Diceritakan Tachihara di sini lebih tua satu tahun dari Chuuya, jadinya ga mungkin dia panggil Chuuya pakai yobisute –san. Tapi, ga enak juga kalau Tachihara yang biasanya memanggil Chuuya dengan penuh rasa hormat malah manggil Chuuya aja, mengingat di canon Chuuya emang pangkatnya (?) lebih tinggi dan usianya lebih tua. Alhasil, sekali lagi karena tuntutan kisah, Tachihara harus memanggil Chuuya pakai nama keluarganya.
。
。
。
DISCLAIMER :
BUNGOU STRAY DOGS by Asagiri Kafka and Harukawa 35
Warning :
AU, OOC, DazaiXfem!Chuuya, Typos, Alur dan update lambat, yang ga suka silahkan fav apalagi yang suka :)
Tidak bertanggung jawab dengan komplain mual dan muntah gegara baca ini.
Happy reading~
。
。
。
SEMOTIF AFEKSI
By : Hilaryan
.
.
.
CHAPTER 6
.
.
.
Seperti pada kasus Dazai Osamu, Agatha Chhiste juga sudah lebih dulu mengetahui siapa itu Tachihara Michizou sebelum pemuda itu muncul di hadapannya dan Chuuya. Dia datang dari kota sebelah, telah memasuki tahun kedua SMA, kapten klub sepak bola sekolah, suka cari masalah, serta sama sekali tidak betah berada di kelas.
Agatha masih ingat. Awal dia dan Chuuya bertemu dengan Tachihara adalah sekitar lima minggu yang lalu, yang berarti ini adalah kali kelima mereka bertemu – karena tidak seperti Dazai Osamu, Tachihara Michizou menemui dia dan Chuuya hanya setiap akhir pekan setelah latihan klub seperti sekarang karena tidak ada pelajaran di sekolahnya pada sore hari.
Waktu itu hampir sama seperti kali ini. Dia membawa minuman kaleng (murahan kata Chuuya) untuk mereka berdua, selaki lagi, berdua! Seolah-olah Tachihara sudah tahu kebiasaan Chuuya yang selalu pulang bersama dengan Agatha.
Yah, memang sih, sejak orang yang sama memberikan tantangan pada Tachihara untuk membuat Chuuya jadi kekasihnya dengan hadiah entah apa, Tachihara masih memiliki waktu seminggu sebelum benar-benar bertemu dengan Chuuya. Bisa saja pada kurun waktu itu Tachihara secara diam-diam megamati kebiasaan Chuuya–
"Christie-san, aku benci orang itu," kata Osamu dengan mulut mencebik yang membuat Agatha langsung keluar dari lamunan. Untuk sesaat, ia terperangah mendengar ucapan itu. Hei, apa ini? Dazai Osamu sedang cemburu? Oh, kamu luar biasa sekali, Chuuya!
Kini Osamu berjalan beriringan dengan Agatha, sementara Chuuya ada beberapa langkah di depannya dengan Tachihara, kelihatan sangat akrab –menurut Osamu– meskipun sesungguhnya mereka tidak benar-benar bericara. Tapi benar saja, melihat Chuuya mau berjalan beriringan dengan seseorang tanpa ada percakapan sama sekali seperti itu, bukan mendahuluinya atau menyuruhnya pergi, memang membuat kesan kalau mereka memang sudah sangat akrab.
"Mm… aku mengerti." Agatha berhasil menanggapi. "Dia juga membencimu, Dazai-san."
Osamu berdecih kesal. Sebenarnya siapa sih orang itu. Tiba-tiba dia terpikir, apakah mungkin Tachihara-lah alasan Chuuya tidak pulang-pergi diantar oleh sopir pribadi dan malah memilih jalan kaki dan naik kereta? Karena dia ingin pulang dengan Tachihara itu? Ah, yang seperti itu mana mungkin! Chuuya belum pernah jatuh cinta. Selain itu mereka masih memanggil nama masing-masing dengan nama depan. Lagi pula, apa yang Tachihara Michizou punya dan dia tidak?
Agatha hanya menghela napas melihat ekspresi manusia di sebelahnya. "Kukira, setelah Tachihara-kun melihat foto Chuuya denganmu, dia tidak akan datang ke sini lagi,"
Osamu menoleh dengan wajah bertanya.
"Dia bukan siapa-siapa." Jawab Agatha, peka. "Hanya seperti kau. Orang yang mengejar Chuuya dengan alasan kalian sendiri. Bedanya, dia tidak selicik dirimu, Dazai-san."
Tanpa menghiraukan kalimat terakhir Agatha, Osamu menghela napas lega. "Kalau begitu aku selangkah di depan," kata Osamu dengan penuh percaya diri, membuat Agatha sweatdrop.
Osamu menatap Chuuya yang ada di depannya lagi, bertanya-tanya bagaimana bisa ada perempuan semenarik itu. "Jadi ada juga laki-laki normal selain aku yang menyukai perempuan aneh seperti dia?" ia mulai melantur.
Agatha tertawa kecil. "Sepertinya tidak ada yang setuju kalau kau bilang dirimu laki-laki normal."
Ucapan Agatha tidak diindahkan. Osamu sudah terlanjur terjun dalam lamunannya.
Dia ingat kejadian dua hari yang lalu ketika dia mencium Chuuya, dan langsung mengerutkan kening ketika mengetahui itu ciuman pertama Chuuya. Masa iya tidak ada laki-laki yang berani menanggung sedikit saja risiko untuk merasakan bibir manis seorang keturunan Nakahara yang tidak jinak itu? Apa teman-teman Chuuya pengecut semua? Atau malah dia saja yang terlalu berani? Yah, biarlah. Bagaimanapun, Osamu menganggap 'bisa mengambil ciuman pertama Chuuya' adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Jadi, tidak masalah kan kalau dia bangga dengan hal itu?
Ah, omong-omong, dia sudah merasakan begitu banyak bibir wanita sebelumnya. Kebanyakan, mereka akan membalas dengan ciuman penuh nafsu dan tidak sabaran. Belum ada satu orang pun yang bisa bertahan dengan ciuman memabukkan milik Osamu. Tapi, Chuuya berbeda. Dari awal mereka bertemu, Chuuya selalu menganggapnya seolah dia bukan apa-apa. Bagi orang yang selalu disukai perempuan sepertinya, hal itu sempat membuatnya tidak yakin dengan dirinya sendiri. Dan yah, seperti kata Raja Arthur pada putranya, penjahat terbaik adalah penjahat yang membuatmu bimbang, artinya perempuan terbaik juga seseorang yang berhasil membuat Dazai Osamu ragu. (entah apa hubungannya, tiba-tiba mengalir di pikiran Lar jadi ditulis aja lah /plak)
Ketika ditanya apakah Chuuya marah, dengan tanpa kerguan dia mengatakan "Tentu saja!" namun, ketika ditanya apakah Chuuya akan membencinya karena itu, Chuuya hanya menoleh padanya. Dengan malas ia menjawab, "Kalau aku membencimu karena itu, kau sudah tidak bisa ada di lingkungan ini lagi tahu. Kau beruntung aku memaafkanmu. Berterima kasihlah padaku."
"Dazai-san," panggil Agatha, menarik Osamu dari lamunannya.
"Ya?"
"Kau mau ini?" Agatha membuka tas dan mengaduk-ngaduk isinya.
Osamu heran. Ia melihat dengan penasaran dan langsung membelalakkan mata ketika melihat dua buah tiket ke taman hiburan di tangan Agatha. Sedetik kemudian dia memandang curiga. "Dan maksudmu adalah..."
"Oh, ayolah Dazai-san, ajak dia." Mata Agatha mengerling ke Chuuya.
Osamu tidak kunjung menjawab, membuat Agatha memasang raut cemas. "Kau tidak mau?" tanyanya.
"Tidak…" jawab Osamu. Kenapa dia harus tidak mau? Tiketnya gratis, dan lagi dia pergi dengan si imut Chuuya. "Hanya saja, bukankah beberapa hari lalu kau begitu tidak menyukai kalau aku dekat-dekat dengan Chuuya?"
Agatha menghela napas. "Yah benar. Sampaj sekarang juga." Terkadang dia berpikir dia harus belajar untuk mengendalikan kejujurannya.
"Lalu?" Osamu menaikkan sebelah alis.
"Aku hanya..." Agatha terlihat ragu sejenak, "aku hanya ingin Chuuya bisa bahagia lagi. Kupikir dia akan senang kalau dia pergi ke taman hiburan."
Ada yang ganjil dari kalimat itu. Osamu mengernyit. "Lagi?" ia menelengkan kepala. "Maksudmu selama ini dia tidak pernah bahagia?"
Agata mengendikkan bahu. "Mungkin saja." Katanya dengan senyum manis.
Osamu ingin bertanya lebih lanjut, namun senyum Agatha lebih dari sekedar petunjuk yang mengatakan kalau dia tidak ingin membahas itu.
"Yah, kalau memang begitu, kenapa bukan kau yang mengajaknya jalan-jalan?"
Agatha sedikit tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia lalu menatap Chuuya dan Tachihara yang berada di depan. "Sebagai teman yang paling dipercayainya ini begitu memalukan, tapi dia selalu menolak ajakanku."
"Heeehhh... teman terdekatnya tidak pernah berhasil mengajaknya, dan kau berpikir dia akan mau kalau orang asing yang mengajaknya?" tanya Osamu.
Agatha memandang Osamu lagi. "Kau menganggap dirimu orang asing?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Osamu terkekeh. "Tidak." Osamu menerima tiket tersebut.
"Ne, ne, Chuuyaaaaa~" Sesaat kemudian, Osamu sudah berada di antara Chuuya dan Tachihara, merangkul bahu Chuuya sembari memperlihatkan tiket yang didapatnya dari Agatha, membuat Tachihara dengan sangat terpaksa dan tidak rela harus memisahkan diri dari mereka. "Aku punya dua tiket ke taman hiburan..."
"Tidak." Ketus Chuuya.
"Aku bahkan belum bilang kalau–"
"Tidak. Dan lepaskan tanganmu sekarang." Chuuya menepis tangan Osamu yang bertengger di bahunya.
"Ayolah Chuuuuuuya..."
"Tidak."
"Chuuuuuu~~"
"Kalau aku bilang tidak ya tidak!" Bentak Chuuya.
Osamu mematung, kemudian bibir itu megerucut lucu. "Chuuya jahat." Ia terlihat murung, kemudian menghela napas tandah menyerah, lalu berbalik. "Ya sudahlah. Aku ajak orang lain saja,"
"Heh?" Entah bagaimana itu sangat mengganggu Chuuya….
"Sebagai pengganti Chuuya sebaiknya aku aja Christie-san saja,"
"Apa–" bagaikan tersambar petir, Chuuya langsung berbalik dan teriak dengan tatapan horor, "Tunggu–JANGAN! Anee-san tidak akan tahan dengamnu! Aku saja! Ajak aku saja!" dan lihatlah betapa manis kedua pipi yang bersemu tersebut.
Dazai mengembangkan seringai kemenangan, Agatha sweatdrop lagi, Tachihara terlalu tidak terbiasa dengan interaksi antara Dazai Osamu dan Nakahara Chuuya untuk bisa memahami apa yang terjadi, sementara Chuuya mendumel frustasi.
Reaksi yang sudah dia duga dari awal. Inilah sekalinya Osamu bersyukur Chuuya punya pemikiran pendek. "Baiklah, aku akan menunggumu di stasiun jam sepuluh ya," kata Osamu ceria.
.
.
.
"Christie-san, kenapa kau menawarkan tiket padaku, bukannya pada Tachihara-kun di sana?" tanya Osamu.
Setelah Chuuya menyetujui ajakannya, keadaan jadi seperti semula. Bedanya, sekarang suasana hati si pemuda jangkung berperban jauh lebih baik dibanding beberapa menit yang lalu, sementara Tachihara yang sepertinya tengah membicarakan pertandingan olahraga dengan Chuuya kelihatan kurang senang.
"Alasannya karena Tachihara-kun tidak mungkin punya cara ajaib sepertimu," jawab Agatha tanpa menoleh.
Osamu kembali menatap ke depan, senyumnya masih terpatri apik di sana. "Omong kosong."
Agatha tertawa kecil. Mana bisa Dazai Osamu dibohongi?
"Yah. Begini. Memang dari awal aku tidak pernah bisa memercayaimu sepenuhnya, dan Tachihara-kun juga tidak sebejad dirimu, tapi kau unggul dalam hal keterbukaan untuk mengungkapkan perasaanu pada Chuuya. Dan lagi, dibandingkan Tachihara-kun, sepertinya waktumu lebih luang untuk bersamanya."
"Heee… memangnya aku ini brothersitter?"
Agatha tertawa lagi. "Tidak, kau tahu bukan itu maksudku." Pandangannya beralih menatap Osamu. "Yang terpenting Dazai-san, kau kelihatan bisa mengendalikannya. Banyak yang tidak menyukai sikap seenaknya-sendiri Chuuya, namun kau berhasil membuatnya bertingkah baik sesuai keinginanmu."
Osamu tidak kunjung bicara, hingga sebuah kata yang menunjukkan kalau dia mendengarkan terucap. "Begitu…."
.
.
.
Faktanya, ternyata Osamu-lah yang membuat Chuuya menunggu di stasiun.
Yah, tidak apa-apa lah. Toh biasanya Osamu yang menunggu Chuuya sehabis sekolah. Jadi sekarang gantian. Ketika dia baru sampai, matanya langsung menemukan sosok gadis senja kesukaannya itu tengah duduk bosan sendirian disebuah bangku dengan menggunakan gaun Sabrina tanpa dengan bahu terbuka berwarna hijau selutut. (Sumpah andaikan Lar adalah seorang artist, aku bakal nggambar ini. di bayanganku chuuya cantik banget. sayangnya aku kalo gambar orang Cuma kaya sapu lidi.)
Osamu melotot dan langsung berlari ke arahnya.
Sebenarnya Osamu suka melihat bahu Chuuya yang terbuka seperti itu. Sangat suka malah. Dan kalau boleh jujur, dia akan sangat bersyukur andai bisa melihat perempuan itu dalam keadaan polos tanpa sehelai kain pun. Masalahnya adalah, oh, demi Tuhan! Ini tempat umum! Nakahara Chuuya terlalu berharga untuk boleh dilihat pejalan kaki tidak berarti seperti semua orang yang ada di sini.
Chuuya sedang dalam keadaan darurat aurot!
"Astaga Chuuya, kenapa kau keluar dengan pakaian seperti ini?" sapaan pertamanya sembari menyampirkan jaket yang tadi dikenakannya ke bahu Chuuya.
"Hei, hei, apa ini? Aku tidak kedinginan!" Chuuya langsung berdiri, kebingungan.
"Mana ada orang yang kedinginan di hari yang panas seperti ini. Sudah kau saja yang pakai. Aku akan kepanasan kalau memakainya,"
"Yang benar saja–"
"Selain itu, sangat disayangkan kalau kulitmu sampai terbakar matahari. Apa sebegitu senangnya kau karena aku mengajakmu, sampai kau pakai pakaian begini hanya untuk jalan jalan? Kau benar benar menantikannya kan?" tanya Osamu dengan senyum jahil.
"Tidak! bukan! Sama sekali bukan! Mana ada yang seperti itu!" sangkalnya dengan muka merah. Perkataan itu amat sangat memalukan.
Chuuya melihat pakaiannya sendiri, lalu menghembuskan napas. "Jangan salahkan aku. Ketika aku bilang mau pergi denganmu, pelayanku langsung memaksaku memakai ini."
"Yang benar." Perkataan itu dilengkapi nada dan ekspresi tidak percaya.
"Aku berkata jujur tau! Dasar!"
"Oh tentu Chuuya. Amat sangat jujur!" Sarkas Osamu.
"Kau mngejekku!?"
"Tidaak, tidak Chuuya, sudah jangan marah. Hari masih pagi tahu."
Chuuya berdecih. "Kalau kau memang tidak berniat menggunakannya harusnya kau tidak perlu membawanya segala!" ucapnya sambil memakai jaket Osamu.
Ah, kenapa dia malah jadi tambah manis dengan pakaian kebesaran begitu?
.
.
.
Pagi itu terasa begitu cepat.
Setelah mereka menaiki komidi putar, membeli bando kucing untuk Chuuya dan beberapa merchandise lain, menaiki roller coaster berkali-kali hingga membuat Osamu mual, tersesat di labirin kaca, makan siang, hingga ketidak-nyamanan di rumah hantu.
Yah, ketika di kegelapan dalam rumah hantu, Chuuya kesulitan berjalan karena kedua tangannya ditahan oleh seseorang dan merasakan angin hangat di sekitar tengkuknya.
"Dazai, berhentilah mengendusku dasar menjijikkan! Dan jangan tarik-tarik tangan kananku juga!" katanya pada Osamu.
Osamu mengernyit. "Eee… kau salah mengenai dua hal, Chuuya. Pertama, aku tidak mengendusmu. Dan kedua, bagaimana bisa aku menarik tangan kananmu kalau kedua tanganku memegangi lengan kirimu begini?"
"Hah?!" dalam sekejap bulu kuduk Chuuya meremang.
Mereka berdua menoleh ke kanan bersamaan, dan teriakan keduanya pun bergema ketika melihat sosok hantu dengan wajah hancur di sebelah Chuuya.
Kini matahari sudah hampir terbenam. Mereka tengah menaiki biang lala dengan es krim di tangan masing-masing.
Bukannya melihat keindahan kota pada sore hari dari ketinggian, Osamu malah lebih tertarik dengan perempuan di depannya tengah menjilati es krim dengan lahap sampai belepotan dan membuatnya tertawa. Baru pertama kali ini dia melihat anak dari keluarga berada makan dengan tidak rapi. Oh, dan haruskah Osamu katakan betapa dia senang melihat Chuuya tersenyum sepanjang hari ini?
"Kalau kau makan saja tidak rapi, bagaimana kau bisa memiliki keterampilan untuk mewarisi usaha keluargamu, Chuuya." Ucap Osamu sembari mengelap mulut Chuuya, bergurau.
"Jaga ucapanmu, ya!" Chuuya menepis tangan itu. "Sejak awal aku memang terlahir seperti ini. Kau tidak suka bukan urusanku! Aku ini bukan kakakku yang cantik, baik, feminin, cerdas, sempurna, dan yang disukai semua orang! Seluruh masyarakat juga berpikir ayah akan mewariskan usaha keluarga padanya dan bukan padaku. Tapi dengan keadaan sekarang, entah apa yang akan terjadi." katanya ketus.
Hei, jawaban seperti itu tidak ada dalam perkiraannya sama sekali.
"Manusia memang suka membanding-bandingkan orang. Kau juga begitu, kan? Alasan kenapa ayah tidak menyukaiku karena aku tidak bisa seperti Anee-san, kan? Yah, aku tidak mau peduli." Ujarnya, sebelum membuang muka.
Osamu mengerutkan dahi. Dia ingat, di foto keluarga Chuuya saat masih kecil, memang ada anak perempuan yang kelihatan dua atau tiga tahun lebih tua dari Chuuya. Di usia yang masih muda, dia memang sudah terlihat cantik dengan rambut merah yang mirip dengan milik Tuan Nakahara serta senyum yang menawan. Mungkin kini dia tengah melanjutkan studi di suatu tempat di luar kota, atau malah luar negeri.
…tapi apa maksud kalimat terakhir tadi? Ayah Chuuya tidak menyukainya?
Tiba-tiba, mata Osamu melihat es krim Chuuya yang mulai meleleh di antara jari-jarinya. Dengan spontan dia menjilat es krim di jari Chuuya, namun sial, hal itu membuat Chuuya tanpa sengaja melepaskan pegangan dari es krim, dan menjatuhkannya ke lantai biang lala.
"Eh–"
Krik krik… krik krik….
Dan ekspresi keduanya berubah seratus delapan puluh derajat.
Dia kesal sekali. Diraihnya kerah Osamu, kemudian menggoyang-goyangkannya ke depan-belakang sambil mengomel. "Apa yang kau lakukan haaaa?! Dasar Dazai bodoooh! Kenapa kau menjilat tanganku seenaknya haaa? Kau membuat es krim ku jatuh padahal aku suka sekali! Dan aku haus sekali! Jaketmu ini juga membuatku kepanasan tahuuu!"
"Chuuya, aku belikan lagi nantiiii!"
.
.
.
Tinggal menghitung menit hingga matahari terbenam ketika kedua anak manusia itu pulang dari taman hiburan. Keduanya puas, namun yang lebih pendek kelihatan lesu.
"Kau baik-baik sasa, Chuuya?" tanya Osamu ketika melihat wajah Chuuya.
"Baik." Jawab Chuuya sambil lalu.
Namun, entah sadar atau tidak, Chuuya yang tadi berjalan lurus di sepanjang trotoar tiba-tiba berbelok dan turun ke jalan raya – pas ketika sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melintas dan menabraknya–
Osamu menarik pakaian Chuuya dari belakang dan menyeretnya kembali ke trotoar. "Kalau mau bunuh diri ajak aku juga, Chuuya," ucapnya lembut.
Osamu menatap mobil yang mengerem mendadak tersebut hingga meninggalkan bekas ban di aspal jalan dengan pandangan dingin.
"HEI, HATI HATI KALAU JALAN!" teriak pengendara mobil itu sebelum kembali memacu kendaraannya.
Osamu beralih pada Chuuya. "Kau tak apa?"
Namun, Chuuya tidak merespon. Matanya terbelalak, wajahnya pucat, dan tubuh kecil itu gemetar.
"Chuuya?"
Merasakan tangan Osamu menyentuh bahunya, mata Chuuya beralih pada si jangkung, menatap lawan bicaranya yang kelihatan khawatir, sebelum akhirnya ia menutup mulut dan menggeleng cepat, kemudian memeluk Osamu dan menangis di dadanya.
Ya Tuhan, apa pun yang terjadi, semoga Chuuya baik-baik saja.
。
。
。
Minna, sebelumnya, aku minta maaf sekali. aku memang ga produktif. ini belum sempat diedit, jadi kalau ada typo ya mohond dimaklumi ya T.T
yah, chapter 6 sampai sini dulu yaaa
oh iya! aku mau bilang, tidak kok, Fyodor tidak sejahat itu, sungguh. tolong jangan suudzon dengannya.
ja. udah deh. ga tau harus nulis apa lagi. buat yang sudah membaca sampai sini, aku ucapkan banyak sekali terima kasih
sampai jumpa di chapter 7~~
hehe, udah hampir ending looh
