Sebelumnya :
Melihat itu, Arashi tersenyum dan membalik tubuhnya, kemudian ia berjalan menjauhi Naruto dan Tayuya dan melangkah menuju rumahnya. Naruto mengalihkan pandangannya kearah Tayuya, lalu dia mengajak kekasihnya itu masuk kedalam rumah itu, dan setelahnya, mereka kembali menutup pintu rumah yang menjadi tempat tinggal mereka sekarang, dan mungkin untuk seterusnya.
Senja sudah datang menghampiri mereka. Hari ini, ya hari ini ditutup dengan Janji yang telah dibuat oleh sang Avatar. Sebuah janji mulia, yaitu mengembalikan senyum dan menghilangkan kesedihan sang Putri kebanggaan desa Uzushiogakure.
.
"Decepticons." = Bicara.
'Decepticons.' = Bicara dalam hati.
"Decepticons." = Bicara (Monster/Bijuu)
'Decepticons.' = Bicara dalam hati (Monster/Biju)
"Decepticons!" = Tekhnik/Jutsu.
Decepticons! / Decepticons! = Sound Effec (Kecil / Besar)
Cybertron : Decepticons Gate = Keterangan tempat dan waktu
.
(OST, Opening : Asian Kung-Fu Generation – Haruka Kanata)
.
Chapter 7 : Senyum tulus nan indah Putri Kebanggaan desa Uzushiogakure akhirnya kembali.
Pagi telah datang dengan sinar sang surya yang menyinari dunia dan isinya, sinarnya perlahan membuat embun pagi sedikit demi sedikit mengilang. Hawa hanyat yang dibawanya sanggup membuat seluruh makhluk menikmati indahnya pagi ini.
Saat ini, tokoh utama kita sang Avatar sedang duduk didepan rumahnya sambil beberapa kali ia terlihat meregangkan otot-ototnya setelah terbangun dari tidurnya beberapa saat yang lalu.
Beberapa saat setelahnya, satu-satunya Petarung Kyoshi yang secara langsung dilatih oleh Avatar Kyoshi itu keluar dari rumah mereka dan setelahnya memberikan Morning Kissu pada kekasihnya. Setelah itu mereka duduk di kursi yang tersedia didepan rumah mereka.
"Hey, apa kau yakin dengan perkataanmu yang kau ucapkan semalam itu Hime?" Tayuya yang awalnya memandang beberapa Orang yang sedang berlalu-lalang dijalan yang terletak didepan rumah mereka pun menoleh setelah mendengar pertanyaan sang kekasih.
Flashback.
Naruto dan Tayuya saat ini sedang tiduran dengan posisi nyaman mereka masing-masing. Benar, mereka berdua saat ini tidur berdua di tempat tidur yang sama, dengan posisi Tayuya saat ini tidur dengan posisi miring dan memeluk lengan Naruto. Mereka berdua belum tidur meski kelihatannya sekarang mereka berdua menutup mata masing-masing.
"Naru." Naruto membuka kedua matanya mendengar suara rendah kekasinya itu, lalu dia menoleh dan melihat kalau sekarang kekasihnya itu juga sedang memandang dirinya. "Ada apa Hime?" tanya Naruto setelahnya.
"Apa kau yakin bisa mengembalikan sifat semula milik anak Arashi-sama itu?" Naruto tersenyum dan mengusap surai merah kekasihnya.
"Aku juga tidak tahu Hime, tapi kita belum tahu hasilnya sebelum mencoba bukan." Naruto terus mengusap rambut sang Dai Li sambil mengucapkan kalimatnya.
"Kau benar. Tapi kalau kau berhasil membuatnya kembali seperti semula, apa yang akan kau lakukan setelahnya?" Naruto menautkan alisnya karena tidak terlalu mengerti ucapan kekasihnya.
"Kita sama-sama tahu kalau dia sepertinya mempunyai perasaan khusus padamu, terlihat jelas dari caranya memandangmu Naru. Maksudku, jika kau sudah berhasil mengembalikan sifat aslinya dan malah mencoba untuk membuat hubungan denganmu, seperti halnya hubungan kita saat ini, apa yang akan kau lakukan?"
Sekarang Naruto mengerti jalan pikiran gadis itu, kemudian dia memeluk gadis itu dan mencium bibir gadis itu singkat.
"Apa yang kau katakan Hime, kalau memang seperti itu sudah pasti aku menolaknya bukan? Meskipun dia cantik, atau lebih cantik darimu sekalipun, aku tak butuh itu. asalkan kau selalu ada di sisiku, itu lebih dari cukup untukku."
Tayuya tersenyum senang mendengar ungkapan tulus kekasihnya itu, namun senyumnya menghilang ketika mengingat bagaimana sifat dan kondisi anak dari orang nomor satu di Uzushiogakure ini. ekspresi yang datar dan kosong, mata yang memancarkan kesedihan mendalam dan kesepian yang amat besar, hal itu membuat Tayuya iba akan gadis itu.
Naruto yang melihat perubahan raut wajah kekasihnya itu ingin bertanya, namun tidak jadi ketika kekasihnya itu dengan cepat meletakkan jari telunjuknya dibibirnya.
"Sebenarnya tak masalah jika aku harus berbagi dengannya, mengingat gadis itu sepertinya mempunyai rasa yang tulus padamu. Lagi pula, jika seandainya dia sudah kembali seperti semula dan kemudian dia menginginkanmu menjalin hubungan dengannya, namun kau menolaknya. Menurutku kesedihan tentang kematian ibunya tidak lagi dirasakannya, namun dia akan kembali sedih, karena kau menolak permintaannya." Setelah itu, dia menyingkirkan telunjuknya dari bibir Naruto.
Naruto sendiri terdiam namun tetap memandang dirinya. Saat ini Naruto sedang memikirkan tentang semua perkataan kekasihnya itu. memang perkataan itu ada benarnya, namun kalau soal menduakan ataupun membagi cintanya pada orang lain, bahkan dirinya sendiri tak mempunyai perasaan apa-apa pada orang itu, sepertinya Naruto tidak bisa melakukan itu.
"Tapi, bukankah itu hanya akan membuatmu terusik jika dia datang dan bergabung kedalam hubungan kita jika aku menerimanya? Bukankah itu hanya akan membuat salah satu dari kalian nanti kecewa karena mungkin aku tidak bisa adil dalam membagi cintaku pada kalian berdua?"
"Tidak, aku tidak masalah jika dia bergabung kedalam hubungan kita, bahkan tidak sama sekali. Dan kalau soal adil, aku yakin kau bisa melakukannya Naru, aku yakin sekali."
Naruto kembali terdiam mendengar perkataan Naruto itu. Tayuya yang sepertinya sudah merasa selesai dengan pembicaraan mereka saat ini, perlahan mendekat dan menyatukan bibir mereka. setelah itu dia mengeratkan pelukan dan melepas bibirnya lalu memejamkan matanya.
"Oyasumi nee Naru-kun."
Naruto yang awalnya bengong kembali tersadar mendengar gumaman kekasihnya itu. setelah itu secercah senyum muncul di bibirnya dan dia ikut memejamkan matanya.
"Aku akan mempertimbangkan semua perkataanmu. Dan yaa, Oyasuminasai Yu-chan." Tayuya Tersenyum didalam dekapan kekasihnya kala mendengar panggilan yang amat jarang dikeluarkan pada dirinya dari mulut kekasihnya itu.
Flashback, is over!
Tayuya tersenyum dan mengangguk mengingat pembicaraan mereka semalam, entah kenapa dia ingin gadis yang bahkan belum sempat mengenalinya itu masuk dan bergabung ke dalam hubungan mereka, namun apapun itu Tayuya yakin jika gadis itu bergabung dalam hubungan mereka, mereka akan lebih menikmati alur kehidupan mereka sekaligus gadis itu bisa membantu mereka mencapai puncak kesuksesan dalam tugas yang diemban oleh sang Avatar. Terlebih lagi gadis itu menguasai tekhnik Teleport dan Medic tingkat atas, kedua poin plus itu bisa sangat bermanfaat nantinya.
"Baiklah kalau begitu, dan sepertinya aku akan bicara dengannya sekarang." Tayuya terbangun dari lamunannya saat kekasihnya itu berdiri sambil mengeluarkan suaranya.
"Apa maksudmu Naru?" Naruto bukannya menjawab, namun menunjuk sebuah Objek yang ada di satu sisi tempat yang tak jauh dari rumah mereka.
Tayuya mengikuti arah yang ditunjuk Naruto. Disana, tepatnya sang Putri kebanggaan desa Uzushiogakure sekarang sedang berjalan sendirian menjauhi rumahnya. Tayuya yang mengerti akan hal itu juga ikut berdiri dan kembali memandang Naruto.
"Apa kau akan mengikutinya dan berbicara dengannya sekarang? Tapi apa kita tidak sarapan terlebih dahulu?"
"Ya, lebih cepat lebih baik bukan? Dan untuk sarapan, nanti saja. Makanan yang kita makan semalam membuatku kenyang sampai sekarang. Oh iya, apa kau mau ikut Hime?"
Tayuya menggeleng mendengar perkataan terakhir kekasihnya itu. yah, ia berpikir kalau ia ikut, itu akan membuat dirinya hanya akan menjadi mengganggu saja. "Tidak, aku akan pergi ke kantor Uzukage sekarang. Aku ingin berbicara dengan Arashi-sama untuk memasukkan kita dalam salah satu Tim Genin di desa kita ini. sudah saatnya kita memulai Karir Ninja kita." jawabnya mantap.
Naruto mengeluarkan senyum tipisnya, kemudian dia mengecup singkat dahi dan kedua pipi kekasihnya dan berjalan menjauhi rumah mereka untuk mengikuti kemana sang Putri kebanggaan desa Uzushiogakure itu pergi dan meninggalkan Tayuya yang terbengong dengan wajah memerah karena perbuatannya tadi.
Sudah beberapa puluh menit Naruto mengikuti sang Putri yang sampai sekarang terus saja berjalan sendirian. Namun akhirnya beberapa saat kemudian, sang Putri duduk di sebuah bangku panjang yang tersedia di salah satu sisi taman yang bertempat di pinggir Desa Uzushio. Taman itu saat ini sedang sepi, atau mungkin selalu sepi.
Sang Putri hanya duduk dengan pandangannya yang kosong mengarah ke lingkungan yang ada didepannya. Naruto yang melihatnya dari jauh menaikkan alisnya melihat sang Putri hanya diam di tempatnya.
Beberapa menit Naruto memperhatikan sang Putri, namun Putri yang bernama Honoka itu masih saja diam ditempatnya, dan itu membuat Naruto bosan. Segera saja dia melangkahkan kakinya menghampiri sang Putri kebanggaan desa Uzushiogakure itu.
Si Putri yang sedari tadi hanya memandang kedepan, mengalihkan pandangannya ke samping karena Naruto duduk di ujung kursi panjang yang didudukinya. Dalam penglihatannya, saat ini Naruto juga sedang memandangnya dan melemparkan senyum manis padanya.
Honoka, Putri kebanggaan desa Uzushiogakure itu kembali memalingkan wajahnya kearah lain untuk menyembunyikan rona tipis yang timbul di pipinya.
'Selalu saja begini jika melihat senyumnya,' rutuknya dalam hati karena keanehannya ketika melihat senyum remaja yang duduk di ujung kursi itu.
"Hey.." Honoka kembali memandang Naruto ketika remaja itu memberikan sapaannya barusan. "Perkenalkan, namaku Uzumaki Naruto, anggota Uzumaki yang baru saja bergabung dengan saudara-saudariku di desa ini. namamu Honoka bukan?" Honoka mengangguk membenarkan ucapan terakhir Naruto barusan.
"Hey, kenapa kau hanya memasang wajah kosongmu itu sih?" Naruto mulai memancing dan mulai masuk kedalam percakapannya dengan Putri berparas cantik itu.
"Bukan urusanmu." Naruto tersenyum tipis melihat Honoka langsung mengalihkan pandangannya setelah berkata demikian, dan itulah yang diharapkan oleh Naruto.
"Coba ku tebak, pasti karena kematian ibumu kan? Kalau itu benar, betapa bodohnya dirimu Putri kebanggaan desa Uzushiogakure."
"Apa maksudmu hah!" Honoka sangat kesal mendengar remaja itu mengungkit hal yang sangat sensitive bagi dirinya dan juga bingung dengan perkataan terakhir Naruto barusan.
"Ya, kau bodoh jika terus-terusan bersedih karena kau kehilangan ibumu. Hanya orang bodoh yang larut dalam kesedihan hanya karena ditinggalkan oleh ibunya, apa lagi kesedihan itu larut hingga bertahun."
Wajah Honoka memerah karena marah, lalu dia berdiri dan menunjuk Naruto dengan tangan kanannya. "Kau! jika kau datang hanya untuk mengejekku dan mengejek mendiang ibuku, lebih baik kau enyah dari sini sebelum aku mengirimmu ke dasar samudra brengsek! Kau tidak tahu apa-apa tentangku dan kau tak tahu apa-apa tentang apa yang aku rasakan sekarang!"
"Aku tahu benar bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang mengeluarkan kita dari rahimnya. Sebab, kau dan aku sama, sama-sama kehilangan sosok seorang ibu."
Honoka membulatkan matanya setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Naruto. Honoka kembali menjatuhkan dirinya diatas kursi itu tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Naruto.
"Bahkan, kau lebih beruntung daripada aku Tuan Putri. Kau kehilangan ibumu saat usiamu 12 tahun, itu artinya sebelum kematian ibumu kau selalu dikelilingi dan dipenuhi cinta dan kasih sayang dari beliau. Tidak sepertiku, yang kehilangan sosok yang sangat aku cintai didunia ini meninggalkanku saat hari dimana pertama kalinya aku menatap dunia ini. beliau meninggalkanku tepat dihari kelahiranku, dan aku belum sempat untuk sekedar mengucapkan terima kasih padanya karena beliau melahirkan aku ke dunia ini."
Honoka menundukkan kepalanya dan mengeluarkan butiran air matanya. Dia sempat terkejut mendengar ucapan remaja didepannya itu, dan dia mengeluarkan air matanya setelah menyadari kalau dirinya lebih beruntung dari remaja itu, menikmati semua kasih sayang yang diberikan dengan tulus oleh ibunya, dan kembali mengingat keberasamaan sampai dimana dirinya berpisah dengan ibunya.
"Ketahuilah tuan Putri. Aku tidak sepertimu, yang sampai saat ini masih saja memendam kesedihanmu karena ditinggalkan oleh beliau. Karena aku tahu, larut dalam kesedihan hanya karena itu adalah hal yang sangat bodoh." Naruto menatap iba pada remaja yang menundukkan kepala sambil mengeluarkan air mata didepannya itu.
"Aku akan memberitahumu sesuatu, sesuatu yang mungkin kau ketahui, namun aku akan mengingatkan lagi. Semua makhluk yang dilahirkan dan hidup di dunia ini, pada dasarnya pasti akan mati. Kematian bagi semua makhluk yang ada didunia ini adalah hal yang mutlak, namun waktunya tidak akan pernah kita ketahui kapan datangnya kematian itu pada kita. Semua itu berdasarkan Takdir yang sudah ditetapkan oleh Kami-sama sejak, bahkan sebelum kita terlahir didunia ini." Naruto tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari remaja yang ada didepannya, selain hanya mendengar isak tangis yang keluar dari bibirnya.
"Datangnya memang tidak kita harapkan kematian itu, untuk mengambil orang yang kita sayangi bahkan diri kita sendiri. Namun sekali dia datang, tidak ada jalan kita untuk lari darinya. Dia memang tidak pernah kita undang, tapi sekali dia datang, kekuatan apapun tidak akan sanggup menghentikannya.
Sekarang kau boleh saja menganggap kalau kau dan Ibumu telah meninggalkanmu. Namun ketahuilah Tuan Putri, yang meninggalkanmu itu hanya jasad dan raganya saja, tetapi tidak dengan jiwanya. Jiwanya akan terus hidup dan selalu melihat serta mengawasimu, dan mungkin juga sekarang Jiwanya ikut menangis karena melihatmu bersedih sampai sekarang karena kau belum menerima kepergiannya."
Isakan Honoka semakin rerdengar lebih jelas kala mendengar semua kebenaran yang terucap dan keluar dari mulut pemuda yang ada di sampingnya.
"Oleh karena itu, hentikanlah kesedihanmu ini supaya jiwa beliau juga tenang, supaya beliau tersenyum melihat kalau Putri kebanggaannya berhenti bersedih atas perpisahan kalian. Jika kau terus-terusan begini, kegelisahan dan ketidak tenangan akan selalu dirasakan oleh beliau."
Setelah selesai dengan semua perkataannya, Naruto berdiri dan menempatkan dirinya tepat didepan Honoka sambil mengulurkan tangannya kearah remaja itu.
"Hey, berhentilah menangis dan hapus air matamu. Sekarang ikutlah denganku." Tak ada tanggapan sedikitpun yang diterima oleh Naruto, Honoka masih saja menundukkan kepalanya dan tetap mengeluarkan isakan serta air matanya.
Naruto tetap dengan posisinya untuk beberapa saat. Namun ketika sudah mencapai menit pertama, Naruto kembali menarik uluran tangannya dan membalik tubuhnya.
"Sepertinya kau tak mau ya. Tak apa, yang penting kau mengerti dengan semua yang aku katakan tadi." Setelah mengatakan itu, Naruto melangkahkan kedua kakinya pergi dari tempat itu dengan kedua tangan yang ditaruh di belakang kepalanya. "Sampai jumpa lagi Tuan Putri," sambungnya tanpa menoleh kearah Honoka.
Sekarang yang masih berada di tempat itu hanya Honoka yang masih menangis setelah mendengar kebenaran yang terpantul dari mulut sang Avatar.
Kenyataannya, semua yang dikatakan oleh Avatar muda itu adalah kebenaran. Tidak ada satu makhlukpun yang tak luput dari kematian. Kalaupun ada yang abadi, itu hanyalah keabadian semu yang suatu waktu pasti akan mati juga, entah cara apa yang akan dipakai sang pencipta untuk mematikan keabadian semu itu. karena keabadian sejati, hanyalah milik sang pencipta.
'Sebenarnya aku ingin membawanya ke dunia para Roh untuk mempertemukannya dengan ibunya. Tapi sekarang aku tidak bisa melakukannya mengingat kalau aku akan bisa melakukan itu setelah menguasai Avatar State yang sampai saat ini belum keluar sekalipun.' Pikir Naruto setelah agak jauh dari Honoka.
Seorang Avatar sebenarnya bukan merupakan Penjelmaan Spirit Planet yang bertugas menjaga keseimbangan dunia maupun pembawa perdamaian didunia ini saja, namun seorang Avatar adalah Jembatan penghubung antara Dunia ini dengan Dunia Roh.
Namun untuk bisa memasuki dunia Roh, seorang Avatar harus bisa menguasai Avatar State, sebuah kemampuan tertinggi dari Avatar itu sendiri, dan Avatar muda ini belum bisa menguasainya, jangankan itu, kekuatan ini bahkan belum pernah keluar sama sekali sampai sekarang.
Setelah beberapa menit berjalan sendirian dan beberapa kali menyapa penduduk yang dilewatinya akhirnya Naruto sampai di Kantor Uzukage yang sekarang Tayuya juga ada disana.
Dan disinilah dia, bersama beberapa orang yang berkaitan dengannya saat ini, diantaranya dia sendiri, Tayuya, Eiji, beserta sang Uzukage sendiri, tambahan juga karena keberadaan Taka dan Tora si penjaga Uzukage.
Ngomong-ngomong soal kedua orang Anbu itu, mereka tidak selalu bersembunyi seperti halnya para Anbu didesa lainnya, mereka tidak perlu terlalu menyembunyikan kehadiran karena tidak ada masalah sedikitpun ketika mereka menampakkan diri, dan juga mereka sering menjadi teman obrolan Uzukage sendiri saat diwaktu senggang tak ada yang dikerjakan. Mereka hanya akan bersembunyi jika tuan mereka kedatangan tamu Asing, seperti halnya kedatangan Naruto dan Tayuya kemarin.
"Akhirnya kau datang Juga Naruto, dari tadi kami menunggumu tahu!" Eiji sewot kepada Naruto yang baru datang karena Antara bosan menunggu dan juga karena remaja itu tahu tentang rahasia besarnya.
"Oh, maaf kalau itu membuatmu bosan menungguku tuan Segitiga Pepaya. Tadi aku ada keperluan, jadi aku terlambat."
Greb!
Naruto facepalm setelah Eiji dengan cepat merangkulnya dan nyengir gugup ketika Naruto mengeluarkan kata keramat bagi Jounin beriris Emerald itu.
"Ehehe, tidak apa-apa kok Naruto-kun. Sampai ayam jantan bertelur juga aku akan sabar menunggu jika itu kau, hehe. D-dan jangan mengatakan itu dong." Eiji berbisik rendah diakhir kalimatnya.
Tayuya, Arashi, bahkan Taka dan Tora Sweatdrop melihat apa yang dilakukan oleh Jounin muda itu, apa lagi setelah mendengar perkataan tidak masuk akalnya. Menunggu sampai ayam jantan bertelur? Itu mah sampai Jounin itu punya ekor sekalipun tidak akan pernah terjadi.
"Ehem!"
Suasana yang awalnya sunyi itu lenyap tatkala sang Uzukage berdehem untuk meminta perhatian semua yang ada disitu.
"Nah, karena orang yang kita tunggu sudah datang. Jadi kita lanjutkan pembicaraan kita tadi Tayuya-chan." Setelah mengatakan itu, Tayuya, Naruto dan Eiji mengangguk dan memperhatikan Kage yang ada didepannya itu.
"Jadi aku ulangi, atas permintaan kalian untuk menjadi salah satu Genin di desa kita ini, aku menyetujuinya dan memanggil Eiji karena dialah yang diinginkan oleh Tayuya-chan untuk menjadi Jounin pembimbing kalian. Tapi satu hal yang membuat pembentukan Tim baru ini terhambat."
"Apa itu Paman." Naruto menanggapi ucapan Arashi karena menjeda kalimatnya.
"Umumnya syarat untuk membentuk Tim Genin, harus ada tiga orang Genin dan satu orang Jounin pembimbing. dan itulah yang membuat pembentukan Tim ini terhambat, kalian butuh satu orang lagi supaya Tim ini terbentuk."
"Kalau begitu biar aku yang melengkapi Tim ini, aku akan bergabung dengan mereka dan dengan begitu Tim ini bisa terbentuk dengan sempurna."
Semua yang ada diruangan itu kecuali Naruto, langsung mengalihkan pandangan mereka kearah pintu yang baru saja dibuka oleh orang yang mengeluarkan suara barusan. Disana terlihatlah sang Putri kebanggaan desa Uzushiogakure yang sedang memandang mereka dengan senyum manis nan tulus yang terlukis indah dibibirnya.
Arashi, Tayuya, Eiji, Taka dan Tora terkejut melihat senyum itu, terutama Arashi sendiri. ia bangkit dari duduknya tetap dengan mata yang melebar melihat putrinya kembali mengeluarkan senyum yang cukup lama menghilang itu.
Naruto, walaupun dia tidak melihat sang Putri, namun dia tersenyum dan sedikit menyeringai melihat Ekspresi yang dikeluarkan oleh Arashi. Ketika Arashi memandangnya, ia hanya mengedipkan sebelah matanya sekaligus melebarkan seriringainya. "Janjiku, sudah kupenuhi paman," ucapnya pelan.
"Selamat pagi Ayah." Arashi semakin terperangah mendengar suara halus nan lembut yang memasuki gendang telinganya, dia alihkan pandangannya kearah putrinya yang saat ini masih melepas senyum ceria serta melambaikan tangan kearahnya.
Another Place : Main Tower of Amegakure.
Sebuah pusaran Angin muncul di atas Menara Pencakar langit tertinggi yang berdiri di desa Hujan itu, dari dalam pusaran itu keluar seorang laki-laki yang memakai Topeng Orange Spiral berlubang satu dan memakai Jubah hitam beraksen Awan Merah.
Laki-laki itu berjalan menuju dua orang yang berdiri membelakanginya di sisi lain Menara itu. setelah sampai disamping salah satu dari kedua orang yang memakai jubah yang sama dengannya itu, si Orange memandang orang yang ternyata bergender perempuan disampingnya itu.
"Ada apa Tobi?" Konan, perempuan berrambut biru sepundak bermatakan sepasang Iris Orange itu bertanya padanya dengan nada datarnya.
"Aku datang untuk menyampaikan sesuatu yang penting. Aku sudah menemukan 2 orang yang sangat tepat untuk masuk kedalam Organisasi kita, sekaligus menjadi alat yang sangat berguna untuk kita."
Laki-laki berrambut Orange Spike yang berdiri didepan mereka membalikkan tubuhnya menghadap Tobi dan Konan, terlihat raut wajah dingin dengan sepasang mata Legenda yang menatap datar kedua orang yang ada dihadapannya itu, wajah lelaki itu dipenuhi oleh Piercing hitam yang banyaknya tak lazim bagi manusia biasa.
"Siapa yang kau maksudkan itu?" Pein, tepatnya Tendou Pein mengeluarkan suara datarnya karena ingin mengetahui siapa orang yang membuat lelaki yang mengakui dirinya Madara itu tertarik.
"Mereka adalah sepasang pengembara,nama mereka Aoi Seishin dan Akaseishin no Kyoshi." Pein dan Konan mengerutkan alis mereka mendengar jawaban si Topeng Spiral itu.
"Seishin? Nama yang cukup aneh. Apa saja kemampuan mereka?" Pein agak heran dengan nama yang disebutkan oleh si Topeng Orange itu.
"Ya, keduanya menyelipkan nama Seishin di nama mereka. Aoi Seishin, kemampuannya adalah mengendalikan Air, Tanah, dan Api. Dan yang membuatku tertarik dengannya adalah, dia tidak mempunyai aliran Chakra ditubuhnya, aku hanya melihat sekumpulan Energi asing yang tidak aku ketahui Energi apa itu, namun aku yakin Energi itu bisa mengeluarkan kekuatan yang dahsyat." Si topeng Orange itu menjelaskan Aoi Seishin dengan menatap lurus Tendou Pain.
"Hm, menarik. Lalu, apa kemampuan Akaseishin no Kyoshi itu?"
"Akaseishin no Kyoshi, kemampuannya sama dengan Aoi Seishin, namun yang aku lihat dia hanya bisa mengendalikan Tanah saja. Namun yang mengejutkan dari kemampuannya, Akaseishin no Kyoshi mampu mengeluarkan dan mengendalikan Rantai Chakra. Dan itu membuatku yakin kalau Akaseishin no Kyoshi itu adalah seorang Uzumaki."
Pein tertegun sejenak setelah mendengar ucapan Tobi itu, namun itu hanya sesaat sebelum dia menyembunyikannya dengar raut datarnya.
'Apa-apaan ini!, bukankah Arashi-sensei melarang keras anggota Clan untuk keluar dari persembunyian dan berkeliaran seenaknya? Tapi kenapa ada Uzumaki yang berkeliaran diluar sana? Atau mungkin orang itu adalah keturunan Kushina-hime dari konoha? Tapi itu tidak mungkin karena yang aku tahu Kushina-hime hanya mempunyai satu orang anak, dan anaknya itu adalah Jinchūriki Kyūbi. Dan pastinya Jinchūriki Kyūbi akan selalu di jaga ketat dan tidak akan dibiarkan keluar desa sembarangan.' Pein kalut sendiri dengan fikirannya, untuk beberapa saat terjadi keheningan ditempat itu.
"Jadi bagaimana sekarang? Apa kita akan mengundang mereka untuk bergabung dengan kita?" hingga beberapa saat setelahnya, kesunyian itu terpecah oleh pertanyaan yang keluar dari mulut satu-satunya perempuan ditempat itu.
Pein akhirnya sadar dari lamunannya kemudian menatap Konan dan Tobi bergantian. "Baiklah, kurasa jika mereka bergabung, tujuan kita akan semakin mudah untuk tercapai. Tobi, untuk sekarang ini suruh Zetsu mengawasi mereka berdua, dan kalau mereka memungkinkan untuk bergabung, bawa mereka kehadapanku."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi." Setelah menganggukkan kepalanya pelan karena mengerti dengan ucapan Pein, Tobi pergi dari tempat itu dengan cara yang sama seperti halnya cara ia datang.
Sekarang, tinggal mereka berdualah yang masih berdiri ditempat itu. Konan mendekatkan dirinya kearah Pein yang saat ini kembali membalikkan badannya menghadap kedepan untuk melihat bagaimana keadaan desa kecil itu dari atas menara.
"Sampai kapan kita harus melakukan sandiwara ini Nii?" Pein menggulirkan irisnya ke sudut matanya setelah mendengar pertanyaan gadis yang ada dibelakangnya itu.
"Bersabarlah, untuk saat ini kita ikuti dulu permainan Madara Palsu itu. setelah sampai pada saat yang tepat, kita akan keluar dari sini dan membawa para Bijū yang sudah terkumpul kedalam Gedo Mazou supaya Madara palsu itu tidak bisa menjalankan rencana Busuknya."
Konan terdiam mendengar ucapan pemimpin Organisasi mereka sekaligus orang dia anggap sebagai kakaknya itu. dan setelah perkataan itu selesai, langit mendung desa itu menurunkan tetasan-tetasan air hujan yang mengguyur seluru bangunan desa itu.
…TBC…
(OST, Ending : Rythem –Harmonia)
Esya. 27. BC, - Itu benar, Narukolah yang jadi Jinchūriki.
Yuuki uzumaki naruto, - kagak mainstream kan, hehe. Pairnya mungkin 3 atau 4 orang saja. Kalau soal update, kalau gak sibuk mungkin 1 kali seminggu. Kalau soal Facebook, cari aja Ahong Chou. Itu lah akun saya, profil ficnya gambar editan wajah saya sendiri, hehe.
Riki. Ryugasaki. 94, - Mungkin semuanya Uzumaki, dan kalau nanya ini bakalan incest, hehe mungkin juga.
Guest, - yah tebakan anda tepat boss, itulah yang memotivasi Honoka untuk belajar tekhnik Medic.
Devan BoySteln, - Yup, pertanyaan pertama sudah terjawab diatas, yang kedua, tentu ada.
My name is Naruto-kun, - yap, naru akan bisa terbang, tapi nanti setelah dia membuat tongkat terbang seperti milik Avatar Aang. Untuk yang kedua, Air Scooter? Tentu, naruto tentu bisa membuat tekhnik andalan milik Avatar plontos itu, hehe.
Ss .FOX16, - makanya ikuti terus kelanjutan fic ini, hehe :v (-_-)V.
TheHalfSoul, - little harem kayaknya gak bisa deh, udah kadong nentuin berapa pairnya vrohh, hehe. Kekonohanya pasti ada dong.
Mao-chan n Sasofi no Danna, - kakak-beradik ini bakalan bertemu mungkin sekita 4/5 chapter lagi.
Untuk beberapa pertanyaan yang hampir sama saya jawab langsung saja ya. Naruto disini akan mendirikan Harem, cukup 3 atau 4 orang saja, dan Honoka adalah salah satu chara yang masuk kedalamnya.
Dan untuk yang lain, terima kasih atas Review dan dukungan kalian, hehe.
Author Note's :
Chapter 7 Updated, I hope you like this chapter, haha.
Baiklah kawan-kawan sekalian. Di chapter ini sepertinya agak gimana gitu ya. Dan sepertinya saya ingin mengubah haluan dari Semi Canon ke AU sepenuhnya karena terlalu banyak yang saya ubah, bagaimana menurut kalian?
Segini dulu dari saya, sampai jumpa di chapter selanjutnya kawan-kawan, jangan lupa Reviewnya ya, hehe.
Decepticons! Mundur!
