GHOST
*Ch 7*
Story © alice dreamland
Vocaloid © Crypton Media and Yamaha Corp
Genre: Mystery, Horror, Romance.
Warning: Typo(s), alur lambat/ngebut, all in Normal PoV.
Summary: Dua sekolah kini digabung kembali setelah tiga tahun terpisah. Dan setelah kedua sekolah itu digabungkan, kejadian-kejadian horror pun dimulai…
"Minna! Hari ini kelas kita kedatangan tamu!" seru Luka ceria sambil mempersilahkan seorang wanita masuk ke dalam kelas. Bagian depan rambutnya dikepang rapi. Ia mengenakan dress formal, juga sebuah topi berwarna ungu muda.
"Namaku Himekawa IA. Aku adalah seorang reporter dari redaksi koran Voca City, salam kenal," ucap IA ramah.
"Dia akan menulis laporan mengenai kelas kita," ucap Luka sambil tersenyum manis lalu menunjuk sebuah kursi kosong di belakang kelas.
"Anda dapat duduk disana," terang Luka sensei. Sekali lagi IA tersenyum ke arah Luka, membuat Luka terpaku sejenak—seakan-akan teringat sesuatu.
"E-Em? Megurine-san? Anda terlihat sangat pucat," tanya IA dengan nada khawatir. Luka terhenyak lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum ramah sebagai balasan.
"Iie, daijoubu. Sekarang silahkan anda duduk karena saya akan memulai pelajaran," ujar Luka. IA mengangguk lalu duduk di bagian belakang kelas. Rin yang—kebetulan—duduk disekitar sana, melihat kearah IA dengan kebinggungan.
IA yang menyadari Rin menatapnya, menyinggung sebuah senyuman ramah. Rin membalas senyuman itu, lalu kembali menekuni bukunya sambil mendengarkan Luka yang telah memulai pelajarannya.
.
.
.
Kini Rin, Len, Lui, dan Neru sedang berada di depan ruang penyimpanan data. Lui sedang mencoba untuk memasukkan setiap kunci yang ia punya, berhubung ialah ketua OSIS-nya, sehingga ia—seharusnya—memiliki kunci ruang penyimpanan data.
"Hei, sebenarnya apa yang sedang kita cari disini?" tanya Len kebinggungan. Kemudian ia menatap Rin—berharap mendapat sebuah jawaban. Rin menghela nafas lalu bersiap menerangkan.
"Kita akan mencari nama murid-murid tiga tahun lalu yang mempunyai nama kecil Yui."
Len ber-oh ria, lalu melihat ke arah Lui yang kini tengah berhasil menemukan kunci dari pintu ruang penyimpanan data.
"Terbuka," ucap Lui serius sambil menoleh kearah Rin, Neru, dan Len. Kemudian mereka mendorong pintu tersebut. Seketika, debu bertaburan keluar—membuat mereka berempat terbatuk-batuk sejenak. Namun tak lama kemudian, mereka segera masuk ke dalam ruangan.
Neru menggapai-gapai dinding—berusaha mencari saklar lampu. Hingga saat ia menemukannya, ia menekannya—membuat ruangan segera dipenuhi oleh cahaya menyilaukan.
Ruangan itu sangat berdebu (mungkin karena sudah lama tidak digunakkan) dan penuh akan beraneka ragam dokumen. Dokumen-dokumen tersebut diletakkan di dalam lemari-lemari yang ada dan ditata rapi.
"Kalian tahu kan apa yang harus kita cari?" tanya Rin sambil menatap Len, Neru, dan Lui. Mereka mengangguk.
"Bagus, kalau begitu lebih baik kita mulai pencariannya sekarang."
Dan dengan begitu, keempat anak tersebut segera mencari arsip atau dokumen yang berhubungan dengan murid tiga tahun yang lalu, serta mencari siapa saja yang memiliki nama kecil 'Yui' atau berhubungan dengan 'Yui'.
Neru berjalan menerusuri loker-loker di meja. Ia membuka setiap loker tersebut, hingga matanya menangkap sebuah buku hard cover berjudul 'Dokumen Murid-Murid'. Neru mengambil buku yang tebalnya kurang lebih empat cm itu dan meletakkannya di meja.
Tangannya memegang ujung buku lalu membalikkannya, menampakkan halaman selanjutnya dari buku tersebut.
Daftar Isi
Murid-murid dan guru pada tahun pertama sekolah dibuka: 3
Murid-murid dan guru pada tahun kedua sekolah dibuka: 150
Murid-murid dan guru pada tahun ketiga sekolah dibuka: 290
Neru menautkan kedua alisnya—berpikir sejenak. Namun karena tak kunjung menemukan jawaban, ia pun bertanya kepada ketiga temannya.
"Hei, apa kalian tahu kejadian murid yang menghilang itu terjadi berapa tahun setelah sekolah dibuka?" tanya Neru—mengalihkan pandangan dari buku dan menatap teman-temannya dengan pandangan binggung. Rin, Len, dan Lui menghentikan aktifitas mereka sejenak dan menatap Neru.
"Kalau tidak salah sih… tiga tahun setelah sekolah dibuka," gumam Rin sambil meletakkan jari telunjuk di dagunya. Lui juga mengangguk.
"Memang hal itu terjadi pada tiga tahun setelah sekolah dibuka…"
Len terdiam mendengarkan—walaupun ia memiliki beberapa gagasan di otaknya, ia tidak mengemukakannya. Neru pun mengangguk. "Terima kasih."
Dan dengan begitu, mereka berempat kembali ke aktifitas mereka masing-masing.
"Eh! Lihat! Aku menemukkan album foto ini!" jerit Rin sambil membersihkan debu yang ada di cover album. Lui, Len, dan Neru menoleh dan mendatangi Rin.
"Album apa itu?" tanya Len.
"Ini adalah album foto tiga tahun yang lalu!" jerit Rin ceria.
"Kau yakin… Rin?" Neru ragu.
"Aku yakin seratus persen! Gumi-nee dan Gumo-nii pernah— Ups..." Dan dengan sederet kalimat tersebut Rin menutup mulutnya sejenak. "Ma-Maksudku, Gumi-senpai dan Gumo-senpai pernah memberitahuku mengenai buku ini dulu…"
Neru, Lui, dan Len mengangguk.
"Kalau begitu, bisa coba ditelusuri, siapa tahu ada sesuatu di dalamnya," ucap Lui—mengambil album itu dari Rin. Rin, Neru, dan Len mengangguk singkat lalu melihat kearah album foto yang kini tengah dibuka oleh Lui.
Disana terdapat foto-foto mengenai anak-anak di sekolah pada tiga tahun yang lalu. Hingga tiba-tiba, Len melihat sebuah foto yang cukup aneh.
"Hei… Foto apa ini?" Tanyanya sambil menunjuk sebuah foto. Rin, Len, dan Lui melihat ke arah foto tersebut. Foto itu adalah foto kelas sembilan tiga tahun yang lalu. Foto itu terdapat gambar Miku, Mikuo, Gumi, Gumo, dan beberapa orang lainnya.
Tapi yang aneh, separuh dari foto tersebut terobek—hilang separuh bagiannya. Sehingga hanya menampakkan enam orang saja. Murid pertama adalah Hatsune Miku yang sedang tersenyum manis sambil memegang pundak Mikuo. Saat itu ia mengenakan sebuah dress panjang berwarna biru kehijauan.
Murid kedua adalah Hatsune Mikuo yang—sedikit—merona karena ulah Miku dan dengan muka sedikit gusar, ia berusaha menyingkirkan tangan Miku dari pundaknya. Ia mengenakan sebuah jaket berwarna hijau kebiruan dengan celana Jeans yang memiliki panjang sepergelangan kaki.
Murid ketiga adalah Gumi Megpoid yang sedang mengembungkan kedua pipinya karena wortelnya diambil oleh saudara kembarnya—Gumo Megpoid. Ia mengenakan T-Shirt dengan tulisan 'I Love Carrot' dan celana pendek sepaha. Tangannya menggapai kearah Gumo—berusaha mendapatkan kembali wortel kesayangannya.
Murid keempat adalah Gumo Megpoid yang sedang tersenyum jahil sambil menyembunyikan wortel Gumi di balik punggungnya. Ia mengenakan T-Shirt dengan tulisan 'I Love Carrot' juga dan celana pendek selutut. Tak lupa googles di atas kepalanya—sama seperti Gumi.
Murid kelima adalah seorang gadis yang berambut pink pucat dikepang dua kebawah. Ia mengenakan lensa tebal dan tersenyum ragu. Juga blouse berwarna pink keputihan dengan sebuah legging berwarna hitam. Tak lupa dengan sepatu flat berwarna pink muda.
Murid keenam adalah seorang gadis berambut ungu tersenyum cerah. Ia menggandeng tangan gadis berambut pink pucat tersebut dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan. Ia mengenakan dress selutut berwarna lavender.
"E-Eh… Gadis berambut pink pucat itu terlihat seperti IA-san…," ucap Rin, "Bukan begitu, Neru?"
Neru mengangguk. "Kau benar… Ia terlihat seperti IA-san."
"IA-san? Siapa dia?" tanya Len kebinggungan. Len kan memang tidak sekelas dengan Rin dan Neru. Lui tampak mengingat-ingat.
"IA adalah seorang wanita yang tadi datang ke kelas kami untuk membuat laporan, begitu katanya…," terang Rin. Neru dan Lui mengangguk. Sedangkan Len terlihat mengamati gambar itu sekali lagi.
"Dan… Gadis berambut ungu ini…," gumam Len tidak jelas. Neru yang mendengarnya menepuk pundak Len kebinggungan.
"Memangnya ada apa dengan gadis itu?" tanyanya to-the-point. Len melihat ke arah Neru lalu ke arah Rin sejenak.
"Apa kau pikir ia adalah maid yang kita temui waktu itu, Rin?" tanya Len sambil menunjuk gadis berambut ungu tersebut. Rin pun mendekati Len dan mengamati gadis berambut ungu itu baik-baik.
"Ka-Kau benar… Itu memang dia…," tutur Rin—tidak percaya.
"Kalian pernah bertemu dengannya?" Tanya Lui sambil menaikkan sebelah alisnya, kebinggungan. Len dan Rin mengangguk kompak.
"Di kafe waktu itu, kami bertemu dengannya."
Lui hanya mengangguk sambil berpikir lagi. Sedangkan Neru berusaha mencari kedua gadis yang terlihat mencurigakan dan tidak mereka ketahui di foto tersebut di dalam buku berjudul 'Dokumen Murid-Murid' tersebut.
"Ah! Ini dia!" Jeritnya gembira ketika menemukan biodata dari sang gadis berambut pink pucat.
Nama: Tonerine IA
Kelas: 9-B
IA adalah seorang gadis pendiam yang cukup pintar. Ia selalu mendengarkan guru saat berbicara dan cocok menjadi murid teladan. Gadis ini memiliki seorang saudara kembar bernama Tonerine IO yang juga sekelas dengannya.
"Namanya juga IA…," gumam Rin kebinggungan. Neru mengangguk menyetujui, kemudian segera mencari biodata sang gadis berambut ungu.
Nama: Tone Rion
Kelas: 9-B
Rion adalah seorang gadis ceria yang memiliki latar belakang buruk. Gadis ini hanya tersenyum di luar, namun sebenarnya menangis di dalam. Ia tidak memiliki saudara kandung. Dan ia keluar dari sekolah akibat kekurangan biaya pada saat semester pertama.
"I-Ini sebenarnya dokumen apa?" tanya Len kebinggungan juga gugup. "M-Maksudku… Dokumen ini membuka privasi seseorang!"
"Coba kulihat siapa yang menulisnya… seharusnya namanya tertera di depan," gumam Neru lalu membalik halaman buku itu hingga ke halaman pertama. Dan langsung saja semuanya terkejut—ralat, sangat terkejut—saat melihat nama yang tertera disana.
Megurine Luka.
.
.
.
"Sial! Foto ini! Jangan sampai mereka melihatnya!" jerit sang gadis berkerudung hitam dengan tatapan cemas—benar-benar cemas.
Ia pun mengambil foto lain yang berada di balik foto yang hilang separuh bagiannya tersebut dengan tangan bergetar—karena ketakutan yang luar biasa—dan menyobeknya menjadi potongan-potongan kertas kecil.
"Dengan begini, semuanya akan aman," gumam gadis tersebut, sebelum beranjak menuju jendela untuk keluar dari ruangan tersebut, namun tiba-tiba saja pintu itu terbuka—membiarkan cahaya terang masuk ke dalam ruang penyimpanan data.
"Y-Yui!" jerit IA kaget ketika melihat gadis berkerudung hitam tersebut.
"Well, siapa lagi kalau bukan IA-chan~?" ucap gadis bernama 'Yui' itu dengan nada menantang.
"Cukup bermainnya, Yui! Sekarang kau harus menyerah!" jerit IA, lalu berusaha untuk mengikat gadis itu dengan tali yang ia bawa. Namun Yui sangat gesit, ia pun menghindari setiap serangan dari IA.
Namun, IA juga merupakan seorang gadis yang lincah. Pada saat Yui lengah, ia memegang pergelangan tangan kanan miliknya, mencegahnya untuk bergerak lebih.
"Lepaskan!" jerit Yui panik. Ia pun meronta, berusaha melepaskan cengkraman kuat dari IA. IA hanya merintih sedikit, karena gesekan membuat kulitnya cukup merasakan sakit, lalu melepaskan Yui dan memojokkannya, hingga punggung Yui mengenai sebuah benda keras –meja.
"Kau takkan bisa menangkapku," Ucap Yui dengan nada datar lalu diam-diam mengambil kapak yang ia letakkan di meja. Lalu mengangkat tinggi-tinggi, membuat IA mundur dengan mata terbelalak hingga punggungnya bergesekan dengan tembok.
"Apa kata-kata terakhirmu, IA-chan~?" tanya gadis tersebut dengan senyuman yang mengerikan. IA menghirup nafas dalam-dalam lalu berkata dengan lantang walaupun suaranya sedikit bergetar.
"He-Hentikan. Permainan. I-Ini. Yui."
"Ugh! Sudah kubilang tidak akan~! Dan… TING TONG~ Waktumu sudah habis!" ucap gadis berkerudung hitam yang dipanggil 'Yui' tersebut lalu mengangkat kapaknya tinggi-tinggi—bersiap membunuh sang gadis.
"Selamat tinggal Himekawa IA, ah—maksudku, Tonerine IA!" ucapnya bersamaan dengan suara jerit kesakitan IA, karena kini kapak itu tengah mengenai tangan kanannya—membuat bercak-bercak darah di tembok belakang IA.
Yui terus saja melakukan adegan mengerikan tersebut sambil tertawa psikopat—menikmati hal itu—hingga nyawa IA sudah tidak ada di dunia ini.
Ia sudah pergi—
—bahkan sebelum terjadi hal yang lebih menarik.
.
.
.
Seorang anak lelaki tengah melihat adegan mengerikan dan sadis itu dengan mata terbelalak. Ia sebenarnya hanya iseng membolos pelajaran saja, namun siapa sangka jika ternyata ia justru dipertemukan dengan adegan mengerikan seperti itu?
Ia terus saja melihat ke dalam ruangan itu lewat celah kecil di pintu dengan badan bergetar. Namun secara tiba-tiba, gadis berkerudung hitam itu—Yui—berbalik dan menatap ke arah pintu tajam. Sepertinya ia merasakan kehadiran seseorang. Lelaki itu mundur sedikit—berusaha untuk tidak terlihat.
"Mungkin hanya anganku saja…," gumam Yui pelan—dengan sedikit kebinggungan—sebelum membuka gorden jendela di dalam ruang penyimpanan data, lalu membuka jendela tersebut dan melompat keluar.
.
Yo! Ahaha, kelihatannya ide Alice lagi berjalan lancar! Jadi cepet updet-nya, tapi gatau untuk chapter depan #ditabok. Ah… Kelihatannya ada sedikit kesalahpahaman disini, Yui itu adalah pecahan dari salah satu nama Vocaloid yang Alice pakai di cerita ini! Contoh: Kokone, bisa dipecah jadiKokohara Nemi. Begitulah~! Ini balasan reviewnya~!
-Kurotori Rei
Bukan… Yui itu pecahan dari salah satu nama Vocaloid :3
Beenneerr banget! Itu sebenarnya cukup penting! Arigatou sudah me-review! XD
-Arrow-chan3
Em… Bukan, maksud Alice itu adalah pecahan dari nama sang pelaku :3
Woaa, arigatou sudah me-review! c:
-Hidari Yusuke
E-Eh? O-Ok… Kalau begitu panggilnya Yusuke-san aja ya :3 Mayu ya? Harusnya sih mulai kebuka di beberapa chap kedepan :3
Arigatou sudah me-review! X3
-Guest
Ehehe, jeli juga ya, bener! Semuanya itu kembar! Dan memang GHOST itu hanyalah inisial :3
Arigatou sudah me-review! XD
-Billa Neko
Ehehe… Lihat aja di chap depan nanti, biar ngak nge-spoil #plak
Teto sudah ada di chap belakang, saudarinya Ted X3
Ini sudah lanjut, Billa-senpai, Arigatou sudah me-review! X3
Arigatou buat semua yang sudah Fave, Follow, dan mengikuti cerita ini sampai sini!
Jawaban untuk pertanyaan di chap lalu sudah terbuka disini kan? Tone Rion adalah sang maid, dan ia adalah tokoh yang cukup penting disini :3
Sekian,jaa ne!
~alice dreamland
