Number Nine
Kisah klasik mengenai kehidupan asrama siswa badung yang kemudian menjadi persahabatan yang indah. Ada cinta, harapan, tawa, kesedihan dan juga kebahagiaan.
YAOI, SMUT, PORNOGRAPHY a Little, OOC, and Typo.
Pairing : Chanbaek(Main Pair),Kaisoo, Hunhan, KrisTao, dll.
Main Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun,Mr. Han (OC).
Do Kyungsoo, Kim Jongin,Oh Sehun,ParkLuhan(Marga saya ganti),Suho, Kris Wu, Kim Minseok, Chen, Tao, dan Lay.
Genre : Humor, Roman, drama.
Warning : Terinspirasi dari karya, Anthony Buckeridge—yang brilliant, tapi cerita sepenuhnya milik saya. No to Plagiator!
.
.
.
13. Guru Baru
Bunyi bel terdengar dua kali—pertanda bahwa jam pertama sudah selesai. Jam kedua akan diisi oleh guru baru. Guru sejarah yang sejak kedatangannya, sudah menjadi perbincangan di kalangan para siswa. Tentu saja, guru itu sepertinya tampan—jadi berita itu menyebar dengan cepat di kalangan para siswi.
"Kris, siapa nama guru baru itu?" tanya Baekhyun sambil tersenyum.
Kris menoleh dengan sikap segan.
"Kau berbicara denganku?"
"Ya. Guru baru itu. Siapa namanya?"
"Choi Siwon," jawab Kris. "Tapi, nama julukannya si otot besi. Kau bisa memanggilnya begitu saat bersama kami saja."
"Kenapa julukannya begitu?" tanya Baekhyun lagi.
"Karena dia memiliki otot-otot yang bagus. Semua guru-guru wanita meneriakinya seperti seorang fansgirl."
Baekhyun bersikap menunggu. Dikiranya masih akan datang penjelasan lebih lanjut. Tapi ternyata tidak.
"Lalu?"
"Kan tadi sudah kukatakan," kata Kris dengan sabar.
"Karena ia mempunyai otot yang luar biasa seksi itu—maka julukannya si otot besi. Dia memiliki otot seakan-akan ototnya itu terbuat dari besi."
"Oh," kata Baekhyun. "Jadi julukan itu lelucon, ya?"
"Otakmu ada di tumit rupanya, Baekhyun," kata Tao sambil tertawa. Baekhyun tidak mengerti mengapa semua teman-temannya tertawa. Ia lantas menoleh pada Chanyeol.
"Ada apa, sih?" tanyanya bingung.
Chanyeol menghela nafas lalu menjawab dengan lebih lembut—biasanya dia akan menjawab dengan nada yang datar.
"Mereka tertawa karena kau begitu lucu."
"Aku lucu?" tanya Baekhyun kaget.
Chanyeol mengangguk malas.
Merasa tidak puas dengan jawaban Chanyeol, Baekhyun hendak menanyakannya lagi—tapi tidak jadi ketika melihat guru baru itu sudah memasuki kelas.
"Selamat pagi..."
"Selamat pagi, Pak," jawab mereka kompak.
Guru baru itu tertawa puas.
"Saya adalah guru baru yang akan mengampu sejarah Korea. Nama saya Choi Siwon. Semoga kita bisa menjadi teman dan saya bisa menjadi tutor yang baik untuk kalian."
"Ya, Pak..." Mereka kembali menjawab dengan kompak. Mr. Choi berfikir dengan melihat bagaimana wajah lugu anak-anak ini—mungkin pendapat mengenai guru-guru yang lain bahwa anak-anak kelas dua-sembilan ini benar-benar menjengkelkan adalah fitnah!
Bagaimana bisa Mr. Han mengatakan bahwa anak-anak ini adalah anak-anak paling bandel di sekolah ini! Lihatlah, wajah polos dan lugu mereka! Mereka sangat imut!
"Hari ini... Saya ingin mengajarkan pada kalian bagaimana mengirim kartu pos yang benar. Apakah kalian sudah pernah mengirim kartu pos sebelumnya?" tanya Mr. Choi dengan lembut.
"Pak?" Kyungsoo mengacungkan tangannya.
"Ya?"
"Untuk apa melakukan itu? Kan, ada ponsel. Tinggal kirim pesan saja semuanya akan beres."
"Ya. Tapi, kita juga tidak boleh melupakan kartu pos begitu saja. Contohnya saja, mesin ketik. Kalian akan tetap membutuhkan mesin itu meskipun kalian punya komputer yang canggih. Kenapa? Untuk mengisi kolom tanggal dan sebagainya. Itu sangat penting."
Anak-anak mengangguk.
Mr. Choi berfikir ini benar-benar fitnah!
Anak-anak ini bahkan menurut sekali.
"Kalau begitu... sebelum saya memulai pelajaran tentang filsafat dan sejarah Korea, saya ingin kalian menulis pada kartu pos yang akan saya bagi ini. Kalian mengerti, kan?"
"Ne."
Mr. Choi mulai membagikan kartu pos. Para murid bertanya-tanya mengapa kartu pos ini kecil sekali. Bagaimana cara mereka menulis jika kartunya sesempit itu.
"Pak?" Kali ini Luhan yang mengacungkan tangannya.
"Ya?"
"Kepada siapa saya harus menulis, Pak?"
"Tentu saja kepada ayah dan ibumu."
"Apakah ini pura-pura atau nanti akan benar-benar dikirim?" tanya Xiumin penasaran.
"Benar-benar akan dikirim."
Anak-anak mulai ribut.
Kyungsoo masih diam berfikir kalimat apa yang akan disampaikan kepada orangtuanya. Karena ini pertama kalinya ia menulis di kartu pos. Ia mengambil pena lalu mulai menulis. Ia akan menulis dan menanyakan kepada mereka mengenai kesehatan kedua orangtuanya. Kyungsoo mulai menulis.
'Ayah. Ibu. Ini Do Kyungsoo. Putra kedua kalian yang sangat tampan dan pintar. Kalian tenang saja aku disini dalam keadaan baik-baik saja.'
Dengan huruf yang besar-besar sehingga lebih dari separuh lembar kartu pos terisi dengan tulisan begitu. Kyungsoo lalu melanjutkan.
'Ayah dan Ibuku yang kucintai dan kurindukan.'
Dengan huruf yang sama besarnya. Berukuran tinggi dan juga lebar—ia melihat bahwa kolom yang tersisa hanya cukup untuknya menulis satu baris kalimat saja. Yang lain sudah terisi penuh. Kyungsoo lalu menulis lagi.
'Mudah-mudahan kalian dalam keadaan—'
Kyungsoo berhenti menulis karena di kartu posnya tidak ada lagi tempat yang kosong. Ada tempat sedikit, tapi cukup untuk membubuhkan tanda titik saja. Lalu, Kyungsoo membuat tanda titik di kolom yang tersisa. Ia berdiri dari tempatnya duduk dan menyerahkannya pada guru barunya itu.
Mr. Choi tersenyum.
Tapi, begitu melihat tulisan Kyungsoo. Ia jadi bingung sendiri.
"Mudah-mudahan kalian dalam keadaan, apa?"
"Tidak, Pak, bukan dalam keadaan apa. Tapi dalam keadaan sehat."
"Yah. Mestinya begitu. Tapi, itu tidak kau tulis disini. Hanya ada titik. Itu sama sekali tidak ada artinya."
"Tapi tempat untuk menulis tidak ada lagi, Pak." Kyungsoo menunjuk huruf-hurufnya yang terlanjur dibuat besar olehnya. Lalu melanjutkan menjelaskan,
"Sebenarnya tidak apa-apa, karena dari tanda titik di ujung kalimat saya itu—ayah saya akan bisa tahu bahwa saya sudah selesai menulis. Jadi, kalimat itu terputus bukan karena saya dengan tiba-tiba berhenti karena dipanggil atau ada urusan mendadak."
"Ha? A—Apa?"
"Ya, kurasa ayah saya bisa mengerti, Pak."
"Ini sama sekali tidak ada artinya. Dari mana ayahmu bisa tahu—kalau kau mengharapkannya dalam keadaan yang kau maksud? Jangan-jangan ia nanti lantas menduga, kau mengharapkan bahwa mereka dalam keadaan—"
Mr. Choi tidak melanjutkan kalimatnya.
"Tapi sambungannya pasti harus sehat, Pak. Anda sendiri tadi juga sudah tepat menduganya. Dan jika Anda bisa menduganya setepat itu, maka Ayah saya pasti juga bisa. Masa saya mengharapkan bahwa Ayah dan Ibu saya berada dalam keadaan sakit. Itu baru aneh!"
Mr. Choi bingung dengan keadaan ini.
Jika Mr. Han yang sedang menghadapi anak-anak ini. Pasti guru Pengawas itu akan membentak Kyungsoo dan memarahinya macam-macam. Tapi, watak guru baru yang tampan ini memang sedikit berbeda.
Ia hanya mendesah dan menyodorkan selembar kartu pos yang baru pada Kyungsoo. Memintanya untuk menulis ulang. Kali ini dengan sedikit ancaman.
Sementara Kyungsoo mulai menulis lagi, Baekhyun masih belum menulis apapun. Ia bingung apa yang harus ditulisnya?
Baekhyun kemudian mulai menulis.
Selama hampir setengah jam menyelesaikan tulisannya, akhirnya Baekhyun telah selesai. Ia menjadi yang terakhir menyerahkan tulisan kartu pos tersebut. Dengan hati yang mantap, dibawanya kartu pos yang sudah penuh dengan tulisannya itu kepada Mr. Choi.
Mr. Choi kembali tersenyum.
Ia berpendapat mungkin hanya satu anak itu saja yang tadi sedikit aneh—Baekhyun yang tampak terlihat penurut dan manis ini pasti tidak bersikap mengada-ada seperti Kyungsoo. Iapun membaca tulisan Baekhyun.
Alisnya berkerut.
Tulisannya tidak bisa dibaca sama sekali.
Ia bahkan berusaha memahami makna isi kartu pos yang ditulis oleh Baekhyun tadi. Ia gemar mengisi teka-teki silang dan berpendapat jika ada satu saja petunjuk untuk bisa membuka jalan, mungkin ia akan bisa memahami surat yang nampaknya merupakan surat rahasia itu.
Tapi, memang tak ada petunjuk.
"Aku tidak bisa membaca tulisan acak-acakanmu, Baekhyun..." katanya menjelaskan dengan ragu.
"Ah... Anda pasti bisa membacanya, Pak," katanya protes.
"Tapi, saya benar-benar tidak bisa membacanya. Tulisanmu sama sekali tidak terbaca, Byun Baekhyun."
"Sebenarnya begini, Pak... Waktu saya menulis, ada selembar rambut yang menempel pada pena saya, Pak. Lalu entah bagaimana kejadiannya, rambut itu tiba-tiba saja telah menempel dan jatuh ke kertas saya. Dan sewaktu saya mencoba menyingkirkan menggunakan sapu tangan—"
"Ya, Ya, Ya, sekarang, karena tulisanmu tidak bisa dibaca. Maka nilai untuk harian ini akan kosong dan kau tidak bisa memprotes lagi," kata guru baru itu mulai jengkel.
Baekhyun terkejut sekali.
"Mana bisa begitu, Pak! Itu tidak adil namanya!"
"Tapi kau tidak bersungguh-sungguh mengerjakan tugas yang aku berikan, Baekhyun."
"Saya bersungguh-sungguh, Pak. Bahkan saya menyingkirkan helaian rambut itu dengan serius! Makanya, tulisan saya jadi berantakan karena pena yang saya pakai ternyata tintanya bocor, Pak. Saya baru menyadari saat rambut saya terjatuh..."
"Konyol sekali."
"Benar, Pak. Saya jujur..."
Guru baru itu masih terdiam mencerna hingga lonceng asrama berdering dan dengan sikap segan menerima kartu pos yang ditulis oleh Baekhyun tersebut. Ia membaca lebih dari delapan kali dan ia mulai memahami isinya setelah dijelaskan oleh Baekhyun dengan sabar sekali.
Mr. Choi tidak jadi memberi nilai kosong pada harian Baekhyun karena kartu pos itu tetap dikirim pada Ibunya. Mr. Choi pasti menduga—Ibu Baekhyun akan kebingungan mendapat kartu pos yang tidak bisa dibaca dan tulisan penuh dengan tinta.
Anak-anak ini ternyata memang benar-benar menjengkelkan. Ternyata Mr. Han tidak sedang melebih-lebihkan sesuatu. Anak-anak ini memang sedikit luar biasa daripada anak-anak kelas yang lain. Ia jadi mengingat pesan guru paling senior itu padanya.
"Menghadapi anak-anak itu, kita tidak boleh lembut, Mr. Choi! Kita harus membentak mereka lalu menyindir perbuatan mereka! Jangan bersimpati pada anak-anak kelas sembilan itu! Mereka tidak akan menurut jika kau tidak membentaknya!"
Mr. Choi juga jadi mengingat kalimat terakhir pria paruh baya itu padanya.
"Tapi, jangan pernah memasukkan omongan mereka kedalam hati! Mereka tidak pernah benar-benar serius dengan omongan mereka. Mereka pasti lupa jika waktu sudah berlalu setelah dua hari. Jadi, jangan gampang tersinggung menghadapi mereka!"
.
.
.
14. Piknik...!
Hari ini adalah hari Sabtu. Hari dimana mereka akan melakukan piknik tahunan. Anak-anak sudah ribut semenjak mereka mulai menyiapkan baju untuk piknik. Ada yang masih bingung mengenai apa yang harus dipakai di hari pertama. Ada juga yang masih bingung apakah harus membawa bantal kesayangan mereka atau tidak.
Dan disini, Baekhyun bertindak sebagai penengah.
Ia akan membuka jasa konsultasi gratis untuk apapun permasalahan anak-anak. Sebagai pembuat rencana nomor satu—Baekhyun memang dikenal sebagai anak yang pintar membuat rencana. Alasan-alasannya mampu membuatnya terhindar dari hukuman guru-guru mereka—termasuk Mr. Han yang terkenal paling galak!
"Baiklah. Anak-anak. Kalian duduk sesuai nomor urut kalian. Jangan berpindah-pindah tempat! Yang duduk paling belakang adalah orang yang tidak mudah mabuk. Jadi, tempat itu jangan berubah-ubah!"
Mr. Choi mulai mengatur tempat duduk. Ia tidak tahu saja, bahwa sebenarnya ia dikorbankan oleh guru-guru yang lain untuk jadi pengawas bus nomor empat. Mr. Han berdalih bahwa ia sudah terlalu banyak mengawasi anak-anak itu dan kini saatnya guru baru itu mendapatkan pengalaman baru. Maka dari itu—Mr. Choi yang tidak tahu apa-apa harus dikorbankan kali ini.
Biarlah! Toh, Mr. Han ingin menikmati wisatanya ke Jepang dengan tenang.
"Pak, Pak, Pak, Lihatlah! Baekhyun mengambil jajananku!" Kyungsoo mengadu. Ia melotot pada Baekhyun yang duduk di depannya.
"Baekhyun, snackmu kan banyak sekali! Ambil punyamu sendiri!" Mr. Choi menghampiri kursi Baekhyun. Baekhyun cemberut.
"Tidak, Pak! Aku tidak mau!"
"Pak...! Dia juga merebut snackku!" Luhan berteriak. Dia melangkahi kursi Tao dan Kris untuk bisa menjangkau kursi Baekhyun. Baekhyun memekik ketika Luhan sudah hampir sampai ke kursinya.
Beberapa siswa sudah mulai mengeluh karena kursinya diinjak-injak oleh Luhan. Beberapa anak gadis bahkan menjerit keras. Suasana menjadi ramai.
Mr. Choi keluar dari bus untuk menelpon Pak Han.
Ia bingung bagaimana harus menenangkan kelakuan anak-anak nakal itu.
Sedangkan, didalam bus, suasana makin tak terkendali. Baekhyun berlarian di bus. Ia membawa teh hangat dan meletakkannya di lantai dekat pintu agar memudahkannya berebut dengan Luhan. Anak-anak yang lain mulai menyuarakan dukungannya. Sehun dengan semangat mendukung Luhan memenangkan snack itu.
TEK!
"E—Eh?"
Baekhyun menumpahkan teh hangat miliknya. Ia lupa menutupnya sewaktu berebut dengan Luhan tadi. Luhan memanfaatkan kelengahan Baekhyun untuk merebut snacknya kembali.
"Yey! Snackku..."
Baekhyun masih menyesali tehnya yang tumpah membasahi lantai bus. Ia tidak menghiraukan sorak-sorak pendukung Luhan yang bergema di telinganya.
CLEK!
Pintu bus dibuka dari luar seperti tengah ditubruk sesuatu.
Dan yang pertama muncul adalah Mr. Han. Ia tampak terburu-buru membuka pintu. Dan dilihatnya, teh Baekhyun tumpah gara-gara prilakunya membuka pintu bus dengan tergesa-gesa. Mr. Han merasa bersalah.
"Teh ini punya siapa?"
"Baekhyun, Pak."
Mr. Han menatap Baekhyun yang melongo.
"Ah... Maaf ya, Baekhyun. Aku menumpahkan tehmu. Salah sendiri kau meletakkan teh di dekat pintu bus. Dan yah—meskipun itu salahmu, aku tetap harus meminta maaf karena itu juga kelalaianku."
"Ehm... Pak, Anu..."
Baekhyun tergagap. Bingung harus menjelaskan bagaimana.
Mr. Han mengambil sapu tangannya lalu membersihkan lantai bus yang terkena noda teh Baekhyun. Mr. Choi yang merasa paling junior berniat akan membantu Mr. Han—tapi guru Pengawas itu menolak. Katanya ini adalah kesalahannya. Ia tetap harus bertanggung jawab membersihkannya.
Baekhyun bingung. Apa sebaiknya ia mengaku saja bahwa sebenarnya, ia yang menumpahkan teh itu? Tapi... melihat wajah tegas dan prilaku Pak Han yang benar-benar mengerikan saat marah, membuatnya sedikit takut. Kata orang—anjing tidur jangan dibangunkan!
Biar saja Mr. Han menyangka itu adalah perbuatannya. Toh, teman-temannya juga kompak mendukungnya.
Tapi, hati kecil Baekhyun mengatakan, tidak adil jika membiarkan guru itu menyalahkan dirinya sendiri. Baekhyun akhirnya memutuskan untuk bertanya dulu. Kemungkinan apakah Mr. Han akan marah atau tidak jika ia tahu bahwa Baekhyun sendirilah yang menumpahkan minuman teh itu.
"Pak..."
Mr. Han menatap Baekhyun.
"Ya, Baekhyun. Ada apa?"
"Pak, Anda tahu kan ketika Anda tadi menumpahkan teh milik saya?"
"Ya, aku tahu," kata Mr. Han dengan nada tidak senang. Ia bukan tipikal orang yang suka diingat-ingatkan tentang kesalahannya.
"Tapi andaikan bukan Anda yang menumpahkannya. Bagaimana, Pak?"
"Tidak ada gunanya mengandai-andai seperti itu. Kalau aku yang menumpahkannya, maka aku yang menumpahkannya. Tidak ada gunanya bicara seperti itu."
Mr. Han selesai membersihkan lantai. Ia bangkit dan berniat akan meninggalkan sapu tangannya yang sudah basah kuyup ke sekolah. Lalu mengambil sapu tangan yang baru. Tapi, suara baekhyun kembali membuatnya menoleh.
"Tapi," kata baekhyun keras kepala.
"Ini penting sekali, Pak. Saya tahu Anda menyangka Andalah yang menumpahkannya. Saya juga tahu kelihatannya seperti itu. Tapi bagaimana jika sebenarnya bukan Anda, Pak? Bagaimana jika itu cuma salah lihat saja?"
Wajah Mr. Han bertambah galak.
"Kau sedang mempermainkanku, ya?" Bentaknya keras. Mr. Choi saja sampai kaget dengan teriakan Mr. Han.
"Tidak, Pak. Tentu saja tidak. Mana mungkin saya mempermainkan Bapak."
"Kalau begitu jangan banyak bicara! Aku tidak buta! Aku punya mata! Aku bisa melihat tehmu yang tumpah karena aku membuka pintu dengan keras."
"Ya, Pak. Tapi bagaimana jika bukan Anda pelakunya? Apakah Anda akan memarahi orang yang ternyata benar-benar melakukannya? Atau Anda akan memaafkannya, Pak?"
Wajah Mr. Han memerah karena marah.
"Ini sekolah, Baekhyun, bukan tempat bermain-main! Disini ada aturan untuk selalu patuh pada apa yang diperintahkan oleh guru-guru kalian. Kepala Sekolah kita—Mr. Park—membuat aturan bahwa anak-anak tidak boleh membantah atau mempermainkan para guru. Maka aku tidak bisa mengerti mengapa larangan itu tidak bisa kau patuhi."
"Tidak, Pak," kata Baekhyun.
Mr. Han tidak biasa dipotong apabila sedang berpidato.
"Tidak, Pak? Apa maksudmu dengan 'Tidak, Pak'? Kau tidak sependapat dengan kata-kataku?" katanya.
"Tidak, Pak, Eh—maksud saya, saya rasa saya sepenuhnya sependapat dengan Anda, Pak."
"Harap kau camkan baik-baik, Byun Baekhyun. Jika aku mengatakan sesuatu, itu berarti bukan pertanyaan! Aku tidak membutuhkan jawaban atau komentar ataupun sanggahan darimu."
"Ya, Pak. Eh? Maksud saya, tidak ada sanggahan, Pak." kata Baekhyun dengan cepat—takut jika Mr. Han akan marah lagi padanya.
"Sekarang, kau diam dan duduk dengan tenang di kursimu. Jangan sampai aku mendengar dari Mr. Choi bahwa kau berulah lagi. Kau mengerti?"
"Tapi, Pak..."
"Apa lagi?" Bentak Mr. Han.
Mr. Choi mengelus dadanya yang mudah sekali terkejut ketika mendengar suara melengking dari guru seniornya itu.
"Sebenarnya... begini, Pak..."
"Apa yang hendak kau katakan?"
"Tidak ada, Pak. Tidak ada bantahan." Baekhyun sudah hampir mengatakan kebenaran—tapi tidak jadi karena takut kalau ucapan itu dianggap sebagai komentar oleh Mr. Han. Jadi, dia hanya diam saja.
"Kau benar-benar mempermainkan aku, ya?"
"Eh? Tidak, Pak," kata Baekhyun kaget. Guru-guru memang makhluk aneh. Mula-mula dia dimarahi karena menjawab, tapi kemudian dimarahi lagi karena tidak menjawab.
Baekhyun jadi bingung.
"Pak?" Suara Chanyeol yang besar membuat semua perhatian tertuju padanya. Mr. Han menoleh menatap Chanyeol. Pandangannya sedikit lebih lunak sekarang.
"Sebenarnya, teh tadi bukan ditumpahkan oleh Anda, Pak. Sebelum Anda datang dengan tergesa-gesa, teh itu sudah tumpah karena kaki Baekhyun. Dan Anda menyimpulkannya tanpa bertanya. Baekhyun tidak ingin Anda menanggung kesalahan yang bukan kesalahan Anda. Dia bermaksud baik, Pak. Meskipun hanya persoalan kecil—tapi bagi Baekhyun kebenaran tetaplah kebenaran. Meskipun, dia tidak bisa menjelaskan dengan baik, ketahuilah, Pak, Baekhyun tidak pernah sekalipun ingin mempermainkan Anda. Dia sangat menghormati Anda, Pak."
Hening.
Semua orang terkejut dengan ucapan Chanyeol.
Pria itu hampir tidak pernah berbicara di muka umum seperti ini. Bahkan dia juga tidak pernah menyapa anak-anak yang lain—meskipun mereka berada di lorong yang sama. Chanyeol hanya mau berbicara dengan Baekhyun dan juga Yejin.
Dia adalah tipikal orang yang tidak mau mengurusi masalah oranglain dan terlibat didalamnya.
Maka dari itu—semua orang kaget dengan reaksinya.
"Ah... Jadi begitu. Maaf Baekhyun. Aku telah salah sangka padamu. Dan juga terima kasih karena sudah membuatku mengetahui bahwa itu bukan kesalahanku."
"Ah, Pak, Anda tidak perlu meminta maaf dan tidak perlu berterima kasih."
"Meskipun aku adalah gurumu, tapi kata maaf dan terima kasih bukan menjadi pengecualiaan saat aku melakukan kesalahan."
"Iya, Pak..."
"Sekarang... Kau duduk dengan tenang di bangkumu...! Jangan membuat keributan dan membuat Mr. Choi kelimpungan. Kau mengerti?"
"Ya, Pak, saya mengerti."
Mr. Han tersenyum puas.
Ia keluar dari bus dan Mr. Choi menghampirinya.
"Terima kasih telah membantuku, Mr. Han."
"Ya. Jangan terlalu lembut pada mereka. Mereka itu memang sulit dimengerti. Tapi, tolong jaga mereka baik-baik. Baekhyun tidak suka dingin jadi berikan dia dua selimut saat malam hari."
Siwon mengambil catatan kecil dan mencatat pesan Mr. Han.
"Kyungsoo mudah sakit saat perjalanan menggunakan pesawat. Jadi sebelum landing nanti, kau harus memberinya banyak obat oles dan pil pereda pusing. Itu akan sangat membantunya."
"Pak..." Mr. Choi menyela.
"Ya?"
"Anda yang paling dekat dengan mereka. Anda juga yang paling sering menangani mereka... Mengapa bukan Anda saja yang menjadi pengawas bus ini. Saya takut saya tidak bisa menjaga mereka dengan baik."
Mr. Han tersenyum.
"Aku tidak ingin mereka terlalu bergantung padaku."
"Tapi..."
"Mr. Choi, ada saatnya mereka kelak akan meninggalkan sekolah ini. Mereka akan beranjak menjadi dewasa. Menjadi lebih mandiri dan tidak lagi tergantung padaku. Aku hanya ingin mendewasakan mereka. Itu saja."
"Ya, Pak. Saya mengerti."
"Baguslah...! Tolong jaga mereka untukku, Mr. Choi."
.
.
.
15. A meaning...
"Chanyeol, terima kasih sudah menolongku."
"Hm,"
Baekhyun tersenyum lalu memeluk lengan Chanyeol.
"Aku mencintaimu, Yeol. Terima kasih karena kau selalu berada di sampingku. Dan juga, karena kau selalu setia menjagaku setiap kali aku terkena masalah."
"Aku juga mencintaimu, Baek."
"Bagiku... kau, teman-teman, dan Mr. Han adalah orang-orang yang berarti untukku. Aku sangat menyayangi kalian."
"Kau juga menyayangi Mr. Han?"
"Tentu. Bahkan dia sudah seperti ayah kandungku sendiri."
"Bukankah dia sering membentakmu?"
Baekhyun tersenyum. Ia membenamkan kepalanya di lengan Chanyeol. Saat ini bus mereka sudah mulai berangkat ke Bandara Incheon.
"Ketika aku sakit dan masuk rumah sakit, Mr. Han menggenggam tanganku dan menangis untukku." Baekhyun memulai ceritanya. Chanyeol diam mendengarkan, sesekali dia akan mengelus tangan Baekhyun dan mencium keningnya.
Dengan mata terpejam, Baekhyun melanjutkan.
"Saat itu adalah semester pertama. Aku masih menganggap dia adalah guru tergalak yang pernah kutemui. Tapi, aku salah. Pandanganku berubah ketika hari itu..."
"Hari itu?"
"Ya. Saat itu aku hanya terbaring. Aku tidak bicara, tidak bisa menoleh dan tidak bisa merespon. Tubuhku terlalu lemah saat itu. Dan Mr. Han datang. Dia menggenggam tanganku, menangis untukku. Mr. Han bilang, dia tidak keberatan jika aku bangun dan membuatnya jengkel ataupun kesal. Itu lebih baik dibanding melihatku terbaring di rumah sakit."
Chanyeol menghapus air mata yang jatuh di pipi Baekhyun. Ia mencium punggung tangan Baekhyun untuk menenangkan kekasihnya. Ia tidak menyangka bahwa hubungan mereka ternyata sedekat itu. Pantas saja—Mr. Han selalu sabar menghadapi kelakuan anak-anak konyol itu. Chanyeol saja selalu merasa kesabaran Mr. Han benar-benar patut diacungi jempol!
"Karena itu kau begitu menyayanginya?" tanyanya lembut. Baekhyun mengangguk cepat. Dia tersenyum lagi ketika bayangan hari itu muncul di kepalanya.
"Dia memang galak—karena itu adalah tabiatnya. Tapi, dia selalu diam-diam menjaga kami. Memang dia tidak pernah membebaskan kami dari hukuman dan juga tugas. Tapi aku tahu, Mr. Han melakukan itu untuk mendidik kami menjadi lebih dewasa."
"Ya, aku sependapat denganmu."
"Kau tahu... kalimat terakhir yang dia ucapkan hari itu.."
"Kalimat terakhir? Apa itu, Baek?"
"Aku harap kau tidak menjadi dewasa. Aku harap kau tumbuh lebih lambat dibanding yang lainnya. Karena jika kau menjadi dewasa, aku tidak akan menjadi pengawasmu lagi..."
TBC
"Intinya, tidak selamanya orang yang kita benci adalah orang yang sebenarnya kita benci. Ada kalanya, orang yang paling kita benci—justru yang paling dekat dengan kita. Jadi, Jangan melihat seseorang dari tampilan luarnya saja—karena kita tidak pernah bisa mengenal orang 100% luar dalamnya."
Review?
Gomawo ^^
