ROUND OF LOVE
Disclaimer : Naruto dan segala karakter punya Masashi Kishimoto
Rate : T
Warning(s) : TYPO(s), OOC, Bad Storyline
.
.
.
.
.
Enjoy Reading!
.
.
.
.
.
CHAPTER VII
.
.
Beberapa hari ini Hinata dan Naruto tidak pulang bersama lagi. Hinata selalu mengatakan bahwa temannya yang menjemputnya dan mengatakan bahwa ia tidak perlu repot-repot mengantar Hinata lagi. Yang Naruto amati sepertinya yang disebut Hinata teman itu adalah seorang pria. Jujur saja, Naruto tidak suka dengan fakta itu. Pria? Wanita? Berteman? Jarang yang berjalan mulus, salah satunya pasti akan punya perasaan khusus, atau malah dua-duanya? Well, Naruto benci dengan kemungkinan kedua. Naruto memejamkan matanya, ia lelah dengan pikirannya sendiri
Sementara Hinata, karena hari ini hari Kamis, Toneri mengajaknya untuk sekedar mengunjungi taman hiburan. Sejak pertemuan mereka kembali di kafe setelah sekian lama, mereka semakin akrab. Hinata merasa nyaman dan menyenangkan bersama Toneri. Malam ini Wonder Park cukup ramai dan banyak anak-anak SMA juga mengunjungi
"wahana apa yang ingin kau naiki?" tanya Toneri disebelah Hinata
Hinata mengamati sekeliling dengan senang, sudah lama ia tidak mengunjungi taman hiburan. "um-bagaimana kalau roller coaster?"
"wow! Kau langsung memilih wahana ekstrim! Baiklah ayo kesana" Toneri menggenggam lengan Hinata untuk menuju wahana itu
Hinata sedikit kaget karena tangan Toneri yang tiba-tiba menggenggamnya. Rencananya Hinata ingin mengerjai Toneri, apakah lelaki itu takut pada wahana ekstrim atau tidak, ternyata sepertinya tidak
Setelah menaiki roller coaster, mereka mencoba banyak wahana lainnya. Hinata sempat mual ditengah-tengah aksi berpetualang mereka, tetapi dapat normal kembali. Saat masuk rumah hantu, Hinata sesekali berteriak, bukan karena takut, tapi karena kaget. Tiba-tiba hantunya muncul dari samping, atau tiba-tiba memegang tangan dan kakinya
Setelah berkeliling cukup lama, waktu sudah menunjukan hampir pukul sepuluh malam. Mereka memutuskan untuk duduk di bangku taman dan membeli cokelat hangat. Udara malam sangat dingin, apalagi Hinata hanya mengenakan blouse yang cukup tipis. Hinata menggenggam gelas kertas cokelat itu untuk menghangatkan kedua telapak tangannya
Toneri menyadari gelagat Hinata yang kedinginan. Dengan cekatan ia meletakkan gelasnya di sampingnya lalu memakaikan jasnya pada Hinata
"kau pasti kedinginan, kan?"
"a-ah, terimakasih" Hinata tersenyum tipis. Toneri memiliki sifat yang baik dan lembut, ia selalu bersikap gentleman pada Hinata. Tapi Hinata tidak merasakan apa-apa saat berada didekat pria itu. Malah ia berpikir bahwa Naruto-lah yang sedang memberikan jas itu padanya, seperti saat pria itu memberikan jasnya di Kyoto
Tidak! Hinata buru-buru mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya. Tidak, tidak. Ia tidak ingin berharap lebih jauh pada atasannya itu. ia harus mengenyahkannya. Ia juga tidak mengerti mengapa bisa-bisanya ia memiliki pikiran seperti itu. Ia memiliki cukup banyak teman pria saat masa kuliah, tetapi mengapa hanya ini yang terasa sulit dan membingungkan? Mungkin Toneri adalah pria yang tepat untuknya. Ya, ia mungkin akan memulai membuka hatinya untuk Toneri. Hinata bukannya terlalu percaya diri atau apa, tetapi dari semua gelagat yang Toneri berikan padanya, ia merasa bahwa kemungkinan 50% Toneri memiliki perasaan khusus padanya, mungkin? Perlakuan dan perhatiannya terlalu spesial dan berlebihan bila ingin dikategorikan sebagai teman
Setelah itu mereka memutuskan untuk segera pulang. Dan setelah empat puluh menit mereka sampai di apartemen Hinata, Toneri memberhentikan mobilnya lalu melepas sabuk pengaman yang melekat pada Hinata. Jarak mereka sangat dekat, Hinata sedikit terkejut dengan perlakuan Toneri, mereka belum pernah sedekat ini sebelumnya. Setelah melepas sabuk pengamannya, Toneri menatap Hinata lekat, jarak mereka hanya terpisah sepuluh senti. Seakan terbawa suasana, Toneri mendekatkan kepalanya sedikit demi sedikit. Seolah mengerti apa yang akan pria itu lakukan, Hinata buru-buru menolehkan kepalanya ke samping
"sebaiknya aku segera masuk, hari sudah gelap". Hinata memang berencana untuk membuka hatinya untuk pria itu, tapi ini terlalu mendadak. Ia belum siap melangkah sejauh itu
Toneri memundurkan kepalanya dan duduk kembali ke posisi semula, "ah, iya. Masuklah"
Hinata dapat menangkap nada dan senyum kecewa dari pria itu. "selamat malam Toneri-san", Hinata mengamit tasnya dan keluar dari mobil Toneri. Tak lama mobil itu melaju menjauh keluar dari apartemen Hinata
Ia melangkahkan kakinya dengan gontai, tetapi baru beberapa langkah matanya menangkap sesosok orang berdiri bersender pada tiang lampu yang padam. Pencahayaan sudah tidak terlalu jelas lagi, tapi Hinata masih bisa melihat surai sewarna cahaya matahari itu. Hinata mempercepat langkahnya menuju sosok itu
"Naruto-sama?" Hinata terkejut dengan kehadiran Naruto, kenapa ia bisa berada disini?
"kenapa anda disini?" Hinata melihat Naruto yang menegakkan tubuhnya dan berjalan beberapa langkah mendekati Hinata
Naruto memandang jas yang Hinata kenakan sekilas lalu memandang Hinata. "hanya ingin memastikan beberapa hal. Karena kau sudah disini, sebaiknya aku pulang" Naruto masih tetap menampikkan ekspresi datarnya seperti biasa
Hinata mengerjapkan matanya beberapa kali, ia bingung. Jadi untuk apa atasannya kesini?
Seketika Hinata tersentak. Jangan-jangan tadi Naruto melihat ia dan Toneri didalam mobil? Oh tidak, dari jarak pandang Naruto sekarang, dari luar pasti ia dan Toneri tadi seperti terlihat sedang melakukan sesuatu yang hampir terjadi—kalau tidak Hinata cegah. Hinata merasa sangat malu sekarang, ia tidak mau atasannya berpikir yang macam-macam
"masuklah. Jangan tidur terlalu larut, besok kita masuk lebih awal dan akan ada rapat panjang"
Ya, Hinata ingat besok kantornya akan masuk lebih awal. Tapi, apa Naruto kesini hanya untuk mengatakan hal seperti itu? Lewat pesan singkat juga bisa
"aku pulang dulu", suara Naruto menyadarkan Hinata yang agak melamun. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Naruto. Entahlah, Hinata seperti merasa ingin mencegah Naruto pergi, ia tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Tetapi yang terjadi, Hinata seolah sulit untuk sekedar menggerakan mulutnya dan hanya satu kalimat yang terlontar
"selamat malam Naruto-sama"
Setelah kalimat itu terlontar, Naruto melangkahkan kakinya menjauh dari Hinata dan perlahan hilang dibalik gelapnya malam. Sudah empat menit berlalu dan Hinata masih setia dengan posisi mematungnya. Ia sungguh tak mengerti dengan apa yang ia rasakan
...
Pagi ini Uzumaki Company masuk lebih awal dari biasanya. Pukul 07.00 Hinata sudah mulai menyiapkan keperluan rapat dan satu jam setelahnya seluruh karyawan pimpinan divisi sudah mengambil posisi masing-masing untuk berlangsungnya rapat. Entah perasaan Hinata saja, tetapi ia merasa kali ini rapatnya sedikit berbeda dari biasanya. Shikamaru tampak tak banyak bicara, dan ia tidak diberitahu tentang topik apa yang akan didiskusikan. Pukul 08.00 lebih sedikit, Naruto muncul dengan setelan lengkapnya dan membuka rapat. Lampu dipadamkan, digantikan oleh cahaya yang menerangi dari layar proyektor
"saya akan berbicara langsung pada intinya. Saya mengumpulkan kalian semua disini karena perusahaan kita sedang mengalami penurunan yang kurang baik" suara Naruto tak seperti biasanya, lebih tegas dan tajam. Matanya menatap lurus menghadap semua karyawan
"saham selama beberapa bulan belakangan turun hingga 12-18%". Terpampang grafik dengan penurunan kurva yang cukup signifikan pada layar
"kita terpaksa membatalkan banyak kerjasama. Dan rencana para investor yang menjadi bagian dari proyek, menarik kembali saham mereka" mata Naruto semakin menajam
"dan mereka semua berbalik, salah satunya pada Hyuuga Enterprise"
Ucapan terakhir Naruto membuat seluruh orang diruang rapat terkejut, tak terkecuali Hinata. Pantas saja, ia sudah merasa ada yang tak beres. Tidak ada perencanaan lebih lanjut tentang segala saham yang akan mereka investasikan dan ternyata, mereka menariknya.
"saya tidak tahu keuntungan dalam bentuk apa yang mereka tawarkan hingga membuat semua investor berbalik pada Hyuuga. Tapi sekarang yang harus kita lakukan adalah, kita harus meningkatkan kinerja dan setidaknya menjaga perusahaan tetap stabil sehingga tak mengganggu proyek dengan investor lain. Terlebih kerjasama kita dengan Uchiha dan Senju"
Hinata masih menatap layar proyektor, memang, keadaan Uzumaki Company sedang tidak stabil sekarang. Pengeluaran hampir melebihi pemasokan. Penggunaan tidak bisa menutupi investasi yang datang. Memang perusahaan Hyuuga sedang ada diatas-atasnya, karena rencana pembangunan area apartemen. Bukannya membela perusahaan sendiri, tetapi kalau dari segi anggaran dan antusiasme masyarakat, proyek resort antara Uzumaki, Uchiha dan Senju lebih unggul dibandingkan proyek Hyuuga. Bahkan diawal-awal peluncuran perencanaan, sudah banyak investor yang menawarkan diri mereka
"bila keadaan ini terus berlangsung, tentu akan mengganggu kerjasama kita dengan Uchiha dan Senju. Sekarang kita fokuskan untuk mencari sponsor" lanjut Naruto
Rapat berlangsung selama tiga jam kedepan dan setelahnya Hinata, Naruto dan Shikamaru dipenuhi oleh jadwal untuk mencari sponsor. Ketidakstabilan ini tidak bisa dibiarkan, bisa-bisa Senju dan Uchina menarik investasi mereka. Tapi Naruto tak terlalu yakin, karena kontrak yang ada diantara mereka tidak bisa diabaikan begitu saja. Tapi tetap saja, kinerja Uzumaki Company tetap menjadi prioritasnya, bisa-bisa kedua perusahaan itu, atau bahkan perusahaan lain tidak mau berinvestasi lagi dengan mereka
Hari-hari mereka bertiga dipenuhi oleh pencarian sponsor, dan untungnya mereka cukup dimudahkan untuk mendapat investor karena tentunya nama perusahaan mereka, serta penawaran dan benefit yang Naruto berikan. Bukan Naruto namanya bila ia tak bisa menangani hal semacam ini. Siang-malam mereka bertiga, dan para divisi memikirkan penawaran terbaik dengan segala keterbatasan yang ada
Tetapi belum berapa lama, setidaknya ada dua investor lagi yang menarik kembali sahamnya dan berbalik pada perusahaan lain. Yang mereka dengar, ada yang berbalik pada perusahaan Hyuuga
"argh! Ini membuatku gila!" Shikamaru menjambak frustasi surainya dan memijat kepalanya yang berdenyut. Sekarang mereka bertiga sedang berkumpul untuk perencanaan pertemuan
Naruto menatap heran dokumen yang ada diatas meja lalu mengusap wajahnya kasar. Dirinya juga sama frustasinya dengan Shikamaru. Bagaimana tidak frustasi? Sudah susah payah mereka mencari sponsor, sungguh kegiatan yang menguras otak dan tenaga. Belum lagi memikirkan strategi agar perusahaan tetap stabil, dan sekarang apa? Mereka harus kehilangan investor, lagi
Hinata mengernyitkan keningnya. Ini terasa aneh dan janggal baginya. Kenapa bisa bersamaan?
"Naruto-sama, Shikamaru-san", panggilan Hinata membuat mereka menolehkan kepalanya pada sang arah suara
"tidakkah kalian merasa aneh?". Pertanyaan Hinata membuat kedua orang yang sedang dilanda frustasi itu menukikkan alisnya
"maksudmu?" tanya Naruto
"aku tidak tahu ini hanya perasaanku saja" Hinata melanjutkan kalimatnya lagi, "tetapi, mengapa semua investor seolah serempak menarik diri dan berbalik pada Hyuuga Enterprise?" Hinata menggelengkan kepalanya, "memang tidak semuanya, tetapi 80% berbalik pada perusahaan itu. Tidakkah itu terlihat tak wajar?"
Seolah petir di siang bolong, Naruto dan Shikamaru tersadar dan langsung menegakkan tubuh mereka. Shikamaru mengepalkan tangannya kuat-kuat
"sialan kalian Hyuuga!" Shikamaru menggeram marah. Benar, mengapa tak terpikirkan olehnya? Keadaan yang tiba-tiba ini membuat IQ 200-nya sulit bekerja dengan baik
'inikah yang kalian rencanakan, Hyuuga?' tanya Naruto dalam hati
...
Hinata kembali harus menyerahkan pekerjaan tentang perencanaan pada asistennya, Gaara, karena ia dan Naruto akan menghadiri pertemuan dengan perusahaan Ame. Setelah sampai di gedung Ame, mereka diundang untung menuju ruangan yang setelah dimasuki tidak terlihat seperti ruang rapat, tapi lebih seperti ruang makan yang lebih santai
Sesampainya Naruto dan Hinata, didalam sudah ada dua orang pria paruh baya dan satu wanita yang sepertinya seumuran dengan Hinata
"selamat datang Uzumaki-san dan Sasaki-san" pria bersurai merah menyapa mereka terlebih dahulu sambil tersenyum. Hinata dan Naruto membalas dengan membungkukkan badan mereka
"ah, kenalkan aku Nagato Shimura dari Ame Corporation" ujar si pria bersurai merah itu yang diketahui bernama Nagato
"saya sudah banyak mendengar tentang anda" Naruto tersenyum tipis sambil membungkukkan badannya sedikit
"dan ini asistenku, Hidan" sebelum melanjutkan kalimatnya lagi, Nagato menolehkan badannya kesamping lalu meletakkan kedua tangannya pada punggung wanita yang terlihat seumuran dengan Hinata itu, "dan ini anakku, Kin Tsuchi"
Setelah menu pembuka sampai, obrolan dibuka dengan basa-basi yang banyak dilontarkan oleh Nagato. Selama pembicaraan, Hinata dapat melihat gelagat Naruto yang mulai bosan dengan perbincangan ini, karena Hinata tahu, Naruto tipikal orang yang tak pandai berbasa-basi, bila ada kepentingan ia akan langsung berbicara pada intinya. Dan bila matanya tak salah menangkap, beberapa kali ia melirik pada Kin Tsuchi dan selalu kedapatan bahwa wanita itu menatap Naruto terus yang sesekali dengan wajah malu-malu
Tak lama pembicaraan serius pun dimulai. Mereka masuk pembicaraan investasi dan pandangan Naruto mulai fokus lagi
"Uzumaki-san, saya menawarkan pemberian investasi yang lebih dari ini"
Ucapan Nagato membuat Naruto dan Hinata cukup terkejut. Apa yang membuat pemimpin perusahaan itu berbuat seperti ini? Apa ia memang sangat dermawan?
"tetapi dengan satu syarat. Saya jamin tak akan menyulitkan anda, Uzumaki-san"
"maksud anda Shimura-sama?" tanya Naruto. Dalam hati Hinata dan Naruto sama-sama menerka kiranya apa persyaratan yang akan petinggi ini tawarkan
"kau tahu, bukan hanya investasi yang bisa membuat dua perusahaan saling menjalin kerjasama. Tetapi, sebuah ikatan yang terhubung juga bisa menyatukan dua perusahaan" Nagato menoleh pada Kin yang duduk disebelah kanannya
"pernikahan yang kalian berdua laksanakan bisa mewujudkan kerjasama itu. Investasi yang akan kuberikan akan berkali-kali lipat dari kesepakatan awal" ujar Nagato lagi sambil tersenyum
Hinata membelalakkan matanya mendengar penuturan ketua Ame Corp itu. Sekarang giliran dirinya yang mendapat petir (dan gledek) di siang bolong. Kali ini hatinya seperti disayat, sakit sekali. Hinata memperkencang remasan pada roknya
Wajah Kin Tsuchi sudah merah merona, kentara sekali bahwa wanita ini menyukai Naruto. Hinata memberanikan diri melirik Naruto dengan ujung matanya, tetapi hanya wajah datar Naruto yang ia dapatkan
"jadi, bagaimana menurutmu Uzumaki-sama?" senyuman bahagia tak lepas dari wajahnya yang terukir kerutan. "lagipula mereka terlihat cocok kan, Sasaki-san?" Nagato menoleh pada Hinata
Hinata sedikit tersentak mendengar namanya disebut, dengan kesadaran yang ada ia menjawab pertanyaan Nagato
"i-iya, Shimura-sama" Hinata memaksakan senyum semanis mungkin
"be-benarkah itu, Hinata-san?" terdengar suara Kin yang halus memenuhi indera mereka
Hinata dapat mendengar suara Kin yang halus. Ternyata begini suaranya bila sedang malu-malu. Hinata tersenyum sambil mengangguk pelan, remasan pada roknya semakin menguat, "anda terlihat cocok satu sama lain", Hinata bersyukur ia dapat mengatakannya dengan lancar. Sungguh akting yang bagus
Hinata tak menyadari bahwa sedari tadi Naruto disebelahnya mendengar semua penuturan mereka dengan perasaan bercampur aduk. Matanya menajam dan pandangannya sulit diartikan
"saya akan mempertimbangkannya terlebih dahulu, Shimura-sama" akhirnya Naruto buka suara
Nagato tersenyum lagi, "iya, anda pasti butuh waktu untuk berpikir dulu". Acara selanjutnya adalah makanan penutup yang diisi dengan obrolan lebih santai
"ah, sebentar, aku ada telepon" ujar Nagato sambil berdiri dari kursinya lalu berjalan keluar ruangan untuk mengangkat telepon
"Sasaki-san"
Hinata menoleh pada Hidan yang memanggil dirinya
"apa anda mau melihat-lihat gedung ini?" tawar pria dengan rambut cukup gondrong itu
Pertanyaannya terdengar biasa, dan bila orang dengar pun akan terlihat seperti ajakan biasa. Tapi Hinata tahu, itu pertanyaan tersirat. Hidan memberinya isyarat untuk membiarkan Naruto dan Kin waktu berdua
Hinata mengangguk pelan, "boleh, bila Hidan-san mau menemani"
Naruto melirik sekilas kearah Hinata yang tersenyum kecil, seolah ia juga mengerti dengan siasat dibalik tawaran Hidan. Apa yang ada dipikiran wanita itu?
Akhirnya Hidan dan Hinata melangkah keluar meninggalkan Kin dan Naruto berdua
Wajah Kin masih malu-malu seperti sebelumnya, ditambah ia menautkan kedua ujung jarinya untuk menghilangkan gugup
Mereka terdiam beberapa menit, tak ada satupun yang membuka suara. Kin yang masih malu-malu, dan Naruto tak tahu harus memulai pembicaraan atau tidak
"Shimura-san"
Panggilan Naruto membuat Kin mendongakkan kepalanya, "i-iya, Uzumaki-san?". Jantungnya berdegup lebih keras karena suara Naruto yang memanggilnya
"bagaimana kabarmu?" oh, tidak. Naruto merutuki kebodohannya. Mengapa pertanyaan macam itu yang ia lontarkan?
"sa-saya? Baik saja, Uzumaki-san"
"apa kau sudah punya kekasih?" tanya Naruto to the point
"e-eh?" wajah Kin semakin memerah. "s-saya belum pu-punya kekasih, Uzumaki-san". Kin pasti berpikir bahwa Naruto menanyainya pertanyaan itu untuk memastikan status Kin, karena Naruto hendak menyetujui perjodohan mereka
"apa kau menyetujui kesepakatan itu?"
Kin semakin dibuat gelagapan oleh pertanyaan Naruto. "um-um, bi-bila anda menyetujuinya, ma-maka saya juga me-menyetujuinya"
Naruto hanya menghela nafas sambil tetap menampilkan wajah datarnya. Tak lama Nagato masuk kembali kedalam ruangan dan bingung hanya mendapati Naruto dan Kin didalam. Tapi tak lama kebingungannya berganti menjadi sebuah senyuman
"dimana Sasaki-san dan Hidan?"
"mereka sedang melihat-lihat gedung ini" jawab Naruto
Tak lama Hidan Hinata kembali dan mereka memutuskan untuk mengakhiri pertemuan sampai disini dulu
"aku menunggu kepastian dari anda, Uzumaki-sama" ucap Nagato sebelum Hinata dan Naruto benar-benar keluar dari ruangan itu
...
Mereka sudah didalam Porsche Boxster milik Naruto yang sedang mengemudi menuju kantor mereka. Hinata menoleh beberapa kali kearah Naruto yang sedang fokus pada jalanan didepannya. Ia ingin bertanya, tetapi tak yakin. Begitu terus berulang kali. Naruto menyadari gelagat tak tenang dari Hinata
"apa yang ingin kau tanyakan?"
"um-tidak apa-apa Naruto-sama" Hinata menyelipkan rambutnya kebelakang telinga kirinya lalu menatap kearah luar jendela
Sesampainya dikantor, hari sudah malam. Para pegawai sudah pada menuju rumah masing-masing. Naruto dan Hinata kembali untuk mengambil barang-barang mereka. Selama menuju ruangan, kantor sudah sepi, bahkan beberapa penerangan mulai dimatikan
Mereka sekarang sedang berada diparkiran berjalan menuju mobil Naruto, karena tadi Naruto mengajak Hinata untuk pulang bersama. Penerangan di parkiran juga sudah minim
Setelah bergulat dengan pikirannya sendiri, Hinata akhirnya memberanikan diri untuk bertanya
"um-Naruto-sama"
Panggilan Hinata membuat Naruto menoleh sekilas padanya
"maaf bila saya lancang. Mengenai pembicaraan dengan perusahaan Ame tadi, apa Naruto-sama akan menerima kesepakatan tadi?"
Naruto terdiam sejenak dan Hinata buru-buru menambahkan, "tidak apa-apa kalau Naruto-sama tidak ingin membicarakannya"
"menurutmu bagaimana?" tanya Naruto tetap memandang kedepan
"entahlah. Itu tergantung pada anda, kan? Bila anda merasa tidak nyaman, kita bisa mencari sponsor lain" Hinata memejamkan matanya sejenak menikmati semilir angin malam. "jangan memaksakan diri anda" Hinata memberi jeda sebentar, "setiap orang pasti memimpikan pernikahan yang indah" Hinata menoleh sekilas pada Naruto, "jadi jangan paksakan diri anda Naruto-sama"
Langkah Naruto terhenti mendengar penuturan Hinata. Hinata yang tak sadar bahwa Naruto yang berhenti, setelah tiga langkah baru menyadari ketiadaan orang yang seharusnya berjalan disebelahnya. Ia pun menoleh kebelakang tempat Naruto berdiri
"Naruto-sama?" Hinata bingung kenapa tiba-tiba Naruto berhenti
Tapi yang dipanggil hanya diam dengan ekspresi yang sulit diartikan. Iris biru laut yang indah sekarang terlihat kelam tanpa cahaya menatap lurus kearah matanya. Selama beberapa saat mereka hanya saling pandang dalam diam. Sebenarnya hati Hinata terasa sakit lagi saat melihat wajah Naruto seperti ini. Ia yakin bahwa Naruto pasti akan menerima perjodohan itu. Kin adalah wanita yang baik, lembut, cantik dan sopan, sangat berbanding terbalik dengan dirinya, makan dan tertawa saja seperti laki-laki, masa lalunya juga kelam, jelas mana ada pria yang mau bersama wanita seperti itu, dan Hinata sangat sadar posisi, tidak seharusnya ia berharap pada atasannya. Jujur, Hinata juga tidak mengerti sejak kapan ia begini, dirinya hanyalah seorang bawahan, dan Hinata sadar akan hal itu
Hinata membayangkan iris biru itu menatap Kin penuh kasih sayang, dan akhirnya ia menyaksikan pernikahan mereka berdua. Sial! Ada apa dengan dirinya? Kenapa perasaannya seperti disayat, sakit sekali. Hinata tak mengerti dengan dirinya sendiri. Seharusnya ia turut bahagia bila atasannya juga bahagia, tambahannya, perusahaan mereka mendapat bantuan dana yang besar
Hinata tak menyadari setetes cairan bening berhasil lolos dari mata kanannya sampai sebuah tangan besar mengusapnya dengan pelan
"mengapa kau menangis?" suara Naruto terdengar pelan
Hinata tersadar dari lamunannya dan terkejut menyadari kedua matanya yang sudah panas dan cairan bening siap lolos menuju pipinya. Menyadari itu Hinata buru-buru mengerjapkan matanya untuk mencegah cairan itu jatuh. Kenapa ia bisa sampai menangis didepan Naruto? Hah, bahkan ia merasa tak punya hak untuk sekedar menangis. Toh, kenyataannya Naruto bukan siapa-siapanya, hanya sebatas atasan
Hati Hinata semakin sakit menyadari fakta bahwa Naruto memang bukanlah siapa-siapanya. Jadi, mengapa ia menangis? Mengapa ia harus merasa sedih?
Satu cairan bening lagi lolos dari matanya, Hinata buru-buru mengelapnya dengan kasar. Baru terelap yang satu, satu lagi lolos dari mata kirinya, begitu lagi dan lagi. Hinata berusaha menghapusnya dengan cepat dan berusaha tersenyum
"astaga, mengapa aku menangis?" Hinata mengangkat tangan kanannya untuk mengelap air matanya yang jatuh, "ah, jangan-jangan ini hari peringatan orangtuaku meninggal". Hinata hendak mengangkat tangan kirinya, tetapi Naruto langsung menangkapnya
Mereka berpandangan beberapa saat, tapi Hinata langsung tersadar dan menghapus sisa air matanya. Dengan pelan dan berat hati ia melepaskan lengannya dari Naruto
"se-sebaiknya saya segera pulang"
Hinata melangkah kearah yang berlawanan, menuju arah keluar. Saat tubuhnya hampir melewati Naruto, lengannya dicegat oleh pria itu
"biarkan aku mengantarmu"
Hinata menggeleng pelan, "tidak perlu Naruto-sama"
Naruto tidak menghiraukan penolakkan Hinata dan menarik lengan gadis itu menuju mobilnya. Mobil hitam itu melaju meninggalkan gedung dalam diam.
.
.
.
TBC
.
.
.
Halo semuanya! chapter 7 is UP! walaupun telat tapi gapapa ye hehe, Selamat Tahun Baru untuk semuanya!^^ See u on next chap!
