-AUTHOR WARNING : OOC, OC, AU, DLL, DST, ECT, NGGAK SESUAI SEJARAH 3KINGDOM SAYA CUMAN NGAMBIL NAMANYA DAN SAYA PAKSAKAN MENJADI KELANJUTAN DARI FATAL FRAME 3 DAN 4. NGGAK SUKA? NGGAK TERIMA SEJARAH DI ACAK? KLIK TOMBOL CLOSE DI BROWSER ANDA SEKARANG! KALAU ANDA TETEP BACA, DAN DIRIVIEW TENTANG HAL YANG SUDAH SAYA WARNINGKAN. SAYA KASIH DOORPRISE JALAN KAKI DARI KOTA ANDA SAMPAI KE KAMPUNG HALAMAN SAYA BUAT WISATA KULINER!

Hour 6 – Jealousy

" Katakan! Anak siapa itu?"

" Ini... Tentu saja dia ini anakmu Jiang Wei!"

" Omong kosong! Dia pasti anak orang itu kan?"

" Bukan! Dia ini anakmu Jiang Wei!"

-Jealousy can make someone blind -

Kei, Maron dan Rekka sekarang berada tepat didapan pintu dimana terlihat sosok seorang perempuan yang membawa bayi yang menangis. Suasana horor bisa dirasakan oleh tiga orang ini begitu melihat pintu ruangan itu yang tertutup rapat, belum tersentuh oleh tangan siapapun dari mereka.

" Jadi..." Kata Maron dengan was-was,

Kei dengan santai berkata, " ...Kita harus masuk kedalam sini. Kita harus mengejar makhluk itu, siapa tau makhluk itu membawa salah satu batu yang ada dipintu itu..."

Rekka kemudian menoleh ke Kei dan berkata, " Tapi, bagaimana jika didalam pintu itu ada jebakan? Atau mungkin, ketika kita buka tiba-tiba aja makhluk makhluk yang seperti itu keluar banyak sekali?"

" Kita tidak akan tau kecuali kita buka kan?" Kata Kei dengan penuh rasa percaya diri.

Perlahan lahan tapi pasti, Kei mulai membuka pintu tersebut dengan kedua tangannya. Betapa terkejutnya mereka...

...Ketika menemukan ruangan yang kosong.

" Tuh kan, aku sudah bilang tidak apa apa" Ucap Kei dengan bangga abis…

…Sebelum kaki kanannya menginjak sesuatu yang membuat Kei tertarik kedalam, " WOAH!"

" Kei-Ojisan!"

" Neechan!" Jerit Rekka.

Malang, Maron yang hendak menolongnya kena apes juga. Kei dan Maron pun terseret masuk kedalam sebuah pintu rahasia yang ada dibawah lantai itu sebelum pintunya tertutup rapat kembali.

" Kei-ojisan! Neechan! Dimana kalian?" Ucap Rekka dengan panik.

Kemudian Rekka mencoba untuk membuka pintu rahasia tersebut dengan cara menginjak lantai yang sama dengan Kei. Sayangnya, tak ada yang terjadi...

" Uh... um.. apa yang harus kulakukan?" Ucap Rekka dengan panik.

Ditengah kepanikkannya, Rekka menjadi ingat sesuatu. Lebih tepatnya jadi ingat dengan hantu alay bernama Sima Zhao yang berada di balik jeruji besi. Walaupun awalnya Rekka tidak yakin jika makhluk alay itu bisa membantu. Karena tak ada pilihan, Rekka pun berlari sekencang-kencangnya ketempat hantu alay tersebut.

Sementara itu Maron membuka mata, gadis itu sadar jika dia tengah berada di tempat lain.

" Eto... Maron, bisakah kah kau pergi ketempat lain? Kau berada diatasku sekarang..." Kata seseorang.

" Eh..." Maron kemudian melihat kebawah, tepatnya kelantai. Dan dia menemukan Kei tengah berbaring dibawahnya dengan kondisi setengah teler, " Woah, maafkan aku ojisan!"

Maron kemudian berdiri dengan cara melompat kemudian dia memberikan pergelangan tangannya untuk disambut Kei untuk membantunya berdiri. Sebelum Kei menyambut tangan Maron, Kei bangun dengan posisi duduk sambil mengaruk-garuk kepalanya yang terasa sakit. Kemudian, Kei menyambut tangan Maron dan berdiri,

" Kau berat sekali..." Komentar Kei,

" Apa! Beratku cuman 47!" Ucap Maron dengan wajah memerah,

Kei kemudian sewot, kemudian dia berkata, " Baiklah-baiklah...", Kei langsung menoleh kearah kanan dan kiri mencoba mencari tau berada dimana dia sekarnag bersama Maron. Kei kemudian menatap Maron dan berkata, " Kita... Kita ada dimana?"

Maron mengangkat kedua bahunya dan berkata, " Aku tidak tau, ketika aku membuka mata kita sudah berada disini..."

Kedua orang itu kemudian terdiam sebentar sebelum menyadari sesuatu,

" Mana Rekka?" Ucap Kei sambil menatap Maron,

Maron yang baru sadar dengan hal itu langsung panik, " Iya, dimana Rekka!". Maron kemudian menoleh kearah kanan dan kiri mencoba mencari jalan keluar, pandangan matanya kemudian tertuju kesebuah pintu yang ada dibagian kirinya. Maron langsung menghampirinya dan berkata ke Kei, " Ayo ojisan, kita harus menemukan Rekka sekarang!"

Maron kemudian membukanya, dan masuk kedalam tanpa menunggu Kei lagi. Sambil berusaha mengejar Maron, Kei berkata,

" Hey! Maron tunggu, kau jangan gegabah! Kau tidak boleh pergi sendirian!"

Kembali lagi ke Rekka, Rekka dengan terengah-engah kemudian membuka pintu dimana Sima Zhao tengah berada sekarang. Nggak jauh beda dengan ekspresi yang dikeluarkan oleh Kei ketika pertama kalinya dia ketemu dengan Sima Zhao. Rekka shock bin sewot ketika melihat Sima Zhao memasang pose yang sudah tak asing lagi[1].

" Oh, hey~ Apakalian sudah menemukan pintu itu?" Tanya Sima Zhao dengan wajah tanpa bersalah, karena memang dia tidak bersalah.

" Kau! Beraninya kau menipu ku dan kakakku!" Ucap Rekka sambil mengarahkan senter-nya ke Sima Zhao.

Sima Zhao yang panik langsung berusaha bersembunyi, " Woah! Woah! Tunggu apa maksudmu! Aku tidak menipumu kok!"

" Oh ya!" Kata Rekka dengan kesal, " Lalu kenapa ada hantu yang menyerang kami ketika kami masuk kedalam pintu itu? Bahkan hantu itu memanggil kakak perempuanku dengan nama Yan Yan apa gitu. Dia nyaris membunuh kami!" Lanjut Rekka sambil menyipitkan matanya.

" Hah ada hantu ya disitu?" ucap Sima Zhao dengan wajah telmi,

" Sumpah ya nggak usah sok sok nggak tau deh..." Kata Rekka yang sudah habis kesabarannya,

" Sumpah, aku nggak tau soal apa yang kamu bicarakan bocah!" Kata Sima Zhao sambil memasang wajah bingung,

Rekka yang habis kesabarannya langsung mengarahkan senternya ke Sima Zhao, membuat Sima Zhao kembali panik," HEY! HEY! HEY! TUNGGU! APAKAH YANG KAU MAKSUD ADALAH HANTU BERNAMA JIANG WEI!"

Rekka dengan sewot berkata dalam hati, "Tuh kan dia...". " Aku tidak tau siapa namanya, yang pasti dia terus-terusan memanggil kakakku dengan sebutan Yan Lu."

" Hm, berarti dia benar-benar Jiang Wei..." Kata Sima Zhao,

" Lagi pula, ada hal yang ingin ku tanyakan kepadamu..." Ucap Rekka sambil melipat kedua tangannya,

" Kau mau nanya apa bocah? Kau mau nanya berapa umurku?"

" Nggak! GR banget kamu!" Ucap Rekka dengan sewot, " Tadi, ketika kami menemukan pintu yang ada binatang setengah kuda setengah naga itu. Tapi tertutup rapat, tiba-tiba aja kami mendengar suara tangisan bayi. Karena bingung mencari kunci pintu itu, Kei ojisan itu bilang kami perlu mengikuti makhluk itu. Siapa tau saja makhluk itu membawa kunci pintu itu..."

" Bentar, apakah yang kau maksud dengan oji... oji apa itu adalah Om-Om bermuka mesum itu?" Potong Sima Zhao dengan wajah penasaran,

" Apa! Kenapa kau memanggiil Kei-ojisan kau panggil dengan 'Om Om berumuka mesum' begitu?" Tanya Rekka yang terkejut mendengar panggilan Sima Zhao terhadap sahabat dari kakak laki-laki-nya itu.

" Karena mukanya mesum..." Jawab Sima Zhao dengan santai, hal ini membuat Rekka sewot, " Terus, kau ingin bertanya padaku tentang apa?"

Rekka menghela napas, " Makanya dengar dulu cerita orang baru potong! Jadi ketika kami ingin mengikuti makhluk itu yang masuk kesebuah ruangan lewat dinding. Kami mau masuk lewat pintu, Kei-ojisan membuka pintu itu dan masuk duluan. Eh pas menginjakkan kakinya kedalam, Kei-ojisan terperosok masuk. Neechan yang ingin menolongnya juga ikut terperosok kedalam..."

" Hm, jadi apa yang kau ingin tanyakan kepadaku?" Potong Sima Zhao,

" Apakah kau tau mereka itu kemana? Dan bagaimana cara aku bisa menemukan mereka?" Tanya Rekka ke Sima Zhao sambil memasang wajah serius,

Sima Zhao terlihat berfikir sebentar, tak lama kemudian Sima Zhao berkata, " Aku tidak tau pasti, tapi aku rasa jika kakak dan om-om bermuka mesum itu masuk kedalam ruang bawah tanah penyimpan bahan makanan yang ada dirumah ini. Kalau tidak salah sih ada pintu masuk buat ke dalam itu, aku tidak tau pasti dimana. Hm, coba kau pergi keruangan itu lagi dan cari pintu yang ada tangga... "

Rekka memasang wajah tidak percaya, " Kali ini kau tidak bohong kan?"

"Heh! Kenapa kau berbicara seperti itu? Aku ini tidak pernah bohong loh!" Ucap Sima Zhao sambil memasang wajah sedih,

Rekka langsung memutar bola matanya, " Serius deh lebay banget deh loe!. Sudah aku mau pergi, kalau kau bohong kali ini dan membuatku celaka. Akan ku habisi kau nanti!"

" Baiklah kalau begitu~ Kalau kau butuh saran, aku akan terus menunggumu disini! Hati-hati ya?"

" Hem yalah tuh..."

Dan Rekka pun pergi dari sana menuju ruangan yang ia masuki tadi dengan berlari-lari kecil.

Kembali lagi ke Maron dan Kei, kedua orang itu kini berjalan disebuah koridor yang gelap. Disamping kanan dan kiri terdapat sebuah lemari yang berisi dengan kotak-kotak. Entah apa isi dari kotak-kotak itu, kedua orang itu tidak peduli sama sekali. Tidak sampai mata Kei menangkap sebuah benda yang bernama perban,

" Hey ada perban dikotak ini " Kata Kei sambil tersenyum dan mengambil kotak tersebut,

" Perban? Eh, ada juga obat-obat herbal!" Kata Maron sambil melihat isi dari kotak itu,

" Mari kita ambil beberapa, mungkin saja ini berguna untuk kita nanti..." Ucap Kei,

Kei kemudian mengambil beberapa obat-obatan yang ada didalam kotak tersebut dan menaruhnya kedalam tas. Sementara Maron hanya berdiri diam saja sambil melihat kearah kanan dan kiri, tak lama kemudian. Maron berkata, " Hm, ditempat ini banyak sekali kotak-kotak yang aneh. Ada juga drum-drum yang berisi air..."

Kei yang sudah memasukkan benda-benda tersebut kemudian berdiri dan berkata, " Mungkin saja tempat ini adalah tempat dimana empu-nya rumah menyimpan makanan"

" Heeh! Emangnya orang mati masih bisa makan ojisan?" Ucap Maron dengan wajah telmi,

" Nggaklah! Maksudku, ini tempat penyimpanan makanan mereka dulu sebelum meninggal gitu!" Kata Kei dengan sewot,

" Hoo begitu ya..." Kata Maron,

"Oeeek…"

" Sst...Tenang nak, ayah mu akan segera datang kok!"

Bulu kuduk Maron dan Kei langsung merinding, secara bersamaan tepat di lubuk hati mereka. Mereka menjerit, "Suara itu lagi!"

Kedua orang itu sama-sama langsung menoleh kearah kiri, dan melihat seorang wanita yang langsung menembus sebuah dinding. Kei dengan sigap langsung memotret hantu itu, " Sial.."

" Apakah ojisan mendapatkan gambarnya?" Tanya Maron,

" Tidak aku tidak mendapatkannya. Hm, kita tidak punya pilihan lain selain mengikuti wanita itu!" Ucap Kei dengan wajah serius,

Kedua orang itu langsung berlari mengikuti wanita tersebut kedalam masuk ke sebuah ruangan dengan cara masuk kedalam sebuah pintu. Mereka berdua tidak tau dimana mereka sekarang, akan tetapi dilihat-lihat dari benda-benda yang ada di ruangan tersebut. Ruangan ini adalah ruangan untuk memasak.

Mata Maron tak lama kemudian menangkap sosok seorang wanita yang tengah berdiri tepat didepan sebuah pintu. Disaat yang bersamaan, Maron dan Kei mendengar suara getir yang sedang menyanyi,

'Kasih sayang membubung ke langit,

Lebur bersama ribuan bintang,

Bunga-bunga bermekaran,

Menyeruaklah harum nan abadi,

Tidurlah tidur, jangan pikirkan apa pun,

Sebab hari esok tiada pasti [2]'

Maron dan Kei langsung saling melirik karena tidak tau mau berbuat apa. Tak lama kemudian, wanita itu perlahan-lahan menoleh kearah mereka.

" Kenapa?" Ucap wanita itu,

" Heeh!"

" Kenapa... KENAPA KAU MENGATAKAN PADA JIANG WEI HAL SEPERTI ITU?" Teriak wanita itu dengan nada penuh kemarahan dan kebencian,

Tanpa peringatan apapun lagi, barang-barang yang ada diruangan tersebut langsung melayang kearah mereka. Kei langsung mendorong Maron untuk menghindari serangan dari alat-alat masak memasang, mulai dari panci, sendok, sampai yang lebih parah lagi, sebuah pisau daging. Jika Maron sukses mendarat disebuah lantai, Kei mengalami nasib lain. Dia jatuh tepat ditumpukkan panci yang tidak ikut terbang...

" Ojisan, ojisan tidak apa-apa?"

Kei kemudian bangkit dan menjawabnya, " Tidak, aku tidak apa apa!"

Maron hanya bisa menghela napas ketika mendengar hal tersebut. Tak lama kemudian, Maron mulai menghindar lagi karena sebuah pisau daging tiba-tiba melayang kearahnya.

" Woah!"

" Maron!" Ujiar Kei sambil mengarahkan kameranya kearah wanita itu,

Akan tetapi sebuah panci dengan sukses menampar muka Kei. Hal tersebut membuat Kei kehilangan keseimbangannya sehingga kamera tersebut jatuh, diikuti dengan dirinya.

" Ojisan!" Maron langsung mengarahkan kamera-nya ke wanita itu, akan tetapi wanita itu sekali lagi menampar Maron dengan benda yang sama yaitu panci sehingga Maron jatuh. Kamera obscura milik Maron pun tergeletak jauh dari dirinya. Hal tersebut membuat Maron tak bisa melakukan apapun kecuali berlari untuk mengambilnya.

Sayangnya, hantu itu langsung memerintahkan sebuah pisau untuk melayang dan menyudutkan Maron sudah tersudut, wanita itu berjalan kearah Maron dengan menatap Maron dengan tatapan penuh kebencian. Sementara itu pisau-pisau yang tajam dan berlumuran darah melayang dibelakangnya,

" Kenapa, kenapa kau mengatakan hal seperti itu pada Jiang Wei? Kenapa kau merusak kebahagianku dengannya?"

" Apa? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau maksud! Suer!" Kata Maron yang bingung,

" Kau jangan bohong!" Ucap wanita itu, " KAU PERUSAK SEGALANYA!" Teriak wanita itu sambil memerintahkan banyaknya pedang tersebut untuk menyerang Maron diikuti dengan suara tangisan bayi.

Maron tak bisa berbuat apa-apa, Kamera Obscura sedang tak berada ditangannya. Rekka tidak ada disampingnya. Sementara Kei? Tidak tau, mungkin dia sedang pingsan sekarang karena tamparan panci dari wanita itu. Maron hanya bisa menutup matanya dan pasrah,

" FATAL FRAME!"

Maron langsung membuka kedua matanya begitu mendengar suara jeritan dari wanita tersebut. Maron melihat wanita itu perlahan-lahan menghilang bersamaan dengan suara tangisan bayi dan jeritan dari dirinya. Tak lama kemudian sebuah buku jatuh ke lantai, sementara Kei berlari kearahnya.

" Kau tidak apa-apa Maron?" Tanya Kei

" Tidak, aku tidak apa-apa. Kukira Ojisan sudah pingsan… Eh, kameraku!" Kata Maron sambil mengambil kamera tersebut,

" Baguslah," Ucap Kei sambil tersebut sebelum mengalihkan perhatiannya ke buku yang ada dilantai, "Hm, bukunya warna hijau. Berarti aman"

Kei langsung mengambil buku tersebut, membukanya kemudian membacanya,

''Hari ini Jiang Wei bersikap aneh. Dia terlihat sangat curiga saat aku sedang menemui Sima Shi untuk membicarakan tentang pertemuan dengan Keluarga Zhong. Kukira ia curiga aku berselingkuh dengan Sima Shi. Seharusnya dialah yang paling tahu bahwa aku tidak akan pernah mengkhianatinya. Kenapa ia begitu cepat berubah?"

"Buku apa itu?" Tanya Maron,

" Buku harian wanita itu..." Jawab Kei dengan santai sebelum memasukkanya kedalam tas. Mata Kei langsung tertuju ke sebuah pintu yang tengah terbuka. Ternyata tepat didalam pintu tersebut terdapat sebuah anak tangga. Sambil tersenyum, " Hey disana ada anak tangga! Siapa tau tangga itu bisa membawa kita keluar dari sini!"

" Eh, benarkah?" Ucap Maron,

" Yeps, ada kok," Kata Kei sambil berjalan menuju pintu tersebut kemudian membukanya.

" Woah ada tangga!"

" Nah, tunggu apa lagi! Ayo kita pergi dari sini!" Kata Kei sambil tersenyum,

" Baik!"

Sementara itu kembali lagi ke Rekka, Rekka terlihat bingung ketika dia menginjakkan kaki nya ke ruangan yang sama. Seingatnya, Sima Zhao berkata kepadanya jika ruangan itu memiliki sebuah pintu lain yang megabungkan ruangan tersebut dengan ruangan penyimpanan makanan. Karena kesal tidak menemukan pintu tersebut dari tadi, Rekka berkata, " Cih, dia berbohong lagi!"

Hendak Rekka keluar dari ruangan tersebut untuk pergi ketempat dimana Sima Zhao berada sekarang melewati pintu masuk. Langkah Rekka langsung terhenti ketika dia merasakan bulu kuduknya mulai merinding disko. Tepat dibelakang Rekka, muncullah sosok makhluk yang tak asing lagi. Sesosok pria yang memiliki rambut panjang dan diikat kuda dengan tatapan penuh kebencian.

Perlahan-lahan Rekka menoleh kebelakang sementara makhluk itu mengangkat kedua tangannya untuk mencekik Rekka. Rekka yang mengetahui hal tersebut langsung menghindar dengan cara menunduk, " Uwah! Kau lagi!"

" Katakan padaku..." Ucap makhluk tersebut dengan suara getir, " DIMANA YAN LU?"

" Meneketehe!" Jawab Rekka dengan santai sebelum dia mengarahkan senternya ke makhluk tersebut. Sayangnya, hantu itu lebih cepat dari yang ia kira, hantu tersebut tiba-tiba berada disampingnya, " WOASH!"

Rekka sekali lagi menunduk, tapi kali ini kakinya terpeleset dan akhirnya Rekka dengan sukses jadi terbaring di lantai. Rekka langsung berguling tepat kebelakang makhluk itu, tanpa basa basi lagi. Rekka langsung menyorot hantu tersebut dengan senternya.

" FATAL FRAME!"

Sekejap, makhluk tersebut langsung menghilang.

Tuk!

Sebuah buku berwarna hijau yang entah datangnya dari mana tiba-tiba jatuh kelantai. Rekka yang melihat buku tersebut awalnya terdiam sebentar sebelum mengambilnya, " Buku apa ini?"

''Yan Lu bertemu lagi dengan Sima Shi. Aku hanya bisa memendam rasa sakit hati saat melihat mereka berdua berbincang-bincang. Aku benci melihat cara Yan Lu berbicara dan tertawa saat bersama pria itu. Sebelumnya Yan Lu hanya tertawa dan berbicara seperti itu hanya saat bersamaku. Pria itu pasti sudah menggantikan tempatku di hatinya...

Yan Lu… Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu sekarang…"

Rekka yang membaca tulisan Cina tersebut hanya bisa terdiam. Kemudian Rekka berkata, " Uh oh, sepertinya kakakku dalam bahaya!"

Baru saja Rekka hendak mencari pintu yang dimaksudkan oleh Sima Zhao lagi, tiba-tiba saja salah satu dinding yang ada di tempat itu terbuka. Rekka hanya bisa was-was sambil melotot…

[1] Pose Kefka di Dissida Final Fantasy xD

[2] Ini lullaby ngaco, sodara-sodara~ Eniwei, ide lullaby ini didapat dari lullaby yang muncul di "Ghost Sweeper Mikami", tepatnya lullaby yang biasa dinyanyikan Okinu.