Disclaimer : Naruto BUKAN punya saya. Kalau punya saya, Naruto bakal banyak adegan mesranya :V

.

GHOST © Vandalism27

.

Warning : BOYS LOVE, OOC (PARAH), Gaje tingkat tinggi, alur gak jelas, dan sederet kecacatan lainnya yang dapat menyebabkan mata berkunang, pusing, mual, muntah, baper, krisis kuota dan berbagai keluhan lainnya. Kalau ada yang tidak suka dengan YAOI, JANGAN CAPER :v

.

A/N : Terima kasih untuk kalian semua yang sudah membaca chapter sebelumnya. Makasi juga buat yang udah review+fav+foll fanfic abal ini. Dan aku lupa bilang, fanfic ini aku naikin rate-nya dari T ke M, karena aku ngerasa fic ini uda ga pas buat anak kecil. So, anak kecil dilarang masuk! Mwahahaha XD

.

Sinopsis:

Niat hati berteduh untuk menyelamatkan kameranya dari hujan yang turun dengan deras. Siapa sangka, sesuatu malah mengikutinya.

.

.

SELAMAT MEMBACA!

.

.

Naruto keluar dari kamarnya setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi.

Oh ya, Naruto sudah keluar dari klinik tempatnya dirawat pagi tadi. Lalu dengan ditemani Sasuke, ia pulang ke apartemen yang entah mengapa begitu ia rindukan.

Sesampainya di apartemen, Naruto berguling-guling di kasur seperti anak kecil, sementara Sasuke membuat kopi di dapur. Mungkin saat itulah, Naruto ketiduran lalu bermimpi yang tidak-tidak.

Pemuda itu mempercepat langkahnya ketika dia mendengar suara riang dari kedua adiknya, Sakura dan Ino di ruang tamu.

"Ino! Sakura!" Naruto merentangkan tangannya untuk memeluk kedua adiknya. "Naruto Nii-chan kangen!" seru Naruto dengan nada manja.

"Nii-chan!" Kedua gadis kecil itu berlari, lalu menubruk tubuh Naruto yang sedang berjongkok, membuat mereka bertiga jatuh terjungkal.

Bukannya marah, Naruto malah tertawa sambil menciumi pipi kedua adiknya dengan gemas. Well, Naruto menyayangi semua adiknya di panti asuhan, tetapi Ino dan Sakura-lah yang paling dekat dengannya karena sejak mereka masih kecil, Naruto-lah yang kebagian tugas untuk menjaga mereka.

"Nii-chan, apakah Nii-chan sudah sembuh?" Ino bertanya.

"Nii-chan sakit apa, sih? Sakura dan Ino ingin ikut Ayame Nee-chan untuk menjenguk, tapi tidak diijinkan." Sakura menambahkan.

Naruto terkekeh. "Nii-chan hanya sakit biasa saja, kok. Tapi harus dirawat di rumah sakit karena tidak kunjung sembuh. Nah, kalian kan masih kecil, tidak boleh di bawa ke rumah sakit. Kalau kalian ikut sakit, bagaimana?" Naruto berusaha menjelaskan, tetapi ada beberapa bagian yang dipotong. Tidak lucu kalau dia bilang, dia masuk rumah sakit karena ditembak orang. Ino dan Sakura bisa ketakutan.

Sakura memeluk leher Naruto. "Sakura sedih kalau Nii-chan sakit," gumam gadis itu.

Naruto menepuk punggung gadis kecil itu. "Nii-chan tidak apa-apa, Sakura. Jangan sedih lagi, ya," Katanya, berusaha menenangkan sang adik.

Sasuke memperhatikan interaksi antara Ino, Sakura dan Naruto dengan senyum tipis di bibirnya. Dia tidak pernah tahu, Naruto punya sisi lembut dalam dirinya untuk anak-anak. Kelak, dia pasti akan menjadi seorang ayah yang baik untuk anak-anak mereka.

Eh?

Sasuke mengalihkan tatapannya pada jendela di apartemen itu. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mengusir pemikiran aneh yang baru saja terlintas dibenaknya.

Anak? Yang benar saja. Ini bukan fanfiksi M-Preg.

"Sasuke Nii-chan!" Ino memanggil Sasuke, lalu menghampirinya.

"Ya?"

Ino duduk di sebelah Sasuke. "Ceritakan lagi tentang pantainya!" pinta gadis kecil itu.

Tadi, sebelum Naruto bergabung di ruang tamu, Sasuke memang bercerita pada kedua gadis kecil itu tentang rumahnya yang terletak di tepi pantai yang sangat cantik.

"Pantai? Pantai apa?" tanya Naruto. Pemuda itu duduk di sisi kiri Sasuke, lalu Sakura ikut bergabung dengan duduk di pangkuan Naruto.

"Aku punya rumah di tepi pantai," jawab Sasuke.

"Wow, benarkah?"

"Hn," Sasuke bergumam. "Kalau kalian mau, kalian boleh main ke sana," kata Sasuke pada Ino dan Sakura.

Mata kedua gadis kecil itu berbinar. "Benarkah? Benarkah? Kau serius, Sasuke Nii-chan?" Ino mengguncang lengan Sasuke. Dia sangat ingin bermain ke pantai. Tapi karena baik Ayame maupun Naruto sibuk bekerja, impiannya belum terwujud.

"Tentu saja, Ino."

"Sasuke, jangan memanjakan mereka," tegur Naruto. Dia merasa tak enak jika adik-adiknya sampai merepotkan Sasuke.

"Tidak apa. Lagipula rumah itu kosong, hanya ada beberapa orang yang aku bayar untuk merawat rumah itu," Kata Sasuke. "Bagaimana, kalian mau main ke sana?" tanya Sasuke pada Ino dan Sakura.

"Mau! Mau!" Sakura dan Ino menjawab berbarengan.

"Eh, tapi, apakah Ayame Nee-chan akan mengijinkan? Kan anak-anak yang lain tidak ikut?" kata Sakura.

Naruto menepuk kepala Sakura. "Tidak apa, nanti Nii-chan yang meminta ijin pada Ayame Nee-chan," Kata Naruto. Tiba-tiba, ekspresi Naruto berubah. "Nah, sekarang Nii-chan tanya, kenapa kalian kemari hanya berdua saja? Nii-chan yakin kalian tidak minta ijin pada Ayame Nee-chan," Naruto berkata dengan nada tegas, membuat kedua adiknya saling pandang.

Kedua gadis kecil itu turun dari sofa. Mereka duduk bersimpuh di depan Naruto dengan sikap formal. Kepala mereka tertunduk, wajah mereka terlihat takut. Naruto memang bukan kakak yang galak, tetapi dia bisa menjadi tegas jika diperlukan.

"M-Maafkan kami, Naruto Nii-chan," gumam Sakura dengan nada memelas andalannya. Gadis itu mendongak, lalu menunduk lagi ketika dilihatnya wajah seram Naruto.

"Kami tidak akan mengulanginya lagi, Nii-chan. Jangan marah," Ino ikut merengek.

Sebenarnya, Naruto bukannya marah. Dia hanya tidak ingin adik-adiknya pergi tanpa pengawasan orang dewasa. Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada mereka? Bagaimana jika mereka diculik? Naruto merasa, dia harus bersikap tegas soal ini.

Naruto bersedekap, menambah kesan galak dan seram di mata anak-anak itu. "Nii-chan tidak suka dengan sikap kalian. Nanti, Nii-chan akan mengantar kalian pulang. Kalian harus minta maaf pada Ayame Nee-chan. Mengerti?"

Diam-diam, Sasuke tersenyum. Ternyata, Naruto adalah kakak yang baik tetapi tegas. Dia tidak segan memarahi adiknya jika berbuat salah, tetapi dengan cara yang baik dan tanpa kekerasan.

Sasuke menghela napasnya tanpa suara. Dia jadi ingat Itachi, kakaknya.

"Sudahlah, Naruto," kata Sasuke. "Kalian sudah makan? Bagaimana kalau kita makan di luar? Kalian suka makan apa?"

"Hamburger!" Sahut Ino dan Sakura berbarengan, melupakan Naruto dan segala amarahnya.

"Hei! Nii-chan belum selesai bicara!"

Dan, apartemen yang biasa sepi dan sunyi itu, ramai oleh celoteh riang Ino dan Sakura. Bukan masalah besar untuk Naruto, justru ia suka. Kesannya Naruto dan Sasuke adalah orang tua sedangkan kedua gadis kecil itu adalah anak mereka.

Terdengar menyenangkan, bukan?

.

.

.

Naruto keluar dari unit apartemennya sambil bersiul kecil.

Pemuda itu terlihat keren dengan jaket hoodie berwarna hitam, jeans hitam dan sneakers biru dongker favoritnya. Ia menenteng helm kesayangannya, sebuah helm full face berwarna hitam, dengan merek asal Italia.

Hari ini, Naruto berencana pergi ke rumah Tsunade dengan mengendarai motor.

Dia berjalan menuju ke parkir basement, lalu menghampiri motor sport besar berwarna hitam metalik miliknya. Motor bermerek asal Italia itu adalah pemberian sang kakek angkat, Hashirama, sebagai hadiah ulang tahun.

Naruto naik ke atas motornya, memakai helm, lalu meninggalkan parkir basement itu.

Suara khas motor sport terdengar membelah jalanan. Naruto mengendarai motor itu dengan kecepatan sedang. Dia tidak suka ngebut, jika tidak sedang buru-buru.

Setelah kurang lebih tiga puluh menit berkendara, motor hitam metalik itu berhenti di depan sebuah rumah besar dan mewah. Seorang pria paruh baya tampak tergopoh-gopoh menghampirinya lalu membukakan pagar.

Setelah pagar terbuka, Naruto menyapa pria yang membukakan gerbang untuknya, lalu segera masuk untuk memarkirkan motornya di halaman rumah besar itu. Ia melepas helm, lalu turun dari motornya. Kemudian pemuda itu masuk ke dalam rumah.

"Tsunade Baa-chan!" teriak Naruto.

Pemuda itu berjalan kesana kemari mencari keberadaan Tsunade. Ia berhenti ketika berpapasan dengan seorang pelayan yang bekerja di rumah itu.

"Ba-san, lihat ibuku tidak?" tanya Naruto pada pelayan itu.

"Ah, selamat datang, Naruto-sama!" Pelayan itu berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Naruto. "Maaf, saya tidak tahu Anda akan datang hari ini," Pelayan itu membungkukkan badannya. Meskipun Naruto adalah anak angkat, ia tetaplah putra Tsunade yang sah secara hukum.

"Ah, tidak apa-apa, Ba-san. Jadi, dimana ibuku?" Naruto kembali bertanya dengan ramah.

"Tsunade-sama berada di taman belakang rumah, sedang menanam bunga," jawab pelayan itu. "Mari, saya antarkan."

Naruto menggeleng. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Ba-san kembali bekerja saja, aku tak ingin mengganggu," kata Naruto, lalu ia pergi ke taman belakang sesuai petunjuk pelayan tadi.

Pelayan itu tersenyum. Seluruh pelayan yang bekerja di rumah ini memang suka dengan sikap dan perangai Naruto yang jauh dari kesan sombong. Dia tidak pernah membeda-bedakan, dia selalu bersikap baik pada semua pelayan yang bekerja di sini. Bahkan saat masih remaja dulu, Naruto sering main dengan anak-anak pelayan yang seumuran dengannya.

"Tsunade Baa-chan!" Sapa Naruto, ketika ia sudah sampai di taman belakang. Dilihatnya Tsunade sedang menyirami bunga-bunganya.

"Oh, kau sudah sampai," Tsunade meletakkan alat penyiram bunganya. Ia menghampiri Naruto, lalu mengajak pemuda itu untuk duduk di kursi yang ada di taman. "Apa yang ingin kau bicarakan, Naruto?"

Naruto melepaskan jaketnya, lalu duduk di sebelah Tsunade. "Ngg," Ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Ini soal Madara, Baa-chan."

Wanita itu menatap Naruto dengan tajam. "Demi Tuhan, Naruto. Aku ini ibumu. Jangan panggil aku dengan sebutan baa-chan! Aku bukan nenekmu!"

"Baiklah, baiklah, maafkan aku, ibuku yang cantik," jawab Naruto. Pemuda itu tertawa dalam hati. Dia memanggil Tsunade dengan sebutan baa-chan hanya untuk membuatnya kesal. Dasar bocah durhaka!

Tsunade menghela napasnya. Anak angkatnya ini memang jenis anak yang bandel dan susah diatur. "Jadi, ada apa dengan Madara?"

"Madara ingin aku bertemu dengannya. Di rumahnya."

"Apa? Kapan?"

"Besok," jawab Naruto. "Apa yang harus aku lakukan, Ibu? Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Madara nanti, aku juga tidak tahu harus berpakaian seperti apa," Naruto menggigiti ibu jarinya, kebiasaan jika dia sedang bingung.

Sekali lagi, Tsunade menghela napas.

"Kau tenang saja, aku akan membantumu. Nah, aku ingin memberimu beberapa saran. Ini sangat penting, karena yang ingin kau temui adalah Uchiha Madara. Meskipun kakekmu bersahabat dengannya, kau tetap tidak bisa berbuat sembarangan."

"Iya, aku tahu."

"Pertama, kau harus sopan. Kedua, jangan terlihat lemah di depan Madara. Ketiga, kau harus jujur, Madara tidak suka dibohongi dan ia akan tahu jika kau nekat berbohong. Keempat, kau harus berpenampilan rapi, Madara tidak akan suka kalau tampangmu berantakan."

Naruto mencibir dalam hati. "Berpenampilan rapi? Memangnya, "rapi" versi Madara itu seperti apa? Apa aku harus pakai jas segala? Duh, aku ini bukannya mau melamar Sasuke!"

Tsunade tergelak. "Melamar? Kau terdengar seperti pacar Sasuke-kun saja," katanya. Dia menatap Naruto dengan tatapan geli.

"Hm? Tapi aku memang pacarnya," Naruto menjawab dengan santai.

Ekspresi Tsunade berubah horror. "Apa kau bilang?" gumamnya. Mata cokelat madu tsunade terbelalak lebar. "Kenapa kau bodoh sekali, hah?! Seharusnya kau mengatakannya sejak tadi!"

Tsunade beranjak dari kursinya, lalu melotot seram pada Naruto. "Tunggu di sini, aku akan bersiap-siap sebentar."

Jika sudah dipelototi seperti itu, Naruto tak akan berani membantah. The Power of Emak-Emak. "Baiklah, Ibu," Jawab Naruto.

Tsunade berjalan dengan cepat ke kamarnya, lalu bersiap-siap secepat yang ia bisa. Ia mengganti baju rumahannya dengan baju rancangan desainer favoritnya. Wanita itu tidak memakai makeup, dia hanya memoleskan lipstick berwarna merah muda lembut. Meskipun tanpa makeup, wajah itu tetap terlihat cantik dan menarik.

"Ibu mau kemana?" Tanya Naruto.

"Ayo, ikut denganku," Tsunade melemparkan kunci mobil mewahnya pada Naruto. "Kau yang setir mobilnya. Aku tidak mau merusak bajuku dengan naik odong-odong-mu itu," kata Tsunade. Ia tak habis pikir, apa enaknya naik motor berisik seperti itu?

"Enak saja, motorku bukan odong-odong! Harganya mahal, tahu!"

"Aku tidak peduli. Mobilku lebih mahal dari pada motormu."

Naruto masuk ke dalam mobil sambil menggerutu. Ia membawa mobil itu sesuai dengan perintah Tsunade. Ibu angkatnya itu kini sedang menelepon seseorang yang tidak Naruto kenal.

Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah butik mewah. Naruto mengenali butik ini sebagai butik langganan Tsunade.

"Untuk apa kita kemari? Ibu mau beli baju?" tanya Naruto.

"Iya," jawab Tsunade singkat. Wanita itu sedang sibuk membalas pesan di ponselnya.

"Duh, beli baju terus. Tidak sayang uangnya?" kata Naruto. Yah, meskipun keluarga Senju tak akan kehabisan uang hanya karena membeli satu-dua baju dari butik ini, tapi tetap saja. Naruto saja membeli baju kalau dia ingat atau kalau bajunya ada yang rusak.

"Bukan untukku, bodoh, tapi untukmu. Ayo!" Tsunade memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan bermerek asal Paris miliknya. Ia membimbing Naruto untuk masuk ke dalam butik mewah itu.

Naruto terpaksa merelakan tubuhnya didandani oleh Tsunade. Ia mencoba berbagai macam jas, dari yang harganya masih masuk akal sampai yang harganya mencekik leher.

Penderitaan Naruto berakhir setelah Tsunade menemukan jas yang dirasa cocok untuk Naruto. Yah, untung saja Tsunade yang membayar jas itu. Naruto tidak suka menghamburkan uangnya hanya untuk membeli pakaian. Dia lebih suka menghabiskan uangnya untuk membeli lensa kamera, atau sneakers favoritnya.

Pemuda itu menghela napasnya. Semoga saja, Madara bisa bersikap baik padanya.

.

.

.

Naruto menjemput Sasuke di kantornya. Dia sudah menelepon akan menjemput Sasuke pukul 19:00 waktu setempat, lalu pergi ke rumah Madara bersama-sama. Kebetulan Tsunade berbaik hati meminjamkan mobilnya pada Naruto.

"Dobe, kenapa kau pakai jas?" tanya Sasuke ketika ia memperhatikan penampilan Naruto.

"Ibu menyuruhku memakai ini."

Kening Sasuke berkerut bingung. "Ibu?"

"Tsunade. Ibu angkatku."

Sasuke mengangguk paham. Dia tidak bertanya lagi. Tatapannya teralih pada jendela di sebelahnya. Dia tidak menikmati pemandangan di luar, tetapi mengamati penampilan Naruto yang terpantul di kaca jendela mobil mewah itu.

Naruto memakai setelan jas berwarna biru gelap. Rambut pirangnya disisir rapi ke belakang, menambah kesan manly. Sasuke bahkan tidak bisa menahan matanya untuk terus mengamati penampilan Naruto malam ini.

"Kenapa, Sasuke?"

"Kenapa apanya?"

Pemuda itu menyeringai. "Kau memperhatikan pantulanku di kaca jendela itu, kan? Aww, kau manis sekali."

"Diam, kau. Jangan besar kepala!"

Naruto tergelak. Sepertinya Sasuke ini tipe tsundere.

Kedua pemuda itu tidak mengobrol lagi. Sasuke memejamkan matanya. Pekerjaannya hari ini benar-benar menyita tenaga dan juga pikirannya.

"Sasuke," Panggil Naruto.

"Hn?"

"Jangan tidur, aku tidak tahu jalan ke rumah kakekmu."

"Ya, Dobe. Aku tahu."

Naruto mengemudikan mobil itu sesuai dengan instruksi Sasuke. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mobil yang dikendarai Naruto memasuki kompleks perumahan elit tempat rumah utama keluarga Uchiha berada.

Naruto berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat megah dan mewah. Tidak jauh beda dari rumah Tsunade dan Hashirama sebenarnya, tapi tetap saja, pemuda itu merasa kagum.

Sasuke memerintahkan petugas keamanan yang berjaga di rumah itu untuk membuka pagar, lalu ketika pagar terbuka, mobil itu segera masuk. Setelah memarkirkan mobil mewah itu, Naruto dan Sasuke segera turun.

Seorang pelayan tampak tergopoh-gopoh menghampiri Sasuke. "Sasuke-sama, selamat datang," sapa sang pelayan sambil menunduk hormat.

"Hn," jawab Sasuke.

"Madara-sama sudah menunggu Anda di ruang kerjanya," kata pelayan itu.

"Ya," lagi-lagi Sasuke menjawab dengan singkat. Sementara Naruto membalas sapaan pelayan itu dengan ramah.

Pemuda berambut pirang itu mengerutkan alisnya ketika melihat Sasuke yang tampak dingin pada pelayannya. Padahal, keluarga Senju yang juga sama-sama dari kalangan berada, tidak pernah bersikap sedingin itu pada pelayan yang bekerja di rumah mereka.

Naruto mengikuti langkah kaki Sasuke dalam diam. Dia sibuk menenangkan detak jantungnya yang berdebar. Apa yang harus dia katakan pada Madara nanti?

Sasuke berhenti di depan sebuah pintu kayu berukuran besar dengan ukiran yang rumit dan tampak mahal. Setelah mengetuk tiga kali, terdengar sahutan dari dalam. Sasuke masuk lebih dulu ke dalam ruangan itu, diikuti Naruto di belakangnya.

"Selamat malam, Jii-sama," Sasuke menyapa sang kakek.

"Selamat malam, Madara-sama," Naruto ikut menyapa.

"Selamat malam," Suara berat Uchiha Madara terdengar. Pria itu duduk di sofa mewah yang ada di dalam ruang kerjanya.

Belum apa-apa, tapi Naruto sudah merasa mulas. Dia tidak siap dengan aura mengintimidasi milik Madara. Pemuda itu jadi penasaran. Bagaimana bisa, kakeknya yang ceria seolah tanpa beban, bersahabat dengan Madara yang dingin dan terlihat menyeramkan ini?

"Duduklah, Sasuke, Naruto," kata Madara.

Sasuke dan Naruto duduk bersebelahan, sementara Madara duduk di depan mereka.

"Bagaimana kabarmu, Naruto? Sudah baikan?" tanya Madara, berbasa-basi.

"Baik," jawab Naruto. "Luka saya sudah sembuh. Terima kasih sudah bertanya."

"Hn," gumam Madara.

Percakapan mereka terhenti ketika seorang pelayan membawakan minuman dan juga makanan untuk tamu di rumah itu. Setelah sang pelayan pamit undur diri, percakapan mereka kembali berlanjut.

"Bagaimana kabar Anda, Madara-sama?" tanya Naruto.

"Hn, kabarku baik," Jawabnya. "Tidak usah berbicara formal padaku, Naruto. Kau adalah cucu kesayangan sahabatku. Bersikaplah biasa saja, seperti Sasuke."

Naruto sempat bingung hendak menjawab apa. "Ah, baiklah, Madara-sama."

"Apa pekerjaanmu?"

"Aku seorang fotografer, saat ini bekerja di Akimichi Studios." Jawab Naruto. Akimichi Studios adalah sebuah perusahaan besar yang bergerak dibidang entertainment.

"Oh, kau bekerja di perusahaan yang bagus," puji Madara. "Kenapa kau tidak bekerja di perusahaan milik Senju saja?"

Naruto tersenyum, lalu menggeleng. "Tidak, Madara-sama. Saya ingin mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan juga usaha saya sendiri, bukan karena koneksi keluarga," Jawab Naruto.

Madara menyeringai dalam hati. Bocah yang menarik.

Madara mempersilahkan Naruto untuk menikmati camilan dan juga teh yang disuguhkan pelayannya tadi. Perhatian pria itu teralih pada sang cucu yang sedari tadi diam tak bersuara.

"Sasuke," panggil Madara. "Bagaimana dengan masalah yang terjadi siang tadi? Apakah sudah selesai?"

Sasuke mengangguk. "Sudah, Jii-sama. Aku sendiri yang turun tangan untuk menanganinya. Jika tidak, mungkin masalah ini akan semakin berlarut-larut," Jawab Sasuke. Kedua pria bermarga Uchiha itu sibuk membicarakan masalah yang terjadi siang tadi, memberikan kesempatan pada Naruto untuk menikmati teh dan kuenya.

Sementara itu, Naruto diam memperhatikan interaksi antara Madara dan Sasuke. Menurutnya, interaksi mereka memang sedikit kaku dan terlalu formal untuk ukuran keluarga, tetapi dia tahu Madara amat menyayangi sang cucu. Jika tidak, untuk apa Madara repot-repot mengunjunginya di klinik hanya untuk mengucapkan terima kasih?

"Naruto," Panggil Madara.

"Ya?"

"Aku ingin bertanya padamu."

"Silahkan."

"Mengapa kau rela mengorbankan dirimu untuk cucuku? Apa alasanmu?"

Naruto tertawa dalam hati. Dia tidak menyangka, dirinya akan berbincang seperti ini dengan seorang Madara. Uchiha Madara bukanlah orang yang bisa kau temui di kedai kopi terdekat.

"Aku menyayangi Sasuke. Jadi aku berusaha melindunginya dari tembakan Orochimaru," jawab Naruto.

Sebelah alis Madara terangkat. "Menyayangi?"

"Sebelumnya aku minta maaf, Madara-sama. Aku hanya ingin berkata jujur dan tidak ingin menyembunyikan apapun darimu," Pemuda itu menarik napasnya, berusaha mengumpulkan keberanian. "Aku jatuh cinta pada Uchiha Sasuke, dan aku ingin menjalin hubungan yang serius dengannya. Aku tidak main-main. Jadi aku harap, kau mau merestui hubungan kami."

Mata hitam Madara bertemu dengan mata biru Naruto.

"Tapi kalian sama-sama laki-laki," kata Madara.

"Aku mencintai Sasuke, bukan mencintai gender-nya, Madara-sama," jawab Naruto.

Madara tak langsung menjawab. Dia menyesap tehnya, lalu menatap mata biru Naruto, seolah sedang menilai apakah pemuda itu serius dengan ucapannya atau tidak. "Hn, baiklah. Aku merestui hubungan kalian."

"Apa? Kau serius?"

"Tentu saja. Untuk apa aku menghalangi dua orang yang sedang jatuh cinta? Aku pun pernah merasakan apa yang kau rasakan. Dan aku bukan bocah kemarin sore, aku tahu mana yang serius dan mana yang tidak," kata Madara. "Lagi pula, kau sudah melindungi Sasuke dari Orochimaru, dan aku berhutang padamu untuk itu."

"Jii-sama, kau serius?" tanya Sasuke, yang hanya dijawab gumaman oleh Madara.

Kedua pemuda itu saling pandang, lalu tersenyum. Ternyata, Madara tak seburuk kelihatannya. Dia bukanlah manusia tanpa hati. Naruto sadar, ia tidak boleh menilai seseorang hanya dari kulit luarnya saja, tidak boleh menilai seseorang jika kita tidak benar-benar mengenalnya. Apalagi menilainya hanya berdasarkan gosip yang beredar.

"Tapi ada satu syarat."

"Apa itu, Madara-sama?" tanya Naruto.

"Ingat ini baik-baik," Nada suara Madara berubah, terdengar dingin dan mengerikan, membuat rasa takut Naruto kembali muncul ke permukaan. "Kalau kau berani menyakiti cucuku, walau hanya seujung kuku saja, aku tidak akan segan melubangi kepalamu," Pria itu kemudian menyeringai. "Kau tinggal pilih, mau pakai senapan laras panjang, atau pakai pistol. Pakai katana juga boleh. Pilih saja sesukamu, aku akan mengabulkannya dengan senang hati."

"Jii-sama, kau berlebihan!" tegur Sasuke. Dia tidak tega melihat wajah Naruto yang berubah pucat.

Naruto meneguk ludahnya. Dia mengangguk dengan gerakan kaku. "A-aku akan selalu mengingatnya, Madara-sama," jawab Naruto. Keringat dingin menetes di dahinya.

Madara menyeringai. Cucu Hashirama ini benar-benar bocah yang menarik. Dia sadar, bocah ini takut padanya. Tetapi di saat yang sama, bocah ini berani mengatakan jika dia tertarik pada Sasuke bahkan meminta restu secara langsung.

Sebenarnya, ada satu hal yang mengganggu pikiran Madara semenjak pertama kali melihat Naruto.

Madara merasa familiar dengan wajahnya. Wajah bocah itu mengingatkannya pada seseorang. Tapi siapa, ya?

.

.

.

Sepulang dari rumah Madara, Naruto segera mengantarkan Sasuke pulang ke apartemennya karena pacarnya itu mengeluh lelah dan ingin segera istirahat. Sasuke sempat menawarkan apakah Naruto ingin mampir atau tidak, tapi Naruto menolak dengan alasan tidak ingin mengganggu waktu istirahat Sasuke.

Naruto tidak langsung pulang ke apartemennya. Dia mampir dulu ke minimarket 24 jam untuk membeli beberapa camilan, ramen instan dan juga bir kalengan.

Ponsel Naruto berdering ketika ia baru keluar dari minimarket. Ternyata dari Hashirama, kakek angkatnya.

"Ada apa, Kakek?"

"Kau di mana, Naruto?" tanya Hashirama di seberang sana.

Naruto menahan ponselnya dengan bahu karena ia harus membuka pintu mobil. "Aku di minimarket dekat apartemen, ada apa?" tanyanya.

"Datanglah ke XXX Bar, temani aku minum!"

"Kau ini, sudah tua masih saja minum alkohol," Naruto meletakkan barang belanjaannya di jok belakang, lalu memasang sabuk pengamannya. "Tunggu aku di situ, Kek."

"Baiklah. Sampai nanti, Naru-chan-ku tersayang~" Hashirama tergelak. Dulu, dia suka sekali memanggil Naruto dengan sebutan Naru-chan karena menurutnya itu terdengar lucu dan imut.

"Ish, jangan panggil aku seperti itu, Kakek! Aku sudah tua!" Gerutu Naruto, lalu ia mematikan sambungan telepon itu, mengabaikan sang kakek yang sedang menertawainya di seberang sana.

Mobil mewah itu pun melaju, menuju ke bar tempat Hashirama berada.

Sesampainya di bar, Naruto segera mencari keberadaan sang kakek. Ternyata kakek yang masih terlihat tampan di usia senjanya itu duduk seorang diri sambil menenggak whiskey.

"Kakek," sapa Naruto.

"Oh, kau sudah sampai. Sini, duduk di sini," Hashirama menepuk kursi di sebelahnya. Naruto pun duduk disitu. "Eh, kenapa kau memakai jas?"

Naruto menghela napasnya. "Aku dari rumah Madara," jawabnya. Pemuda itu memesan segelas minuman beralkohol pada bartender.

"Apa? Untuk apa kau ke rumah Madara?"

"Dia ingin bertemu denganku. Yaaa, aku ke sana," jawab Naruto. "Kakek, kau ini sudah tua. Jangan minum alkohol!" Naruto bersedekap. Kalau Tsunade tahu, kakeknya ini bisa kena masalah.

"Kalau cuma sesekali saja kan tidak apa-apa."

"Ck," Naruto berdecak kesal. Biarpun Hashirama adalah kakek angkat, tetapi Naruto benar-benar menyayanginya. Dia tidak ingin sang kakek jatuh sakit.

"Ah, iya, Kakek ingin menanyakan sesuatu padamu, Naruto."

Alis Naruto terangkat sebelah. "Apa itu?"

Hashirama tidak langsung menjawab. Dia menatap pantulan wajahnya di whiskey itu. "Kalau kau sudah bertemu dengan orang tua kandungmu, apa yang kau lakukan? Apa kau akan meninggalkan aku dan juga Tsuna-chan?"

Naruto tersentak. Apa yang terjadi? Tumben sekali sang kakek menanyakan hal seperti ini padanya. "Apa yang kau bicarakan? Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian. Kau dan juga Ibu adalah orang yang berjasa dalam hidupku. Kalian tetaplah keluargaku meskipun aku sudah bertemu dengan orang tua kandungku," jawab Naruto.

"Benarkah?"

"Tentu saja. Apapun yang terjadi, kau tetaplah kakekku yang paling aku sayangi, dan Ibu, meskipun dia galak dan suka seenaknya, tapi Ibu selalu menyayangiku," kata Naruto. "Kakek ingat tidak, saat aku menangis karena di bully olehteman-temanku gara-gara aku adalah anak angkat. Ibu datang ke sekolah lalu mengancam anak-anak itu beserta orang tuanya, kalau mereka masih menggangguku, dia tak akan segan menghancurkan hidup mereka semua. Sejak saat itu, mereka semua takut dan segan padaku."

Hashirama tertawa pelan. Dia ingat dengan jelas kejadian itu.

Well, Tsunade memang tidak pernah main-main dengan ancamannya. Jadi jangan pernah bermain-main dengan keluarga Senju jika tidak ingin mendapat masalah. Power keluarga Senju setara dengan keluarga Uchiha.

Hashirama menatap Naruto yang sedang menenggak alkohol pesanannya.

Cucu kesayangannya ini memang sudah beranjak dewasa. Jika dulu dia terlihat imut, lucu dan menggemaskan, kini dia sudah tumbuh menjadi pemuda bertubuh tinggi, memiliki tubuh atletis, dan pekerjaannya juga lumayan bagus.

Hashirama pernah menawari Naruto untuk menjadi pewaris keluarga Senju, tapi pemuda itu menolak. Dia ingin menjadi fotografer saja, karena itu sudah menjadi cita-citanya sejak lama. Tetapi dia tak akan menyerah, Naruto harus mau menjadi pewarisnya.

Diam-diam, kakek berambut panjang itu menghela napasnya. Dia menyesalkan insiden penembakan yang dilakukan oleh Orochimaru pada sang cucu. Untung saja sahabatnya, Madara, bergerak cepat. Kalau tidak mungkin sang cucu sudah tiada.

"Ne, Naruto," panggil Hashirama.

"Hm?"

"Aku dengar dari Madara, katanya kau tertembak karena berusaha melindungi cucunya dari tembakan Orochimaru. Apakah benar?"

Naruto mengangguk. "Ya, benar. Makanya perut dan dadaku tertembak. Huh, Kakek bahkan tidak menjengukku ketika aku dirawat."

Hashirama tersenyum minta maaf. "Maaf, Kakek ada tamu yang sangat penting dari luar negeri, jadi tidak sempat menjengukmu. Tapi kakek ikut mengantarmu ke klinik kenalan Tsunade itu, kok. Waktu itu kau pingsan, makanya tidak tahu," kata Hashirama. "Lalu, kenapa kau melindungi Sasuke? Memangnya dia temanmu? Kakek baru tahu kau berteman dengannya."

"Dia bukan temanku," Jawab Naruto.

"Lalu?" tanya Hashirama sambil menenggak minumannya.

"Sasuke adalah pacarku."

UHUK!

Hashirama tersedak minumannya. Dia menatap Naruto dengan tatapan tidak percaya. Demi apa, dia tidak pernah tahu kalau cucunya termasuk orang yang bernyali besar, kalau tidak mau disebut nekat.

Dia adalah pacar Uchiha Sasuke, cucu kesayangan Uchiha Madara? Pacar? P-A-C-A-R, katanya?

Hashirama mengangkat tangannya, lalu mengelus kepala Naruto. "Semoga Tuhan selalu melindungimu, Nak," katanya.

.

.

TBC

.

.

Kayaknya aku mau nyelesaiin fic ini dulu deh, baru nulis fic yang lainnya. Soalnya fic ini termasuk ringan dan mudah diketik, kalo ficku yang satunya (Hello, Mr. Wolf!) agak susah diketik soalnya perlu imajinasi tingkat dewa. Fic ini bentar lagi kelar, mungkin 2-3 chapter lagi.

Btw adegan Naruto naik motor itu terinspirasi dari adikku, pas dia mau keluar rumah. Gayanya persis kaya Naruto gitu. Trus aku pikir, boleh juga nih idenya. Maaf kalo ternyata agak aneh ya.

Oh ya, kalo ada typo atau ada adegan yang janggal, mohon dimaafkan. Aku ga sempet edit soalnya besok udah sibuk banget takut ga sempet update chapter ini, makanya aku up sekarang aja.

Oke, jangan lupa review-nya, ya! Sampai jumpa di chapter selanjutnya!

Adios!