Summary: Naruto adalah anak yang selalu dianiaya dan disakiti karena kyuubi yang disegel dalam tubuhnya. saat keadaan semakin kejam tak terkendali, seorang pria datang menolong. akankah pria ini membuat hidup Naruto berubah?
Warning: OC, tapi bukan kayak Gary Stu; juga ada penampilan karakter yang jarang bakal tampil atau sekali pakai (emang barang, bisa sekali pakai…), good Kyuubi, FemKyuubi and GoodParentKyuubi.
Oh iya, di fic ini naruto lebih tua 1 tahun dari rookie 9 lainnya.
Hai semua~, sehat2 aja kan? Moga2 masih semangat baca cerita saya yaaa...
Anyway, back to story.
Baka Tantei Seishiro Amane present…
ANOTHER LIFE CHANCE
CHAPTER 7: THE BOY WHO HAD A BROKEN SEAL
Sebelumnya…
"Lalu, apa permintaanmu, kakek?" tanyanya. Hiruzen tersenyum.
"Aku ingin kau mengawasi Mizuki. Karena ada kemungkinan dia mendekatimu untuk menjalankan rencananya." Perintah Hiruzen.
"Siap!!!" Naruto akan pergi saat Hiruzen memanggilnya.
"Ada apa lagi, kakek?"
"Ada satu lagi…" Hiruzen menyerahkan sebuah laporan pada Naruto.
"Apa ini?"
"Ada seseorang yang ingin kupertemukan denganmu. Dia akan menjadi misimu selanjutnya."
Naruto sedang berjalan ke arah lembaga rehabilitasi Konoha. 'Dasar kakek… Menetapkan seenaknya…' pikirannya kembali pada pembicaraan mereka beberapa saat tadi.
Ruangan Hokage, 30 menit sebelumnya…
"Apa maksudmu, dengan misiku selanjutnya?" Naruto memandang Hiruzen bingung. Hiruzen beranjak dari kursinya, berjalan ke arah jendela.
"Kau tahu siapa saja para pewaris klan generasi berikutnya dari setiap klan?" Naruto menggeleng. "sebagian dari murid akademi yang akan lulus tahun ini adalah calon pewaris dari klannya masing-masing. Mereka semua memiliki sesuatu yang spesial dari diri mereka, yang membuat mereka dijadikan calon pemimpin." Hiruzen menghembuskan asap rokok.
"Sesuatu yang spesial?" tanya Naruto. Hiruzen menengok pada Naruto, mengangguk.
"Dari Aburame, ada Shino Aburame yang secara alami menumbuhkan spesies terkuat dari serangga pingisap chakra klannya.
Dari Inuzuka, Ada Kiba Inuzuka dan Akamaru. Kemampuan breeding Kiba yang setara kakaknya yang merupakan dokter hewan, serta Akamaru yang dikatakan keturunan murni anjing ninja terkuat, membuat mereka dipastikan menjadi calon kepala klan.
Dari Hyuuga, Ada Hinata Hyuuga. Walau terlihat lemah, namun sebenarnya Hinata memiliki bakat untuk memakai tipe juuken unik yang hanya dikuasai anggota Souke klannya.
Dari Haruno, ada Sakura Haruno, yang dikatakan memiliki bakat 'berkomunikasi' dengan 'kepribadian lainnya', yang merupakan bagian dari garis keturunan khusus klannya, Second Soul."
Naruto memotong penjelasan Hiruzen. "Kakek, memangnya aku akan ingat semua hal itu? tolong langsung pada intinya saja." Dia berkata sambil tersenyum lebar. Hiruzen menghela napas.
"Aku ingin, setidaknya kau melindungi beberapa orang murid akademi sampai mereka menjadi Chuunin. Alasanku memakaimu karena mereka yang akan kau lindungi tidak memiliki perlindungan klannya, atau klan mereka kurang besar untuk memakai pengaruhnya sampai keluar desa." Naruto mengangguk-angguk.
"Lalu… Orang yang laporan ini tunjukkan juga?" katanya, menunjuk laporan yang ada ditangannya. Hiruzen mengangguk. Dia lalu meminta Naruto membaca laporan itu. ternyata, laporan itu adalah data lengkap seseorang.
Nama: Hisakata Hakumei
Umur: 12 tahun
Naruto melewatkan bagian lainnya (Tinggi, berat badan, etc.) dan langsung ke bagian info-info tambahan.
Catatan:
Buta. Memiliki setengah darah Hyuuga, setengahnya lagi dari luar konoha.. Bisa memakai Byakugan sesuai keinginan, tanpa terhalang batasan kemampuan mata. Memakai pedang, dengan jenis ilmu pedang turunan keluarga.
Nilai (berdasarkan akademi):
Ninjutsu: C
Genjutsu: S (akibat kebutaan, dia tak terpengaruh Genjtusu)
Taijutsu: B
Penggunaan senjata ninja: D
Naruto bingung harus mengatakan apa. 'Dia keturunan Hyuuga dan orang luar? Kata Hinata, bahkan Bunke klan Hyuuga sendiri dilarang menikahi orang luar desa. Tapi ini…' dia memandang Hiruzen. "Apa ini asli?" Hiruzen tertawa.
"Info itu didapat ANBU terbaik, dan dibenarkan oleh dia dan klan Hyuuga sendiri… Percayalah." Naruto terdiam. Dia memandang lekat-lekat laporan itu.
"Sudah… tak ada gunanya diam. Sebaiknya kau segera menemuinya." Kata Hiruzen. Naruto masih diam. Dia terlihat berpikir sejenak. Lalu, dia memandang Hiruzen.
"Apa dia tidak mendapatkan perlindungan dari klan Hyuuga?" Tanyanya. Hiruzen menghela napas, lalu beranjak ke kursinya. Dia menatap jendela.
"Tidak… Sebenarnya Hiashi bermaksud memboyongnya ke klan Hyuuga, namun para tetua klan Hyuuga menolak rencana itu. selain itu, dia memiliki sesuatu, yang membuatnya harus menghindari orang banyak." Jawab Hiruzen.
Naruto semakin bingung dengan informasi itu. Dia pun menanyakannya. "Sesuatu apa?"
Hiruzen tersenyum, lalu berkata, "Pergilah kesana, kau akan tahu tentang itu saat bertemu dengannya." Dia berbalik, memandangi gunung Hokage.
Flashback end
Lamunan Naruto terlepas saat dia memasuki areal lembaga rehabilitasi Konoha. Lembaga ini dikhususkan pada pasien yang menggunakan jurus terlarang atau percobaan ilegal sehingga membuat mereka harus tinggal disana untuk menghilangkan efek samping dari apapun yang mereka lakukan. Lembaga ini terletak di arah selatan Konoha, di areal hutan lebat negara Api. Bisa dibilang, tempat ini salah satu dari sedikit fasilitas Konoha yang terletak diluar desa.
Naruto bertanya dalam hati, 'Apa yang dialami anak itu sampai membuatnya ada disini?' dia melewati jalan setapak dan sampai di sebuah bangunan besar. Bangunan itu, menurut perhitungan Naruto ukurannya mencapai ¼ dari luas desa Konoha. Dia memandang dengan kagum. Dia kemudian masuk ke bagian dalam.
Suasana di lembaga ini tak seperti di rumah sakit. Bukannya pemandangan orang-orang yang terbaring di ranjang, Naruto malah melihat sekumpulan orang terlihat sibuk dengan kegiatan berlatih ilmu ninja mereka. Para pengawas pun tidak memakai seragam ala rumah sakit, melainkan baju kasual dan seragam training, diantara mereka juga ada yang memakai baju ninja umum.
Dia menuju bagian informasi, menanyakan tentang anak yang dicarinya. Begitu mendengar nama itu, sang penjaga bagian Informasi segera menghubungi seseorang. Dia lalu meminta Naruto menunggu. Tak lama kemudian, muncul sosok yang familiar di mata Naruto. "Bibi Nodoka?" katanya.
Nodoka pun terkejut melihat Naruto. Mereka terdiam sesaat, lalu Naruto buka suara. "Bibi!!!! Lama tak bertemu!!!" Dia tersenyum lebar.
Nodoka tertawa. "Kau ini… Aku masih 34 tahun…" katanya. Mereka pun berjalan pergi sambil mengobrol. "Jadi… Hokage-sama memintamu datang kemari untuk bertemu Hisakata?" tanyanya, setelah mendengar cerita Naruto.
"Ya. Ngomong-ngomong… Orangnya seperti apa, Hisakata itu? aku Cuma mendapat laporan umum, soalnya…" Naruto bertanya sambil memandang Nodoka. Nodoka berpikir sejenak, lalu tersenyum.
"Tentang hal itu… Sebaiknya kau tahu sendiri dari orangnya. Aku yakin, kau akan bisa mengerti dia…" Katanya. Mereka berjalan hingga ke areal yang di jaga secara khusus. "Nah, aku hanya mengantar sampai sini. Kau tinggal pergi menuju taman itu." Nodoka memberi tahu Naruto, lalu pergi.
Naruto melewati para penjaga, setelah memberi tahu apa tujuannya kemari. Dia memasuki areal taman, melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Disekitar taman terdapat jejak seperti sisik ular, juga bekas cakaran. Beberapa, menurut Naruto sudah tertoreh cukup lama. Mungkin sudah beberapa tahun lamanya. Dia berjalan ke arah pepohonan.
Dia melihat seorang lelaki, sedang bersemedi diatas batu besar. Dia mengenakan Hakama putih dan sandal ninja berwarna sama. Disebelahnya, ada sebuah tongkat tergeletak. Naruto bergerak menjauh sepelan mungkin, agar dia tidak terganggu. Tiba-tiba, dia memandang ke arah Naruto dengan pandangan menerawang. "Tidak usah sungkan. Silahkan…" dia turun dari batu besar itu.
Naruto tertawa gugup, dia mendekati orang itu dengan ragu-ragu. "Maaf kalau mengganggu…" Naruto baru sadar saat melihatnya dari dekat. Matanya, alih-alih berwarna lavender atau ungu muda yang pucat seperti Hyuuga lainnya, malah abu-abu. Dia pun tidak memiliki rambut seperti orang Hyuuga. Rambutnya, walau hitam pekat, namun bergelombang.
Dia menggeleng, "Tidak… Aku cuma sedang berkonsentrasi…" Dia lalu mengeluarkan Byakugan, dan memperhatikan Naruto. "Sesuai dugaanku. Kau memiliki kapasitas chakra yang besar. Aku sampai merasakannya dengan jelas." Katanya. Naruto tertawa mendengarnya.
"Ngomong-ngomong, kamu siapa?" tanya lelaki itu. Naruto menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jarinya.
"Naruto Uzumaki, calon Hokage berikutnya!!! Aku diminta untuk menemuimu, Hisataka Hakumei," Dia memperkenalkan dirinya. Hisakata terkejut bahwa lelaki pirang yang baru ditemuinya mengetahui namanya. "Aku diminta kakek Hokage untuk menemuimu. Dia bilang sih, kamu punya masalah yang dapat kumengerti dan aku dapat menolongmu." Jelas Naruto. Hisakata teringat lagi percakapannya dengan Hokage beberapa hari lalu.
Flashback…
Tidak seperti biasanya, kali ini Hiruzen datang tiba-tiba, dengan wajah serius. Dia memandang Hisakata sesaat, lalu berkata. "Hisakata… kau ingin jadi shinobi?" tanyanya.
"Ya. Sebenarnya, aku ingin menjadi shinobi… tapi…" kata-katanya dipotong oleh Hiruzen.
"Kau benar-benar ingin menjadi Shinobi?" Hisakata mengangguk. Hiruzen tersenyum. "Kalau begitu, aku akan meminta seseorang datang. Dia memiliki masalah yang mirip denganmu, namun dia telah mengatasinya dan menjadi kuat. Dia akan menolongmu menyelesaikan masalahmu." Dia menepuk bahu Hisakata, lalu pergi meniggalkannya yang bingung.
Flashback end.
'Jadi orang ini…' Dia berpikir sejenak. Kemudian, dia bertanya "Apakah kamu memiliki sesuatu yang disegel dalam dirimu?" Naruto terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Kamu juga?" mereka terdiam beberapa saat. Suara Naruto memecah kesunyian. "Jadi begitu… Kau ini… Jangan-jangan tidak bisa mengontrol kekuatan dalam dirimu ya?" Hisakata mengangguk. Naruto berpikir sejenak. Lalu dia menggigit ujung jarinya dan melakukan kuchiyose.
Dari asap, muncul seekor wanita muda dengan baju kimono ala geisha. Dia memiliki mata semerah rubi dan berambut merah kecokelatan. "Ada apa, bocah? Kalau tidak penting, kau akan kuhajar." Katanya mengancam. Naruto menaggapinya sambil lalu.
"Tenang, ini cukup penting. Aku ingin kamu menolongku untuk sesuatu. Hakumei-san, tolong perlihatkan segelmu." Kata Naruto. Hisakata, walau ragu-ragu membuka hakamanya, memperlihatkan segel berbentuk 2 naga melingkar dipunggungnya. Mereka memperhatikannya dengan seksama. Wanita itu terkejut, sedangkan Naruto menahan napas.
"Kenapa?" Hisakata berkata, bingung dengan apa yang didengarnya. Naruto memandang wanita itu.
"Bocah… Seharusnya kau bilang bahwa aku akan bertemu keturunan Seiryuu…" wanita itu berkata, kesal. Naruto hanya angkat bahu.
"Mana kutahu tentang itu… Aku bahkan baru bertemu dia hari ini. Apa kau bisa membetulkan ini?" kata Naruto. Wanita itu tertawa.
"Kau pikir siapa aku, hah? Aku dapat melakukannya, namun aku butuh sebagian dari chakra yang disegel sebagai contoh, untuk memperbaiki segel ini." Wanita itu menjawab. Naruto berpikir sejenak.
"Memperbaiki segel? Apa maksudnya, Naruto? Nona..." Hisakata bingung.
"Namaku Tamamo. Segelmu ini sebenarnya hanya segel sementara, belum sempurna. Orang yang melakukan penyegelan ini bermaksud menghindarkanmu dari bahaya sampai kamu bertemu seseorang yang dapat menyempurnakan segel ini… Kamu bukan berasal dari desa ini, kan?" kata Tamamo.
"Benar… Sebenarnya, yang melakukan ini adalah ibuku… Rumah kami sedang diserang oleh penjahat saat itu. Dia menyuruhku pergi Ke Desa Konoha. Dia bilang, sesampainya disini aku harus menemui Yondaime Hokage. Namun, saat aku sampai kemari, Hokage yang sekarang memberi tahuku bahwa Yondaime sudah wafat bertahun-tahun silam." Jawab Hisakata.
"Jadi… Bagaimana cara mengeluarkan chakra yang disegel didalamnya?" Tanya Naruto. Tamamo melihatnya sambil menyeringai. Naruto menelan ludah. "Jangan-jangan…"
"Naruto, bertandinglah dengannya. Dari mekanisme segel yang kulihat, chakranya akan muncul saat dia sedang mengalami bahaya. Cobalah melukainya sedikit saja, dan kekuatannya akan keluar seluruhnya, tanpa bisa dikendalikan." Jawab Tamamo tenang. Naruto mengerutkan dahi mendengarnya.
"Kau bisa mengatakan itu dengan tenang karena kau tidak bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi nantinya… Aku bisa disalahkan kalau menyerangnya!!!" Naruto memprotes. Tamamo memandangnya kesal.
"Baik… Aku yang melakukannya. Tapi, mungkin dia dan seluruh tempat ini akan tersapu bersih dalam sekali sabetan… Kau pilih yang mana, Bocah?" Aura membunuh terpancar jelas darinya, membuat Hisakata merinding. Naruto tertawa gugup. Dia kemudian mendesah.
"Baik-baik… Aku akan melakukannya… Kau puas? Dasar tukan memaksa…" Katanya. Tamamo tersenyum lebar. Naruto kemudian berbalik, berhadapan dengan Hisakata. "Hakumei-san… Maaf, sepertinya kita harus bertanding." Hisakata mengangguk.
"Tak apa-apa, Naruto-san. Dan panggil saja aku Hisakata." Jawab Hisakata. Naruto mengagguk. Mereka bergerak menuju ke tengah taman besar tersebut. Mereka mengambil posisi bertarung. Naruto menggunakan Kodachi-nya. Hisakata menarik ujung tongkatnya. Ternyata, itu adalah sebilah katana yang tersembunyi. Dia menggenggam katana itu dengan tangan kanannya.
Mereka pun mulai saling menyerang. Hisakata mencoba menyerang leher Naruto, namun Naruto hanya menahannya dengan kodachinya. Dia berputar, menebas pinggangnya. Naruto sekali lagi hanya menahannya seakan itu hanyalah serangan anak kecil. "Hei… Kau tidak akan bisa memunculkan chakranya kalau kau tidak membalas serangannya, bocah." Tamamo berkata.
Naruto mendengus, namun mulai menyerang juga. Dia menendang Hisakata tepat di perutnya. Hisakata mencoba menyerangnya dengan pedangnya, namun pedangnya hanya memotong angin. Dia kembali menendang Hisakata. 'Cepat… Dan kuat…' dia berpikir sambil memegang perutnya yang ditendang. Dia nyaris tidak sadar bahwa Naruto mengayunkan Kodachi-nya ke arahnya.
Dia dapat menghindari sabetan kodachi tersebut, namun bahunya terluka. Tiba-tiba, semua yang ada ditaman itu merasakan aura yang sangat kuat muncul. Naruto dan Tamamo memandang Hisakata. Dia memegangi pundak kanannya yang terluka, untuk alasan yang berbeda.
Chakra berwarna emas merembes keluar dari tubuhnya dan menyembuhkan tangannya yang terluka. Tamamo segera menarik sebagian chakra itu. Dia mengekstrak chakra itu, sambil membuat pelindung disekitar taman tersebut. "Naruto, halangi dia sampai aku selesai!!!" Naruto mengangguk, segera mendekati Hisakata.
"La… ri… lah…" Kata Hisakata, sedang berusaha menahan tangan kanannya. Pembuluh darah mulai muncul disekitar tangan kanannya.
"Tenang. Aku akan menghentikan dari apapun yang akan kau lakukan." Jawab Naruto. Tiba-tiba, tangan kanannya dilapisi cahaya keemasan. Saat cahaya itu memudar, tangan kanannya mengeluarkan sisik sekeras baja dengan kuku-kuku yang sangat tajam.
"ROOOARRR!!!!" Dia memukul Naruto dengan cakarnya, membuat Naruto terpental beberapa meter. Dia kemudian mendekati Tamamo. Dia segera menyerang Tamamo, namun ada seseorang mencegahnya.
Lelaki itu terlihat seperti Hanyoo. Dia memiliki cakar dan taring siluman, dengan kuping rubah berwarna emas mencuat di kepalanya. Dibelakang tubuhnya, ada 4 ekor berwarna emas melambai-lambai perlahan. Matanya berwarna biru cemerlang, dengan pupil yang menyempit secara vertikal.
"Naruto!!! Kau tidak apa-apa?" tanya Tamamo pada lelaki itu, yang ternyata Naruto. Dia mendesak mundur Hisakata yang mengamuk.
"Aku baik-baik saja!!!" dia berkata. Memang, luka cakaran yang diterimanya telah sembuh sempurna. Dia berhasil melempar Hisakata. Namun, dia kembali berdiri. Kini, tangan kiri dan kedua kakinya ikut berubah. Ekor pun mulai muncul dari bagian belakangnya. "Berapa lama lagi, Tamamo? Kalau terus seperti ini, aku tidak yakin bisa menahannya tanpa menyebabkan luka serius!!!" Kata Naruto.
"Tunggu sebentar lagi. Ini bukan hal yang mudah. Soalnya, dia keturunan 'Hitam' Seiryuu, bocah!! Tahan sebentar lagi!" Tamamo menjawab. Naruto menggeram, sambil melempar Hisakata lagi. Tiba-tiba, dia merasakan adanya pemusatan chakra. Dia memandang Hisakata yang mulai menyemburkan api berwarna hijau.
"Sial!!!" Dia mengumpulkan chakra ditangannnya, lalu memukulkannya ke tanah. Muncul dinding es tebal menahan api tersebut. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Hisakata. Dia menciptaka ilusi mata dengan embun, lalu mengunci pergerakannya. "Ukh… terpaksa pakai itu…" Dia bergumam.
Dia menarik napas dalam. Lalu berkata pelan. "Elemen es, belenggu salju abadi." Di sekujur tubuh Hisakata muncul rantai yang menyatu dengan belenggu yang melingkari leher, tangan dan kakinya. Semua belenggu itu tersambung kedalam tanah. Semakin dia memberontak, belenggu itu semakin menariknya ke dalam.
Napasnya mulai berembun. Bagian tubuh disekitar belenggu tersebut pun mulai memunculkan kristal es. "Tamamo!!!! Cepatlah, dia mulai membeku!!!" Naruto berteriak. Tamamo segera datang. Dia mulai merapal segel.
"Bungkukkan dia!!!" Naruto mengubah arah belenggu sehingga dia tersungkur dengan punggung terbuka. "Fuuinjutsu!!! Teknik segel sembilan naga!!!" Dia meletakkan chakra yang telah di ekstrak ke punggung Hisakata. Sontak, dia meraung dengan keras, bagian depan tubuhnya mulai berwarna hitam legam. "Lepaskan belenggu itu dan bantu aku. Alirkan chakra 'hitam'nya keluar!!!" Naruto mengangguk. Dia mula berkonsentrasi.
Seketika, dari tangannya keluar chakra berwarna ungu. Matanya pun berubah menjadi ungu. Dia terlihat seperti dalam keadaan 'trance'. Dia meletakkan tangannya ke dada Hisakata. Chakra hitam tersedot kedalam tubuhnya. Dia bergidik saat chakra itu masuk ke dalam tubuhnya. Dia melepas tangannya saat seluruh chakra hitam itu tersedot dan tubuh Hisakata kembali ke semula.
Tamamo segera menyelesaikan segelnya. Tubuh Hisakata kembali ka semula. Di punggungnya, segel itu berubah. Sekarang, terdapat sembilan naga saling berputar di dalam lingkaran yang terbuat dari tulisan kaligrafi. Dia pun segera tak sadarkan diri. Tamamo mendekati Naruto.
"Bocah, kau tak apa-apa?" Tamamo bertanya. Naruto memandangnya. Matanya masih berwarna ungu dan disekitarnya terdapat aura aneh. Tamamo terkejut, lalu berlutut dihadapannya. "Maafkan saya." 'Naruto' itu menariknya berdiri.
"Tak apa-apa, Tamamo…" suaranya jadi lebih berat dari biasanya. "Ini dimana? Aku belum pernah melihatnya," Tanya 'Naruto'. Tamamo merapal segel, lalu meletakkan telapak tangannya di kepala 'Naruto'. "Begitu… Ternyata, sudah lama sekali sejak aku tertidur." 'Naruto' berkata.
"Tidak biasanya anda terjaga cukup lama. Apakah ada sesuatu?" Tanya Tamamo pada 'Naruto'. Dia memandang Hisakata.
"Chakra anak itu cukup sulit dinetralisir. Aku harus terjaga beberapa saat. Kalau aku menyerahkan ini pada bocah ini, dia tak akan bisa menetralisirnya." Jawab 'Naruto' tersebut. Tamamo mengangguk setuju. Tiba-tiba, mereka memandang ke arah luar pelindung.
"Sepertinya, ada tamu yang datang… Sebaiknya kita sambut mereka, Tamamo." Kata 'Naruto. Tamamo mengangguk, lalu melepas pelindung tersebut. Hiruzen segera muncul, bersama sekitar 30 ninja dan ANBU bersamanya. Dia memandang sekeliling, matanya bertemu pada Naruto, Hisakata dan Wanita yang tak dikenal olehnya yang sedang mengangkat Hisakata. Seluruh ninja yang akan menyerang ditahan olehnya.
"Naruto, apa yang terjadi sebenarnya? Siapa wanita itu?" tanya Hiruzen. Tamamo berusaha menjawab, namun 'Naruto' menahannya. Dia maju ke hadapan Hiruzen. Hiruzen menyadari ada yang berbeda dari Naruto yang ada dihadapannya, selain matanya yang menjadi ungu. Iruka yang ada disana pun menyadarinya.
"Maaf kalau kami membuat kepanikan. Kami sedang memperbaiki segel anak itu, agar dia tidak kesusahan akibat kekuatannya yang tak terkendali." Jawab 'Naruto'. Mereka semua menyadari kalau dia bukan Naruto yang mereka kenal dari suaranya. Mereka sudah akan menyerang kalau Hiruzen. Tidak berteriak.
"SEMUA DIAM!!! JANGAN ADA YANG BERGERAK SELANGKAHPUN!!!" semua ninja terkejut, lalu melakukan perintah Hokage mereka. "Siapa kau? Atau yang lebih tepat, roh siapakah kau?" semua bingung, kecuali Shikato Nara yang ada disana. Dia segera maju menjelaskan.
"Tubuh itu tubuh Naruto. Kalian perhatikan chakranya dengan seksama. Tak ada pemilik chakra ini selain Naruto. Namun, suara dan aura yang dikeluarkan bukan milik Naruto. Pilihan pemecahan masalah ini hanya satu, ada roh lain merasuki Naruto dan menidurkan kesadaran Naruto. Kalau kepribadian ganda, semestinya tak akan merubah suaranya sampai sedrastis itu. menyusahkan saja…" Jelas Shikato.
"Apa yang kau lakukan pada Naruto?" Iruka maju ke depan. 'Naruto' tersenyum.
"Ah… Kau pasti Umino Iruka yang sering dibicarakan Naruto. Dia tidak apa-apa, hanya tertidur seperti penjelasan orang itu," kata 'Naruto' sambil menunjuk Shikato. "Aku biasanya hanya muncul sesaat. Namun kasus kali ini berbeda, membuatku terpaksa terjaga demi melindungi anak ini." Lanjutnya sambil memegang perutnya, tempat segel itu berada.
Hiruzen melangkah mendekati Naruto yang berbeda itu. "Sudikah anda menceritakan ini, tuan…" Kata-kata Hiruzen terputus. 'Naruto' itu tertawa kecil.
"Yami. Kau bisa memanggilku Yami. Wanita itu bernama Tamamo. Aku akan menceritakannya, namun sebaiknya tidak disini. Karena, mungkin pembicaraan ini akan berlangsung lama. Lagipula, Naruto berpesan untuk memastikan anak bernama Hakumei itu baik-baik saja. Jadi, sebaiknya anak itu dibawa ke kamarnya dahulu." Roh yang memanggil dirinya 'Yami' itu berkata.
Hiruzen mengangguk. Dia memerintahkan seseorang untuk membawa Hisakata menuju kamarnya, lalu dia mengajak Tamamo dan 'Yami' menuju gedung Hokage.
Hiruzen dan anggota dewan Konoha kini tengah menunggu kedatangan 'Yami' dan Tamamo. Pikirannya kembali pada kejadian tadi. 'Bisa-bisanya berita ini cepat tersebar.' Pikirnya, sambil menyandarkan dirinya di kursi. Dia menghisap rokok di pipanya dalam-dalam.
Di sisi lain, Danzou sedang duduk disana. 'Ini waktunya menarik bocah Kyuubi itu ke 'NE' ANBU.' Pikirnya. Namun, semua anggota dewan (kecuali Hokage dan trio ino-shika-chou) tidak berharap untuk mengalami sesuatu yang akan terjadi selanjutnya, terutama Danzou.
Pintu terbuka. Randou masuk bersama Tamamo dan 'Yami'. Dia telah mengganti jumpsuitnya dengan yukata berwarna hitam, dengan sulaman rubah di sisi kanannya. Mereka pun duduk di sisi Hokage. "Baik, dengan ini, pertemuan dewan resmi kubuka." Hiruzen berkata.
Suara-suara bergumam muncul dari kalangan anggota dewan. Utatane angkat suara. "Aku mendengar dari sumberku, bahwa sekitar satu jam lalu, Naruto dikatakan menggunakan chakra Kyuubi dan menyerang seorang pasien di lembaga rehabilitasi Konoha." Para anggota dewan semakin ramai. Untungnya, Randou telah memberi tahu ini pada 'Yami' dan Tamamo.
Flasback…
Hiruzen, Tamamo dan 'Yami' sedang duduk di ruangan Hokage saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Randou muncul bersama Tamao memasuki ruangan. "Yay!!! Mama!!!!" Tamao segera berlari kearah Tamamo, yang disambut dengan pelukan oleh Tamamo. Randou mendekati Tamamo dengan canggung. Dia hanya berdiri, tak berani berbuat apa-apa. Tamao menariknya. "Ayo sini, papa!!!"
"Hai, Tamamo…" dia menyapa dengan gugup. Tamamo tersenyum nakal. Dia mendekati Randou, memeluknya. Lalu dia mengeluarkan air mata palsu.
"Apa kau tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu, Ran-kun… Memang, aku ini siluman kejam. Beda dengan manusia yang lembut…" dia melanjutkan tangisan palsunya. Membuat Randou salah tingkah. Akhirnya, dia balas memeluk Tamamo.
"Ma-maaf… Aku hanya sedikit gugup, tamamo-chan…" dia berkata sambil mengelus kepala Tamamo. 'Yami' menghela napas, melihat tingkah mereka. Sedangkan Hiruzen melihat ini dengan penuh minat. Pemandangan semacam ini jarang terjadi, soalnya.
"Gah, dasar anak muda. Masih 'hangat' rupanya… Cari kamar, sana," 'Yami' berkata dengan bosan, membuat mereka tersadar dan melepas pelukan mereka. Randou memandang ke arah lain dengan wajah memerah, sedangkan Tamamo memberi tatapan 'jangan-ganggu' dengan kesal. "Terserah. Aku dengar ada yang akan kau sampaikan, Randou. Apa itu?" tanya 'Yami'.
Randou berdehem, lalu kembali menatap mereka. "Anda telah mendapat ingatan tentang apa yang terjadi, termasuk tentang anggota dewan?" 'Yami' mengangguk. "Menurut sumberku, mereka saat ini sedang merencanakan pertemuan. Mungkin, mereka bermaksud menyudutkan Naruto dan membuatnya menjadi senjata yang berpihak pada anggota dewan, bukan desa dan Hokage." Kata Randou.
Mereka tenggelam dalam pikirannya. 'Yami' angkat bicara. "Aku sudah menginformasikan ini pada Naruto. Dia bilang, menyerahkan ini padaku. Katannya, orang tua sebaiknnya dihadapkan pada orang tua lainnya. Kalau dia yang maju, mungkin pertemuan itu akan jadi kacau," semua tak bisa tidak tersenyum mendengarnya. 'Jawaban khas Naruto.' Pikir mereka.
"Kalau begitu, ini mudah saja…" Tamamo angkat suara. Mereka mendengar rencana Tamamo. Randou terkejut, menatap khawatir pada Tamamo. Dia memberi pandangan menenangkan pada Randou. "Tenang… Aku tahu apa yang kulakukan." Namun, Randou tetap terlihat khawatir. Dia mengajak Tamamo bicara berdua. Mereka menunggu selama beberapa saat. Mereka kembali, namun ada yang aneh dengan Randou. Dia terlihat menerawang.
"Apa yang kau lakukan, Tamamo?" tanya 'Yami'. Tamamo tersenyum nakal pada Randou, lalu berkata.
"Cuma sedikit bujukan… Benar kan, Ran-kun~?" Yang ditanya hanya mengangguk saja.
"Baiklah. Kita lakukan rencana ini."
"Terkadang, ada perlunya menyadarkan kumpulan orang tua sisa-sisa dari perang itu."
"Yah, asal tidak keterlaluan sih, aku tidak masalah."
"Ayo. Kita segera bersiap-siap."
Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah yang akan mereka lakukan untuk menghadapi dewan?
Tunggu episode selanjutnya…
Baka Tantei Seishiro Amane sign out.
