Truth? This is it.

.

.

Akhirnya ada waktu nyelesain fic ini~

Henna: Well, like ussuall..

Ketrin,Henna: Minna! Enjoy! ^^

.

.

.

Henna dan Zeus masuk ke portal itu. Beberapa detik setelah masuk ke portal itu, Henna masih melihat gelap. Gelap untuk sesaat... sampai akhirnya dia bisa sadar kalau dia di tengah hutan.

"Hutan? Zeus, ini dima.." Henna tak melanjutkan kalimatnya dan celingak-celinguk disekitarnya. Zeus sudah menghilang dari sisinya.

Gadis pirang itu sudah ingin sekali mencak-mencak sendiri, tapi niat mulia (?) itu ditahannya ketika ia mendengar tangisan bayi. Henna agak merasa jangal mendengar tangisan bayi di tengah hutan. Jadi akhirnya dia melangkah menuju sumber suara.

Kaki dan telinganya menuntun dirinya sampai ke sebuah pondok kecil. Rasa penasaran makin menggerogotinya dan akhirnya dia mencoba mengintip ke dalam. Henna baru saja ingin menyandarkan tangannya di pondok itu, tapi alangkah terkejutnya dia ketika tangannya menembus pondok itu begitu saja.

Henna perlahan melangkah masuk ke pondok itu. Tanpa harus membuka pintu, dirinya sudah langsung menembus pintu dan akhirnya dia masuk. Henna melihat seorang bayi kecil tidur disamping ibunya yang tampaknya sudah kelelahan.

Dilihatnya ada seorang wanita lain yang sedang membersihkan dan membereskan beberapa benda.

"Barusan melahirkan ya?" gumam Henna. Melihat ibu itu membelai anaknya dengan lembut, Henna penasaran sendiri rupa bayi itu seperti apa.

Bayi mungil dengan wajah yang imut, bibir peach, rambutnya yang pirang dan masih tipis, simbol pentagram dan salib terbalik di dada kirinya... Eh tunggu dulu? Simbol setan?

Henna mengucek matanya berulang kali untuk memastikan tak salah lihat. Tapi meski pakai kain lap sekalipun (?), simbol itu tak berpindah dari posisi awalnya.

"T-Tunggu! Jangan bilang kalau ini..." Henna tak melanjutkan kalimatnya karena sudah disela oleh perkataan ibunya.

"Dia mirip sekali dengannya.." ujar ibu itu sambil tersenyum haru.

Wanita yang bersamanya tersenyum senang. "Yah.. Selain gender dan simbol entah apalah itu, mereka seperti pinang dibelah dua. Aku harap dia bisa tahu kabar ini meski dia tengah di Sanctuary."

Henna makin heran. "Hei! Maksud kalian, siapa yang mirip dengan bayi ini?!" tanya Henna agak kuat.

Tapi kedua wanita itu bahkan tak menoleh ke arah Henna. Bahkan ketika Henna mencoba menepuk pundak sang ibu, tangannya masih menembus benda yang disentuhnya.

"Tentu kau tak bisa menyentuh mereka, konyol. Mereka juga tak sadar kau disitu."

Suara familiar itu membuat Henna berbalik ke belakang untuk melihat Zeus duduk santai di sebuah kursi kayu. Henna langsung membuat tatapan yang memintanya untuk menjelaskan semuanya.

"Memangnya menurutmu kita ini dimana? Ya di masa lalu kamu dong." Ujar Zeus dengan nada mengejek.

"Masa lalu..?" gumam Henna. "Masa laluku.."

Henna kembali menatap kedua wanita tadi yang kini saling berbincang.

"Aku penasaran bagaimana penampilan Shaka sekarang. Aku hanya melihatnya ketika dia masih bayi, sebelum dibawa pergi." Ucap sang ibu.

"Kudengar dari salah satu pelayan disana, Shaka sudah menduduki strata emas di Sanctuary. Berbanggalah. Mungkin saja gadis mungil ini akan menyusul kakaknya." Sahut wanita itu yang ini duduk disamping ibu itu.

Henna entah kenapa langsung mengukir senyum. Puas rasanya melihat kalau dia pernah didekap dengan hangat oleh ibunya. Tapi hanya perlu waktu sebentar sebelum kedua wanita itu melihat rumah mereka sudah dikepung oleh api.

Sang ibu langsung turun dari kasurnya. "Ayo kita lar-" tapi dia tak melanjutkan kalimatnya karena wanita yang bersamanya alias sahabatnya sudah berbaring dengan dua buah panah menancap di tubuhnya.

"TIDAAK! BANGUN! AYO BANGUN!" jeritnya sambil mengguncang tubuh sahabatnya. Bayi yang masih berada dipelukannya menangis kencang seakan ikut merasakan kesedihan ibunya.

Henna panik sendiri melihat adegan itu. Meskipun pondok itu dilahap api sepenuhnya, tapi dia tak merasakan panas sedikitpun. Namun bisa dilihat jelas kalau ibu-anak itu sudah mulai merasakan efek panasnya api itu.

"ZEUS! LAKUKAN SESUATU!" jerit Henna. "Aku tak bisa menyentuh mereka! Tapi kau pasti bisa kan?! Kau dewa disini!"

Zeus hanya menggeleng. "Menolong mereka sama dengan mengubah sejarah."

Henna hanya bisa menyaksikan dengan pikiran yang kacau. Apalagi ketika kesialan menimpa sang ibu. Sebuah kayu panas jatuh kebawahnya, tapi meski tubuhnya tertimpa namun bayi itu sempat disingkirkan dari arah jatuhnya kayu itu. Kini tinggal bayi itu seorang diri dengan Henna yang tak bisa melakukan apapun dan Zeus yang TAK MAU melakukan apapun.

Air mata Henna mulai mengucur deras. Rasanya dia akan pasrah saja, setidaknya sampai ada yang mendobrak masuk ke dalam pondok itu dan langsung mengambil bayi itu. Henna agak terkejut dan langsung keluar mengikuti orang itu. Seorang bocah pirang tapi sudah memakai gold cloth.

"Shaka-nii.." gumam Henna.

Shaka menatap adik bayinya yang masih menangis ketakutan. Mungkin ini memang aneh tapi Shaka menimang-nimang adik kecilnya sampai tenang dan tertidur kembali. Shaka kemudian berjalan pergi bersama bayi itu.

Beragam pertanyaan menghujani pikiran Henna sehingga dia mengikuti Shaka. Tak lupa Zeus juga berjalan dibelakang Henna. Lama kelamaan, Henna bisa melihat ada orang lain yang tampaknya menunggu Shaka.

"Bagaimana, kita bisa kembali?"

"Iya, Mu. Maafkan saya untuk merepotkanmu."

Henna menatap jelas-jelas bocah lain yang dihadapan Shaka. Rambut lavender dan dua titik di dahinya dan ditambah cloth Aries. Memang tak bisa dihindari kenyataan kalau itu memang Mu.

Mu mengernyitkan dahinya ketika melihat bayi didekapan Shaka. "Tinggalkan dia disini, Shaka. Kyoko takkan terima orang asing masuk Sanctuary." Pinta Mu.

"Dia bukan orang asing. Kau tahu betul bayi ini adikku." Jelas Shaka.

Mu mengangguk pelan. "Tapi apakah penglihatanku yang salah atau bayi itu memang punya simbol setan di tubuhnya?" Mu menujuk simbol yang tercetak jelas di dada kiri bayi itu.

"Saya belum tahu tentang itu, tapi bayi ini bukanlah ancaman. Sekarang kita kembali saja sebelum yang lain mulai mencari kita."

Mu mendesah pelan. "Shaka, aku tahu betul kalau bayi itu tampaknya tak berdosa. Tapi dugaanku mengatakan kalau penduduk sekitar membunuh ibu dan membakar pondok tadi karena bayi itu."

"Jadi apa maksudmu?" Shaka menaikkan alisnya.

"Bayi itu takkan bertahan lama di Sanctuary. Saint emas lainnya tak kalah jeli dari kita, mereka pasti segera tahu tentang bayi itu. Saranku adalah tinggalkan dia entah dimana dan biarkan orang lain mengasuhnya."

"Permisi?" tanya Shaka dengan nada tersinggung. "Bayi ini bukanlah anak hewan yang bisa saja kutelantarkan dan menunggu sampai ada yang membawanya pergi. Aku tetap akan membawanya, Mu."

"Tapi Kyoko akan.."

"Sayang saya harus menolak kedatangan adikmu, Shaka."

Suara baritone menyela percakapan mereka berdua. Seorang pria dengan topeng dan jubah muncul dari bayangan-bayangan pohon.

"Sanctuary itu tanah suci Athena. Meski aku tak yakin dengan simbol itu, tapi ada kemungkinan bayi ini wadah setan atau sebagainya. Membawanya kesana sama seperti mengkhianati Athena." Jelas Pope. "Maaf Shaka, tapi aku melarang bayi itu masuk ke Sanctuary."

Shaka terdiam sambil menatap adiknya. Meski matanya tertutup, namun ekspresinya sudah bisa ditebak kalau dia tak rela sama sekali. Pope langsung mendekati Shaka dan mengulurkan kedua tangannya.

Shaka perlahan menyerahkan adik bayinya ke sang Pope. Tapi samar-samar Henna melihat Shaka menyelipkan kertas kedalam kain pembungkus bayi itu. Namun Pope dan Mu tampaknya tak menyadari perbuatan Shaka.

"Aku akan mengurus bayi ini. Kalian berdua kembali ke Sanctuary sekarang juga."

Shaka dan Mu tak bisa berkutik dari perintah Pope sehingga mereka terpaksa kembali berteleportasi ke Sanctuary. Henna dan Zeus kini hanya menatap Grand Pope yang masih menggendong bayi itu.

Tapi diluar dugaan mereka, sang Pope tertawa sinis dan membuka topengnya dan memperlihatkan wajahnya. Wajah dari Gemini Saga tentunya tapi bukan dalam wujud aslinya melainkan wujud sisi jahatnya.

"Jadi kau Archangel yang diutus kali ini?" tanya Saga sinis. "Dikirim dalam bentuk bayi, diutus untuk turut melindungi Athena dan membantu menyelamatkan dunia."

Saga berjalan membawa bayi itu tapi Henna dan Zeus tetap mengikut dari belakang. Setelah berjalan beberapa saat, mereka makin masuk ke dalam hutan. Merasa sudah cukup jauh kedalam hutan, Saga meletakkan bayi itu dibawah pohon besar.

"Nah, silahkan tunggu ajalmu disini. Tenang saja, dingin dan lapar bukanlah pembunuhmu. Tapi hewan buas disini akan mengurusmu dengan cepat, kau takkan merasa sakit." Saga menatap puas bayi itu dan kemudian memakai kembali topengnya dan berteleportasi kembali.

Henna menatap miris ke arah dirinya yang masih bayi itu. "Jadi.. Saga-san pernah mencoba membunuhku ya.." lirihnya.

Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Tunggu dulu.. Ini tak sesuai cerita Miki-nee dan Mikio-nii. Aku harusnya bersama mereka yang masih berumur 8 tahun! kenapa menjadi seperti ini? Apa kau yakin ini masa laluku?!" tanya Henna mulai curiga.

"Tentu ini masa lalumu. Tapi apa kau yakin untuk berpegang teguh dengan ingatan kedua kakak tirimu? Apa kau yakin untuk berpegang teguh pada ingatanmu sendiri?"

Henna menatap Zeus agak tak santai. "Jadi maksudmu.. Ingatanku selama ini.. Ingatan siapa?"

"Memori itu? Itu hanya cerita yang kurangkai ulang dari kenyataannya. Ingatanmu dan yang lain hanyalah salah satu karyaku. Saat ini kau tengah berdiri di kenyataan."

Henna terdiam. "Memori palsu.." gumamnya. "T-Tapi untuk apa?!"

"Kau akan mengerti nanti.." Zeus mengulum cengiran di wajahnya. "Tapi sebelum itu, kau menunggu mereka bukan?"

Zeus menunjuk kearah sebuah cahaya yang mulai mendekat ke arah mereka. Asal cahaya itu ternyata berasal dari lentera yang dibawa oleh sepasang suami istri.

Henna mengernyitkan dahinya ketika melihat pasangan itu. "Mirip dengan... Miki-nee dan Mikio-nii.." bisiknya terkejut.

Ketepatan ketika kedua pasangan itu mendekat, bayi yang ditinggalkan Shaka menangis sejadi-jadinya. Sepertinya udara malam mulai berpengaruh padanya. Otomatis keduanya mencari-cari sumber suara dan akhirnya menemukannya.

"Bayi siapa ini?" tanya wanita itu sambil memeluk bayi itu dengan erat.

"Keterlaluan sekali. Suhunya saja segini dingin malah teganya ditinggalkan bayi kecil ini." Si lelaki langsung mencak-mencak sendiri.

Wanita itu memandang bayi itu sejenak lalu menatap suaminya. "Asuka, kita bawa saja bayi mungil ini. Kasihan dia."

Pria yang dipanggil Asuka itu mengangguk setuju. "Mengingat ada sekawanan serigala liar di hutan ini."

Henna menatap ke arah mereka berdua yang mulai berjalan menjauh sambil membawa bayi itu tentunya. Perlahan disekitar Henna dan Zeus mulai menghilang. Kini mereka seakan berada di ruang hitam.

"Itu.. Pertama dan terakhir kalinya.. Aku melihat ibu kandungku.." lirih Henna sambil mengingat kejadian yang tidak mengenakkan itu.

"Yah, setidaknya ada pasangan lain yang mengambilnya. Ah, maksudku adalah mengambilmu."

Zeus melambaikan lagi tangannya ke udara dan seketika mereka berdua sudah berada di suatu ruangan yang bisa dibilang besar dan agak mewah.

"Asuka~ Dia imut sekali~"

Henna menoleh kebelakangnya. Kedua pasangan itu duduk sambil menimang-nimang bayi itu. Jantung Henna berdegup kencang. Rasa senang sekaligus sedih mengalir di pembuluhnya.

"Michika, menurutmu siapa namanya?" tanya Asuka.

Wanita yang dipanggil Michika itu mengukir senyum usil. "Hmm.. Namanya mirip dengan namaku dong. Michiyo. Cantik bukan?"

Asuka mengangguk setuju. "Hasegawa Michiyo kita kalau begitu~"

"Ah! Jangan Hasegawa dunk! Miki-chan dan Mikio-chan sudah ambil marga kamu. Michiyo ambil marga lamaku saja~ Inoue Michiyo~" ujar Michika usil.

Asuka langsung sweatdrop. "H-Hei, nggak kek gitu sistemnya tauk." Michika tertawa mendengar perkataan suaminya.

"Oya, aku menemukan kertas ini terselip di kain pembungkus Michiyo." Asuka menyodorkan kertas ke Michika.

Henna memicing ke arah surat itu. 'Kertas itu.. bukannya tadi yang diselipkan Shaka-nii?' batinnya.


Untuk yang sudah merangkul adik kecilku

Kuucapkan terima kasih

Sayang sekali peraturan sudah merobek kami hingga terpisah

Tapi ada yang perlu kau ketahui dari dia

Meskipun manusia biasa tak boleh tahu tentang ini

Namun kalian punya hak untuk mengetahuinya


Michika dan Asuka saling bertatapan heran. 'Apa maksudnya?' batin keduanya lalu membaca lagi surat itu.


Dunia ini tak milik manusia biasa saja

Dibalik kalian

Kami para saint selalu bersiaga dimana ada masalah

Kami para saint membela kebenaran di dunia ini

Kami mengenakan cloth kebanggaan kami

Bayi yang kalian rangkul saat ini

Adik kecilku yang kalian rangkul saat ini

Kelak akan mengikuti jalannya sebagai saint


"Saint..Hey, kurasa aku pernah mendengar cerita itu dari kakekku." Gumam Asuka.

"Kakekku dulu tinggal di Yunani. Katanya di suatu tempat bernama Sanctuary, disanalah Saint berada atas tuntunan dewi Athena."

"Dewi itu? Aku baru tahu.." gumam Michika sambil menatap bayi yang terlelap di gendongannya.

"Tapi itu hanya mitos. Aku juga baru tahu kalau hal itu nyata.." Asuka dan Michika kembali membaca surat itu.


Setidaknya ketika dia remaja

Kirim dia kembali ke Sanctuary

Tanah suci yang terdapat di Yunani

Sebelum waktu itu datang

Latihlah dia

Ajarilah dia cara berperang

Ajari dia bertarung layaknya seorang Saint

Dewi kami menunggu pengabdiannya


"Berperang?" Michika menaikkan alisnya. "Bayi seimut ini disuruh berkelahi? Buset, gak amat deh."

"Tapi Saint memang begitu sih." Ujar Asuka. "Untuk menghormati dewi mereka, para Saint tak diperbolehkan memakai senjata ketika bertarung melainkan harus memakai tangan kosong."

Michika menghela nafasnya. "Tapi tetap saja. Masa gadis kecil ini harus bertarung?"

"Sudahlah, kita percayai surat ini. Kalau itu memang jalannya, kita mau apa lagi?" tanya Asuka.

Michika mengangguk pelan dan itu membuat suaminya tersenyum. Ketika Asuka melihat surat itu lagi, penglihatannya menangkap kalimat lainnya dibawah surat itu.


Karena hanya aku keluarga sedarah yang dimilikinya di dunia ini

Aku menamakan adik kecilku

Henna.

Tertanda,

Virgo


Asuka dan Michika kembali bertukar pandang. "Siapa itu virgo?" tanya keduanya bersamaan.


Ketrin: Argh! Buntuu!

Henna: Jelek~ Oya, aku sekarang boleh baca fic nya?

Ketrin: Pokoknya mulai sekarang kamu belum dibolehin baca fic ini sebelum selesai!

Henna: Kenapa?

Ketrin: Sesuatu~

Henna: Haizz.. Mau balas Review?

Ketrin: Gak mood~

Henna: Hah? karena?

Ketrin: Sesuatu~ #pundung

Henna: Dasar gila.. #sweatdrop