Buat yang sudah menunggu lama kelanjutan cerita ini, saya benar-benar minta maaf.

Untuk chapter berikutnya, saya akan mengusahakan agar tidak terlalu lama update, karena ujian sudah tahap akhir.

Jadi, konsentrasi untuk cerita ini bisa lebih.

Serta, untuk para readers yang sudah mereview, domo arigato.


Chapter lalu :

Secepat kilat tanpa disadari Sakura, Sasuke menarik tangan Sakura. Hal itu membuat Sakura jatuh ke dada Sasuke.

"Uchiha." teriak Sakura.

"Sasuke." ucap Sasuke lemah.

"Apa?" tanya Sakura tak mengerti.

"Panggil aku Sasuke." lanjut Sasuke sembari memejamkan mata.

"Ap-"

Kata-kata Sakura terpotong oleh bibir Sasuke yang mengunci bibirnya.


7th Chapter

Sakura berusaha melepaskan dirinya dari Sasuke. Namun, semua itu tidak berarti. Dekapan Sasuke padanya malah semakin erat. Sasuke melepaskan bibir Sakura setelah ia merasa paru-parunya terasa sesak akan kebutuhan oksigen.

"Apa maksudmu, Uchi-"

Kata-kata Sakura kembali terpotong saat Sasuke kembali mencium bibirnya dengan lebih ganas kali ini.

"Hmmm..."

"Ah," sebuah desahan akhirnya keluar dari mulut Sakura.

Sakura dapat merasakan kalau Sasuke tengah tersenyum. Pemuda itu pun melanjutkan kegiatannya di leher Sakura. Di ciumnya seluruh sisi leher Sakura. Kemudian ia mulai menghisap dan sesekali menggigit. Saat Sasuke menemukan titik kelemahan Sakura, dia menghisapnya dengan kuat dan menggigitnya sehigga membuat gadis pink itu berteriak.

"Apa yang kau lakukan , Bakka." teriak sakura sembari memegangi sisi lehernya.

Pemuda itu hanya menyeringai puas. Lalu dengan cepat ia balikkan posisi mereka berdua, sehingga kini Sakura yang berada di bawah Sasuke. Saat Sasuke hendak mencium bibir Sakura yang sangat menggoda, tiba-tiba suara ponsel Sakura membuyarkan kegiatan keduanya.

Sakura segera mendorong tubuh Sasuke sehingga membuat pemuda itu terjatuh ke bawah ranjang. Secepat kilat Sakura mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.

"Halo?" ucap Sakura.

"Aku tunggu kau sekarang di depan rumah Uchiha."

Setelah menerima perintah dari Sasori, Sakura segera membereskan barang-barangnya yang tercecer akibat di lempar oleh Sasuke. Setelah itu tanpa pamit kepada si pemuda yang kini masih duduk di tempatnya, Sakura meninggalkan kamar Sasuke.

"Sa-Sakura!" teriak Sasuke saat dia akhirnya tersadar dam berusaha mengejar Sakura yang kini telah sampai di pintu gerbang kediaman Uchiha itu.

Sebuah mobil Ferarri Gallardo berhenti tepat saat Sakura membuka gerbang. Gadis itu berlari masuk ke dalam mobil. Sesaat sebelum mobil itu tancap gas meninggalkan kediaman Uchiha, Sasori membuka kaca jendela mobilnya dan melambaikan tangannya pada Sasuke sebagai tanda perpisahan.

Sasuke merasa jengkel dengan pria berambut merah itu. Dia menendang batu yang ada di depannya hingga ke ujung jalan. Kemudian, masuk kembali ke dalam rumah besarnya. Tanpa ia sadari sepasang mata merah melihat kejadian itu dari jendela lantai atas.

"Senju Sasori." ucapnya pelan, entah pada siapa.

Di dalam mobil,

"Hey, Sakura." kata Sasori sembari membagi konsentrasinya antara adiknya dan jalanan.

"Apa?" tanya Sakura ketus.

"Apa yang kau lakukan di sana, hah?" tanya Sasori lagi, kali ini dengan nada penasaran.

"Apa maksud pertanyaanmu itu, hah?" balas Sakura, kali ini memandang dingin pada kakak laki-lakinya itu.

"Aku Cuma bertanya, apa yang kau lakukan di rumah Uchiha!" balas Sasori dengan sedikit menahan amarah.

"Maksudmu, aku akan menghianati keluarga, hah." jawab Sakura yang kini amarahnya semakin memuncak.

Sasori tiba-tiba menepikan mobil yang di kendarainya dan memandang ke arah Sakura.

"Kenapa jadi kau yang marah, hah? Seharusnya aku yang marah atas sikapmu itu." bentak sasori pada Sakura.

"Kau!" teriak balik Sakura.

"Sudahlah. Kenapa malah jadi kita berdua yang saling berdebat." kata Sasori, kemudian kembali menyalakan mesin mobil dan meninggalkan tempat itu.

Kediaman Senju,

Sakura berlari memasuki rumahnya, ia menabrak Kakashi yang tengah berjalan sambil membawa beberapa berkas-berkas yang pada akhirnya terjatuh dan tercecer di atas lantai.

"Sakura!" teriakan Kakashi sama sekali tidak di pedulikan oleh sakura yang langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Suara pintu di banting terdengar saat Sasori memasuki rumah.

"Ada apa dengan Sakura?" tanya Kakashi yang masih berjongkok untuk memunguti berkas-berkas yang tercecer.

"Entahlah." jawab Sasori enteng sambil berjalan menuju dapur.

"Hey, Sasori bantu aku." teriak Kakashi, dan kali ini kembali tidak dihiraukan oleh adiknya yang melenggang pergi.

"Dasar." umpat Kakashi.

Tanpa Kakashi sadari seseorang tiba-tiba berjongkok dan membantu memunguti kertas-kertas yang berceceran itu.

Kakashi mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang tengah membantunya. "Ah, Gaara. Kau memang adikku yang baik, tidak seperti kedua kakak-kakakmu itu."

"Aku hanya kebetulan sedang senggang saja, Aniki." balas Gaara datar.

'Hah, dasar.' batin Kakashi sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Ruang Makan,

"Em, Kaa-san, akhir-akhir ini kita jarang sekali menerima permintaan?" tanya Gaara memecah keheningan saat makan malam.

"Ya, Kaa-san juga kurang tahu. Kakashi?" Tsunade balik bertanya pada anak sulungnya yang tengah memotong-motong beef steak di hadapannya.

"Memang beberapa minggu ini Danzo jarang menghubungiku, tentang permintaan. Dia malah lebih sering membicarakan tentang pekerjaan." jawab Kakashi sembari membubuhkan merica diatas makanannya.

"Hn," kata Gaara singkat.

Beberapa minggu kemudian,

Sebuah berita yang menjadi headline news pada Konoha Post, sukses membuat warga Konoha gempar.

Konoha-Shimura Danzo(60),

President Direktur perusahaan ternama ANBU-Root.

Ditemukan tewas mengenaskan di kediamannya

yang berada di pusat kota Konoha pagi ini.

Tubuh korban ditemukan dalam keadaan

kedua tangan dan kaki patah,

seluruh jari tangan hilang, perut yang tercabik-cabik,

serta kepala yang terbelah dua.

Dari gosip yang beredar di lingkungan kepolisian menyatakan bahwa

pelaku pembunuhan ini kemungkinan adalah Organisasi Black Dahlia.

Namun dari hasil penyelidikan TKP dan keadaan korban,

Inspektur Shiranui yang menangani kasus ini menyatakan bahwa

cara yang dilakukan pembunuh berbeda dari yang biasa Black Dahlia lakukan.

Kakashi yang tengah membaca koran pagi ini, langsung mencari Tsunade setelah selesai membaca berita tersebut.

"Kaa-san," teriak Kakashi sembari berjalan masuk ke dalam ruang kerja ibunya.

"Ada apa, Kakashi?tidak perlu berteriak-teriak kan." hardik Tsunade.

"Baca ini." kata Kakashi lagi sembari memberikan koran yang baru dia baca pada Tsunade.

Tsunade segera membaca headline news yang ditunjuk Kakashi. Dahinya berkedut, dan tangannya meremas koran itu lalu membuangnya sembarangan.

"Siapa yang melakukan ini?" tanya Tsunade entah pada siapa.

"Kaa-san," kata Sakura yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu, di belakangnya Gaara berjalan santai.

"Ada apa lagi, Saki?" tanya Tsunade pada putrinya itu.

"Aku baru melihat berita di televisi. Danzo terbunuh." jelas Sakura, memandang pada wanita yang telah melahirkannya itu.

"Kaa-san tahu." jawab Tsunade singkat.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Gaara malas.

"Entahlah." kata Tsunade datar.

Tiba-tiba, Shizune datang sembari berlari.

"Maaf, Tsunade-sama." kata Shizune dengan takut-takut.

"Ada apa?" tanya Tsunade.

"Ada telepon dari Madara-sama." jelas Shizune.

"Baiklah, katakan padanya untuk menunggu sebentar." perintah Tsunade yang di ikuti anggukkan kepala Shizune. Kemudian, meninggalkan tempat itu.

"Madara-sama?" kata Sasori penuh tanda tanya.

Sementara Sakura, Gaara serta Kakashi hanya terdiam dalam pemikiran masing-masing.

Di tempat Tsunade berada,

"Halo, Madara." ucap Tsunade setelah mengangkat gagang telepon.

"Hay, Tsunade. Lama sekali tak bertemu denganmu, ya?" jawab suara dari tempat lain.

"Sudah, tidak usah bertele-tele. Katakan apa maumu!" suara Tsunade sedikit tinggi dan jengkel. 'Dasar pak tua sialan, dari dulu tidak pernah berubah.' batin Tsunade kesal.

"Baiklah. Kau sudah membaca koran pagi ini tentunya," jawab Madara. "Jadi, apa benar gosip bahwa kau adalah dalang dari pembunuhan Danzo?" lanjut Madara dengan nada serius.

"Tentu saja tidak. Kau tahu sendirikan, organisasiku tidak pernah melakukan hal se-menjijikkan itu." balas Tsunade masih jengkel dengan pertanyaan lawan bicaranya.

"Jadi, kalau bukan kau. Lalu, siapa?"

"Mana aku tahu, bodoh. Lagi pula, kalau pun aku tahu siapa yang melakukannya. Aku tidak akan memberitahukannya padamu, aku akan melakukannya sendiri dengan tanganku." terang Tsunade panjang lebar.

"Jadi, bisa ku simpulkan bahwa kau belum menemukan pelaku sebenarnya." balas Madara.

"Kalau kau meneleponku hanya untuk mengatakan itu, lebih baik ku tutup saja pembicaraan ini."

"Eh, tunggu! Selain itu masih ada hal lainnya yang ingin aku bicarakan denganmu, tapi tidak di telepon." kata Madara tiba-tiba.

"Lalu, apa maumu, heh?" tanya Tsunade jengkel.

"Aku ingin kita saling bertemu." jawab Madara dengan nada suara dibuat seserius mungkin.

"Baiklah. Dimana dan kapan?"

"Di Ichiraku Ramen, pukul 2 siang ini."

"Baiklah, kalu begitu." jawab Tsunade ogah-ogahan.

"Tapi, ajak juga putrimu itu." kali ini Madara bersuara seolah tengah mengancam seseorang.

"Hm."

Setelah jawaban terakhir dari Tsunade, wanita paruh-baya itu pun memutuskan pembicaraan mereka.

Kediaman Senju, pukul 1.30 P.M.,

"Sakura, Gaara!" teriak Tsunade, memanggil kedua anaknya.

"Ada apa, Kaa-san?" tanya Sakura heran melihat Kaa-sannya telah berdandan rapi seolah akan menghadiri jamuan penting.

"Kalian sekarang cepat bersiap-siaplah, dan ikut dengan Kaa-san." perintah Tsunade pada keduanya.

Perjalanan menuju Ichiraku Ramen,

"Kaa-san, memangnya kita mau kemana?" tanya Sakura yang duduk di kursi samping pengemudi mobil Jaguar XF warna hitam metalik yang kini tengah melaju dengan kencang membelah jalanan yang hari ini lumayan sepi.

"Lihat saja nanti, kau juga akan tahu." jawab Tsunade dari belakang Sakura. "Gaara, kita berhenti di depan sana." lanjut Tsunade, kali ini berbicara pada putra bungsunya yang tengah menyetir. Sedangkan Gaara hanya mengangguk sebagai tanda mengerti.

Maka, mobil itu pun berhenti di area parkir yang berada di depan Ichiraku Ramen. Ketiga orang yang berada di dalam mobil itu pun keluar dan berjalan memasuki restoran ramen yang terkenal itu.

Saat Tsunade masuk ke dalam, seorang pria yang hampir seumuran dengannya melambaikan tangan.

"Sudah lama?" tanya Tsunade tidak memperdulikan pandangan heran kedua anaknya.

"Yah, lumayan juga." jawab Madara asal.

"Langsung ke intinya saja, Madara." kata Tsunade dengan nada serius.

"Tidak harus seformal itu juga kan. Oya, kau belum memperkenalkan mereka." sahut Madara sembari melirik Sakura dan Gaara.

"Mereka anak-anakku. Sakura dan juga si bungsu Gaara."

"Yah, kalau putrimu itu aku sudah pernah bertemu sih. Iyakan Sasuke?" Madara langsung memandang keponakannya itu.

"Hn," jawab Sasuke singkat.

"Tapi, kalau yang bungsu aku baru tahu kau masih memiliki anak lainnya," oceh Madara. "oya, Sakura,"

Merasa namanya disebut, Sakura langsung mengadahkan kepalanya yang sedari tadi merunduk.

"Ini adalah Itachi. Dia itu kakak Sasuke." lanjut Madara lagi.

"Salam kenal." kata sakura pada Itachi yang di sambut tawa Madara.

"Kalian tidak perlu se-kaku itu, dong." sindir Madara.

"Lalu, apa maumu?" tanya Tsunade mengalihkan pembicaraan yang tidak penting itu.

"Mau ku?" tanya balik Madara, namun kali ini dengan nada serius.

"Ya, maumu." sahut Tsunade kesal.

"Aku ingin menawarkan sebuah kerja sama." terang Madara.

"Kerja sama tentang apa, hah?" tanya Tsunade penasaran.

"Sebuah kerja sama yang akan menguntungkan kita berdua."

"Maksudmu?"


Buat tambahan bagi para readers.

Di sini Ichiraku Ramenya paman Teuchi, saya buat seperti restoran kelas atas bukan warung kaki lima seperti di Naruto.