Hello ini fanfic ke-9
Pairing Shikamaru x Ino
CHAPTER 7 UPDATE! Rasanya terlalu bahagia, mengingat fict ini nyaris dis-continue gara-gara melenceng dari alur cerita yang sudah dibuat. Semoga chapter ini gak aneh-aneh amat gitu-w- Senengnya lagi, semoga fict ini dapat membuat Guardian semakin jatuh cinta sama ShikaIno dan muncul Guardian-guardian baru ;;)
Maaf apabila fict ini bertaburan typo(s), OOC, and friends!
DISCLAIMER : NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
Happy Reading!
.
.
.
.
.
"Arigatou neechan!"
Entah dari mana suara itu berasal, mungkin dari angin yang lewat. Yang jelas Hana bisa tersenyum tipis mendengar kalimat yang seharusnya dilontarkan adik bungsunya. Hana tahu, adiknya bisa mendengar pertanyaannya, meskipun dari dunia yang berbeda.
"Kiba, kau terlalu banyak berkorban untuk ShikaIno," kata Hana sambil meninggalkan lorong ruang rawat Shikamaru.
.
.
.
.
.
Jas hitam dan kemeja putih sudah Shikamaru kenakan sejak dua jam yang lalu. Bukan hanya itu, dasi merah juga menjadi penghias tampilan Shikamaru hari ini. Rambut nanasnya dikuncir rapi dan kokoh berdiri. Wajah malasnya sudah dipolesi bedak tipis membuat wajahnya sedikit lebih tampan dibanding biasanya.
Berhubung Shikamaru baru sembuh, dirinya tidak sempat mencari anjing penurut sesuai dengan apa yang Deidara perintahkan kemarin. Laki-laki yang memiliki nama 'rusa bulat' ini terpaksa menyerahkan semuanya pada takdir. Jika takdir mempersatukannya dengan Peri Ino, pernikahan dengan cara menggabungkan kedua adat yang berbeda ini pasti akan terlaksana dengan baik.
Kini kedua tangan Shikamaru disatukan dengan borgol berwarna emas. Keadaan tangannya persis seorang pencuri yang tertangkap basah oleh segerombolan polisi. Dirinya tidak bisa berhenti mondar-mandir mengitari kamar almarhum Inuzuka Kiba. Keringatnya mengalir membasahi pelipisnya tiada henti. Membuat bedaknya luntur dalam hitungan menit saja.
Di atas pintu kamar Kiba, terdapat foto Kiba seorang diri. Senyuman Kiba mengembang dan wajahnya terlihat begitu tampan. Foto itu juga memperlihatkan gigi taring Kiba yang bersih dan tajam. Kedua bola matanya seolah-olah melihat ke arah Shikamaru.
"Pertama, aku berterima kasih membuat pernikahanku dan Ino dipercepat," kata Shikamaru sambil melihat foto Kiba. Senyuman tipis pun terlukis di bibir Shikamaru untuk Kiba. "Kedua, mengapa membuat pernikahan ini sangat merepotkan sampai-sampai aku harus melaksanakan pernikahan ini dengan adatmu?" tanya Shikamaru.
Tentu saja tidak ada jawaban sepatah kata pun dari Kiba.
"Shikamaru! Sudah siap? Pernikahanmu sebentar lagi akan dimulai!" kata Yoshino membuka pintu kamar Kiba seenaknya.
Shikamaru memutar kedua bola matanya. "Mendokusai!" jawab Shikamaru sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Kiba.
Langkah demi langkah yang Shikamaru tempuh disertai dengan doa. Bibirnya keringnya bosan berkomat-kamit berdoa untuk acara pernikahannya dengan Ino. Wajahnya bukan menunjukan wajah malas lagi, yang ada di wajahnya terlukis wajah tegang di setiap sudutnya. Pernikahan di usia muda yang dilaksanakan bukan di dunia dan bukan dengan adat keluarganya berhasil menduduki posisi teratas list hal merepotkan bagi Nara Shikamaru.
.
.
.
.
Sudah ada empat ekor anak anjing berwarna hitam, putih, coklat, dan percampuran dari ketiga warna tersebut. Empat ekor anak anjing itu sibuk tertidur di bawah pohon yang berada di lapangan milik keluarga Inuzuka. Mereka berempat disatukan dengan tali yang cukup panjang berwarna emas. Bisa dibilang, tali mereka memang terbuat dari emas, itu terlihat ketika sinar matahari menyentuh tali itu, muncul cahaya baru yang lebih kecil dari tali itu. Namun sayang, Shikamaru tidak bisa menikmati indahnya cahaya yang dipantulkan si tali emas.
Borgol emas yang menyatukan kedua tangan Shikamaru juga memantulkan cahaya yang sama dengan tali yang menyatukan keempat ekor anak anjing. Dengan kejeniusan yang Shikamaru punya, dia setidaknya bisa menebak bahwa ada hubungan antara tali emas dengan borgolnya. Tapi entah untuk apa. Rasanya tidak mungkin ada kunci borgol ini di tali emas itu, hal itu yang percaya Shikamaru.
"Selamat datang di pernikahan dadakan antara Nara Shikamaru dan Yamanaka Ino. Manusia dan Peri. Pernikahan ini akan diselenggarakan dengan dua adat yang berbeda, diharapkan para tamu undangan memperhatikan acara pernikahan ini dengan baik. Jangan sampai ada yang terlewat!" kata Yamato yang hari ini bertugas sebagai MC di pernikahan Shikamaru dan Ino.
Pandangan Shikamaru mencari sosok calon mempelai perempuannya. Namun sayang, sudah sepuluh menit sejak kalimat pembuka dilontarkan, Shikamaru belum juga mendapati calon istrinya itu. Satu hal yang Shikamaru ingat ketika melihat Deidara bersama keturunannya, Ino sedang melakukan adat keluarga kakaknya.
'Memangnya adatnya diadakan di mana? Katanya mempersatukan dua adat, tapi pengantin wanitanya saja tidak ada. Mendokusai!' kata Shikamaru dalam hatinya.
"Bagi Nara Shikamaru, silahkan memulai adatnya," kata Yamato menyadarkan Shikamaru untuk berhenti mencari Ino.
Mata onyx Shikamaru memandang Deidara, meminta pemberitahuan apa yang harus dilakukannya saat ini. Bagaimana mungkin dia memulai adat, tanpa tahu adatnya seperti apa. Namun sayang, Deidara hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum. Senyum Deidara pada Shikamaru bisa diibaratkan seperti senyuman usil.
'Mendokusai!' kata Shikamaru melihat laki-laki ponytail itu tidak mau memberitahunya. Tapi, pandangan Shikamaru tertuju pada anak laki-laki bungsu yang berdiri tak jauh dari Deidara. Siapa lagi kalau bukan Teida.
Teida menunjuk pohon besar yang rimbun. Shikamaru melihat tiga ekor anak anjing sudah bangun, namun anak anjing yang berwarna percampuran dari hitam, putih, dan coklat masih tertidur lelap. Teida menggunakan bahasa tubuhnya untuk memberitahu Shikamaru dan tentu saja Shikamaru mengerti. Percuma saja IQ-nya lebih dari 200 kalau dia tidak bisa mengerti bahasa tubuh Teida.
Shikamaru mendekati anak anjing yang sedang tertidur pulas. Tidurnya tenang dan tidak boleh ada yang mengganggu tidurnya. Tapi, ini soal pernikahan, maka dari itu Shikamaru terpaksa membangunkannya. Padahal Shikamaru tahu benar bagaimana rasanya di saat tertidur pulas lalu ada yang mengusiknya, itu sangat merepotkan! Namun, membangunkan anak anjing terakhir tidak semudah yang Shikamaru pikirkan, sudah belasan menit terbuang untuk membangunkan anak anjing itu.
"Shikamaru, bisakah cepat sedikit? Kau mau membuat calon istrimu mati kepanasan?" bisik Yamato yang tak jauh dari Shikamaru.
Shikamaru melongo seketika. Dia sama sekali tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkan Yamato barusan. 'Kepanasan?' tanya Shikamaru dalam hatinya. Shikamaru bahkan sempat menggunakan beberapa menitnya untuk berpikir maksud dari kalimat Yamato barusan.
Tiba-tiba saja, ada pantulan sinar matahari yang mengenai wajah Shikamaru. Sinarnya cukup terang dan begitu menyilaukan. Pantulan sinarnya juga tidak besar, hanya satu titik, namun berhasil mengembalikan Shikamaru pada realita.
Tepat di atas kediaman Inuzuka, ada seorang peri yang mengenakan gaun yang cukup panjang. Bagian roknya di biarkan menutupi atap kediaman Inuzuka. Warna gaunnya hitam dan berkilau. Namun, ada sepercik cahaya api yang tampak membakar ujung gaun hitam itu. Peri itu juga menggunakan mahkota yang menyebabkan pantulan sinar matahari mengenai wajah Shikamaru.
Ino—peri yang bergaun hitam panjang berkilau—diapit oleh dua peri wanita yang berpakaian serba hitam juga. Dari kejauhan, Shikamaru bisa melihat mata aqumarine yang senada dengan warna biru langit kesukaannya, Rambut pirang Ino yang biasanya dikuncir ponytail kini terurai dan bergelombang, tidak lurus seperti biasanya. Dari kejauhan pun Shikamaru bisa merasakan gadis yang akan dinikahinya hari ini terlalu cantik untuknya.
"Guk… guk… guk…" suara seekor anak anjing berbulu putih menyadarkan Shikamaru.
Shikamaru berusaha membangunkan anak anjing terakhir dengan posisi kedua tangannya yang diborgol. Tetap saja anak anjing terakhir ini tidak terusik akan gangguan-gangguan yang diberikan Shikamaru. Telinganya bahkan tidak bergerak ketika Shikamaru menggelitiki telinganya dengan sehelai daun yang ditemukannya tidak jauh dari lokasi si anjing yang pemalas akut. Lebih pemalas dibanding Shikamaru dan Nara Shikamaru menyadarinya.
"Cepatlah Shikamaru! Kau tidak lihat cahaya yang berada di punggung Ino?" tanya Yamato.
Shikamaru mengalihkan pandangannya pada Ino yang kini sedang terbang bersama dua peri lainnya. Benar apa yang dikatakan Yamato, ada dua sumbu kembang api yang cukup panjang di punggung Ino. Kembang api itu dibentuk seperti bentuk petir yang cukup panjang. Entah apa maksud adat yang sedang dilaksanakan Ino, yang jelas Shikamaru tahu, kembang api yang menempel di tubuh Ino—lebih tepatnya di gaun Ino—itu sudah dinyalakan sejak tadi dan Shikamaru baru menyadarinya.
"Mendokusai!" kata Shikamaru mulai kesal dengan anak anjing yang berada tak jauh darinya. Tiga ekor anak anjing lainnya hanya mengelilingi Shikamaru seolah-olah memberikan semangat dari gonggongan mereka bertiga. Walaupun, menurut Shikamaru itu tidak berguna. Yang dia butuhkan hanyalah membangunkan anjing kecil ini lalu menyelamatkan Ino. Adat yang merepotkan bukan?
Shikamaru sudah mau menyerah. Sudah satu jam berlalu dan dia belum berhasil membangunkan anak anjing ini. Kembang api yang dinyalakan di belakang tubuh Ino pun tak lama lagi akan menyentuh punggung mulus Ino. Gaun hitam yang berkilau itu pun sudah tidak menutupi atap rumah Inuzuka lagi, karena bagian bawah gaun itu sudah terbakar.
Entah ada roh apa yang merasuki Shikamaru, tangan Shikamaru langsung mengelus bulu anak anjing yang tertidur lebih dari pulas itu. Shikamaru mengelus anak anjing itu sebanyak tiga kali dengan kasih sayang dan penyerahan dirinya tentu saja. Siapa yang tidak menyerah membangunkan seekor anak anjing yang begitu lelap tertidur seperti orang mati saja.
Tiba-tiba saja, anak anjing itu membuka kelopak matanya perlahan dan terbangun. Wajahnya lucu jika diperhatikan ketika bangun tidur, namun sayang, selucu apapun wajah anak anjing ini, Shikamaru masih memikirkan nasib Ino yang terbang di atas sana.
"Mengapa Ino tidak diturunkan?" tanya Shikamaru pada Yamato.
"Mantra! Mantra! Buat keempat ekor anak anjing ini berubah," jawab Yamato.
Kening Shikamaru berkerut. Tentu saja dia tidak punya mantra, karena dia adalah manusia. Kecuali dia punya tongkat sihir atau sapu terbang yang bisa membantunya, namun saat ini dia harus berpikir bagaimana caranya membuat sihir.
Shikamaru melirik Inuzuka Hana yang memang berdiri agak jauh dari tempat Shikamaru. Hana tersenyum sambil memainkan jarinya. Jari-jari Hana membentuk puluhan alfabetis yang berusaha dihafal Shikamaru.
"Tanganmu diprogram?" tanya Shikamaru pada dirinya sendiri. Begitulah kalimat yang Hana sampaikan lewat jari-jarinya.
Akhirnya, Shikamaru melakukan hal yang sama seperti dia membangunkan anak anjing yang begitu terlelap pada anak anjing yang berwarna hitam. "Nargreotta Tiamphy Dugieeisha," kata Shikamaru mengucapkan manta yang keluar begitu saja dari mulutnya.
Anak anjing berbulu hitam itu langsung berubah ukuran menjadi lebih besar. Shikamaru menungganginya dan entah apa yang dia lakukan lagi, feeling-nya mengatakan kalau dia harus menaiki anjing hitam ini. Tapi, anjing hitam ini tidak melompat ataupun berlari, dia malah diam dan bermalas-malasan.
SRINGG!
Shikamaru terjatuh begitu saja. Anjing hitam berbadan besar tadi langsung menghilang entah ke mana, yang jelas Shikamaru kembali melakukan aksinya pada anjing berbulu putih. "Nargreotta Aeshielyd Dugieeisha!" ucap Shikamaru lagi.
Anjing putih tadi menjadi ukuran yang lebih kecil dari bentuk tubuh awalnya. Anjing itu semakin senang melompat berlarian dan berhasil menakuti para tamu undangan. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Shikamaru pada Yamato.
"Pilih seekor anak anjing lagi, hanya ada tiga kali kesempatan, setelah anak anjing ini berubah, kau harus pergi ke tempat Ino berada. Matikan sumbu kembang apinya dengan air liur anjing yang kau gunakan sebagai kendaraan. Ingat! Jangan sampai borgolmu lepas, borgolmu itu yang memprogram tanganmu untuk mengucapkan mantra!" kata Yamato mengingatkan.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?" tanya Shikamaru kesal.
Shikamaru mulai berpikir, memilih salah satu anjing dari dua anjing yang Shikamaru tidak tahu akan berubah menjadi apa. Jika Shikamaru harus menyusul Ino, berarti Shikamaru harus terbang. Maka dari itu, Shikamaru harus bisa menebak, anjing mana yang dapat membawanya ke tempat Ino.
"Anjing yang bulunya campuran dari tiga warna itu, pemalas, mana mungkin dia mau membawaku terbang ke tempat Ino. Mau tidak mau anjing yang berbulu coklat harus aku pilih," kata Shikamaru dalam hatinya.
Dengan tangannya yang masih diborgol, Shikamaru mengelus bulu coklat seekor anak anjing. Tangannya bisa merasakan sesuatu ketika mengelus anak anjing ini, punggung anak anjing ini aneh. Ada semacam daging timbul namun terhalang oleh bulu halusnya. "Jika dugaanku benar, ini tempat sayap tumbuh!" pikir Shikamaru.
"Nargreotta Grickymust Dugieeisha!" seru Shikamaru mengucapkan mantranya. Anak anjing berbulu coklat pun langsung berubah menjadi lebih besar. Dari punggungnya tumbuh sayap berwarna coklat tua yang begitu besar. Sayapnya terbuat dari bulu-bulu yang begitu halus, itu terlihat ketika angin menyentuh sayap itu dan menciptakan seolah-olah jaket berbulu yang hangat.
Tanpa pikir panjang, Shikamaru langsung menaiki anjing yang kini lebih besar dari tubuhnya. Dia duduk di antara sayap-sayap yang begitu besar. Pandangannya tidak lepas dari Ino yang tentu saja semakin kepanasan dan khawatir dengan acara pernikahan gabungan dua adat ini. Dari bawah sini pun, Shikamaru bisa melihat tetesan keringat yang terus membanjiri wajah Ino. Matahari semakin terik karena sekarang tepat pukul dua belas siang.
Tiba-tiba saja borgol emas yang dipakai Shika lepas. Yamato langsung mengambil borgol itu dan menyerahkannya pada Shikamaru. "Bahaya! Borgol ini lepas!" kata Yamato.
"Tapi, aku sudah mengubah anak anjing ini, jadi tidak perlu menggunakan borgol itu lagi. Lalu, bagaimana menyuruhnya menghampiri Ino?" tanya Shikamaru pada Yamato.
"Mantranya belum sempurna! Seiingatku, mantra untuk menyuruh anjing ini bergerak satu kalimat panjang." Wajah Yamato begitu khawatir. Selain karena borgol emas Shikamaru lepas, kembang api yang menempel di gaun Ino semakin mendekati punggung Ino, dan gaun hitam yang dikenakan Ino pun sudah melewati telapak kaki Ino yang dialasi high heels merah.
"Bagaimana ini?" tanya Shikamaru. Dirinya semakin khawatir.
Tidak ada yang berani mendekati Shikamaru dan membantunya. Hanya Yamato yang diperkenankan membantu Shikamaru. Salah satu persyaratan pernikahan dua adat yang berbeda adalah para tamu undangan tidak diperkenankan membantu dan mendekati mempelai pria. Ini buat Hana kesulitan membantu Shikamaru. Hanya mantra keluarga Inuzuka yang mampu membuat borgol emas itu menyatukan tangan Shikamaru lagi.
Dua peri yang mendampingi Ino pun sama khawatirnya dengan Yamato. "Ino-chan, bagaimana?" tanya peri yang di sebelah kanan Ino.
"Bagaimana kalau menyerah saja? Aku takut kembang api dan gaunmu ini akan melukaimu. Bagaimana pun kau peri bunga, bukan peri kembang api seperti kami," kata peri yang di sebelah kiri Ino.
Ino tersenyum melihat ke bawah. Tepatnya melihat calon suaminya yang kebingungan bersama Yamato. Keringat membuat make up Ino luntur seketika. Mata aqumarine-nya bahkan meneteskan air mata. "Aku percaya, Shikamaru bisa!" jawab Ino pada kedua peri di sampingnya.
Shikamaru kebingungan. Dia tahu percikan kembang api tinggal lima jengkal lagi dari kepala Ino, walaupun itu perkiraannya. Lima jengkal bukan waktu yang lama, cahaya kembang api itu bisa saja lebih cepat dari perkiraan Shikamaru menyentuh pundak Ino dan melukai peri cantiknya. Bukan hanya itu, gaun hitam Ino pun semakin pendek, Shikamaru yakin Ino bisa merasakan panasnya api yang membakar gaunnya.
"Tanpa mantra, aku akan menyelamatkan Ino!" kata Shikamaru.
Shikamaru menerbangkan anjing besar bersayapnya dengan kemampuannya sebagai seorang Nara Shikamaru. Seorang manusia yang harus menyelamatkan peri. Dia menerbangkan anjing itu layaknya kuda. Ini pilihan terakhirnya, menyelamatkan Ino atau melihat Ino mati kepanasan.
Tanpa sihir, anjing itu terbang, mengepakan sayapnya lebar-lebar. Tapi, terbangnya lamban, sangat lamban. Shikamaru tahu, ini efek karena dia tidak menggunakan mantra. Perlahan namun pasti, anjing ini membawa Shikamaru mendekati Ino. Tepat di bawah Ino dan juga dua peri yang mengapitnya.
"AH!" Ino berteriak sejadinya. Pundaknya dilukai oleh kembang api. Bukan hanya itu, gaunnya sudah satu setengah jengkal di atas lutut. Panas? Tentu saja panas. Ino menangis merasakan kulit mulusnya disentuh oleh bara kembang api.
"HENTIKAN! MATIKAN APINYA!" teriak Shikamaru pada kedua peri yang mengapit Ino. Kedua peri itu mengangguk bersamaan.
"Queairatcha Ollawatezka!" seru kedua peri itu bersamaan. Api yang membakar gaun Ino dan kembang api itu langsung padam seketika. Ino kehilangan kesadarannya. Mata aqumarine-nya terpejam, jejak air mata yang membasahi pipinya pun masih ada.
Ino terjatuh dalam pelukan Shikamaru yang berada di bawahnya. Mahkota yang dikenakan Ino pun terjatuh, namun sayang Shikamaru tidak berhasil mengambilnya. Wajah Shikamaru menunjukan bahwa dirinya menyesal. Melihat Ino yang tak sadarkan diri semakin membuatnya menyesal.
Sesampainya di daratan, Shikamaru langsung membawa Ino memasuki kediaman Inuzuka. Para tamu undangan hanya bisa memandang kepergian Shikamaru dan Ino, pasangan pengantin yang batal menikah. "Terima kasih atas kehadirannya. Silahkan mencicipi hidangan yang sudah disediakan!" kata Yamato ragu-ragu.
Para tamu undangan akhirnya memilih menyantap hidangan yang sudah disediakan. Sementara Yamato pergi menyusul Shikamaru dan Ino. Keluarga Nara, Yamanaka, Inuzuka, dan keluarga kecil Deidara sudah mendahului Yamato memasuki kediaman Inuzuka. "Pernikahannya gagal? Ini pernikahan pertama yang gagal di Negeri Peri Seribu Kelopak Sakura Merah Muda," kata Yamato berlari menuju ruangan di mana Ino berada.
.
.
.
.
"Seharusnya aku tidak perlu membangunkan anak anjing itu, kalau tahu dia tidak berguna," keluh Shikamaru.
Yoshino menghampiri anak tunggalnya. "Bukan sepenuhnya kesalahanmu, Shikamaru," jawab Yoshino menghibur putranya.
"Anjing itu juga semuanya disatukan dengan tali emas yang cukup panjang, seandainya mereka tidak diikat seperti itu, bisa saja anjing terbang itu terbang lebih cepat," kata Shikamaru. Dirinya hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri dan juga pada keadaannya.
Ino sejak tadi belum sadar, dia masih memejamkan matanya di atas ranjang Inuzuka. Pundaknya sudah diobati oleh beberapa Peri Medis namun tetap saja dia belum sadar. Peri Medis menduga ini bukan soal pundaknya yang terluka, melainkan ada hal lain yang membuat Ino pingsan. Dugaan sementara karena dehidrasi.
"Kalau anjing-anjing itu tidak diikat dengan tali emas, mantramu tidak akan berhasil," ucap Hana.
Ibu kandung Yamanaka Ino duduk di salah satu kursi menunggu anaknya segera sadar. "Ino -chan, ayo bangun sayang!" kata kaasan Ino lemah.
"Deidara, apa pernikahan mereka benar-benar gagal?" bisik Yamato.
Deidara mengangguk. "Tentu saja. Jika api dari kembang api itu berhasil melukai pengantin wanita, itu tandanya pernikahan mereka tidak direstui nenek moyang peri fireworks. Tapi, menurutku itu tidak ada hubungannya dengan nenek moyang, orang-orang aneh saja yang menyebarkan gosip aneh itu," jawab Deidara sama pelannya.
Kedua anak perempuan Deidara mencoba menghibur kaasan Ino yang begitu rapuh. Mungkin karena mereka bertiga sama-sama perempuan, setidaknya mereka bisa saling mengerti walaupun usia mereka cukup jauh. Teida lebih memilih duduk di ranjang yang besar di sebelah kiri tubuh Ino yang diam tidak bergerak sama sekali. Mata warisan Deidara yang diturunkan pada Teida memandangi Ino terus.
"Bibi bangun! Bibi 'kan udah kayak kaasan buat Teida. Selama gak ada kaasan, Teida selalu menjadikan Bibi Ino kaasan-nya Teida," kata Teida.
Deidara menghampiri Teida dan menggendongnya. Deidara tersenyum. "Bibi Ino pasti bangun kok!" hibur Deidara.
Pintu kamar Kiba terbuka tiba-tiba. Seorang wanita cantik dengan gaun yang begitu indah. Di sebelahnya terdapat Temari yang duduk di kursi roda. Deidara langsung memeluk istrinya, diikuti ketiga buah hati mereka. Mereka saling melepaskan rindu. Apalagi Deidara, dia langsung mencium kening Temari lembut membuat rona merah di masing-masing pipi Temari.
"Hai!" sapa wanita cantik yang mengantarkan Temari.
Semua orang yang berada di kamar tidur Kiba langsung memandang wanita cantik dengan gaun putih yang cukup panjang. Lengan gaun itu bahkan tampak seperti sayap buatan dari kain putih yang berkilau. Padahal, sayap aslinya berada di belakang punggung wanita yang cantik ini. Kalung emas yang digunakannya berbentuk bunga sakura dan di tengah sakura itu ada batu intan yang sama cantiknya dengan itu tersenyum.
"Baru pertama kali aku melihatnya!" kata Shikamaru dalam hati.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
CHAPTER 7
Kalian harus tahu betapa bahagianya Yola mempublish chapter tujuh ini *digetok panci* Chapter tujuh itu tandanya sebentar lagi fict ini bakalan selesai dan akan berstatus complete wkwk :D Perkiraan yola sih endingnya ada di chapter 9 ~ Tapi gak tau kalau misalnya lebih panjang lagi, atau memang endingnya ada di chapter 8 ._. Yola belum bisa memastikan *ojigi delapan kali*
Oh iya, jangan gebukin Yola rame-rame ya… atas acara pernikahan ShikaIno. Lagi pula, khusus chapter ini, lebih panjang dibanding chapter sebelumnya loh… :D Jadi, buat yang kemaren-kemaren req dipanjangin, chapter ini udah lebih panjang *cari aman* Untuk cewe yang bener-bener cantik itu, pasti udah langsung ketebak dong ya? Pasti tau deh siapa XP Masalah mantranya, gi mana? Bisa bacanya 'kan? Gak ribet-ribet amat kok *smirk*
Makasih untuk kalian (readers, reviewers, silent reader) yang sudah mau menyempatkan diri untuk membaca. Jangan bosen-bosen mampir ke fict Yola yaa? *kasih gulali atuatu*
KEEP HYPER AND LOVE SHIKAINO!
LONG LIVE SHIKAINO!
With Love,
The Light Guardian from C-SIF a.k.a Yola-ShikaIno
