan, Juudaime," balas Gokudera sambil menyilangkan tangan di depan dada, wajah memberengut. "Lalu, apa yang kau lakukan di sini?"
"Ah, ya. Aku—" Tiba-tiba saja, Dino menghentikan perkataannya. Kata-kata seperti tidak ingin mengalir keluar di ujung lidahnya. Dia baru sadar kalau laki-laki berambut perak itu hanya mengenakan kemeja putih besar yang menutupi seperempat pahanya...
Ya Tuhan...
Ya Tuhan, Ya Tuhan, Ya Tuhan...
Sejak kapan Gokudera-kun mempunyai kedua paha yang begitu, um, menggoda?
Dino merenung dan menggeleng cepat-cepat, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran mesum yang tiba-tiba saja berkerumun di otaknya.
"Uh, Dino-san, kau tidak apa-apa?" tanya Gokudera seraya mencolek bahu Dino dengan jari telunjuknya.
Dino yang sudah tersadar pun memberikan Gokudera sebuah senyum canggung. "Ya, ya. Aku tidak apa-apa—" Karena terlalu fokus memperhatikan paha Gokudera, Dino melangkahkan kaki ke kanan dan tiba-tiba saja terpeleset, kepala menghantam lantai.
Gokudera yang melihat itu langsung menoleh, melihat ada seorang anak kecil membuang kulit pisang di lantai, sekarang sudah memasuki apartemennya. Dia menoleh kembali ke arah Dino dan berkata, "Auw, pasti sakit. Anak kecil brengsek."
Dalam hati, Dino malah bersyukur. Dia bersyukur masih sadar saat ini dan tidak pingsan. Kalau dia pingsan, mungkin dia tidak dapat melihat paha Gokudera yang mulus itu dari sudut pandang yang bagus.
Dasar pedofil.
.x.
::owari::
