KHR © Amano Akira

Our Children

You're my Son—

D18, 8059, 6927

Family/Humor

Warning: OOC, OC, Mpreg, Shounen Ai

Your Christmas | 4 years Later (2 from 2) | 7

Berlari hingga nafasnya tampak memburu, ia masih mencoba menahan tangisnya. Ia tidak boleh egois—papa dan otou-sannya bukan harus menjaganya. Lagipula anak laki-laki tidak boleh menangis—ia tidak ingin di ejek 'Herbivora' lagi oleh mamanya atau otou-sannya.

"Ugh—Ryo bukan herbivore..."

Duduk dibawah pohon yang ada di sekitar kuil, dan menenggelamkan kepalanya disekitar lututnya, Ryo hanya terdiam dan menutup matanya.

"Nfufufu~ada apa Ryo?" Melihat kearah Ryo, Spade sudah ada di hadapannya dan menepuk kepala Ryo pelan.

"Zio—apakah Ryo anak nakal?"

...

"Kalau ada yang lebih baik selain anak berusia 5 tahun yang bisa tidur sendiri—jarang menangis, dan tidak pernah marah," Spade menggendong Ryo, "maka Ryo adalah anak nakal..."

"Tetapi—"

"Tenang saja—bagaimana kalau kita bersiap dan menyambut pamanmu dan si kembar?"

"Ya!" Ryo tersenyum lebar mendengar Spade.

Warning: OOC, OC, Mpreg, Shounen Ai

Your Christmas | 4 years Later (2 from 2) | 7

"Maaf merepotkanmu Gokudera—" Dino tersenyum lelah, menutup telponnya. Ia menghela nafas berat dan menatap kearah foto Ryo itu. Mengambil dan menatap foto itu lama.

"Boss..."

"Kalau menurutmu—apakah aku ini orang tua yang buruk?" Dino tampak menutup matanya, benar-benar merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Ryo.

...

"Ryo-san adalah anak yang kuat—" Romario menatap Dino, "—ia adalah anak yang baik dan kuat. Ia sangat menyayangi kalian, karena kalian menunjukkan kasih sayang kalian padanya. Ia mengetahui bagaimana merasakan sayang, karena kalian pernah memberikan padanya..."

Dino menatap Romario—

"Ia mengerti kalau kalian memiliki pekerjaan masing-masing, dan ia tidak egois dengan meminta kalian menemaninya..." Jeda dengan senyuman lembut, Romario melanjutkannya, "anda memiliki anak yang luar biasa boss..."

...

"Ya—aku tahu itu..."

Warning: OOC, OC, Mpreg, Shounen Ai

Your Christmas | 4 years Later (2 from 2) | 7

"Papa," Ayame tampak menarik-narik ujung baju Gokudera, mencoba menarik perhatian ayahnya yang baru selesai menelpon Dino. Gokudera segera menunduk dan tersenyum kearah anaknya.

"Ada apa Ayame..."

"'Yo-nii dimana..." Ayame tampak tidak senang dan cemberut mengetahui kakaknya tidak ada dan tidak kembali.

"Biarkan Ryo-nii sendiri dulu oke—" Gokudera mengelus kepala Ayame dan menggendongnya. Ayame hanya mengangguk dan tampak tidak bahagia, "—kita ke aula untuk acara natal, dan menunggu Juudaime..."

"Uhm!" Gokudera dan Ayame langsung berjalan dan menuju ke aula utama Vongola.

"Hayato~Ayame~!" Tiba-tiba seseorang memeluk Goku dan Ayame dari belakang, membuat wajah Goku memerah dan langsung menolehkan kepalanya untuk menemukan Yamamoto.

"Ah—tou-san!"

"Ja—jangan memelukku tiba-tiba Takeshi!"

"Maa, maa—aku hanya ingin mengagetkanmu..." Yamamoto tersenyum dan melihat Ayame yang memintanya menggendong Ayame.

"Zio Hayatooo!" Suara dua orang anak kembar itu langsung membuat Goku menoleh untuk menemukan dua anak kembar yang langsung menabrak kakinya dan memeluknya, membuat keseimbangannya goyang dan terjatuh.

"A—aduh, Kei, Rei—jangan menabrakku tiba-tiba," Gokudera memegangi kepalanya—melihat dua orang anak berambut cokelat dan biru. Selain warna rambutnya tidak akan ada yang bisa membedakan mereka berdua.

Sawada Kei dan Sawada Rei adalah anak kembar dari pasangan Sawada Tsunayoshi, Don Vongola—dan Rokudo Mukuro, Mist Guardian Vongola. Yang membedakan mereka berdua hanyalah warna rambut. Warna rambut cokelat adalah Rei, dan biru adalah Kei. Usianya sama dengan Ayame—bahkan lahir dihari yang sama dengan Ayame.

"Kufufufu~Zio Hayato, soalnya tou-san mau beltemu dengan Zio," menirukan gaya tawa ayahnya—Rei tampak tersenyum puas melihat Gokudera mampu shock dengan mulut menganga.

"Padahal kau yang mirip dengan Juudaime, Rei—kenapa kau malah menirukan tawa ayahmu yang aneh itu—"

"Kufufu~ Gokudera Hayato, kau mau kubunuh?" Mukuro tersenyum dengan trident yang sudah ada di leher Gokudera.

"Jangan seperti itu Gokudera-kun—ia hanya ingin menirukan tawa ayahnya kok," Tsunayoshi Sawada—sang Don Vongola tampak tertawa kecil dan menepuk storm guardiannya. Ia menghampiri Ayame dan tersenyum, "hei Ayame, apa kabar?"

"Halo Zio Tsuna! Aku baik-baik saja, papa dan otou-san membelikan banyak hadiah!"

"Baguslah—" Tsuna tersenyum dan menepuk kepala kecil Ayame. Menoleh kiri kanan, Tsuna mencoba mencari seseorang disana, "dimana Ryo?"

"Mungkin sedang di kamar—tadi..." Baru saja akan memberitahu, pintu aula terbuka lebar tiba-tiba. Ryo dengan menggunakan baju putih polos dan syal berwarna merah tampak senang dan berjalan kearah mereka semua.

"Zio Tsuna, selamat datang!" Tsuna tersenyum melihat Ryo dan menepuk kepala Ryo pelan.

"Ini untukmu Ryo—Hibari-san memintaku memberikannya padamu," Tsuna yang memang baru saja kembali dari Italia memberikan sebuah bros berbentuk seperti hibird pada Ryo.

"Waaa—Hibird!"

"Hibari-san meminta maaf juga karena dia—"

"Ah, Kei—Rei!" Ryo mencoba mengalihkan perhatiannya ketika Tsuna mengatakan tentang Hibari. Ia sudah tahu kalau Hibari tidak akan mungkin datang malam ini ataupun besok.

"Ryo!" Memeluk Ryo dengan erat sampai Ryo terjatuh, yang bersangkutan hanya tertawa dan mengelus kepala mereka berdua. Melihat Ryo yang tampak gembira walaupun tidak ada kedua orang tuanya membuat Tsuna menghela nafas lega dan menghampiri Gokudera.

"Semua hadiah yang mereka inginkan sudah terpenuhi?" Tsuna berbisik pada Gokudera dan Gokudera hanya mengangguk.

"Kusakabe sepertinya sudah membelikan semuanya—"

"Tsunayoshi-san, semuanya sudah saya siapkan—" Tetsu tampak berada di aula setelah selesai membelikan apa yang dituliskan oleh anak-anak untuk hadiah natal. Walaupun Tetsu mengatakan akan mengerjakan laporan—sebenarnya ia mencoba membelikan hadiah natal untuk semua orang.

"Ah, terima kasih Kusakabe-san..."

"Tetapi—hanya permintaan Ryo-san saja yang baru saja baca, karena baru saja diletakkan oleh Ryo-san. Dan—" Kusakabe mengambil sebuah kertas yang ia ambil dari kamar Ryo, "—saya bingung apa yang harus dilakukan..."

Memberikan kertas itu pada Tsuna, Kusakabe tampak menghela nafas berat.

"Tulisan Ryo?" Gokudera melihat tulisan yang ia kenal itu, karena bagaimanapun ia yang mengajari Ryo untuk menulis.

'Caro Babbo Natale,

Non ho bisogno di un altro giocattolo

ma,

Spero che questo Natale, I miei genitori a qui con me...'

(*) ...

"Apakah Dino-san dan Hibari-san tahu?" Tsuna menatap kearah Kusakabe.

Kusakabe menggeleng—

"Aku akan membicarakannya dengan Dino-san—" Tsuna berjalan meninggalkan aula utama dan menghubungi Dino di Italia.

"Dino-san—"

'Tsuna? Ada apa?'

"—ada sesuatu, yang ingin aku kirimkan padamu..." Suara Tsuna tampak pelan dan juga kecil. Ia tidak tahu harus memulai darimana—atau haruskah ia langsung mengatakannya.

'Hadiah natal—?'

"Sebenarnya—permintaan natal..." Hanya tersenyum tipis, suara kecilnya tampak seakan hanya bergumam. Dino tidak begitu jelas mendengarnya.

...

'Tsuna?'

"Aku akan mengirimnya lewat fax, kuharap kau melihatnya—" Tsuna segera memutuskan hubungan telpon itu dan berjalan untuk mengirimkan surat milik Ryo itu.

Warning: OOC, OC, Mpreg, Shounen Ai

Your Christmas | 4 years Later (2 from 2) | 7

"Kyouya—baru pulang?" Dino yang sedang menyantap makan siangnya tampak melihat kalau kekasihnya baru saja kembali dari misi dengan (lagi-lagi) darah kering yang mengenai kemeja putihnya.

"Hm..." Hibari tampak sangat lelah dan melonggarkan dasinya. Melihat sang kekasih yang sangat lelah, Dino menghampirinya, dan memeluk Hibari dari belakang.

"Misimu belum selesai?"

"Aku mencoba menyelesaikannya—tetapi ternyata tidak bisa..." Menghela nafas panjang dan berat, jujur—walaupun tidak pernah mengatakannya di depan orang lain, tetapi Hibari sangat ingin bertemu dengan Ryo. Tetapi bagaimanapun ia juga harus menyelesaikan secepatnya misi yang sudah ia ambil selama 9 bulan ini. Menatap kesebuah mesin fax didepannya, Hibari melihat sebuah kertas yang dikirim Tsuna, "Fax apa ini?"

"Ah, pasti dari Tsuna—apa isinya Kyouya?" Hibari dengan segera mengambil kertas itu dan melihatnya. Kertas yang bertuliskan tulisan Ryo tentang surat yang ia buat untuk permohonan natalnya tahun ini.

...

"Kyouya?" Dino yang melihat Hibari terdiam hanya menatapnya aneh, dan ikut melihat surat yang ada di tangan Hibari, "Caro Babbo Natale, Non ho—"

Menyadari sesuatu, Hibari segera bergerak dan menelpon Tsuna yang ada di Jepang, menanyakan perihal surat itu.

'Ya?'

"Apa maksud tulisan itu Tsunayoshi?"

'Eh—artinya adalah...'

"Bukan itu—siapa yang menulisnya..."

...

'—Ryo-kun...'

Warning: OOC, OC, Mpreg, Shounen Ai

Your Christmas | 4 years Later (2 from 2) | 7

"Dan pada akhirnya, hadiah Ryo tidak di kabulkan lagi..." Ryo yang sampai malam menunggu orang tuanya tampak cemberut dan melihat keluar jendela sambil memeluk lututnya.

...

"Apakah sesulit itu permintaan Ryo dikabulkan?" Menaruh kepalanya di atas tangan, Ryo tampak sangat sedih dan hanya bisa menatap salju di atas langit. Spade muncul begitu saja di hadapannya, menatap anak kecil itu yang menatapnya balik.

"Kau tidak apa Ryo?"

"Ryo ingin bertemu papa dan otou-san—" Spade melihat mata Ryo yang sudah berkaca-kaca. Ia ingin menangis, tetapi sepertinya hati anak itu sudah membeku dan membuatnya tidak bisa menangis.

"Kau ingin menangis?" Tidak ada salahnya untuk memintanya menangis untuk sekali saja kan? Ia memeluk dan menenggelamkan kepala kecil Ryo kedalam pelukannya, "Tidak apa—Zio tidak akan memberitahu yang lain..."

Dan yang ia dengar setelah itu adalah isakan kecil yang berasal dari Ryo, dan juga pelukan untuknya.

"Zio dan yang lain memang baik—tetapi, Ryo ingin bersama papa dan otou-san..."

Warning: OOC, OC, Mpreg, Shounen Ai

Your Christmas | 4 years Later (2 from 2) | 7

"Bagaimana caranya agar Ryo tidak bersedih ya—" Yamamoto, Tsuna, dan juga Gokudera tampak berkumpul keesokan harinya. Mereka mencoba untuk membuat Ryo—yang setelah pesta itu selesai tampak murung.

"Seharusnya Hibari dan Haneuma itu meluangkan satu hari untuknya, ia hanya ingin bersama dengan mereka..." Gokudera berdecak kesal dan menghidupkan rokoknya sebelum seseorang mengambil dan mematikannya.

"Jangan seenaknya bicara—"

"Ap—" menoleh, Gokudera dan yang lainnya hanya bisa terdiam melihat sosok yang ada di depan mereka—dan juga kostumnya.

...

"HUH?"

Warning: OOC, OC, Mpreg, Shounen Ai

Your Christmas | 4 years Later (2 from 2) | 7

"Masih kesal?"

"Bukan karena itu—" Ryo berada di beranda rumahnya dan memeluk lututnya sambil cemberut. Sementara Spade duduk disebelahnya sambil tersenyum, "—Zio Anguira jangan bilang kalau Ryo menangis..."

"Nfufufu~baiklah, tetapi jangan memanggilku Zio Anguira..."

"Karena Ryo tidak tahu nama Zio..." Ryo tampak memprotes keputusan Spade karena memang sejak 2 tahun Spade muncul di kehidupannya, Ryo tidak pernah tahu siapa nama asli Spade.

"Baiklah—Zio akan mengatakannya pada Ryo, nama Zio—" baru saja ia akan memberitahu nama aslinya ketika tiba-tiba seseorang muncul dan membuat Spade memutuskan untuk menghilang.

"E—eh, Zio dimana?"

"Ryo—" mendengar namanya dipanggil, Ryo mencoba mencari sumber suara itu. Menoleh kekiri dan kekanan, pada akhirnya ia menoleh kebelakang.

"Hm?" Melihat sosok di belakangnya yang memakai kostum berwarna merah dengan janggut putih yang panjang hanya menatapnya dengan tatapan datar, "E—eh, Nonno Santa?"

...

"Ini benar-benar Santa?" Matanya berbinar, Ryo tampak percaya dengan apa yang ada di depannya saat itu. Walaupun ia tahu, malam natal sudah lewat selama 1 hari, "Apakah santa ingin mengabulkan permintaan Ryo?"

...

Sosok itu masih terdiam, membuat senyuman dan tatapan yang penuh pengharapan itu menghilang, berganti menjadi senyuman datar.

"Ryo akan menunggu sampai tahun depan—Ryo akan jadi anak yang baik. Tetapi, apa tahun depan permintaan Ryo akan dikabulkan?"

"Apakah hanya saat natal?" Akhirnya sosok itu berbicara lagi sambil tetap menatap dengan tatapan datar kearah Ryo.

"Eh?"

"Apakah permintaanmu hanya sampai natal saja kedua orang tuamu bersama denganmu?"

"I—itu..." Ryo tampak bingung dan gugup, bagaimana cara menjawab pertanyaan dari sosok didepannya itu.

"Kau hanya menginginkan bersama orang tuamu saat natal bukan?"

"R—Ryo hanya tidak ingin meminta sesuatu yang terlalu susah..." Memainkan pakaiannya, suaranya tampak bergetar dan senyumannya semakin tampak dipaksakan, "Soalnya—sejak usia Ryo 1 tahun, permintaan pada santa tidak pernah terkabul..."

...

"Ryo memang salah—tidak menulis permintaan yang sebenarnya, tetapi Ryo hanya tidak ingin Zio Tsuna dan lainnya khawatir..."

"Jadi—apa sebenarnya harapan yang kau ingin aku kabulkan... Bersama dengan orang tuamu ketika natal atau—"

"Ryo hanya ingin terus bersama papa dan otou-san!" Berteriak kesal karena ia tidak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan dari santa itu, ia bahkan tidak tahu apakah ia bisa menahan tangisnya lebih lama lagi, "Bukan hanya—natal...pada saat tahun baru, ulang tahun papa dan otou-san, ulang tahun Ryo—" menundukkan kepalanya, minimal menyembunyikan air mata yang tampak keluar dari sudut matanya, "seperti Ayame, Rei, dan Kei yang bisa selalu bersama dengan orang tua mereka—minimal hanya otou-san atau papa tidak apa... Ryo sudah cukup senang melihat salah satu dari mereka bersama Ryo..."

...

"Ryo ingin bertemu otou-san dan papa..."

"Kalau memang itu yang kau inginkan—" menurunkan janggut putih sekaligus dengan topi merahnya, 'santa' itu tampak menatap Ryo dengan mata hitamnya. Membuat Ryo tampak terkejut—sangat terkejut dengan sosok dibalik kostum itu, "—kenapa tidak kau katakan padaku dan papamu..."

Menunduk—Hibari Kyouya sang santa claus menatap Ryo dengan tatapan lembut sebelum memeluknya dengan erat.

"Maaf Ryo—aku akan selalu ada di sampingmu jika kau memang menginginkannya," menutup matanya dan menaruh kepalanya diatas bahu kecil Ryo, "papamu juga akan seperti itu—cukup katakan keinginanmu dari mulutmu sendiri..."

"Hiks... Ryo hanya tidak mau tou-san terlalu sibuk—hiks... Ryo tahu papa dan tou-san sangat sibuk, jadi—Ryo hanya ingin menjadi anak baik," sangat lama terakhir kali Hibari melihat Ryo menangis. Ia menepuk kepala belakang Ryo dan membiarkannya menangis, "kalau Ryo jadi anak yang nakal—papa dan tou-san akan sedih..."

"Tidak apa—kau tidak perlu selalu menjadi anak yang baik..." Hibari menggendong Ryo dan melihat wajahnya yang sudah dipenuhi air mata, "jadi—kita menghabiskan waktu kita? Walaupun natal sudah lewat satu hari?"

"Tidak apa! Yang penting Ryo bisa bersama tou-san," Ryo tersenyum lebar, Hibari menghapus air mata di wajahnya, "papa dimana?"

"Itu—"

Warning: OOC, OC, Mpreg, Shounen Ai

Your Christmas | 4 years Later (2 from 2) | 7

'Ryoooo! Maafkan papa tidak bisa ke Jepang sekarang~!' Kalau anak itu bisa melihat bagaimana kondisi ayahnya di Italia lewat telpon, ia pasti akan tertawa melihat ayahnya menangis, 'laporan ini tidak pernah habiiis...'

"Tidak apa papa—tou-san akan menemani Ryo!" Ryo menutup sebelah matanya ketika Hibari memakaikannya topi berwarna putih.

'Ryooo, papa ingin bertemu denganmu—tahun baru papa akan berangkat ke Jepang! Apapun yang terjadi!'

'Kalau begitu kerjakan tugasmu sebelum tahun baru tiba boss...' Ryo bisa mendengar suara kepala ayahnya yang terantuk meja kerja—ia hanya tertawa mendengarnya.

"Ryo, ayo!" Suara Hibari terdengar setelah memakai kemeja putihnya.

"Ah—baiklah otou-san! Papa, Ryo pergi bersama otou-san dulu!"

'Mau kemana Ryo?'

"Kebun binatang!" Ryo tampak sangat senang ketika Hibari mau menemaninya pergi ke kebun binatang sebagai hadiah natal, "Sampai jumpa papa!"

...

'Bukankah Kyouya benci keramaian...?'

Your Christmas | 4 years Later (2 from 2) | 7