"Akhirnya, aku bisa kembali menghirup udara bebas!"

Bagai tawanan yang baru keluar dari penjara setelah dipenjara selama belasan tahun, Shinji Hirako bersorak senang setelah membebaskan diri dari lembaran kertas yang sebenarnya tidak ia mengerti apa gunanya.

Beruntung, saat itu sedang jam makan siang, sehingga tingkah aneh si kapten divisi lima tidak menjadi tontonan para bawahan. Kalau dulu, Aizen selalu mengingatkannya agar jangan 'menggila' di hadapan umum, tapi sekarang, Momo Hinamori tidak sedang berada di sebelah sang kapten.

"Oh iya, dimana Momo-chan? Sejak tadi aku tidak melihatnya" Hirako bermonolog.

Sambil berjalan tak tentu arah, Hirako memikirkan apa saja yang terjadi belakangan ini. Soal Momo dan Renji, oh, Hirako sedikit cemburu juga mengingatnya. Apa benar dua orang itu berpacaran? Kelihatannya sih, iya.

Dan diujung jalan, Hirako melihat rambut merah menyala dan rambut hitam pendek. Hirako tidak dapat mendengar apa yang mereka berdua obrolkan, tapi kelihatannya mereka akrab sekali.

"Itu kan… Abarai dan Kuchiki" gumamnya.

Hirako awalnya tidak memedulikan siapa yang ada di depannya. Tapi seketika pemikiran ajaib muncul di pikirannya.

"A-Abarai selingkuh dari Momo-chan?!"


Four People Two Couples © Hayi Yuki

Bleach © Tite Kubo

Warning : typo(s), ooc, etc


Last Chapter : Kebodohan Hirako

Happy reading ^^


Momo membawa dua cangkir teh ke dalam ruangannya. Satu untuknya dan satu lagi untuk sang kapten. Soal kaptennya… Momo tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi setiap kali ia melirik ke arah Hirako, pria itu malah menatapnya dengan tatapan kasihan.

'Memangnya aku perlu dikasihani, apa?' batinnya heran.

"Ini tehnya, Hirako-taichou" Momo menaruh cangkir diatas meja kerja Hirako.

Hirako hanya menatap tehnya, lalu bertanya, "Apa yang akan kau lakukan jika ada orang yang berselingkuh darimu?"

"Hah?" wajar bagi Momo untuk heran, karena pertanyaan Hirako ini memang agak aneh dan mencurigakan.

"Jawab saja!" mendadak Hirako marah. Momo nyaris menjatuhkan cangkir teh yang belum ia taruh di mejanya.

"Y-Yah, itu… aku juga tidak tahu. Memangnya kenapa Hirako-taichou bertanya seperti itu? Apa ada masalah?"

Gelengan Hirako membuat Momo berpikir kalau kaptennya ini memang sedang dirundung masalah berat, yang berkaitan dengan seseorang. Mungkin saja Hirako sedang menjalin hubungan dengan seseorang, dan mungkin saja orang itu berselingkuh darinya.

Sambil menyesap tehnya, Momo merinding. 'Semoga saja aku tidak mengalami hal seperti itu' harap Momo, tidak tahu kalau pertanyaan Hirako tadi ada hubungannya dengan dirinya.

.

.

.

.

"Kelakuan Hirako-taichou menjadi sangat aneh. Kelihatannya ia sedang ada masalah dengan selingkuh atau semacamnya" curhat Momo ketika ia dan Toushiro sedang duduk berdua di ruang kapten dan wakil kapten divisi lima.

Toushiro tidak peduli dengan keadaan Hirako Shinji. Mau masalah tentang selingkuh, pernikahan, perjodohan, ia tidak peduli. Baru kalau salah satu dari tiga hal itu menyangkut Rukia, ia akan peduli.

"Sudahlah, biarkan saja" maka hanya itu yang bisa Toushiro katakan.

"Tapi aku kan wakilnya, sudah seharusnya aku mengkhawatirkan kaptenku" ujar Momo.

Toushiro menghela napas. Momo memang sangat setia pada kaptennya.

"Ngomong-ngomong, Shiro-chan tidak mau memperkenalkan Kuchiki-san pada Baa-chan?" begitu mendengar pertanyaan Momo, sontak Toushiro mematung di tempat. Ia langsung berpikir jika kata-kata Momo itu dilaksanakan. Pastilah Baa-chan akan tersenyum senang karena cucu satu-satunya itu akhirnya menemukan tambatan hati. Lalu Rukia, gadis itu pasti akan tersenyum lebar ketika sedang bersama Baa-cha, mereka pasti akan segera akrab. Lalu dirinya…

Toushiro tidak sadar kalau sedari tadi ekspresinya sudah berubah berkali-kali.

Momo mendengus kesal, ini dia yang mungkin belum diketahui Rukia. "Pasti saat ini dia sedang berkhayal soal memperkenalkan Kuchiki-san ke Baa-chan. Atau yang lebih parah, ia sedang berkhayal tentang bulan madunya dengan Kuchiki-san" gumamnya sambil mendengus sekali lagi.

"Aku keluar, ya!" serunya pada Toushiro yang masih memikirkan (ia tidak mau dibilang sedang mengkhayal) macam-macam hal berkaitan dengan Rukia.

Begitu Momo keluar, dirinya berpapasan dengan Hirako. "Hirako-taichou" Momo segera memberi salam hormat.

"Ah, ya. Eh, tadi aku mendengar suara dari dalam, ada siapa?" tanya Hirako. Jika yang didalam itu adalah Renji, Hirako ingin segera memberi pelajaran padanya.

"Oh, didalam ada Shiro-chan. Kenapa?"

Mata Hirako seketika membesar. 'Apa?! Jadi, Momo-chan juga berselingkuh dengan Hitsugaya?!' pemikiran sablengnya kembali muncul.

"Besok aku harus mengadakan pertemuan darurat!"

.

.

.

.

Rukia memasuki gedung divisi lima dengan penuh tanda tanya. Pagi tadi ia menemukan surat dari kapten divisi lima, panggilan untuk segera menemuinya. "Hirako-taichou mau apa, sih?" gumamnya.

"Rukia?"

Adik angkat Byakuya menoleh, dan mendapati Toushiro sedang berjalan mendekatinya.

"Apa yang Hitsugaya-taichou lakukan di sini?"

"Kau sendiri, sedang apa kau di sini?"

"Hitsugaya-taichou! Rukia!" panggilan itu serentak membuat Toushiro dan Rukia menoleh ke arah si pemanggil, Renji.

"Eh? Sedang apa kau disini, Renji?"

Renji mengangkat secarik kertas yang sepertinya ia pegang dari tadi. "Panggilan dari Hirako-taichou. Huh, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi" jawabnya.

Dahi Rukia mengkerut. "Panggilan? Aku juga" tangannya mengambil kertas yang ia selipkan di obi. Lalu ia berpaling ke Toushiro. Seolah mengetahui apa yang Rukia akan tanyakan, Toushiro menunjukkan kertas yang diterimanya di hadapan Rukia.

"Aku juga dapat"

.

.

.

.

Hirako memandang satu per satu empat orang yang diundangnya datang ke ruangannya. Terlihat jelas salah seorang diantara mereka, yang berambut putih jabrik, jengah dipandang seperti itu oleh si pemilik ruangan. Toushiro tidak suka dipandang seolah-olah telah melakukan kesalahan oleh orang yang berkedudukan sama dengannya.

"Aku tidak akan berbasa basi, jadi aku akan langsung ke intinya" Hirako, dengan gayanya yang santai, mulai berbicara.

"Cepatlah bicara, Hirako. Aku ada urusan lain yang lebih penting dibandingkan mendengarmu berbicara" Toushiro seolah melemparkan bom.

"Oh ya? Urusan apa? Berselingkuh?" sindir Hirako langsung.

"Huh?"

Heran tergambar jelas di wajah Toushiro. "Selingkuh? Maksudnya?" tanyanya dengan suara tak kalah heran.

Tiga orang lainnya pun memasang tampang heran. "Apa sih maksudnya?" gumam Rukia bingung.

Momo menghela napas. Sepertinya kaptennya sudah berpikiran salah, jauh pula salahnya. "Hirako-taichou, sudahlah. Jangan mengumbar omong kosong seperti ini" ucapnya, ingin menyadarkan pikiran Hirako yang kelewat jauh dari kenyataan.

"Iya, Hirako-taichou. Pasti kau sudah salah paham" dukung Renji. Dan segera, tatapan Hirako beralih ke Renji.

"Kau juga, Abarai! Bagaimana bisa kau berselingkuh dari Momo-chan?!"

Giliran Renji yang dituduh. Pemuda itu tidak terima, tentu saja. Segera ia melayangkan protes, "Apa maksudmu, Hirako-taichou?! Aku tidak pernah dan tidak akan pernah berselingkuh dari Momo! Apa sih yang ada di pikiranmu?"

Toushiro memasang tampang bosannya. "Periksakan kaptenmu ke divisi empat setelah ini, Hinamori" ucapnya datar.

Sementara Renji dan Hirako berdebat soal selingkuh yang tidak jelas maksudnya, Rukia memikirkan apa yang sedang terjadi. Dan mendadak ia tersenyum, seolah sedang mendapat ilham.

"Ah! Aku tahu kenapa Hirako-taichou menuduh macam-macam pada kami!" serunya.

"Kemarin ketika aku dan Renji sedang mengobrol berdua, kami melihat Hirako-taichou di kejauhan. Mungkin karena kami hanya berdua, Hirako-taichou mengira aku dan Renji berbuat yang aneh-aneh. Soal Hitsugaya-taichou… hmm… aku tidak begitu tahu, tapi kurasa kemarin ia dan Hinamori-fukutaichou juga sedang mengobrol, dan Hirako-taichou mencurigai mereka" jelas Rukia.

"… Jadi kami dipanggil hanya untuk ini?" Toushiro tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Sudah dipanggil mendadak, dituduh yang aneh-aneh, dan si penuduh juga hanya bisa nyengir di hadapannya.

"Astaga, Hirako-taichou. Kau benar-benar harus memeriksa kepalamu" saran Renji.

Hirako tersenyum tanpa dosa. Kelihatannya analisisnya kali ini melenceng jauh dari kenyataan.

.

.

.

.

"Aku tidak habis pikir, apa yang dipikirkan Hirako hingga ia menuduhku selingkuh? Memalukan sekali" gumam Toushiro ketika ia, Rukia, Renji, dan Momo menikmati makan siang bersama di kantin divisi sepuluh, yang menarik perhatian banyak shinigami.

"Hirako-taichou memang seperti itu, kok. Kadang-kadang menjadi agak aneh seperti tadi, kadang-kadang juga sangat baik dan pengertian. Kalau dalam pertarungan, ia akan menjadi sangat hebat" ujar Momo.

Renji yang juga masih kesal, sengaja menekan lauk dengan sumpit keras-keras. "Dia kelihatan seperti orang bodoh kalau begitu" tukasnya dengan suara keras, hingga orang-orang yang memerhatikan mereka bertanya-tanya siapa orang yang dimaksud oleh si nanas merah.

"Pelankan suaramu, Renji" bisik Rukia.

"Tapi… Kalau Hirako-taichou tidak melakukan yang seperti tadi, kita tidak bisa makan bersama seperti ini" Momo mengeluarkan senyum manisnya, yang membuat Renji tersipu merah.

Rukia balas tersenyum.

"Iya juga, ya. Dan tumben, ada orang yang ingin ikut acara makan bersama seperti ini" Rukia melirik orang di sampingnya, siapa lagi kalau bukan si kapten muda yang biasanya tidak tertarik dengan makan bersama layaknya yang mereka lakukan sekarang.

Toushiro sudah membuka mulut untuk protes, tapi begitu melihat ramainya kantin (yang mungkin disebabkan oleh keberadaan empat orang ini), ia mengurungkan niatnya. Alhasil, Rukia tertawa pelan melihatnya batal bersuara. Renji dan Momo pun ikut tertawa melihat Toushiro.

Untuk saat ini mereka masih bisa tertawa-tawa, untuk ke depannya, tidak ada yang tahu, kan? Semoga saja, sih, mereka tidak sampai berselingkuh seperti yang dituduhkan oleh Hirako.


Akhirnya setelah sekian lama, fic ini comeback (?) dengan last chap yang sama sekali nggak jelas. Abisnya, pengen aja ngebuat Hirako jadi penutup dengan tingkah anehnya *dihipnotis Sakanade*

Hayi minta maaf karena kelanjutan FPTC yang lama banget, berbulan bulan gak update-update. Alasan pertama, Hayi lagi nggak ada ide. Kedua, Hayi entah mengapa lagi bosan sama tulis menulis (yang untungnya udah sembuh). Dan ketiga, pas Hayi mau buka fanfiction, eh, gak bisa-bisa-_-, diblokir ternyata buat internet sehat atau apalah itu-_- oya, kuota juga memengaruhi kinerja Hayi lho (?). dan sekalinya update, tada… malah membicarakan yg aneh-aneh.

Akhir kata, makasih buat semua readers Four People Two Couples baik yang review maupun yang nggak. Untuk para reviewers (NatashAurel, uchiha yardi, elfarizy, sykisan, Guest, Ray Kousen7, Detective Agatha, Sherly-chan11, Guest, Mitsuo Mahoru, Guest, salumon-chan) arigatou gozaimasu!

Mungkin pengunjung ffn kali ini lagi dikit banget, karena pada gatau gimana cara ngaksesnya. Hayi aja awal-awal bawaannya pengen ngebanting hp, kok gabisa-bisa._.

Curhatnya kebanyakan, ya?

Sampai jumpa di fanfic yang berikutnya ^^