Baiklah saya lanjutkan kembali.
Untuk yang sudah koment makasih banyak.
Lansung aja deh bacanya.
MANTRA ( LOST OF PRINCE ) – FINAL WAR
" Majuuuuuuuuu... "
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o
suara dentingan senjata antara 2 kerajaan ini tak terelakkan,, masing-masing dari mereka tak mau jatuh di pertempuran ini. bahkan untuk kerajaan konoha sendiri takkan pernah mau berhenti bahkan hanya untuk beristirahat. Semua yang dia harapkan akan terjadi setelah peperangan ini berakhir dan hanya akan terwujud jika kerajaan mereka memenangkan pertempuran ini.
barisan pertama kerajaan konoha memang tak terkalahkan,, buktinya mereka semua masih berdiri dengan kokoh di barisan mereka. Sedangkan barisan yang lain mulai membuka formasi untuk rencana mereka. Para kapten telah saling memberi aba – aba antara barisannya dengan barisan yang lain. Perlahan tapi pasti mereka membuka jalan masuk untuk pasukan depan memulai rencana mereka.
" Munduuuuuuuur... " teriak seorang kapten dari barisan pertama yang melakukan kontak senjata dengan pasukan musuh.
Setelah aba – aba itu di berikan barisan pertama mulai bergerak mundur dengan perlahan. Mereka mundur tapa mengabah formasi dan sikap mereka. Pedang masih teracung kedepan dan menatap siapa saja yang berani melangkah akan pasti terkena sabetan darinya.
Melihat dari pergerakan musuhnya Pasukan dari kerajaan Arabasta bersorak untuk sejenak merasa diri mereka telah berhasil memukul mundur lawannya. Seringaian kecil terpampang jelas dari wajah seorang Raja Orochimaru.
" apa yang sedang kau rencanakan Konoha,, khukhukhu aku tak akan mudah terpancing dengan tindakan kalian " Orochimaru bergumam pelan melihat situasi dari peperangan ini.
" persiapkan Peralatn ritual ku,, kita akan segera membangkitkan para iblisku yang tercinta " lanjut Sang Raja kepada seorang ajudannya.
" baik yang mulia " ucap Kabuto sang ajudan seraya pergi meninggalkan tempatnya di samping sang raja.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o
perbatasan kerajaan konoha telah terlihat para prajurit dari Arabasta terus maju tanpa memperdulikan apapun yang berada di depannya. Mereka terus maju, memburu , mengejar para pasukan konoha yang mundur ke benteng pertahanan.
" arrrrgghhhhh "
" arrghh "
" arrrgh "
Suara erangan tiba p- tiba terdengar dari beberapa prajurit Arabasta yang berada di barisan terdepan. Semua prajurit berhenti dan menatap kaget terhadap pasukan yang kini telah terjerat oleh perangkap – perangkap yang telah dipasang oleh Prajurit – Prajurit Konoha. Mereka serentak berhenti dan melangkah mundur beberapa langkah. Kaget dengan apa yang terjadi dengan teman mereka dan berharap mereka yang tersisa tidak terjerat oleh perangkap lainnya yang telah di pasang oleh lawan mereka.
" mengapa kalian berhenti? Maju terus. Serang mereka, jangan biarkan para pecundang itu kabur " ucap salah seorang jenderal dari Kerajaan Arabasta.
" t-ta-tapi mereka telah menabur banyak perangkap jenderal. " jawab salah seorang prajurit yang ada di dekat sang jenderal.
" jebakan mereka itu sangat lemah bodoh,, coba kalian perhatikan rumput yang kering dan rumput yang hijau,, itu sangat mudah di tebak. Jangan mudah terpengaruh. Maju terus jangan pernah membuat kecewa Raja kita. " ucap Sang jenderal Lantang kepada Bawahannya dan maju membuktikan perkataannya tadi bahwa jebakan itu sangat mudah di hindari.
.
.
.
Para prajurit yang awalnya ragu kini telah kembali maju mengejar musuh mereka. Tapi sayang seribu sayang banyak di antara mereka yang terkena oleh jebakan – jebakan lain yang sulit di ketahui oleh mereka. Berterima kasihlah kepada Jenderal Nara. Karena Kepintarannya lah para pasukan dari Kerajaan Arabasta jatuh sedikit demi sedikit.
Para Prajurit Arabasta akhirnya telah sampai di benteng pertahanan musuhnya. Pertempuran sebenarnya tak terhindarkan lagi. Sura dentuman senjata terdengar lagi. Para jenderal pun ikut turun di pertempuran ini.
Satu persatu prajurit dari kedua belah pihak berjatuhan. Tak ada suara tak ada sahutan. Mereka semua terpaku dengan kejadian yang baru saja jertadi di depan mereka. Sang Sannin turun dengan ke medan perang dan lansung mengeluarkan jurus yang mengakibatkan kerusakan total kepada prajurit Arabasta. Setengah dari Pasukan Musuh telah tumbang tak bernyawa. Mengakibatkan seluruh prajurit Arabasta yang masih hidup terpaku dengan serangan yang di terima oleh kawanan mereka. Gerakan kaki mulai terdengar bergesek mundur. Mereka takut, takut dengan sosok yang telah mengakibatkan semua teman mereka tewas. Perlahan tapi pasti kaki mereka bergesek dan mulai melangkah mundur. Mereka lari dengan sekuat tenaga tak ingin kejadian serupa terjadi pada diri mereka.
Melihat semua kejadian itu membuat Raja dari Kerajaan Arabasta geram. Melihat antek – anteknya kabur dari benteng musuh membuat dia menyeringai kembali. Sepertinya rencananya akan di mulai kembali.
" tarik semua pasukan dan biarkan mereka beristirahat sejenak. Kita akan menjauh dari jangkauan musuh dan melakukan persiapan terakhir untuk malam ini. kita biarkan mereka bersenang – senang dulu. Sebelum akhirnya mereka akan berakhir dengan tangisan darah pada malam nanti. Khukhukhu... " titah sang Raja dengan seringaian menyerupai iblis.
" baik yang mulia " ucap seorang ajudan dari Raja Orochimaru.
.
.
.
" lapor, pasukan musuh terlihat kabur meninggalkan peperangan sesaat setelah Jenderal Jiraya turun ke medan perang " tiba – tiba terlihat salah seorang prajurit memasuki kemah dan memberikan laporan hasil pengintaiannya.
" baiklah, dan bagaimana dengan status lainnya? " ucap sang Jenderal nara mewakili semuanya.
" Jenderal Jiraya menghabiskan 60% prajurit dari pasukan musuh dengan sekali serang jenderal. " lanjut si prajurit dengan senyum sumringah saat memberikan laporannya yang kedua. " sepertinya kita telah menang jenderal " lanjutnya.
"baiklah, kembalilah ke postmu dan lanjutkan pengintaianmu. " ucap sang jenderal Startegi yang tak lain adalah Nara Shikamaru. Di umurnya yang masih bisa dikatan remaja dia telah menjadi seorang jenderal hebat dengan semua strateginya yang bisa di katakan 100 % ampuh untuk mengalahkan dan menjebak musuh di berbagai perang yang telah dia ikuti. Tak salah jika dia di segani oleh para jenderal lainnya walaupun dia masih bisa dikatan masih belum bisa menjadi seorang jenderal.
" aku tak menyangka Jiraya akan turun tangan. Tapi syukurlah dengan begini musuh akhirnya terpukul mundur. Semoga peperangan ini telah selesai. " ucap salah satu jenderal memulai percakapan sesaat setelah prajurit pengintai tadi meninggalkan tenda mereka.
" jangan terlalu berharap dengan situasi saat ini. kita belum tau apalagi yang akan dilakukan oleh Raja licik itu. " lanjut Danzo menimpali.
" baiklah, untuk saat ini kalian semua melanjutkan tugas kalian. Dan biarkan prajurit kita untuk beristirahat sejenak untuk mengisi perut mereka. Tapi jangan sampai kewaspadaan kalian menurun " kali Sang pemimpin atau bisa kita bilang Sang penguasa dari kerajaan ini memberikan perintahnya. Dia tahu pasti ada sesuatu yang tak beres dengan gerak – gerik musuh.
.
.
.
Matahari sudah mulai terbenam sorak – sorai kemenangan dari seluruh pasukan kerajaan konoha dapat kita dengar. Mereka semua tak mengetahui apa yang akan terjadi pada diri mereka setelah ini. mereka tak mengetahui bahwa seluruh pasukan dari Arabasta juga telah mengumpulkan kekuatan mereka.
Seluruh Pasukan Orochimaru yang tersisa telah bersiap untuk peperangan yang ke dua. Seringaian telah tercipta di wajah mereka. Tawa sinis dapat kita dengar dari beberapa prajurit di tempat itu.
.
.
.
Kobaran api dari obor kerajaan arabasta menyala dengan besar. Terlihat di tengah – tengah lapangan itu sang Raja berdiri didampingi seorang ajudannya. Entah apa yang akan di perbuatnya.
Terlihat di tempat itu Sang Raja tengah berkonsentrasi sambil membaca beberapa kalimat dan menjulurkan tangannya kedepan. Tanah berguncang, angin berhembus kencang dan pohon – pohon mulai tumbang satu persatu. Seakan fenomena itu terjadi tanpa rekayasa apapun.
" wahai Raja di atas segala Raja yang memimpin Neraka pinjamilah aku kekuatanmu. Berikanlah aku sebagian Prajuritmu yang akan membantuku menguasai Kerajaan musuh. Wahai Raja di atas segala Raja. Bantulah aku, bangkitkan semua Prajurit setiamu. Prajurit yang tak akan termakan oleh api, tak akan hancur oleh serangan. Dan tak akan mati oleh apapun. " mulut Sang raja kembali berucap tak jelas. Dan bersamaan dengan kamiat itu. Tanah yang berguncang tadi tiba – tiba terbelah dan menampakkan beberapa tangan yang seakan mulai mencengkeram bumi. Tangan – tangan itu mulai memanjat keatas dan memperlihatkan tubuh mereka yang tak tampak seperti manusia normal. Mereka seperti tak berakal dan... haus akan darah.
.
.
.
terlihat sekawanan pasukan berjalan dengan obor di tangan mereka dan di antara mereka terlihat banyak mayat hidup di samping mereka. Mereka tak merasakan takut ataupun gentar dengan penampakan yang ada di dekat mereka seakan ini sudah sering terjadi.
Prajurit – prajurit itu berjalan lansung menuju ke benteng pertahanan konoha. Mereka telah bersiap untuk serangan mereka yang sesungguhnya. Di belakang mereka terlihat Sang Raja tengah memainkan dua buah bola besi di tangannya sambil terus tertawa membayangkan sebuah kerajaan yang sesaat lagi akan menjadi teritorinya.
.
.
.
" tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt " suara gema terompet terdengar di tengah malam ini dan mengagetkan semua Prajurit dan jenderal.
" Musuh Menyerang " suara dari Pasukan Pengintai tadi membuat mereka kaget. Mengapa mereka menyerang kembali? Bukankah mereka sudah kalah? Pasukan mereka jauh lebih banyak beberapa kali lipat di bandingkan pasukan musuh. " banyak pertanyaan di benak mereka semua.
.
.
.
" laporkan situasinya shikamaru " ucap sang Raja memasuki Kemah Para jenderal.
" terlihat pasukan musuh yang tadi kabur terlihat bersiap untuk menyerang kembali Yang mulia " ucap shikamaru menjawab pertanyaan sang raja.
" bagaimana mungkin bisa mereka berfikir menyerang kembali dengan pasukan yang hanya tersisa sedikit. Apa raja mereka tidak punya akal fikiran lagi atau dia hanya ingin menumbalkan para prajuritnya saja? " terdengar salah seorang jenderal berbicara.
" entahlah, tapi ada satu ke anehan di sini " lanjut Shikamaru
" keanehan apakah itu jenderal? " ucap sang Sannin tiba – tiba.
" raja mereka terlihat berada di barisan Terdepan, seakan sang Rajalah yang akan memulai pertempuran kali ini. " jawab Jenderal nara dengan fikiran bingung.
" baiklah, sebaiknya kita berhati – hati. Bagaimana dengan seluruh prajurit apa mereka masih sanggup berperang? " Kali ini Sang raja yang bertanya.
" mereka lebih dari kata siap jenderal, biarkan kali ini para prajurit kita yang datang menjemput mereka. " jawab jenderal danzo dan menyeringai dengan angkuh.
" baiklah kerahkan semua pasukan kita. Kita harus segera mengakhiri perang ini " titah sang Raja dan di beri anggukan oleh semua jenderal yang berada di ruangan itu.
.
.
.
genderang perang berkumandang lagi. Kali ini prajurit dari Kerajaan konoha yang akan memulai perang. Mereka telah bersiap untuk mengalahkan musuh mereka sekali lagi.
" seraaaaaang " jenderal Danzo yang kali ini bertugas di barisan depan tak tanggung – tanggung memulai serangan. Dia bersama dengan seluruh prajurit maju menyerang pasukan musuh.
" khukhukhu, dasar sampah. " melihat pergerakan musuh yang terpancing dengan rencananya dia memajukan lagi tangannya. Terlihat banya simbol yang muncul di sekitar tangannya. Dan kejadian itu terulang lagi.
.
.
.
Para pasukan yang sudah hampir mendekati musuhnya kaget dengan keadaan. Mereka kaget dengan fenomena alam buatan ini. terlihat di depan mereka cairan gelap yang perlahan mulai membesar dan mulai menjadi seperti lubang portal. Sesosok mahluk keluar dari lubang tersebut. Bukan Cuma satu – dua – ataupun tiga. Tapi puluhan lubang tercipta di hadapan mereka dan menampakkan mahluk yang sama dengan beerbagai ukuran.
Mereka kaget dengan kejadian itu. Mereka mulai ragu untuk menyerang tapi tidak untuk beberapa orang terlihat mereka kembali maju dan menyerang pasukan musuh.
" sraaashhhhh " mayat hidup itu tertebas dan jatuh.
Melihat kejadian dari salah seorang prajurit membuat semnagat mereka bangkit lagi. Mereka maju dan membuat Sang Raja dari Arabasta menyeringai.
Pertempuran antara Prajurit kerajaan konoha telah dimulai. Prajurit dari Konoha telah membantai habis Pasukan Mayat hidup dari kerajaan Arabasta. Mereka kembali maju menyerang ke arah pasukan Arabasta yang asli. Hampir mendekati musuh mereka. Tiba – tiba terdengar suara jeritan dari arah belakang. Banyak prajurit Konoha yang telah mati terkena sabetan pedang dan senjata lainnya.
Melihat itu semua membuat mereka kaget. Mayat – mayat yang tadi telah mereka kalahkan bangkit kembali dengan tubuh utuh. Mayat hidup itu menyerang mereka kembali dari arah belakang. Sedangkang pasukan Kerajaan Arabasta tak mau kalah dari para zombie itu. Mereka maju menyerang dari depan. Mereka terpojok, seluruh pasukan Konoha terpojok. Dan sesaat harapan telah musnah tiba – tiba di hadapan mereka para jenderal telah datang. Semangat mereka kembali berkobar dengan kehadiran seluruh jenderal.
.
.
.
Mayat berserakan dimana – mana. Separuh dari pasukan Konoha telah gugur. Dan sebagian dari mereka masih terus berjuang melawan mahluk yang tak bisa di bunuh dengan cara apapun.
Beberapa jenderal juga telah gugur dan menyisakan beberapa jenderal kuat yang masih berdiri dengan tegap menantang seluruh pasukan musuh.
Peperangan yang tadinya terjadi di benteng terluar Kerajaan konoha telah berpindah ke benteng terdalam Kerajaan. Benteng terakhir yang menjadi penghalang antara daerah luar dan daerah tempat para rakyat konoha tinggal.
.
.
.
" apa yang harus kita lakukan? " teriak salah seorang prajurit yang masih tersisa. Mereka semua mulai takut. Takut akan kematian.
Sebuah cahaya kebiruan muncul dari atas mereka semua. Sesosok manusia berada di atas mereka dmembawa cahaya itu di telapak tangannya. Manusia terbang itu melesat maju dan menyerang salah satu mayat hidup itu. Serangan telak diterima mahluk itu tepat di jantungnya. Lubang menganga terlihat di daerah jantungnya. Semua terdiam menunggu beberapa saat melihat kejadian itu. Mayat hidup itu tak bergerak lagi.
" jangan takut dan serang mereka tepat di jantungnya. " ucap sosok berjubah yang terbang tadi yang tak lain adalah Sang Raja Minato.
Setitik harapan muncul di benak mereka. Mereka kembali maju dengan harapan terakhir. Tak mau ketinggalan sangb raja lansung turun sendiri. Sang raja kini telah di apit oleh para jenderal yang tak mau kalau raja mereka sampai kenapa – napa.
" kenapa kamu datang kesini Minato " ucap jiraya tiba – tiba tapi tetap menyerang musuh mereka.
" aku tak mau berdiam diri saja sedangkan kalian semua sedang berjuang dengan nyawa kalian untuk mempertaruhkan nasib kerajaan " jawab minato tegas.
.
.
.
Melihat sang raja turun Orochimaru menyeringai dan mulai maju tak mau kalah dari Raja yang menjadi lawannya. Orochimaru maju dengan kudanya dengan mengarahkan kembali ttangannya kedepan untuk membangkitkan pasukan mayat hidupnya lagi.
.
.
.
" mereka tak ada habis – habisnya. " ucap Danzo sambil terus menyerang musuhnya.
" benar, kita harus merubah serangan kita. Kita harus mencari celah lagi agar dapat menemukan titik lemah musuh. " ucap Jenderal muda Shikamaru.
" perhatikan kearah barat. Orochimaru telah datang. Dialah dalang di balik semua mayat hidup ini. " ucap jiraya tiba – tiba dan membuat semua jenderal mengalihkan pandangannya ke arah Raja Orochimaru.
" sebaiknya kita menyerang lansung Pusat kekacauan ini. bagaikan lebah kita harus lansung menyerang Ratu mereka. " ucapnya lanjut.
" baiklah kita serang kearah Sana. " kata Minato dan mulai berlari.
.
.
.
" sial,, mereka sudah mengetahui kelemahan pasukan mayat hidupku. ? " ucap orochimaru dalam hati. Dia semakin kesal saat mengetahui pasukannya tersisa sedikit bahkan bisa di hitung oleh jari.
Meskipun pasukan orochimaru tinggal sedikit tapi tak terelakkan juga pasukan dari kerajaan Konoha juga sudah mulai berkurang dengan drastis.
" craaassssh " sebuah serangan yang di tujukan kepada Raja dari Arabasta gagal.
" cihhhh " hampir saja. Ucap Jiraya tak suka karena dia tak bisa melukai Raja dari kerajaan musuhnya.
" khukhukhu,, akhirnya kita bertemu juga Raja Minato " ucap Orochimaru tertawa renyah melihat orang yang di nanti – nantinya telah muncul dihadapannya.
" EKSTRODUS " bersamaan dengan kata itu angin di sekitar tempat itu berhembus kencang dan terpusat di telapak tangan dari raja Minato dan membentuk sebuah pusaran angin yang sangat kencang dan membentuk sebuah bola berukuran kecil dengan suara kebisingan yang dapat memecahkan indra pendengaran.
Semua terpana melihat kejadian itu. Cuma segelintir orang yang mengetahui kekuatan dari Sang Keturunan dari seluruh Raja Konoha.
" Mati kau Penyihir Bangsaaaaaaaaaaat. " teriak keras Sang Raja bersama Bola angin bercahaya biru di tangan kanannya. Sang raja berlari dengan sangat kencang yang membuat beberapa orang dengan kemampuan dibawah rata – rata tak dapat melihatnya. Dia muncul tepat didepan Raja Orochimaru.
" Duaaaaaaaaaarrrrrr " sebuah suara yang sangat keras terdengar di tempat Raja Orochimaru tadi berdiri dan menyisakan kabut asap yang sangat besar.
Setelah kabut asap mulai menghilang secara perlahan kini terlihat sebuah kubah yang kira – kira berdiameter sekitar 2 meter. Semua kaget dengan daya hancur dari serangan Sang Raja Minato.
" khukhukhu, apa yang kau serang itu wahai raja konoha? " tawa mengejek tiba – tiba terdengar 10 meter dari tempat itu. " apakah Cuma segitu kemampuanmu? " lanjutnya yang tak lain adalah Raja Orochimaru.
" sial, tunggu saja kau penyihir aku pasti akan membalaskan perbuatanmu terhadap anakku dan seluruh Rakyatku. " ucap lantan Minato kepada Rsjs Orochimaru.
" jangan gegabah Minato, kita belum tahu kekuatan apasaja yang dimiliki oleh raja licik itu. " kali ini terdengar suara dari Jenderal sannin jiraya memberi peringatan untuk tetap waspada kepada musuhnya.
" aku mengerti ayah " ucap Minato dan kemudian kembali berlari kearah Musuhnya.
.
.
.
Pertarungan sengit antara kedua raja itu tak dapat dipungkiri sangat Luar biasa. Mereka bertarung bagaikan cahaya. Tak dapat dilihat oleh mata telanjang. Berbagai macam jurus ataupun sihir yang tak pernah dilihat oleh siapapun di keluarkan oleh mereka berdua. Kerusakan total terjadi. Mereka para prajurit yang masih tersisa masih terus maju berjuang bersama dengan raja mereka, mereka seakan tak mau kalah dari pemimpinnya. Semua bertempur habis – habisan. Semuanya telah di pertaruhkan disini. Harta, keluarga, kebahagiaan dan bahkan nyawa mereka. Tak ada kata takut. Hingga akhirnya hanya tersisa sedikit pasukan yang terlihat diantara prajurit Arabasta. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Para pasukan mayat hidup mereka pun telah tumbang tak bangkit lagi. Memang sudah menjadi halayak bahwa pasukan dari kerajaan konoha tak tertandingi. Para pasukan dari kerajaan Arabasta yang tersisapun mundur.
.
.
.
Sedangkan di tempat lain masih terlihat Kedua Raja masih bertarung dengan sengit. Tenaga mereka sudah sangat terkuras. Lelah telah menghantui keduanya.
.
.
.
" kheeeeeh,,, aku harus bisa mengalahkan raja konoha yang bansat itu. Aku tak tahu dia ternyata sangat hebat, semua info yang kudengar itu ternyata bukan bualan. " batin Orochimaru sambil tetap waspada dengan gerakan lawannya.
" menyerahlah Penyihir. Kamu tak akan bisa mengalahkanku tanpa sihir hitammu itu. " terdengar suara dari Raja Minato tiba – tiba.
" khukhukhu,, lihat siapa yang saat ini sedang bicara. " kekeh Orochimaru tak terima dengan perkataan lawannya. " bukankah dirimu juga sudah kelelahan? " ucap Orochimaru melanjutkan perkataannya dan kembali berlari menerjang Raja minato.
Pertarungan kembali dimulai, tapi kali ini berbeda. Raja Orochimaru seakan kewalahan menangani serangan dari Minato. Dia terus saja terdesak dengan serangan dan jurus – jurus pamungkas yang dimiliki oleh Raja Minato. Hingga akhirnya dia lengah dan kelengahannya itulah yang menjadi kesalahan fatal dari dirinya.
.
.
.
Serangan demi serangan terus di arahkan kearah lawannya. Seakan tak mau berhenti dia terus melanjutkan kombinasi dari jurusnya. Hingga akhirnya Raja Minato melihat sebuah celah yang sangat menguntungkan dirinya.
" PARPECULAR " bersamaan dengan kata itu. Tangan kiri dari Raja Minato kini di Aliri dengan Listrik dengan tegangan yangsangat tinggi dan menjalar ketelapak tangannya membentuk sebuah trisula berukuran kecil. Tanpa menunggu lama Raja dari Konoha itu segera melesatkan serangannya itu kearah Musuhnya. Serangan itu tepat diarahkan ketangah perut dari Raja Orochimaru.
.
.
.
Setelah terkena jurus itu Minato kembali melanjutkan serangannya dengan kombinasi jurusnya yang lain dan membuat Raja dari Arabasta terlempar jauh menabrak bongkahan batu besar hingga Retak.
Kini terlihat kondisi Raja Arabasta yang sangat memperihatinkan. darah segar mengucur dengan deras dari perut Orochimaru. Badannya seakan hangus terkena sambaran petir yang dilakukan Raja Minato.
Raja Orochimaru terlihat akan bangun dengan sempoyongan. Tangannya memegang perutnya yang telah berlubang terkena serangan dari Raja Konoha. Dari mulutnya terlihat darah yang juga ikut keluar. Kini dirinya tak bisa lagi bersikap arogan. Dia telah kalah. Dia akhirnya berdiri Tapi dia kembali jatuh tertunduk tak kuasa bangkit.
Raja minato perlahan berjalan mendekati lawannya. Dirinyapun tak kalah memperihatinkan, dengan seluruh jubahnya yang telah terlihat tak karuan dengan robekan dimana – mana. Dan Nafasnya yang terputus – putusadalah bukti bahwa dirinya pun sudah hampir tak sanggup lagi melanjutkan pertarungan ini.
" apa kamu masih belum menyerah? " ucap Raja Minato setelah berdiri tepat di hadapan Orochimaru. Jarak mereka Cuma sekitar 1 meter.
" khukhukhu,, aku tak menyangka ternyata kamu hebat juga Raja Konoha " ucap Orochimaru sambil masih tertawa dengan menyeramkan. Darah masih terus keluar dari perutnya. Setelah melakukan beberapa percakapan yang mungkin hanya di dengar oleh beberapa orang di tempat itu. Orochimaru menyeringai dan mulai merencanakan sebuah tindakan curangnya lagi. " baiklah aku menyerah " tiba – tiba Raja dari Arabasta.
Semua orang yang berada di tempat itu kaget mendengar pernyataan dari Raja Orochimaru. Para jenderal dari Konoha tersenyum bahagia. Akhirnya perang ini selesai. Mereka semua tak kuasa menahan rasa bahagia mereka. Semua pengorbanan dari Prajurit Konoha yang gugur kini telah terbayarkan. Mereka semua tak lagi memperhatikan keadaan sekitarnya. Mereka semua tersenyum untuk yang terakhir kalinya. Iya terakhir kalinya, karena mereka tak melihat kejadian yang terjadi di depan mereka. Sang Raja yang tadinya menyerah melakukan tindakan curang.
Orochimaru memberikan Kode terhadap ajudannya untuk segera kabur dan mundur dari tempat ini. sedangkan sang ajudan a.k.a Kabuto telah selesai melakukan persiapan mereka untuk berpindah temoat dengan teleport.
.
.
.
Setelah mendengar 1 kata dari Musuhnya bahwa sang musuh telah menyerah. Raja Konoha tersenyum bahagia dan mulai berbalik arah dan melangkah untuk pergi meninggalkan musuhnya tersebut. Dia berfikir bahwa Sang musuh a.k.a Raja Orochimaru tak bisa Bangkit lagi. Tapi sayang seribu sayang pemikirannya ternyata salah. Raja licik dari Arabasta tiba – tiba melakukan sebuah gerakan yang mencurigakan, mulutnya berkomat – kamit dan dari tangannya yang mengarah kearah Raja Konoha terlihat aneka simbol aneh dan dengan semua simbol itu tiba – tiba di tangannya muncul sebuah pusaka pedang. Yang telah teracung mengarah tepat kearah jantung Sang Raja dari kerajaan Konoha.
Semua orang yang tadinya bahagia tiba – tiba saja kaget dan berteriak memperingatkan sang raja bahwa musuh di belakangnya telah menghunuskan pedang kearahnya. Melihat semua orang berteriak memperingatkan kearrahnya. Raja Minato berbalik menghadap kearah belakang, menghadap sang musuh yang kini di tangannya telah teracung pedang yang sangat tajam.
" hancurkan dia kusanagi "
Bersamaan dengan perkataan Orochimaru. Pedang itu melesat cepat mengarah ke jantung Raja Minato. Semua kaget melihat kejadian itu. Raja mereka yang tercinta telah tertusuk pedang yang telah di aliri racun ular yang sangat berbisa.
Darah keluar dari mulut sang raja. Tak ada sahutan dari dirinya. Iya hanya bisa mendengar semua teriakan yang di tujukan kepadanya. Dan sekelabat bayangan kembali muncul dipikirannya. Sekelabat senyuman dari seluruh orang yang berada di kerajaan. Senyum dari seluruh rakyat, pasukan, para jenderal, aya dan ibu angkat,istri dan Sang buah hatinya. senyuman pertama dari sang buah hati yang tak sempat dia nikmati tak semat dia berikan kasih sayang karena anaknya telah di renggut oleh Raja Licik yang kini ada dihadapannya. Raja licik yang telah membuat semua yang dimilikinya menjadi kacau. Dan bersamaan dengan bayangan itu tiba – tiba sebuah energi tiba – tiba keluar dari tubuh Raja Minato. Energi kuning yang menjadi semakin besar dan membuat retakan di tempat Sang Raja dari Kerajaan konoha retak.
" khukhukhu aku tak percaya kau bisa selengah itu Raja Minato " tawa Raja Orochimaru sambil tetap memegang perutnya. Kini dia telah merasa menang karena telah berhasil menusuk raja Minato tepat di jantungnya. Dan bersamaan dengan ledakan energi yang di ciptakan Raja Minato, Sang Orochimaru kaget dan mulai melangkah mundur. Takut, ya takut. Hanya kata itu yang tepat untuk perasaannya saat ini. sebelah tangannya kembali terarah kearah Raja Minato, lebih tepatnya kearah Pedang Kusanagi yang berada di jantung Minato. Dia menggoyangkan jarinya dan membuat kusanagi tertarik terbang kembali kearah tangannya.
.
.
.
Setelah pedang dari Orochimaru tercabut. Minato menatap Orochimaru dengan sangat – sangat benci. Dia kemudian berlari menerjang kearah Raja dari kerajaan arabasta tersebut. Raja minato menyerang Musuhnya dengan membabi buta. Tak perduli dengan keadaan sekitarnya.
Orochimaru bukanlah seorang raja jika kemampuannya dalam bertarung dibawah rata – rata. Dengan skill yang dimilikinya dia menghindari serangan demi serangan yang di kerahkan oleh lawannya. Meskipun ada BANYAK serangan yang tak dapat dihindarinya dan menghasilkan beberapa tulangnya yang retak dan patah. Tapi dia tetap masih berusaha menghindar sekuat tenaga, tak mau mati konyol menerima serangan dari musuhnya yang mengamuk.
Kini Orochimaru mulai melakukan perlawanan yang nampaknya hampir sia – sia. Dengan Sebuah pedang di tangannya Orochimaru melakukan counter attack dengan menghunuskan pedang kearah Raja Minato. Hingga dia berhasil menancapkan kembali Kusanagi di perut Minato. Darah kembali keluar dari mulut Raja Konoha. Melihat kejadian itu. Orochimaru tersenyum keju. Dia berfikir telah berhasil mengalahkan lawannya lagi. Tapi ternyata dia salah. Orochimaru mencoba menarik tangannya beserta pedangnya yang telah tertancap di perut minato tapi tertahan oleh sebuah tangan yang memegang kedua tangan dari Orochimaru. Raja Minato. Memegang tangan dari Raja Orochimaru dengan sangat kuat dan mulai merapalkan sebuah mantra.
" PARPECULAR " dengan mengucapkan satu kata itu. Di tangan kiri minato kembali tercipta trisula listrik dan kini dia arahkan kearah kedua tangan Orochimaru yang saat ini dia pegang.
" craaaaaaashhhhh " sebuah suara terdengar bersamaan dengan cipratan darah yang keluar dari antara tangan yang telah terputus. Tangan seorang Raja yang kini tak utuh lagi.
" huaaaaaaaahhhhhh " teriak Raja Orochimaru kesakitan saat Tangannya telah terpotong oleh Raja Minato.
" kali ini kau takkan bisa lagi menggunakan semua mantra dan sihir hitammu. Kau kini bagaikan manusia biasa yang tak memiliki kekuatan apapun. " ucap minato tertahan akibat pedang yang masih menancap di tangannya.
" bangsat kau Raja Minato " teriak Orochimaru geram karena perbuatan musuhnya.
" Wahai seluruh raja yang menguasai neraka. Berikanlah aku kekuatan mu, turunkanlah kutukanmu, kutukan yang akan membuat negeri ini menjadi kemarau bekerpanjangan. Buatlah negeri yang makmur ini tak akan bisa berkembang untuk selamanya hingga diriku mati. Bersama dengan kutukan ini aku serahkan Nyawaku sebagai jaminan sumpahku dan segala nyawa pengikutku. " Teriak Raja Orochimaru dengan tenaga terakhirnya. Kutukan telah diturungkan. Dan tak ada lagi yang bisa mengubahnya selain Raja Orochimaru sendiri. Atau dengan membunuh Raja itu sendiri.
Bersamaan dengan kata – kata Orochimaru yang terakhir. sang ajudan yang tak kuasa lagi melihat kejadian didepannya muncul dan membawa lari dirinya beserta tuannya berteleport kembali ketempat kerajaannya berada.
.
.
.
Semua orang yang melihat kejadia yang terjadi dihadapannya syok tak bisa berkata apa – apa.
" Minatoooooooo... " sang jenderal sanninlah yang pertama bangun dari keterkejutannya. Dia berlari menghampiri anak angkatnya itu. Saat dirinya telah sampai di samping Sangv Raja dari Kerajaan Konoha. Jiraya menangkap tubuh Raja Minato yang jatuh dengan pedang yang masih tertancap di perutnya.
" ayah " satu kata itulah yang pertama keluar setelah dirinya melihat sang ayah angkat memeluknya.
" tolong carilah anakku. Aku sangat yakin dia masih hidup, dan tolong jagalah mereka semua, istri dan anakku. Sampaikan salam sayangku kepada kushina. Aku telah berbuat sesuatu yang membuat dia tidak bahagia. " ucap minato dengan terputus – putus. Kini pedang Kusanagi tak lagi. "aku telah mengecewakannya. " lanjut Minato
" aku tidak mau minato. " ucap jiraya dengan sedih. " kamu sendiri yang harus melindungi mereka semua minato. Aku tak sanggup memberikan senyuman kepadanya. Dan kita berdualah yang harus menemukan anakmu. Kita akan mencarinya bersama – sama. " lanjut jiraya yang telah mengeluarkan air mata.
" hehe kenapa kau menangis ayah? Kau terlihat jelek saat menangis, " kekeh minato sedih saat melihat tangisan ayah angkatnya. " waktuku sudah tidak lama lagi ayah. Aku titipkan mereka semua. Dan tolong buatlah kerajaan kita ini kembali seperti dulu kala. Hilangkanlah kutukan yang di berikan oleh raja laknat itu. Dan kugh kugh dan tolong sembunyikan buku itu. Karena Cuma buku itu yang akan menjadi petunjukmu untuk menemukan anakku ayah. " lanjut minato dengan sangat pelan. Dia telah hampir mencapai batasnya. Semua bayangan masa lalunya bersama istri tercintanya kembali muncul, semua kenangan indah semasa hidupnya yang takkan pernah iya lupakan. " aku sangat menyayangi kalian semua " bersamaan dengan kalimat itu sang Raja akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Sang Raja telah pergi untuk selamanya. Dia pergi dengan senyuman di wajahnya.
" tidak minato,, tidak jangan tutup matamu. " teriak jiraya melihat mata Anak angkatnya telah tertutup. " aku tidak sanggup memikul semua beban itu. " lanjutnya dengan tangisan yang makin menjadi – jadi.
Semua orang yang berada di tempat itu menangis. Tak seorangpun dari mereka yang tak mengeluarkan air mata. Sang Raja yang sangat mereka hormati, sayangi, cintai dan kagumi telah pergi untuk selamanya. Dan bersamaan dengan kepergian sang Raja. Suasana di tempat itu di kerajaan itu mulai berubah, bersamaan dengan kutukan yang di terima oleh kerajaan Konoha. Kutukan yang hanya bisa di hentikan oleh sang Raja Arabasta ataupun dengan membunuh Raja yang telah lari entah kemana.
.
.
.
Upacara pemakaman telah di adakan. Tak ada satupun dari mereka yang berani bersuara di tempat itu. Hanya suara tangis yang terdengar dimana – mana. Beberapa bulan setelah pemakaman sang Raja, sang istri yang tak kuasa menahan kesedihan ditinggal pergi oleh suami yang disayanginya dan sang buah hatinya yang entah dimana keberadaannya menderita sakit parah. Sang Ratu tak pernah makan dan selalu mengurung diri. Hingga akhirnya diapun ikut menyusul suaminya. Meninggal dunia.
.
.
.
Karena kepergian kedua Pemimpin kerajaan Konoha. Kini Kerajaan Konoha di ambil alih oleh Jenderal Jiraya dan Jenderal Danzo. Tapi bukan sebagai raja melainkan tetap sebagai petinggi yang akan mengatur semua tentang kerajaan Konoha hingga sang putra mahkota di temukan kembali.
.
.
.
FLASHBACK OFF
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o
yaaaaa cut.
Hehe gomen gomen kelepasan ngetiknya.. penasaran juga sih gue dengan akhir flashback cerita ini. terbentuklah serangkaian kata yang tak tahu bagus apa tidak soalnya aku ga meriksanya kembali setelah ngetik. Gue capek fans ngetik dari siang tadi sampe malam ini baru kelar 5k. Jadi kalau ada salah kata dan salah penulisan harap maklum.
Dan buat semuanya terimakasih telah menunggu cerita ini hingga 2 tahun hahaha
Saya berharap ada support ataupun saran dari kalian. Tolong berikan semuanya di kolom reviewnya.
EH saya lupa,, hehe nanti update selanjutnya klo review udah seratus yah, atau nanti pas kerjaan di cafe udah ga ada. hehe gomene.
Saya 'ed' undur diri dulu. Sekian dan Terimakasih.
'ed' out
