Ansatsu Kyoushitsu by: Yuusei Matsui.

Amaya Kuruta mempersembahkan:

UNDERWORLD MOONLIGHT

Fiction ini hanya khayalan author belaka dengan meminjam Chara dari Manga ciptaan beliau diatas. Yang belum membaca atau menonton serial animenya disarankan untuk menontonnya ^^.

WARNING!

Fem!Nagisa, Assassin after Timeskip, Slight!KarmaxOkuda, Dark Fic, Penuh siksaan lahir batin, OOC, dan typo yang.. saya ga tau gimana ngilanginnya. Diikhlaskan saja ya ^^.

Bisa saja KarmaxNagisa XD.

Selamat menikmati ^^/

Karma mengerjapkan matanya. Didepannya, Okuda menunduk. Karma baru saja akan membuka mulutnya saat ia mendengar segerombol teman-temannya didepan sana berteriak kaget. Ia menoleh kearah keributan

"He-hei.. kalian kenapa?" Isogai nampak gugup.

"Kenapa katamu?" Nakamura merangsek maju dan mencengkram kerah baju Isogai.

"Kau tau Nagisa dimana selama ini.. kau bahkan sering bertemu dengannya dan kau TIDAK MEMBERITAHUKU!" Tekan Nakamura diakhir kalimatnya.

"Mmm." Maehara menggeleng " dia tidak memberitahu kita semua!" Koreksinya. Manik amber Karma melebar. Apa ia baru saja mendengar bahwa Isogai tau dimana Nagisa? Bahkan sering menemuinya? Tanpa mempedulikan Okuda Karma bangkit dari kursinya dan bergegas menemui Isogai. Isogai yang melihat Karma bergegas mendekatinya menelan ludah.

"Tu.. tunggu! Ini semua demi Nagisa!" Jelas Isogai. Karma yang sudah akan melayangkan pukulannya berhenti tepat didepan Isogai.

"Oke.. tenanglah.. Ini semua demi Nagisa! Karma, Nakamura-san.. kalian mendapatkan amplop biru dihari itu bukan? Begitu juga denganku. Nagisa memohon kepadaku untuk tidak memberitahu kalian. Nagisa.. dia butuh waktu." Tambahnya.

"Lalu kenapa hanya kau yang tau?" Tanya Kayano.

"Hhh.. jangan tanya padaku. Nagisa sendiri yang datang kepadaku dan menemuiku. Sejak itu aku tau dimana dia." Ucap Isogai.

"Sejak kapan kau mengetahui tempatnya?" Tanya Karma. Suaranya dalam.

"Beberapa bulan sejak kelulusan. Bahkan.. aku dan Nagisa selalu satu sekolah setelahnya." Jawab Isogai.

"HEEE.." Teman-temannya kembali heboh. Isogai menghela nafas.

"Aku tau kalian kesal denganku. Tapi mengertilah.. ada sesuatu yang membuat Nagisa harus menjaga jarak dari kalian. Begitupula denganku harusnya Nagisa menjaga jaraknya. Aku tak bisa menjelaskan lebih lanjut. Sebaiknya kalian tanyakan saja padanya nanti." Ucap Isogai. Para murid kelas 3-E menatap Isogai bingung.

"Pada... siapa?" Tanya Okano. Isogai mengerjapkan matanya lalu menatap sekeliling. Tidak ada. Surai biru itu tidak ada.

"Pada Nagisa tentu saja." Jawabnya.

"Pada Nagisa.. maksudmu?" Kanzaki bertanya ragu.

"Maksudku, aku tau dia sekarang sulit disadari keberadaannya. Tapi aku juga tak menyangka dia benar-benar tak ada disini." Gumam Isogai diakhir kalimatnya.

"Kau membuat kami bingung." Protes Sugaya.

"Nagisa.. dia sudah datang ke tempat ini denganku dan Karasuma sensei tadi pagi." Ucapnya. Kelas itu seketika hening.

"Nagisa.. disini?" Suara Karma memecah keheningan.

"Kau serius?"

"Jangan bercanda."

"Kau tidak berbohong kan?!"

Isogai kembali tertawa gugup. Oh, sungguh Nagisa harus membayarnya nanti!

Karasuma membuka pintu kelas. Seketika semua kepala menoleh. Sejenak terdiam lalu tampak kecewa. Karasuma mengangkat alisnya. Ada apa dengan mereka?

"Ah, Karasuma-san! Apa kau melihat Nagisa?" Tanya Isogai. Karasuma menoleh kearahnya dan mengangguk.

"Aku meinggalkan Nagisa dan Yukari di hutan. Nagisa bilang akan mengajarinya beberapa hal." Jawabnya.

"Yukari?"

"Um. Karasuma Yukari. Anak dari Karasuma-san." Jawab Isogai.

"HHEEEEEEE?!"

Kataoka memegang dahinya.

"Hari ini terlalu banyak hal yang membuatku terkejut." Gumamnya.

"Tu-tunggu! Siapa ibunya?" Tanya Mimura.

"Hm? Tentu saja Irina-san." Jawab Isogai.

"Bitch sensei bisa punya anak?" Gumam entah siapa.

"Aku bisa mendengarmu, bocah!" Irina Jelavich membuka pintu secara tiba-tiba. Karasuma tersenyum tipis. Para murid mulai meledek Irina. Karma mendecih pelan. Ini bukan saatnya diam disana dan menunggu Nagisa datang. Entah kenapa Karma yakin Nagisa sengaja mengulur waktu. Dan entah kenapa Karma yakin Nagisa masih tak ingin menemuinya. Ditengah pikiran kalutnya, sebuah tepukan meraih atensi Karma.

"Mau menemuinya?" Karma tersenyum kecil.

"Ayo, Isogai." Jawabnya.

"Kami juga!" Teriak Nakamura. Isogai tersenyum kecil dan memimpin rombongan kecil itu keluar kelas.

Yukari memegang lututnya. Nafasnya terengah.

"Baiklah.. kau menyerah?" Tanya Nagisa. Yukari mengangkat kepalanya.

"Tentu saja tidak!" Jawabnya jengkel. Nagisa tertawa kecil. kemudian ia memutar-mutar pisau ditangannya.

"Baiklah maju saja. Kalau kau sudah tak lelah tentunya." Ucap Nagisa. Yukari menatap Nagisa tajam lalu dengan cepat melompat untuk menyerang Nagisa. Nagisa tersenyum. Untuk ukuran anak sekolah dasar, Yukari sangat lincah. Yah, kau tak berharap banyak kalau ia sudah ikut berlatih semenjak ia berumur 5 tahun. Nagisa menangkis semua serangan Yukari. Tak satupun yang mengenainya. Nagisa tersenyum.

"Time out! Sekarang kau bisa menggunakan ini." ucap Nagisa sembari melemparkan pistol kecil yang tadi dipegangnya.

"Huh? Kau tau aku ahli menggunakannya kan?" Ucap Yukari bingung.

"Tenang saja. Aturannya sederhana. Kita akan bermain petak umpet." Ucap Nagisa.

"Huh?"

"Kuulang lagi. Kita akan bermain petak umpet. kita akan berjalan kearah yang berlawanan selama sepuluh menit lalu kembali dengan sangat berhati-hati."

"Ah.. jadi siapa yang tertembak lebih dulu kalah. begitukah?" Tanya Yukari. Nagisa tersenyum.

"Baiklah.. kita mulai!" Lalu dengan cepat kedua gadis itu bergerak menjauh."

"Hei hei.. Karasuma sensei tak berbohong kan?" Tanya Yoshida. Mereka sudah memasuki hutan selama sepuluh menit dan belum menemukannya.

"Mereka memang ditinggalkan di sudut timur hutan ini Yoshida. Tapi bukan berarti mereka akan diam saja kan?" Yoshida mengerang.

"Yang kita bicarakan ini Nagisa dan Yukari-chan. Jadi tak mungkin mereka hanya diam saja." Ujar Isogai.

"Hah? memangnya kenapa dengan mereka berdu-"

"Ssst... diam ditempat." Isogai tiba-tiba berhenti. Para murid mengikuti intruksinya.

SREK

SREK

Suara langkah kaki dan dedaunan yang bergesek tertangkap ditelinga mereka. Mata seluruh murid mengerling tajam. Tiba- tiba Seorang gadis kecil bersurai hitam melompat didepan mereka dan mengarahkan pistol ditangannya. Para mantan murid kelas 3-E hanya bisa menatap heran.

"Yukari-chan.. kau sedang apa?" Tanya Isogai. Yukari mengerjapkan matanya lalu mendecak kesal.

"Argh! Kau mengagetkanku, Isogai!" Ucapnya kesal. Isogai hanya tersenyum.

"Berlatih lagi hm?" Tanyanya. Yukari menghela nafas.

"Aku tidak punya waktu untuk berbincang denganmu dan.. teman-temanmu? Aku sedang bertaruh dengan Nagisa bahwa aku akan memenang-"

PLASH

Seketika kening Yukari berubah menjadi biru. Yukari terdiam. Tangannya meraih keningnya dan melihat cairan berwarna biru itu. Ini bercanda kan? Isogai dan teman-temannya hanya diam mencerna apa yang terjadi.

"Pftt.. Kau harus menghilangkan kebiasaan itu, Yukari-chan.." Sebuah suara muncul ditengah-tengah kerumunan. Isogai menoleh dan tersenyum.

"Kau mengelabuinya lagi kan? Aku bahkan tak sadar kau sudah berjalan bersama kami sejak tadi." Para murid sontak menoleh kesosok mungil dengan surai lurus berwarna coklat. Sosok mungil itu berjalan melewati para mantan murid kelas 3-E dan berhenti didepan Yukari.

"Hari ini cukup. Jadi katakan pada ayahmu untuk menambah waktu liburanku dan Isogai. ok?" Ucap gadis itu sambil tersenyum penuh arti. Bocah Yukari itu hanya bisa bergumam kesal.

"Hei.. hei.. kita sudah mendapatkan libur yang cukup." Gadis bersurai coklat itu menoleh.

"Aku tidak tau kau suka bekerja." Isogai mengangkat bahunya.

"Tentu saja aku senang kau juga memohon libur untukku, Nagisa." Jawaban Isogai sontak membuat semua orang disana -minus Yukari, Isogai dan Nagisa- Terkesiap.

"Na.. Nagisa?" Nakamura merangsek maju. Nagisa tersenyum kecil.

"Maafkan aku sudah tidak sopan. Harusnya aku menyapa dari tadi. Tapi karena aku sedang latihan dengan anak ini aku tidak bisa menyapa kalian lebih dulu." Nagisa menepuk kepala Yukari. Kemudian ia meraih rambutnya dan dengan cepat melepas wignya. Rambut biru aslinya terurai.

"Hai semua. Apa kabar kalian?" Tanya Nagisa sembari tersenyum.

Nakamura dengan segera melompat kearah Nagisa. Nagisa tersenyum kecil sembari menepuk punggung Nakamura yang mulai terisak sembari mengumpat. Teman-teman lainnya juga mulai menyerbunya. Nagisa hanya membalasnya dengan ucapan 'maaf' atau sekedar menunjukkan deretan giginya. Kemudian ia menoleh ke satu arah dan melihatnya. Manik amber yang menatapnya dari kejauhan. Nagisa terdiam sejenak. Karma berjalan mendekat dan berhenti didepan Nagisa. Nakamura sontak melepas pelukannya. Nagisa mengepalkan tangannya lalu mencoba tersenyum.

"Apa kabarmu, Akabane?"

"Apa kabarmu, Akabane?" Mendengar itu membuat alis karma berkedut. Akabane? Sedangkan murid lainnya menatap keduanya sweatdrop.

Mereka masih belum berbaikan

Kemudian mata Nagisa menangkap sosok Okuda.

"Okuda-san lama tak berjumpa." Sapa Nagisa.

"E-eh?" Okuda nampak terkejut dengan sapaan Nagisa. Nagisa mengangkat alisnya.

"Apa.. aku salah memanggil? Ah.. atau jangan-jangan harusnya Akabane-san?" Tanya Nagisa. Mata Okuda melebar dan muncul semburat merah di pipinya. Sedangkan Karma mengernyit tak suka mendengarnya.

"HEE? KALIAN BERDUA SUDAH MENIKAH?" Belum sempat Karma menyela tebakan Nagisa - yang sangat meleset-, Teman-temannya sudah menyela lebih dulu. Nagisa hanya menggaruk kepalanya bingung melihat kini teman-temannya sibuk mewawancarai Karma dan Okuda.

"Pst.. Nagisa! teman-temanmu ramai sekali." Ucap Yukari. Nagisa hanya tertawa datar.

"Nagisa~ kurasa kau berhutang cerita padaku." Nakamura merangkul Nagisa. Nagisa tertawa gugup.

"Baiklah.. sepertinya mereka akan lama. Bagaimana kalau kita kembali terlebih dahulu,hm?" Sambung Nakamura. Nagisa tersenyum dan mengangguk. Ekor matanya sempat melirik ke arah Karma yang menatap teman-temannya kesal. Entah mengapa Nagisa tak ingin mendengar apapun tentang Karma dan Okuda.

Karma menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Entah mengapa ia merasa Nagisa popular sekali. Ia bahkan tak sekalipun berhasil berbicara dengannya. Malam kemarin ia berkeliling gedung itu dan tidak menemukan gadis itu. dan pagi tadi ia sudah berkumpul dengan teman-teman wanitanya. Karma kembali menghela nafas. Berusaha menahan jengkelnya.

"Pftt.. sepertinya aku menemukan hal yang menarik." Karma mengernyit mendengar suara Nakamura. Oh.. sungguh tidak! Kenapa tuhan harus mengirim gadis pirang itu ketika ia sedang sangat suntuk?

"Ada apa?" Tanya Karma.

"Hm? Aku hanya mencarinu karena kita akan segera berangkat, kau tau?" Jawab Nakamura. "Dan jangan bersikap seperti itu diluar kantor! Kau sedang cuti jadi bosku, kau tau?" Tambahnya. Karma mengangkat bahunya malas.

"Jadi? apa yang akan kau lakukan? Sepertinya Nagisa belum ingin bertemu denganmu." Karma memasukkan tangannya kedalam saku jaketnya.

"Aku tau. Entahlah.. menurutmu?" Tanya Karma malas.

"Kau bertanya padaku? Kau sudah tau aku tak ingin membantumu kan? Hal seperti ini harus kau lakukan sendiri Karma! Kau ingin Nagisa mengakuimu kan?" Kicau Nakamura. Karma terdiam. Ia tau! Hanya saja.. terasa sangat sulit untuk menggalai gadis biru itu. Gadis itu terasa.. sangat jauh dan dingin bagi Karma.

"Hei.. tak perlu semurung itu. Kalau kau serius dengannya, Kau harus berusaha sekuat tenaga, Karma." Ucap Nakamura lagi. Karma akhirnya tersenyum kecil.

"Kau benar."

"Ada apa, Okuda-san?" Tanya Nagisa. Saat ini keduanya tengah berada di belakang gedung sekolah. Nagisa menatap gadis didepannya. Okuda menunduk gugup.

"Na-Nagisa.. Aku.. menyukai Karma-kun.!" Ucap Okuda pada akhirnya. Nagisa terdiam berusaha mencerna perkataan Okuda. Maksudnya.. ayolah! Nagisa sudah tau itu. Jadi ada apa dengan pengakuan Okuda ini?

"Oke?" Jawab Nagisa tidak yakin. Okuda mengangkat wajahnya dan menatap Nagisa yang tengah menatapnya datar.

"Aku.. aku tidak akan mengalah lagi padamu." Ujar Okuda. Nagisa mengangkat alisnya. Jadi, sejak kapan gadis didepannya itu mengalah padanya? Nagisa mendengus setengah tertawa.

"Aku tak yakin aku mengerti apa maksudmu. Tapi.. kalau hanya itu yang ingin kau katakan, Maafkan aku, Okuda-san.. Aku tidak punya waktu untuk.. bersaing macam itu. Lagipula.. kalau ini tentang Akabane.. kau sudah menang sejak dulu kan?" Nagisa berkata sembari membalikkan badannya.

"Tapi Nagisa, kau tak tau jika-"

"Okuda san.. kumohon.. bisakah kita menghentikan ini? Lakukan apa yang kau suka dengan si Akabane itu. Aku tidak peduli." Ucap Nagisa sembari melangkah pergi meninggalkan Okuda.

Karma berjalan menyusuri lorong-lorong kapal pesiar yang megah itu. Ia tidak yakin kenapa teman-temannya memilih untuk naik kapal pesiar dibandingkan pergi dengan pesawat. Tapi Karma menikmatinya. Terkadang hal yang mengulur waktu macam itu bisa membuat kita merasa nyaman kan? Dan ia disini sekarang. Berjalan sejak 10 menit yang lalu. Menyusuri setiap ruang. Mencari sosok biru yang 'populer' itu. Karma harus bicara dengannya. Harus!

KRIEET

Pintu terbuka menampilkan hamparan laut dan mentari senja. Karma mengangkat alisnya melihat dek kapal yang kosong. Ia sudah akan kembali saat menangkap sosok gadis bersurai biru dengan dres selutut berwarna beige. topi pantai berwarna putih hinggap dikepalanya. Karma tersenyum lalu mendekat.

"Nagisa.." Panggilnya. Sosok itu menoleh dan terdiam. Karma bisa menangkap rasa terkejut dimata birunya.

"Ah, Akabane? Ada apa?" Tanya Nagisa. Karma kembali menautkan alis dengan panggilan itu.

"Kenapa kau memanggilku Akabane?" Tanya Karma. Nagisa menatap Karma sejenak lalu memasang wajah bingung.

"Itu.. namamu kan?" Ia balik bertanya. Karma menghela nafas. Baiklah.

"Nagisa.. aku.. ingin.. meminta maaf." Ucap Karma. Nagisa mengangkat alisnya. Tidak setiap hari kau dapat kesempatan macam itu kan? Yang tengah meminta maaf adalah Akabane Karma!

"Aku tidak ingat kau berbuat salah padaku." Jawab Nagisa. Karma menatap manik biru itu dan menyadarinya. Ada yang hilang dari tatapan itu. Binar itu hilang.

"Nagisa.. aku yakin kau tau apa yang kumaksud. Aku benar-benar serius."

"Aku juga serius, Akabane. Aku tak ingat apa salahmu. Lagipula kalaupun ada sudah kumaafkan." Jawab Nagisa.

"Kau tak akan bisa memaafkan kalau kau lupa apa kesalahan orang lain, Nagisa. Apa itu tandanya kau benar-benar marah padaku sampai kau melupakannya?" Tanya Karma. Nagisa terdiam lalu menghela nafas. Tanpa menjawab ia melangkah mendekati Karma

"Kau.. harusnya kau tau kan, Akabane.. Tenggelam terlalu lama bisa membunuhmu. Jadi kenapa kau tidak kembali saja dengan Okuda?" Tanya Nagisa. Karma mengernyitkan matanya.

"Nagisa... aku ikut acara ini karena aku ingin memperbaiki semuanya denganmu. Aku ingin mengatakan bahwa sejauh ini aku masih mencin-"

"Akabane Karma." Nagisa memotong perkataan Karma. Karma terdiam. Nagisa melangkah melewati Karma dan berhenti tepat didepan pintu.

"Kau pasti lelah. Sebaiknya kau istirahat. Tapi biar kukatakan ini padamu.." Nagisa menoleh dan manik birunya bertemu dengan manik amber milik sang surai merah. Lalu dengan dingin mulutnya berucap

"Aku sudah berhenti mencintaimu. Jadi jangan pernah bahas ini lagi." Dengan itu Nagisa membuka pintu dan melangkah menjauhi Karma yang tertegun sendiri.

Penjara Fuchu, Tokyo.

KLANG.

Tap

Tap

Tap

Wanita itu berjalan sambil membunyikan lehernya. bibirnya akhirnya tersenyum sinis saat wajahnya menyapa bias mentari. Akhirnya! Ia menoleh kearah kanan dan kiri sebelum akhirnya ia melangkah menuju sebuah box telephone. Ia memasuki box itu dan memencet beberapa nomer. sembari menyulut sebatang rokok di bibirnya.

"Ya?"

"Hei. Aku sudah keluar." Ucapnya.

"Benarkah?"

"Tentu saja. Dimana kau sekarang?"

"Kau bertanya padaku? Tentu saja melakukan apa yang sudah lama ingin kulakukan! Aku bukan orang yang suka mengulur waktu untuk bersenang-senang. Mau menyusulku?" Wanita itu tertawa.

"Tentu saja. Tidak salah aku mengandalkanmu." Lalu setelah sedikit obrolan lagi, Ia menutup panggilannya. Wanita berambut pendek itu berjalan keluar meninggalkan box telephone. Ia tersenyum. Senyum licik tentu saja. Kemudian ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah foto. Foto gadis bersurai biru yang serupa dengannya. Hanya saja ia lebih muda dan lebih cantik. Ia tersenyum bagai orang gila. ia menjilat bibirnya dan menekankan jari telunjuknya ke arah foto tersebut.

"Kita akan segera bertemu, sayang.. Aku yakin kau merindukan ibumu ini. Akan kupastikan kau dan teman-teman kecilmu itu mendapatkan buah tangan dariku." Ucapnya pelan disusul tawa sumbangnya.

TBC

Maafkan atas lamanya update :)

Terimakasih banyak untuk semua yang membaca fic ini semoga menghibur :D

Amaga